DIFFICULT OF STRING
10
Sehun + Luhan
Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Yaoi
E
And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan
…
Preview…
Luhan meatap kerumunan yang berada di tengah barisan, yahh… siapa lagi itu kalau bukan Kris dkk. 5 orang itu diam saja dan siswa/I di sana mulai mengambil gambar mereka. Menyenangkan menjadi orang popular yah…, tapi, hei? Mereka tidak berlima, mereka berenam
Luhan memicingkan matanya menghitung dan melihat dengan jelas jumlah pemuda-pemuda itu, dan ia yakin ia menghitung mereka berenam dengan seorang pemuda yang berada di rangkulan Chanyeol membelakanginya. Tapi tunggu, sepertinya Luhan mengenal postur pemuda mungil itu
"B-Baekhyun?."
…..
.
.
.
Luhan POV
Jujur aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tadi itu benar-benar Baekhyun. Tapi, Baekhyun dan Chanyeol terlihat aneh, ketika aku ingin mendekati Baekhyun saat ia menaiki peswat dengan Chanyeol. Tiba-tiba saja Chanyeol menyembunyikan Baekhyun di balik tubuhnya dan langsung membawa Baekhyun pergi. Sahabatku itu juga diam saja tanpa melihatku atau mengeluarkan satu kata, setidaknya seperti 'halo~' atau semacamnya.
Aku sedih, aku hanya ingin menyapanya tapi mengangkat kepala guna melihatku saja ia tak melakukannya. Apa lagi Lay, sahabatku itu semakin jauh dariku, lihatlah, ia tengah bersenang-senang dengan si ketua osis di kursi mereka. Kelihatannya di dalam pesawat ini hanya aku yang tak bersenang-senang, Semua orang tertawa dan membicarakan rencana mereka sesampai di tempat tujuan. Bahkan, orang yang duduk di kursi sebelahku saja tak mau membuka pembicaraan denganku, dia lebih memilih bicara dengan orang yang duduk di sebelah kami.
Hhh.. aku tidak yakin ini akan jadi tour musim panas yang menyenangkan.
Luhan POV end
.
.
.
"MWO!?" pekik siswa siswi saat mereka sampai di vila penginapan
"tapi seongsanim, kasihan Kris oppa. Pasti moodnya akan sangat turun jika harus berbagi kamar dengan namja itu!" Tutur seorang siswi tidak terima Kris yang harus berbagi kamar dengan Luhan
Saat ini semuanya tengah berbaris menunggu nama mereka di panggil untuk menempati kamar yang mana dan dengan siapa. Tidak jauh berbeda dengan tanggap para peserta, Luhan juga sempat kaget dirinya yang di tempatkan bersama Kris. Menurutnya ini benar-benar bencana besar, apa lagi mengingat di dalam satu kamar itu di tempati 3 orang, dan ia lebih khawatir lagi karna Sehun benrsama dengan mereka. Bisa-bisa semuanya ketahuan mengingat beberapa barang yang ia harus berbagi dengan Sehun. ANDWEEEE!...
Luhan menatap Sehun, dia benar-benar kesal karna pemuda itu terlihat santai-santai saja. Iapun beralih pada Kris, dan pemuda itu juga tengah menatapnya dengan senyum yang menyebalkan menurut Luhan atau biasa di sebut seringaian. Luhan langsung berpikiran buruk akan ini, pasti Kris merencanakan sesuatu.
"apa benar itu, Kris-ssi?." Bahkan seongsanim harus menanya pendapat Kris terlebih dahulu? Aturan macam apa ini?
"saya tidak keberatan, seongsanim. Pasti akan menyenangkan berbagi kamar dengan, LUHAN." Jawab Kris masih menatap Luhan dan menekan kata 'Luhan' di sana. Luhan sendiri yang juga menatap Kris tengah berperang batin, ia hanya bisa berharap dirinya akan baik-baik saja. Yah, setidaknya ia harus ingat, Sehun ada bersamanya di sana
.
.
.
Bruukk…
Kris langsung menjatuhkan tasnya di lantai dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Luhan sendiri memilih untuk mengeluarkan semua alat mandi dan menaruhnya di kamar mandi. Sedangkan Sehun, ia langsung menata pakaiannya di dalam lemari.
Tiba-tiba Kris bangkit dan berjalan kearah kamar mandi. Sehun yang tengah sibuk dengan kegiatannya berhenti dan memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh Kris. Oh, ternyata pemuda blasteran itu ingin mengunci Luhan di kamar mandi. Licik!
Beberapa saat kemudian terdengar jelas suara teriakan Luhan dari dalam kamar mandi. Kris hanya terkekeh meletakan kunci kamar mandi di atas nakas tempat tidurnya dan membaringkan diri di atas ranjang. Sehun dengan tampang datarnya menghampiri Kris dan mengambil kunci yang ada di nakas tempat tidur Kris lalu berjalan kearah kamar mandi
"ya! Sehun! apa yang kau lakukan, eoh?." Kris yang melihat Sehun ingn membuka pintu kamar mandi langsung melompat kearah pemuda itu dan meraih kuncinya. Sehun mendecikan lidahnya sebelum meraih kunci itu lagi dari tangan Kris
"haish! Maknae sialan!." Kris mengacak rambut belakangnya berjalan ke ranjang guna mengambil smartphonenya dan melegang pergi meninggalkan kamar itu
Cklek….
