Drrtt… Drrttt…

Kris membuka kelopak matanya, merogoh saku jaket dengan mata sayu dan pola ogah-ogahan melihat pesan dari si penganggu tidur.

Sebenarnya dari tadi tidurnya juga sudah dinganggu dengan kedatangan mahkluk-mahkluk tak tau sopan santun yang berkeliaran dalam kamarnya.

…maknae sialan

Kris mengeryit menemukan nama yang jarang tertera di layar smarphonenya dalam bentuk pesan atau panggilan.

-aku butuh bantuan. Datang ke rumahku, tapi jangan sampai terlihat oleh siapapun-

Kris mendudukkan diri melihat teman-temannya juga mendapat pesan yang sama. Mereka saling bertatapan sebelum bergegas keluar dari kediaman Wu menaiki kendaraan masing-masing

.

DIFFICULT OF STRING

15

Sehun + Luhan

Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Shonen-ai

E

And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan

Preview…

Luhan dan Sehun bertatapan.

Apa ini arti dari hal menjanggal di hati Luhan?

Kenapa kedua pihak keluarga bertemu? Ada apa?

Tapi, kalau tuan dan nyonya Xi sudah bertemu dengan tuan dan nyonya Oh. Itu berarti… mereka sudah memberitau rencana itu?

Sehun menelan liur dengan susah payah, menatap Luhan dalam dan mengangguk meyakinkan. Tangannya kembali meraih tangan Luhan dan menggenggamnya dengan erat lalu mereka berjalan di ikuti 4 orang tadi di belakang.

"apapun yang terjadi, kau tidak boleh pergi." Bisik Sehun sebelum mereka memasuki mobil yang di kendarai seorang supir dan membiarkan mobil Sehun di kendarai salah satu dari keempat orang tadi menuju kediaman keluarga, Oh.

D.O.S 15

Luhan dan Sehun berdiri kaku melihat keluarga mereka telah berkumpul. Keduanya enggan membuka suara atau melakukan sesuatu guna memberitau kedatangan mereka.

Sehun menoleh pada Luhan yang menatap lurus kedua orang tuanya. Pemuda yang lebih muda itu beralih menatap tangan Luhan yang terkepal sebelum menggenggamnya membuat si pemilik menoleh.

"aku tak akan membiarkan mereka membawamu. Sekalipun itu keinginanmu. Katakanlah aku egois, tapi, hhh..." Sehun menghela napas, kembali menatap tangan mereka yang berkaitan "aku benar-benar tak bisa bayangkan bagaimana bangun pagiku tanpa melihatmu." Sehun mendongak menatap Luhan yang langsung memalingkan wajah. Sehun tersenyum meski ini bukan saatnya untuk itu.

"ayo lakukan!"

Luhan menoleh namun tiba-tiba ia di tarik oleh Sehun menuju kearah orang tua mereka.

Lama bercakap-cakap, akhirnya keempat orang dewasa di sana menyadari keberadaan mereka saat Sehun dan Luhan berdiri di belakang sofa kosong yang di himpit kedua sofa tempat orang tua duduk.

"oh, kalian sudah datang ?." Sambut Key langsung berdiri dan menghampiri kedua pemuda itu. Ia hendak menyentuh bahu Sehun namun pemuda itu langsung menepis tangannya membuat Jinki ikut berdiri. Sedangkan kedua orang tua Luhan memberi tatapan yang sulit diartikan.

Sehun beralih menatap kedua mertuanya. Luhan? Entah kenapa ia merasa tak bisa melakukan apapun karna perang batin yang ia alami saat ini. Sebagian dirinya menyetujui rencana ini, tapi, sebagian lagi tidak.

Hhhh…..

"langsung bicara ke intinya."

Key menganga dengan wajah berseri. Ini pertama kalinya ia mendengar Sehun bicara setelah terakhir kalinya 12 tahun lalu. Matanya memancarkan kebahagiaan yang amat sangat mengetahui Sehun tak tutup mulut lagi padanya, ia hendak memeluk Sehun namun pemuda itu beringsut mundur mengingatkan Key sebuah fakta bahwa ini bukan saatnya. Ia lalu manatap Luhan yang masih menatap lurus ke depan lalu menyuru mereka duduk di sofa yang ada di depan mereka.

"beberapa waktu yang lalu, kita sudah membicarakan ini." Jinki memulai dengan pandangan yang mengarah pada Sehun dan Luhan. "kami juga sudah memberitau orang tua Luh—"

"jangan bertele-tele. Katakana, apa yang kita lakukan di sini." Potong Sehun saat Jinki melanjutkan. Jinki terlihat menghela napas dan bersandar lalu mengarahkan pandangannya pada orang tua Luhan, mengisyaratkan sesuatu.

"ekhem!" dehem Kyuhyun menarik perhatian kedua anak muda di sana "aku juga tidak suka bertele-tele. Jadi, maksud kedatangan kami kesini, ingin menjemput Luhan." tak ada yang terkejut dan tetap pada ekspresi wajah masing-masing. Mereka sudah tau ini akan terjadi.

Kyuhyun berdiri diikuti Sungmin yang langsung berjalan kearah Luhan dan Sehun.

"jadi, presdir dan nyonya, Oh. Kami harus segera permisi dulu. Penerbangan ke China sedikit lagi lepas landas. Dan ide kalian benar-benar brilian karna ini solusi untuk pihak kita masing-masing." Tutur Kyuhyun. Key dan Jinki ikut berdiri

"tidak masalah presdir Xi, saya mengerti jika kalian tak bisa berlama-lama. Terimakasih atas kerjasamannya dan jangan sungkan kalau ingin berkunjung kemari, bagimanapun kan kita pernah menjadi besan." Tawa menengahi sebelum Jinki melanjutkan "saya harap, saat pernikahan Sehun kalian bisa hadir. Dan saya harap Luhan juga segera menemukan gadis yang baik untuknya kelak."

"yeah, terimakasih atas do'anya presdir Oh. Ah, Luhan akan menghadiri sidangnya. Kalau begitu, kami permisi dulu. Senang bekerjasama dengan anda." Kemudian Kyuhyun dan Sungmin berjabat tangan dengan Key dan Jinki sebelum beralih menatap Luhan dan Sehun yang masih duduk diam.

"ayo, Luhan." Sungmin menggenggam tangan kanan Luhan agar pemuda itu segera berdiri. Sehun yang duduk di samping Luhan langsung melepaskan tangan Sungmin dari Luhan dan memeluk Luhan. Daeri tadi ia berusaha menahan diri agar tak segera beranjak dari sana dan membawa lari Luhan. Ia coba terus mendengar percakapan kedua orang tua mereka yang sudah ia perkirakan rencananya

"SEHUN!" Pekik Key melihat tingkah anaknya.

"siapapun tidak akan ku biarkan membawa, Luhan!" pekik Sehun tak kala keras. Ia semakin memeluk erat tubuh Luhan membuat pemuda itu kesulitan bernapas

"Sehun?" lirih Luhan dalam pelukan namun masih bisa di dengar oleh Sehun "kau tidak boleh pergi. Kau tidak boleh pergi." Ucap Sehun menggebu.

Key dan Jinki yang geram melihat tingkah anak mereka menghampiri Sehun dan berusaha melepas pelukannya pada Luhan. Kedua orang tua Luhan juga ikut-ikutan menarik Luhan dari pelukan Sehun membuat Sehun menggila dan menendang siapa saja yang berani mendekat. Sebenarnya bisa saja Luhan melawan, tapi ia masih bimbang ingin ikut orang tuanya atau tetap bersama Sehun? Oh, ayolah, kalau ia ikut orang tuanya. Ia akan memiliki kehidupan yang normal. Tapi, ada rasa ketidak inginan meninggalkan Sehun yang begitu kuat dalam dirinya. Sungguh ini menyulitkan Luhan

"Kalian! Sebenarnya apa mau kalian, eoh?! Kalian memaksa kami untuk menikah, kami melakukannya. Dan sekarang! Kalian ingin kami berpisah?! Seharusnya kalian lakukan itu dari awal! Kalau hanya ingin akhir kami yang tersakiti, kenapa harus merencanakan semuanya?! Kalian para orang tua yang egois!" teriak Sehun menggebu-gebu yang kini sudah kembali berdiri di belakang sofa menatap para orang tua yang kewalahan karna sudah tua.

"SIWON!" teriak Jinki. Tak lama seorang bodyguard berbadan kekar mendatangi ruang keluarga itu di ikuti bodyguard lainnya. Sebenarnya dari tadi Siwon sedang mengintip, begitupun beberapa pelayan kediaman Oh yang bersembunyi di balik tembok.

Sehun yang melihat pesuru Jinki mulai berdatangan segera melepas pelukannya pada Luhan dan menggenggam tangan pemuda itu. Membawanya lari namun di hadang beberapa penjaga yang di beri kode oleh Jinki

"MINGGIR!" Teriak Sehun mendorong penjaga-penjaga itu namun mereka dengan gesit menghindar dan tetap menghalangi Sehun

"maaf tuan muda. Kami hanya melaksanakan perintah, maafkan kami." tutur salah satu penjaga seraya menghindari Sehun yang berusaha menendang dan mendorong mereka namun tangan kanannya tak lepas dari lengan kiri Luhan.

"kalau begitu, PATUHI PERINTAHKU! MINGGIR!" Bentak Sehun

"maafkan kami tuan muda."

"Sehun!." Sehun menoleh ke kanan merasa tangannya tak lagi menggenggam tangan Luhan. Pemuda berdarah China yang tadi berdiri di sampingnya kini di angkat oleh Siwon menuju orang tuanya. Sehun tak tau bagaimana jelasnya genggaman tangan itu bisa terlepas.

