"Huh? Ikut dengan kami?" Ulang Yuuto dengan alis bertaut. Bingung dia dengan pemuda yang berada di depannya ini. Sudah mengintip, sekarang malah minta ikut? Apa sesungguhnya yang diinginkan bocah ini?

"Aku akan melakukan apa saja, asal kalian percaya padaku." Ucap Mamoru tanpa pikir panjang. Dia merutuk dalam hati akibat mulutnya yang tidak juga mau terkontrol.

"Baiklah. Ikuti kami, Mamoru." Ucap Shuuya tiba-tiba memotong perkataan Yuuto.

Sebelum mendapat protes dari Yuuto, Shuuya langsung melangkah maju. Dia menghiraukan erangan Yuuto dan sorakan dari Mamoru. Dia hanya dapat tersenyum, sedikit banyak dia mengharapkan hiburan yang menarik dari orang yang bernama Mamoru Endou tersebut. Walaupun ini sangat beresiko terhadap keselamatan mereka.


"VESSEL"

Nisca31tm-emerald

Disclaimer : Inazuma Eleven bukanlah milik saya. Saya hanyalah author yang meminjam chara yang ada di Inazuma Eleven untuk membuat fic ini. :3

Warning : AU. Banyak typo (s) dan kekurangan lainnya. Alur mungkin tidak jelas. Masih ragu apakah ini akan jadi YAOI ato enggak. Ada saran? Ceritanya mungkin dari chptr ke chptr akan semakin ghaje. Saya sudah memperingatkan anda.

Don't like don't read

Rate : T

Happy Reading~~~


Gerakan kaki yang santai dan sangat ringan terlihat tanpa beban. Kadang pemilik masing-masing sepasang kaki itu bercengkrama dengan begitu bebasnya. Pedang yang tersampir di punggung pemuda berambut coklat dengan model aneh itu kini beralih ke tangan kanannya, sedangkan busur panah sang pemuda berambut putih masih bertengger manis di punggungnya yang kecil namun lebar tersebut. Bibir tipis pemuda berambut coklat –Yuuto- menyunggingkan sebuah seringaian saat dia memandang ke belakang, tepat ke arah seorang pemuda yang memiliki model rambut bak tanduk tersebut. Gigi-giginya yang tersusun rapi dan putih bersih terlihat dengan jelas saat seringaiannya semakin lebar.

"Oi, Mamoru! Ayo cepat. Jalan kita masih panjang lo!" Ucap Yuuto dengan smirk yang masih enggan meninggalkan wajahnya.

"Cih," Mamoru hanya mendecih pelan. Di punggungnya tersampir sebuah tas besar yang sangat berat milik kedua pemuda yang berjalan beberapa langkah di depannya yang bahkan dia sendiri tak tahu apa isinya. Dia tahu jika pemuda bergoggles itu hanya ingin mengerjai dirinya.

Mamoru merutuki kebodohannya yang membawanya pada situasi tak menguntungkan begini. Tapi itu jauh lebih baik. Mungkin dengan begini dia akan lebih mengenal kedua pemuda yang entah bagaimana menjadi incaran Lucifer. Tapi yang dia takutnya adalah bagaimana jika semua itu hanya sebuah kebetulan? Bagaimana jika sebenarnya kedua pemuda itu hanya tak sengaja bertemu prajurit Lucifer dan mereka saling bertarung? Memikirkan itu hanya membuat Mamoru mendengus. Saat ini dia tidak boleh memikirkan hal ini. Jika memang semua hanya kebetulan maka dia akan kabur di kota selanjutnya dan meninggalkan kedua pemuda tidak jelas tersebut dan kemudian mereka akan kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.

"Eh, Yuuto. Sampai kapan kita akan melewati hutan ini? Kau tahu? Rasanya kita selalu berputar-putar di tempat yang sama." Ucap Mamoru dengan enteng. Dia tidak tahu jika efek ucapannya akan sangat berpengaruh bagi pemuda berambut coklat yang berada di depannya. Sedangkan pemuda berambut putih yang berada di samping Yuuto hanya tersenyum kecil.

