Suara air yang semula tenang kini mulai bergolak karena pergerakan tak teratur yang dilakukan oleh Shuuya. Kaki-kakinya yang ramping dan kuat berlari di permukaan sungai dengan mengandalkan bebatuan sebagai pijakan. Nafasnya yang terengah-engah dia hiraukan untuk sementara. Iris matanya yang hitam bak batu onyx menatap sekitar dengan waspada. Dirinya terpisah dari Mamoru dan Yuuto, ini tidak bagus.

Shuuya melompat ke sisi lain sungai dan mendarat di tanah, namun dia tidak menghentikan langkah kakinya, dengan cepat dia memasuki hutan dan melompat ke dahan-dahan pohon dan kembali bergerak cepat. Dia diikuti oleh sekumpulan makhluk yang dia tidak tahu apa, instingnya mengatakan jika dia harus lari. Pemuda bersurai putih tersebut lupa bagaimana ini bisa terjadi, yang dia ingat tiba-tiba setelah ledakan muncul siluet berambut putih yang membawa banyak anak buahnya kemudian menyerang mereka bertiga. Dan entah bagaimana pula mereka bertiga terpisah. Dia juga tidak mengerti. Saat ini yang penting harus mencari tempat aman untuk istirahat, stamina yang dia miliki tidak akan bertahan lama jika harus melompat dan berlari dengan kecepatan kilat serta tetap seperti sekarang ini.

"Kau lengah."

Seseorang tiba-tiba muncul di depannya, membuat Shuuya dengan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia meringis saat tendangan orang berjubah hitam dan bertopeng rubah tersebut mendarat di perutnya. Shuuya terpelanting ke belakang hingga kakinya tergelincir dari dahan pohon, dengan repleks yang bagus, sebelum dirinya jatuh ke tanah, Shuuya memutar tubuhnya, kaki kanannya mengait di antara dahan pohon, lalu tangan kanannya memegang dahan pohon tersebut, berayun pelan dan dia mendarat mulus pada dahan pohon yang lain. Iris matanya memandang tajam pada lawannya yang berdiri berseberangan dengannya.

"Aku tidak tahu siapa kau, tapi aku tahu jika kau tidak lebih dari seorang pengecut." Ucap Shuuya dengan dingin. Dia mengambil busur yang berada di punggungnya. Cahaya bulan membuat busur putihnya berkilau dengan sangat indah.

"Jadi itukah busur legendaris? Milik Ratu Aqualina?" Ucap sang jubah hitam, topeng rubah menyamarkan suaranya yang sesungguhnya.

"Lantas?" Ulang Shuuya.

"Bisa dijadikan cendramata setelah membawamu kepada Tuan Lucifer."

Gerakan yang sangat cepat, musuh bertopeng rubah itu melesat ke depan Shuuya, menyerang pemuda itu secara langsung. Dia mengira jika pemuda yang berada di hadapannya tidak akan siap dengan pergerakannya yang cepat tersebut.

"Kau terlalu meremehkanku." Shuuya menghindar, dengan gerakan yang tidak kalah cepat, Shuuya memutar tubuhnya. Busurnya entah sejak kapan sudah berada di punggungnya kembali, dengan tangannya yang bebas, dia memelintir tangan musuh dan memutarnya ke atas, membanting ke dahan pohon kemudian menendangnya dengan sangat keras.

Shuuya memandang datar musuh yang sudah jatuh ke tanah, dia membersihkan pakaiannya yang sedikit kotor. Dia merasa jika ini belum selesai, karenanya dia kembali memasang posisi siaga.

"Kau hebat. Tapi kau masih hijau."

Suara lain dari arah berlawanan membuat Shuuya menoleh ke arah sebaliknya. Di sana berdiri seorang pemuda berambut putih dengan iris mata emerald yang gelap. Pemuda itu memakai pakaian kulit berwarna coklat dengan ikat pinggang terbuat dari bulu hewan yang melingkar di pinggangnya. Pakaian tanpa lengan sang pemuda menampilkan tato berbentuk aneh berwarna hitam pekat, bukti prajurit Lucifer.

