DIFFICULT OF STRING
13
Sehun + Luhan
Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Yaoi
E
And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan
…
Preview…
Kepalanya masih terasa berat membuatnya berjalan sempoyongan entah kemana yang pasti mengikuti jalan yang bisa di lihat atau di hapalnya dengan jelas hingga tibalah ia di depan pintu bercat hitam dan langsung membukanya. Luhan menggelengkan kepala merasa dirinya juga mulai berhalusinasi melihat Sehun yang duduk di atas ranjang dengan mata yang sedikit tertutup
"Lu~~" oh, bahkan ia juga dapat membayangkan suara Sehun memenuhi indera pendengarannya. Luhan kembali menggeleng kuat-kuat dan merobek kameja sekolahnya membiarkan kameja itu jatuh di atas lantai merasa hawa di sekitar semakin panas dan panas. Luhan berjalan mendekati ranjang melepas ikat pinggang dan semua pakaiannya sebelum memeluk Sehun yang di anggapnya halusinasi dan hal terakhir yang di ingatnya hanya rasa pahit alcohol saat bibirnya dan Sehun kembali bertemu.
…
Luhan bagun dengan rasa sakit yang amat sangat. Kepalanya begitu berat dan sakit seakan di pukul-pukul seorang penjahat yang bahkan tak mengindahkan rintihan dari tenggorokan keringnya. Belum lagi perasaan menusuk-nusuk di salah satu bagian tubuhnya itu membuatnya merasa seakan baru saja di tindas sebuah truk dengan berat 1000 ton.
Bukan sambutan pagi yang baik
Luhan merasa pergerakan di sampingnya tak berniat menoleh karna ia tau. Sehun adalah orang yang selalu di dapatinya tiap bangun pagi. Tapi ia sedikit heran merasa pergerakan di sampingnya terhenti tiba-tiba seakan baru saja terjadi satu hal yang membuatmu tak bisa bergerak seperti di pause. Baiklah, Luhan rasa ia penasaran maka ia memilih mengacuhkan kepalanya yang berat lalu membuka mata.
Hal pertama yang di lihatnya adalah ini bukan kamarnya dan Sehun. Tidak! Maksudnya itu memang kamar mereka, tapi dulu. Pantaslah Luhan familiar dengan tempatnya berada.
Lalu bagaimana ia bisa ada di sini?
Luhan ingin berbalik melihat seseorang di belakangnya memastikan kalau itu benar-benar Sehun karna perlahan ingatannya mulai kembali di mana ia, teman-temannya dan teman-teman Sehun pergi ke rumah Sehun , bermain dan berakhir dengan minum-minum lalu mabuk. Namun, kepalanya kembali membentur bantal merasa sakit itu lagi-lagi menghujam bagian belakang tubuhnya saat ia mengangkat paksa tubuhnya untuk bangun. Luhan menggigit bibirnya kuat-kuat dan mengumpat dalam hati. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Krenapa di bagian itu sangat sakit?
"Sehun? Kau di sana?" merasa tak sanggup bergerak, Luhan memilih bertanya. Namun, tak ada reaksi atau jawaban apapun dari orang yang di arahkan atas pertanyaan itu kecuali suara tegukan liur yang terdengar berat ditelan
"Sehun? Aku tau kau mendengarku.." masih tak ada jawaban
"Sehun kau membuatku takut." Luhan meringis memaksa dirinya bergerak melihat seorang di belakang punggungnya itu dan mengabaikan rasa sakit yang menusuk-nusuk belakang tubuhnya. "Arrgghh…" erang Luhan namun berhasil mendudukan dirinya di atas ranjang lalu menoleh dan bersyukur melihat benar-benar Sehun yang duduk di pinggir ranjang membelakanginya
Tapi, hal yang membuatnya bingung sekaligus penasaran. Bagaimana ceritanya ia bisa tidur di sini dengan Sehun, sementara terakhir ingatannya mereka berada di ruangan ayah Sehun bersama yang lain, lalu sejak kapan Sehun tidur tanpa memakai helaian benang menutupi punggung di ruangan sedingin ini? Luhan bahkan merasakan betapa dinginnya ruangan ini.
"Sehun? Gwenchana?"
"Lu. Mi-mianhae.."
Luhan mengeryit. Untuk apa Sehun minta maaf padanya? Dan bukankah seharusnya meminta maaf kau menatap orang itu? Sedangkan Sehun? Ia malah membelakangi Luhan
"A-aku tidak tau. Maafkan aku. Semuanya terjadi begitu saja. Tapi ku mohon jangan jauhi aku. Maafkan aku… maafkan aku…a-aku akan lakukan apapun tapi ku mohon. Bersikaplah seperti biasa—"
"Sehun..Sehun..tenanglah.." Luhan menggoyang-goyang bahu Sehun yang kini naik di atas ranjang menghadapnya dan terus meminta maaf
"Maafkan aku… aku tak bisa mengendalikan diriku… aku.. aku tau aku salah, tapi ku mohon jangan jauhi aku. Tetaplah di sisiku, aku akan—"
"Sehun! Ku bilang tenang! Apa yang—"
Ucapan dan guncangan Luhan di tubuh Sehun berhenti saat tak sengaja matanya menangkap penampilan dirinya yang tak ada bedanya dengan Sehun. Luhan menarik tangannya dari lengan Sehun dan mengibas selimut, membiarkan mata dan mulutnya terbuka lebar lalu kembali menutup selimut itu. Pandangannya kosong menatap lurus raut wajah Sehun yang benar-benar menyesal akan tindakan semalam yang perlahan kembali ke memori otaknya.
Luhan sudah membuka mulut hendak bicara, bertanya namun gagal karna tergagap dengan satu hurup yang bahkan tak keluar dari pita suaranya. Terlalu banyak kemungkinan, terlalu shock saat perlahan-lahan namun pasti ingatannya terkumpul dan tersusun seperti puzzle. Adegan itu terbayang di mata dan memori otaknya. Tatapan mata yang sama dengan pemuda yang ada di hadapanya saat ini, namun dengan pesan yang berbeda. Menusuk, dan menenggelamkan jiwanya
Ingatan jemarinya yang ikut bicara mengingatkan cengkraman kuat yang ia tancapkan di kulit putih pemuda itu sebagai reaksi penerima kiriman sensasi ribuan paku menusuk tulang belakangnya dan kenikmatan asing secara bersamaan. Sumber dari rasa sakit di tubuhnya saat ini
Di telinganya terdengar jelas kilasan balik kejadian semalam. Rintihannya, rintihan Sehun, bersatu padu menggema dalam ruangan ini. Dan semuanya kembali. Ia ingat dengan jelas apa yang sudah terjadi.
Luhan ingin berkata sesuatu tapi tak satu katapun keluar dari mulutnya. Jangankan itu, kalau ia bisa berkata ia sendiri tak tau apa yang harus ia katakan. Apa ia harus marah? Memaki Sehun? Atau malah senang dan tersipu?
