DIFFICULT OF STRING
11
Sehun + Luhan
Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Yaoi
E
And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan
…
Preview…
"kalau saja aku tidak pernah menggendongmu. Mungkin aku akan percaya apa katamu. Sudahlah, ayo naik."
Ah, Luhan lupa kalau Sehun memang sudah beberapa kali menggendongnya. Yah… 'kan tidak mungkin ia berjalan sendiri dari halte bis tanpa sadar dengan mata tertutup ke rumah dan masuk ke kamar lalu tidur di sana , begitu juga saat dirinya yang ambruk di depan pintu.
Sehun pasti sudah terbiasa dengan berat tubuhnya sehingga ia berkata seperti itu. Tanpa babibu Luhanpun menaiki punggung dan melingkarkan kedua tangannya di leher Sehun. Pemuda yang lebih muda darinya itu langsung menyelipkan lengannya di antara betis dan paha Luhan sebelum berdiri berjalan meninggalkan tempat itu dengan Luhan di punggungnya
…..
.
.
.
"sekarang bagaimana?"
"aku tidak tau. Mungkin kita hanya bisa menunggu datangnya pertolongan"
"dan mati kelaparan di sini?"
Sehun mengalihkan pandangannya menatap Luhan mendengar ucapan pemuda itu. Keduanya tengah beristirahat di bawah pohon yang berbeda sambil memikirkan cara keluar dari hutan dan kembali ke vila. Namun, satu-satunya cara yang terpikir oleh keduanya hanya memanjat tebing menjulang itu. yah…. Hanya jika mereka sudah bosan hidup.
Sehun berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor
"tetap di sini. Aku akan pergi mencari sesuatu yang bisa kita makan." Sehun hendak melangkah meninggalkan Luhan sebelum pemuda itu memanggil dan membuatnya berbalik lagi.
"aku ikut." Luhan berkata seraya berusaha berdiri. Sehun langsung menghampiri dan membantunya
"kau di sini saja, lukamu bisa menganga makin lebar jika terus di gerakan" Terdapat kekhawatiran saat berkata dari raut wajah Sehun membuat Luhan tersenyum dan menggeleng
"aku ikut, aku tidak mau sendirian di sini." Sehun menghela napas panjang sebelum membalik tubuhnya dan berjongkok membelakangi Luhan
"kau tidak perlu menggendongku, aku bisa berjalan."
"yah. Hanya jika kau mau di tinggal atau kita bertahan dengan perut kosong sampai besok."
Luhan mendengus sebelum naik ke punggung Sehun. Bukankah baru beberapa menit yang lalu Sehun menggendongnya? Lalu kenapa sekarang ia masih mau menggendong Luhan? Tidakkah punggungnya sakit atau lelah?
Entahlah, mungkin Sehun punya pasokan energy yang berlebihan di tubuhnya
.
.
.
"hahaha… lihat yang itu, sangat mirip denganmu, Sehun."
"Lu, hentikan.."
"hahaha…. Aigoo, Sehun… Sehun sungguh kau mirip sekali dengan yang itu..hahaha.."
Sehun memutar bola matanya sambil mengupasi pisang yang ada di genggaman tangannya. Sementara Luhan? Pemuda itu terus menertawai dan menyamakan Sehun dengan salah satu monyet di hadapan mereka yang Luhan rasa tingkahnya benar-benar mirip dengan Sehun.
Sebenarnya Sehun kesal karna Luhan menyamakannya dengan seekor monyet. Tapi melihat Luhan yang tertawa begitu lepas membuatnya ikut senang dan berpura-pura kesal untuk menyelamatkan harga dirinya. Sesekali ia menatap Luhan sambil tersenyum dan kembali merubah mimic wajahnya menjadi datar ketika Luhan menoleh padanya untuk mengejek dan tertawa
Sehun menatap monyet yang di kata Luhan mirip dengannya. Sehun rasa ia tak mirip dengan monyet itu, lihatlah, monyet itu kecil dan berbulu. Kulitnya juga hitam, matanya bulat, hidungnya pesek, dan mulutnya aneh!
Sehun menyuarakan protes pada Luhan yang langsung di tanggapi pemuda itu
"siapa yang menyamai monyet itu dengan fisikmu?" Sehun menoleh pada Luhan yang masih menatap monyet itu sambil mengunyah pisang dalam mulut
"coba kau perhatikan baik-baik. Sifat monyet itu mirip denganmu. Selalu bersikap acuh, bahkan dari semua monyet-monyet ini, hanya monyet itu saja yang dari tadi tidak merubah ekspresi wajahnya dan hanya bereaksi ketika melihat betina yang itu" Luhan menunjuk seekor monyet lagi yang langsung diikuti Sehun arah telunjuknya
"kalau begitu, yang betina itu kau." Luhan menoleh menatap Sehun yang tengah menatap dua monyet itu sambil mengunyah pisang
"enak saja kau samakan aku dengan monyet betina. Kalau menyamakan setidaknya samakan aku dengan yang jantan." Protes Luhan membuat Sehun menatapnya
" kau 'kan seorang istri, jadi kau seekor betina dan aku suamimu, jadi aku yang jantan." Sehun tertawa kecil melihat raut wajah Luhan yang terlihat ingin membunuhnya. Tapi itu tak terlihat menakutkan di mata Sehun, malah terlihat lucu menurut Sehun
"SIALAN KAU MR. OH!.." Luhan merampas pisang dari tangan seekor monyet yang duduk di belakangnya dan melemparkannya kearah Sehun yang sudah berlari menghindari Luhan sambil tertawa
"hei.. jangan melemparku dengan pisang. Sudah untung monyet-monyet ini mau membagi pisangnya dengan kita. Seharusnya kau berterimakasih dengan memakan pisangnya bukan membuangnya..Hahaha…"
Luhan menghentikan gerakannya. Ia tertegun melihat Sehun yang tertawa begitu keras dan lepas. Ia belum pernah melihat Sehun yang seperti ini, tidak! Bahkan orang lainpun belum pernah melihat Sehun seperti ini. Jangankan tawa Sehun yang lepas dan keras. Senyuman kecil saja mereka tidak mendapatkannya. Luhan merasa benar-benar beruntung bisa menjadi orang yang menyaksikan senyuman kecil hingga tawa lepas Sehun. Suatu hal yang benar-benar mahal dan langkah untuk di saksikan orang lain. Jika Luhan menceritkan pada Baekhyun atau Lay, sudah pasti mereka akan sangat iri.
"hei! Mrs. Oh, apa melempariku dengan pisang membuatmu jadi gila hingga tersenyum-senyum sendiri seperti itu? oh! Atau kau mengagumi wajah tampanku ini, eoh? Hahaha…."
