DIFFICULT OF STRING
14
Sehun + Luhan
Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Shonen-ai
E
And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan
…
Preview…
Mereka berdua masuk memeriksa beberapa ruangan takut-takut rumah mereka di masuki penjahat. Tak mendapat apapun, keduanya memilih memasuki kamar mereka dan tercekat melihat seseorang yang tengah memasukan pakaian-pakaian dalam koper besar yang ada di atas bed ke dalam lemari mereka.
Sadar akan kehadiran orang lain dalam ruangan. Orang yang tengah memasukan pakaiannya itu menoleh menatap Luhan dan Sehun secara bergantian sebelum menatap sebuah figura yang tertempel di dinding kamar lalu kembali monoleh pada Luhan dan Sehun sambil membungkuk.
"anyeonghaseyo~ Kim Nam Joo imnhida…. Key ahjuma menyuruhku tinggal di sini dengan kalian."
.
.
.
….
Brukk…
BLAM!
"Sehun." yang di panggil tak merespon. Pemuda itu terus melanjutkan langkah panjangnya menuju dapur usai melempar koper dan mengunci pintu, membiarkan gadis yang baru saja memperkenalkan diri layaknya tau sopan santun di hadapan pasangan sesame jenis itu beberapa menit yang lalu.
Raut wajahnya terlihat benar-benar kesal. Yah,,, jelas saja, tak ada kesepakatan gadis itu tinggal dengan mereka. Bahkan, tak ada kesepakatan bahwa ia menyetujui rencana gila kesian orang tuanya. Lantas, kenapa gadis itu bisa berada di rumah mereka? Mengangku bahwa wanita yang suka mengatur itu hidup Sehun menyuruhnya tinggal. Tidur di mana? Jelas-jelas hanya ada satu kamar di istananya dan Luhan itu.
"Sehun.." Luhan masih mengekor dan menunggu Sehun yang tengah meneguk cola. Pemuda itu juga kaget, sejujurnya ia juga tak suka gadis yang ia akui berwajah manis itu harus tinggal dengan mereka. Tapi, tidak juga dengan cara pengusiran seperti yang di lakukan Sehun barusan. Bagaimanapun, Nam Joo adalah seorang gadis. Dan pria sejati tidak boleh memperlakukan seorang gadis seperti itu. Berbicara secara halus penuh perasaan akan lebih baik agar tak ada pihak yang di rugikan dan memancing emosi. Bukan mengeluarkan semua barang yang sudah Nam Joo tempatkan di lemari kosong, memasukan asal kedalam koper dan menyeret gadis itu keluar rumah lalu melempar kopernya jauh-jauh. Sehun seperti tak punya hati dan kekanakan.
"harusnya kau bisa bicara baik-baik." Suara lemparan kaleng bertubrukan dengan tempat sampah terdengar setelah ucapan Luhan. Pemuda yang di ajak bicara berjalan mengacuhkannya. Pemuda itu tau, Luhan coba memerankan sosok pria sejati "aku akan bukakan pintu dan bersikap baiklah."
Pijakan kaki Sehun di anak tangga terhenti, tubuhnya refleks berbalik hendak mencegah Luhan. Namun, sebelum itu terjadi, Luhan lebih dulu diam di tempat menatap dua orang wanita beda usia yang memasuki rumah mereka. Sehun ikut mengarahkan pandangannya ke tempat yang sama dengan Luhan sebelum membuang muka dan melanjutkan langkahnya ke lantai 2. Pengaduh! Pikir Sehun
"Sehun.." suara wanita paruh baya yang setidaknya Sehun masih menganggapnya orang tua ia abaikan dan terus berjalan. Luhan yang sadar situasi hanya berdehem sebentar sebelum berjalan menghampiri dua wanita itu—Key & Namjoo—
Luhan tersenyum berada di hadapan Nam Joo yang dibalas senyum lesung pipinya gadis itu. Luhan meraih koper gadis itu hendak membantu, tapi gadis itu menolak. Sementara Key? Wanita itu sudah menyusul Sehun sambil mengoceh.
"kenapa?" Luhan bingung menyadari tatapan mata gadis yang duduk di sebelahnya it uterus mengarah padanya. Mereka duduk di depan TV dan membiarkan Sehun di omeli Key. Nam Joo tak menjawab, lagi-lagi ia tunjukan senyum lesung pipinya itu sambil menggeleng membuat Luhan makin bingung namun ia akui, senyuman gadis itu sungguh sangat manis. Wajahnya sangat ayu tanpa polesan make up apapun. Tapi, sekali lagi, daya pikat gadis itu sangat berpusat pada lesung pipi dan eyes smilenya yang begitu manis ketika ia tersenyum. Membuat Luhan yang melihatnya seolah ingin ikut tersenyum. Ia yakin, senyuman itu tak kan lama bisa memikat Sehun dan menjerat pemuda itu dalam pesonanya. Entah kenapa Luhan merasa sangat khawatir akan hal itu
"sudah berapa lama kalian tinggal di sini?" Nam Joo coba memecah keheningan yang tercipta beberapa saat setelah Luhan bertanya. Matanya berkeliaran menelusuri tiap lingkup ruang yang bisa tertangkap indera penglihatannya dari tempatnya duduk. "entahlah, aku tidak terlalu ingat." Luhan mendapat anggukan dari gadis manis itu
"eumm… rumahnya hanya punya satu kamar?" Luhan mengangguk
"lalu, bagaimana kita berbagi?" Luhanpun juga tak tau
"kita pikirkan itu nanti setelah ibu dan anak itu selesai dengan urusan mereka."