Shuuya memandang pemuda itu dengan datar. Dia memang sudah menduga jika pemuda ini adalah anak buah Lucifer. Ini artinya Lucifer semakin serius mengincar mereka, mungkin kesabaran Dark Lord itu sudah semakin menipis. Cih, ini sangat tidak bagus. Shuuya merasa jika pemuda yang berada di hadapannya ini sangat berbahaya. Aura memang tidak bisa berbohong. Shuuya hanya berharap jika dia akan baik-baik saja setelah ini. Apapun yang terjadi dia tidak boleh tertangkap oleh Lucifer, setidaknya sebelum dia bisa menjalankan tugas sekaligus janji yang dia buat.


"VESSEL"

Nisca31tm-emerald

Disclaimer : Inazuma Eleven bukanlah milik saya. Saya hanyalah author yang meminjam chara yang ada di Inazuma Eleven untuk membuat fic ini. :3

Warning : AU. Banyak typo (s) dan kekurangan lainnya. Alur mungkin tidak jelas. Masih ragu apakah ini akan jadi YAOI ato enggak. Ada saran? Ceritanya mungkin dari chptr ke chptr akan semakin ghaje. Saya sudah memperingatkan anda.

Don't like don't read

Rate : T

Happy Reading~~~


"Sudah kubilang, kita harus segera menemukan Dann-... Err Shuuya!" Ucap Yuuto disela-sela tebasan pedangnya yang bergerak secara membabi-buta menebas kumpulan makhluk berjubah hitam dan memakai topeng rubah. Entah kenapa musuh mereka itu tidak ada habis-habisnya. Dan itu membuat Yuuto kesal.

"Aku tahu! Tapi mereka tidak mau habis juga!" Balas Mamoru yang berjarak beberapa meter dari Yuuto. Mamoru juga tidak henti-hentinya menebas musuh yang menyerangnya. Namun mereka kembali bermunculan entah dari mana.

Gerakan Mamoru melambat, dia melompat ke belakang dan dengan cepat mengeluarkan aura merah di pedangnya kemudian kembali menebas para musuh. Musuh tersebut langsung hancur namun mereka kembali bermunculan. Mamoru menggeram.

'Ada yang salah. Pasti ada salah satu yang asli. Tidak mungkin mereka bisa muncul lagi dan lagi...'

Iris mata Yuuto berkilat tajam. Dia menyadari sesuatu.

"Mamoru, bisa kau melindungiku?" Ucap Yuuto dengan pelan. Dia melompat ke samping Mamoru, lumayan dekat hingga suaranya yang pelan bisa terdengar oleh Mamoru.

"Baik." Gerakan cepat, kini Mamoru sudah berdiri di depan Yuuto, melindungi pemuda itu yang tengah memejamkan mata dan fokus pada sekitarnya. Bahkan Mamoru dapat melihat aura Yuuto yang berwarna merah mulai mengelilingi tubuh itu.

Yuuto membuka goggles yang selama ini menutupi matanya. Kini terlihat sudah iris mata ruby yang sangat indah yang selama ini disembunyikan oleh goggles. Dengan cekatan, iris matanya bergerilya mengelilingi sekitarnya, mencari hal yang kurang wajar. Dia menghiraukan serangan musuh yang ditahan oleh Mamoru dengan pedangnya yang masih berpendar oranye. Setidaknya dia harus mempercayai bocah berambut model tanduk itu.

'Di mana? Di mana kau sembunyi? Di mana?'

Fokus, dengan alis yang saling bertaut dan tangan yang menggenggam erat pedangnya untuk tetap siaga dan menemukan di mana sosok yang dia cari. Gerakan mata batinnya tidak berhenti mengawasi sekitar, mencari sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak biasa. Dia harus cepat menyelesaikan ini. Shuuya dalam bahaya.

Seketika iris matanya berkilat berbahaya saat menemukan di mana target yang tengah dia cari, dengan kecepatan kilat dia menghilang dan melambung ke udara, di dalam udara kosong dia menebas, hingga sebuah perisai tiba-tiba muncul, namun bukan Yuuto namanya jika tidak bisa mengatasi kuatnya perisai yang tidak ada apa-apanya dibandingkan kerasnya pedangnya sendiri. Pendar merah terang menyelimuti pedang Yuuto, dengan sekali ayun, pedangnya berhasil memecahkan perisai itu lalu menebas sang pengguna tanpa ampun.