"LUHAN!" Sehun hendak menghampiri Luhan yang kini sudah berhadapan dengan orang tuanya namun para penjaga tadi langsung mencekal kedua tangan Sehun, membuatnya tak bisa bergerak kearah Luhan dan terus berontak dalam cekalan para penjaga.

"maafkan kami tuan muda."

Dan itu adalah kalimat terakhir yang menyapa indera pendengarnya sebelum Sehun merasa sesuatu mengenai tengkuknya hingga ia jatuh tak sadarkan diri. Ia sempat melihat Luhan menatapnya dengan raut wajah sendu. Benar-benar ia merasa tak berguna dan tak bisa menepati perkataannya pada Luhan. Ia membiarkan Luhan pergi.

.

.D.O.S.

.

Sehun memicingkan mata merasa kepalanya berkedut-kedut. Tangannya terarah memegangi kepala dan mata elang meliknya menelusuri linkup ruang tempatnya berada.

Cklek!

Pemuda itu sama sekali tak ada niat menoleh saat pintu ruangan terbuka. Ia masih merasa pusing dan butuh waktu mengingat kenapa ia bisa berada di sini.

"oh, kau sudah bangun?." Sehun sedikit memutar kepalanya mendengar suara seorang gadis yang tak terlalu asing di telinganya. Sehun mengerutkan alis melihat gadis yang tak biasa bersapa dengannya kini berjalan mendekat ke ranjang tempatnya berbaring.

"kata ahjuma, kalau bangun nanti kau harus minum ini." Gadis itu—Namjoo—mengambil sebuah mangkuk yang terletak di nakas dekat tempat tidur Sehun dan memberikannya pada Sehun yang tengah berusaha untuk duduk. Bukannya langsung mengambil mangkuk, Sehun malah kembali mengedarkan pandangan ke isi ruangan dengan mata memicing. Ia terheran-heran, ini memang kamarnya, kamarnya dan Luhan. Tapi, kenapa saat bangun malah Namjoo yang pertama kali di lihatnya? Kemana Luhannya?

"Kau mencari apa?" Tanya Namjoo sadar dengan tingkah Sehun. Namun pemuda itu diam dan tetap mengedarkan pandangan. Ia juga hendak menuruni ranjang, tapi Namjoo langsung mencegahnya "kau belum terlalu pulih. Pasti kepalamu terasa pusing bukan? Ayo, berbaring saja." Namjoo menyentuh Sehun dan mendapat tepisan tangan dari pemuda itu. Sehun menatapnya tajam membuat Namjoo beringsut mundur sedikit takut.

"Luhan?" panggil Sehun mengetuk pintu kamar mandi namun tak mendapat sahutan dari dalam sana hingga ia beralih keluar kamar memanggil nama Luhan sambil memegangi kepala berjalan pelan-pelan. "Luhan? Kau di mana?..."

"Luhan?"

"Se-Sehun." yang di panggil tak memperdulikan Namjoo dan terus berjalan menuruni tangga menuju dapur

"Luhan?"

"Se-Sehun, Luhan tidak ada." Sehun berbalik. Ia memicingkan mata menatap Namjoo "ka-kata Ahjuma, Luhan sudah kembali ke China." Namjoo menunduk melihat tatapan memicing Sehun berubah tajam. Sebenarnya ia ingin bertanya kenapa Luhan kembali ke China. Tapi, melihat reaksi Sehun membuatnya mengurungkan niat.

Kepala Sehun yang tadinya terkulai malas-malasan, kini ia tegakkan dengan bola mata yang tak focus. Ia tak perduli dengan sakit kepala saat semua syaraf otaknya mengembalikan semua ingatan tentang kejadian tadi malam. Ia langsung berlari keluar rumah sambil meneriakan nama Luhan. Namjoo kaget akan teriakan menggelegar Sehun langsung menyusul pemuda itu yang berlari tanpa alas kaki di pinggir jalan.

"LUHAN! LUHAN! TUNGGU AKU! LUHAN!" Sehun tak perduli jika orang menganggapnya gila atau pita suaranya yang terancam rusak. Yang ada dalam pikirannya adalah Luhan, ia harus berlari secepat mungkin agar bisa menyusul Luhan kebandara. Entah ia tau atau tidak pesawat yang di tumpangi Luhan sudah lepas landas tadi malam.

Sebuah mobil yang melaju berlawanan arah dengan Sehun terhenti. Key keluar dari mobil terheran-heran bingung apa yang terjadi. Wanita itu beralih menatap Namjoo yang tertinggal jauh di belakang Sehun.

"ahjuma, kejar Sehun, ahjuma." Tanpa bertanya situasi karna kebingungan, Key langsung berlari menyusul Sehun namun tiba-tiba ia berhenti dan berbalik kearah mobilnya. Hehh…. Kenapa harus repot berlari kalau kau membawa mobil?

Orang-orang di pinggir jalan di buat heran dengan aksi 3 orang itu. Key morogoh tasnya mengambil handphone dan menghubungi seseorang sambil mengendarai mobil mensejajarkan laju lari Sehun. Kalau bertindak sendiri akan sangat memalukan karna sekarang mereka telah berada di pusat kota dan Sehun benar-benar tidak perduli dengan orang-orang sekitar yang menganggapnya gila. Ia hanya terus berlari dan berteriak. Namjoo sudah menyerah dan terduduk di trotoar sambil menggenggam alas kaki Sehun yang hendak ia berikan pada si pemilik namun ia tak sanggup mengejar pemuda itu. Key? Ia terperangkap di jalan yang padat oleh pejalan kaki hingga mengharuskannya menyetir pelan-pelan dan rela kehilangan jejak Sehun yang sudah jauh di depan.

Sehun terus berlari, ia tak merasa kakinya lelah atau keringat yang beringsut keluar membasahi bajunya. Ia hanya memikirkan Luhan, hanya Luhan. Ia bahkan tak perduli dengan beberapa orang yang ia tabrak dan mencacinya atau stand-stand di pinggir jalan yang sempat di senti olehnya dan membuat si penjual mengadu. Semuanya tidak penting. Yang terpenting sekarang, ia harus mengejar semangat hidupnya. Ia tak mau hidup seperti dulu, dimana di kehidupan sebelum ia bertemu dengan Luhan. Sehun yang seperti robot

Ia bahkan tak perduli seberapa jauh bandara Incheon dengan pemukiman Gangnam. Ia akan tetap berjuang dengan kedua kakinya yang tak kenal lelah asalkan itu untuk Luhan.

"tuan muda Sehun!"

Sehun bahkan menulikan telinganya saat beberapa orang yang sudah pasti pesuru orang tuanya berteriak dan mengejarnya. Beberapa dari mereka ada yang menggunakan mobil hingga dapat mengejar dan menahannya. Ia berontak

"LEPASKAN AKU! LEPASKAN BRENGSEK!1 LUHAAAAANNN! LUHAAANNN!"

Orang-orang berlalu lalang berhenti menyaksikan kejadian itu, bahkan ada juga yang mengambil gambar atau video dan mengirim ke internet membuat beberapa wartawan mulai berdatangan untuk meliput kejadian itu. Oh Sehun? Putra tunggal dari pemilik Volswagen grup sekaligus cucu dari Enzo Ferrari pemilik Scuderia yang terkenal itu, siapa tidak mengenalnya?

Entah apa yang akan di tayangkan berita TV atau surat kabar tentang perusahaan dan anak itu melihat tingkah memalukannya. Sehun yang tadinya masih berontak kini melemas dan menangis sambil menyebut nama Luhan. Hal langkah yang tak pernah di saksikan oleh siapapun yang mengenal sosok Sehun si pangeran es kutub.

.

.D.O.S.

.

Other side

Pluw….

Seorang menyalakan TV di depan pemuda yang menatap lurus ke TV itu. Hanya saja, tatapannya terlihat begitu kosong. Namun, melihat berita yang di tayangkan di TV, pemuda itu langsung bereaksi dan kali ini fokusnya benar-benar ke TV. Suara di sana begitu bising membuatnya hanya bisa menangkap beberapa penggal kalimat yang di sampaikan reporter. Matanya melihat dengan jelas pemuda yang di kerumuni beberapa orang berpakaian hitam. Pemuda itu terlihat kacau dan menangis, mulutnya terlihat menyebut sesuatu yang sama berualang-ulang.

Pemuda itu—Luhan—bisa menangkap si reporter berkata bahwa Sehun—pemuda yang ada di TV—memiliki gangguan jiwa. Ia terus memanggil seseorang yang di yakini kekasihnya sambil menangis. Beberapa orang di sana juga ikut di mintai komentar. Ada yang mungkin terlalu banyak menonton drama TV berkata kalau hubungan Sehun dan kekasihnya itu di tentang orang tua lalu kekasihnya pergi dan Sehun berniat mengejar namun di cegah orang tuanya. Tapi, itu memang benar, hanya saja, Luhan tidak tau mereka di tentang atau tidak. Mereka di pisahkan

Reporter juga berkata ini berdampak untuk perusahaan karna bagaimanapun Sehun adalah pewaris satu-satunya. Lalu, bagimana nasib Volswagen grup bahkan Scuderia jika Sehun benar-benar memiliki masalah kejiwaan?

Kini Luhan melihat Sehun di angkat orang-orang yang Luhan yakin pesuru Jinki ke dalam mobil. Beberapa wartawan terlihat menempel di kaca mobil guna mencari informasi, tapi Luhan tak bisa melihat kelanjutannya karna orang tadi mematikan TV.

Luhan kalut. Matanya berkeliaran ke kiri dan kanan memikirkan sesuatu. Ia merasa sebuah pukulan di dada melihat kondisi Sehun yang seperti itu.