"Ternyata kau memiliki penglihatan yang tajam ya? Kupikir kau tidak menyadarinya." Ucap Shuuya dengan senyuman kecil. Dia menghentikan langkahnya dan menepuk bahu Mamoru dengan pelan.

"Ada yang mengikuti kita. Tapi mereka hanya mengawasi dan tidak menyerang kita. Mereka mencari timing yang tepat. Hati-hatilah Mamoru." Ucap Yuuto dengan ringan.

"Pantas saja." Ucap Mamoru dengan pelan. Dia meneliti sekelilingnya yang sunyi senyap. Walau begitu dia dapat melihat bayangan-bayangan mencurigakan yang mengiringi langkah mereka dari pohon-pohon yang tinggi. Mamoru tersenyum kecil saat menyadari jika gelagat Yuuto sejak tadi sedang waspada, pantas saja pemuda berjubah merah tersebut memindahkan pedangnya ke tangan kanan. Hal tersebut untuk menjaga kewaspadaan terhadap sekitar. Mungkin Mamoru tidak sia-sia berada di sini. Kedua pemuda di depannya ini bukan orang biasa. Pasti ada penjelasan yang benar-benar logis untuk semua ini. Dan ada sesuatu yang membuat Mamoru kesal. Rupanya Yuuto dan Shuuya menguji kemampuannya.

"Ini aneh, Yuuto… Mereka hilang." Ucap Shuuya.

Yuuto mengangguk pelan. Ini memang sangat aneh, jika memang yang mengikuti mereka adalah prajurit Lucifer tidak mungkin mereka akan dilepaskan begitu saja. Apakah ini juga gejala tak biasa dari para Ordha? Apakah mereka merencanakan sesuatu yang berbahaya? Memikirkan hal tersebut membuat genggaman Yuuto pada pedangnya mengerat. Dia harus waspada dan melindungi Shuuya. Lagi pula dia juga harus waspada pada pemuda berambut coklat yang berada di belakang mereka. Pemuda itu juga mencurigakan. Seharusnya Yuuto lebih tegas dan menentang kehendak Shuuya untuk mengijinkan pemuda mencurigakan itu mengikuti mereka. Ini sangat berbahaya.

"Sudahlah… Jangan memikirkan hal yang rumit, Yuuto." Perkataan Shuuya membuat Yuuto tersadar, dia tersenyum kecil dan mengangguk kepada Shuuya. Saat ini percuma saja memikirkan hal yang tak berdasar, mereka harus mencari tempat yang aman untuk bermalam. Nampaknya dengan terpaksa mereka harus menginap di hutan ini. semoga saja getaran aneh dan gemuruh gelisah dalam dada Yuuto hilang dengan istirahat dan menarik nafas sejenak.

# # #

Ketiga pemuda berlainan iris mata tersebut mengelilingi api unggun yang menari-nari membentuk gelombang api karena ditiup angin malam. Bibir mereka terkatup rapat, tidak ada yang membuka suara untuk memecah segala kesunyian yang ada. Mereka diam, seakan pikiran mereka melayang meninggalkan raga mereka yang tak memiliki daya apapun. Pemuda berjubah merah, menerawang ke arah dasar api yang menyala sedangkan pemuda yang memakai headband oranye memainkan api dengan sebilah ranting di tangan kanannya. Semuanya diam, sampai pemuda berambut putih memutuskan untuk membuat topik baru.

"Ne, aku lapar." Ucapnya iseng. Dia menunjukkan sedikit ekspresi memelas walau tidak terlalu kentara.