Bersamaan dengan kalahnya sosok yang ditebas oleh Yuuto, sosok-sosok yang menyerang Yuuto dan Mamoru hilang tak berbekas. Mamoru bersorak dengan keras, dia ingin segera merangkul Yuuto sebelum pemuda bergoggles itu menggeram kemudian berlari masuk ke dalam hutan, dan Mamoru langsung mengikutinya.

"Shuuya dalam bahaya!" Mendengar perkataan Yuuto yang penuh dengan kecemasan itu jelas membuat Mamoru mengangguk, pemuda di hadapannya ini memang sangat melindungi pemuda berambut putih itu, dan Mamoru bertanya-tanya kenapa, namun saat ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu, mereka harus cepat. Pasti berat menghadapi musuh seperti tadi seorang diri, atau yang lebih bahaya lagi adalah jika musuh yang dihadapi oleh Shuuya jauh lebih kuat.

Suara ledakan dari tempat yang tidak jauh dari keduanya membuat langkah Yuuto dan Mamoru terhenti, seperti yang mereka takutkan, pasti Shuuya menghadapi musuh yang jauh lebih kuat seorang diri. Hanya dengan membayangkan itu saja, kecepatan Yuuto jadi meningkat, dia harus cepat, melindungi Shuuya adalah tugasnya seumur hidup, dia tidak akan gagal dan tak akan pernah gagal.

# # #

DRAAKK!

Shuuya terlontar ke belakang saat merasakan sebuah energi aneh mendorongnya dengan cukup keras hingga responnya terlambat, tak ada pilihan lain selain menerima serangan entah apa itu dengan telak. Punggungnya terasa sangat perih karena berbenturan dengan batang pohon yang tidak rata serta permukaannya runcing. Rintihan keluar bebas dari mulutnya, walau begitu iris mata yang sehitam batu obsidian tidak menunjukkan sebuah kelengahan sama sekali. Sosok berambut putih yang berada di hadapannya, berjarak lima meter dari dirinya, hanya terlihat menyeringai meremehkan.

"Jadi? Memangnya dengan begini saja kau merasa menang?" Shuuya meludah ke samping dengan kesal. Wajahnya menunjukkan raut dingin, rasa sakit yang dia terima entah menguap kemana. Dia memang tidak suka bertarung jarak dekat, karena dia lebih menyukai memakai busur panah pemberian ibunya ketimbang langsung baku hantam seperti saat ini, namun bukan berarti dia payah jika bertarung jarak dekat.

"Jangan sombong…!"

Pemuda berambut putih kebiruan itu langsung menerjang ke arah pemuda berambut putih tulang yang lain. Kakinya yang kuat menendang ke arah Shuuya. Dengan cekatan Shuuya menangkis serangan itu dengan lengan bagian dalamnya, tenaga mereka berdua terbilang cukup jauh, sehingga Shuuya hanya bisa bergerak ke belakang dengan sosok lain yang terus mendesaknya.

Tendangan musuh berhasil mendarat di perut Shuuya dan membuat pemuda bersurai putih tulang itu kembali terlempar ke belakang, namun itu hanya dalam asumsi lawan, karena dengan cepat, Shuuya memutar kakinya 90 derajat, merendahkan tangannya sebatas dada, kemudian mengarahkannya dengan pukulan kuat tepat ke ulu hati lawannya, hingga keadaan menjadi berbalik.

PRAK!

Pemuda beriris mata emerald gelap merintih pelan. Dia menyapu darah yang mengalir di sudut bibirnya. Tidak membutuhkan waktu lama hingga dia kembali bangkit dan memandang ke arah Shuuya dengan pandangan terhibur.

"Sekarang aku mengerti kenapa kau masih bisa mempertahankan wajah dingin itu meski kau tadi terdesak. Kau benar-benar orang yang menarik. Tapi maaf saja, aku tidak ada niatan untuk kalah darimu." Pemuda itu merilekskan tubuhnya sebelum aura biru, dingin, membekukan, suhu menurun dengan drastis sekali, pemuda itu mengangkat sebelah tangannya, menciptakan bola energi di sana. Berputar-putar dengan indah namun terlihat mematikan.

"Kau ternyata orang yang memiliki kemampuan khusus!" Shuuya melompat ke belakang saat bola energi yang berada di tangan pemuda itu di arahkan kepadanya. Bola energi itu melesat dengan sangat cepat, bentuknya yang semula kecil membesar dan meledak!