"Lu…" lirih Sehun menunduk. Ia tak tau harus berbuat apa melihat Luhan yang diam menatapnya. Sungguh ia benar-benar takut Luhan jijik dan menjauhinya lagi
Keduanya masih diam tak tau harus berbuat apa hingga
Cklek…
Pintu kamar itu terbuka menampakan seorang wanita paruh baya yang sudah membuka mulut hendak bicara atau lebih tepat membentak namun suaranya tertahan di tenggorokan melihat dua pemuda yang duduk di atas ranjang. Luhan dan Sehun mendengar pintu terbuka langsung mengarahkan pandangannya kesana dengan reaksi yang tidak jauh berbeda dengan wanita paruh baya tadi, hanya bisa mematung di depan pintu.
Entah kenapa suasana di sana seperti di pause tiba-tiba sebelum wanita paruh baya itu mengambil inisiatif menimbulkan bunyi dengan menutup pintu kamar dan pergi dari sana. Luhan dan Sehun masih pada posisi yang sama, berkedip 2 kali lalu bertatapan dengan pikiran yang sama
"eomma?!"
Keduanya memekik keras sadar dari ketertegunannya. Bahkan Luhan yang awalnya dengan pikiran kacau dan tatapan kosong, kini menatap Sehun yang juga menatapnya tak percaya. Apa lagi mereka sepenuhnya sadar keadaan mereka yang di saksikan oleh Key.
Sehun langsung menyibak selimut, meraih celana jeansnya di pinggir ranjang dan bajunya yang ada di kaki ranjang. Luhan hendak melakukan hal yang sama namun sekali lagi, sebuah peringatan berupa perasaan menusuk-nusuk di salah satu bagian tubuhnya membuat pergerakan pemuda bersurai cokelat madu itu terbatas. Alhasil yang bisa ia lakukan hanya kembali mendaratkan kepalanya ke bantal dan merintih.
Sehun sudah selesai dengan pakaiannya menatap Luhan iba. Apa sesakit itu? Yah! Tentu saja karna Sehun mengingat bagaimana dirinya yang seperti dirasuki setan menghujam Luhan dengan brutal. Apa lagi ini kali pertama mereka melakukannya. Meskipun bahu Sehun juga cukup sakit karna cengkraman Luhan. Tapi itu tak seberapa dengan Luhan yang bahkan merasa dirinya seperti di belah dua oleh sebuah mesin pangkas
Sehun ingin mendekat, memeluk dan menenangkan Luhan dari rasa sakitnya tapi, ia takut Luhan menolak. Ia takut jika Luhan mendorongnya menjauh. Ia takut ketika Luhan akan berkata dan mencacinya dengan kasar. Maka ia memilih untuk meninggalkan pemuda itu dari pada harus mendengar rintihan pilu atau cacian keluar dari bibir mungil Luhan
"mianhae…" lirih Sehun menatap Luhan yang kini memejamkan mata sambil mendesis lalu pergi meninggalkan Luhan sendiri
Sehun menahan napas saat melihat Key dan Jinki berdiri tak jauh dari pintu kamarnya dan Luhan. Ia yakin tadi Key ingin mencaci dan meneriakinya dengan alasan, keributan dan kekacauan di ruangan Jinki. Tapi semua cacian yang sudah di persiapkan tak keluar karna melihat keadaannya dan Luhan. Bagaimana mungkin ia memberi sambutan pada kedua orang tuanya yang pulang dari luar negeri dengan kekacauan seperti ini. Aigoo!
Pemuda yang baru saja mengubah warna rambutnya menjadi perak itu sudah membuka mulut hendak berkata, namun ia tak yakin karna ia tak pernah bicara pada kedua orang harus jelaskan tapi tak ada nada yang ingin keluar dari tenggorokannya hingga Kristal kembarnya menangkap kemunculan komplotannya dan Luhan keluar dari ruangan Jinki dengan penampilan acak-acakan sambil seret menyeret satu sama lain
Oh tidak! Ia harap Key tidak bicara apapun pada Jinki apa yang di lihatnya tadi karna
"kalian sering melakukannya?" tidak! Tidak. Key menceritakannya dan itu bencana, pertanda kiamat baginya karna sekelompok orang yang menghormati dua orang dewasa di hadapan mereka itu berhenti di tempat guna mencermati tiap kata yang keluar dari mulut Jinki, mulai tertarik.
Jinki berjalan mendekati Sehun dan menepuk kedua bahu pemuda itu hingga membuatnya sedikit meringis. Padahal Jinki hanya menepuknya dengan pelan. Oh, jelas Sehun meringis karna telapak tangan sang ayah menyentuh tempat di mana Luhan menancapkan jari-jarinya tadi malam
"kau tidak perlu setegang itu, anaku. Appa mengerti kebutuhan kalian dan appa tidak melarang. Hhh… sepertinya kau memberi kenikmatan lebih pada Luhan hingga ia membuat bahumu sakit hanya dengan tepukan pelan dari appa." Jinki kembali menepuk bahu Sehun dan kali ini membuat pemuda itu memekik tertahan namun sang ayah malah tertawa
"kau memang anak appa." Jinki menepuk-nepuk lagi bahu Sehun. Sungguh Sehun ingin berteriak namun ia tak bisa melakukannya "kau tau, nak? Cara menilai kepuasan yang di berikan pasangan itu melalui jeritan dan cengkraman. Semakin kuat cengkraman dan jeritannya, semakin besar pula kenikmatan yang di berikan."
Sial! Sehun bahkan dapat melihat jelas kerutan dan persimpangan di dahi tiap orang yang berdiri di belakang Key sebelum berubah menjadi seringaian menjengkelkan.
.
.
.
Di ruang makan itu tampak tenang dengan dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Tak ada satu orangpun di sana yang hendak bicara. Luhan mengunyah makanan sambil menunduk. Terlalu malu dan tak tau harus bersikap bagaimana di hadapan mertuanya. Sedangkaan Sehun? Ia lebih mengkhawatirkan harus bersikap bagaimana pada Luhan agar pemuda itu tetap bersikap biasa padanya.
Kedua orang dewasa di sana menatap dua orang pemuda di hadapn mereka sebelum saling melempar pandang satu sama lain lalu berdehem. Hal itu mereka lakukan guna menarik perhatian anak dan menantu mereka, tapi tidak ada respon sama sekali.
"hhh.. ekhem! Kali ini kami pulang bukan karna pekerjaan yang ada di korea." Entah kenapa semua yang ada di sana menjadi canggung. Bahkan kepala keluarga yang harusnya bisa memecah suasana itu tak tau harus berkata apa hingga hanya kalimat itu yang terpikirkan oleh Jinki, karna bagaimanapun Luhan dan Sehun pasti tak akan menanyakan kepulangan mereka karna mereka selalu tau kepulangan mereka pasti menyangkut pekerjaan.
"ada sesuatu yang ingin appa bicarakan dengan kalian." Dua pemuda yang di ajak bicara masih tak merespon apapun. Terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing, tapi mereka tetap memfokuskan telinga mereka menangkap suara Jinki
"eum… yeobo, lebih baik kau saja yang jelaskan." Entah hal apa yang akan jinki sampaikan hingga meminta Key untuk melanjutkannya. Key yang di arahkan atas ucapan itu menatap sang suami dengan tatapan 'kenapa harus aku?' yang dib alas Jinki dengan anggukkan guna meyakinkan sang istri
Key menghela napas mengalah "baiklah. Eomma tidak tau apa kalian akan setuju dengan rencana kami ini atau tidak. Tapi.." Key menatap Jinki sebelum beralih menatap kedua pemuda di hadapannya "Tapi, bagaimanapun keturunan Oh harus tetap memiliki penerus.."