"Sebentar…" Tentu saja yang menyahut adalah Yuuto. Pemuda berjubah merah tersebut tertawa kecil sebelum mengacak-acak tas perlengkapan mereka untuk mencari cemilan kecil. Dia tahu jika Tuan Mudanya sedang bosan, dia tahu jika Tuan Mudanya itu tidak suka aura canggung yang tercipta. Sedingin apapun Shuuya, ada saat di mana dia memang sensitive pada hal barusan.

"Sebenarnya tujuan kita kemana?" Ucap Mamoru. Setelah melihat kelakuan Yuuto yang sangat 'memanjakan' Shuuya beberapa menit yang lalu, dia merasa 'gerah'. Bisa-bisanya dua pemuda ini menampakkan kemesraan mereka di dalam hutan. Itu hanya pemikiran Mamoru. Padahal kejadian sebenarnya sangat sederhana, Yuuto hanya menyerahkan roti kepada Shuuya dan Shuuya menyambutnya, namun tangan mereka bersentuhan untuk sekian detik karena tidak disengaja.

"Inavelia." Ucap Yuuto dengan pelan.

"Untuk?" Tanya Mamoru, tujuan mereka sama. Inavelia. Tapi buat apa? Inavelia adalah kota yang sangat ketat akan keamanannya, tidak sebarang orang bisa masuk kota tersebut. Tapi jika dilihat lagi kedua pemuda ini bukan orang jahat. Mereka adalah prajurit sama seperti dirinya, hanya saja berada dipihak yang masih mengawang.

"Kami sedang mencari seseorang." Kali ini Shuuya yang menyahut. Tangannya masih menggenggam roti yang hanya dia gigit sedikit. Dia memang tidak sedang berselera saat ini. Iris matanya menatap ke langit malam yang cerah dan dihiasi berjuta bintang, iris onyxnya memantulkan sinar-sinar bintang tersebut, membuat iris mata tersebut bersinar.

"Siapa?" Mamoru bertanya. Dia penasaran. Siapa gerangan yang mereka cari di Inavelia. Apakah mereka membawa sesuatu yang sangat berharga dan mengancam Lucifer sehingga mereka diserang oleh Lucifer? Dan sebenarnya mereka adalah bawahan prajurit cahaya atau jangan-jangan mereka adalah prajurit cahaya? Gila! Mamoru menggeleng dan merutuk dalam hati. Itu tidak mungkin.

"Rahasia. Kam-"

Perkataan Shuuya terpotong saat mereka merasakan sekelebat bayangan mengepung mereka dan tengah mengintai mereka di sekitar pohon-pohon. Ini tidak baik. Jumlahnya sangat banyak. Selain Ordha mereka juga merasakan kehadiran manusia. Yuuto menggenggam erat pedangnya dan berdiri di samping Shuuya, waspada sekitar dan melindungi Tuan Mudanya tersebut. Sedangkan Mamoru juga ikut mencabut pedangnya dan bersikap siaga. Ini buruk, jumlah mereka semakin bertambah. Malam sangat memaram, sungguh tidak baik bagi mereka yang memiliki penglihatan terbatas. Berbeda dengan para Ordha yang hanya mengandalkan penciuman saja.

GRAWWW!

Satu Orha menyerang ke arah Yuuto, dan tentu saja itu dapat dihentikan dengan mudah. Bukan Yuuto, yang diserang sebenarnya adalah Shuuya. Yuuto mendecih dalam hati.

"Yuuto! Kau jaga depan. Aku akan menjaga punggungmu." Ucap Shuuya dengan tenang. Dia mengambil busurnya yang semula berada di sampingnya. Dia membuat kuda-kuda menarik anak panah.

"Baik."

"Jangan lupakan aku. Aku yang akan menjaga kalian berdua." Kata Mamoru dengan sedikit rengutan. Dia kesal, keberadaannya terlupakan. Apa menurut kedua pemuda ini, dia tidak bisa bertarung? Dengan jengkel, Mamoru berdiri di depan Shuuya untuk melindungi pemuda itu, entah insting dari mana tapi dia tahu bahwa para Ordha seperti mengincar pemuda berambut putih.