BOM!

Shuuya yang berada di ranting pohon tertinggi segera melompat ke ranting yang lain saat pohon yang dia tempati rantingnya tombang, dengan kilauan es yang indah menutupi batangnya yang sudah roboh. Iris mata sehitam malam milik Shuuya terlihat terkejut. Ini bukan pertama kalinya dia menyaksikan kekuatan seperti itu, namun ini tetap membuatnya terkejut karena dia menemui sosok yang bisa menggunakan energi alam dalam usia yang sangat muda.

"Hahaha! Rasakan ini!"

Shuuya kembali melompat ke samping saat pisau-pisau cahaya berwarna biru-putih melesat kepadanya. Tidak belajar dari pengalaman, saat pisau-pisau itu mendekat ke arahnya, pisau-pisau itu meledak dan mengumbarkan suhu dingin yang bersifat merusak. Tekanan itu membuat Shuuya kembali terlempar ke samping, membentur batang pohon dan jatuh ke tanah yang kotor.

"Heh, bagaimana?" Sosok lawan mendaratkan kakinya tepat di hadapan Shuuya yang tersungkur menahan sakit, seringaiannya hilang saat melihat senyuman merendahkan tumbuh di bibir Shuuya. Dan itu membuatnya kesal. Siapa yang tidak kesal jika musuh yang berhasil kau lumpuhkan justru balik meremehkan dirimu?

"CIH!" Tendangan siap dia lancarkan tepat ke wajah Shuuya, namun pemuda bersurai putih tulang itu dengan kuat menangkap kaki lawan dengan tangan kirinya, serta pergelangan tangan kanannya menambah kekuatan tangannya untuk menahan tendangan tersebut.

"Aku juga, sama sekali tidak ada niatan untuk kalah darimu!" Dingin, tajam, Shuuya memutar tergelangan tangannya, menarik kaki lawan yang dia cekat, dengan sekuat tenaga melemparnya ke arah batang pohon terdekat. Senyuman miring muncul di wajahnya saat melihat lawannya tersebut merintih.

"…Kau menyebalkan!" Pisau cahaya kembali mengarah kepada Shuuya. Namun kali ini pemuda dengan busur di belakang punggungnya itu hanya diam, tidak bergerak satu inchipun dari posisi awalnya.

Bagai seorang dewi yang tengah menari, Shuuya menangkap pisau-pisau cahaya itu dengan kedua tangannya, berputar dengan elegan bak bangsawan anggun namun terlihat aura majestik di sekitar tubuhnya. Kemudian dengan secepat kilat dia melempar kembali pisau cahaya itu ke arah pemuda beriris mata emerald yang kini terbelalak tidak percaya. Tidak percaya karena dia bisa kehilangan kendali oleh kekuatannya sendiri. Namun karena repleksnya yang bagus, pemuda itu berhasil menghindar, membiarkan pisau cahaya miliknya meledak di belakangnya, merobohkan satu pohon lagi hingga menciptakan bunyi bedegum yang lumayan keras, hamparan suhu dingin menguasai area tempat keduanya berdiri dengan jarak tidak begitu jauh. Onyx bertemu dengan Emerald, perpaduan yang bisa dibilang tidak terlalu cocok, namun menciptakan ritme yang pas jika disandingkan.

"Suzuno Fuusuke." Ujar pemuda bersurai putih kebiruan, iris emeraldnya menunjukkan sesuatu kepuasan entah kerena apa. Dia memperkenalkan dirinya dengan tegas, seakan-akan mengatakan sebuah pertanyaan jika pemuda di hadapannya tidak boleh melupakannya.

"Goenji Shuuya." Shuuya menyahut perkenalan tersebut dengan ikut menyebutkan namanya. Suaranya dingin, namun ada nada lelah di sana, walau tidak terlihat dengan jelas di wajahnya yang tetap tidak menunjukkan sebuah kelemahan sama sekali.

"Kita akan bertemu lagi, Shuuya-kun. Saat itu tiba, aku pastikan jika kau tidak akan bisa menyerang balik diriku dengan pisauku sendiri."