"hhh…. Aku harap, kau memikirkannya lagi. Kalian sama-sama bodoh. Dan entah kenapa aku harus terlibat dalam masalah bodoh kalian. Ck!" pemuda itu—Kris—berjalan ke pintu dan membukanya sebelum menoleh pada Luhan "kalau sudah memutuskan. Hubungi aku atau Kai." lalu ia keluar dari ruangan yang di tempati Luhan.

.

.D.O.S.

.

.

HUNHAN

.

3 BULAN KEMUDIAN

Pemuda itu terkulai lemas di atas meja makan. Ada begitu banyak menu favoritenya tersaji di sana, namun tak satupun yang tersentuh sendok makan si pemuda. Kepala dan tangannya berada di atas meja dengan mata tertutup yang di liputi lingkaran hitam di bawah mata. Kulitnya begitu pucat dan badanya terlihat lebih kurus dari sebelumnya. 3 bulan belakangan ia tak pernah melakukan hal yang seharusnya ia lakukan, ia hanya berdiam diri layaknya mayat hidup.

Nafas lemahnya terdengar oleh wanita paruh baya yang duduk di sampingnya. Wanita yang sedari tadi menatap sendu sang putra. Putranya memiliki raga, namun seakan tak ada jiwa yang bersemayam dalam tubuh kurusnya.

"Sehun-ah…." Setetes liquid menganak sungai di pipi Key, namun segera di hapusnya dengan telapak tangan. Ia tak pantas menangis karna ialah yang membuat putranya seperti ini. Ia hanya pantas di hukum dan menyaksikan putranya seperti mayat hidup benar-benar bukan hukuman yang ia inginkan.

Key merasa gagal jadi orang tua. Sekeras dan sekuat apapun ia meyakinkan Sehun kalau ia tidak menentangnya dan Luhan. Ia hanya ingin mereka memiliki hidup yang benar berdampingan dengan wanita. Bukan pria dengan pria.

Kakeknya menikahkan mereka agar Kyuhyun tak perlu menukar uang yang di tanamkan Enzo pada XIX dan menjalin kerjasama tanpa tentangan dari pihak manapun karna semua pemilik saham akan beranggapan kedua perusahaan akan tetap di satukan walau mereka menentang karna hubungan anak mereka. Beberapa cabang perusahaan memang di satukan, tapi, mereka masih kekurangan dana untuk proyek baru yang akan di galuti kedua perusahaan itu hingga alasan Luhan tak bisa memberi keturunan menjadi kunci alasan para orang tua. Lagi pula, dari awal, ini hanya ide yang di cetuskan dan di junjung oleh Enzo. Sementara kedua pihak orang tua hanya ikut karna di butakan kekuasaan. Dan merasa tidak puas, anak mereka menjadi korban.

Key sudah tak perduli lagi dengan berita seputar perusahaan dan nama keluarga yang tercemar di luar sana. Ia tidak perduli media masa berkata Luhan dan Sehun di paksa menjadi gay oleh orang tua mereka dan setelah itu mereka di pisahkan karna gay tidak bisa memiliki keturunan. Yeah, tentu saja setelah kejadian Sehun yang berlari sepanjang jalan layaknya orang gila mengundang keingintahuan para pemburu berita. Dan usaha mereka tidak sia-sia dengan adanya berita entah itu perusahaan, Sehun, kedua orang tua atau,,, Luhan yang menghilang.

Benar!

Jika Luhan ada di rumahnya, Key akan segera menemui anak itu dan membawanya ke hadapan Sehun hingga ia tak perlu menyaksikan putranya menjadi mayat hidup. Namun, sayangnya Luhan tak bersama orang tuanya. Keluarga Luhan juga terpuruk karna kehilangan anak mereka. Semua benar-benar kecau. Orang tua Luhan tak tau persis bagaimana kejadian malam itu saat mereka kehilangan Luhan.

Tak bertemu Luhan saja Sehun sudah seperti ini, apa lagi meminta mereka bercerai? Cih! Jika Key orang tua yang tak punya hati. Mungkin ia sudah melakukannya. Tapi, itu tidak mungkin, selain Key masih punya hati, Luhan belum menandatangani surat cerainya karna masalah hilangnya anak itu.

Pernikahan Sehun dan Namjoo di batalkan karna mereka tak memiliki bukti persetujuan Luhan sebagai istri pertama. Lagi pula, Jonghyun mempercayai berita Sehun memiliki gangguan jiwa setelah di tinggal Luhan dan ia tak mau anaknya menikah dengan orang sakit jiwa. Key dan Jinki tidak perduli kontrak dengan Hyundai grup di batalkan karna mereka lebih peduli pada Sehun.

Sehun tak masuk sekolah selama 3 bulan, makan dari cairan yang di suntikan ke tubuhnya karna Sehun sama sekali tak mau makan walau di paksa, saat malam, Sehun memang menutup mata, tapi, Key tau ia tak bisa tidur.

Beberapa kali Key berkunjung ke kamar Sehun tengah malam dan menyaksikan putranya itu menangis sambil menatap layar Smartphonenya yang menampilkan gambar Luhan. Anaknya benar-benar mencintai Luhan hingga ingin mati saat pemuda itu tak di sampingnya dengan menyiksa dirinya sendiri. Key merasa ia orang tua yang keterlaluan.

Para pelayan membaringkan Sehun di ranjangnya. Matanya tertutup, tapi Key tau ia tidak sedang tidur, hanya terlalu lelah atau mungkin lemah membuka mata. Key menutup mulut menahan isak tangis yang hendak lolos dari mulutnya. Sudah ia katakana ia tak pantas menangis, tapi ia tak bisa menahannya. Sehun benar-benar terlihat menyedihkan, bahkan, kalau bukan suntikan-suntikan obat dari dokter. Mungkin Sehun sudah tak bersamannya lagi saat ini.

"nyonya…" seorang pelayan masuk dan langsung menghadap Key "ada teman-teman tuan muda yang ingin bertemu tuan muda." Tanpa bertanya, Key tau siapa saja teman yang di maksud. 1 bulan setelah kejadian memalukan di jalan, Key bahkan tak mengizinkan teman-temannya datang berkunjung karna menurutnya teman-teman Sehun juga bisa jadi penghalang dan menentangnya seperti Sehun malam itu, ia mengira teman-temannyalah yang mempengaruhi Sehun jadi suka menentangnya seperti malam itu.

Namun, lama kelamaan keadaan Sehun semakin kacau hingga Key tak tau harus berbuat apa. Ini kali pertama teman-teman Sehun kembali berkunjung setelah semua usaha mereka 1 bulan setelah kejadian itu sia-sia karna Key tetap melarang hingga mereka menyerah.

"suru mereka masuk." Ucap Key tanpa melihat si pelayan yang langsung pergi guna melaksanakan perintah. Tak beberapa lama kemudian, teman-teman Sehun memasuki kamar di mana Sehun dan Key berada.

Mereka mendekat keranjang Sehun dan langsung terdiam kaku dengan raut wajah yang sulit di artikan. Ini kali pertama mereka melihat Sehun selama 3 bulan, dan pemandangan manusia itu tidak seperti yang mereka harapkan. Bahkan mereka ragu menyebut Sehun manusia atau seharusnya…. mayat.

"ahjuma tidak tau lagi harus berbuat apa." teman-teman Sehun menatap Key "dia tidak mau makan dan melakukan sesuatu. Ia hanya menyiksa diri selama 3 bulan belakang. Tidak! Bukan ia yang menyiksa diri, tapi aku yang menyiksanya." Key terisak "aku yang telah membuat putraku seperti ini." Key terisak lagi

Baekhyun yang masih sama posisinya saat ada Chanyeol hendak menghampiri namun Chanyeol langsung menrik pemuda itu kembali dalam rengkuhannya, Baekhyun hanya memutar bola mata. Lama-lama ia bosan juga kalau terus di perlakukan seperti itu. Bahkan ia pikir semua anggota tubuhnya hanya di pergunakan untuk Chanyeol karna semua yang ingin di lakukan Baekhyun, Chanyeol pasti langsung mengambil alih dan ia hanya perlu berdiri di dekat pemuda jangkung itu tanpa perlu melakukan apapun. Semua anggota tubuhnya hanya boleh bergerak untuk melayani Chanyeol. Tidak yang lain.

Dan niat ingin menenangkan Key tadi, Baekhyun rasa Chanyeol tak perlu mengambil alih karna Kyungsoo sudah melakukannya. Key terisak di pelukan Kyungsoo sambil menyalahkan dirinya sendiri "ahjuma, ini bukan salah ahjuma. Jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri. Sehun hanya terlalu mencintai Luhan."

Key tak perduli dengan ucapan Kyungsoo, ia tetap menyalahkan dirinya sendiri.

"ahjuma! Boleh kami membawa Sehun? Kelihatannya dia akan mati."

PLAK!

Satu pukulan keras Kris layangkan di kepala Kai yang seenaknya berkata. Key sampai melepas pelukan Kyungsoo dan melihat keadaan Sehun yang masih bernapas. Teman Sehun yang satu itu sedikit phabbo menurut Key.

"kenapa kau memukulku?" Kai memegang belakang kepalanya yang tadi terhuyung kedepan karna pukulan Kris dan menatap pemuda itu dengan raut wajah aneh.

"makannya jangan bicara sembarangan! Kau mendoakan Sehun mati? Phabbo!"

"aku tidak mendo'akannya—"

"YAK!" teriak Baekhyun membuat semua yang ada dalam ruangan menutup telinga mereka masing-masing kecuali Sehun tentunya. Kai dan Kris langsung terdiam.

Key mengambil handphonenya yang berbunyi di keheningan setelah teriakan Baekhyun.