Mamoru terpana saat melihat Shuuya yang menarik tali busur lalu melesatkan anak panahnya pada kumpulan Ordha di depan mereka. Anak panah itu bak tercipta dari cahaya dan memecah diri menjadi puluhan anak panah lalu membunuh para Ordha. Mamoru terpana pada Yuuto. Pemuda pengguna pedang itu sangat lincah, pedangnya pendek tapi jangkauannya sangat panjang, dan dengan sekali sabetan para Ordha sudah menghilang dan menyisakan darah berwarna hitam. Jika Mamoru terpana pada kedua pemuda itu, maka kedua pemuda itu juga terpana pada tekhnik bertarung Mamoru. Pemuda yang memakai head band oranye itu sungguh gesit. Sihirnya berwarna oranye dan daya hancurnya lumayan besar. Dia dapat menghabisi para Ordha di depannya sekaligus, pemuda itu bukan orang biasa.

Iris mata hitam Shuuya menangkap siluet seseorang yang berada di balik pohon dekat mereka, dengan anak panahnya, Shuuya membidik langsung ke arah siluet tersebut. Shuuya tahu, siapapun yang berada di balik pohon itu bukanlah orang biasa. Auranya sangat pekat namun hampa? Tangan Shuuya menengadah untuk menarik tali busurnya. Dengan sekali serangan, Shuuya melepaskan anak panahnya ke arah siluet tersebut. Tapi dia langsung menyesali perbuatannya itu saat sebuah sulur berwarna hijau tua tiba-tiba menyergapnya dan mengikat tubuhnya. Tubuhnya terlambung ke udara lalu dibanting hingga menabrak pohon.

"Ugk…" Kepalanya pening. Dia ceroboh. Darah mengalir di sudut bibirnya. Dia yakin pasti akan ada memar di punggungnya.

"Dan-, Shuuya!" Ucap Yuuto. Dia langsung melompat dan akan mendarat di samping Shuuya. Namun hal itu hanya sebuah impian semu, karena sulur yang lain mengikat kakinya dan menghempaskannya ke sisi lain yang jauh dari Shuuya.

"Yuuto! Shuuya!" Kali ini Mamoru berusaha menggapai tempat kedua pemuda yang tersungkur di tanah. Dia melangkah untuk menuju ke arah dua pemuda tersebut, dia bahkan penasaran di mana sekarang para Ordha yang semula menyerang mereka. Semuanya jadi sunyi.

Selangkah lagi, Mamoru bisa mencapai tempat Shuuya, namun sebauh bola api berukuran bola kaki menerjang ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Dengan enggan, Mamoru terpaksa melompat ke belakang. Namun pemuda berambut coklat tersebut membentuk kuda-kuda siaga, dia mengalirkan energi ke pedangnya hingga pedangnya berubah warna menjadi oranye. Iris mata siaga ke sekitar, mencari sosok orang yang menyerangnya, namun nihil. Hutan sudah sepi. Mereka telah pergi. Kini hanya keheningan yang berada di sekitar mereka. Mamoru menghela nafas lalu beranjak menuju tempat Shuuya dan Yuuto yang entah sejak kapan sudah duduk bersebelahan.

"Kalian baik-baik saja?" Tanya Mamoru dengan nada cemas. Dia memberikan kain kecil kepada Shuuya untuk membersihkan darah yang berada di bibir pemuda itu.

"Ah, tentu saja." Sahut Yuuto, sedangkan Shuuya hanya mengangguk.

"Sebenarnya siapa mereka?" Mamoru berkata dengan kesal, dia tahu jika yang tadi itu adalah prajurit Lucifer. Namun dia penasaran dengan alasan kenapa mereka yang diserang. Dia mendudukkan dirinya di depan Yuuto dan Shuuya dengan keras. Wajahnya merengut dan bibirnya mengerucut, tangan dia lipat di dada dan pedangnya berada di samping dirinya.