"tapi, yang ku dengar. Sehun tak pernah bicara pada Key ahjuma. Bagaimana mereka menyelesaikan masalah?" Luhan tidak tau harus bersikap bagaimana pada gadis di hapannya yang innocen tapi juga bisa menjadi ancaman. Ancaman? Yeah…. Ancaman bagi rumah tangganya dan Sehun.
"entahlah, aku juga tidak tau. Tapi, sebut saja itu menyelesaikan masalah."
Tawa pecah setelah jawaban Luhan yang tak pasti. Nam Joo merasa ia mudah akrab dengan Luhan. Padahal mereka baru saling kenal puluhan menit yang lalu. Mereka sama-sama easy going. Ia senang dan cukup penasaran dengan pemuda itu.
Mereka terus berbincang hingga Key menghampiri dan mengintrupsi keduanya. Key cukup senang melihat keduanya yang terlihat akrab lalu menyuruh mereka agar membereskam bawaan Nam Joo.
.
.
.
Malam harinya, Luhan dan Namjoo berdiri di kaki bed menatap Sehun yang tidur tengkulup di atas ranjang. Luhan beralih menatap Namjoo sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, sedikit tidak enak.
Hei, Ia ingin bersikap layaknya tuan rumah yang baik. Tapi, sepertinya Sehun tak berkenan akan itu. Sejak kedatangan Namjoo, pemuda itu tak pernah bicara dan terus memasang wajah datar layaknya lantai tempatnya berpijak saat ini. Luhan tau, Namjoo memang orang asing. Tapi, bukankah ia juga akan menjadi bagia—an… entahlah, Luhan merasa berat mengatakan kalau Namjoo akan menjadi bagian dari mereka. tapi, bukankah Sehun tak bicara apapun soal persetujuan atau penolakan? Itu berarti, Namjoo bisa berada di antara mereka saat ini. Sikap Sehun sama seperti saat mereka belum menempati rumah ini.
"kau mau kemana?" Luhan menarik lengan Namjoo melihat sang gadis berbalik hendak meninggalkan kamar
"aku akan tidur di sofa." Namjoo tersenyum berniat melanjutkan langkahnya, namun untuk kesekian Luhan mencegah dan menyuruhnya diam di tempat. Walau tak mengerti, gadis itu menurut saja , ia diam dan melakukan perintah Luhan.
Luhan menghela napas sebelum pergi ke sisi ranjang. Ia dapat melihat Sehun yang tertidur lelap dengan wajah innocen. Sangat berbeda dengan yang di tunjukan pemuda itu seharian ini. Luhan jadi tak tega membangunkannya. Hanya saja, setelah beralih menatap Namjoo, ia jadi kasihan juga dengan gadis itu, melihat wajah tak berdosanya.
Luhan membungkuk, menepuk-nepuk pelan lengan Sehun sambil menyebut nama pemuda itu tapi tak ada respon berarti. Luhan menghela napas sebelum menepuk lengan Sehun lebih keras, namun sama saja tak berguna, pemuda itu tak juga memberi tanda-tanda akan usaha Luhan. Sepertinya ia tidur terlalu lelap. Luhan mulai jengkel, ia beralih menepuk-nepuk pipi Sehun tapi Sehun tidur seperti mayat membuatnya semakin kesal. Tidak biasanya sesusah ini membangunkan Sehun, kecuali ia berpura-pura.
Luhan beralih menatap Namjoo yang masih diam dengan wajah innocen menyaksikan usaha Luhan.
"Sehun…. Sehun.. ireona…Sehun?.." Luhan mulai mengguncang-guncang tubuh Sehun namun tetap saja nihil. "Sehun! Aku tau kau tidak tidur. Sehun!" Luhan masih berusaha semakin mengguncang tubuh Sehun dengan brutal membuat pemuda yang pura-pura tidur itu jengah dan menarik Luhan hingga guncangan di tubuhnya berhenti.
Sehun tersenyum dengan mata tertutup mengacuhkan rontaan Luhan yang ada dalam pelukannya. Sementara Namjoo yang melihat itu menutup rapat mulutnya dengan wajah merona malu. Iapun memilih melupakan perintah Luhan agar tetap tinggal dan pergi dari kamar itu. Hanya saja, sebelum itu terjadi, Luhan kembali mencegah dengan teriakan.
"sebaiknya kalian saja yang tidur di sini. Aku akan keluar" Namjoo membuka pintu meninggalkan Luhan dan Sehun di sana.
"Sehun!... YAK! Sehun…aishh!" Luhan terus berusaha melepas kaki dan tangan Sehun yang melilit tubuhnya. Mereka terlihat kekanakan. "Sehun…. aku tidak bisa bergerak dan susah bernapas." Protes Luhan masih meronta
"kalau begitu diamlah." Ini pertama kalinya Luhan mendengar Sehun bicara setelah mereka pulang dari acara jalan-jalan yang di sebut kencan oleh Sehun.
"Sehun.. biarkan Namjoo tidur di sini. Ayo bangun, kau bisa pindah ke sofa. Kau tidak mungkin membiarkan seorang gadis tidur di sofa bukan?" Sehun tak merespon "ayolah Sehun.. jangan kekanakan." Luhan menghela napas dan berhenti meronta karna percuma, pemuda itu tak mau melepasnya. Sehun sangat keras kepala.