Luhan langsung keluar saat pintu kamar mandi terbuka dan mengumpat kesal menyertakan nama Kris di dalamnya
"sudahlah, jangan terlalu di pikirkan." Sehun berjalan kearah Luhan yang tengah membongkar isi ranselnya
"aish! Kau dan dia sama saja! sama-sama menyebalkan! kau tau, situasi seperti ini dapat membahayakan kita. Bisa-bisa semua orang tau, kenapa kau terus melakukan sesuatu sesuka hatimu? kenapa kau tidak memikirkan tanggapan orang di sekitarmu? Mereka akan curiga, dan bisa-bisa aku di hujami terror yang lebih parah." Tutur Luhan menggebu-gebu menatap Sehun penuh kekesalan
"terror? bukankah kau memang sedang di terror secara beruntun?." Sehun menatap Luhan dengan tampang datarnya. Luhan hendak membuka mulutnya untuk berucap namun segera di potong oleh Sehun
"kalau sudah ada terror. Kenapa tidak sekalian saja kita akui semuanya? Biarkan semua orang tau, setidaknya aku bisa bebas dan leluasa bergerak di sekitarmu—"
"jangan berucap seenaknya, Oh Sehun. kau pikir dengan kejadian semalam aku telah berubah dengan pendirianku? Tidak! aku tidak mau di sebut gay. Aku normal, Oh Sehun! aku masih normal." Entah kenapa Luhan sedikit ragu dan tidak yakin dengan ucapannya sendiri. ia normal? lalu kenapa? Kenapa tadi malam ia merasa tidak perduli dengan kata normal? bahkan saat inipun kata itu terdengar aneh dan penuh ke ragu-raguan
Sehun yang mendengar ucapan Luhan berdecak dan tersenyum meremehkan.
"hati-hati dengan ucapanmu sendiri, Oh Luhan. Kau bisa mengingkarinya." Sehun menekan kata 'Oh Luhan' sebelum pergi meninggalkan Luhan yang sedikit tersentak mendengar marganya.
.
.
.
Saat ini para peserta tengah bersiap-siap menaiki bis pariwisata yang di sediakan oleh sekolah di tempat itu. Mereka akan memulai tour yang lebih ke liburan musim panas siang ini. Yah… pastinya setelah semua peserta selesai dengan urusan penginapan mereka. Seorang pemuda kebangsaan China bermata rusa itu dari tadi terus memperhatikan dua orang pemuda yang di ketahui salah satu dari mereka adalah sahabatnya
Melihat dua pemuda itu menambah pertanyaan di memory otak Luhan tentang, Baekhyun. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Baekhyun? Kenapa ia bisa sedekat itu dengan Chanyeol? Bukankah sebelumnya Chanyeol—seperti—ingin membunuhnya? Bahkan beberapa kali Luhan melihat Baekhyun tersipu saat Chanyeol membisikan sesuatu di telinganya. Belum lagi, sejak pertama kali Luhan melihat Baekhyun lagi tadi pagi, pemuda itu—Chanyeol—tak pernah melepas rangkulannya pada Baekhyun, kemana dan berbuat apa pasti tangan panjang nan kokoh itu selalu terselip di pinggang, kadang juga di bahu Baekhyun. seperti tidak ingin Baekhyun sedikitpun jauh darinya, bahkan tadi pagipun saat Luhan hendak mendekati Baekhyun, Chanyeol langsung menghalanginya dan membawa Baekhyun pergi.
Arrggghhh… Semuanya memusingkan! Ingin sekali Luhan mencari tau, tapi ia tak tau caranya mendekati Baekhyun. Bertanya pada Sehun atau Kai pun tak ada gunanya. Dua pemuda itu hanya—pura-pura—terkejut dengan kejadian yang mereka lihat.
.
.
.
"ck! Sial!." Umpat Luhan membongkar-bongkar isi tasnya yang lengket dan bau busuk. Seharusnya ia tau kalau akan seperti ini, seharus ia menjaga tasnya kalau tidak mau di kerjai, dan seharusnya ia bersenang-senang di pantai sekarang. Namun, mengingat pakaian gantinya yang basah lengket dan bau amis di dalam tas itu tidak mungkin. Yah… hanya jika ia ingin pulang dengan pakaian basah karna tak punya pakaian ganti.
"dikerjai lagi yah?" Luhan hampir saja melompat kaget mendengar suara Kai yang entah sejak kapan duduk di sampingnya. Luhan mengelus dadanya sementara Kai terkekeh pelan melihat Luhan yang tidak di sangkanya akan terkejut
"seperti yang kau lihat. hhh…. Rasanya aku jadi tidak puas kalau Kris hanya di buat babak belur." Luhan meletakan tas ranselnya di sebelah lalu mengalihkan pandangannya kearah pantai di mana para peserta tengah bersenang-senang
"benarkah?," Kai menatap Luhan yang langsung mengangguk
"kau punya rencana?." Luhan beralih menatap Kai yang langsung mematrikan senyum menyebalkannya
.
.
.