"Maaf merepotkanmu, Mamoru Endou. Kau bisa pergi dari sini." Bukannya penjelasan yang diterima oleh Mamoru, yang ada malah mengusiran oleh Shuuya. Dan Mamoru tidak suka itu.

Dengan kasar dia berniat mencengkram kerah baju Shuuya namun hal tersebut terhenti saat pedang milik Yuuto sudah berada di lehernya, mengancam agar dia tidak melakukan apapun ke depannya. Mamoru menghela nafas pelan. Dia menenangkan gemuruh yang bergejolak di dadanya. Dia harus tenang. Jika terbawa emosi, satupun informasi tidak akan pernah dia dapat.

"Maafkan aku. Aku terbawa emosi. Jika kalian tidak bisa menjelaskannya padaku biar aku yang akan mencari tahunya sendiri. Dan saat aku sudah mendapatkan benang merah itu, kalian maukan merajutkannya untukku?" Ucap Mamoru setengah berharap. Tidak pantas memang dia berkata demikian. Mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain.

"Tentu."

Shuuya tersenyum manis kepada Mamoru, membuat pemuda yang memakai headband tersebut tercengang cukup lama. Pemuda berambut putih tersebut sangat manis. Dan apa-apaan ini? Dia sama sekali tidak menyesal telah masuk dalam mulut singa jika akhirnya dia menemukan hal yang menarik di dalam sana.

# # #

Ruangan itu bernuansa hitam dengan banyak sekali atribut yang menandakan sihir gelap. Banyak pentagram di dinding-dinding dengan berbagai ukuran dan ada sebuah lingkaran sihir besar di tengah-tengah ruangan tersebut. Tiba-tiba saja lingkaran tersebut bersinar kemudian berputar dalam gerakan yang singkron dengan ruangan tersebut. Cahaya lenyap dan memunculkan seseorang yang kini berada di tengah lingkaran sihir. Seorang pemuda beambut merah, iris matanya berwarna emerald yang sangat memukau. Dia berjalan ke sisi ruangan dengan tangan kanan mencengkram dadanya erat.

"Perasaan apa ini?" Ucapnya dengan pelan. Dia masih ingat bagaimana dirinya membatalkan perintah untuk menangkap sang vessel. Dia masih ingat bagaimana dirinya yang menjadi lunak dan melarikan diri. Ini sama sekali bukan dirinya. Ayahnya pasti akan marah karena ini.

"Hiroto?" Sebuah suara dari arah pintu membuat pemuda berambut merah menoleh.

"Ryuuji?" Pemuda bersurai kuning keemasan panjang dengan iris mata semanis almond berdiri di depan pintu yang kini sudah kembali menutup. Pandangan keduanya bertemu untuk sepersekian detik sebelum Hiroto memutuskan untuk menghentikannya.

"Ada apa, Ryuuji?"

"Apa kau berhasil? Membawa Vessel? Dari gelagatmu sepertinya kau gagal? Tidak biasanya… Biasanya sebagai boneka kau selalu berhasil menjalankan tugasmu." Ucap Ryuuji dengan nada angkuh. Dia memandang Hiroto dengan tatapan mengejek walau dibalik itu dia tengah penasaran. Hiroto tidak terlihat seperti biasanya. Biasanya hanya ada raut dingin dan bahkan tanpa ekspresi yang tampak. Tapi kini? Air muka pemuda bersurai merah tersebut sedikit melunak.

"Berhasil atau tidaknya aku, bukan urusanmu." Ucap Hiroto dengan senyuman miring dan pandangan mata yang dingin. Dia berjalan mendekati Ryuuji dan menaikkan dagu pemuda itu dengan jari telunjuknya. Menatap langsung iris mata almond dengan iris matanya yang berwarna emerald. Gentar, takut, dan tak fokus adalah apa yang dapat dia tangkap pada iris mata seorang Midorikawa Ryuuji.