Luhan masih berkutat dengan pikirannya sebelum seruan Sehun membawanya sadar dan kembali melempari pemuda itu mendengar ucapan menyebalkannya. Luhan pikir mungkin Sehun terlalu banyak bergaul dengan Kai saat dirinya tak bersama dua pemuda itu hingga Sehun tertular sedikit sifat Kai yang menyebalkan.
Luhan terus saja melempar pisang kearah Sehun walau tak satupun buah pisang mengenai pemuda itu hingga semua pisang yang ada di batang pisang itu habis iapun memilih batangnya untuk melempari Sehun sebelum menggantinya dengan batu kalau-kalau batang pisang itu juga tidak mengenai Sehun
Puk…
Gotcha!
Luhan tersenyum bangga saat batang pisang itu megenai dahi Sehun. Pemuda yang terkena lemparan langsung diam dan terduduk di tanah memegangi dahinya sambil meringis sakit
"rasakan itu. Siapa suru kau seenaknya memancing emosiku!" Luhan memasang senyum kemenangan kearah Sehun yang tiba-tiba lenyap melihat Sehun tak kunjung berhenti merintih dan memegangi dahinya. Apa lemparan Luhan terlalu keras? apa Sehun akan geger otak? OMO!
Luhan langsung berdiri berjalan dengan hati-hati menghampiri Sehun
"ya, gwenchana?" Tanya Luhan saat berada tepat di hadapan Sehun yang duduk di tanah. Tidak mendapat responn selain ringisan sakit, Luhan menendang pelan kaki Sehun
"sshhh…Ck! Aku hanya bercanda, kenapa kau melemparku seperti itu? sangat sakit!…" Sehun masih memegangi dahinya sambil menyuarakan protes. Luhan langsung merasa bersalah dan berjongkok di hadapan Sehun memastikan kondisi pemuda itu
"mianhae… aku tidak bermaksud. Apa sangat sakit?"
Luhan bergidik melihat Sehun yang menatapnya dengan tajam. Yah… kalau Luhan tak pernah melihat ekspresi berbeda dari wajah Sehun, mungkin Luhan akan merasa tatapan seperti itu biasa saja. Tapi, ia tidak dalam kondisi itu
"si-sini, biar ku lihat." Luhanpun mendekati Sehun dan menyingkirkan tangan pemuda itu yang memegangi dahinya. Sehun diam membiarkan apa yang akan di lakukan oleh Luhan
Luhan mengusap-usap dahi Sehun sambil meniupnya
"merasa lebih baik?" Luhan menatap Sehun yang entah kenapa tersenyum jahil padanya hingga…
Greeebb…
"Se—ahahaha….ahahaha… Se..ahaha… hentikan..Sehun..ahaha.."
"hahaha….Kena Kau! Kkk~"
"Sehun hentikan… hahaha… geli Sehun hentikhahaha…. Stop Sehun hahaha… aku ti…hahaha..dak bisa bernapas… hahaha…"
Luhan berusaha menahan tangan Sehun yang terus menggelitikinya. Ia tak tau kalau Sehun ternyata hanya berpura-pura sakit dan akhirnya ia masuk jebakan. Sehun benar-benar tertular Kai. Tapi, tidak apa. Setidaknya mereka menikmati kebersamaan yang seperti ini karna tingkah satu sama lain
Luhan benar-benar sudah tidak tahan, napasnya selalu tercekat tat kala jari Sehun terus menggelitikinya. Akhirnya Luhan memilih mendorng Sehun hingga menghentikan aksi pemuda itu namun dririnya tertarik oleh Sehun dan menimpa tubuh pemuda itu untuk kedua kalinya.
DEG..
Keduanya terdiam dengan mata yang bertautan satu sama lain. OH! Jangan lupa detak jantung mereka yang entah kenapa tiba-tiba saja bergemuruh menyeruakan sesuatu yang meluap-luap dalam diri mereka. Bahkan pipi keduanyapun tak mau ketinggalan dengan menghasilkan rona merah di sana. Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan kedua orang itu? Kenapa dengan jantung mereka yang tiba-tiba menambah volume detaknya? Dan darah yang tiba-tiba menambah volume geraknya? Oh! Itu mungkin pertanyaan untuk Luhan. Sementara Sehun, ia paham, ia sudah terbiasa dengan hal seperti itu karna ia selalu merasakannya ketika berada di dekat Luhan
Lama terdiam, Luhan menahan napas menyaksikan kepala Sehun yang perlahan terangkat mendekati wajahnya. Luhan sudah berfikir kemungkinan-kemungkinan yang akan di lakukan oleh Sehun. Salah satu kemungkinan itu melintas di otak dan matanya langsung tertuju pada bibir Sehun yang semakin mendekat. Wajahnya bertambah merah. Entah kenapa ia tak bisa bergerak dan hanya bisa mematung di tempat membiarkan Sehun melakukan kemungkinan yang ada dalam pikirannya. Bahkan, ia tidak tau sejak kapan matanya tertutup dan hanya bisa menerka-nerka sudah sedekat mana wajah Sehun lewat hembusan napas pemuda itu yang menerpa kulit wajahnya. Kenapa dia melakukan itu? jangan Tanya, karna dia sendiripun tidak tau alasannya
Hembusan nafas Sehun semakin terasa di kulit wajah Luhan. Bahkan, tangan kanan pemuda itu sudah berada di tengkuknya. Jantung keduanya semakin bergemuruh seiring dengan tereliminasinya jarak antar dua bibir itu. Mata Sehun yang semulanya menelusuri tiap lekuk wajah Luhan kini hanya tertuju pada benda kenyal berwarna pink sedikit kemerahan milik Luhan. Sehun menjilati bibirnya sendiri sebelum memiringkan kepalanya saat di rasa jarak mereka kurang dari 3 cm lagi. pasti ini akan menjadi ciuman pertama mereka yang menyenangkan menurut Sehun hingga tiba-tiba
Tuk...
Chu~
"akh…"
Luhan membuka mata memegangi kepala bagian belakang dan depannya yang sakit. Sedangkan Sehun? Pemuda itu tak memperdulikan jidatnya yang sakit membentur jidat Luhan dan kepala bagian belakangnya yang mencium tanah akibat benturan itu.
Sehun geram, kesal, marah semuanya bercampur aduk. Padahal tadi itu sedikit lagi…., Sehun ingin berteriak dan merengek di depan Luhan meminta untuk melakukannya lagi tapi itu tidak mungkin ia lakukan. Ayolah… bagaimanapun spesialnya seorang Luhan, ia masih harus mempertahankan sedikit image coolnya di depan pemuda itu.
Memalukan sekali kalau ia merengek atau menangis meraung-raung untuk hal itu. Arrgghh…. Ini semua gara-gara monyet sialan itu! Monyet yang di kata Luhan mirip dengan Sehun seenak jidatnya melompat di kepala Luhan dan menghancurkan moment terindah yang sudah di patenkan Sehun sebagai moment terindah dalam hidupnya.