"Sehun?..." Sehun meregangkan pelukannya merasa Luhan tak meronta lagi sebelum menghembuskan napas dan mendudukkan diri di atas ranjang yang langsung di ikuti Luhan
"kenapa?" alis Luhan berkerut tak mengerti "kenapa kau membela gadis itu? Apa kau ingin aku menikahinya?" Luhan diam dan Sehun menunduk. Pemuda itu tersenyum miris. Ia beranggapan Luhan memang ingin ia menikah agar pemuda itu bisa bebas darinya, karna dari awal, Luhan menolak berhubungan dengannya. Luhan yang berwajah bahagia selama ini, hanyalah Luhan yang terpaksa. Hanya karna kehendaknya yang menginginkan Luhan seperti itu. Bukan atas kemauan pemuda itu sendiri. Hanya karna alasannya yang memberi perintah dan Luhan harus menurut. Cih! Bahkan harusnya ia sadar Luhan hanya berwajah jengkel, bukan bahagia.
Sial!
Sehun tidak menyangka ia jadi seperti ini. Begitu menyedihkan hanya karna seorang ,Luhan. Luhan yang terpaksa di sampingnya, Luhan yang ingin bebas darinya, Luhan yang masih mempunyai perasaan akan gadis itu. Dan sekarang, jalan terbuka lebar untuk Luhan bebas darinya. XIX grup sudah kembali seperti semula, bahkan perusahaan itu sudah lebih besar dari sebelumnya. Dan Sehun yakin, jika orang tua Luhan tahu rencana gila orang tuanya. Mereka akan langsung mengambil Luhan dan mengembalikan uang yang sudah Enzo tanamkan guna membangun kembali perusahaan keluarga Xi. Karna sebenarnya, dari awal kedua pihak tidak setuju dengan rencana gila kakeknya. Hanya saja, saat itu mata mereka di butakan oleh uang dan kekuasaan hingga menghalalkan segala cara yang bisa mereka lakukan guna memperluas kekuasaan. Mereka bahkan tak puas dengan hasil yang ada dan kini, alasan Luhan tak bisa memberi keturunan mereka gunakan untuk menjalin hubungan dengan Hyundai grup. Elantra digaleri mobil Amerika Utara terbaik tahun ini di pameran otomotif Detroit yang di pimpin Kim Jong Hyun, ayah dari Kim Nam Joo. Gadis yang akan di jodohkan dengannya.
Luhan sendiri yang mendengar Sehun bicara seperti itu tak tau harus menjawab apa. Ia tak mengerti dengan perasaannya yang ingin melawan, ingin mencegah dan ingin Sehun menolak perjodohan itu. Tapi, apa dia bisa? Lantas, kalau ia bisa , untuk apa ia melakukannya? Dengan alasan apa?
Aku ini istrimu! Dan aku tidak mau kau menikah lagi!
Konyol! Haruskah ia berkata seperti itu? Bukankah dari awal ia ingin bebas terlepas dari hubungan gila ini? Bukankah ini peluang agar ia bisa kembali memperjuangkan Hara? Lalu, kenapa saat ada kesempatan ia malah merasa ragu? Kenapa hati dan pikirannya begitu bimbang? Hanya berkata
Menikahlah, karna memang namja harusnya di takdirkan dengan seorang yeojja.
Sangat berat ia ucapkan?
Luhan memejamkan mata dengan alis berkerut. Kepalanya terasa pening memikirkan semua itu.
"hhh..baiklah, baiklah… gadis itu tidur di sini dan aku tidur di luar!." Sehun yang melihat Luhan seperti itu merasa bersalah akan pertanyaannya memilih mengakhiri pembicaraan.
Setelahnya Sehun keluar dari kamar di susul oleh Luhan. Mereka menghampiri Namjoo yang tidur di sofa depan tv lalu menyuruh gadis itu agar pindah ke kamar yang langsung di turuti Namjoo. Seperginya Namjoo, Sehun langsung membanting bantal yang di bawanya ke atas sofa dan berbaring di sana membelakangi Luhan yang masih berdiri menghadap sofa.
"Sehun?" tak ada jawaban "Sehun, kau marah?" masih tak ada jawaban. Luhan menghembuskan napas, berbalik, dan hendak meninggalkan Sehun di sana
"Lu.." Langkahnya terhenti sebelum menoleh pada asal suara "Kau… kau mulai sekarang… lakukan apa yang kau ingin lakukan."
"nde?" Luhan mengeryitkan alis tak mengerti. Sehun bangun memposisikan dirinya duduk di atas sofa menghadap Luhan yang masih berdiri "aku tak akan memberi alasan seperti 'ini perintah' lagi padamu. Kau bebas, kau lakukan apapun yang kau mau." Luhan membulatkan mata penuh binar
"benarkah..?" Luhan maju satu langkah dan Sehun mengangguk
"kau tidak akan berkata 'aku menarik kata-kataku waktu itu' suatu hari nanti kan?" Sehun menggeleng. Luhan langsung berteriak heboh sambil mengepalkan tangannya, namun beberapa saat kemudian ia menghentikan aksinya menyadari sesuatu.
"ta-tapi, kenapa kau.. tiba-tiba berkata seperti ini?" Sehun tersenyum dan menggeleng
"aku hanya tidak ingin kau merasa terpaksa." Luhan mengerutkan alis tak mengerti "sudahlah, lebih baik kau cepat tidur, ini sudah malam." Luhan hendak bertanya lagi, namun Sehun lebih dulu membaringkan tubuhnya di sofa membelakangi Luhan.
Luhan mengedikan bahu berjalan menaiki tangga tapi, ia berhenti di anak tangga ke 5.
Oh, ayolah, Luhan! Kau mau kemana? Mau tidur? Di kamar? Dengan Nam Joo?