"Kau tidak berubah. Tetap pengecut, Midorikawa-san?" Hiroto berujar sebelum dia membuka pintu yang berada di belakang Ryuuji dan meninggalkan pemuda tersebut di sana.

Bagi Kiyama Hiroto yang sudah menjadi boneka ayahnya, yakni Lucifer. Tidak seharusnya dia berbuat di luar skenario seperti ini. Padahal sudah bertahun-tahun dia melakukan hal kotor, sudah beratus-ratus nyawa yang dia renggut dan banyak sekali kejahatan yang dia lakukan atas nama sang ayah. Tapi kenapa dia tidak bisa menjalankan tugas mudahnya yaitu membawa Vessel yang hanya selangkah lagi dia dapatkan, namun dia malah melepaskan dan menghilang. Seharusnya dia tidak boleh melepaskan Vessel itu begitu saja, tapi entah kenapa saat tangannya ingin menyentuh Vessel itu yang ada hanyalah rasa…err sayang? Entahlah Hiroto tidak mengerti. Dia asing dengan perasaan seperti itu. Lupakan Hiroto, lupakan. Selanjutnya kau harus benar-benar mengkap Vessel tersebut. Buat ayahmu bangga untuk kesekian kalinya.

# # #

Rapat kembali dilaksanakan dalam ruangan serba putih istana di Inavelia oleh para petinggi pasukan cahaya. Tapi bedanya, kali ini hanya ada lima orang, tidak sebanyak terakhir kali mereka melakukan pertemuan. Wajar, karena pertemuan ini bersifat rahasia dan hanya orang terpercaya yang diundang oleh pemimpin pertemuan untuk menghadirinya.

"Tuan Hibiki, apakah anda sudah mendapatkan petunjuk? Vessel itu? Lucifer?" Tanya Natsumi Raimon dengan nada menyelidik. Rambutnya yang coklat bergelombang diurai dengan bebas hingga menutupi bagian depan tubuhnya.

"Ya, terakhir kali mata-mata mengatakan jika pasukan Lucifer menuju kota Bork. Tapi tidak ada petunjuk yang berarti dari sana. Karena mata-mata kita dibunuh oleh pasukan Lucifer. Seseorang bersurai merah." Ucap Seigou Hibiki sambil mengusap jenggotnya yang berwarna putih. Kaca mata hitam bundarnya berkilat saat mengatakan hal tersebut. Dia masih ingat bagaimana anak buahnya berkata dengan sangat takut sebelum meregang nyawa karena seseorang berambut merah tersebut.

"Lantas? Tuan Kodou. Bagaimana dengan informasi yang berada di mansion Aqualina?" Tanya Natsumi. Dia tidak berharap banyak karena selama bertahun-tahun mansion itu kini hanya menjadi reruntuhan yang tidak memiliki petunjuk apa-apa kecuali hanya menjadi saksi keganasan Lucifer.

"Tidak ada yang menarik. Sama seperti sebelumnya hasilnya negative. Hanya saja…" Michiya Kodou menghentikan ucapannya saat ingatannya kembali mengarungi ke sekeliling mansion Aqualina. Dia ingat sebuah foto besar yang setengahnya sudah terbakar. Tidak jelas tapi dia yakin itu adalah foto siluet seseorang anak kecil berambut putih dengan Aqualina berada di samping anak itu. Namun seingat dia, Aqualina sama sekali belum menikah dan tidak memiliki anak?

"Hanya saja? Apa yang kau sembunyikan, Tuan Kodou?" Wanita muda bersurai pirang berujar dengan nada kasar, dia menopang tangannya dan menatap langsung pada Michiya Kodou.