Luhan tidak tau apa rencana Kai menyuruhnya menunggu di atas bukit belakang vila penginapan. Dan beruntunglah di sini tidak gelap, malah kelihatan sangat indah dengan cahaya remang-remang lampu jalan. Hanya saja, pemnadangan di bukit bagian belakangnya tampak menyeramkan dengan hutan lebat dan gelap di bawah bukit itu. Sempat terlintas dalam benak Luhan tentang ia dan Kai akan mendorong Kris ke bawah bukit hingga masuk ke hutan itu. Namun, segera di tepisnya, tidak mungkin mereka melakukan hal sekejam itu. Lihatlah betapa gelap dan menyeramkannya hutan di bawah sana. Luhan yakin, di sana pasti banyak mahkluk buas dan aneh
Luhan masih focus menerka-nerka mahkluk apa saja di dalam hutan itu sebelum ia merasa seorang mengambil posisi duduk di sampingnya. Luhan menoleh dan cukup heran kenapa Sehun ada di sini? Apa dia juga akan di libatkan dalam rencana Kai?
"sedang apa malam-malam di sini memandangi hutan menyeramkan itu?." ucapan Pemuda itu meyakinkan Luhan bahwa ia hanya kebetulan saja kesini dan ia tidak terlibat dalam rencana Kai. Luhan kembali menatap lurus ke bawah, tepat di kegelapan hutan
"tidak ada. Kau sendiri kenapa di sini?."
"hanya ingin jalan-jalan."
Tepat setelah ucapan Sehun, tak ada lagi yang bicara. Dua pemuda itu sama-sama bungkam. Ternyata yang berkeliaran di sekitar vila malam hari tidak hanya mereka saja, tapi beberapa peserta juga. Hanya saja, kenapa tidak ada yang terlihat di sekitar bukit selain mereka?
Jawabannya mudah, karna semua orang membaca tulisan di papan peringatan yang tergantung di sebuah pohon tepat memasuki jalan menuju bukit itu. Tulisan yang melarang siapapun masuk ke dalam sana. Tapi, sepertinya Luhan dan Sehun tak memperhatikan papan pengingat itu. Buktinya, mereka tenang-tenang saja masuk kesana
Keheningan masih setia menemani keduanya hingga seseorang datang
"hei, kalian!"
Luhan dan Sehun serempak mengalihkan pandangannya mendengar suara seorang pria dewasa di belakang mereka. Luhan terlihat kaget, pria itu tampak mengerikan dengan luka jahitan di pipinya dan… dan…. Dia membawa sebuah pisau.
Sehun refleks berdiri menarik Luhan ikut berdiri dan menggenggam tangan pemuda mungil itu. Sehun sebenarnya terkejut meilihat pria itu, apa lagi pria itu membawa sebuah pisau yang sepertinya terlumuri oleh darah, tapi ia selalu bisa menyembunyikan perasaannya di balik ekspresi datarnya.
Pria dewasa itu berjalan mendekati mereka. Sehun dan Luhan yang menyadari pria itu semakin mendekat otomatis berjalan mundur hingga pria itu berhenti dan mereka juga ikut berhenti tanpa melepas pandangan mereka dari pria itu. Dalam hati, Luhan sudah merutuki Kai yang menyuruhnya ke sini. Dan lagi, kemana pemuda itu? kenapa ia belum datang juga?
Si pria mengangkat pisau yang terlumuri darah itu dan menjilatnya seduktif sambil melihat kearah mereka membuat Luhan gemetar ketakutan. Sehun yang sadar Luhan sangat ketakutan mengeratkan pegangannya di tangan Luhan yang sudah mendingin karna terlalu takut dengan pria di hadapan mereka. Oh lihatlah, siapa yang tidak akan takut? Pria itu terlihat seperti seorang pembunuh yang ingin membunuh dan memutilasi mereka
"mainan baru~~"
Luhan dan Sehun tidak mengerti apa yang di maksud oleh pria itu dengan 'mainan baru'. Namun, mengingat pria itu yang terlihat seperti seorang pembunuh gila membuat mereka berpikir bahwa yang di maksud mainan baru adalah mereka
"S-Sehun, b-ba-bagaimana hi-ni?." Luhan dengan suara bergetar coba berbisik pada Sehun. Dia sangat ketakutan, bahkan, sakin takutnya ia merasa ingin pipis di celana. Hanya saja ia masih punya harga diri untuk melakukan itu di hadapan Sehun. Belum lagi harga dirinya sudah sedikit luntur karna dirnya yang takut pada si pria di kethui oleh Sehun. Sementara pemuda itu terlihat biasa saja membuat Luhan kesal. Yah… bagaimana bisa saat=-saat seperti ini dan Sehun masih terlihat sesantai itu!
"Lu, kita harus lari. Aku rasa orang ini tidak waras." Sehun berbisik yang langsung di angguki oleh Luhan
Tiba-tiba Sehun hendak berlari menarik Luhan bersamanya. Namun, karna terlalu tiba-tiba, Luhan tak sempat mengendalikan diri dan akhirnya jatuh ke tanah
"uwaa! Mainan baruku!" Pria itu panic melihat Luhan dan Sehun yang ingin kabur dan langsung mendekati Luhan yang jatuh ke tanah namun Sehun yang tak terlalu jauh dari Luhan menendang si pria hingga terjungkal ke belakang.