"ahjuma keluar dulu, sebaiknya kalian jangan terlalu berisik." Ucap Key hendak berlalu di balik pintu

"ahjuma." Panggil Kyungsoo membuat Key berhenti dan menoleh "bolehkah kami mengajak Sehun keluar?" Key mengangkat sebelah alisnya dan menatap semua teman Sehun yang terlihat ingin mengutarakan hal yang sama. Ia lalu beralih menatap Sehun

"mungkin dia terlalu penat di dalam ruangan. Siapa tau, dengan menghirup udara segar di luar bisa membuat kondisinya lebih baik." Tutur Kyungsoo membujuk "percayalah pada kami, ahjuma. Sehun akan baik-baik saja bersama kami." Tambah Kyungsoo cepat melihat Key yang sepertinya tak akan mengizinkan mereka.

"hhh…. Baiklah, tapi jangan terlalu lama. Segeralah kembali sebelum siang." Dengan itu, Key berlalu di balik pintu meninggalkan teman-teman Sehun yang langsung berteriak senang dalam hati.

.

.

.

"mengerikan."

"bisa ku bayangkan saat ia membuka mata dan bola matanya menjadi merah."

"ya, dia terlihat seperti vampire. Kulitnya juga sangat dingin."

"kita seperti membawa mayat."

Ketiga orang lainnya terus berkomentar sambil menatap Sehun yang duduk di jok kedua. Kai bahkan sampai merinding dengan ucapannya sendiri mengumpamakan mereka membawa mayat.

"Sehun? Kau bisa mendengarku?." Ucap Kyungsoo yang duduk di samping Sehun namun tak ada reaksi apapun dari pemuda lemas itu. Semua yang ada di dalam mobil hanya menghela napas.

"aku yakin, Luhan akan langsung lari kalau melihatmu seperti ini. Ia pasti ketakutan karna mengira kau mayat hidup." Ucap Kai yang langsung melotot melihat pergerakan di kelopak mata Sehun. Begitu juga dengan Kyungsoo. Kris yang penasaran sedikit melirik kaca spion dalam dan kembali memfokuskan pandangan menyetir. Sedangkan Baekhyun dan Chanyeol? Waah,, sayang sekali, mereka tidak berada di dalam mobil yang sama.

"Sehun? Sehun?." Kyungsoo memegang pundak Sehun ketika mata pemuda itu sepenuhnya terbuka. Sehun mengerjab lemah dan berusaha menatap orang di sekitarnya namun, nyatanya mata sayu itu hanya bisa menatap langit-langit mobil. Mulutnya sedikit terbuka ingin menyampaikan sesuatu namun terlalu lemah untuk di gerakan.

"apa?." sepertinya, dari semua orang di sana. Hanya Kai yang mengerti gerak-gerik Sehun membuat yang lain terheran-heran dengan pemuda berkulit tan itu. "apa? Kau ingin bilang apa?." Kai berdiri dari kursinya di jok depan dan berbalik sepenuhnya menghadap belakang menatap Sehun yang terus menggerakan bibirnya meskipun susah.

"uwaa? Uwa apa? Aku tidak mengerti, Sehun!." Kai mengerutkan alis. Terdengar helaan napas dari Sehun sebelum matanya tertutup kembali "kau membutuhkan sesuatu, Sehun?." Tanya Kyungsoo yang sedari tadi diam memperhatikan Sehun dan Kai. Pemuda berkulit semakin pucat itu mengangguk lemah

"apa? Apa yang kau butuhkan?." Kyungsoo merasa seperti bicara sendiri karna Sehun tak menanggapinya. Yah, setidaknya pemuda itu bisa membuka mata bukan? Tapi, ia tak melakukannya.

"Kau butuh Luhan?." Sehun langsung mengangguk lemah mendengar ucapan Kris. Sepertinya Kris cepat tanggap saat Kai menyebut nama Luhan tadi dan Sehun langsung bereaksi. Ternyata benar, Sehun akan langsung bereaksi jika menyinggung soal Luhan.

"hhh… makannya kau jangan jadi orang yang hemat bicara dan memilih orang untuk membuka mulut. Akhirnya kau benar-benar tidak bisa bicara."

PLAK!

"YAK! Kenapa kau memukulku lagi?!" protes Kai menatap Kris yang baru saja melayangkan telapak tangan kanannya di kepala Kai.

"itu karna kau bicara tidak di saring dulu."

"tidak perlu! Itu kenyataan bukan? Sehun tidak bisa bicara karna dia pelit membuka mulutnya." Kris hendak melayangkan lagi telapaknya namun Kai segera menghindar tapi—

PLAK!

Kai langsung menoleh sambil memegangi kepalanya. Sepertinya ia akan menjadi bodoh setelah ini

"ke-kenapa kau juga memukulku?." Kai tidak membentak seperti yang ia lakukan tadi pada Kris saat pemuda jangkung itu memukulnya. Ia malah berkata dengan nada lembut pada Kyungsoo si pelaku pemukulan barusan.

"karna Kris tidak memukulmu." Kai beralih menatap Kris yang tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Kyungsoo. Pemuda berkulit tan itu memang tidak akan membalas atau protes berlebihan kalau dengan Kyungsoo, harusnya dari tadi saja Kris gunakan Kyungsoo untuk memukulnya. Kai langsung berbalik dan duduk dengan raut wajah kesal di kursinya. Sementara Kyungsoo hanya terkekeh.

.

.

.

Kyungsoo mendorong kursi roda Sehun memasuki sebuah rumah yang diikuti Kai dan Kris di belakangnya. Rumah itu terasa familiar, suasananya begitu terasa bagi Sehun hingga ia tak perlu membuka mata guna melihat rumah siapa itu. Kursi roda yang di naikinya terus berjalan hingga tiba-tiba berhenti membuat Sehun bertanya-tanya. Ia lalu mendengar suara Kyungsoo di belakangnya

"kau bilang, kau membutuhkan Luhan bukan?" Sehun membuka mata hingga ia dapat melihat sebuah pintu di hadapannya. "dia ada di dalam. Temuilah." Setelahnya Kyungsoo mengetuk pintu bercat hitam itu lalu pergi bersama Kai dan Kris meninggalkan Sehun sendirian di depan pintu.

Sehun sendiri sudah berdebar-debar tak karuan. Teman-temannya benar-benar sialan. Mereka itu, bisakah memberitaunya dulu kalau ia akan bertemu Luhan? Tak taukah mereka kalau Sehun belum mempersiapkan dirinya. Dan lagi, apa mereka yang menyembunyikan Luhan? Tapi, kenapa selama ini tidak memberitau dan membiarkannya tampak menyedihkan seperti ini? Ah, mereka memang tak bisa memberitaunya karna kekangan Key. Ck! Bagaimana kau melupakan itu Oh Sehun?

Oh Tuhan! Sehun benar-benar tak tau harus berbuat apa jika pintu terbuka dan memperlihatkan Luhan yang berdiri di sana. Sehun panic dan gugup, entah kekuatan dari mana tangannya yang lemah bisa ia gunakan untuk memutar kursi roda membelakangi pintu. Ia tak siap, ia akan segera meledak jika tiba-tiba melihat Luhan.

Bukan apa, ia memang merindukan pemuda itu. Tapi, mereka tidak bertemu cukup lama_ tidak! Menurut Sehun 3 bulan itu sangat sangaaaaaaat lama. Ia takut, tubuhnya yang belum bisa di gerakan secara bebas karna terlalu sering diam tiba-tiba menerjang Luhan dengan pelukan meskipun ia tak yakin ia bisa melakukannya. Tapi, bagaimana kalau ia bisa karna melihat Luhan? Semangat hidupnya, ia takut beberapa syaraf tubuhnya patah karna gerakan tiba-tiba dan akhirnya yang paling ia takutkan, itu akan jadi terakhir kalinya ia memeluk Luhan. Ini semua gara-gara teman-temannya.

Cklek…

Sehun menahan napas. Ya Tuhan! Benarkan Luhan ada di belakangnya?

"nu-nuguya?" suara itu, Sehun benar-benar merindukannya. Oh, andai kau tau Luhan? Jika Sehun tak dalam kondisi seperti itu. Ia pasti sudah menerjangmu dengan pelukan dan mengutarakan semua rasa rindunya selama ini terhadapmu.

Sementara Luhan yang berdiri di belakang Sehun menatap orang yang duduk di kursi roda dengan intens. Ia tidak berpikir kalau itu Sehun karna fisik Sehun yang sangat berubah. Tapi, ia coba menebak

"Se—Sehun?" ia hanya menebak karna nama orang itu yang selalu di pikirkan dan di ucapkannya selama ini. Tapi, entah kenapa ia merasa orang di kursi roda itu sedikit tersentak membuatnya penasaran dan berjalan ke depan guna melihat wajah si pemuda hingga saat itu pula ia membeku. Napasnya tercekat dengan mulut dan mata terbuka lebar.

Sehun sendiri tak jauh beda dengan Luhan. Ia juga tercekat tapi mata dan mulutnya tak terbuka lebar. Ia hanya menatap dan menelusuri tubuh Luhan dengan mata sayunya. Luhannya masih sama, hanya sedikit kurus, apa dia makan dengan benar? Oh Sehun, bahkan kondisimu saja seperti ini kau masih memikirkan Luhan makan dengan benar atau tidak? Aigoo! Tapi, ada sesuatu yang mengganggu pemandangan Sehun. Ada yang aneh dari Luhan, maksudnya tubuh Luhan.

Benar

Sehun bahkan dapat merasakan itu saat Luhan menerjangnya dengan pelukan. Sesuatu yang aneh itu tepat menyentuh kaki Sehun, tapi ia tak memikirkannya karna tangan pemuda pucat itu bergerak guna membalas pelukan Luhan. Jangan tanya dari mana ia mendapat energy melakukan itu, tentu saja dari Luhan. Bukankah ia pernah berkata kalau Luhan adalah sumber kehidupannya?