Ucapan Key barusan mengalihkan perhatian Luhan dan Sehun. kini keduanya menatap Key dan Jinki dengan kerutan di dahi meminta penjelasan lebih
"eomma dan appa belum membahas ini dengan kedua orang tua Luhan. Kami memilih membahasanya lebih dulu dengan kalian. Tapi, sebenarnya ini hanya bertujuan untuk memberitau kalian karna bagaimanapun, kalian harus melakukan apa yang akan kami katakana ini."
Terlalu berbelit-belit menurut Luhan dan Sehun kedua orang dewasa di hadapan mereka ini.
"Sehun." Sehun beralih menatap Jinki "bagaimanapun pendapat Luhan. Semua ini akan tetap menjadi keputusanmu. Semua ini akan tetap kau yang menjalaninya." Ingin sekali Luhan berdiri dan meminta kedua orang dewasa di hadapan mereka itu langsung bicara pada intinya. Tak tau kah mereka kalau jantung Luhan dari tadi berdebar menunggu apa yang di maksud mereka hingga begitu serius membahasnya?
"Luhan.." Luhan mengangguk, mengangkat kedua alisnya dengan pandangan mata tak lepas dari jinki "kau tau bahwa kau seorang namja bukan?" alis Luhan yang terangkat kini berkerut "dan tentunya seorang namja tak bisa memberi keturunan."
Pikiran Luhan dan Sehun kini bercabang. Berusaha memecah dan menentukan kemungkinan yang ada di kepala mereka mendengar penuturan Jinki. Lagi pula… kenapa harus membahas soal keturunan? Terlalu cepat menurut mereka yang bahkan masih duduk di bangku High School. Lagi pula selama ini mereka tak pernah memikirkan soal itu
"maka dari itu kami memutuskan, jika kalian lulus nanti. Sehun harus menikah lagi dengan seorang yeoja yang bisa memberi keturunan."
Terkejut?
Yah, tentu saja Luhan dan Sehun terkejut mendengar penuturan Jinki walau pria paruh baya itu mengucapkannya dengan berat hati. Entahlah, Luhan merasa ia tidak rela dengan keputusan mertuanya itu, padahal harusnya ia senang karna ia tak perlu terperangkap dalam hubungan ini.
Kalau Sehun menikahi seorang gadis dan memiliki anak. Bukankah Sehun akan lebih menyayangi gadis itu dan melupakannya? Lalu ia akan focus dan kembali ke jalan yang benar bersama Hara karna bagaimanapun, ia masih memiliki simpati akan gadis itu. Tapi rasanya semua itu tak berguna, semua pemikiran itu sia-sia jika ada perasaan tak rela terselip di hatinya. Bahkan, Luhan tak tau kenapa ia berharap Sehun akan menolak ucapan mertuanya itu. Tapi, mengingat tabiat Sehun yang selalu menuruti ucapan orng tuanya. Mungkin Luhan harus membuang jauh-jauh perasaan tak relanya itu
Luhan beralih menatap Sehun yang juga terkejut dengan tatapan tak percaya menatap kedua orang tuanya. Rahangnya mengeras, sungguh ingin ia berteriak, mengucapkan kata 'tidak' dengan lantang. Tapi, buakankah Key dan Jinki berkata bahwa ia 'harus'? Lalu? Apa yang bisa ia lakukan? Apa yang bisa ia lakukan untuk menyingkirkan dan mencegah orang ketiga itu datang dan masuk dalam kehidupan rumah tangga mereka? Ia tak ingin menikah, ia tak ingin menduakan Luhan. Ia Terlalu mencintai, ia sudah terperangkap dan hanya bisa melihat seorang Luhan. Ia tak mau orang lain dan menyakiti Luhan. Walau ia ragu kalau Luhan akan tersakiti jika ia mengiyakan rencana orang tuanya.
"gadis itu sudah appa beritau kalau kau sudah menikah dan ia tidak masalah." Jinki meminum kopinya yang baru saja di tuang oleh Key, mengacuhkan Sehun dan Luhan yang makin tercengang. "ia satu tahun lebih muda darimu—Sehun—dan tentunya ia masih duduk di bangku high school seperti kalian. Hanya saja, ia tak bersekolah di sekolah yang sama dengan kalian." Jinki kembali menyeruput kopinya
"gadis itu bersekolah di Seoul Art High School." Luhan membulatkan mata. Itu adalah sekolah, Hara. Tidak! Ia tidak akan percaya kebetulan, Hara yang akan menjadi orang ketiga untuk kesekian kalinya
"si-siapa namanya?" Luhan coba menenangkan perasaannya yang berdebar menunggu jawaban Jinki
"dia gadis manis berlesung pipi. Namanya Kim Nam Joo anak dari pengusaha Kim Jonghyun."
Nam Joo? Entah kenapa Luhan merasa familiar dengan nama itu. Tapi ia bersyukur karna kebetulan yang ada di otaknya tak terjadi. Hhh… Luhan tak bisa bayangkan kalau yang di maksud mertuanya adalah Hara, ia tak bisa bayangkan lagi kalau Hara tau ia dan Sehun—
BRAAKK….
Luhan yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri, terperanjat kaget dan refleks menoleh ke samping. Tepat di mana Sehun yang tiba-tiba berdiri dan menggabrak meja makan. Hal itu mengakibatkan beberapa sajian tumpah di atas meja makan. Bahkan, Jinki yang tengah meminum kembali kopinya sampai tersedak
"Oh Sehun! Apa yang kau lakukan?!" Pekik Key menepuk-nepuk punggung Jinki. Wanita paruh baya itu tak melihat sama sekali bagaimana mengerikannya ekspresi wajah Sehun saat ini. Luhan saja yang melihatnya sudah merinding
Sehun mengepalkan kedua tangannya, mulutnya tertutup rapat, rahangnya mengeras dan napasnya menggebu. Tidak! Ia tak mau di atur lagi. Ia tak mau di atur seperti ini. Bukankah ia sudah menikah? Dan itu artinya ia lepas dari kedua orang tuanya. Lalu, kenapa mereka seakan akan masih menggenggam jalan hidupnya?
Sehun beralih menatap Luhan yang langsung menelan liur paksa menyadari tatapan tajam Sehun beralih kepadanya. Tanpa mengatakan apa-apa, Sehun langsung menarik Luhan meninggalkan meja makan tak mendengar rintihan Luhan yang kesusahan berjalan. Efek dari kegiatan mereka semalam. Bahkan ia tak perduli dengan teriakan Key karna sebelum pergi, ia sempat menendang kursinya dan Luhan hingga jatuh ke lantai.
Tidak! Apapun yang terjadi. Ia hanya ingin bersama tak perduli soal keturunan, ia tak perduli jika Luhan tak bisa memberinya keturunan. Ia hanya ingin Luhan, ia tak mau yang lain. Tak ada yang boleh memasuki kehidupan mereka. Tak seorangpun!
