DIFFICULT OF STRING

12

Sehun + Luhan

Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Yaoi

E

And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan

#ChanBaek-side#

Aku tidak tau apa yang diinginkan Park Chanyeol mengurungku di rumahnya. Awalnya aku mengira ia akan membunuhku seperti beberapa orang yang bermasalah dengannya. Tapi, itu tidak terjadi walaupun nyaris beberapa hari yang lalu ia berkata akan mendorongku jatuh dari balkon kamar ini dan ia melakukannya tapi ia tetap menahan tubuhku hingga aku tak benar-benar jatuh. Itu ia lakukan saat aku mengungkit soal Yejin. Bagaimanapun aku bersi keras membela diri kalau memang benar-benar bukan aku yang menyebarkan gossip itu. Tapi, tak ku sangka nyawaku hampir melayang hanya karna ingin membela diri.

Jujur aku merasa di sini lebih baik walau terancam dari pada di rumah yang entah kapan eomma pulang. Sudah beberapa hari eomma tak pernah pulang dan tak ada kabar. Aku tidak perduli, paling dia pergi ke tempat namja-namja mesum itu. Hhh…

Dan karna kejadian di balkon itu aku tidak berani lagi bicara pada Chanyeol jika ia memasuki kamar ini. Asal kalian tau dia tak pernah membiarkanku keluar dari kamar ini, 2 namja dan yeoja waktu itu adalah orang lain terakhir yang ku lihat selain Chanyeol karna setiap hari yang selalu memasuki kamar ini hanya Chanyeol. Memeriksa sesuatu, mengantarkan makanan atau sekedar datang mengancam agar aku jangan berani-berani kabur dari sini. Dia itu aneh sekali

Dan saat ini aku berdiri di balkon mendongak menatap langit yang sudah beberapa waktu lalu berubah gelap. Di bawah balkon tak ada orang atau penjaga sama sekali. Yah… setidaknya itu menurut pndanganku. Chanyeol bahkan tak membiarkan siapapun melintas di depan balkon ini.

"masuklah, di situ dingin." Aku tersentak mendengar suara bass milik siapa lagi kalau bukan Chanyeol memenuhi gendang telingaku. Aku bahkan tak mendengar langkah kakinya memasuki kamar ini. Mengerikan sekali orang ini

Aku langsung beranjak dari tempatku memasuki kamar tak berniat protes atau apa karna aku sudah cukup dengan perilakunya yang seperti ini lalu tiba-tiba berubah menjadi sangat kasar seperti monster. Ia langsung menutup pintu balkon dan menutup tirai pintu kaca itu lalu berjalan keluar kamar tanpa bicara apapun. Namun, ia sempat berhenti di ambang pintu menatapku yang sudah berbaring

Di hari yang lain aku bangun karna merasa sesak. Saat membuka mata aku sadar kalau aku dalam rengkuhan seseorang yang ku dapati ia adalah Chanyeol. Eh? Kenapa dia ada di sini?

Aku hendak melepas pelukannya namun ku rasa tubuhnya bergetar dan saat itu baru kusadari wajahnya yang pucat serta suhu tubuhnya yang benar-benar panas. Aku hendak melepas dan berniat memanggil seseorang guna mengobatinya karna bagaimanapun perilakunya padaku tetap saja aku manusia yang punya hati. Tapi..

"ku mohon tetaplah seperti ini." ucapannya itu mengurungkan niatku dan tetap dalam posisiku hingga aku tertidur kembali dan bangun pada posisi yang sama tapi tak ku rasa lagi suhu tubuhnya yang panas atau badanya yang bergetar. Aku hendak melepas lagi pelukannya namun ia malah mempererat pelukannya makin membuatku bingung

"maafkan aku." Ucapan lirihnya membuatku bingung dan tersentak. Park Chanyeol minta maaf? Padaku?

"aku tidak tau apa yang sudah kau lakukan padaku. Tapi, sungguh seperti ini bahkan lebih baik darinya." Terlalu bertele-tele dan aku tidak mengerti dengan omongannya. Sejak kapan Park Chanyeol berbicara seperti ini? Dan maksud dari ucapannya itu? Apa dia mengigau?

"Baekhyun." entah kenapa dengan tubuhku yang tiba-tiba menegang, jantung yang berdetak tak karuan dan pipiku yang terasa panas. Ini pertama kalinya suara berat itu memanggil namaku. Apa ini sambutan pagi yang baik? "bisakah. Bisakah tetap seperti ini? Bisakah kau tak meninggalkanku sepertinya?"

Apa?

Aku rasa aku mengerti dengan yang dia katakan. Tapi, sungguh orang ini membuatku binggung namun tubuhku tak seirama dengan otakku karna ku dapati kepalaku mengangguk walau otakku masih bingung dan bertanya

Dan mulai saat itu aku bisa melihat orang lain lagi selain Chanyeol tapi di manapun aku berada, Chanyeol pasti ikut serta. Teman-temannya juga di buat heran dengan kami yang bahkan lebih lengket dari perekat. Dan taukah? jawaban Chanyeol saat mereka bertanya membuatku tercekat

"Dia miliku dan tak seorangpun yang boleh merebutnya dariku"

Jujur saat ia mengucapkan itu dengan lantang. Jantungku seakan ingin keluar dan menari-nari di hadapan teman-temannya. Tidak hanya itu karna ribuan puncuk bunga ikut bermekaran di hatiku serta darah yang seakan berubah menjadi sengatan listrik membuat tubuhku panas dan cahaya berupa semburat merah menyala dengan terang di kedua pipiku. Tak lupa pula ribuan kupu-kupu ikut berpesta di dalam perutku. Sungguh aku tak kuasa dan ingin pingsan -_- eh?

Apa dia tak ingin kehilanganku seperti Yejin?

#ChanBaek-side-end#

Preview…

Luhan tersentak membuka mata merasa remasan di bokongnya. Ia menatap Sehun yang saat ini juga tengah menatapnya. Sehun semakin liar mendominasi, Luhan tak tau lagi harus menyeimbangi tapi berusaha mencobanya namun sebelum itu terjadi Sehun sudah melepas tautan mereka padahal Luhan masih merasa cukup dengan pasokan udara yang ada. Tapi, melihat apa yang di lakukan Sehun setelahnya, Luhan hanya diam menutup mata dan tangannya berpindah ke kepala Sehun meremas-remas rambut pemuda itu guna melampiaskan rasa nikmat yang menjalari leher dan bahu kirinya tat kala lidah dan bibir Sehun lincah menari-nari di sana. Belum lagi tangan Sehun yang mengusap-usap lembut punggung dan pinggang telanjangnya semakin membuat Luhan lupa diri dan menginginkan lebih. Masih sadarkah ia kalau yang melakukan itu padanya adalah seorang pria?

.

.

Luhan berjalan menatap punggung Sehun yang berjalan di depannya sambil menyingkirkan ranting-ranting kecil yang menghalangi jalan mereka.