Luhan berbalik teringat fakta bahwa ia menyuru Namjoo tidur di kamar mereka. Pemuda berambut cokelat madu itu mengalihkan pandangannya kesana-kemari mencari sesuatu yang bagus untuk tempat tidur. Kakinya melangkah ke ruang utama tapi, sofa di sana terlalu keras sebagai tempat tidur. Di ruang kedua tak ada sofa yang panjang, di dapur? Oh ayolah, Luhan! Apa kau berpikir untuk tidur di meja makan?
Luhan melewati Sehun yang terlihat tidur dengan nyenyak saat ingin menaiki lantai 2. Beberapa menit di lantai 2, ia juga tak menemukan tempat yang bagus untuk tidur. Padahal ia sudah beberapa kali menguap menandakan betapa mengantuknya pemuda itu.
Kakinya melangkah mendekati Sehun. sempat terlintas di benaknya untuk meminta Sehun berbagi tempat tidur dengannya, tapi, melihat badan Sehun yang sudah pas dengan sofa itu, membuat Luhan mengurungkan niatnya. Mata rusanya beralih pada karpet putih berbulu yang ia gunakan sebagai tempat berpijak. Satu helaan napas panjang keluar dari mulutnya sebelum duduk dan meletakan bantal yang di bawanya sedari tadi di atas karpet putih berbulu itu. Ia membuka selimutnya dan membaringkan diri di sana.
.
.
.
Sarapan pagi bagi Sehun dan Luhan adalah roti selai, minuman kaleng dan es cream. Tapi, pagi ini berbeda. Untuk pertama kalinya, meja makan kediaman Oh junior di penuhi berbagai macam hidangan pokok.
Jika Luhan bangun dan tiba-tiba berada di atas sofa, ia tak perlu bertanya lagi karna jelas ia tau bagaimana posisi tidurnya dan Sehun bisa tertukar. Namun, dirinya yang bangun karna mencium aroma makanan rumah tentu saja harus di pertanyakan. Siapa yang memasak di rumah mereka? Seingatnya mereka tak memiliki pekerja dan jelas ia tau bahwa kulkas mereka tak menampung semua bahan makanan yang tersaji di atas meja.
Luhan dan Sehun terdiam menatap semua menu yang tak di ketahui buatan siapa. Tak ada siapapun di dapur saat mereka bangun dan hanya ada sebuah memo tanpa nama terletak di atas tudung saji. Jujur mereka tergiur dengan aroma dan penampilan menu-menu itu, tapi mereka juga harus berhati-hati. Tidak ada yang tau kalau makanan itu akan membuat mereka menjadi penghuni rumah sakit selanjutnya atau mungkin langsung menjadi penghuni dunia kekal selanjutnya.
"apa gadis itu?" lama berdiri, rupanya otak Sehun lebih cepat mengembalikan kejadian sebelumnya di bandingkan otak Luhan yang sepertinya masih berpikir hingga matanya melebar dan menatap Sehun dengan tatapan 'mungkin'.
"hei? Kau mau kemana?" Luhan berbalik menatap punggung Sehun yang pergi menaiki tangga namun, pemuda itu tak menanggapi pertanyaannya membuat Luhan mendengus dan berbalik kembali pada menu-menu di atas meja. Rautnya terlihat berpikir, menimang akan memakan makanan-makanan itu atau tidak. Tapi, di memo tertulis—selamat menikmati—jelas itu mengundang siapapun untuk menikmati menu-menu itu. Luhan tersenyum dan tanpa pikir panjang ia langsung duduk di salah satu kursi mulai mencomot apapun yang ada di atas meja.
.
Beberapa menit kemudian, Luhan bersendawa dengan keras membuat Sehun yang tengah mengambil sesuatu di dalam kulkas menatapnya dengan raut yang sulit di artikan.
"kau tidak makan?" Luhan menatap Sehun yang sibuk meneguk minuman kaleng lalu bersandar di sandaran kursi dan menepuk-nepuk perutnya yang kekenyangan. Ia menatap semua menu di atas meja yang masih tersisa. Pikirnya, Namjoo benar-benar akan menjadi istri yang baik dan berguna kalau nanti ia menikah dengan Sehun. Lihatlah, baru menetap di rumah mereka saja gadis itu sudah bangun pagi-pagi, memasak dan merapikan kamar. Hal yang tak pernah Luhan lakukan. Ck!
"cepatlah mandi, kita bisa terlambat." Sehun yang sudah selesai dengan munuman kalengnya tak berniat menjawab, Luhan malah memerintahnya membuat Luhan menoleh
"aku ingat, bukankah baru semalam kau berkata tak akan memerintahku?" Sehun menatapnya datar sebelum pergi meninggalkan Luhan yang terheran-heran dengan sikap Sehun pagi ini. Sehun bersikap seperti dulu, Luhan tak suka Sehun yang seperti itu. Ada apa dengannya?
Apa Luhan melakukan kesalahan hingga Sehun bersikap seperti itu padanya?
.
.
.
Luhan merasa Sehun benar-benar berbeda dari biasanya. Bahkan Luhan tak menyangka Sehun akan meninggalkannya pagi ini hingga membuatnya harus berangkat sendiri ke sekolah. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi dengan Sehun? Kenapa pemuda itu seolah bersikap dingin padanya?