.
.
.
Bruukk….
Greb..
"Se-Sehun?"
Sehun langsung mendudukkan Luhan di sofa setelah mereka sampai di rumah mereka,. Sementara dirinya duduk di lantai beralaskan karpet dan memeluk kaki Luhan sambil menyembunyikan wajahnya di paha Luhan. Luhan sendiri yang melihat Sehun hanya kebingungan. Tapi, ia coba menenangkan Sehun dengan mengelus helaian rambut pemuda itu
"Sehun? Gwenchana?" Luhan menundukkan kepala, coba mengintip wajah Sehun yang ia sembunyikan di pahanya. Namun hanya mendapati pemuda berkulit putih bersih itu menggeleng yang artinya ia tak baik-baik saja. Luhan mengeri, ia tau karna sebenarnya ia juga dalam keadaan yang sama dengan Sehun
"jadi, apa yang bisa ku lakukan supaya kau merasa lebih baik?" walau hatinya tertekan dan sakit mendengar tiap tutur kata yang keluar dari bibir kedua mertuanya tadi. Ia tetap harus kuat, bagaimanapun di antara mereka ada yang harus menyemangati. Bagaimana jadinya kalau mereka sama-sama terpuruk dan sama-sama ingin disemangati? Siapa yang akan menyemangati?.
Sehun tidak menjawab. Ia malah melepas pelukannya di kaki Luhan dan berpindah memeluk erat pinggang kurus pemuda itu sambil menyandarkan pipinya di perut Luhan dengan mata terpejam. Luhan sendiri hanya membentuk mulutnya seperti huruf 'o', mengangguk dan menepuk-nepuk pelan punggung Sehun dengan ekspresi bodohnya.
Luhan masih dengan aktivitasnya meski dalam hati ia terus bertanya pendapat Sehun tentang rencana kedua orang tuanya. Ia masih bertanya, apa Sehun setuju atau tidak karna sekali lagi, Sehun tak pernah membangkang ucapan orang tuanya. Sehun tak pernah menolak permintaan orang tuanya.
"Sehun? Kau tidak tidur kan?" mendapat gumaman dari Sehun, Luhan hanya mengangguk. Ia harus menanyakannya, ia tak mau di hantui resah akan pemikirannya sendiri
"Sehun?" Luhan kembali mendengar gumaman "a-apa kau se-setuju dengan orang tuamu?" Sehun mengangkat wajahnya, mendonggak guna menatap Luhan "Ka-kau.. kau… akan menikah dengan gadis itu?" Luhan membuang muka, ia tak mau menatap wajah Sehun yang entah kenapa membuatnya ingin menangis. Oh, Luhan! Sejak kapan kau menjadi cengeng?
Sehun tersenyum dan meraih wajah Luhan dengan tangan kanannya. "Kenapa? Kau ingin aku menikahinya?" Sehun tersenyum dalam hati melihat mata Luhan yang memelototinya. Sebenarnya walaupun Luhan menyuruhnya menikah dengan gadis itu, ia tetap tidak akan mau. Ia hanya menggoda Luhan dengan pertanyaan itu. Ia ingin tau pendapat dan jawaban Luhan.
Luhan sendiri gelagapan. Ia tak tau harus menjawab apa. Kalau 'iya'… bagaimana dengan perasaan tak rela dan hatinya yang seakan di tusuk-tusuk belatih kala menyadari dirinya yang di duakan Sehun? Tapi, kalau 'tidak'…. Kenapa harus tidak? Alasan 'aku tak mau di duakan' itu tidak cukup karna masih ada pertanyaan 'kenapa' setelahnya. Lagi pula, itu terkesan seperti seorang gadis. Dan kenapa harus bimbang harus menjawab apa ?
"h-hei! Bukankah aku bertanya padamu? Kenapa kau balik bertanya?"
Tak menemukan jawaban, akhirnya Luhan teringat kalau ia tadi bertanya tapi malah dibalas pertanyaan pula oleh Sehun.
"kalau begitu jawab dulu. Kau mau aku menikah dengannya atau tidak?." Sehun bersi keras tak mau kalah
"hhh.. sudahlah!" tak mau berdebat lebih panjang akhirnya Luhan memilih mengakhirinya dengan kata itu dan keduanya diam tak tau harus bicara apa lagi selain menatap satu sama lain
Deg…. Deg…. Deg…..
Luhan langsung membuang muka terheran-heran dengan jantungnya yang berdetak tak karuan saat mata rusanya menatap mata Sehun cukup lama. Pipinya juga memanas. Sungguh respon tubuh yang aneh menurutnya.
Ia pernah merasakan degupan jantung seperti ini tapi, itu tak sekuat ini dan wajahnya tak memanas. Yah… itu saat ia bersama Hara. Hei? Apa ini? Kenapa ia merasakan hal seperti itu terhadap Sehun? Luhan yakin ia tak jatuh cinta. Tidak! Ia tak jatuh cinta pada Sehun. Tapi, kenapa jantungnya harus berdetak dengan cepat seperti yang ia rasakan saat menatap mata Hara? Bahkan, detaknya kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
Luhan berdehem sedikit melirik Sehun yang masih menatap wajahnya.
"ke-kenapa?" sial! Kenapa Luhan merasa gugup?
"apa kau marah padaku?" Luhan menoleh sepenuhnya pada Sehun dengan alis berkerut
"kenapa aku harus marah?" Sehun menunduk
"apa masih sakit?" Luhan mengerutkan alis makin tak mengerti
"sebenarnya apa yang kau bicarakan?"
"mianhae…." Luhan memiringkan kepala ke kiri "a-aku… aku tak bisa mengontrol diriku. Tapi…." Sehun mendonggak menatap Luhan yang sepertinya mulai mengerti arah pembicaraan mereka "kau yang memulainya…"
Yah… memang. Rasanya Luhan tak mau mengaku kalau ia yang memulai, tapi kenyataan berkata seperti itu. Ia ingat bagaimana dunia berputar, ia ingat bagaimana tubuhnya yang terasa panas dan menegang, ia ingat bagaimana dirinya yang begitu haus akan sentuhan, ia ingat bagaimana dirinya yang tak terkontrol dan menginginkan lebih dan lebih dari Sehun. Aigoo!
Luhan mendongak, matanya berkeliaran ke mana-mana seperti orang bodoh. Kyaaa! Memalukan!
Ia ingin marah atau sekedar apalah yang bisa membuat Sehun tertuduh atas kegiatan semalam. Tapi, sekali lagi, ia yang memulai. Ia yang meminta dan Sehun hanya mengabulkannya. Tapi…
"tapi,,, sudahlah! Jangan mabuk lagi!" entah kenapa Luhan merasa ragu untuk mengeluarkan pendapatnya yang ingin berkata kalau Sehun saja yang memang mencari kesempatan. Ow! Tentu saja ragu, kalimat itu terlalu menjijikan untuk di ucapkan seorang pria kepada seorang pria.