"mianhae, mianhae, mianhae karna aku diam saja saat mereka membawaku." Ini yang tidak Sehun inginkan, Luhan hanya berkata maaf sambil menangis saat bertemu dan ia tak bisa melakukan sesuatu bahkan untuk mempererat pelukannya agar Luhan lebih tenang

"mianhae karna membiarkanmu di pukuli para penjaga dan aku diam saja." Sehun memejamkan mata, ia tidak ingin mendengar semua itu, ia tak butuh maaf Luhan karna Luhan tidak salah. Tak ada yang harus di maafkan

"mianhae karna membiarkanmu memperjuangkan semuanya sendiri malam itu."

Berhenti, ku mohon, berhenti mengungkitnya.

"mianhae karna tidak berani menemuimu selama ini karna kebimbanganku."

Berhenti!

"mianhae karna membuatmu seperti ini."

Lu, kumohon berhenti mengucapkan maaf.

"mianhae karna baru menyadarinya…" Luhan mendongak menatap Sehun masih dengan posisi yang sama. Sehun bisa melihat aliran sungai kecil di pipi Luhan. Hatinya mencolos melihat itu karna Luhan tak pernah menangis di hadapannya, tangan yang tadi memeluk Luhan kini beralih meraih wajah Luhan guna mengusap sisa-sisa air mata pemuda itu, membuat si pemuda pemilik hati Sehun tersenyum lembut.

"saranghae.."

Dengan kata itu Sehun kembali membeku, tangan yang tadi berada di pipi Luhan kini terdiam di udara karna pipi pemuda bermata rusa itu tepat berada di depan wajahnya dengan bibir yang menyentuh bibirnya. Hanya kecupan singkat namun Sehun masih membeku tak berkedip, bahkan mungkin pemuda itu juga tak bernapas membuat Luhan khawatir.

Apa ini mimpi?

Luhan… mencintainya? Benarkah cintanya terbalaskan? Benarkah ini? Oh Tuhan, jika ini hanya mimpi. Sehun harap ia tak akan bangun selamanya.

"Sehun?! Sehun?! Kau kenapa? Jangan membuatku takut, Oh Sehun!" Luhan terus mengguncang tubuh Sehun hingga pemuda itu sadar sepenuhnya kalau ini bukan mimpi. Ini nyata, tapi, ia masih ragu. Apa telinganya baik-baik saja? Masihkah berfungsi dengan baik? Entahlah, Sehun harap Luhan mengulangi kalimat tadi agar ia yakin kalau ia tidak sedang bermimpi.

"eum? Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Luhan bingung melihat Sehun bergumam menggerak-gerakan bibirnya. Sehun mengehela napas panjang

"u-ulanghih" ucap Sehun susah payah. Sungguh, ini pertama kali suaranya keluar selama 3 bulan. See? Bahkan pita suaranya yang kaku kini melunak di hadapan Luhan

"ulangi apa?" Sehun meraih wajah Luhan dan mengusap pipinya

"sa-satu kal—imat tadih" Luhan mengerutkan alis tak mengerti. Ia terlihat berpikir sambil menatap lekat mata sayu Sehun hingga dapat membaca maksud dari pemuda itu dan membuang muka setelah menemukannya, namun tak melepas belaian Sehun di pipinya.

"tidak ada siaran ulang." Ucapnya ketus, Sehun hanya tersenyum. Ia senang melihat Luhan seperti ini.

"ti—dak apa-apa, hhh…. It-u artinyah, akuh ti-dak salah, dengar." Luhan langsung menatap Sehun dan hendak protes namun telunjuk Sehun langsung menempel di depan bibirnya, membuat Luhan terdiam menatap pemuda itu

"na-doh sa-saranghae.." Sehun tersenyum dengan lembut lagi, Luhan ikut tersenyum. Setelahnya Luhan berdiri dan mendorong kursi roda Sehun memasuki ruangan dengan pintu bercat hitam tadi. Tidak enak juga di perhatikan beberapa pelayan yang lewat di sekitar mereka tadi.

"apa eomma, eum, maksudku ahjuma tau kau—"

"kenaphah memanghilnya ahjumamah? Di-dia masih mertuamu." Sebenarnya Sehun tak mau mengakui kalau Key masih mertua Luhan, mngingat perlakuan wanita itu 3 bulan lalu memisahkan mereka. Tapi, bagaimanapun kenyataannya Key adalah eommannya dan mertua Luhan. Mereka tidak bercerai bukan?

"jadi, apa eomma tau kau kesini? Dan bagaimana kau bisa di sini dengan keadaan seperti itu? Lagi pula, dari mana kau tau aku ada di sini? Ah iya, apa kau sudah makan? Kau terlihat sangat kurus, tidak! Kau bahkan terlihat akan mati—"

"Luhan!." Luhan langsung membungkam mulutnya melihat Sehun yang memegangi kepala. Ia beranjak dari duduknya dan bersimpuh di lantai menghadap Sehun.

"kau tidak apa-apa?" tanyanya melihat Sehun yang terus memegangi kepala. Pemuda itu lalu menatap Luhan

"tanyakan satu satuh." Sehun mengelus rambut Luhan "a-aku belum makanh." Dari sekian banyak pertanyaan, hanya itu yang dapat ia jawab sekarang karna memang benar, ia belum makan dan kelaparan. Luhan menggenggam tangan Sehun yang ada di rambutnya dan meletakan tangan mereka yang terpaut di atas paha Sehun.

"sebenarnya selama ini kau makan dengan benar atau tidak? Rasanya tanganku bisa langsung menembus tulangmu." Luhan menatap tangan Sehun. "heum, baiklah, tunggu sebentar, biar aku ambilkan makanan untukmu." Luhan hendak beranjak namun Sehun menahannya karna dari tadi ia ingin menanyakan sesuatu.

"sebelum itu, a-akuh ing-in bertanya." Luhan kembali bersimpuh, Sehun melirik kebawah tubuh Luhan "pe-perutmu kenapa?" Luhan menatap perutnya sebelum memukul kepalanya sendiri.

"ah, aku lupa." Sehun mengerutkan alis, Luhan terlihat sangat senang "kau tidak perlu menikahi Namjoo untuk mendapat keturunan. Aku juga tidak akan membiarkan itu terjadi." Sehun bingung, kalau penuturan Luhan yang kedua ia mengerti, tapi yang pertama?

"aku sedang mengandung." Mata Sehun yang sedari tadi sayu tiba-tiba melebar sempurna. Apa ia tidak salah dengar?

"kau bilang apa tadi?" bahkan Sehun heran sendiri dengan cara bicaranya yang tiba-tiba lancar. Luhan tersenyum makin lebar hingga memperlihatkan deretan gigi depannya

"ck! Kenapa kau selalu meminta siaran ulang?." Luhan melipat tangannya di depan dada "ku bilang aku sedang mengandung, mengandung anakmu." Kesalnya, Sehun masih bengong. Bagimana bisa? Luhan? Diakan seorang pria..

"a-aku tidak salah dengarkan?" Luhan memberikan deatglear pada Sehun "m-maksudku, kau... kau kan seorang namja." beberapa saat kemudian mereka bertahan dengan ekspresi masing-masing hingga Luhan yang lebih dulu mengubah raut wajahnya seperti menahan tawa, dan detik berikutnya tawa pemuda itu benar-benar lepas membuat Sehun terheran-heran seperti orang bodoh

"hahahaha… aduh, Sehun.." Luhan terduduk di lantai sambil memegangi perut buncitnya hingga beberapa saat kemudian ia berhenti karna lelah "lihat, hal ini bisa membuatmu bicara seperti biasa" Sehun masih dengan ekspresi sama. Luhan kembali mendekat dan meraih tangan Sehun lalu meletakan telapak pemuda itu di perut buncitnya. "apa yang kau rasakan?"

Sehun menatap lekat mata Luhan dengan alis berkerut, ia lalu mengelus dan menekan perut buncit Luhan "apa ini?" Luhan terlihat menhan tawa lagi sebelum menarik sesuatu dalam perutnya hingga perutnya kembali rata seperti semula. Sehun memasang wajah datar seperti biasa.

"hahaha seharusnya kau melihat wajahmu tadi, Oh Sehun!" canda Luhan, Sehun masih memasang wajah datar membuat Luhan berhenti tertawa dan menatap Sehun canggung "wa-wae? Tidak lucu yah?" ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "ehem! Kalau begitu aku ambil makananmu dulu." Luhan beranjak dari tempatnya hendak keluar namun tiba-tiba pintu kamar itu terbuka menampakan seorang maid yang membawa sebuah meja dorong dan meletakan meja itu di dekat nakas sebelum pamit pergi. Luhan menghampiri meja dorong itu.

Sepertinya ia tak perlu repot-repot keluar kamar untuk mengambil makanan karna maid tadi sudah mengantarkannya. Tepat sekali pikir Luhan. Iapun mengambil sebuah soup dan menghampiri Sehun

.

"kenapa kau memakai benda seperti itu di perutmu?" tanya Sehun sambil mengunyah sayuran soup yang di suapkan Luhan ke mulutnya

"kata Baekhyun suapaya aku terbiasa." Sehun mengerutkan alis "mereka punya rencana yang entahlah, aku tidak tau, katanya ia akan mengatakannya kalau mereka bisa menemuimu." Sehun mengangguk saja walau sedikit tak mengerti dan ingin bertanya lagi

.

.

.