Pria itu mengeram kesal melihat lengannya yang sempat tersayat pisaunya sendiri akibat tendangan Sehun. Ia berdiri menghampiri Sehun yang tengah membantu Luhan berdiri hendak menyayatkan pisaunya di kulit putih Sehun, namun Luhan yang melihat itu langsung mendorong Sehun hingga pisau itu tak menyentuh kulitnya. Si pria semakin kesal, ia beralih menatap Luhan dan hampir saja menancapkan pisau itu di bola mata Luhan. Namun, Luhan segera menendang kaki si pria dan membuatnya terduduk. Luhan tak puas dan kembali menendang si pria hingga kakinya di tangkap oleh si pria dan membuatnya oleng jatuh ke belakang menuruni bukit itu berguling-guling
Sehun menganga membulatkan matanya
"LUHAN…..LUHAN…..TIDAK!... LUHAN!..."
Sehun yang tadinya masih meringis karna tulang keringnya terbentur sebuah batu akibat dorongan Luhan langsung berdiri menuju pinggiran bukit memanggil-manggil Luhan yang terguling-guling menuruni bukit memasuki hutan gelap itu. Tak perduli, tanpa basa-basi Sehun menyeret dirinya menuruni bukit curam itu menyusul Luhan yang lebih dulu memasuki hutan gelap nan menyeramkan itu.
Sementara di atas bukit, si pria sudah menangis meraung-raung karna calon 'mainan baru'nya hilang
.
.
"kau mau membawaku kemana, bodoh?!"
"sudah, ikut saja.."
Terlihat Kai yang tengah menyeret Kris ke halaman belakang vila. Kai dari tadi tak pernah melepas senyum ceria di selingi smirk andalannya dan tentu saja tak di sadari oelh Kris yang malas-malasan berjalan di belakang Kai.
Kai hendak memasuki jalan menuju bukit belakang vila namun Kris langsung menariknya membuat Kai bertanya.
"ck! Kau tidak lihat larangan itu?." Kris menunjuk sebuah papan pengingat di pohon memasuki jalan itu. Kai terkesikap, matanya membulat dan kepanikan langsung mendorongnya berlari menelusuri jalan itu tak perduli Kris yang meneriakinya
Bodoh! Kenapa ia tak melihat papan itu sebelumnya dan meminta Luhan menunggunya di sana? Kau benar-benar bodoh, Kai! Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Luhan?
Hhh…hhh…hh…..
Kai terengah-engah di atas bukit. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Luhan namun tak menemukan pemuda yang lebih tua darinya itu. Kai berteriak memanggil Luhan kesana kemari dan mengacak rambutnya saat tak mendapati bayangan atau sahutan dari orang yang di carinya. Pandangannya beralih ke bawah bukit di mana pemandangan hutan kelam dan gelap tersaji di sana. Sempat terpikir olehnya kalau Luhan berada di bawah sana namun segera di tepisnya karna Luhan tak mungkin sebodoh itu menerjunkan dirinya ke bawah bukit dan masuk ke dalam hutan menyeramkan itu.
Kai menghela napas. Tidak mungkin mencari Luhan sendirian, ia harus memberitau guru pembimbing dan Sehun. Yah! Ia hanya bisa berdoa semoga pemuda berkulit putih nyaris albino itu tidak akan mengamuk dan membunuhnya.
Kai berbalik hendak pergi dari sana dan mendapati seorang pria dewasa tengah tersenyum aneh dari kejauhan. Mungkin orang gila, pikir Kai melihat penampilan pria itu yang tengah bermain dengan seekor kucing. Kai beralih dan berlari benar-benar pergi meninggalkan tempat itu untuk memberitau guru pembimbing dan juga Sehun
.
.
.
Luhan mengerjapkan matanya sembari menyesuaikan diri dengan cahaya yang ada. Ia meringis heran kenapa kepala dan badannya terasa sakit juga pegal-pegal. Luhan mendudukkan dirinya sambil memegang tengkuknya yang sakit, begitu pula dengan bagian tubuhnya yang lain.
Ia melihat heran sekitarnya. Apa yang terjadi? Kenapa ia berada di sini? Kenapa ia merasa kalau tempat ini adalah sebuah hutan? Luhan masih bertanya saat tiba-tiba potongan kejadian semalam hinggap ke memory otaknya, membuat dirinya langsung sadar sepenuhnya dan mengedarkan pandangan melihat sekitar. Tidak! Dia benar-benar berada di dalam hutan. Tapi, sejak kapan ada sebuah tebing yang mengarah ke atas di hadapannya? Di mana bukitnya? Apa di atas tebing itu? Apa dia jatuh terguling dari bukit dan masuk ke dalam hutan dan jatuh dari tebing itu lalu masuk ke hutan di bawah tebing itu? Akh! Membingungkan! Pantas saja badannya sakit semua. Tapi, dia beruntung karna masih bisa bertahan hidup setelah jatuh dari tebing yang sangat tinggi itu menurutnya. lalu bagaimana cara ia kembali?