Bukan hanya itu, sekarang Sehun merasa sangat malu. Oh, ayolah… siapapun tau apa yang akan terjadi selanjutnya tadi jika monyet itu tidak datang melompat di kepala Luhan dan membenturkan jidat mereka hingga kepala Sehun terdorong mencium tanah. Tapi tidak apa, tidak di bibir. Bisa mencium Luhanpun Sehun sudah merasa sedikit puas meski hanya di lubang hidung pemuda itu dan harus menunda mencicipi manisnya bibir Luhan. Yah… ia harus merasa sedikit puas karna sebelumnya ia lebih maju bisa mencium dahi Luhan meski secara diam-diam, tapi kali ini? Lubang hidung? Yang benar saja?
Ah! Mungkin itu akan menjadi hal yang langkah karna tak banyak orang yang akan mencium lubang hidung. Sehun harus bersyukur
"aish! appo.."
Luhan bangkit dan duduk di atas tubuh Sehun memegangi kepalanya. Sehun yang mendengar keluhan Luhan langsung sadar dan bangun memposisikan dirinya untuk duduk
"di mana yang sakit? Disini?" Refleks atau bagaimana Sehun langsung ikut mengusap-usap kepala bagian belakang Luhan sementara yang bersangkutan langsung menatap Sehun dan kedua pasang bola mata itu kembali bertemu.
2 menit mereka bertahan dengan posisi itu hingga detik selanjutnya serempak memalingkan wajah dan berdehem menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba saja menjadi aneh satu sama lain mengingat kejadian 2 menit sebelumnya.
"ekhem! Ehum…" Luhan yang sadar posisinya berada di pangkuan Sehun segera bangkit dan berbalik berjalan entah kemana yang pasti tidak jauh-jauh dari tempat itu sambil merutuki dirinya sendiri karna kejadian tadi. Bahkan, rasa sakit di lutut tak di pedulikannya dan terus berjalan seperti biasa tanpa tertatih atau menyeret kakinya
Sedangkan Sehun? Ia masih duduk di tempat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil merutuki kejadian tadi. Tiba-tiba raut wajahnya yang canggung berubah menjadi sangat kesal. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar mencari monyet yang telah membuat keadaan seperti ini.
.
.
.
Kedua pemuda itu duduk berjauhan dalam diam masih terpengaruh kejadian tadi siang. Benar-benar merasa canggung dan tidak nyaman satu sama lain.
Hanya ada suara khas hutan di malam hari yang menemani mereka dengan sedikit sinar bulan ikut menerangi. Ingin sekali mereka mengusir keadaan yang sangat aneh ini. Tapi…, ayolah, siapa yang mau memulai?
"eum/eum" Keduanya menoleh serempak. Tidak di sangka mereka akan bergumam bersamaan ingin menyampaikan sesuatu
"kau duluan." Sehun mempersilahkan Luhan
"tidak, kau saja duluan ." Tolak Luhan
"err… baiklah. Eum, aku rasa ini sudah sangat malam." Sehun menggaruk tengkuknya yang tak gatal menghadap tanah "bukankah, seharusnya ini sudah melewati jam tidur?" Entah kenapa Sehun merasa tidak mengerti omongannya sendiri yang terdengar aneh dengan sambungan 'bukankah, seharusnya ini sudah melewati jam tidur' dan yang pertama di ucapkannya
"yah, aku rasa juga begitu" Luhan menatap tanah. Setelahnya hanya terdengar sayup-sayup suara jangkrik dan gesekan dedauanan pohon tertiup angin malam. Luhan merubah cara duduknya dengan menekuk kedua lulutnya dan menyembunyikan tangannya di antara perut dan paha menghindari terpaan angin malam yang dingin.
"kalau begitu, tidurlah." Luhan berucap sebelum menenggelamkan kepalanya di lipatan lutut dan dadanya, coba mencari posisi yang nayaman namun ia kembali mengangkat kepalanya merasa pergerakan di samping kanannya. Ia menoleh dan mendapati Sehun yang tengah duduk di sana lalu menoleh padanya.
"eum, jika kau mau, kau bisa bersadar di bahuku." Sehun menggaruk tengkuknya tanpa melihat lawan bicaranya.
"b-baiklah.."
Luhan menggaruk tengkuknya dengan gugup sebelum meletakan kepalanya di bahu Sehun ragu-ragu. Seiring kepala Luhan yang makain menempel di bahunya, seiring itu pula sengatan listrik dengan tegangan yang makin bertambah menyengat masuk ke dalam diri Sehun. Beberapa saat kemudian Sehun melirik Luhan melalui ekor matanya dan mendapati si rusa tengah memejamkan mata dengan dengkuran halus mengalun dari bibir yang telah memancing keadaan menjadi seperti ini.
Sehun tersenyum kecil melihat wajah damai Luhan sebelum menarik tubuh pemuda itu mengganti bahu dengan dadanya untuk sandaran Luhan. Sehun sendiri menyandarkan kepala dan punggungnya di batu yang ada di belakangnya dan mengeratkan dekapannya di tubuh Luhan agar pemuda itu mendapat kehangatan.
"jaljayo, Lu." Sehun berucap sebelum menutup mata memasuki alam mimpi. Tanpa di sadarinya, ternyata pemuda yang ada dalam dekapannya itu sama sekali belum tidur karna sibuk dengan detak jantungnya yang entah hari ini kenapa mendadak selalu bertingkah aneh. Aneh? Tapi ia menyukainya. Luhan tersenyum kecil mencari posisi yang nyaman di dada Sehun lalu membalas pelukan hangat Sehun dengan melingkari pinggang Sehun menggunakan tangan kurusnya
"jaljayo, Sehun."
.
.
.
Sehun bangun karna tidurnya terusik oleh jemari seseorang yang Menggelitik dan terus menelusuri tiap lekuk wajahnya. Sehun tau siapa pelakunya, tanpa melihatpun ia tau kalau itu Luhan. Orang yang masih berada dalam dekapannya. Aigoo, ahh! Betapa bersyukurnya Sehun terjebak dalam hutan ini bersama Luhan. Ia jadi tau kalau ada Luhan yang seperti ini. Tiba-tiba sifat jahilnya muncul.
"kenapa?" Sehun membuka matanya yang langsung di sambut oleh wajah terkejut Luhan dengan mata melebar hendak menarik tangannya namun Sehun menahannya
"mengagumi wajahku, eoh?"