"MWO?!" pekik Sehun dan Luhan bersamaan

"yeah, Key ahjuma dan Jinki ajushi mungkin akan membiarkan kalian tetap seperti ini setelah melihat kondisi Sehun. Tapi, Sungmin ahjuma dan Kyuhyun ajushi akan menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan mantu seorang yeoja agar keluarga Xi tetap memiliki penerus." Jelas Kris panjang lebar

"ta-tapi," Sehun menatap Luhan ragu-ragu, begitupun dengan Luhan "mengadopsi anak?" mereka berdua lalu menatap teman-teman mereka

"yeah, hanya kalian yang tau itu anak adopsi. Orang lain akan percaya dengan ucapan kalian yang berkata 'dia anak kandung kami'. Ah, tidak, aku rasa kalian membutuhkan Enzo haraboji untuk hal ini." jelas Kris lagi menatap Sehun dan Luhan bergantian

Luhan dan Sehun kembali bertatapan sebelum menatap Kris "kenapa menyangkut pautkan haraboji?" bingung Sehun. Kris melempar pandang pada yang lain

"karna sebuah kata tidaklah cukup. Kalian membutuhkan Enzo haraboji, dia bisa membuat scenario ini makin sempurna di hadapan orang lain. Yah, kau tau sendiri bagaimana hal yang tak mungkin bisa menjadi mungkin di tangan Enzo haraboji, bukan? Bilang saja, Enzo haraboji menghubungi seorang ahli untuk hal-hal intim seperti itu dan pembuahan ehem! Kalian harusnya sudah mengerti, aku tidak mau menjalaskannya lebih lanjut!" Kyungsoo menggantikan Kris untuk menjelaskan.

"yeah, sebut saja itu, kemajuan teknologi. Bagaimanapun Luhan seorang namja. Dan orang tidak akan percaya keajaiban namja mengandung. Kecuali, Luhan namja transgender yang tak mengizinkan para dokter mengangkat system reproduksinya saat operasi. Lagi pula, kalau memang namja bisa mengandung, memangnya kau mau mengandung, Luhan?" Luhan langsung menggeleng kuat-kuat mendapati pertanyaan Kai. Ia lalu beralih menatap Sehun yang juga menatapnya datar

"kenapa? Kau mau aku mengandung?" Sehun mengalihkan pandangannya mendapat pertanyaan demikian dari Luhan

"jadi bagaimana?" intrupsi Baekhyun melihat tingkah keduanya yang mulai tak mengenakan. Sepertinya salah satu mulai setuju, tapi, salah satu juga tidak setuju, walau sudah mendengar penjelasan panjang lebar orang-orang di sana.

"a-aku terserah Sehun saja." Luhan menatap Sehun yang sedikit meliriknya sebelum menatap teman-temannya. Kini semua mata menatap Sehun menunggu keputusan pemuda itu

"aku tidak setuju." Ucapnya membuat perubahan raut wajah berbeda-beda di sana

"wa-wae?" tanya Luhan, padahal ia sudah setuju. Hanya saja, ia menghormati Sehun, makannya ia ingin mengikuti apa tindakan Sehun saja. Tapi, kenapa pemuda itu malah tidak setuju?

Sehun membalik badan menghadap Luhan sepenuhnya "kita akan mengadopsi bayi, memangnya siapa yang akan merawatnya? Merawat rumah saja kita tidak bisa, bagaimana dengan bayinya?. Memangnya kau bisa membuat susu dengan takaran yang pas? Kau bisa bangun tengah malam saat ia merengek? Kau bisa menggantikan baju dan celananya dengan baik? Bahkan, aku ragu kalau kau bisa menggendongnya atau tidak. Aku ? Aku sudah tau aku tak bisa melakukan semua itu." Luhan berpikir, memang benar ia tak bisa melakukan semua itu. Tapi, setidaknya harus di coba dulu bukan?

"kita bisa belajar, kita bisa membaca buku tentang merawat bayi atau mencarinya di internet. Atau, kita sewa baby siter—"

"kalau begitu dia bukan anak kita, tapi, anak baby siter itu." sebenarnya Sehun setuju dengan apa yang di katakana Luhan. Mereka bisa belajar cara merawat bayi, tapi, bukan itu alasannya menolak kehadiran bayi. Semua alasan tadi bukanlah alasan sesuangguhnya, tapi, ayolah! Luhan baru saja membalas cintanya, dan ia tak akan rela membagi kasih sayang Luhan dengan seorang bayi. Uhg! ENAK SAJA!

Luhan terlihat menghela napas dan menunduk "kalau begitu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi." ia mendongak menatap Sehun "sebaiknya kau mempersiapkan diri jika eomma dan appa menemukan keberadaanku lalu membawaku pulang." Ia lalu berdiri dan meninggalkan tempat itu, menyisakan keenam orang lainnya. Ia tidak mengerti dirinya kenapa berubah begitu cengeng. Ini bukan Luhan yang ia kenal, ia bahkan tak tau kenapa sangat menginginkan bayi itu hadir dalam kehidupannya dan Sehun.

.

.

.

Cklek!

Pintu kamar terbuka, Luhan sama sekali tak berniat menoleh

"Lu?" Sehun berjalan mendekati ranjang dengan kursi rodanya "Lu, mianhae.." tak ada respon apapun dari Luhan, Sehun menghela napas panjang

"hhhh… kalau kau memang ingin bayinya, kenapa kau masih bertanya padaku?" Luhan masih tak menjawab "kau benar, kita bisa belajar" Luhan yang membelakangi Sehun sedikit melirik kebelakang mendengar ucapan pemuda itu "hhh…. Baiklah baiklah, kita akan punya bayi, tapi.." Luhan hendak berbalik dan menerjang Sehun dengan pelukan sambil berteriak senang, hanya saja, mendengar kata 'tapi' terselip di sana, ia pun mengurungkan niatnya

"tapi kau harus berjanji tidak akan mengacuhkanku dengan kehadiran bayi itu." Luhan menoleh mendapati Sehun yang cemberut. Oh, rupanya itu…

Luhan mendekati Sehun dengan senyum lebarnya "apa susahnya mengatakannya secara langsung?." Luhan menarik kursi roda Sehun agar lebih dekat dengannya

"kau ingin mempermalukan suamimu di hadapan teman-temannya?" Sehun mencubit hidung Luhan namun Luhan hanya terkekeh

"sedikit bersikap OC di hadapan mereka tidak masalah bukan? Kkk~" kali ini Sehun hendak mencubit kedua pipi Luhan namun pemuda itu langsung menghindar dengan menutupi mukanya. Beberapa saat mereka terdiam dengan posisi yang sama hingga Luhan membuka wajahnya karna tak merasa Sehun ingin mencubit

"aku sudah menghubungi, haraboji." Luhan diam mendengarkan "lusa kita berangkat ke jerman." Luhan bingung

"berapa lama kita di sana?"

"1 tahun."

"mwo?!" pekik Luhan membuat Sehun menutup telinga

"kenapa lama sekali?"

"makannya dengarkan dulu semua rencananya baru pergi." Terdengar dengusan napas dari Luhan "kau harus pura-pura mengandung selama 9 bulan. Setelahnya kita akan membuat catatan kelahiran palsu bayi yang akan kita adopsi nanti sebagai anak kita.—"

"kenapa harus pura-pura mengandung? Kita bisa langsung mengadopsinya dan membawa bayi umur 1 bulan ke Korea setelah 9 atau 10 bulan di sana bukan?." Potong Luhan

"tentu saja, yang tau rencana ini hanya kita, 5 orang yang masih ada dalam ruangan tadi, Enzo haraboji dan seorang dokter. Kita akan tinggal di rumah haraboji dan kau ingin para pelayan di sana tau rencana ini? Aku juga khawatir eomma dan appa berkunjung dan menemukan perut ratamu." Luhan terlihat mengangguk-angguk, benar juga kata Sehun. Ia lalu tersenyum dan menunjukan ibu jarinya pada Sehun.

.

.

.

bandara Incheon- 4 Tahun Kemudian

.

.

"eomma~ di mana appa?" seorang anak kecil merengek sambil bergelayut manja di lengan orang yang lebih dewasa. Matanya menatap orang itu dengan bibir mengerucut lucu

"sebentar sayang, eomma sedang mencarinya." Orang dewasa itu terlihat celingik celinguk mencari sosok appa si kecil yang tak kunjung menampakan diri. Sementara si kecil yang bergelayut di tangannya menengok bosan kesana-kemari sebelum beralih ke belakang dengan mata berbinar dan mulut mengembangkan senyum, ia hendak berteriak senang melihat seseorang di belakang eommanya.

Tapi, orang yang ada di belakang eommanya mengisyaratkan si anak untuk diam dan anak kecil itu mengangguk saja sambil terkekeh kecil. Ia cukup senang juga mengerjai eommanya

Pria yang ada di belakang eomma si kecil mengeluarkan topi dari balik jaketnya dan memakai topi itu sebelum menepuk pelan pundak anak kecil tadi. Si anak menoleh dan pria itu mengisyaratkannya sesuatu membuat si anak mengangguk lucu.

"ck! Di mana dia.." kesal orang dewasa yang di panggil eomma. Si kecil mendongak dan tiba-tiba melepas genggamannya di lengan sang eomma lalu berteriak keras membuat beberapa orang melihat kearah mereka.

Eomma si anak—Luhan—menoleh dan tak mendapati si anak pada tempatnya. Ia langsung mengangkat kepalanya dan melihat anaknya di bawa lari seseorang. Refleks Luhan berteriak bahwa anaknya di culik dan beberapa orang mulai mengejar si penculik diikuti beberapa sekuriti bandara.

"Zelo!" Luhan terengah-engah, namun ia tak menyerah. "Zelo! Aish! Kenapa Sehun susah sekali di hubungi…" sambil berlari mengejar si penculik ia terus coba menghubungi suaminya—Sehun—namun tak satupun panggilan terjawab.

Ia heran, walaupun sedikit jauh, ia masih melihat wajah sang anak yang di gendong ala koala oleh si penculik tidak terlihat panic atau ketakutan, ia malah sempat tersenyum kearah Luhan membuat pemuda itu mengerutkan alis dan memperhatikan si penculik yang terus berlari di kejar sekuriti dan penduduk bandara lainnya.