"Lu?" Luhan tersadar dari lamunannya mendapati Lay yang memberi tatapan bertanya, namun hanya dibalas senyuman oleh Luhan
"kau baik-baik saja?" Luhan tersenyum lagi dan mengangguk "apa ada masalah? Hari ini kau terlihat sering melamun." Benar, Luhan memang sering melamun, apa lagi di kelas ia sempat mendapat teguran dari Han seongsanim karna tak memperhatikan pelajaran dan malah sibuk melamun. Kali ini pun Luhan tak jauh berbeda karna Luhan yang biasanya akan lebih focus pada makanannya kini malah mengabaikan makanan-makanan lezat itu dan hanya melamun membuat Lay yang melihatnya sedikit khawatir
Mendapat pertanyaan seperti itu dari Lay. Ingin sekali Luhan menceritakan kebimbangannya, ingin sekali ia meminta pendapat dan bertanya apa yang harus ia lakukan. Ia ingin berbagi, tapi, bagaimanapun ia tak mau membuat sahabatnya itu khawatir dan memikirkan masalahnya yang menurutnya berat ini. Entahlah, ia merasa semuanya begitu rumit, kebimbangannya, sikap Sehun yang berubah tiba-tiba, dan perasaan cemas yang entah apa itu. Ia merasa sesuatu akan terjadi
"gwenchana, aku hanya kurang tidur." Luhan meneruput buble teanya, tak sadar kalau Lay menampakan senyum penuh arti mendengar jawaban Luhan
"memangnya apa yang kau lakukan sampai kau kurang tidur dan terlihat lemas pagi ini?" Luhan mendongak sebelum memutar bola mata menyadari raut wajah Lay yang berubah 100% dari raut khawatirnya tadi
"tidak, Lay. Aku sedang tidak dalam keadaan bisa di ajak bercanda." Luhan kembali menyeruput buble teanya sambil menatap keluar jendela café yang langsung mengarah ke lapangan basket
"hhh… baiklah.. baiklah..kkk~" Lay bersandar di sofa tempatnya duduk, mengurungkan niatnya menggoda Luhan karna sepertinya Luhan benar-benar tidak dalam mood yang baik pagi ini.
Luhan menyingkirkan sedotan buble tea dari mulut dan memicingkan mata melihat sesuatu yang menarik perhatiannya di lapangan basket. Pemandangan itu tak hanya menarik perhatian Luhan tapi, semua orang yang menyadari peristiwa itu. Di pinggir lapangan, dua orang pemuda berseragam terlihat saling dorong.. hingga mereka kini berada di tengah lapangan basket
Bukan! Bukan itu yang menarik perhatian, Luhan. Tapi, salah satu dari pemuda itu adalah, Sehun. Apa ini perkelahian? Apa Sehun akan berkelahi? Sungguh! Siapapun pasti belum pernah melihatnya.
Semua yang berada di cafeteria atau masih di lingkungan sekolah dan mendengar kabar itu langsung berlari ke lapangan basket guna menyaksikan secara live kejadian itu. Bahkan Luhan tak tau bagaimana kakinya bisa berlari dengan cepat dan dalam sekejap ia sudah berada di tengah-tengah lapangan, tepat di barisan paling depan kerumunan siswa siswi DO-IHS.
"YAK!.."
Sungguh, ini benar-benar langkah bagi siapapun yang tak pernah mendengar suara Sehun. Pemuda itu baru saja berteriak saat menghempaskan lawannya yang Luhan tak tau siapa nama pemuda itu.
Pemuda yang baru saja di hempaskan tubuhnya oleh Sehun itu berdecak dan tertawa merehkan. Bahkan Sehun yang selalu berekspresi datar di depan orang lain kini terlihat marah dengan wajah merah hingga menampilkan urat leher dan dahinya. Bibirnya mengatup rapat dan rahangnya mengeras, matanya menatap benci pemuda yang tersungkur.
Luhan tak tau apa masalahnya, tapi ia ingin sekali mendekati Sehun dan menenangkan pemuda itu yang terlihat benar-benar mengerikan. Tapi, keberadaannya saat ini membuatnya harus menhan diri.
"hanya itu? Kau payah!" ejek lawan Sehun sebelum meludah.
Sehun yang mendengar itu bertambah geram dan maju menarik kerah baju lawannya. Terlihat jelas pemuda itu menahan diri untuk tak melayangkan kepalan tangannya ke wajah lawannya. Bukan, bukannya ia tak mau melayangkannya. Tapi, ia menyadari sesuatu, sesuatu yang tak ingin orang itu melihatnya seperti ini. Ia tak ingin orang itu ketakutan dan menjauhinya setelah tau kalau ia punya sisi seperti ini.
Eh? Menjauhinya?
Entah kenapa Sehun seperti menyadari sesuatu dan tanpa segan ia melayangkan kepalannya ke pipi kiri pemuda yang entah siapa namanya itu hingga pemuda itu tersungkur membentur lantai dan membuat siswa siswi yang berada pada arah tempat tersungkur pemuda tadi menjauh karna Sehun berjalan mendekati pemuda itu hendak melayangkan bogem susulan.
"SEHUN!"
Teriakan itu membuat pergerakan Sehun berhenti. Tangan kirinya sudah mencengkram kerah seragam pemuda itu dan tangan kanannya sudah terangkat ke udara tapi, tiba-tiba semuanya seperti di pause. Bahkan semua orang yang ada di sana hanya mematung dengan berbagai tatapan yang sulit di artikan mengarah pada, Luhan yang baru saja meneriaki nama Sehun. Bahkan, komplotan Sehun dan pemuda tadi yang baru saja datang hanya terdiam di tempat menatap Luhan
Apa yang dia lakukan?
Cih! Menganggu saja!
Siapa dia? Kenapa meneriaki, Sehun? Apa dia mau di hajar juga?