"awas." Luhan tersentak tiba-tiba Sehun berbalik dan menunepuk kepalanya lalu mendorongnya ke bawah agar tubuh Luhan sedikit membungkuk karna mereka akan memasuki semak-semak penuh ranting saling berkaitan sana-sini.

Yah… setelah permintaan kedua Sehun. Mereka segera mengikuti aliran sungai. Selain itu sebagai pengalih karna Sehun hampir kehilangan kendali dan hendak melakukan lebih dengan mendorong Luhan hingga punggung pemuda itu membentur batu dan membuatnya memekik sakit. Walau demikian, Sehun merasa harus berterimakasih pada batu itu karna berkatnya Luhan memekik hingga menyadarkannya bahwa permintaan hanya sebatas ciuman. Tidak lebih atau Luhan akan membencinya. Dan bersyukur pula karna keadaan tak menjadi canggung seperti sebelumnya saat mereka hampir saling memangut.

"hati-hati."

Luhan tersenyum yang dibalas oleh Sehun lalu mereka berjalan sambil merunduk dengan Sehun menghadap Luhan dan tangannya menangkup kepala Luhan agar kepala atau wajah pemuda itu tak tersayat ranting-ranting yang mereka lewati. Luhan yang di perlakukan demikian melakukan hal yang sama pada Sehun membuat mereka terlihat aneh dengan posisi seperti itu hingga keduanya tertawa.

"akan lebih mudah jika kita melindungi kelapa masing-masing"

"lebih mudah lagi jika kau membiarkan kepalaku."

Ucapan Sehun membuat Luhan mendecih. Pemuda itu terdengar sangat sangat meremehkannya membuat Luhan menyingkirkan tangan Sehun yang bertengger di kepalanya dan mengganti dengan tangannya sendiri.

"khawatirkan dirimu sendiri, apa punggungmu tidak sakit tertusuk ranting dengan berjalan seperti itu?"

"ah, istriku sangat perhatian ternyata." Sehun tersenyum dan menyentil hidung Luhan sebelum berjalan merunduk mendahului pemuda yang lebih tua darinya itu.

.

.

.

Hhhh…..

Dua pemuda berbeda usia itu menghela napas dalam menatap hamparan pasir dan laut biru di hadapan mereka sambil memicingkan mata mengurangi tusukan sinar matahari siang itu

"ck! Sudah ku bilang." Luhan menunduk menatap pasir di bawah kakinya lalu mencari tempat untuk duduk yang cukup terlindungi dari sinar matahari di susul oleh Sehun duduk di sampingnya

"setidaknya kita sudah mencoba, jangan berkecil hati." Sehun menatap wajah Luhan yang murung tak bersemangat "mereka akan menemukan kita, tenang saja." Sehun menepuk bahu Luhan membuat pemuda itu menoleh dan mengangguk. Keduanya menatap hamparan biru yang terlihat tiada ujung di hadapan mereka dalam keadaan hening. Hanya terdengar sayup-sayup angin dan suara ombak yang coba naik ke pesisir pantai lalu kembali lagi

"Sehun." yang merasa terpanggil menoleh

"boleh aku bertanya?" Sehun hanya mengangguk menatap Luhan yang menatap lurus ke depan

"sebenarnya sudah lama aku ingin menanyakannya. Tapi, Eum… baiklah! Kenapa kau menerima perjodohan ini? Maksudku, apa kau tak berniat untuk hidup bersama orang yang kau cintai? Bahkan, yang ku perhatikan kau sama sekali tidak melakukan apapun untuk menolak perjodohan ini. Saat pestapun, yang ku lihat kau menyambut semua tamu dengan baik meski tak tersenyum atau bicara pada mereka." Luhan merasa tersinggung dan bingung karna tak ada yang lucu dengan pertanyaannya. Tapi, kenapa pemuda yang di arahkan atas pertanyaan itu tertawa sampai terjungkal ke belakang setelah mengacak rambutnya. Berlebihan sekali

"jadi, selama ini kau memperhatikanku? Dari awal kita bertemu? Hahaha… mengingat perlakuan dan sikapmu padaku selama ini rasanya itu sangat lucu." Sehun masih tertawa

"Sehun itu tidak lucu. Aku serius." Luhan memukul keras lengan Sehun membuat pemuda itu berhenti tertawa dan meringis mengusap lengannya sambil minta maaf tapi kesannya bercanda karna pemuda itu kembali tertawa walau sangat kecil membuat Luhan memutar bola mata. Entah kenapa selama mereka terjebak di hutan ia merasa Sehun sangat suka bercanda, dan itu cukup menjengkelkan

"jangan terlalu banyak bergaul dengan, Kai." Luhan menatap Sehun sambil mendengus. Dia berucap demikian karna Sehun benar-benar menjengkelkan seperti Kai

"apa kau tidak merasa kalau ucapanmu itu lebih pantas di arahkan padamu?" entah kenapa Luhan merasa cara bicara Sehun berubah 180˚, seakan terselip ketidak sukaan di dalamnya.

Luhan berdiri mengusap-usap pasir di celananya lalu menatap Sehun

"aku tidak merasa terlalu banyak bergaul dengannya. Kau kenapa terdengar …. Sudahlah! Dan jangan menatapku seperti itu, terlihat mengerikan."

Luhan berjalan yang langsung diikuti Sehun. Sudah hampir sore dan perut mereka merengek minta di isi. Entah apa lagi yang bisa mereka makan kali ini.

~HUNHAN-Nostalgia##

Tok! Tok! Tok!

"Luhan? Cepat keluar, appa sudah menunggu kita."

Aku masih menatap benci pantulan diriku di depan cermin tak bergeming walau mendengar teriakan eomma dari balik pintu kamarku. Sungguh aku membenci diri ini yang tak bisa mengendalikan keadaan, yang menyerah hanya bisa mengangguk patuh pada perkataan appa dan yang tidak bisa melindungi atau menghindarkan gadis yang ku cintai dari ancaman, appa. Benar-benar tidak berguna!

Tok! Tok! Tok!...

"Luhan, jika kau tidak segera keluar, akan eomma buka paksa pintu in—"

Cklek…

Ucapan eomma langsung terhenti karna aku lebih dulu membuka pintu dan berdiri di hadapannya. Ia langsung tersenyum hendak mengusap rambutku namun aku lebih dulu menghindar dengan melangkah melewatinya. Bukan saatnya bermanja-manja, wanita itu juga salah satu yang membuatku seperti ini. Aku jadi ingin membencinya

.

.

.

"anak itu sangat tampan, kau tidak akan menyesal dan yang eomma dengar ia juga bersekolah di sekolah yang sama denganmu." Ucapan terakhir eomma mengalihkan perhatianku dari pemandangan malam kota seoul dan menatapnya. Aku yakin pendengaranku masih sangat baik untuk memintanya mengulangi ucapannya tadi. Satu sekolah denganku? Perkara apa lagi ini? Jadi, kami sama-sama masih bersekolah dan lebih parahnya namja itu bersekolah di sekolah yang sama denganku? Dan apa tadi? Tampan? Akan lebih baik jika eomma bilang 'gadis itu sangat cantik'. Oh! Malangnya diriku..