Kakinya yang tadi masih mengejar si penculik anak berhenti menyadari sesuatu. Anaknya bukan anak yang lemah, ia akan segera menghajar orang yang mengancam dirinya. Tapi, ini? Saat ia di culik, ia tak melakukannya. Itu meyakinkan Luhan kalau orang yang menculik Zelo bukan orang berbahaya.

Sementara itu

"apa kita masih di kejar?" tanya si penculik

"ne, thangat banyak olang di belakang, appa." ucap si anak pada si penculik yang adalah appanya sendiri.

"bukan mereka. Apa eomma masih mengejar kita?"

"aniyo~ eomma thudah teltinggal dauh…" tiba-tiba orang yang lebih dewasa menghentikan larinya dan berbalik melihat rombongan orang yang siap menerjangnya dengan pukulan karna menculik anak kecil.

Ia lalu membuka topinya memperlihatkan wajah tampannya yang terlihat jelas dan langsung di kenali beberapa orang yang ikut mengejarnya tadi. Bahkan, mereka sempat membungkuk hormat dan minta maaf lalu sedikit berbasa basi namun pemuda itu hanya menanggapinya dengan sedikit tersenyum sebelum berjalan kembali ke tempat tadi di mana ia menculik si anak.

Selama perjalan, ia sama sekali tak menemukan sosok yang ia cari, bahkan, saat sampai di tempat si anak dan ibunya berdiri tadi. Ia terus menyeret si kecil mencari sosok eommanya namun nihil, ia tak menemukan sang istri. Ia juga tak menyadari si kecil yang dari tadi menengok ke belakang membaca sesuatu yang tertulis di smarphone orang yang di cari mereka.

'kau menyayangi eomma bukan?' si kecil menatap orang yang berjalan membungkuk di balik punggung sang appa dan mengangguk sebelum melanjutkan membaca.

Jangan heran jika anak usia 4 tahun bisa membaca, ia memang sudah bisa membaca sejak usia 2 tahun karna terus di kelilingi orang-orang jenius. Ia jadi tertular dan tertarik ingin seperti mereka

'kalau begitu, kau mau membantu eomma bukan? Eomma sangat lelah, kaki eomma tadi sakit karna mengejar kalian.' Anak itu kembali menatap wajah eommanya yang terlihat begitu lelah, padahal ia tidak tau saja kalau itu di buat-buat. Ia lalu mengangguk lagi, sang eomma tersenyum dan menunjukan ibu jarinya pada si anak sebelum memulai aksinya.

Luhan berdiri tegap hendak memeluk tubuh Sehun dari belakang dan menahannya agar Zelo bisa memukulnya, hanya saja, ia tak tau kilas kejadiannya hingga kini ia yang malah berada dalam pelukan Sehun dan mereka terduduk di lantai bandara, mengacuhkan orang-orang yang menatap mereka

"ppali ppali ppali…yahaha.." desak Sehun sambil menahan tubuh Luhan dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ikut menggelitiki Luhan bersama sang anak. Huh! Rupanya Zelo menjadi penipu, ia berkata akan membantu Luhan tapi ia malah membantu Sehun menyiksanya.

"ahahaha… yak! Aha..yahaha… berhenti… Zelo eomma kesulitan bernapas, yak! Sehun! hahaha…" Luhan menggeliat geli. Zelo yang mendengar Luhan tak bisa bernapas sontak menghentikan aksinya dan menatap sang eomma.

"ppali…ppali…kenapa kau berhenti?" Sehun terus menggelitiki Luhan. Zelo menatap Sehun dengan raut wajah datar dan menghampiri pemuda itu

TUK!

Jitakan keras mendarat di kepala Sehun dan itu membuatnya meringis menghentikan kegiatannya menggelitiki Luhan. Ia langsung menatap Zelo si pelaku.

"appa! Kenapa appa kedam thekali?! Eomma tidak bitha belnapath." Zelo menatap Luhan dan mengelus pipi pemuda yang tengah menatap Sehun dengan tajam. Sehun beralih menatap Luhan sambil mengelus kepalanya yang mendapat jitakan dari sang anak, namun ia menyesal karna tatapan menusuk Luhan. Ia sangat menghindari Luhan kalau seperti ini. Pemuda itu bisa berubah jadi rusa galak. Sehun perlahan-lahan berdiri

"eum, a-aku harus ke toilet dulu." Sehun hendak melarikan diri namun Luhan lebih dulu menariknya dan kali ini Sehunlah yang di gelitiki. Mereka tidak perduli keberadaan mereka saat ini. orang-orang berlalu lalang hanya menatap sekilas mereka sambil menggelengkan kepala sedikit iri dengan keluarga itu.

Yeah, siapa yang tidak tau Oh Sehun?

Pemuda yang resmi memiliki perusahaan kakek dan ayahnya 2 tahun lalu. Kehidupannya sangat beruntung, setelah di beritakan mengalami gangguan jiwa karna di tinggal kekasih yang baru di ketahui mereka adalah istrinya 2 tahun lalu. Pemuda itu kembali dengan seorang anak di tengah-tengah mereka, orang bahkan tidak percaya kalau Zelo adalah anak mereka karna masyarat jelas tau Luhan seorang pria. Tapi, bagi Enzo Ferrari, memang apa yang tidak mungkin? Semua itu mungkin saja terjadi.

Public memang taunya Zelo adalah anak kandung mereka. tapi, nyatanya Zelo adalah anak adopsi. Tapi, walau begitu mereka tetap menyayangi Zelo. Bahkan, Sehun yang awalmya berpikiran Zelo akan merebut perhatian Luhan kini malah lebih menyenangi anak itu. Karna Zelo lebih sering bekerja sama dengannya walau Luhan yang lebih sering bersama anak itu. Yah… mungkin karna mereka jarang bertemu karna Sehun terlalu sibuk.

Ia senang, Zelo membawa suasana baru di kehidupannya dan Luhan. Anak itu juga jenius dan ia sedikit banyak mengambil fisik Sehun dan Luhan serta kakeknya Enzo. Padahal ia bukan anak kandung mereka. Perilakukanya mencerminkan pendominasian perilaku Sehun dan Luhan. Benar-benar mirip. Itu juga yang membuat public mudah percaya dengan scenario mereka.

Awalnya para orang tua tidak percaya kalau Luhan mengandung. Namun, Enzo kakek Sehun memberi bukti yang Luhan dan Sehun saja tidak menyangka bagaimana kakek mereka melakukannya. Luhan juga di suru memakai sebuah balon berbentuk seperti perut buncit dan kulit asli manusia.

Tiap bulan perut palsu itu diganti dengan perut yang semakin besar agar meyakinkan semua orang. Luhan juga di suru bertingkah layaknya orang hamil kalau ada orang tua mereka. Dan itu menjadi kesempatan Luhan untuk menyiksa Sehun.

Luhan pikir, Enzo memang sangat hebat. Tidak salah mereka meminta bantuan. Kalau tidak, entah bagaimana jadianya saat Sungmin menyikap baju Luhan guna melihat perutnya benar-benar buncit atau tidak. Perut palsu itu juga mengalirkan detak jantung Luhan, jadi, perut itu seakan ada kehidupan di dalamnya. Padahal itu hanya detak jantung Luhan yang terdengar sedikit kecil

Dan di sinilah sekarang. Zelo hadir di tengah-tengah mereka. Zelo ? Ia hanya anak penurut yang percaya begitu saja kalau ibunya seorang pria. Sebenarnya ia sedikit ragu karna ia anak yang cerdas. Hanya saja, ia tau bagaimana kakeknya bisa melakukan semua hal yang tak mungkin menjadi mungkin, membuatnya percaya begitu saja walau teorinya membuktikan tak ada pria yang bisa mengandung kecuali pria transgender.

Ia ingin bertanya, Luhan itu transgender atau bukan. Tapi, ia tidak mau menyinggung itu karna ia sudah senang dengan kedua orang tua yang sangat menyayanginya. Kalaupun ia bukan anak mereka, ia tidak perduli. Ia akan tetap menganggap mereka orang tua kandungnya.

Zelo berhenti menyerang Sehun dan tersenyum menyaksikan kedua orang tuanya tengah asik sendiri. Ia bahkan sudah terbiasa jika kedaan berbalik tiba-tiba karna Luhan selalu kalah dari Sehun. Buktinya, sekarang Luhan terdiam di pelukan Sehun agar pemuda itu berhenti menggelitikinya. Zelo senang

Ah, 1 lagi, kenapa Luhan dan Zelo kembali 4 tahun setelahnya? Bukan 1 tahun setelah rencana?

Itu karna Enzo yang masih ingin terus bersama sang cucu, ia bahkan sudah mengalihkan Scuderia ke tangan Sehun agar ia punya banyak waktu untuk cucunya di masa tuanya. Semua sangat menyayangi Zelo, tidak ada yang menganggapnya anak adopsi. Mereka menganggapnya seperti benar-benar keluar dari anus Luhan.

"Aigoo!" Zelo, Sehun dan Luhan mendongak mendengar seruan itu. Seketika Zelo tersenyum lebar dengan mata berbinar ia berdiri dan berteriak "LEN HYUNG!" (Ren hyung) sebelum berlari kearah seorang anak kecil yang bersembunyi di balik tubuh mungil seorang pria manis.

"eomma…" anak yang di panggil Ren menarik-narik baju eommanya, sepertinya ia ketakutan dengan Zelo yang terlalu bersemangat. Orang di panggil eomma berjongkok mensejajarkan tinginya dengan kedua anak kecil itu. Ia lalu menatap sang anak sebelum menatap Zelo yang cemberut sadar Ren takut padanya.