"harusnya aku yang berkata seperti itu. Aku mabuk, tapi aku masih bisa mengontrol diriku. Yeah,,,, kecuali seseorang menggodaku."rasanya Luhan ingin sekali meremukan wajah Sehun saat ini juga "seperti ini. Ahh~ Sehun…. touch mehh… please~ ughh… I very wishing of u Sehunahh—"
"YAK! OH SEHUN!"
Luhan berdiri mengejar Sehun sambil terseok-seok. Sial! Oh Sehun sialan! Tak taukah bagaimana murkanya Luhan saat pemuda itu memeperagakan nada bicara dan ekspresi wajah Luhan saat mengucapkan kalimat itu tadi malam? Argghh… memalukan sekali! Luhan! Harga dirimu sebagai pria benar-benar jatuh di hadapan, Oh Sehun.
"ahh~ akh~ faster Sehunahh~.. lebihhh.. ahh.. dalamnhh…ooh…"
"DIAM! KU BUNUH KAU, OH SEHUN! DIAM!"
Luhan tak tau bagaimana Sehun bisa mengingat setiap rintihannya, bahkan cara pengucapannya. Padahal mereka dalam keadaan setengah mabuk. Dan itu benar-benar membuat Luhan murka. Awas saja kalau ia berhasil menangkap Sehun yang berusaha menghindarinya itu sambil tertawa terbahak-bahak. Ia akan langsung meremukan pita suara pemuda itu agar tak bicara hal-hal yang membuatnya tertindas.
.
.
.
Hhh…hhh…hhh…..
Sehun dan Luhan terengah setelah permainan kejar-kejaran mereka selama 2 jam. Namun tetap saja, seekor rusa tak akan bisa mengalahkan seekor srigala. Akhirnya si rusa memilih mengalah dan terbaring di atas karpet dengan peluh membasahi tubuhnya. Sedangkan si srigala membungkuk, mememegang lutut dengan napas teregah dan terbatuk.
"hei! Bukankah sebaiknya kau mandi? Bahkan kau masih berbau sex saat sarapan bersama eomma dan appa tadi."
Luhan duduk hendak berteriak dan mencaci lagi namun, ia melihat Sehun yang sudah menghilang di lantai 2, iapun mengurungkan niatnya dan memilih mengikuti perkataan Sehun kalau ia memang harus mandi.
.
.
.
Cklek…
Luhan menoleh saat pintu kamar mandi terbuka dan menampakan Sehun dengan lilitan handuk di pinggangnya sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil berjalan kearah lemari. Luhan beranjak dari tempat tidur dan mengambil handuknya di dekat lemari hendak pergi ke kamar mandi, namun ia mengurungkan niatnya melihat sesuatu yang janggal di tubuh Sehun
"wae?" Sehun menghentikan aktifitasnya merasa di pandangi. Buaknnya menjawab, Luhan malah semakin mendekatkan dirinya pada sesuatu yang janggal itu tepat di kedua bahu Sehun.
"ohh, nanti hilang juga dengan sendirinya." Seakan mengerti maksud Luhan. Sehun coba menimpali, tapi sayangnya bukan itu yang di maksud Luhan.
"dari mana kau dapat bekas itu? Kenapa bisa separah itu?" Luhan menatap Sehun yang menampakan ekspresi datar andalannya, tak berniat menjawab pertanyaan Luhan.
Karna Sehun diam saja, Luhan memilih memutar badan Sehun dan melihat bekas itu lebih rinci sebelum ia sadar akan sesuatu. Luhan mengangkat tangannya, menyamakan jarinya dengan bekas di bahu Sehun dan tergagap tiba-tiba.
"a-aku mandi dulu…" Luhan langsung berjalan cepat ke kamar mandi
Apa sekuat itu ia mencengkram bahu Sehun? Cukup mengerikan juga
'Semakin kuat cengkraman dan jeritannya, semakin besar pula kenikmatan yang di berikan'
Sial! Kenapa Luhan jadi ingat perkataan Jinki yang tak sengaja di dengarnya tadi pagi saat bicara dengan Sehun?
.
.
.
Nal annaehaejwo…
Yeah, geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeogajiwo
Oh, sasaengui kkeuchirado dwittaragal teni
Budi nae siyaeseo beoseonaji marajwo, achimi wado sarajiji marajwo oh
Kkumeul kkuneun georeum geudaen namanui areumdaun nabi
(EXO-K ~ Don't Go)
Di hari yang lain, Luhan duduk di perpustakaan menghadap lapangan baseboll sambil mendengarkan music dari i-phone menggunakan headset yang terpasang di kedua telinganya. Mata pemuda itu terpejam menikmati setiap lantunan music menenangkan lagu itu. Sungguh ia menyukainya…
Luhan membuka mata saat salah satu headsetnya di lepas seseorang yang baru saja duduk di sampingnya. Melihat si pelaku, Luhan hanya memutar bola mata malas dan mengacuhkan Kai.
"hei? Lagu siapa ini?" Kai terdiam, kepalanya bergoyang ke kiri dan kanan perlahan dengan mata tertutup. Luhan yang mendengar pertanyaan Kai menatap pemuda itu
"kau suka ?" Kai membuka mata dan menatap Luhan
"yeah.. sangat menenangkan. Aku baru mendengarnya, siapa penyanyinya?" ujar Kai antusias mulai tertarik
"yeah.. sangat menenangkan. EXO, kau tidak mungkin tak kenal mereka 'kan?" Kai bergumam sambil mengangguk sebelum kembali menghayati tiap lirik dan lantunan music lagu itu. Sepertinya Kai akan menyukai lagu itu.
"hei! Lihat ini.." Luhan menoleh kearah Kai
~Nal annaehaejwo…
Kai meluruskan tangan kanannya dari kanan lalu ke depan sebelum menyentuh dada dan sedikit mengangkat dadanya ke atas lalu meliukkannya ke bawah satu kali.
~ Yeah, geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeogajiwo
Kai meluruskan kedua tangannya sejajar dengan paha dari samping, mengepalkan kedua tangan dan mengangkat kepalan itu sejajar dengan wajahnya, sedangkan kedua kakinya tertutup rapat, berjinjit dan kembali terbuka saat kedua tangannya turun kebawah. Tangan kirinya diam dan tangan kanannya bergerak ke kanan dengan lembut membuat lingkaran yang diikuti kaki kanannya dan kepalanya. Lalu menunjuk Luhan dengan telunjuk kanannya itu.