Luhan hendak berdiri namun sesuatu menahan lututnya. Ia melihat lutut dan menemukan celananya yang sobek serta luka yang cukup parah di sana. Oh, tidak! Jangan bilang ia tak bisa berjalan dengan normal karna luka itu. Luhan melihat sekitar tubuhnya ternyata ada banyak luka kemudian mendongak melihat tebing di hadapannya. Ugh! Entah ia harus merasa beruntung atau bagaimana jatuh dari sana dan masih bisa bertahan hidup walau tetap saja mendapat luka yang bisa di kata lumayan parah. Ataukah ia harus merasa sial karna berada di dalam hutan sendirian dan tak tau caranya kembali, kecuali memanjat kembali tebing itu. Tapi itu tidak mungkin jika luka-luka itu menghambat pergerakannya.
Dengan menahan rasa sakit Luhan memaksakan dirinya untuk berdiri. Bibirnya terus mengeluarkan ringisan setiap kali ia melakukan gerakan kecil seperti memutar tubuh atau menyeret kakinya.
"ugh! Sial!" Makinya tat kala terus berjalan entah kemana
Merasa tak sanggup berjalan lebih jauh karna rasa sakit yang terus menyeruaki dirinya, Luhan memilih berhenti dan bersandar di sebuah batang pohon. Luhan mendongak menatap langit yang tak nampak di hutan yang memiliki banyak pohon lebat itu. Luhanpun memilih kembali melihat sekitarnya. Kalau saja ia tak pernah tau bagaimana gelapnya malam, mungkin ia akan mengira kalau inilah yang di sebut malam. Gelap, yah… hutan itu memang gelap.
Luhan melihat ke depan. Di mana sebuah tebing terpampang di hadapannya mencuat ke atas. Luhan jadi berpikir, siang saja hutannya sudah segelap ini bagaimana kalau malam hari? Tidak! Ia tak mau bermalam di hutan gelap itu sendirian, yah… mungkin Luhan harus mengoreksi ucapannya sendiri karna pemikiran baru muncul di otaknya. Mungkin saja penghuni hutan itu akan dengan senang hati menemaninya bermalam di sana. Memikirkannya saja bulu roma Luhan sudah berdiri
Pemuda berkebangsaan China itu tak mau membuang waktu lagi. Tak perduli dengan rasa sakit di lutut ketika ia berjalan atau badannya yang Luhan rasa tulang punggungnya baru saja patah ketika ia berdiri itu terasa sakit ia tetap berjalan mendekati dinding tebing itu.
Luhan menelan ludahnya sebelum mengepalkan tangan dan mengucapkan kata-kata untuk menyemangati dirinya sendiri. Tangannya sudah menempel di dinding tebing dan mendongakkan kepalanya. Raut yang awalnya bersemangat tiba-tiba berubah sendu secara perlahan. Nyalinya menciut melihat betapa tinggi tebing itu. Kalau dia salah berpijak, ia akan jatuh lagi dan Luhan tidak yaklin bahwa keberuntungan akan memihak untuk kedua kalinya
Tidak bisa di percaya. Ia akan berakhir di sini. Mati mengenaskan di sini
Luhan menundukkan kepala dengan raut yang sepertinya akan menangis. Biarkan saja ia menangis, toh! Tidak ada yang melihatnya
"eommaaaa~"
Luhan sudah menjatuhkan satu tetes air mata saat mengucapkan kata 'eomma' lalu buru-buru menghapusnya. Ia kembali mendongak dan mengatup kuat-kuat bibirnya. Tak apa, setidaknya ia harus mencoba. Kalau keberuntungan tak datang untuk kedua kalinya, setidaknya ia sudah coba berusaha dan kalau ia memang harus mati di sini, mungkin itu memang sudah garis takdirnya.
Luhan sudah memegang bagian-bagian yang timbul pada tebing dan mulai memanjat dengan kedua kaki dan tangannya walau harus bersusah payah karna tebing itu melengkung dan jangan lupa rasa sakit, perih di lututnya yang terus berkedut-kedut.
Luhan yang merasa ia sudah cukup jauh memanjatpun mendongak melihat apakah ujungnya sudah dekat atau belum. Dan sial! Ujungnya masih sangat-sangat jauh. Luhanpun melihat ke bawah dan menemukan dirinya yang belum terlalu jauh dari tanah di bawah sana. Mungkin, tinggi panjatannya hanya setinggi pohon tempatnya bersandar tadi. Luhan kembali mendongak ke atas mencari tempat pijakan selanjutnya dan ternyata itu cukup jauh dari jangkauan membuatnya menghela napas dalam-dalam
"hwaiting! Hwaiting! Luhan kau bisa!…. A-yo! Luhan! Luhan.. Luhan…Luhan… Luhan…" Terus saja ia berteriak menyemangati diri sendiri sambil menggapai ujung pijakan itu dengan kakinya yang kecil.
"Lu—" Tiba-tiba Luhan menghentikan gerakannya kala bayangan seseorang melintas di otaknya. Entahlah, tiba-tiba saja ia berharap Sehun ada di atas sana tengah mencarinya. Menyurhnya diam di tempat dan Sehun sendiri yang akan menemukannya. Wajahnya yang bersemangat berubah sendu lagi mengingat itu tidak mungkin terjadi, Sehun mungkin memang mencarinya, tapi ia tidak yakin Sehun akan menemukannya atau nekat turun dari bukit dan tebing itu sekedar mencari dirinya di hutan bawah tebing yang gelap itu.