"Tidak apa-apa. Mungkin hanya perasaanku saja." Pria itu memilih untuk berdalih, bukan tanpa alasan dia mengatakan hal tersebut, namun dirinya juga masih kurang yakin dengan semua itu.

"Tidak peduli apa yang terjadi. Kita harus mendapatkan Vessel itu dan membelenggu Lucifer. Bahkan jika perlu kita harus menguasai Vessel tersebut dan mengendalikannya untuk membunuh Lucifer dan tidak hanya sekedar mengurungnya." Ucap Natsumi dengan keras. Dia berkata dengan penuh penekanan.

"Tidak bisa begitu, Natsumi-sama." Kali ini seorang pria berjubah putih dengan tudung jubah menutupi seluruh wajahnya kecuali mulutnya berujar. Tangannya yang penuh cincin berlipat di atas meja.

"Kenapa, Jii-san?" Tanya Natsumi tidak terima. Dia tidak mengerti jalan pikiran pria ini.

"Karena Vessel yang diincar oleh Lucifer adalah…manusia."

Waktu seakan berhenti dalam rungan tersebut. Semua yang ada di rungan tersebut kehilangan suaranya. Mereka terdiam, mencerna perkataan dari kakek-kakek misterius yang berada di rungan itu juga. Jangan bercanda.

"Jangan bercanda, Kakek tua. Nama mungkin Vessel itu manusia?" Aphrodi berujar dengan keras. Dia mengebrak meja dengan kasar.

"Michiya Kodou. Kau pasti sudah melihatnya, bukan? Foto besar yang berada di ruang utama mansion Aqualina. Sosok anak berambut putih itulah Vessel yang kau ingin kuasai, Natsumi-sama." Ucap pria tersebut dengan tenang. Dia mengabaikan segala hal menegangkan yang ada di ruangan tersebut.

"Tidak mungkin. Vessel itu adalah manusia?" Natsumi memijat pelipisnya, kepalanya berdenyut sakit. Ini gila. Ternyata Vessel itu adalah manusia? Dia hidup dan bernafas. Sungguh tidak adil bagi takdir yang mempermainkan kehidupan manusia malang itu.

Sementara itu di waktu yang sama …

Pemuda bersurai putih tengah duduk di pinggir sungai dengan kaki telanjang yang tercelup ke air sungai yang dingin. Pemuda itu memandang langit malam bertabur bintang. Dia seakan lupa pada menyerangan yang berjadi beberapa saat yang lalu. Dia tersenyum sendu.

"Mama…" Ucapnya dengan pelan. Dia masih ingat bagaimana kedua tangannya direngkuh oleh sosok wanita lembut bersurai biru yang sangat cantik. Aqualina. Ibunya, orang yang menemukan serta merawatnya dari dia kecil. Kini sudah tidak adalagi sosok itu.

"Danna-sama…" Shuuya menoleh untuk menemukan Yuuto berdiri di sampingnya. Shuuya tersenyum kecil, kali ini lebih lega. Dia tidak sepenuhnya kehilangan kehangatan. Dia masih memiliki Yuuto.

"Yuuto, duduklah…" Bagi Yuuto itu adalah perintah. Tanpa buang waktu, pemuda itu melepas alas kakinya dan duduk di samping Shuuya, ikut merendamkan kakinya pada air sungai yang dingin namun menenangkan. Sementara Mamoru tengah bersandar di pohon dekat api unggun sambil mengawasi mereka berdua.

"Yuuto, aku lelah…" Yuuto hanya diam saat merasakan bahunya menjadi berat akibat kepala Tuan Mudanya yang bersandar pada bahunya. Dia tahu jika Tuan Mudanya ini sangat lelah selama ini. Dia tahu jika Tuan Mudanya ini terlalu memaksa untuk tetap kuat. Ini adalah alasan kenapa dia tidak bisa meninggalkan Shuuya, Tuan Mudanya ini butuh pelindung dan dialah orangnya.

DUAR!