Luhan tak perduli dengan orang-orang di sekitarnya, entah mulai berbisik atau mencela. Kakinya melangkah sendiri mendekati Sehun yang masih pada posisinya. Pemuda yang berada dalam kekangan Sehun juga menatap Luhan lalu berganti menatap Sehun dan tersenyum meremehkan namun, tak di perdulikan Sehun karna ia tengah menatap kosong. Benar-benar banyak yang ia pikirkan namun, banyaknya pemikiran itu, hanya ada satu hal yang sama—Luhan
"Sehun?"
Luhan tak tau ia kerasukan apa dan hal apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia melakukan ini. Tapi, ia tidak ingin melihat kekerasan. Ia tak ingin melihat Sehun yang seperti itu. Mengerikan!
Sehun menoleh merasa sebuah telapak tangan menyentuh bahunya dan mendapati Luhan yang menatapnya dengan tatapan jangan. Ia lalu menoleh pada pemuda yang tersenyum mengejek kearah mereka dan melepas cengkramannya pada kerah seragam pemuda itu dengan kasar.
"Daehyun!" tepat Sehun melepas pemuda tadi dan berbalik menghadap Luhan. 3 orang pemuda yang mungkin teman pemuda bernama Daehyun itu langsung menghampiri dan membantu korban Sehun
Namun, saat teman-temanya ingin membawanya ke UKS, Daehyun berhenti dan berbalik menatap Sehun dengan seringaian
"tidak selamanya kau berkuasa, Oh Sehun." lalu ia beralih menatap Luhan masih dengan seringaiannya sebelum pergi dari sana. Semua orang yang masih berada di sana hanya menatap kaku, bingung, kagum, heran dan banyak lagi. tapi, mereka lebih banyak tidak menyangka ada yang berani mengancam Sehun.
"kau sudah mengambil keputusan." Semua yang berada di sana kembali tercengang dengan mata bulat tak percaya. Yahh.. kecuali komplotan Sehun yang masih diam di tempat. Mereka baru saja mendengar Sehun berbicara, siapapun pasti mendengar karna saat itu keheningan tengah menyapa dan suara Sehun menggema di gym.
"nde?" Luhan yang tak mengerti mengerutkan alis meminta penjelasan lebih. Semua orang di sanapun sama dan rasa penasaran mulai menyerang karna siapapun tau, Sehun berbicara dengan Luhan. itu membuat semua penasaran siapa Luhan bagi Sehun hingga pemuda itu bisa membuat seorang Oh Sehun bicara dan melepas pemuda bernama Daehyun tadi.
"kau menghentikanku di sini, itu artinya kau sudah mengambil keputusan." Luhan makin tak mengerti namun, Sehun tiba-tiba mendekapnya, membuatnya kaku dan cemas karna ia sadar mereka masih di kerumuni siswa siswi DO-IHS. Kejadian itu mengundang bisik-bisik siswa siswi, teriakan tidak terima serta beberapa fans Sehun pingsan di tempat. Sementara teman-teman Sehun dan Luhan hanya tersenyum melihat itu. Luhan? Ia tak tau harus berbuat apa kecuali diam
"kajjima andwe.."
Kini fans-fans Sehun yang tak pingsan, terduduk menangis meraung-raung melihat Sehun mencium puncuk kepala Luhan
Inikah saatnya? Apa sudah selesai? Apa semuanya sudah terbongkar?
Yeah… tentu saja, semua orang mulai penasaran dan menerka-nerka. Mereka tak perlu lagi menyimpannya. Luhan tak harus mengkhawatirkan orang menganggapnya gay, karna setelah ini semua orang akan beranggapan ia dan Sehun seperti itu. Yeah, tak apa, ia terima karna ia mulai terbiasa. Ternyata, gay itu bisa menular. Dari awal ia tau teman-temannya adalah gay, tapi, ia berusaha menepisnya dengan meyakinkan diri bahwa Baekhyun dan Lay hanya kagum dan mengiginkan wajah yang tampan seperti Sehun dan teman-temannya.
Apa ini kebimbangan yang di rasakan Luhan? Tapi, kenapa? Walaupun sudah ia lewati. kenapa kebimbangan itu tak juga lenyap dari hatinya? Ada perasaan cemas akan sesuatu yang entah apa itu akan terjadi. Dan tentunya Luhan harus meminta penjelasan pada Sehun, kenapa ia memukul pemuda bernama, Daehyun tadi.
.
.
.
"Sehun?" Luhan melirik Sehun yang duduk di sampingnyan namun, hanya mendapati pemuda itu tersenyum sambil menatapnya "sebentar lagi pelajaran di mulai, kembalilah ke kelasmu." Luhan sangat risih karna Sehun hanya tersenyum
Hanya ada mereka di dalam kelas Luhan karna semua penghuni kelas lebih memilih meninggalkan kelas dari pada melihat idola mereka yang memperlakukan Luhan dengan istimewa.
Setelah kejadian di lapangan basket, Luhan meminta Sehun menjelaskan semuanya dan alasan Sehun menyerang Daehyun karna ia mengancam Sehun. Entah dari mana Daehyun tau seputar hubungan Sehun dan Luhan. Sebenarnya Sehun tak terlalu perduli jika semua orang tau hubungannya dan Luhan, malah ia ingin semua orang tau. Tapi, ada alasan lain, dan ia tak menceritakan alasan lainnya kenapa ia menyerang Daehyun pada Luhan.