Aku hendak protes memintanya mengulang kembali ucapannya tadi sebelum suara appa mengintrupsi niatku dan menyuruhku agar cepat keluar dari mobil. Sudah sampai rupanya, dan peryataan eomma tadi masih terngiang-ngiang di kepalaku. Sangat mengganggu

Saat keluar dari mobil, hal yang pertama kali tertangkap indera penglihataku adalah bangunan besar, tinggi, dan mewah layaknya istana. Tapi, orang-orang di dalam sana menyebutnya rumah. Bagi eomma dan appa juga karna rumah kami di China hampir menyamai bangunan ini.

Beberapa pelayan langsung menghampiri kami serta mempersilahkan masuk. Eomma tersenyum dan menggenggam lenganku berjalan bersamanya memasuki rumah itu. Sungguh! Siapapun orang yang akan di jodohkan denganku ini, aku tidak akan pernah bersikap baik, dan menerima orang yang akan menghancurkan hubunganku dengan Hara. Dia juga orang yang membuatku terlihat menjijikan! Sangat-sangat menjijikan!

Kesan pertama melihat isi rumah ini tetap mewah dan elegan. Tapi, aku sudah biasa dengan pemandangan seperti ini, jangan kira rumahku di China payah. Kalau kalian berpikir demikian, kalian salah besar! Bahkan istana rajapun kalah dengan rumahku di sana.

"ah, kalian sudah datang?" seorang wanita menuruni tangga dengan anggunnya langsung memeluk eomma dan bersapa dengan appa sebelum menatapku

"apa ini, Luhan?" entah apa yang ku pikirkan tapi aku merasa senang dengan nada bicaranya mengucapkan namaku. Wanita ini seperti eomma, dia juga cantik dan manis seperti eomma. Tapi bukan berarti aku menyukainya. Enak saja, bahkan wanita ini lebih pantas menjadi eommaku

"woah! Ternyata kau lebih cantik dan imut dari yang ahjuma liat di foto. Aigoo! Apa benar kau seorang pria? Ck-ck-ck! Ahjuma meragukanmu."

Apa?

Cantik? Imut? Meragukan genderku?

Sungguh aku selalu ingin membunuh orang yang beranggapan seperti itu terhadapku. Bahkan wanita di hadapanku ini. Tapi apa? Aku malah diam seperti orang bodoh saat wanita ini memeluk tubuhku, mencubit pipiku dan memutar, membolak balik badnku melihat tiap lekuk tubuhku.

"yeobo, jangan lakukan itu. Kau membuat calon menantu kita sakit kepala."

Seorang pria yang ku yakini adalah suami wanita ini karna panggilannya pada si wanita datang dan menarik tubuh si wanita karna terus membolak-balik badanku. Bahkan, saat ia melakukan itu, eomma dan appa hanya terkikik menatapku. Dan apa tadi? 'calon menantu?'

Masih terkejut dengan banyak pertanyaan di benakku. Aku kembali dikejutkan saat suami istri pemilik rumah mengajak kami keruang makan untuk di jamu. Tapi, bukan itu masalhnya, melainkan seorang pemuda yang duduk manis di salah satu kursi menumpu kedua tangannya di atas meja makan. Aku rasa tak punya masalah dengan mata. Jadi, kemungkinan besar penglihatanku masih berfungsi dengan baik. Jangan katakana bahwa pemuda itu adalah orang yang akan di jodohkan denganku. Aigoo! Kenapa masalahku serumit ini?

Bukan hanya menjijikan, mengenaskan nasib cintaku tapi aku juga akan berurusan dengan ratusan bahkan ribuan fans pemuda itu jika mereka tau apa yang akan terjadi dengan kami. Dan apa harus aku menghadapi kedua sahabatku yang entah apa menariknya pemuda ini hingga membuat mereka bertekuk lutut di hadapannya. Di hadapan seorang, Oh Sehun.

Setelah saling memperkenalkan diri yang tentu saja eommanya memperkenalkan dirinya karna Sehun tak pernah bicara pada sembarang orang kamipun makan dalam diam. Setelahnya kedua orang tua kami mulai membicarakan sesuatu yang berbau uang seusai urusan makan mengabaikanku yang merasa bosan dengan ini. Ku tolehkan kepalaku ke dapan menatap Sehun yang duduk tepat di seberang berhadapan denganku dan mendapati matanya yang juga tengah menatapku dengan tajam. Aku langsung mengalihkan pandanganku menatap kedua orang tuaku

Apa dia membenciku? Apa dia tidak menerima perjdohan ini? Baguslah, aku punya sekutu. Kkk~

.

.

"eum, mian. Aku ingin bertanya, bolehkah?"

Apa aku bodoh? Bagaimana bisa aku bertanya jika ia tak akan menjawabnya. Dia seorang pemilih untuk pendengar suaranya. Sial!

Aku menoleh menatapnya yang duduk di bangku seberang taman belakang rumahnya. Yah… kami berada di sini karna usul dari eommanya.

"err… apa kau memikirkan hal yang sama denganku? Kau tidak berniat untuk melakukan perjodohan ini 'kan?" ia balik menoleh menatapku. Sepertinya ia mulai tertarik dengan topic pembicaraan kami. Haha…. Aku benar-benar akan mendapatkan sekutu dalam hal ini

"aku punya rencana. Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu untuk membatalkan perjodohan ini? Aku yakin—"

MWO?!

Hei ? mau kemana dia? Aku belum selesai menjelaskan rencanaku!

Ku lihat ia berjalan memasuki garasi rumahnya. Aku tak perlu terkejut lagi melihat koleksi-koleksi mobil yang berjejer rapi di sana. Tak lama kemudian sebuah mobil Porsche warna putih yang sedikit di dominasi dengan hitam dan kuning keluar dari sana mengitari jalan di halaman belakang sebelum hilang di balik bangunan yang ku yakini menuju halaman depan.

Hhh…. Aku rasa, Sehun bukan sekutu yang tepat. Bahkan sangat-sangat salah. Sial!

.

.

Apa harus secepat ini? Baru 2 hari yang lalu kami di pertemukan dan sekarang kami di pertemukan lagi dalam sebuah pesta. Huhu.. pesta pernikahan gila!

Sungguh aku tak pernah membayangkan ini. Bagaimana bisa orang tuaku melakukan ini pada anak semata wayang mereka? Bahkan aku tak punya banyak waktu guna mengacaukan rencana gila mereka. Hhh… jika saja Sehun mau bersekongkongol mungkin rencanaku akan berjalan lebih mudah dan cepat. Tapi, sekarang semuanya terlambat. Appa dan eomma membawaku ke luar korea dengan alasan liburan hingga membuatku sangat senang. Tapi, sesampainya di tempat tujuan aku langsung di seret dan terjadilah pernikahan gila antara aku seorang namja dan Sehun seorang namja. Arrggghhh…..