~ Oh, sasaengui kkeuchirado dwittaragal teni
Tangan kanannya yang menunjuk Luhan tertarik dan membentuk lingkaran di kepala sebelum bertemu dengan tangan kirinya yang sudah terangkat lalu membentuk lipatan dengan kedua telapak tangannya ke atas lalu menurunkan tangan kirinya dan meluruskan tangan kanannya ke depan sebelum memutar telapak kananya itu dan menariknya kembali
~ Budi nae siyaeseo beoseonaji marajwo, achimi wado sarajiji marajwo oh
Telapak tangan kanannya yang tertarik melintas di depan matanya dengan lembut, mata dan kepalanya bergerak seakan mengikuti tangan kanannya itu yang berhenti tepat di depan Luhan, lalu meluruskan tangan kanan itu keatas dengan telunjuk yang mengacung sebelum menjatuhkan tangan kanannya itu ke bawah di ikuti tubuhnya yang membungkuk, lalu menarik tangan kanannya itu ke kiri masih dengan telunjuk mengacung yang diikuti gerakan lutut kanannya yang di tekuk memutar ke kiri
~ Kkumeul kkuneun georeum geudaen namanui areumdaun nabi
Kai meluruskan tubuhnya dengan kedua kaki di tekuk rapat sebelum tangan kanan dan kirinya secara bergantian terangkat seperti mengoleskan hairjell ke belakang telinganya di ikuti kepalanya yang melihat telapak kirinya jika tepalak itu seakan mengoleskan jell di telinga kirinya dan begitu pula dengan telinga dan tangan kananya. Tak lupa pula kakinya yang seakan sedang berjalan dengan langkah riang, padahal ia sedang duduk. Lalu kedua telapak tangannya ia letakkan di depan dada dan tubuhnya memutar membelakangi Luhan sebelum berbalik dengan kepala menunduk lalu tiba-tiba mengangkatnya sambil tersenyum dengan kedua telapak tangan yang ia bentuk seperti seekor kupu-kupu di depan dada bergerak mengarah pada Luhan.
Jujur, Luhan tercengang dan iri dengan bakat yang Kai miliki itu. Ia tak tau harus berkata apa. Tapi ia juga kesal karna Kai selalu menunjuk dan mengarahkan tiap lirik yang di arahkan untuk seseorang dalam lagu itu padanya.
"yeah.. kau pamer." Luhan mencibir dan Kai hanya tersenyum mendengar itu
"mengaku saja kalau kau iri, hahaha…" Luhan melirik sinis Kai dan merebut headsetnya yang terpasang di telinga kanan Kai. Pemuda berkulit tan itu protes karna ia masih ingin mendengarkan lagu itu. Mereka terus berebut sampai-sampai tak menyadari kehadiran seseorang di belakang mereka.
"ekhem!" Kai dan Luhan menghentikan aksi rampas merampas mereka dan menoleh ke sumber deheman—Sehun.
Kai yang melihat Sehun hanya bergumam 'oh' dan kembali membelakangi Sehun.
"eh? Sejak kapan kau di situ?" Luhan masih mendonggak menatap Sehun
Bukannya menjawab, Sehun malah melirik Kai sekilas dan membawa Luhan meninggalkan perpustakaan. Kai menumpukan sikunya di atas lutut dan menghela napas panjang
"ck! Aku jadi lupa tujuanku gara-gara lagu itu."
.
.
.
"Sehun. Sehun, aku bisa jalan sendiri Sehun…"
Seakan tak mendengar ucapan Luhan, Sehun terus berjalan sambil menarik tangan Luhan mengikutinya. Tak taukah ia kalau Luhan tak nyaman di tatapi setiap orang yang mereka lewati?
Luhan berusaha melepas cengkraman Sehun dari lengannya, tapi pemuda itu malah semakin mengeratkan cengkramannya membuat Luhan mendesah pasrah dan berjalan menunduk. Membiarkan Sehun membawanya kemanapun pemuda itu pergi hingga mereka sampai di tempat parkir sekolah. Luhan sudah membuka mulut hendak protes saat Sehun dengan paksa mendorongnya masuk ke dalam mobil. Belum lagi, beberapa siswa yang berada di tempat parkir melihat kejadian itu mulai tertarik mencari tau
"he-hei—"
"aku ingin kau membayar hutangmu hari ini juga." Luhan mengeryit menatap Sehun yang sudah menghidupkan mobilnya. Sehun berucap seolah-olah dia adalah seorang rentenir yang ingin menagih hutang.
"aku tak merasa memiliki hutang padamu." Sehun menjalankan mobilnya meninggalkan halaman parkir dan tak berniat menjawab pertkataan Luhan.
"ck! Berhenti melakukannya." Luhan menatap jengkel Sehun. Pemuda itu mengacuhkannya dan ia tak suka.
"apa secepat itu kau melupakan kesepakatan?" Luhan mengeryit lagi "tak ada penolakan! Tentu kau ingat itu bukan saat—kau yakin ingin mendengarnya?"
Luhan yang masih mengeryit langsung menerawang sebelum menggeleng dan menatap lurus ke depan. Ia ingat, ia ingat kesepakannya dan ia ingat permintaan Sehun. Tapi…
"tapi, apa harus sekarang?"
"bahkan, seharusnya kita lakukan sepulang tour."
Luhan memilih memperhatikan setiap bangunan kota seoul yang mereka lewati. Percuma berdebat dengan Sehun. :Pemuda itu selalu memojokkannya
.
.
.
Tok-Tok-Tok…
"Lu? Kau sudah selesai?"
Sehun mengeryit tak mendapat jawaban dari Luhan. Namun, beberpa detik kemudian pintu kamar pas itu terbuka. Sehun hanya diam menatap Luhan dari ujung ke ujung. Sedang yang di tatapi sudah memasang tampang jengkel sejak pintu terbuka
"apa harus aku mengenakan ini?" Luhan menarik-narik kostum yang di kenakannya "ini panas!" Luhan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah
"bukankah sudah ku bilang? Tidak ada penolakan." Sehun yang sudah kembali dari ketertegunannya menarik tangan Luhan menuju kasir dan segera membayar pakaian yang di gunakan mereka.
Keduanya keluar dari toko pakaian yang terletak di daerah Myeongdong itu. Sehun berjalan dengan ekspresi datar andalannya dan Luhan dengan ekspresi jengkel. Yah… bagaimana tidak? Lihatlah penampilannya. Ia tak tau apa yang di pikirkan Sehun menyuruhnya memakai hoodie seperti kucing dengan warna pink lengkap dengan celana dan sepatunya yang mirip dengan kaki kucing. Hhh… Luhan harus menahan diri agar tak meneriaki atau mendorong Sehun ke tenda-tenda jajanan kecil di sana karna setiap orang yang mereka lewati selalu menatapnya. Membuat Luhan makin merasa aneh.
Luhan berhenti saat Sehun berhenti tepat di sebuah stand yang menjual assesoris dan make up. Luhan melihat sekitarnya dengan canggung. Walaupun ia merasa aneh sebagai pria memakai kostum seperti itu, tidak! Maksudku kostumnya mungkin tak masalah, tapi warnanya itu benar-benar memuakan. Luhan merasa benar-benar aneh. Tapi, apa perlu ia menjadi pusat perhatian? Bukankah berkostum seperti itu sudah biasa? Bahkan banyak yang menggunakan kostum seperti itu sebgai pakaian sehari-hari. Lalu? Kenapa dengan orang-orang itu?
Luhan masih bergelamut dengan pikirannya sebelum Sehun meraih wajahnya dan mengoleskan sesuatu di pipi dan hidungnya. Luhan menggeleng hendak menyentuh hidungnya namun Sehun langsung menggenggam tangannya dan menatap Luhan dengan pandangan 'jangan' membuat Luhan mendengus tapi malah membuat Sehun tersenyum kecil. Setelahnya pemuda itu memasukan sesuatu ke saku jaketnya sebelum menyentuh kedua pundak Luhan, membuat pemuda itu berdiri tegak di hadapannya.