"bodoh! Luhan bodoh! Apa yang kau pikirkan? Ck!" Rutuknya menertawai diri sendiri. Kenapa ia mengharapkan Sehun? Bodoh!
Luhan mengehembuskan kembali napasnya dan menyamangati dirinya sendiri sambil menggapai pijakan yang cukup jauh itu.
"Lu-han….Lu…Ha..n… Lu…H..an…Luh…an…..Sehun…. Se..hun…. Sehun tolong aku….hiks… Sehun… tolong aku hiks…kau di mana…..? tolong aku Sehunaaaa…."
Entah sejak kapan dirinya mulai terisak dengan aliran sungai kecil di pipi menyerukan nama Sehun. Mengharapkan kemunculan pemuda itu untuk menolongnya atau mungkin menjadikan nama itu sebagai mantra keselamatan hidupnya.
Air mata yang bercucuran membuat pandangannya sedikit mengabur. Bahkan tanpa sadar pijakan yang tadinya jauh kini terlihat lebih dekat, tanpa basa-basi Luhan menginjakan kaki dan menumpukan berat tubuhnya di sana membuat pegangannya pada pijakan tebing di kepalanya terlepas dan mengakibatkan dirinya yang terjun bebas ke bawah. Sudah berakhir! Kalau ini sebuah permainan game dan pemainmu jatuh, mungkin di layar akan tertulis kata 'game over' yang sangat besar dan jelas. Luhan menutup matanya, siap menerima hantaman keras tanah atau bebatuan runcing di bawah sana
'Apa ini akhir hidupku? Kenapa sangat mengenaskan? Baru-baru ini aku di khianati kekasihku dan mendapat serangan di sekolah. Lalu, sekarang aku harus mati dengan cara yang sangat kejam. Tuhan! Apa kau begitu membenciku? Apa salahku terlalu banyak terhadapmu hingga kau awali dan akhiri hidupku seperti ini? Hhh… bahkan aku belum memberitau hal yang aku sembunyikan dari orang-orang. Aku juga belum sempat membahagiakan dan minta maaf pada orang tuaku. Aku juga belum sempat meminta maaf pada Sehun karna sikapku selama ini. Yah… walaupun kelihatannya ia tidak terganggu, tapi tetap saja.'
'Katakanlah aku tidak waras. Tapi, entah kenapa dengan menyebut nama Sehun aku merasa akan pergi dengan tenang dan hutang yang lunas. Entah kenapa dengan nama itu aku merasa telah menceritakan semua yang aku sembunyikan pada Baekhyun dan Lay. Entah kenapa nama itu membuatku lebih damai. Sehun…Sehun…Sehun… selamat tinggal dunia… Sehun… Sehun… selamat tinggal, Sehun. selamat tinggal nae yeo—"
Bruuukkk….
"Aish! Phabo!... Michiseo, eoh?!. Aish! Akh!"
Luhan mematung.
Apa ia sedang berhalusinasi? Atau ia sudah berada di surga dan Tuhan memberikan sesuatu yang di harapkannya? Tapi, kenapa semuanya terasa begitu nyata? Kata orang, orang yang sudah mati tidak akan merasakan apapun. Lalu, bagaimana dengan sakit di badannya tadi? Kenapa ia masih merasa lutut dan badannya sakit? Belum lagi suara yang barusan di dengarnya terasa begitu nyata. Bau ini, bau ini juga terasa begitu nyata, bau orang itu. Luhan juga dapat mendengar suara detak jantung di telinganya yang menempel di dada orang itu.
Eh? tunggu! Detak jantung?!
Luhan buru-buru mendongakkan kepala yang langsung di susul oleh mata lebarnya. Di hadapannya, wajah seseorang yang ia harapkan tengah mengeluh kesakitan sambil memegangi tulang pinggulnya. Mata Luhan yang awalnya hanya membulat tidak percaya kini bertambah dengan binaran dan senyum lebar terpampang di wajahnya
Greeebb…
"SEHUUUUUNNNN…"
Sehun yang awalnya masih merutuki sakit pinggulnya terdorong hingga kepalanya menempel di tanah karna pelukan Luhan yang tiba-tiba. Mulutnya langsung mengatup sebelum sebuah senyum terukir indah di wajahnya. Tangannya terangkat melingkari pinggung Luhan yang berada di atas tubuhnya. Senyumnya semakin mengembang tat kala merasakan Luhan mempererat pelukannya. Namun, alisnya berkerut merasakan ceruk lehernya basah.
Sehun bangun terduduk memposisikan dirinya seperti tadi saat jatuh tertimpa Luhan yang jatuh dari atas tebing tepat di pangkuannya. Ia masih mengerutkan alis coba meregangkan pelukan Luhan namun pemuda yang lebih tua rupanya enggan melepas pelukan itu. Semakin Sehun melepasnya, pelukan Luhan akan semakin erat di lehernya. Akhirnya Sehun mengalah dan menghela napas panjang sebelum membalas kembali pelukan Luhan dan mengelus punggung pemuda itu
Tanpa melihatpun, Sehun tau kalau Luhan menangis. Padahal Luhan paling gengsi melakukan itu di depan orang lain. Pasti Luhan tak mau melepas pelukannya karna tak mau Sehun melihatnya menangis, itu akan sangat memalukan baginya.