Luhan menelan ludah dan menunduk malu tertangkap basah. Sedangkan Sehun sudah menampakan seringaian yang tak di lihat oleh Luhan. Tiba-tiba Luhan mengangkat wajah dan menarik tangannya lalu berdiri membuat Sehun terheran-heran
"siapa yang mengagumi wajahmu? Aku hanya ingin membangunkanmu. Jangan berpikir yang tidak-tidak." Elak Luhan memalingkan wajahnya dengan alit berkerut
"Oh! Ingin membangunkanku? Cara yang sangat manis, istriku~.." Mendengar itu Luhan langsung menatap Sehun dengan tajam. Sedangkan yang di tatap dengan tajam hanya tertawa kecil melihat wajah Luhan yang menurutnya terlihat lucu lalu berdiri
"ekhem! Ck! Kenapa kau gengsi sekali mengatakannya? Bilang saja kalau kau mengagumiku dan memikirkan dirimu yang sangat beruntung bisa memilikiku sementara di luar sana banyak orang yang menginginkanku tapi mereka tak mendapatkannya."
Sehun menerawang kesana kemari dan bersiul selesai berucap lalu menatap Luhan seraya mengedipkan sebelah matanya. Luhan yang melihat itu melongo, Sehun bersiul dan mengedipkan mata padanya? Ia tak tau kalau Sehun bisa melakukan hal seperti itu dan membuatnya semakin salah tingkah. Belum lagi ucapan Sehun tadi itu benar-benar tepat sasaran
'Aish! Menyebalkan! Kenapa dia bisa tau apa yang aku pikirkan?'
Sehun tersenyum manis mengulurkan tangan kirinya meraih dan merangkul bahu Luhan membuat pemuda itu mendekat ke arahnya.
"jangan memasang wajah seperti itu. Ini masih pagi.." Luhan tak mendengar dan terus memasang raut wajah kesalnya hingga pemuda itu melangkah dengan Sehun di depan manrik tangannya
.
.
.
"apa mereka akan menemukan kita?"
"berdoa saja. Tapi, aku lebih suka mereka tidak menemukan kita."
Sehun menatap Luhan sekilas yang melongo atas ucapannya dan kembali memakan buah jeruk di tangannya.
"kau mendoakan kita tetap di sini?"
"yah…. Terserah cara pandangmu."
Luhan mengupasi jeruknya tak mau berdebat lagi dengan Sehun yang selalu membalas ucapannya seperti candaan. Selesai mengupasi jeruknya, Luhan hendak memasukan satu potongan jeruk ke mulut namun Sehun langsung menarik tangan Luhan dan memasukan potongan jeruk itu ke dalam mulutnya. Hal itu membuatnya mendapat deathglear dari Luhan yang masih saja terlihat lucu di mata Sehun hingga ia tertawa kecil bukannya meringkuk ketakutan.
"ah, yah! Kau masih di bawah perintahku. Kalau begitu, sekarang suapi aku."
"mwo?!"
Luhan menatap buah jeruk yang di sodorkan Sehun padanya dengan alis berkerut dan mulut membentuk huruf 'O'
"mwo? Wae? Bukankah kau memang harus melakukannya?" Sehun makin menyodorkan jeruk itu sambil mengangkat dagu dan alisnya sekilas. Luhan mengangkat bibir sebelah kanannya mendecik dengan sinis dan mengambil jeruk itu, hendak menyuapi Sehun sebelum teringat sesuatu
"ah, yah! Aku juga baru ingat kalau kau tidak menepati kesepakan." Luhan meraih tangan Sehun dan meletakkan kembali jeruk itu di telapak tangannya.
"tidak bagaimana?" Sehun mengangkat alis kirinya saaat bertanya namun Luhan tak menjawab dan sibuk sendiri dengan jeruknya
"oh." Sehun mengalihkan pandangannya ke depan karna Luhan tak mau bicara. Tapi, sepertinya ia mengerti dengan apa yang di pikirkan Luhan
"aku menepati kesepakatan. Aku tidak membakar rumah pemuda berdumple itu dan tidak menghancurkan reputasi orang tuanya."
"itu kesepakatan agar aku kembali ke rumah."
"aku lupa memberitaumu kalau itu juga kesepakatan untuk memberi perintah." Luhan menatap Sehun dengan mata membulat hendak mengeluarkan protes namun Sehun lebih dulu memotong hingga membuatnya diam
"aku tidak mau kita bertengkar lagi karna sahabat merepotkanmu itu. Kenapa kau sangat mengkhawatirkannya? Kenapa tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri? Chanyeol tidak akan menyakitinya, kalau iya, sudah lama tersebar berita kematian sahabatmu itu." Sehun kembali menyodorkan jeruknya kearah Luhan yang tiba-tiba berdiri menatapnya dengan raut wajah yang sulit di artikan
"jadi, selama ini kau tau sesuatu?" Sehun tidak menjawab dan malah makin menyodorkan jeruknya kearah Luhan
"kalau kau mau menyuapiku, aku akan memberitau apa yang ingin kau ketahui" Luhan mengambil jeruk Sehun yang sudah beberapa kali berpindah tangan itu dan duduk di atas batu menghadap Sehun yang bersila di tanah.
"kau masih mau memakan ini?" Luhan mengamati jeruk di tangannya dan menatap Sehun
"kenapa?" Sehun mendongak dengan alis sebelah terangkat
"menjijikan! Tadi dia berada di tanganmu, lalu kau menyerahkannya padaku, aku memberikannya lagi padamu, lalu kembali ke tanganku lagi. Kau tidak memikirkan itu?" Luhan mengangkat 2 alis sekilas memalingkan wajahnya ke kanan namun tetap menatap Sehun
"hanya tanganmu dan tanganku. Kalau kau tidak suka tinggal memetiknya lagi di atas kepalamukan?" Sehun meletakkan dagu di atas dua kepalan tangannya yang sikunya bertumpu di atas paha.
"ck-ck-ck…, jadi, kenapa kau tidak memberitauku sementara aku memintamu mencaritau soal ini? dan bagaimana—"
"satu suapan, satu pertanyaan." Sehun menatap Luhan dengan senyum menyebalkan memotong ucapan Luhan. Sehun membuka mulutnya dan Luhan memasukkan satu potong jeruk dengan sangat kasar hingga kepala Sehun terdorong ke belakang dan pemuda itu terbatuk sambil menepuk dadanya. Astaga… jeruk itu masuk ke tenggorokan beserta bijinya tanpa di kunyah lebih dulu. Sedangkan si pelaku mengangkat bibir atas sebelah kirinya berdecak kesal sambil menyapukan jarinya yang sempat masuk ke mulut Sehun dengan baju yang di pakai Sehun. Hei? Siapa yang tidak kesal jika seseorang memotong ucapanmu dengan raut wajah menyebalkan sambil berkata?
"uhuk! Begitu caramu menyuapiku? Uhuk!" Sehun terus menepuk-nepuk dadanya "kau tidak akan ku beritau apapun! Istri menyebalkan! Uhuk! Ukh..uhuk!.."