"hari ini, kau menjadi peliharaanku di kencan kita." Luhan membuka mulut dan matanya lebar-lebar hendak protes namun, Sehun lebih dulu menariknya pergi dari sana
.
.
.
"wow!.. wow! Mati kau! Mati kau!...yak! yak! Aishhh!…" Luhan mendesah, memukul dan menendang permainan yang baru saja ia mainkan. Ia kesal, tadi itu hamper saja ia menang dan mengalahkan pemuda yang tengah meneguk air di hadapannya itu—Sehun. Tapi, nyatanya pemuda itu malah memberi serangan dadakan dan membuat semua pasukan Luhan kalah dalam sekejap mata.
Sehun menyisakan setengah botol minumannya dan mengarahkan botol itu pada Luhan sambil membentuk gerakan mulut 'mau minum?' yang dibalas Luhan dengan raut wajah jijik. Sehun mengedikan bahu dan menarik lagi botolnya
"padahal kau pernah merasakan langsung air liurku." Luhan melotot. Bukan apa, tapi, Sehun mengucapkan itu cukup keras hingga membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh dengan raut wajah berbeda-beda.
Luhan menggaruk kepalanya yang tertutup topi hoodi sebelum menarik Sehun pergi dari tempat itu, karna dirinya sangat malu di tatap layaknya orang yang tengah melakukan hal tak pantas di depan umum
.
.
.
"aku tau kenapa kau jarang bicara dan memilih-milih pendengar suaramu." Sehun menatap Luhan yang duduk di sampingnya tak mengerti "mulutmu tak bisa di control." Luhan menunjuk wajah Sehun
"hei, bukan salahku karna raut wajahmu juga tak bisa di control." Luhan membuka mulut hendak membalas ucapan Sehun. Namun sekali lagi, berdebat dengan Sehun seperti menyuruh Obama berpidato tanpa menggunakan teks di hadapanmu.
Luhanpun hanya berpaling dan mengacak rambutnya sambil berteriak kesal, membuat beberapa orang yang lewat di pinggir jalan menatap heran mereka. Eh? Bukankah dari tadi mereka memang selalu di tatapi? Selalu menjadi pusat perhatian karna Luhan? Yeah! Tapi ini berbeda, mereka menatap Luhan dan Sehun dengan raut wajah tak mengerti
"sudahlah!" Luhan menghela napas panjang "sebenarnya kalau hanya ingin mengajak jalan-jalan, tak perlu menyebutnya kencan." Luhan membungkuk mengambil batu kecil yang ada di kakinya dan menulis asal di atas trotoar dengan batu itu. Sehun tak mengerti
Luhan menegakkan tubuhnya membuang batu itu asal sebelum beralih menatap Sehun yang memasang wajah poker facenya "kau tidak pernah berkencan?" Sehun tergalak, berdehem dan menghindari tatapan Luhan
"memangnya kenapa?" Luhan mendecih dan tertawa mengejek.
"hhh.. sudahlah! Aku lapar." Luhan mengusap-usap perutnya sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Sehun yang melihat itu langsung berdiri mengusap-usap debu di celananya sebelum menatap Luhan
"kajja! Kita cari makan." Luhan tersenyum dan berdiri mengikuti Sehun yang sudah berjalan di depannya tapi tiba-tiba pemuda itu berhenti dan berbalik. Luhan yang heran ikut berhenti menatap bingung Sehun.
Sehun mendekati Luhan dan menarik topi hoodie Luhan. Memakaikan kembali topi yang sempat di lepas Luhan itu di kepala Luhan, membuat Luhan menatap malas kearah Sehun namun hanya dibalas senyum riang oleh Sehun.
.
.
.
Luhan makan sambil menunduk ,sesekali melirik sekitar dengan ekor matanya. Apa penampilannya seaneh itu sampai-sampai mata semua orang tak lepas darinya?
Luhan mendonggak sedikit menatap Sehun yang makan dengan tenang di hadapannya "Sehun." lirihnya tak terdengar oleh si pemilik nama "Sehun!" ulangnya sedikit keras membuat si pemuda menoleh dengan tatapan bertanya
"temani aku ke toilet." Sedikit ragu Luhan mengucapkannya. Sebenarnya bisa saja ia pergi sendiri, tapi ia terlalu kaku karna terus di tatapi tiap penghuni café tempat mereka berada. Luhan tak bisa bayangkan bagaimana dia yang berdiri sendiri, berjalan sendiri di ikuti tatapan yang sulit ia artikan dari setiap orang di sana. Sungguh tak nyaman
"kenapa harus di temani?" bingung Sehun
"kau tidak mau?"
Sehun meletakan pisau dan garpunya di atas meja sebelum berdiri di ikuti Luhan yang berjalan di belakang Sehun. Hei? Sebenarnya siapa yang mau ke toilet?
Sehun membuka pintu toilet, semua orang yang tengah sibuk dengan aktifitasnya hanya menoleh sekilas namun mereka kembali menoleh saat Luhan ikut memasuki toilet. Dan entah kenapa kedatangan Luhan membuat semua yang ada di sana menjadi panic. Ada yang buru-buru menaikan, mengancing celananya, ada yang masuk ke salah satu bilik guna melanjutkan aktifitas yang tertunda, ada yang buru-buru keluar atau keluar sebentar guna mengecek sesuatu lalu masuk lagi dan menatap Luhan dengan bingung. Luhan sendiri hanya menggaruk kepalanya yang tertutup topi hoodie, heran dengan tingkah semua orang hari ini.
"kenapa?" Tanya Sehun karna Luhan diam saja tak segera melakukan apa yang ingin ia lakukan di toilet. Bukannya menjawab, Luhan malah mendekati Sehun dan menarik-narik jaket pemuda itu untuk mengikutinya. Luhan berjalan ke salah satu bilik di ikuti Sehun namun, saat hendak memasuki bilik, salah seorang di sana mengintrupsi mereka.
" chogiyo.." Luhan dan Sehun menoleh "err… tadi saya keluar untuk memeriksa gambar di depan pintu." Luhan mengeryit "eum.. " orang itu menatap Sehun "maaf tuan. Sebaiknya anda antarkan pacar anda ke tolet sebelah. err….. kami sedikit tidak nyaman dengan.." orang itu kembali menatap Luhan yang makin bingung. Orang itu hanya menggaruk kepala, sedangkan Sehun tetap diam dengan tampang poker facenya
"maaf, tuan. Saya kurang mengerti maksud anda" karna semakin bingung. Luhan memilih bertanya
"mian aggashi. Toilet wanita ada di sebelah, atau anda ingin menemani kekasih anda? Mungkin sebaiknya anda tunggu di luar saja." orang itu berbicara melirik-lirik Sehun meminta persetujuan atau dukungan. Namun pemuda itu tetap diam dengan tampang poker face andalannya, padahal dalam hati ia sudah tertawa terbahak-bahak mendengar kata perkata orang itu unutuk Luhan.
Luhan yang mendengar itu melotot. Ia lalu mendengus dan berjalan ke salah satu closset yang ada di dekat pintu dan menurunkan resleting celananya membuang air kecil. Kini giliran orang-orang di sana yang melotot kaget memandang Luhan. Semua terdiam dan hanya bisa mengikuti gerak-gerik Luhan dengan mata mereka.