Aku harap hidupku tak lebih mengerikan lagi dari ini

~HUNHAN-Nostalgia-end##

Sehun dan Luhan duduk berjauhan dengan jarak 1 meter menatap fokus 2 ekor ikan yang baru saja mereka tangkap penuh perjuangan di pinggir laut. Perut mereka sudah berbunyi beberapa kali layaknya alarm yang di abaikan dengan alasan tak tau cara memakan ikan bersisik itu tanpa memasaknya lebih dulu. Ugh! Membayangkannya saja Luhan ingin muntah

"hhh… sebaiknya kita kembali kehutan dan mencari buah-buahan. Itu lebih baik dari pada daging yang hanya bisa di pandang."

Sehun berdiri di susul oleh Luhan. Hhh… apa mereka harus melewati semak-semak merepotkan itu lagi jika ingin kembali kehutan? Sungguh!

Sehun sudah berjalan lebih dulu hendak memasuki semak-semak yang membatasi hutan dan pantai. Luhan hendak melakukan hal yang sama namun ia berhenti di tempat kala mendengar sesuatu membuatnya mengedarkan pandangan ke sekitar guna mencari asal suara itu

"Lu, cepatlah.." Sehun mendesak setengah memasukan badannya ke semak-semak

"stth! Kau dengan sesuatu?"

Seketika Sehun diam menerawang mencari dengar apa yang di dengar oleh Luhan dan entah apa itu membuat Sehun langsung keluar dari semak-semak dan berlari ke pinggir pantai lalu mendongak menatap langit, menelusuri setiap titik hamparan awan dan birunya langit di siang itu. Namun nampaknya bukan itu tujuannya tapi sebuah titik hitam dengan baling-baling di atapnya yang terbang mendekati tempat mereka

"LU! Cepat kemari…"

"aku sudah di sini, bodoh!"

Saking fokusnya dengan titik hitam itu, Sehun tak menyadari Luhan yang sudah berdiri di sampingnya ikut memperhatikan titik hitam yang lambat laun membesar mendekat kearah mereka

"Helikopter?" gumam Luhan

' LUHAN! LUHAN! KAU MENDENGARKU? PERGILAH KE TEMPAT YANG BERHADAPAN LANGSUNG DENGAN LANGIT AGAR KAMI BISA MELIHATMU! LUHAN! KAU MENDENGARKU?'

Terdengar sebuah pengeras dari arah titik hitam itu yang tak lain adalah helicopter. Sehun dan Luhan yang mendengar itu langsung tersadar dan berteriak sambil melambai-lambai menengadah ke atas. Ah! Itu mungkin untuk Luhan. Sedangkan Sehun? Pemuda itu kembali ke sifatnya yang semula

"KAMI DI SINI….HEI! KAMI ADA DI BAWAH SINI…" Luhan terus berteriak mengerti pertolongan telah datang membuat Sehun yang berada di sebelahnya menutup kupingnya dengan kedua telapak telapak tangan. Helikopter itu semakin dekat dan dekat hingga angin yang di ciptakan baling-balingnya dapat terasa di kulit Sehun dan Luhan membuat Sehun refleks menarik Luhan menjauh dan bersembunyi di semak-semak tadi. Luhan sempat bingung dan memberontak namun melihat helicopter itu mendarat dan efek pendaratanya cukup membuat pasir di pinggir pantai berterbangan sana-sini membuat Luhan mengerti

Tak selang beberapa lama helicopter mendarat, keluarlah seorang pemuda yang sedari tadi berteriak dengan pengeras suara memakai masker dan kembali berteriak dengan pengeras suara setelah baling-baling helikopret berhenti berputar membuat Luhan dan Sehun keluar dari persembunyiannya. Pemuda yang masih memegang pengeras suara langsung melepas maskernya, berlari dan tanpa aba-aba langsung memeluk Luhan membuat Sehun melotot dan mengepalkankedua tangannya.

"maaf, maafkan aku maafkan aku maafkan aku.." pemuda it uterus minta maaf sambil memeluk Luhan dengan erat. Bagaimanapun ini semua karna kebodohannya tak membaca papan peringatan dan menyuruh Luhan menunggunya di sana

"yak! Uhuk! Kkamjong lepas! Akuh kesh-uhukulitan bernap-has." Mendengar itu, Kkamjong atau Kai langsung melepas pelukannya dan menatap Luhan dengan cengiran lebar namun itu tak berlangsung lama menyadari seorang pemuda yang berdiri tepat di samping Luhan

"oh? Kau bersama, Luhan? Semua orang mencarimu dan tak perduli dengan, Luhan yang hilang. Ck! Ternyata kau bersamanya." Kai tersenyum sinis dan bicara dengan nada yang sinis pula. Sehun tak perduli hanya menatap Kai dengan tajam sebelum menarik Luhan menuju helicopter meninggalkan Kai yang menatap mereka tak suka

.

.

.

Luhan turun lebih dulu dari helicopter di susul Sehun dan Kai di belakangnya. Ada begitu banyak orang yang mnyambut mereka, bukan, lebih tepatnya menyambut, Sehun. Luhan melihat ada beberapa buah helicopter juga di belakang vila itu selain helicopter mereka. Rupanya pihak sekolah lumayan bekerja keras mencari keberadaan mereka

'Sehun, kau baik-baik saja?'

"oppa! Kau tidak terlukakan? Apa yang namja phabo itu lakukan padamu? Ia tak mencelakakanmukan?'

'oppa, sudah, jangan dekat-dekat namja itu. Ia membawa sial untukmu.'

'oppa, kau pasti kelaparan dan sengsara berada di hutan. Aku sudah memasakkan sesuatu—'

Ucapan gadis itu terhenti saat Sehun berhenti melangkah dan menatap semua gadis yang mengiringinya dengan tajam membuat bulu roma mereka berdiri dan membuat liur mereka yang harus penuh perjuangan guna sampai ke tenggorokan. Suasana mendadak hening hingga suara langkah kaki Sehun kembali membuat suasana hidup walau dengan aura yang berbeda karna gadis-gadis tadi tak berani lagi bicara atau sekedar mengekori, Sehun

Luhan dan Kai yang sudah berjalan jauh dari Sehun hanya diam tak perduli. Tapi, benarkah Luhan tak perduli? Aku sedikit meragukan itu karna sikap tak perduli berbeda dengan kepalan tangan dan raut wajahnya yang terlihat jengkel tapi Kai tak menyadari itu

.

.

.

Luhan menunduk diam tak berani mengangkat kepala menatap orang-orang yang ada di hadapan mereka. Sedangkan Sehun ? Ia hanya bersandar di sandaran sofa sambil memainkan smarphonenya tak perduli dengan orang-orang yang menatap intens mereka. Sementara di luar ruangan yang tak terdengar dari dalam itu tengah terjadi kericuhan. Penuh dengan orang-orang yang sangat ingin tau apa yang terjadi di dalam sana. Yah! Siapa lagi orang-orang itu kalau bukan pelajar DO-IHS ?

"jadi? Siapa yang bisa jelaskan ini?"