"Sehun? Kau baik-baik saja kan?" kedua alis Luhan berkerut mulai khawatir melihat Sehun yang tak henti-hentinya tersenyum dan memandanginya. Luhan berpikir tingkah Sehun seperti cirri-ciri orang gila
"Lu…"
"ne?"
"Lu…" alis Luhan berkerut. Sungguh tingkah Sehun benar-benar abnormal. Luhan mulai memutar tubuhnya menghadap Sehun, mencengkram kedua bahu pemuda itu dan mengguncang tubuhnya membuat Sehun terheran-heran dan mencekal tangan Luhan agar menghentikan goncangannya
"apa yang kau lakukan?" Sehun mengusap pelan bahunya yang masih sakit, tapi malah di cengkram lagi oleh Luhan
"menyadarkanmu."
"kau pikir aku tidur atau pingsan, eoh?"
"ani! Kau kerasukan setan."
Dan bel mulainya pelajaran berbunyi, menandakan Sehun harus kembali ke kelasnya dan meninggalkan Luhan dengan tatapan sinis penghuni kelas yang mulai berdatangan.
.
.
.
"Sehun."yang di panggil hanya bergumam "kenapa tadi pagi kau bersikap aneh?" Sehun menoleh sekilas pada Luhan dan kembali focus menyetir. "Kau seperti… kembali pada awal kita tak saling kenal terlalu jauh." Sehun hanya diam, Luhan masih menunggu jawabannya
Beberaoa menit kemudian, Sehun melirik Luhan yang menatapnya penuh harap sebelum menghela napas panjang "aku hanya mempersiapkan diri." Luhan tak mengerti "rencana orang tuaku….. jelas kau bisa menduga apa yang akan terjadi kalau orang tuamu tau bukan?" Luhan terkesikap, benar! Ia melupakan fakta itu. Ia melupakan orang tuanya.
"tadinya aku berpikir untuk mulai membiasakan diri tanpamu." Sehun member jeda "tapi, tetap saja semua memancing emosiku jika mendengar hal yang berkaitan denganmu, aku tak bisa mengabaikannya."
"maksudmu?"
Entah perasaan Luhan atau apa, tapi Sehun terlihat panic dan coba mencari alasan. Luhan merasa Sehun menyembunyikan sesuatu dengan bersikap seperti itu
"a-ah, aku hanya tidak bisa terima orang menjelek-jelekkanmu. Kau kenapa selalu bertanya dari akar sih?!" kesal Sehun menyembunyikan perasaan paniknya
"hei! Aku hanya bertanya hal yang tak ku mengerti!"
"sudahlah! Aku lapar, lebih baik kita cari tempat makan."
Luhan hanya mengangguk, tapi, dalam hati ia tau kalau Sehun coba mengalihkan pembicaraan. Apa yang di sembunyikan pemuda itu?
.
.
.
Sebenarnya tujuan mereka adalah restoran dengan makanan siap saji yang terletak dekat universitas Chungdong. Tapi, melihat di sebelah restoran itu ada sebuah kedai ramyun, maka mereka lebih memilih ramyun di bandingkan masakan-masakan buatan koki restoran.
Di kedai yang sempit dan pelayanan seadannya itu terasa lebih hangat karna begitu banyak pengunjung serta kebisingan sana-sini. Banyak berbicara dengan keras, entah itu saat memesan, bercanda dengan orang yang makan bersama, atau sekedar asik sendiri. Tidak seperti di restoran siap saji yang ada di sebelah, terasa sangat sunyi dan hampa karna semua orang bersikap layaknya bangsawan.
Sehun menghentikan suapaan ramyun ke mulutnya dan menatap Luhan yang makan dengan semangat 45. Bahkan kuah dan beberapa penggalan ramyunnya berceceran kemana-mana.
"woohh! Inhi zhangath enhak!" tutur Luhan dengan mulut penuh. Sehun menggelengkan kepala dan mengulurkan tangannya mengusap pipi kiri Luhan yang sedikit belepotan kuah ramyun membuat Luhan menghentikan aktifitasnya, mendonggak dan menatap Sehun
"istriku makanlah pelan-pelan." Luhan berkedip, membuka mulut hendak protes tapi, berubah jadi senyuman saat melihat Sehun tersenyum setelah mengatakan itu padanya. Luhan menegakkan duduknya dan mengambil tisu, meraih tangan Sehun yang tadi di gunakan untuk mengelap kuah ramyun di pipinya dan membersihkannya dengan tisu yang di ambilnya tadi.
"sudah bersih." Ucap Luhan melepas tangan Sehun lalu menatap mangkuk ramyun Sehun "kenapa tidak habis?" Sehun menatap mangkuknya
"ani, akan ku habiskan kok." Sehun kembali menggenggam sumpitnya dan mulai mengaitkan untaian-untaian ramyun ke sumpit. Satu suapan ramyun mendarat ke dalam mulutnya. Ia sedikit melirik Luhan yang menjilat bibirnya sendiri melihat Sehun mengunyah ramyun itu lalu menatap mankuknya yang sudah kosong.