Luhan yang merasa sudah sedikit malu menghentikan tangisnya dan menghapus linangan air mata di pipinya. Ia lalu meregangkan pelukannya dan menatap Sehun yang juga menatapnya.
Seakan dirinya tak pernah mengeluarkan air mata beberapa detik yang lalu. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman bahagia yang entah itu untuk apa, dirinya yang tidak jadi mati atau karna Sehun ada di sini? Atau mungkin keduanya? Entahlah..
"mianhae…." Entah itu permintaan maaf yang tulus atau hanya sebuah candaan karna Luhan terus tersenyum mengucapkannya. Tidak dengan dengan wajah serius.
"yah, kau memang harus minta maaf karna membuat tulang punggungku sakit. Dan minta maaf karna melakukan hal gila tadi! Apa kau tidak punya otak?! Kau tidak bisa berpikir, eoh?! Bagaimana bisa kau melakukan itu?! bagaimana kalau tadi aku tidak lewat sini dan mendengar seseorang yang terus menyemangati dirinya sendiri seperti orang gila kehabisan obat?! Bagaimana kalau aku tidak bisa menangkapmu dan kau menimpa batu besar itu?!—" Sehun menunjuk batu besar di belakang Luhan dengan dagunya
"Sehun…"
"—bagaimana kalau keberentunganmu habis?! Tak bisakah kau diam dan menunggu seseorang datang menolongmu?! Berhentilah melakukan hal bodoh! Kau membuatku khawatir! Kau tau—"
Greeeb….
"aku tau aku tau… mianhae..."
Sehun langsung menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Luhan memeluknya. Pemuda tampan itu memejamkan mata guna menetralkan pikirannya yang terus di penuhi oleh Luhan lalu mengusap kasar wajahnya sebelum membuka mata dan membalas pelukan Luhan tak kala eratnya
Luhan sendiri, ia tak tau kenapa ia sangat bahagia sampai-sampai rasanya senyuman itu tak bisa hilang dari bibirnya. Dan ia juga senang sekaligus melongo dengan ucapan Sehun. Ia bersumpah, itu adalah kata-kata paling panjang pernah yang di ucapkan oleh Sehun dari semua kata-kata paling panjang yang pernah keluar dari mulut pemuda dalam dekapannya itu. Dan ucapan paling panjang itu berisi kekhawatiran untuk dirinya
Akh! Luhan kau pasti sudah gila menyukai hal itu. Tapi sudahlah, ia tak perduli lagi. Mau ia gila, mau gay, mau dia menjijikan, mau dunia membencinya. Ia tak perduli, Ia SANGAT SENANG SEHUN ADA DI SINI….
Sakin senangnya, rasanya ia ingin terjun lagi dari atas tebing itu. Yah… setidaknya melakukan suatu hal yang dapat melampiaskan rasa senangnya. Orang yang ia harapkan benar-benar berada di sini huwaaaa…
"Lu, apa kita akan terus berpelukan seperti ini sampai malam?." Tanya Sehun membuat Luhan tersadar dari lamunan pelampiasan kebahagiaannya. Sehun sendiri bingung dengan Luhan yang sepertinya sangat bahagia pertama kali melihatnya di sini. Apa LuhanNYA terbentur sesuatu dan menjadi gila? aish! Sehun! berhentilah berpikir yang tidak-tidak!
"jika kau mau aku akan terus memelukmu sampai malam."
Sehun menganga dengan alis bertaut. Sepertinya Luhan benar-benar terbentur sesuatu. Sehunpun meregangkan pelukannya dan menatap wajah Luhan yang terus tersenyum. Apa pipinya tidak pegal terus tersenyum lebar seperti itu?
Sehun memeriksa kepala Luhan dengan menyibakan poninya. Tidak mendapat luka parah di sana Sehun memeriksa setiap inci kepala Luhan membuat pemuda mungil itu terheran-heran. Tak ada luka di tempat lain kecuali luka kecil di dahinya. Apa luka sekecil yang langsung sembuh hanya dengan sebuah plester itu bisa membuat Luhan geger otak?
"ada apa?" Luhan mengerutkan alisnya karna Sehun terus menatapnya
"kau terbentur sesuatu? kau terluka?" Sehun memegang kedua bahu Luhan dengan wajah khawatir dan menjadi panic ketika Luhan menagangguk
"mana? Di mana?"
Sehun langsung bertingkah heboh mencari-cari di mana luka yang di maksud oleh Luhan membuat pemuda mungil itu terkikik atas tingkah Sehun yang berlebihan. Sehun langsung menghentikan aksinya ketika mendengar kikikan Luhan dan menatap pemuda itu dengan alis berkerut sebelum mengubahnya dengan ekspresi merajuk. Luhan mengerjainya?
"di situ."
Mengerti dengan perubahan raut wajah Sehun., Luhan menunjuk lututnya memberitau Sehun kalau ia benar-benar mendapat luka parah. Sehun langsung melihat dan memeriksanya seperti seorang dokter.