Luhan hanya bisa menggigit dan mengulum bibirnya sendiri mendengar, Lay mulai buka suara. Oh! Sungguh ia tak menyangka akan secepat ini

"kenapa diam saja? Kau, kau kenapa membohongi dan tidak berkata jujur pada kami, Luhan? Kau anggap apa kami ini?"

Jujur saja Luhan senang karna kini, Baekhyun bicara padanya tapi sayang ini bukan saat yang tepat dan perkataan Baekhyun bukanlah sesuatu yang… entahlah.

"kau? Kau benar seorang gay, Luhan?" ucapan Kyungsoo membuat Luhan mendongak menatap pemuda itu sebelum beralih menatap Sehun yang sangat santai dengan smarphonenya.

"kau seorang gay. Tapi kau berlagak ingin merampas, Hara dariku? Ck-ck-ck!" Tiba-tiba Luhan merampas smarphone Sehun dan membantingnya ke lantai mendengar ucapan Kris membuat semua yang ada di ruangan itu menatap Luhan

"AKU MEMBENCIMU! AKU MEMBENCIMU! AKU MEMBENCIMU, OH SEHUN SIALAN!"

Greb…

Bugh….

Entah apa yang terjadi saat ini Luhan benar-benar naik pitam hingga melayangkan satu kepalannya di wajah Sehun dan hendak melayangkannya lagi namun orang-orang yang ada di sana tak tinggal diam memisahkan Luhan yang mengamuk dari Sehun.

"LEPASKAN AKU! LEPASKAN AKU! SIALAN! CUIH! SIALAN KALIAN!" Luhan terus berontak saat Kai dan Kyungsoo berusaha menahan tubuhnya, kakinya terus menendang-nendang berusaha menggapai Sehun yang kini hanya duduk sambil meringis mengusap sudut bibirnya yang kena hantaman Luhan

"Luhan tenanglah…" jujur Kai penuh perjuangan mengatakan itu karna Luhan benar-benar tidak mau diam

"LUHAN!" kini Baekhyun berteriak dan itu cukup membuat Luhan terdiam. Chanyeol yang berada di samping Baekhyun merangkul dan mengusap punggung pemuda itu

Pegangan Kai dan Kyungsoo pada tubuh Luhan melemah karna Luhan tak memberontak lagi namun detik berikutnya tiba-tiba Kai tersungkur mendapat hantaman keras dari Luhan. Orang-orang di sana hanya bisa diam mematung karna Luhan tak berniat melakukan serangan beruntun

"KAU SIALAN! PASTI KAU YANG MEMBERITAU MEREKA BUKAN? PENGKHIANAT!—"

"hei, jangan menyalahkan, Kai. Dia tidak tau apapun soal ini, memangnya apa yang salah dengan gay hingga—"

"DIAM!" bentak Luhan tepat di wajah Kyungsoo membuat pemuda itu seketika diam dan meneguk paksa liurnya melihat wajah Luhan yang benar-benar murka

"Kau yang seharusnya diam! Kau yang harus dengarkan kami! Kau yang berslah di sini! Kau yang berbohong di sini!—"

"kalian yang diam! Kalian jangan memojokannya!" seketika semua bungkam saat Sehun berdiri angkat bicara

"cih!" Luhan mendecih menatap sinis Sehun

"ck! Membosankan! Baiklah, intinya adalah tidak ada siapapun yang membocorkan rahasia kalian. Hanya saja seperti kata pepatah, serapat apapun kau menyembunyikan bau bangkai pasti akan tercium juga(?). Dan kami semua di sini tau dengan sendirinya, bahkan pihak sekolah sudah tau soal ini." Luhan membulatkan mata mendengar penuturan Kris

"siapa yang tidak akan curiga saat pihak sekolah menghubungi orang tua Sehun dan menyuruh mereka datang. Eomma Sehun memang datang tapi ia bersama eomma Luhan dan itu mengundang kecurigaan kami karna kami bukan orang bodoh yang memikirkan kebetulan.-

- Kai tidak menghubungi eomma Luhan tapi bagaimana eomma Luhan bisa datang ke sini? Begitupun dengan pihak sekolah. Kalau mereka hanya rekan bisnis, lalu bagimana dengan eomma Sehun yang bahkan lebih mengkhawatirkan Luhan di bandingkan putranya sendiri sambil menyebut 'menantuku' di depan kepala sekolah?." Luhan meneguk paksa liurnya mendengar penjelasan panjang lebar Lay. Jadi, bukan Kai?

Luhan menatap Kai sedikit iba dengan pemuda itu yang sudah bersusah payah mencari dan mengkhawatirkannya tapi malah mendapat hantaman keras darinya

"dan sejauh yang ku lihat. Kau bahkan lebih intim dengan Sehun di bandingkan Kai yang menjadi alasanmu dekat dengan Sehun. Padahal kita semua di sini tau bagaimana tabiat Sehun. Dan seringnya aku bertemu di tempat yang sama denganmu dan kebetulan di sana juga ada Sehun itu semakin mengundang kecurigaan kau tau? Cih! Kami bukan orang bodoh yang mudah di tipu, Xi Lu—ah! Mungkin sekarang aku harus memanggilmu, 'Oh Luhan?'"

"jadi?" lanjut Lay meminta kepastian keluar dari mulut Luhan atau Sehun, ah mungkin juga Kai jika pemuda itu bersedia menjadi pengkhianat. Suasana menjadi hening, Luhan hanya bisa menunduk sambil menggigit bibir bawahnya dan mengulumnya hingga Sehun tiba-tiba angkat bicara

"memangnya apa urusannya dengan kalian jika semua itu benar?."

Ucapan datar Sehun memang sangat ajaib hingga membuat semua yang ada di sana membatu dengan berbagai macam ekspresi. Luhan sendiri yang mendengar itu menutup mata rapat-rapat. Yah… mungkin ini memang saatnya

Sehun menghela napas sebelum menghampiri Luhan dan membawa pemuda itu pergi meninggalkan ruangan. Saat Sehun membuka pintu, beberapa orang yang menyandarkan telinganya di pintu langsung terjungkal dan jatuh ke lantai tak tau kalau pintu itu akan di buka. Sehun hanya acuh terus berjalan menarik Luhan bersamanya

.

.

.

"maafkan aku."

"yah, kau memang harus minta maaf. Ini sakit kau tau?" Sehun menatap Luhan yang beralih menatapnya juga

"kenapa kau sangat menjengkelkan? Aku sudah minta maaf! Kenapa nada bicaramu seperti itu?!" Sehun mendecih beranjak dari atas ranjang mendekati Luhan yang duduk di pinggir ranjangnya sendiri

"kalau begitu obati aku." Luhan menatap Sehun dan mendecih sebelum berdiri hendak pergi mengambil kotak p3k namun tangan Sehun menahannya

"mau kemana?"

"ck! Duduk dan diamlah." Luhan mendudukkan Sehun di tempatnya lalu pergi mengambil kotak p3k.

"apa sekeras itu?" Luhan menggaruk tengkuknya menatap Sehun yang duduk di tepi ranjang dengan sudut bibir yang lebam dan sedikit mengeluarkan darah. Sehun mendongak menatap Luhan yang kini berdiri di hadapannya dan mengangguk membuat Luhan ingin tertawa melihat Sehun yang tiba-tiba berubah manja. Menggelikan!