Setelah mengancing celana. Luhan berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan dan tercengang melihat pantulan dirinya di cermin wastafel yang terlihat sangat menggemaskan. Ugh! Luhan! Apa yang kau pikirkan? Menggemaskan? Itu menjijikan! Pantas saja semua orang bersikap aneh hari ini.
Ia lalu melempar tatapan membunuh kearah Sehun yang bersandar di dinding salah satu bilik, sibuk dengan smartphonenya. Luhan kembali menatap pantulan dirinya, memutar keran hendak menghapus coretan seperti kumis kucing di kedua pipinya dan titik hitam besar di ujung hidungnya, namun kegiatannya terintrupsi mendengar deheman seseorang yang ia yakin adalah Sehun. ia tak perduli dan kembali hendak menghapus coretan itu namun seseorang menahan tangannya. Luhan menoleh dan mendapati Sehun di sana.
Sehun mendekatkan bibirnya di telinga Luhan dan berbisik
"pilih mana? Aku membuat pengunguman kalau kau adalah istriku, atau kita kembali ke toko pakaian tadi dan mengganti kostummu dengan gaun putri salju?" Luhan mendengus, ia lalu menepis kasar tangan Sehun yang masih menggenggam tangannya tadi
"kau menang!" ucapnya sebelum berlalu meninggalkan toilet yang langsung di susul oleh Sehun. Sementara keadaan orang-orang tadi yang seakan di pause kembali berlanjut. Ada yang menggeleng dan langsung sahut menyahut menceritakan pendapat mereka soal Luhan
.
.
.
"wae?" Tanya Sehun yang sedang menyetir ketika Luhan terus memandangnya "terpesona denganku?" Luhan langsung mendecih dan memalingkan wajahnya
"tak akan ada yang terpesona pada namja sepertimu kalau semua orang tau sifat di balik keflattanmu itu." Luhan memandang Sehun sekilas
"jadi aku harus bersikap datar agar kau terpesona padaku?" Sehun masih focus menyetir tak perduli dengan Luhan yang mencibir
"sampai kapanpun aku tak akan terpesona padamu, phabo! Aku masih normal!" Luhan mengepalkan kedua tangannya saat menyebut aku masih normal. Sehun di sebelahnya mendecih dan tersenyum meremehkan
"tapi, denganku kau tidak akan menjadi normal."
"lupakan!" Luhan membuang muka menatap pemandangan kota seoul. Beberapa saat mereka berdua bergelamut dengan keheningan hingga sesuatu yang mengganggu pikiran Sehun membuat pemuda itu angkat bicara
"kenapa kau tidak langsung pulang?" Luhan menatap tak mengerti Sehun "apa karna ada Kai?" Luhan menghembuskan napas. Kenapa Sehun jadi membahas ini? Memangnya apa salahnya kalau ia tak segera pulang saat jam pulang sekolah dan memilih berdiam di perpustakaan?
"dia hanya kebetulan ada di sana."
Hening kembali
"lalu, apa maksudnya tarian itu?" Luhan kembali menatap bingung Sehun
"oh, dia hanya mengikuti irama lagu yang kami dengar. Tapi, aku akui dia melakukannya dengan baik. Dia bahkan baru mendengar lagunya, tapi dia bisa langsung mengekspresikan lewat gerakan. Hebatkan?" Luhan tak mengerti dirinya yang entah kenapa tiba-tiba membanggakan Kai di hadapan Sehun
"cih! Tarian bodoh seperti itu kau bilang hebat?" lirih Sehun namun masih bisa di dengar oleh Luhan "aku bahkan bisa lakukan yang lebih baik dan benar darinya! Memangnya lagu apa itu?" ucap Sehun menggebu-gebu, seakan menantang Kai dalam competition tari yang tak pernah mereka adakan.
"Jinjja?" Luhan merasa Sehun sangat kekanakan
"geurom!"
.
.
.
Sesampainya di halaman rumah. Luhan dan Sehun di buat bingung dan bertanya-tanya melihat sebuah mobil yang tidak di kenal terparkir di depan teras rumah mereka. Keduanya keluar setelah memasukan mobil ke garasi dan makin di buat heran saat pintu rumah mereka tak terkunci
Mereka berdua masuk memeriksa beberapa ruangan takut-takut rumah mereka di masuki penjahat. Tak mendapat apapun, keduanya memilih memasuki kamar mereka dan tercekat melihat seseorang yang tengah memasukan pakaian-pakaian dalam koper besar yang ada di atas bed ke dalam lemari mereka.
Sadar akan kehadiran orang lain dalam ruangan. Orang yang tengah memasukan pakaiannya itu menoleh menatap Luhan dan Sehun secara bergantian sebelum menatap sebuah figura yang tertempel di dinding kamar lalu kembali monoleh pada Luhan dan Sehun sambil membungkuk.
"anyeonghaseyo~ Kim Nam Joo imnhida…. Key ahjuma menyuruhku tinggal di sini dengan kalian."
.
.
.
.
.
To Be Countinue..
.
Ell note :
karna demi menepati janji Ell yang bakal update hari ini. Ell keburu update padahal ini benar-benar gak matang. Semuanya ngasal, sebenarnya bakal baik-baik aja, bahkan lebih dari 9000+ world kalau semalam itu gak mati lampu. Argghh! Padahal Ell udah ketik sampe panjangnya kayak 2 chapt, Cuma gara-gara PLN sialan! Hhh…. Udahlah!
Oyah! Lagu EXO –Don't go itu benar-benar ngehipnotis. Sebelumnya Ell punya banyak ide buat chapt ini. tapi, entah kenapa pas dengar lagu itu semuanya hilang. Ell jadi lupa semuanya, bahkan tugas-tugas yang numpuk. Ell ngerasa kayak gak punya beban, lagunya menenangkan banget. Yang di bagian KAILU di perpustakaan itu, Ell pertama kali dengar lagunya. Benar-benar DAEBAK! Makin suka Ell sama EXO!
Dan sekali lagi, Ell ini emang namja. Kalau ngerasa aneh ada namja yang nulis FF yaoi. Yah… mungkin wajar karna jarang aja. Tapi, semakin lama, banyak juga kok namja yang nulis FF yaoi. Ell sebenarnya ragu, Cuma pas tau kalau ada namja yang nulis FF yaoi—Putra hyung—Ell jadi tertarik dan coba-coba. Dan sekarang malah nemuin makin banyak namja-namja yang nulis FF yaoi, tapi, nulis FF yaoi bukan berarti kita Yaoi juga.
Soal NC nya….. gimana yah? Ini fanfic dengan rating T jadi Ell gak berlebihan walau temannya rumah tangga. So… readers, kalau mau bermesum-mesum, silahkan kunjungi FF baru Ell 'Evil Prince' itu kalian bisa nyaksiin NC. Dan nyinggung 'evil prince' Ell putusin buat namatin dulu D.O.S baru post chapt 1 nya biar bisa focus ke FF itu karna Mature benar-benar butuh konsen.
Yaudah, sekian dulu…. ;) silahkan protes kalau mengecewakan
.