Shuuya hanya mengangguk, dia juga tidak berniat untuk meneruskan pertarungan dengan pemuda beriris emerald di hadapannya tersebut, karena dia tahu maksud sebenarnya dari pemuda di hadapannya adalah hanya untuk memperkenalkan dirinya saja sekaligus melihat kemampuan masing-masing. Shuuya tahu, jika baik dirinya atau Suzuno Fuusuke sama-sama tidak menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya. Shuuya memamerkan sebuah senyuman kecil di bibirnya saat dia lihat pemuda di hadapannya juga melakukan hal yang sama.

"Sampai jumpa lagi, Shuuya-kun."

Bersamaan dengan itu, sosok pemuda itu lenyap oleh asap berwarna biru muda dengan aura dingin yang menyeruak, membuat Shuuya sedikit bergidik. Setelah dia memastikan jika dirinya hanya seorang diri kini, Shuuya mendudukkan dirinya di tanah, menghela nafasnya dengan berat, dia memandang kedua tangannya yang sedikit membiru pada bagian telapak tangannya akibat tindakannya yang menangkap pisau cahaya milik pemuda bernama Suzuno Fuusuke tersebut. Tindakan yang sangat ceroboh, jika Yuuto ada di sampingnya kini, pasti pemuda itu akan menceramahi dirinya.

"Shuuya!"

Sosok Yuuto dan Mamoru muncul dari balik pepohonan dan langsung menuju ke arah dirinya yang masih terduduk dengan pakaian yang kotor dan lecet. Shuuya dapat melihat ada kilat cemas di iris mata ruby milik Yuuto yang masih tidak tertutupi oleh goggles.

"Yuu-"

"Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?"

Shuuya hanya tersenyum kecil di bibirnya yang tipis saat melihat sikap Yuuto yang teramat mencemaskan dirinya. Dia tidak tahu akan bagaimana jika tidak ada Yuuto di sampingnya. Namun kini bukan hanya ada Yuuto yang akan berada di sisinya, namun pemuda lain bersurai coklat dengan iris mata semanis madu juga ada di sampingnya kini. Shuuya hanya bisa memberikan senyuman kecil ke arah Mamoru yang memandanganya dengan pandangan cemas di belakang Yuuto.

# # #

Pagi telah datang. Udara segar menyeruak menyambut pagi. Di atap sebuah istana bernuansa suram, sinar matahari terasa dingin di sana. Seorang pemuda bersurai putih kebiruan dengan iris emerald tengah duduk dengan kaki terjulur ke bawah, wajahnya menatap ke langit yang masih saja menunjukkan kecemerlangannya walau di bawahnya berdiri sebuah kastil penuh kegelapan. Suzuno Fuusuke. Pemuda itu memejamkan matanya saat merasakan angin dingin menerpa kulit wajahnya. Entah sejak kapan sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya yang semula dingin.

"Harimu sedang baik, eh? Fuusuke?" Sebuah suara familiar menyapa indera pendengarannya hingga pemuda berambut putih membuka kedua matanya dan menoleh ke samping untuk menemukan sosok pemuda berambut merah menyala dan beriris emerald sama seperti dirinya. Namun, jika iris emerald miliknya lebih mendekati toska, maka iris emerald milik pemuda di sampingnya lebih mendekati zamrud.

"Hiroto…" Ucap Fuusuke tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya yang dia tahu hanya sekedar untuk basa-basi saja.

"Wajahmu terlihat puas. Pasti terjadi hal yang sangat menarik." Sahut Hiroto dengan nada datar, walau begitu dia menyelipkan nada tanya di untaian kata yang dia ucapkan.

"Kau tahu, Hiroto. Untuk pertama kalinya ada seseorang selain dirimu yang bisa menanggap pisau cahaya dariku tanpa terluka satu inchipun. Kekuatanku seakan bergolak, ada didihan amarah, namun rasa senang menguasai diriku. Untuk pertama kalinya aku merasa…terkalahkan." Fuusuke tersenyum kecil dan memandang langsung ke arah Hiroto yang sama sekali tidak menunjukkan raut wajah apapun, datar.

"Vessel itu?" Tanya Hiroto. Dirinya bertanya dengan langsung. Dia memang sudah menduga jika pemuda yang merupakan Vessel hidup itu jelas bukan orang sembarangan. Fuusuke, bagi Hiroto adalah seorang 'teman' yang bisa diajak untuk bicara ringan seperti ini, bukan hanya karena mereka berdua sering berlatih bersama, hanya saja keduanya memang memiliki selera yang hampir serupa.