Luhan duduk di sebelah Sehun mulai mengobati luka yang ia buat di sudut bibir Sehun dengan telaten. Sesekali Sehun meringis tertahan karna Luhan sedikit kasar. Dua orang itu terlalu focus dengan urusan sendiri hingga tak menyadari seorang pemuda yang berbaring di atas ranjangnya sendiri terus memperhatikan mereka dan tersenyum meremehkan

"kau memang lebih pantas menjadi seorang istri, Xi Luhan. Ah, Oh Luhan!"

"a-akh!" Luhan yang kaget karna tiba-tiba Kris bicara di keheningan refleks menekan luka Sehun membuat pemuda itu meringis kesakitan. Sadar ada orang lain di kamar itu Luhan dan Sehun langsung mengarahkan pandangan pada Kris.

"tapi kalian kurang romantic, seharusnya kau duduk di pangkuan Sehun dan obati lukanya dengan lembut sesekali menciumnya. Aku yakin seperti itu akan—"

"DIAMLAH!"

Luhan yang tak tahan dengan omongan Kris membentak pemuda itu karna membuat jantungnya berdetak tak karuan dan mukanya memanas. Sedangkan Sehun yang tak jauh berbeda dengan keadaan Luhan memalingkan wajah ke lain arah yang pasti arah yang tak bisa di tangkap oleh, Kris. Sedangkan si pelaku hanya tersenyum remeh kembali dan terus memperhatikan dua orang itu membuat keduanya makin salah ! Kenapa semua orang berubah jadi menjengkelkan. Luhan merasa Kai ada di mana-mana

"hhh… melihat tingkah laku kalian. Aku yakin, rumah tangga kalian benar-benar payah!" Sehun refleks menatap Kris dengan tajam mendengar penuturan pemuda itu

"Luhan yang bertingkah sebagai strigh dan Sehun yang benar-benar payah dalam berhubungan. Ck-ck-ck! Aku dapat membayangkan betapa tersiksanya rumah tangga kalian. Bangun pagi tanpa morning kiss, tidurpun seperti itu. Makan di luar rumah karna aku yakin tak seorangpun yang bisa memasak di antara kalian. Komunikasi yang bahkan di batasi walau kalian sering bertemu dan harus berpura-pura menjadi orang asing atau sekedar kenalan di hadapan orang lain. Aigoo… hahaha…"

"berapa lama kalian menjalani hidup sepereti itu, eoh? Aku penasaran, setelah pesta pernikahan selesai apa kalian juga di perkenankan honey moon? Hahaha… berciuman saja mungkin kalian belum pernah, apa lagi melakukan pertarungan ranjang yang luar biasa itu, ohhh~…."

BLAM!

BLAM!

Kris yang sebelumnya menerawang tak menyadari betapa sulit di artikannya ekspresi Luhan dan Sehun saat ia bercerita menatap pintu kamar dan pintu kamar mandi yang tiba-tiba di tutup, ah, di banting dengan kuat. Kris tak perduli mengedikan bahu dan berbaring mencari posisi yang nyaman di atas ranjang karna dua orang yang ia ajak bicara sudah keluar dan yang satu lagi masuk ke kamar mandi

.

.

.

Tour musim panas telah berakhir. Seluruh pelajar DO-IHS telah kembali beraktivitas di sekolah seperti biasa begitu pula dengan Luhan.

Pemuda itu berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kelas diiringi tatapan sinis setiap orang yang di lewatinya. Tatapan seperti itu sudah biasa di dapatkannya sebelum tour musim panas dan lebih sinis lagi setelah tour musim panas. Bagaimana tidak? Semua orang pasti iri karna moment yang ia alami bersama Sehun saat tour berlangsung. Mereka terlihat dekat setelah beberapa hari hidup berdua di hutan. Yah… mereka tidak tau saja kalau mereka memang dekat dan memiliki hubungan lebih dari kata'dekat'

Sesampainya di dalam kelas Luhan langsung menuju tempat duduknya masih dengan tatapan sinis setiap orang yang di lewatinya. Hanya teman sebangkunya saja yang menyambut kedatangannya dengan baik—Lay.

Sekarang sahabatnya itu tak takut lagi berdekatan dengan Luhan karna pemuda itu sudah punya jaminan jika dia tak akan di terror dan Lay tak perlu ikut-ikut terlibat dalam masalah. So! Luhan merasa semuanya telah kembali seperti semula, hanya ada sedikit perubahan seperti teman-teman dekatnya dan Sehun yang telah mengetahui statusnya dan Sehun serta bangku yang berada di seberang belakang tempat duduknya yang kini tak di tempati lagi oleh Baekhyun.

Hhh… Luhan pikir Chanyeol sangat berlebihan. Pemuda itu bahkan membuat Baekhyun pindah ke kelasnya karna tak ingin jauh-jauh dari Baekhyun. Belum lagi selama tour musim panas kemarin, Luhan tak pernah melihat dua orang itu sendirian. Seakan mereka adalah tinta dan kertas yang di mana harus saling melengkapi bersama. Seakan tubuh mereka telah di pasang sebuah perekat kasak mata membuat kedua orang itu tak bisa lepas satu sama lain. Mengerikan menurut Luhan. Bagaimana jika seandainya Sehun bersikap seperti itu padanya. Ah! Kenapa dia berpikir seperti itu?

Luhan menggeleng membuat Lay yang berada di sebelahnya terheran-heran

"kau baik-baik saja?" Luhan memandang pemuda berdumple itu dengan senyum mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja

Lay balas tersenyum menatap wajah pemuda itu walau Luhan sudah berpaling ke depan kelas. Merasa terus di tatapi Luhan menoleh pada Lay dengan tatapan bertanya

"tidak," Lay menggeleng " aku hanya tidak menyangka saja." Lay tersenyum dan Luhan merasa tidak dalam keadaan baik-baik saja

"Lay, tidak lagi." Sungguh Luhan ingin merosot dan menyembunyikan dirinya di bawah meja melihat Lay tersenyum makin lebar. Sejak teman-temannya dan Sehun tau mengenai statusnya dan Sehun. Orang-orang itu tiba-tiba berubah menjadi Kai. Luhan benar-benar merasa Kai ada di mana-mana. Bahkan Kyungsoo sekalipun yang awalnya juga….? Sebenarnya Luhan tidak yakin akan ini, Kyungsoo sebelumnya menyukainya.