"apa kau baru mendapat luka ini saat menimpaku tadi?." Sehun masih focus pada luka Luhan. Bahkan sekarang ia coba merobek celana jeans Luhan dan membebaskan luka itu
"Tidak, luka itu sudah ada sejak aku bangun tadi." Luhan meringis ketika Sehun menarik potongan celananya yang sudah di robek oleh pemuda itu. Merasa posisi mereka tidak menguntungkan untuk menarik potongan celana itu, Sehun menatap Luhan dan mengangkat pemuda itu dari atas paha mendudukkannya di tanah. Sehun berjongkok di hadapan lutut Luhan yang terluka dan menarik pelan-pelan potongan celananya, sesekali menatap Luhan. memastikan pemuda itu tak akan kesakitan ketika potongan celana itu menyentuh lukanya.
Sehun tak habis pikir jalan pikiran Luhan. Bagaimana mungkin ia bisa berpikir memanjat tebing itu dengan luka seperti ini? Belum lagi bedannya pasti sakit karna jatuh dari atas tebing itu seperti dirinya. Yah.. benar, Sehun juga jatuh dari atas tebing itu. Namun, ia lebih beruntung karna jatuh di tempat lain dengan rerumputan yang hanya membuatnya mendapat pegal-pegal dan sedikit sakit di punggung yang mencium rerumputan tebal itu. Tidak seperti Luhan, namun tetap saja mereka beruntung karna masih bisa bertahan hidup jatuh dari tebing setinggi itu
"tahan sedikit, ini akan sedikit perih." Sehun menatap Luhan sebelum menunduk dan menjilati luka Luhan tanpa rasa jijik sedikitpun bermaksud mengeluarkan pasir-pasir halus yang melekat di luka itu dengan lidahnya dan meludahkannya ke samping. Terus seperti itu berharap dengan begitu Luhan tidak akan infeksi
Luhan sendiri yang melihat itu hanya bisa membulatkan mata tidak percaya sebelum wajahnya berubah raut meringis tertahan karna perih menjalari lututnya. Tapi ia juga menikmatinya karna lidah Sehun begitu lembut dan hangat di sana. eh? Kenapa dia jadi memikirkan lidah Sehun? Luhan langsung menggeleng kuat-kuat menyingkirkan pemikiran aneh itu
Merasa luka Luhan sudah bersih Sehun menegakkan tubuhnya dan membantu Luhan berdiri.
"kenapa kau melakukan itu?" luhan mendongak menatap Sehun yang lebih tinggi darinya
"apa?" Sehun menautkan alisnya
"itu kotor dan menjijikan." Sehun tersenyum menatap Luhan setelah mengerti maksud pemuda itu
"tidak akan selama itu kau"
Mendengar itu, biasanya Luhan pasti akan berkata 'menjijikan' dengan raut jijik menatap Sehun. tapi, kali ini…. oh ayolah.. bahkan Luhan tak tau bagaimana caranya menatap Sehun dengan kedua pipinya yang merona. Sehun sialan! Dia benar-benar menjatuhkan harga diri seorang Luhan sebagai pria. Bagaimana bisa seorang pria tersipu hanya karna ucapan yang seharusnya di katakana untuk seorang wanita.
Sehun sendiri hanya memperlihatkan senyum manisnya mendapati Luhan seperti itu. Ia tidak tau apa yang telah menimpa Luhan setelah jatuh dari tebing. Yang pasti ia harus mensyukuri hal itu karna Luhan yang ada dihadapannya benar-benar Luhan yang… entah bagaimana ia mengatakannya. Yang pasti ia sangat sangat menyukai Luhan yang seperti ini. Tapi, bukan berarti ia tidak menyukai Luhan yang bukan seperti ini. Sehun berbalik membelakangi Luhan lalu berjongkok membuat Luhan bingung
"ayo naik.."
Luhan mengerti, Sehun akan menggendongnya di punggung karna ia tak bisa berjalan dengan baik dan lukanya akan melebar jika kakinya terus di gerakan
"kau akan menggendongku dengan tubuh kurus itu? kau tau, aku sangat berat."
"kalau saja aku tidak pernah menggendongmu. Mungkin aku akan percaya apa katamu. Sudahlah, ayo naik."
Ah, Luhan lupa kalau Sehun memang sudah beberapa kali menggendongnya. Yah… 'kan tidak mungkin ia berjalan sendiri dari halte bis tanpa sadar dengan mata tertutup ke rumah dan masuk ke kamar lalu tidur di sana , begitu juga saat dirinya yang ambruk di depan pintu.
Sehun pasti sudah terbiasa dengan berat tubuhnya sehingga ia berkata seperti itu. Tanpa babibu Luhanpun menaiki punggung dan melingkarkan kedua tangannya di leher Sehun. Pemuda yang lebih muda darinya itu langsung menyelipkan lengannya di antara betis dan paha Luhan sebelum berdiri berjalan meninggalkan tempat itu dengan Luhan di punggungnya
.
To Be Countinue
Ell note :
Gak ada note, Ell buru-buru…. Terimakasih buat yang masih mau baca ;)