Sehun berdiri dari duduknya masih menepuk dada terbatuk parah dan pergi menjauhi Luhan yang kejam. Luhan yang melihat Sehun menjauhinya langsung berdiri dan menyusul pemuda itu sedikit panic karna Sehun tidak akan memberitaunya apapun, tapi, lebih ke panic keadaan Sehun. Ia tidak menyangka perbuatannya akan berdampak separah itu
"YAK! Tidak bisa seperti itu. kau harus memberitauku semuanya. Sehun, tunggu aku…"
.
.
.
"Sehun—"
"ssstth…, diam, Lu. Aku berusaha mendengarnya"
"tapi, apa kau yakin? Bagaimana kalau tembusannya hanya laut? Sama saja kita tidak bisa pulang."
"setidaknya kita sudah mencoba." Sehun berbalik menghadap Luhan yang berjalan di belakangnya "kau takut?"
"siapa yang takut?" Luhan memalingkan wajah ke kanan. Sehun hanya tersenyum menggenggam jari Luhan dan berjalan di depan pemuda itu
Setelah membujuk Sehun agar menceritakan perihal Baekhyun pada Luhan. Akhirnya Sehun menceritakannya tapi Luhan tetap harus menyuapinya setelah itu mereka memutuskan mencari cara keluar dari hutan itu dan mengikuti aliran air sungai melintas di kepala Sehun. Hingga di sinilah mereka, mengitari hutan mencari letak sungai lewat sayup-sayup suara gemercik air yang tertangkap indera pendengaran mereka.
"apa kau pernah tinggal di hutan sebelumnya?" Luhan yang mulai bosan coba mencari topic pembicaraan
"tidak"
"lalu, kenapa kau tau cara hidup di hutan? Seperti mencari makanan dan cara keluar dari sini?"
"aku hanya memikirkanmu, cara membuatmu tetap hidup di tempat seperti ini. Sudahlah, jangan berisik aku berusaha mendengar—air terjun!" Luhan langsung menatap lurus saat Sehun berteriak dan menariknya berlari. Benar! Di hadapan mereka terdapat sebuah air terjun, Luhan mulai berpikir kalau mereka akan mengikuti aliran air terjun ini, dan ia berharap mereka akan segera tiba di pemukiaman penduduk
"UWOH! Ini benar-benar menakjubkan! Aku belum pernah melihat air terjun susun seindah ini." Sehun yang sudah melepas genggamannya di jari Luhan berjalan mendekati air terjun itu, mengagumi dan mengamatinya lebih dekat. Ia lalu menoleh pada Luhan yang masih berdiri pada tempatnya melihat air terjun itu
"Lu! Kemari!" Sehun berteriak menggerakan tangannya mengisyaratkan Luhan untuk mendekat. Tak butuh waktu lama Luhanpun melakukannya dan Sehun langsung menariknya melangkah di bebatuan sekitar air terjun itu
"lihat!" Sehun menunjuk tingkatan air terjun ke tiga yang langsung di ikuti oleh Luhan arah telunjuknya saat itu pula wajah Luhan langsung berbinar dengan mulut menganga sebelum membentuk senyuman lebar. Bagaimana tidak? Di sana, air terjun tingkatan ke tiga terdapat susunan pelangi yang sangat cantik terpancar dari gemercik air yang jatuh dari tingkatan air terjun ke empat
"menakjubkan bukan?" Sehun menatap Luhan yang mendongak menatap pelangi itu
"ini benar-benar menakjubkan, sangat cantik."
"yah, sangat cantik." Lirih Sehun masih menatap Luhan namun ucapan lirihnya itu masih bisa di dengar oleh Luhan membuat pemuda itu menoleh menatap Sehun yang tengah menatapnya
"sangat cantik, tapi kenapa kau menatapku?" Sehun langsung mendongak melihat pelangi mendengar ucapan Luhan.
"kenapa? Tidak boleh?." Luhan mendengus, penyakit Sehun sepertinya akan kambuh lagi. Luhan membalik tubuhnya ke belakang lalu ke depan lagi melihat genagan air sungai yang sepertinya tengah menguap. Luhanpun berjongkok dan menyentuh air itu
"Sehun! airnya hangat." Sehun yang dari tadi menengadah langsung berjongkok dan menyentuh air itu mendengar ucapan Luhan dan benar saja. Air itu hangat, tidak dingin dan tidak terlalu panas
"apa yang kau lakukan?!" pekik Luhan berdiri melihat Sehun yang buru-buru membuka bajunya dan langsung menceburkan diri ke sungai
Bukannya menjawab, Sehun malah mengeluarkan senyum yang menyebalkan menurut Luhan sebelum memancarkan air hangat itu kearah Luhan membuat pemuda itu berteriak memaki Sehun karna membuat dirinya basah. Sedangkan si pelaku hanya tertawa senang menjahili Luhan. Luhan yang sudah basah hendak pergi dari sana namun ia mengurungkan niatnya menyadari dirinya yang sudah sepenuhnya basah, akhirnya iapun memilih membalas Sehun dengan memancarkan air itu juga kearah Sehun
"Lu, a-yo turun. Ini sangat menyenangkan, eum.. bagaimana kalau kita tanding renang sampai ke sana." Sehun menujuk sebuah batu yang tidak begitu jauh dari mereka. Luhan menatap batu itu sebelum menatap Sehun lagi
"apa di bawah sangat dalam?"
"tidak, kau takut?" Sehun mendekati batu di mana tempat Luhan berjongkok. Luhan yang mendengar Sehun meremehkannya langsung merasa tertantang
"tidak! Siapa bilang aku takut? Akan aku buktikan kalau aku bisa menang darimu." Luhan berdiri
"yasudah, kalau begitu, a-yo turun." Luhan langsung membuka bajunya dan turun dengan hati-hati ke dalam air takut kalau Sehun menipunya dan sungai itu terlalu dalam. Baru saja Luhan ingin melepas pegangannya pada batu tempatnya tadi, ia langsung mengurungkan niatnya merasa kakinya tak menginjak tanah. Sehun membohonginya, sungai itu cukup dalam
Luhan merutuki Sehun dan semakin merutuki pemuda itu tat kala mendengar gelak tawa Sehun di belakangnya. Oh, ayolah, bukankah kau bilang tadi kau tidak takut, Luhan?