"Lu?" Luhan menoleh "jadi ini yang selama ini membuatmu tidak tertarik dengan mereka? Ternyata kau sudah mendapatkan salah satu dari mereka. Ckckck! Kau benar-benar curang." Lay menepuk-nepuk pelan punggung Luhan sebelum mengusap poni pemuda itu yang langsung di tepis oleh Luhan

"aku memang tidak tertarik! Bukan karna alasan seperti itu. Sudahlah! Aku tidak mau membahas ini. Kenapa kau harus ikut-ikutan berubah jadi menjengkelkan?! Ck!" Lay hanya tertawa membuat Luhan semakin kesal dan meninju pelan perut pemuda berdumple itu

"wae? Kau malu jika kita membahas soal ini? Oh! Xi L—Oh Luhan rupanya sudah bisa tersipu, eoh?" Lay menoel dagu Luhan

"YAK! Zhang Yising!" Luhan yang sudah benar-benar jengkel mencekik leher Lay dan mengguncangnya membuat Lay terbatuk-batuk parah. Seisi kelas hanya menatap heran mereka hingga seorang guru masuk ke dalam kelas. Luhan dengan terpaksa melepaskan cekikannya membuat Lay bernapas legah tapi ia tak akan pernah lelah menggoda Luhan. Mungkin itu akan jadi hobi barunya

.

.

.

"Matriks adalah suatu susunan elemen-elemen atau entri-entri berbentuk persegi panjang yang di atur dalam kolom—Dalam matriks A=[aij], dengan i dan j merupakan bilangan bulat yang menunjukan—"

Tok-Tok-Tok….

Im seongsanim, guru matematika itu menghentikan kalimatnya mendengar suara ketukan pintu kelas. Im seongsanim berjalan membuka pintu. Aneh, biasanya kalau ada yang mengetuk, orang yang mengetuk itulah yang membuka pintu. Tapi ini masih minta di bukakan.

Cklek!

Tepat saat pintu di buka suasana kelas Im seongsanim langsung gaduh melihat siapa yang berada di balik pintu—Sehun. Im seongsanim terlihat bertanya pada Sehun namun pemuda itu diam saja tanpa menghiraukan sang guru, Sehun langsung memasuki kelas membuat suasana kelas makin gaduh namun Sehun terus berjalan menuju bangku di mana seorang pemuda dan temannya terlihat tengah menyalin catatan dari buku matematika yang Im seongsanim berikan

Sret…..

Eh?

Pemuda yang tak lain adalah, Luhan langsung di buat heran melihat bukunya tiba-tiba di tarik seseorang dan di masukan ke dalam tasnya tapi ia diam saja. Namun saat mendongak ia makin di buat heran melihat Sehun di hadapannya. Tanpa menghiraukan tatapan bingung Luhan dan seisi kelas Sehun dengan seenaknya menarik Luhan keluar kelas bersamanya dan sang guru yang masih di ambang pintu hanya diam tersenyum saat dua orang itu melewatinya. Aneh!

.

.

.

"e-eh? Yak! Im seongsanim berada di kelasku. Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku tidak mau berurusan dengan guru itu dan ap—"

"diamlah."

"bagaimana aku bisa diam jika hukuman dari, Im seongsanim menantiku? Yak! Oh Sehun! Bahkan kau membuat seisi kelas mencurigai kita. Yak!"

Tangan kanan Sehun masih setia menyeret lengen Luhan dan tangan kirinya memegang ransel Luhan tak perduli dengan ocehan atau bentakan Luhan yang berjalan di belakangnya hingga mereka sampai di tempat parkir sekolah. Luhan makin di buat heran saat komplotan Sehun juga berada di sana

"baiklah! Tuan rumah sudah ada di sini. Jadi, bisa berangkat sekarang?" sepertinya hanya Luhan satu-satunya orang yang tak mengerti ucapan Kyungsoo barusan namun ia diam saja saat Sehun membawanya masuk ke mobil

.

.

.

"sebenarnya ada apa? Aku merasa seperti orang bodoh yang tak tau apa-apa." Luhan menatap Sehun yang focus menyetir

"kita akan berpesta."

"mwo?! Pesta? Jangan bercanda, Oh Sehun! Kau membuatku membolos pelajaran Im seongsanim dan mengadakan berpesta? Apa kau sudah gila?! Aku akan berpesta lalu setelah itu menerima hukuman dari guru cerewet itu?"

"saat ini kau bahkan lebih cerewet dari guru itu." Luhan hendak protes lagi sebelum ia menyadari kemana arah mereka

Tunggu!

Ini ? bukankah jalan menuju rumah Sehun?

.

.

.

Pesta lajang?

Luhan bahkan berpikir bahwa dirinya dan Sehun tak berhak mengadakan pesta ini karna mereka bukan seorang lajang lagi. Mereka sudah terikat satu sama lain. Dan Luhan berpikir, apa sebuah pesta harus selalu di sertai berliter-liter alcohol seperti kata Chanyeol dan Kris? Luhan rasa tidak harus seperti itu

Jika tiba-tiba Lay berada di sini Luhan tak perlu heran karna komplotan Sehun selalu bisa melakukan semua hal yang mereka inginkan dengan mudah. Tapi, jika Lay mencicipi, tidak! Maksudku bahkan ia telah menghabiskan sebotol soju dan segelas vodka hanya karna ledekan Kai yang menyertakan nama Suho itu membuat Luhan semakin yakin kalau Lay punya hubungan mencurigakan dengan ketua osis anggelik sahabat Luhan yang satunya lagi, Baekhyun sibuk mencegah Chanyeol yang sudah benar-benar mabuk untuk minum lagi padahal Baekhyun sendiri juga sudah mabuk. Hhh.. Luhan rasa hanya dirinya yang tak berani menyentuh minuman itu melihat keadaan orang-orang ini.

Luhan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa menatap bosan orang-orang mabuk di hadapannya. Bahkan, Sehun sendiripun sudah mabuk dan Luhan yakin mereka semua akan bermalam di sini. Hanya saja, semoga eomma Sehun tidak akan tiba-tiba muncul dan melihat kekacauan ini

Luhan menghela napas hendak membaringkan tubuhnya di atas sofa lelah dengan berbagai permainan yang mereka mainkan tadi sebelum semua kecuali dia sendiri menjadi mabuk seperti saat ini. Namun, ia mengurungkan niatnya melihat Sehun yang tepar di atas karpet tiba-tiba bangun dan berdiri, berjalan sempoyongan menuju kearahnya. Luhan hendak berdiri guna membantu Sehun namun Sehun lebih dulu mendorongnya kembali duduk di sofa sedangkan pemuda itu duduk diatas karpet menumpukan kedua tangannya dipaha Luhan, dan mendongak menatap Luhan dengan mata setengah terbuka.

"Lu~ hik!" Sehun tersenyum konyol. Sungguh Luhan ingin tertawa, ia melihat diri Sehun yang lain ketika mabuk

"Lu~~ aku hik! Meng-ahik! Antuk~" Sehun membanting pipinya di atas paha Luhan dan merentangkan kedua tangannya di atas sofa dengan mata tertutup sempurna. Luhan pikir Sehun sudah tidur, iapun hanya menghela napas dan menyandarkan kepala di sandaran sofa. Hhh.. menyusahkan, apa dia harus tidur dengan posisi seperti ini?