"Zelo, jangan berteriak ne, kau membuat Ren takut.." Zelo mengangguk dan menatap Ren dengan wajah datar, enath kemana senyuman kebar tadi.

"mianhae Len hyung~ Delo(Zelo) terlalu belthemangat. Delo melindukan Len hyung…" ucapnya polos dan datar sebelum kembali tersenyum lebar. Ibu Ren lalu menatap anaknya

"ne, hyung memaafkan Zelo. Tapi, jangan seperti tadi." Zelo mengangguk

"ah, kata appa. Appa membelikan mobil-mobilan balu untuk Delo, Len hyung mau kelumah Delokan? Kita main ne?~" Ren mengangguk dan Zelo langsung menariknya mendahului para orang tua keluar dari lingkup bandara

Ibu dan ayah Ren yang adalah Baekhyun dan Chanyeol lalu menatap Sehun dan Luhan yang sepertinya tak memperhatikan anak-anak tadi. Mereka malah sibuk dengan dunia sendiri saling mencubit hidung satu sama lain membuat ChanBaek memasang wajah datar.

"ck! Sampai kapan kalian duduk di situ?" tukas Chanyeol. Kedua orang itupun berdiri. Sehun yang awalnya memasang ekspresi kini berubah datar menatap Baekhyun dan Chanyeol yang menganggunya dan Luhan.

"sebaiknya kita segera menyusul anak-anak." Ujar Baekhyun lalau berjalan bersama Chanyeol diikuti Luhan dan Sehun yang sibuk menjahili Luhan di belakang.

Yeah, setelah kelulusan sekolah. Baekhyun dan Chanyeol juga menikah. Tidak ada yang menentang mereka karna itu peraturan keluarga Park, tidak ada namanya ikut campur urusan satu sama lain selama itu bukan seperti masalah Yeol dan Yejin. Orang tua Chanyeol tidak keberatan dengan kelainan anak mereka yang menyukai pria. Dan Ren? Jangan berpikir mereka sama seperti Sehun dan Luhan yang mengatur scenario. Ren malah sebaliknya, orang tau jelas ia anak adopsi, tapi, Ren sendiri ia taunya ia adalah anak kandung Chanyeol dan Baekhyun karna ia lebih percaya ayah/ibunya yang berkata ia anak kandung mereka dari pada orang lain.

"kenapa hanya kalian yang datang menjemput? Mana yang lain?" tanya Luhan setelah berada di dalam mobil

"Kris sedang sibuk mengurus proyek barunya." Jawab Baekhyun yang duduk di jok depan dekat Chanyeol. Yaeh, mereka memilih naik 1 mobil dan membiarkan mobil yang tadi di kendarai Sehun di bawa supir.

"mementingkan pekerjaan sekali, cih!" sindir Sehun, Luhan langsung menoleh padanya

"kau pikir kau tidak seperti itu?" sindir Luhan balik

"kenapa kau menyamakanku dengannya?"

"karna itu kenyataan, kau juga lebih banyak mementingkan pekerjaan."

"kalau aku mementingkan pekerjaan, aku tidak akan datang menjemput kalian."

"oh, silahkan, ada Baekhyun dan Chanyeol yang akan menjemputku dan Zelo."

"kau pikir mereka siapa? Aku ini suamimu, bukan mereka. Aku yang harus menjemput kalian."

"bukannya tadi kau—"

"YAK! Diamlah! Kalian memberi tontonnan yang buruk untuk mereka." Sehun dan Luhan menoleh ke jok paling belakang setelah ucapan Baekhyun dan mendapati Zelo serta Ren yang menatap mereka dengan wajah datar. Sehun menoleh pada Luhan

"mianhae.." uacapnya menggenggam tangan sang istri. Luhan tersenyum dan meminta maaf juga. ChanBaek yang duduk di jok depan hanya terkekeh

"lalu, bagaimana dengan Kai dan Kyungsoo?" Chanbaek bertatapan dan tersenyum penuh arti

.

.

.

#One place~

"apa sekretaris baru itu sudah datang?" tanya Kris pada juru bicaranya

"ne sajangnim. Dia sudah menunggu di ruangan anda."

"baiklah." Kris berjalan memasuki ruangan di ikuti juru bicaranya.

Cklek…

Kris masuk ke ruangannya mendapati seorang pemuda tinggi yang duduk di sofa tamu. Pemuda itu langsung berdiri dan membungkuk hormat

"anyeonghaseo, Hwang Zi Tao imnhida~"

.

.

.

# Two place

"kau mau bicara apa?" Kyungsoo melipat tangan di depan dada

"eum, ka-kau, kau punya waktu malam ini?" tanya Kai gugup

"wae?"

"bi-bisakah, kau i-ikut denganku ke jepang?" Kyungsoo melepas tangannya yang terlipat di depan dada

"a-aku, eum, ingin me-mengenalkanmu pada o-orang tuaku." Kyungsoo menganga dan mengerjap 2 kali

"aku tidak ingat kalau kita punya hubungan seperti itu." ujar Kyungsoo heran

"a-aku, tidak ingin hubungan seperti itu, aku ingin langsung menikah." Ucap Kai lagi. Kyungsoo langsung memerah dan menunduk malu

"ba-bagaimana? Ka-kau mau ikutkan?" tanya Kai cemas, takut Kyungsoo menolak namun akhirnya ketakutan itu pudar karna si pemuda bermata bulat baru saja mengangguk.

.

.

#3 bulan sebelum Sehun sakit

Mobil yang di tumpangi Luhan melaju keluar dari kediaman, Oh. Luhan menoleh ke luar kaca jendela. Ada sedikit perasaan tak rela meninggalkan Sehun yang terkapar di sana. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia harus ikut orang tuanya ke China demi kebaikan mereka. Sebenarnya ia bimbang, ia tak benar-benar ingin ikut, tapi, sebagain juga ingin ikut. Oh ayolah, ia akan mempunyai hidup normal.

Tiba-tiba mobil yang di tumpangi Luhan berhenti membuat pemuda bermata rusa itu terheran-heran. Supirnya turun dan menghampiri seorang pemuda yang duduk di atas motor menghalangi jalan mereka. Kyuhyun juga ikut turun

Luhan dapat melihat dari dalam mobil pemuda itu turun dan membungkuk setelah melihat Kyuhyun. Ia melepas helmnya dan Luhan mengenali pemuda itu—Kai

Terlihat Kai sedikit berbincang-bincang dengan Kyuhyun. Sungmin yang duduk di sebelah Luhan membuka jendela samping dan melihat pemandangan malam kota Seoul. Luhan menghela napas dan menoleh ke luar jendela lagi, namun kali ini ia terkejut karna ada seseorang di luar sana melambai-lambai padanya sambil menunjuk kaca mobil. Luhan membuka kaca mobil mobil hendak bertanya karna ia mengenali orang itu—Kyungsoo. Kenapa kebetulan sekali ada Kai dan Kyungsoo di sini? Apa yang mereka lakukan?

Namun, si pemuda bermata bulat mengisyaratkannya untuk diam dan membuka pintu mobil tanpa suara. Luhan bingung namun tetap melakukannya.

"ayo ikut aku." Bisik Kyungsoo, Luhan sedikit ragu. Ia hendak bertanya namun Kyungsoo lebih dulu menariknya hingga mereka sampai di depan sebuah mobil yang Luhan yakini milik Chanyeol.

"kenapa kalian ada di sini?

"Sehun berteriak begitu keras hingga kami yang berada di depan pagar rumah Sehun bisa mendengarnya." Chanyeol menjelaskan "Sehun mengirim pesan bantuan dan kami mengerti karna anak itu tidak pernah seperti ini sebelumnya." Luhan mengerutkan alis tak mengerti

"jadi, walau kau menolak. Kau harus tetap ikut kami." Dan tiba-tiba 2 orang yang entah siapa memaksa Luhan memasuki mobil Chanyeol yang tentunya sudah ada Baekhyun di sana.

.

END~~~

.

Ell note :

Finaly ^^ terimakasih buat semua suport FF ini. Ell gak tau mau ngomong apa lagi, terimakasih, terimakasih, dan silahkan protes jika ini ending yang mengecewakan.

Ah, kalau mau kenal Ell? Follow aja twitter saya 'EllYoungChu' atau intag 'ellchu' #promosi

SAYONARA! Ell buru-buru, jadi, kalau banyak typo atau penempatan kata yang gak tepat, harap di maklumi, atau jalan cerita yang hancur ? Maklumi juga karna Ell pengen segera ngenendingnin FF ini dan Ell masih author amatir.

Ah, sedikit penjelasan saja seputar kejadian di gym antara Sehun dan Daehyun. Karna Ell udah gak bisa nulisin di FF jadi di sini aja. Sebenarnya Daehyun itu fansnya Namjoo, dia suka sama Namjoo, jangan tanya gimana dia bisa tau Namjoo padahal mereka bukan satu sekolah, terus pas dengar Sehun di jodohin sama Namjoo, dia marah gak terima. Tapi, dia Cuma ngejek Sehun aja soal dia sama Luhan. Sehun cuma diam walaupun Daehyun tau hubungannya sama Luhan, Cuma dia juga sempat bilang kalau orang tuanya temenan cukup dekat sama orang tua Luhan jadi, dia mancing emosi Sehun dengan bilang, kalau Sehun nikah sama Namjoo, berarti Luhan boleh buat dia dong? Terus Sehun langsung naik pitan dan nyerang Daehyun. Gitu ceritanya.. :3 ngerti gak ngerti, Ell gak perduli :P ini Cuma ngarang, Ell gak puny aide buat ini

Sekali lagi TERIMAKASIH! SAYONARA! AISITERUYO 3

SAMPAI JUMPA LAGI DI FF YANG LAIN. ;)

.