Yah.. Luhan memang tidak takut. Hanya khawatir kalau ada mahkluk tak di kenal di bawah sana. Khawatir juga nantinya kalau ia tenggelam dan Sehun tak mau menolong selain menertawainya. Sekali lagi, sungai itu lumayan dalam. Luhan pikir, mungkin Sehun perenang yang handal karna pemuda itu terlihat biasa saja dengan kedalaman seperti itu
"sampai kapan kau berpegang di batu itu? Bukankah kita akan tanding renang?" Luhan tak tau harus melakukan apa. Harga dirinya jatuh sudah. Bukannya ia tak bisa berenang, tapi ia hanya khawatir akan tenggelam kalau melepas batu itu
Sehun yang melihat tak sedikitpun pergerakan dari Luhan berenang mendekati pemuda itu dan ikut memegang batu yang sama dengan Luhan sambil menatap Luhan
"kenapa?" Luhan menautkan alisnya mengalihkan pandangan menghindari tautan mata dengan Sehun. Takut pemuda itu tau kalau ia sangat mencemaskan kedalaman sungai itu namun ia menoleh menatap Sehun merasakan sebuah lengan melingkari pinggang telanjangnya di dalam air
"kau hanya perlu berkata jujur. Jangan takut, kau tidak akan tenggelam karna aku tidak akan membiarkan itu." Sehun tersenyum sebelum menarik Luhan ikut berenang dengannya ke tengah sungai tempatnya tadi. Sesampainya di tengah sungai, Luhan mendongak kembali menatap air terjun itu dengan kedua tangannya memegang kedua bahu Sehun sebegai tumpuan.
"kau benar, ini sangat menyenangkan. Airnya sangat hangat." Luhan tersenyum menatap Sehun yang juga menatapnya sambil tersenyum
"hhh…. Bagaimana ini? Kalau begini tidak usah tanding renang." Sehun menatap batu yang tadi menjadi finish tanding renang mereka sebelum kembali menatap Luhan yang hanya menampakan cengiran lebarnya
"eum… bagimana dengan menahan napas paling lama di dalam air?" Luhan coba mengusulkan yang langsung di setujui oleh Sehun. Akhirnya mereka sepakat menghitung sampai 3 dan menenggelamkan diri mereka ke dalam air dengan Luhan yang masih bertumpu di bahu Sehun. Yah… itu juga mencegah keduanya tak berbuat curang
Beberapa detik berlalu keduanya masih bertahan hingga 1 menit kemudian Luhan mulai mengembungkan pipinya dan membuat balon-balon kecil menggunakan udara yang ada dalam mulutnya. Sehun hanya tersenyum melihat Luhan yang sepertinya tak tahan lagi tapi terlalu gengsi untuk mengalah. Tak tahan melihat Luhan yang tersiksa karna keras kepala akhirnya Sehun mengeluarkan kepalanya dari dalam air yang di susul oleh Luhan
"hhh…hh… kau kalah!" Luhan tersenyum senang sambil mengatur napasnya
"yahh… mungkin. Aku hanya kasihan padamu." Luhan mengerutkan alisnya bingung
"kasihan? Jelas-jelas kau kalah."
"kau terlihat sudah kehabisan napas. Jadi aku mengalah saja." Sehun mengusap rambut Luhan yang lempek dan basah lalu mengacaknya karna tangan Luhan masih bertumpu di bahunya
"siapa bilang aku kehabisan napas? Jangan seenaknya, akui saja kekalahanmu."
"baiklah, bagaimana kalau kita tanding ulang?." Tantang Sehun
"oke! Siapa takut?" Luhan tersenyum yakin ia akan menang lagi. Menurutnya Sehun sangat keras kepala. Sehun mengangguk dan tersenyum kearah Luhan, senyum penuh arti
"tapi, kali ini bagaimana dengan taruhan?"
"menarik, apa taruhannya?" Sehun menyeringai yang di artikan Luhan sebagai senyumman biasa
"yang kalah harus mengabulkan 2 permintaan si pemenang. Apapun itu, tidak boleh menolak. Bagaimana?"
"okey! Siapa takut?"
Hitungan ketiga, mereka mulai menenggelamkan diri dan seperti sebelumnya. 1 menit kemudian Luhan mulai gelisah hingga meremas bahu Sehun yang terlihat biasa saja. Seakan-akan pemuda itu mempunyai pasokan udara tak terbatas di paru-parunya. Luhan mulai memainkan mulut dan pipinya yang mengembung sakin tak tahannya karna pasokan udara benar-benar kosong hingga ia memutuskan untuk mengalah dan mengangkat kepalanya ke permukaan lalu mengambil napas sebanyak-banyaknya.
Puluhan detik setelah Luhan muncul ke permukaan akhirnya Sehun menyusul dan langsung tersenyum penuh arti
"sudah mengaku kalah?" Luhan menatap kesal kearah Sehun
"tidak usah basa-basi, cepat katakana keinginanmu." Luhan membuang muka tak mau menatap Sehun yang menampakan senyum menyebalkan
"tidak sabaran. Baiklah, pertama, setelah kita keluar dari hutan ini dan kembali ke rumah. Aku ingin kita berkencan." Luhan menoleh menatap Sehun hendak protes namun Sehun langsung meletakkan jari telunjuknya dibibir Luhan mengisyaratkan pemuda itu membiarkannya melanjutkan ucapannya
"dan yang kedua…" Sehun mengusap bibir bawah Luhan dengan ibu jarinya
"k-kau—"
"bo-bolehkah?" Sehun menatap Luhan penuh harap yang juga menatapnya dengan raut wajah yang sulit di artikan tapi Sehun juga dapat melihat rona tipis di kedua pipi Luhan
"a-aku…ju- juga tidak bisa menolak bukan?." Luhan mengalihkan pandangannya tak mau menatap Sehun namun Sehun langsung menarik dagu Luhan untuk menatapnya. Kedua mata itu saling terpaut satu sama lain dengan perasaan aneh. Luhan meremas bahu Sehun tat kala kepala Sehun yang perlahan mendekati wajahnya namun sesekali juga terhenti lalu kembali mendekat. Sepertinya Sehun sedikit ragu
Oh ayolah…. Percaya atau tidak jika ia berhasil menyentuh bibir Luhan dengan bibirnya, maka ini akan menjadi ciuman pertamanya. Ia berpikir untuk melakukan yang terbaik karna bibir itu juga fantasinya. Luhan yang tak mau berlama-lama karna semakin lama semakin aneh perasaannya, belum lagi jantungnya semakin berdetak tak karuan perlahan ikut mendekatkan wajahnya kearah Sehun. Namun, saat melakukannya iapun sadar bagaimana perasaan keragu-raguan Sehun karna ia juga merasakannya. Entahlah, ini bukan ciuman pertamanya, tapi…. Entahlah, ia tak tau harus beralasan apa.