Air sungai itu pecah karena ledakan. Yuuto dengan sigap menarik tubuh Shuuya menghindar dan mereka menuju tempat Mamoru yang sudah siaga, bukan tanpa alasan dia melakukan itu, karena memang senjata mereka berada di dekat Mamoru. Yuuto menarik pedangnya sedangkan Shuuya sudah siap dengan busur panahnya yang indah. Penyerangan ini sungguh sangat tiba-tiba.

"Cih! Mereka datang tiba-tiba." Ucap Mamoru dengan kesal.

Di tengah sungai muncul seseorang berambut putih dengan iris mata yang gelap. Dengan sejekap kumpulan orang-orang berjubah putih dengan topeng rubah bermunculan di samping siluet tersebut. Dan dalam sekejab orang-orang bertopeng tersebut hilang kemudian muncul secara tiba-tiba lalu menyerang ke arah Shuuya, Yuuto, dan Mamoru.

"BAHAYA!"

TBC


Akhirnya update juga, saya sebenarnya udah selesai ngetik fic ini sejak lama, hanya saja baru sekarang saya update, hehehe …

Balasan review untuk yang review fic saya :

Narumi Kadaya : Habisnya aku penasaran, makanya aku lihat aja. Gak merepotkan kok … karena saranmu, aku bikin adegan action dikit, tapi kayaknya ancur … terima kasih reviewnya ya, saya akan lebih berusaha lagi …

Guest : Terima kasih udah review,,, hehehe

Usagi Yumi : Iya begitulah. Bahkan kadang banyak yang nulis cuma Kido aja, gak ada garis di atasnya, makanya aku bingung juga kadangan. Jadi, terima kasih udah memberi tahu aku yang betul gimana… Umm sebenarnya "Apa menurutmu prajurit Lucifer itu sudah tida di kota ini?" bukan ketinggalan 'k' tapi huruf 'd' itu diganti sama 'b', wkwkw trap banget typo-nya. Hehehe… Hooo jangan pakai embel-embel senpai, saya biar lebih tua darimu begini, saya masih hijau lho. Masih banyak yang harus dipelajari… Jadi panggil namaku saja, etto, aku gak banyak hafal kok, yang hafal Cuma yang dimasukin dalam fic, yang lainnya buram alias kurang tahu. ShuuMamo? Hum, MamoShuu gak pp kan? #plak! Oke, oke, terima kasih udah review, jangan jera untuk datang lagi …

Aldy Erich'Ichiru : Bukan bukan bukan. Bukan alien miliknya Ben 10, Cuma mirip ama itu… wkwkwk Iya, tapi pengennya bisa meminimalkan typo itu hingga hilang sama sekali. Ficmu kayaknya typonya dikit banget, gak kayak punyaku. Sadending? Tergantung moodku nanti… hehehe terima kasih udah review, Al-kun! Jangan jera ya! Saya salut, kamu mau baca fic saya, jangan bilang karena terpaksa… :/

Sauriva Angelast : Iya, maaf ya lama baru update dan bikin kamu nunggu lama… tapi kau juga udah bisa update tuh, bikin yang baru lagi malah, dasar… Aku emang gak bisa lepas dari typo, huhu… Shuuya emang aku jadikan Uke! Aku juga bosen liat Shuuya jadi seme terus #plaaakkkk! Iya, SETUJUHHHHH, Shuuya memang manis! Terima kasih udah review ya, Sauriva-chan…

Satoru Mimiya : Iya, Shuuya jadi Uke-nya, tapi ingat itu masih tergantung moodku, kan aku moodnya suka berubah-ubah. Hehehe, iya Terima kasih udah review ..

Sekali lagi terima kasih banget bagi yang udah review, saya merasa sangat terbantu dan sangat bersemangat untuk melanjutkan fic ini walaupun hamper down, tapi karena liat review kalian semua jadi bersemangat lagi. Sekali lagi terima kasih. \^o^/