1 jam kemudian Luhan terbangun merasa pegal dan tak nyaman karna posisi tidurnya. Ia mengucek mata melihat Sehun masih menjadikan pahanya sebagai bantal dan memeluk kakinya, membuat Luhan benar-benar tak bisa bergerak. Luhan berdecak mengangkat pelan kepala Sehun tapi malah membuat pemuda itu terjungkal kebelakang dan tertidur di karpet. Luhan menghela napas geleng-geleng kepala melihat Sehun yang bahkan tak ada tanda-tanda akan bangun walau kepalanya membentur lantai yang di lapisi karpet itu. Luhan berdehem merasa sesuatu menyangkut di tenggorokannya, berdehem lagi dan akhirnya memutuskan pergi mengambil air minum namun sesuatu menahan kakinya yang hendak melangkah. Luhan menoleh dan mendapati tangan Sehun yang memegang pergelangan kakinya

"mau kemana?~~" suara Sehun terdengar serak. Mungkin Luhan harus merelat bahwa berturan di karpet itu tak membuat Sehun bangun

"pergi dan tidurlah di kamar. Kau, kalian terlihat menyedihkan." Bukannya menjawab Luhan malah memerintah namun anehnya Sehun langsung menurut saja meninggalkan ruangan itu dan pergi ke kamar yang dulu di tempatinya dan Luhan dengan jalan sedikit sempoyongan dan beberapa kali menabrak dinding atau sesuatu yang menghalangi jalannya. Sedangkan Luhan tengah memilih minuman di dalam lemari pendingin di sudut ruangan.

Ada begitu banyak minuman beralkohol di sana. Luhan sempat berpikir lebih baik ia turun ke dapur dan mengambil air putuh tapi—jujur—ia terlalu malas jika harus berjalan jauh untuk air putih maka ia memilih minuman yang ada di botol plastic dalam lemari karna tak mungkin alcohol di isi dalam botol plastic. Luhan sudah meminum setengah botol tapi ia merasa ternggorokannya tak legah sama sekali malah semakin haus, maka ia memilih menghabiskan minuman itu tak tersisa dan itu makin membuatnya semakin haus dan haus. Tak perduli minuman apapun di hadapannya Luhan mengambil asal merasa tenggorokannya benar-benar kering seakan dehidrasi, benar-benar butuh cairan. Luhan mengerutkan alis merasa minuman yang menyentuh indra pengecapnya benar-benar mempunyai rasa yang aneh namun ia tetap meminumnya hingga tak tersisa.

Luhan menghela napas sebelum melihat ruang sekitanya bergoyang-goyang dan hawa panas yang membuatnya ingin mandi di kolam es saat ini juga. Luhan menggelengkan kepala meraih kembali dengan asal botol di dalam kulkas kecil itu dan meneguknya. Mungkin seperti itu kepalanya yang entah kenapa menjadi berat bisa ringan kembali. Tapi bukannya membaik kepalanya malah semakin berat dan ia merasa sangat gerah hingga menjatuhkan botol itu di karpet dan coba membuka kancing kamejanya lalu mengibas-ngibaskan tangannya

Kepalanya masih terasa berat membuatnya berjalan sempoyongan entah kemana yang pasti mengikuti jalan yang bisa di lihat atau di hapalnya dengan jelas hingga tibalah ia di depan pintu bercat hitam dan langsung membukanya. Luhan menggelengkan kepala merasa dirinya juga mulai berhalusinasi melihat Sehun yang duduk di atas ranjang dengan mata yang sedikit tertutup

"Lu~~" oh, bahkan ia juga dapat membayangkan suara Sehun memenuhi indera pendengarannya. Luhan kembali menggeleng kuat-kuat dan merobek kameja sekolahnya membiarkan kameja itu jatuh di atas lantai merasa hawa di sekitar semakin panas dan panas. Luhan berjalan mendekati ranjang melepas ikat pinggang dan semua pakaiannya sebelum memeluk Sehun yang di anggapnya halusinasi dan hal terakhir yang di ingatnya hanya rasa pahit alcohol saat bibirnya dan Sehun kembali bertemu.

.

.

.

.

.

TO BE COUNTINUE

Ell Note :

HHHH….. akhirnya~

Aigoo! Ini benar-benar chapt yang butuh perjuangan karna beberapa kali Ell nemuin jalan buntu. Jadi Ell ngalihin ceritanya ke yang lain kayak 'HUNHAN NOSTALGIA' atau sebagainya. Jadi gak usah heran atau gimana sama jalan ceritanya yang aneh dan penyelarasan kalimat yang benar-benar membinggungkan. Kepala Ell berasa mau pecah ngetik chapt ini. Sempat minta tolong ke readers tapi kok kalian ngomongnya gak nyambung yah? Ada juga yang ngasih ide yang benar-benar hahaha… -_- udahlah, yang penting chapt ini selesai dan kita akan mendekati konflik. Huah! Nyinggung konflik Ell rasa kepala Ell benar-benar mau pecah.

Tour musim panasnya di end karna Ell juga nemuin jalan buntu di sana. akhirnya nyari inspirasi dan nemuin satu FF yang ngispirasi Ell Cuma udah Ell rubah jalan ceritanya. Tapi, konflik yang Ell mau gak kayak FF itu kok. Kalau kalian pernah baca FF itu yang entah apa judulnya karna Ell Cuma baca sekilas pasti kalian langsung ingat satu moment yang ada di chapt ini.

Tapi menurut Ell yang paling susah dengan chapt ini itu penyusunan kalimatnya. Ell buru-buru sebelum ide yang ada di kepala Ell hilang semua. Dan Ell gak niat ngedit atau baca lagi karna takut makin lama updatenya. Soalnya bakal ngeresa gak PD pas udah di baca terus ceritanya malah kayak gitu. Jadi gak usah di baca lagi dan berpikir 'masa bodoh'

Dan chapt depan kayaknya bakal lebih parah karna jalan yang udah ada pasti bakal jadi jalan buntu. Dan lagi, chapt depan bakal bermasah sama dialognya. FF ini kayak Ell yang lebih suka bertindak ketimbang ngomong, jadi Ell gak bisa bikin kalimat-kalimat puitis atau bijak kayak author-author favorite Ell . So, readers chigu~ boleh kasih saran mau di gimanain chapt depannya? Atau moment=moment HunHan di chapt depan. Hunhan moment yah… bukan Kaisoo atau Chanbaek karna satu pair aja Ell udah sakit kepala.

Oh! Atau karna chapt ini benar-benar membosankan dengan kosa kata tak beraturan mungkin Ell bakal kekurangan peminat dan itu menguntungan karna artinya Ell gak perlu nerusin FF ini. jadi jujur aja dan kalau udah mulai bosan baca dari awal chapt ini mending gak usah di terusin karna Cuma ngakibatin mata lelah.

Chanbaek sidenya aneh yah? Itu karna Ell benar-benar gak konsen dengan chapt ini. Dan Chanbaek gak jelas yah? Kalau gak ngerti ya… di mengerti aja soalnya Ell males ngebahas couple lain. Mau mereka dulu gimana dan sekarang gimana itu terserah mereka, urusan mereka, Ell gak mau ikut campur (?)

Yaudah! SAYONARA~~~~