Luhan merasa sebuah lengan melingkari pinggang telanjangnya di dalam air dan satu lagi berada di tengkuknyapun menutup mata secara perlahan menunggu bibir Sehun mendarat. Sementara Sehun sudah berperang batin melihat bibir Luhan. Bukan apa, selain ini ciuman pertamannya, ia takut tak bisa mengendalikan diri dan akhirnya melakukan lebih terhadap Luhan apa lagi merasakan kulit lembut Luhan yang menempel di tubuhnya. Ia takut Luhan membencinya jika sesuatu yang lebih terjadi
Lama menunggu Luhan langsung merasa sengatan listrik menjalari tubuhnya tat kala bibir lembut dan kenyal Sehun menempel di bibirnya. Luhan membuka mata yang langsung bertemu dengan mata Sehun tengah menatapnya lembut lalu tersenyum di tengah tautan itu melihat Luhan yang mentapnya. Luhan balas tersenyum dengan wajah memerah dan entah dorongan dari mana ia merasa tak puas karna Sehun yang hanya menempelkan bibirnya saja. Menurutnya Sehun payah. Tangan yang awalnya bertumpu di bahu Sehun kini melingkari leher pemuda itu dan membawa dirinya semakin mendekat. O-ow! Luhan, kau salah melakukan itu karna kau telah memancing seekor singa jantan yang berusaha menahan diri hingga hanya menempelkan saja tak melakukan lebih
Sehun sendiri tidak menyangka dengan tindakan Luhan yang mulai melumat pelan bibirnya dan dengan berani menatap matanya. Menadapat lampu hijau ia langsung tersenyum menyebalkan dan menarik pinggang Luhan merapat ke tubuhnya lalu membalas lumatan Luhan lebih profesional di bandingkan Luhan. Tangannya yang memegang tengkuk Luhan mendorong kepala pemuda itu untuk memperdalam ciuman mereka, bahkan Luhan yang awalnya menatap Sehun kini menutup matanya menikmati cumbuan lembut merka yang perlahan menjadi sedikit bergairah, dari menempel, lumatan kecil dan kini berubah saling menghisap sudut bibir satu sama lain
Luhan sudah tak perduli lagi apa yang ia lakukan. Ini terlalu memabukkan, ia tak pernah merasakan ciuman yang seperti ini bersama mantan-mantan pacarnya. Bibir serta lidah Sehun terlalu lihai dan agresif memanjakan bibirnya, gigitan-gigitan kecil yang Sehun lakukan membuatnya dengan mudah membuka mulut dan membiarkan lidah Sehun melesat masuk ke ronga mulutnya yang hangat menggelitiki langit-langit ronga mulut serta pinggiran gusinya sebelum mencari lawan tempurnya. Luhan jadi penasaran, apa sehun sering berciuman makannya ia bisa selihai ini memainkan bibir dan lidahnya?
Bahkan Luhan tak tau bagaimana lidahnya bisa terlilit oleh lidah Sehun dan kini berpindah ke dalam mulut Sehun yang langsung di hisap pemuda itu layaknya permen lollipop. Luhan teringat fantasinya tentang lidah Sehun yang menjilati lukanya ternyata benar, lidah Sehun memang sangat lembut. Luhan benar-benar menyukainya
Luhan tersentak membuka mata merasa remasan di bokongnya. Ia menatap Sehun yang saat ini juga tengah menatapnya. Sehun semakin liar mendominasi, Luhan tak tau lagi harus menyeimbangi tapi berusaha mencobanya namun sebelum itu terjadi Sehun sudah melepas tautan mereka padahal Luhan masih merasa cukup dengan pasokan udara yang ada. Tapi, melihat apa yang di lakukan Sehun setelahnya, Luhan hanya diam menutup mata dan tangannya berpindah ke kepala Sehun meremas-remas rambut pemuda itu guna melampiaskan rasa nikmat yang menjalari leher dan bahu kirinya tat kala lidah dan bibir Sehun lincah menari-nari di sana. Belum lagi tangan Sehun yang mengusap-usap lembut punggung dan pinggang telanjangnya semakin membuat Luhan lupa diri dan menginginkan lebih. Masih sadarkah ia kalau yang melakukan itu padanya adalah seorang pria?
.
.
.
.
#ChanBaek-side#
Hari ini aku berniat berangkat sekolah dan menunggu bis seperti biasa di halte dekat rumahku. Sebelumnya Lay menawarkan untuk menjemputku, tapi langsung saja ku tolak. Aku sudah terlalu banyak merepotkannya. Dan lagi, setelah kejadian beberapa waktu yang lalu menimpaku, aku jadi sedikit takut dengan Chanyeol. rasa kagumku terhadap pemuda itu jadi sedikit berkurang, ia sangat menyeramkan ternyata, dan aku tidak menyangka aku akan menjadi sasarannya. Padahal aku sudah berkata jujur kalau kamera dan card memori kameraku hancur semua, tapi ia memaksa dan tidak mau percaya. Lagipula, aku berkata jujur bukan aku yang menyebarkan gossip dia dan saudaranya putus, tapi kenapa ia menyalahkanku semua?
Aku langsung berdiri begitupun orang-orang di sekitarku saat melihat sebuah bis mendekat kemari. Aku langsung memasuki bis yang di susul beberapa orang yang ikut menunggu di sana. Tapi, beberapa orang yang terlihat seperti pegawai kantor dan anak sekolah masih menetap di halte padahal ini sudah sedikit terlambat untuk berangkat. Tapi, sudahlah itu urusan mereka. Tak lama setalah bis yang ku naiki berangkat, sebuah bis datang dan orang-orang yang masih menunggu di halte segera naik padahal bis itu sudah sedikit penuh kenapa memilih yang itu? Huh! Lupakan, kenapa aku jadi mengurusi ini?
Aku memasang headsetku dan memutar lagu kesukaanku guna menemani perjalanan singkatku ke sekolah tapi, aku sedikit heran ketika bis yang ku naiki berputar arah bukan menuju sekolahku. Aku langsung melepas headset dan protes pada ajjushi si pengemudi
"ajjushi! kenapa kita lewat sini? Bukankah pemberhentian berikutnya DO-IHS?" Aneh? Kenapa ajjushi itu diam saja?
Aku melihat sekitarku dan baru ku sadari di dalam bis hanya ada aku dan beberapa orang yang naik bersamaku tadi. Apa di pemberhentian sebelumnya tidak ada penumpang? Lagi, kenapa wajah-wajah orang di sini sangat menyeramkan?
Aku mulai berpikir yang tidak-tidak sebelum menekan bel guna mengisyaratkan ajjushi untuk berhenti. Namun, ajjushi itu tetap menjalankan bisnya
"ajjushi! Aku ingin turun di sini." Aku mengeryit heran karna ajjushi itu masih diam, belum lagi apa di sini tak ada yang bisa mendengarku? Kenapa semuanya diam? Kenapa tak ada yang membantu mengatakan pada ajjushi itu?
"ajjush—" aku hendak berkata lagi namun bis yang kunaiki tiba-tiba memasuki pekarangan rumah yang sepertinya cukup familiar dalam ingatanku. Ini…..
Aku langsung berdiri tak perduli bis yang masih berjalan membuat tubuhku oleng ke kiri-kanan-belakang dan depan. Aku hendak berlari keluar namun seseorang tiba-tiba mencekal kedua tanganku memaksaku menoleh dan mendapati salah satu penumpang lalu beberapa ikut menyeretku keluar dari dalam bis. Aku coba berontak sambil berteriak dan tidak mau berjalan agar mereka kesusahan menyeretku. Tapi, di luar dugaan, tindakanku itu membuat mereka mengangkat tubuhku lalu memasuki rumah itu. Rumah, Park Chanyeol.