"Ya. Vessel itu sama sekali tidak lemah. Aku rasa, bertahun-tahun, dia melatih diri tanpa henti. Keruntuhan kastil Ratu Aqualina jelas membuat dia tidak akan segan kepada kita." Fuusuke berujar dengan pelan, ada kilat tajam di kedua iris matanya. Dia memantikan pertemuan selanjutnya dengan pemuda bersurai putih tulang tersebut. Bagaimana tubuh itu menghindar dari serangannya, bagaimana iris mata onyx miliknya memandang dirinya dengan angkuh. Dia ingin merasakan perasaan seperti itu lagi saat bertarung dengan seorang Goenji Shuuya.

"…Mata merah…"

Baik Hiroto maupun Fuusuke menoleh ke arah sumber suara yang lain yang muncul di belakang mereka untuk menemukan seorang perempuan berpakaian petarung, dengan pedang pendek di sisi kanan serta sebuah senapan berlaras pendek di sisi kirinya. Rambutnya yang berwarna biru gelap terlihat berkilau, tirisan anak rambut berwarna putih menjuntai di masing-masing depan telinganya memberi kesan 'kuat'. Kulitnya yang berwarna tan menandakan betapa tangguh dan sungguh-sungguhnya perempuan itu dalam bertarung. Bibirnya yang tipis tertutup rapat kala pandangan kedua pemuda di hadapannya tertuju kepadanya.

"Apa maksudmu, Reina?" Tanya Fuusuke. Dia memang sama sekali belum berbincang dengan perempuan yang menjadi partnernya tadi malam untuk 'memperkenalkan diri' kepada Vessel incaran Tuan mereka itu. Dia memang mengira jika terjadi sesuatu, namun Fuusuke tidak berniat untuk mencari tahu sebelum perempuan tersebut bercerita sendiri kepada dirinya.

"Mata merah itu…" Yagami Reina mendudukkan dirinya di belakang Hiroto dan Fuusuke sebelum dia memeluk lututnya sendiri dengan tubuh yang sedikit bergetar. Dia masih ingat bagaimana pedang milik pemuda bersurai aneh serta iris mata semerah darah itu menebas 'tubuhnya' tanpa ampun. Dia masih ingat bagaimana sosoknya menjadi tak berdaya setelahnya dan hanya bisa menghilang.

"Reina!? Apa maksudmu? Jelaskan sekarang juga!" Kini Hiroto ikut mendesak perempuan itu untuk bicara. Dia tidak percaya jika perempuan tangguh seperti Reina akan serapuh ini hanya karena pertarungan singkat tadi malam.

"Dia…Pemuda itu…Memiliki iris mata semerah darah… Iris mata yang hanya dimiliki oleh iblis!" Reina menatap kedua pemuda di hadapannya dengan pandangan berkabut pada kedua iris mata berwarna aqua jernih namun gelap tersebut. Namun sosok rapuh itu segera hilang saat senyuman aneh muncul di wajahnya. Iris mata kini semakin menggelap.

TBC


Balasan Review :

Diamond : Ehehehe … Iya begitulah… Cemburu itu kadang perlu. Wkwkwkwk… Yang full-cincin itu? Masih rahasia… ikuti aja ya?

Haikal Kaichou : Terima kasih, Haikal-kun. Saya juga merasa begitu. Karena fandom ini sepi makanya saya publishnya juga jarang … gomen …

Usagi Yumi : Hehehehehe … begitulah… typo itu saya juga sadarnya pas udah dipublish … teweenggg gitu… wkwkwk … Kalo masalah pair aku juga gak terlalu menampakkannya, eh, tapi, eh, anoo ne, baca aja lanjutannya nanti … hehehe … #plakk! Oia, Usagi Yumi-san… terima kasih udah review yak .. ehehe

Hn : Iya ini sudah lanjut … Makasih …

Miyuki Mina : Hahaha, saya juga adalah fujo … Tapi taraf fujo saya berkurang karena saya sering nonton film barat kini … XD hahahha, saya juga, SANGAT suka klo Shuuya itu jadi Uke … XD ,,, ne ano ne… Terima kasih udah review …