"uwah… enak sekali…" Sehun hendak kembali memasukan ramyun ke dalam mulutnya namun ia menghentikan gerakan tangannya di udara dan menatap Luhan yang terlihat seperti 'berikan suapan itu untukku, ku mohoooon…'. Sehun melirik ramyun yang ada di sumpitnya lalu menatap Luhan
"kau mau?" Luhan mengangguk semangat tapi, semangatnya langsung runtuh saat Sehun memasukan ramyun yang di tawarkannya tadi untuk Luhan ke mulut. Luhan melihat mangkuk Sehun yang tinggal satu suapan ramyun lagi, ia melihat Sehun mulai mengaitkan untaian ramyun itu ke sumpit dan mengangkatnya. Dalam hati Luhan berdoa, semoga Sehun memberikan yang itu untuknya
"masih mau?" Luhan kembali mengangguk dengan wajah memelas agar yang itu di berikan padanya "raihlah." Luhan tersenyum dan menggenggam lengan Sehun yang memegang sumpit. Mengarahkan sumpit itu ke mulutnya, namun Sehun berusaha mempertahankan dan menjauhkan sumpitnya dari jangkauan mulut Luhan yang terbuka. Luhan tak menyerah dan terus menahan tangan Sehun dengan tangannya, namun Sehun sangat lincah menggerakan telapaknya hingga Luhan memilih menggenggam telapak Sehun namun Sehun lebih dulu memasukan ramyun itu kedalam mulutnya sendiri dan tersenyum melihat raut wajah Luhan yang kesal.
Seakan tidak mau kalah, Luhan menangkup kedua pipi Sehun dan mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun, membuat Sehun tersenyum penuh kemenangan karna ini yang ia inginkan. Mereka tak perduli jika sedang berada di tempat umum hanya karna permainan bodoh itu. Sehun menutup rapat bibirnya agar Luhan tak bisa dengan mudah mengambil ramyun yang belum ia kunyah di dalam mulutnya itu. Luhan menekan kedua pipi Sehun agar bibir pemuda itu sedikit monyong, tapi tidak berguna karna Sehun sangat ahli mempertahankan diri. Semua yang ada di kedai kecil itu kini menatap mereka, namun keduanya tak perduli dan terus pada pendirian mereka untuk mempertahankan dan merebut ramyun.
Luhan melepas bibirnya dari bibir Sehun yang terkatup rapat
"bagaimana aku bisa mengambilnya kalau kau menutup rapat mulutmu?" kesal Luhan. Sehun tersenyum lagi
"maka dari itu, beru—mmpph"
Luhan tersenyum menang, Sehun bicara dan ia menggunakan kesempatan itu untuk meraih ramyunnya. Luhan mulai menarik-narik untaian ramyun yang masih utuh dalam mulut Sehun dengan lidahnya, namun, Sehun juga tak mau kalah dengan menghalangi lidah Luhan dengan lidahnya dan melindungi ramyun-ramyun itu. Alis Luhan berkerut menandakan betapa sulitnya ia meraih ramyun itu hingga akhirnya seseorang mengintrupsi kegiatan mereka dengan deheman. Keduanya menoleh pada sumber deheman sambil mengunyah, meski Luhan hanya mendapat sebagian karna Sehun tak mau kalah.
4 oreang berpakaian rapi serba hitam berdiri di hadapan mereka sebelum membungkuk hormat. Sehun hanya memasang wajah datar, ia tau siapa orang-orang ini.
"maaf, tuan. Kami di perintahkan untuk membawa anda oleh nyonya dan tuan Oh."
Sehun menatap Luhan yang langsung menganggukkan kepala. Ia tak tau apa yang akan terjadi. Tapi, ia merasa ini buruk. Namun, ia harus meyakinkan Sehun kalau semuanya akan baik-baik saja.
Sehun berdiri dan merapikan seragamnya sebelum marih Luhan untuk ikut dengannya tapi, Luhan melepaskan tangan Sehun yang mengait lengannya membuat Sehun memberi tatapan bertanya
"aku akan pulang ke rumah, kau temuilah eomma dan appa."
"maaf, noona. Anda juga harus ikut." Sahut salah satu orang berpakaian serba hitam mendengar ucapan Luhan. Dan lagi-lagi, sebutan 'noona' itu sangat menganggu gendang telinganya
"aku? Wae?"
"tuan dan nyonya Xi juga berada di sana, noona. Kami di perintahkan untuk membawa tuan muda dan juga, noona."
Luhan dan Sehun bertatapan.
Apa ini arti dari hal menjanggal di hati Luhan?
Kenapa kedua pihak keluarga bertemu? Ada apa?
Tapi, kalau tuan dan nyonya Xi sudah bertemu dengan tuan dan nyonya Oh. Itu berarti… mereka sudah memberitau rencana itu?
Sehun menelan liur dengan susah payah, menatap Luhan dalam dan mengangguk meyakinkan. Tangannya kembali meraih tangan Luhan dan menggenggamnya dengan erat lalu mereka berjalan di ikuti 4 orang tadi di belakang.
"apapun yang terjadi, kau tidak boleh pergi." Bisik Sehun sebelum mereka memasuki mobil yang di kendarai seorang supir dan membiarkan mobil Sehun di kendarai salah satu dari keempat orang tadi menuju kediaman keluarga, Oh.
,
.
To Be Countinue…
.
Ell note :
Ell ngucapin terimakasih buat yang masih setia dengan FF ini meski makin hari makin gak jelas jalan ceritanya. Terimakasih atas support kalian yang berharga, terimakasih atas pendapat positif kalian, terimakasih buat semuanya.
Mulai ngebosenin yah? Ell tau, karna Ell benar-benar gak mood buat ngetik. Jadi kepikiran buat gak mau lanjutin FF ini. Jadi males!
Dan Namjoo? Jangan benci Namjoo, dia tidak bersalah. Salahin aja orang tuanya Sehun yang labil.
Dan buat yang gak suka FF ini silahkan keluar, dan kalau gak suka Ell note yah gak usah di baca. Gampangkan?
Yaudah! Dari pada saya berkata-kata seperti 'wanita', terimakasih buat yang masih setia dengan FF ini.