Seharusnya aku curiga kenapa beberapa orang tidak mau menaiki bis ini. Seharusnya aku lebih bisa membedakan mana bis bohongan dan mana bis yang sesungguhnya. Kau bodoh, Byun Baekhyun!
"lepas! Turunkan aku! Turunkan aku, sialan!" aku terus meronta hingga tiba-tiba
Bruukk….
Mereka menjatuhkanku dengan kasar di atas sebuah sofa lalu melegang pergi begitu saja. Aku bangkit hendak kabur dari sana namun sebelum itu terjadi orang-orang berbadan kekar lainnya sudah menghadang membuat nyaliku ciut dan menelan ludah dengan susah payah melihat mereka. Mereka berjalan mendekat membuatku refleks mundur ke belakang dengan raut wajah ketakutan. Sungguh! Aku tak pernah membayangkan kejadian seperti ini dalam hidupku
Bruk..
Aku langsung menegang merasa diriku sudah terkepung. Di belakang aku sudah menabrak seseorang dan tidak berani menoleh, takut kalau-kalau aku berbalik nyawaku langsung melayang begitu saja. Sementara orang-orang yang ada di depanku tak berniat maju lagi, yang aku heran mereka berbaris dengan rapi serempak melipat tangan di depan dada. Jika aku tidak dalam situasi tegang begini, mungkin aku sudah tertawa terbahak-bahak melihat orang-orang itu yang serempak melakukan sesuatu
Puk..
Seperti mendapat sengatan listrik dan melihat penampakan hantu, keringat dingin langsung bercucuran saat ku rasa tangan orang yang berada di belakangku meremas bahuku dengan kuat hingga membuatku sedikit meringis
"kalian boleh pergi."
DHEG!
Suara itu. Oh God! Jika aku boleh memilih, aku memilih mati di tangan orang-orang tadi dari pada orang yang ada di belakangku ini. Tapi, kalau bisa selamatkanlah diriku ini. Aku belum mau mati….
Aku menunduk saat tangan kekar itu membalik tubuhku menghadapnya setelah ajudan-ajudannya pergi. Kedua tangannya kini memegang dan meremas bahuku kuat-kuat membuatku menggigit bibir bawahku serasa ingin menangis namun ku tahan. Apa maunya? Bukankah Sehun sudah memberikan kamera dan card memori yang rusak itu padanya sebagai bukti?
"apa yang kau lakukan padaku?" Eh? Kenapa ia bertanya seperti itu? Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?
"aku tidak menyuruhmu menunduk! Tatap dan jawab aku!" Dia membentak yang langsung membuatku mengangkat wajah dan menatapnya. Sekali lagi, sungguh aku mengagumi kesempurnaan wajahnya. Tapi, sayang di balik wajah itu dia orang yang sangat mengerikan
"aku—aku tidak tau," Yah, aku memang tidak tau. tidak tau apa yang kau maksud, Park Chanyeol!
Brukk…
Tepat selesai aku berkata, ia langsung mendorongku jatuh ke atas sofa dan naik ke atas tubuhku lalu mencekal kedua tanganku sejajar dengan kepala. Wajahnya terlihat sangat murka dan tidak puas akan jawabanku. Tapi, hei? Aku benar-benar tidak tau…
"apa aku harus memaksamu agar memberitau KENAPA KAU TERUS MEMBUATKU MERASA BERSALAH, EOH?!" Aku menutup mata mendengarnya kembali membentakku. Mulutku mulai bergetar tak kuasa lagi menahan tangis, sungguh aku benar-benar ketakutan melihatnya seperti ini. Mataku mulai berair menatpnya dengan rasa takut dan tubuhku yang merinding ngeri.
"mi-mianhae… mianhae… aku tidak tau. Ampun, Chanyeol..hiks.." Aku mulai terisak. Ku lihat ia menggertakan giginya lalau melepas cengkramannya di lengenku sebelum bangkit dari atas tubuhku dan pergi begitu saja, namun seiring langkahnya, seiring itu pula ku dengar bantingan benda-benda pecah dan yang lain berbenturan dengan lantai. Sungguh, Park Chanyeol benar-benar mengerikan.
Aku bangkit berniat pergi dari rumah itu namun ku lihat dua yeoja dan dua namja berjalan ke arahku. Aku hendak mundur menjauhi mereka namun salah satu namja itu langsung mencekal dan menyeretku ke sebuah ruangan diikuti ketiga orang lainnya. Sesampainya di dalam ruangan, kedua namja itu langsung keluar meninggalkanku dengan dua orang yeoja di sana.
Aku berlari menghampiri pintu dan mengendor-ngendor pintu itu namun kedua yeoja itu langsung menarikku memasuki ruangan itu lebih dalam yang ternyata adalah sebuah kamar besar. Aku berontak, tidak di sangka yeoja kecil seperti mereka mempunyai tenaga seperti ular yang mampu melilit mangsanya hingga tak berdaya. Dan jarum suntik mengarah ke lenganku membuat pandanganku menjadi buram lalu perlahan semuanya menjadi gelap.
#ChanBaek-side-TBC#
To Be Countinue
Ell Note :
Woah! Lama yah~ … Ell capai target dulu RCLnya, nunggu mood baik, nunggu bbm turun, dan nimbang ini di post atau gak. Karna Ell yakin chapt ini benar-benar mengecewakan!
Grr…. Readersnya pada perfert yah? Haha… banyak yang minta NC. Bukannya Ell gak mau, tapi lihat aja tuh SeLu di sungai. Ell benar-benar gak bakat,
Dan ChanBaek sidenya udah ada tuh! Tapi masih TBC!
Ah, ya! Belum telatkan? Selamat hari raya idul fitri buat yang merayakannya.
Dan bagi yang bingung sama chapt ini, mending jangan RCL, soalnya Ell pusing baca komen yang " Ell, saya bingung sama ceritanya" "Ell, saya gak ngerti" kalau meresa kayak gitu dari awal mending gak usah di lanjutin bacanya.
Dan ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya buat readersnim tak pernah luput dari benak Ell. Kalian benar-benar the best. Dan kalian benar-benar awoshome kayak 16 oktavnya Say hyung ^^ Ell benar-benar semangat nulisnya kalau dapat respon dari kalian. Dan kalau kali ini Ell dapet celaan, Ell maklum karna chapt ini benar-benar aneh! Kalau ada yang bilang chapt ini juga pendek. Terserah readers :P kalau mau berasa panjang bajanya di eja aja, hahahahahaha…. :D tapi suer! Chapt ini makan word sampe 7000+ masa sih masih pendek? Apa terlalu ngebut ceritanya?
Udah… gitu aja, Ell pamit.
