Janji Di Bawah Sunset

Chapter 2

Hantu Cantik

"Hey Sasuke, apa dia ini benar-benar Sakura?"

"Di-dia…"

"Dia cantik sekali sekarang." Naruto pun mencubit pipi kanan Sakura. "Ini wajah asli kan?" lalu dia pun mencubit pipi satunya lagi. Kini wajah Sakura benar-benar memerah, dia tak bisa lagi menahan emosinya terhadap orang yang bertingkah tak sopan seperti ini. Dan…

BUUKK…!

"APA YANG KAU LAKUKAN NARUTO?!" Sakura meninju Naruto hingga terjungkal ke belakang.

"Sakura, kau kenal Naruto?" Tanya Sasuke.

"Apa, Naruto?" Sakura terdiam. Padahal tadi yang dia ucapkan adalah spontan keluar dari mulutnya.

"Sasuke, ternyata dia masih mengenaliku. Aduuuhhh… sakit…" Naruto pun kembali bangkit. "Sakura, ternyata tinjuanmu masih sama ya."

"Tolong, jangan buat aku bingun!" Ucap Sakura, kini badannya mulai gemetar.

"Bingung?" kini Naruto juga ikut-ikutan bingung.

"Sakura kau tidak apa-apa?" Sasuke pun menghampiri dan memegang bahu Sakura.

"Aku benar-benar tidak ingat apa-apa, jadi tolong jangan buat aku bingung! Aku mohon!" kini Sakura benar-benar gelisah, matanya pun mulai berkaca-kaca.

"Ayo, aku antar kau ke UKS."

"Tidak, aku tidak mau." Sakura pun mulai menarik nafas, lalu di hembuskan dan dia pun melakukannya beberapa kali sampai dia tenang.

'Dia tidak ingat apa-apa, apa jangan-jangan dia itu… tapi aku tidak bisa langsung memastikannya. Aku harus mencari beberapa bukti dulu.' Gumam sasuke.

"Sasuke." Panggil Sakura.

"Ya…"

"Apa kau bisa mengntarku ke ruang kepala sekolah?"

"Ya baiklah." Lalu mereka berdua pun masuk ke kawasan kampus dan meninggalkan Naruto yang masih sibuk mengeus-elus pipinya yang sakit.

"Sa-sasuke, tunggu.!" Naruto pun menyusul mereka.

"Naruto, kau ke kelas duluan saja. Nanti aku akan menyusul."

"Hm.." Lalu Naruto pun memisahan diri dari mereka berdua dan Sasuke mengantarkan Sakura sampai depan pintu ruangan kepala sekolah.

"Sakura, ini ruangannya. Kau masuk saja." Kata Sasuke.

"Iya, terimakasih." Sakura pun tersenyu, dan dia pun segera masuk ke ruangan itu.

Di ruang kelas XI-2, kelas ini adalah kelas Sasuke dan Naruto. Saat ini kelas tersebut memang sedikit gaduh dengan penghuninya.

"Sasuke…." Kata teman sebangkunya.

"Hm…." Jawab Sasuke.

"Yang tadi itu benar-benar Sakura kan, dia itu belum mati kan?" sepertinya si mata biru ini benar-benar teringat dengan kejadian 10 tahun lalu.

"Entahlah, aku belum tahu pasti, tapi wajahnya sangat mirip."

"Jika benar dia Sakura, kenapa tadi kau bilang seperti itu padanya?"

"Ya karena seharusnya dia tidak mengenalimu, tapi anehnya dia menyebut namamu."

"Benar juga. Kau bertemu gadis itu dimana?"

"Di pantai."

"Hm…. Oh iya, apa kau mengerti kenapa dia sampai bilang tidak ingat apa-apa dan bingung?

"Naruto, diamlah! Aku ini sedang memikirkan hal itu dari tadi." Kelihatannya Sasuke benar-benar terganggu dengan tingkah Naruto yang dari tadi mengintrogasinya.

"Kau ini, selalu saja begitu. Aku ini kan hanya ingin bertanya padamu, apa dia itu sedang amnesia atau tidak." Naruto pun memalingkan wajahnya.

"Itu dia, ya kau benar. Aku rasa dia…"

Tok..tok..tok….

Kata-kata Sasuke terpotong oleh seseorang yang mengetuk pintu kelas. Lalu pintu itu pun terbuka buka.

"Selamat pagi anak-anak." Sapa kepala sekolah Jiraia, dia pun masuk dan berdiri di samping meja guru.

"Selamat pagi….."Jawab anak-anak dengan serempak.

"Sepertinya belum ada guru ya, ya sudah kalau begitu. Hari ini kalian kedatangan seorang murid baru. Dia ini murid pindahan dari salah satu sekolah tetangga kita."

"Kepala sekolah." Kiba pun mengacungkan tangannya.

"Apa?"

"Apa dia seorang gadis?"

"Ya, tentu saja. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik, tau."

"Apa benar?" Kiba pun meragukan ucapan kepala sekolah itu yang seleranya adalah wanita berusia lumayan.

"Em, kau ini selalu saja tidak percaya dengan apa yang aku katakana. Ya sudah kalau begitu, Nona Haruno ayo masuk!" pinta kepala sekolah berambut putih itu, lalu gadis itu pun masuk ke dalam kelas dan dia pun berdiri tepat di samping kepala sekolah. Pada awalnya para siswa bertanggapan positif pada gadis cantik ini, tapi sayang beberapa siswa yang sekampung halaman dengan gadis itu terkejut dan wajah mereka terlihat takut setengah mati.

'Ke-kenapa mereka? Apa aku ini menakutan?' gumam gadis itu.

"Sekarang perkenalkan dirimu pada teman-teman barumu!"

"Baik. Selamat pagi.."

"Selamat pagi." Jawab teman-teman barunya.

"Namaku Sakura Haruno, aku pindahan dari SMA Panti Konoha. Senang bertemu kalian." Gadis berambut pik itu pun membungkukan badanya.

"HA-HAANTUUU! DI-DIA HANTU..!" Teriak Kiba yang sukses membuat Sakura sangat terkejut.

"Apa maksudmu?" Tanya Gaara yang keheranan melihat tingkah Kiba.

"DIA ITU HANTU… DIA TELAH MENINGGAL 10 TAHUN YANG LALU….. Shikamaru, Sai kalian pasti tahu kan?" Kiba pun melanjutkan teriakannya itu yang sukses membuat seisi kelas sangat kaget. "Di-dia…dia… WAAAAHAHAHAAAAAAAAAA!" kini Kiba lari terbirit-birit ke luar kelas dan para siswa pun mengikutinya sambil berteriak-teriak ala Kiba. Saat ini di kelas itu hanya tinggal 3 murid yang masih duduk di bangkunya, yaitu Sasuke, Naruto dan Tenten. Tapi sepertinya Tenten terlihat sangat gemetaran.

"Ya ampun, ada-ada saja ulah anak itu. Sakura, sekarang kau duduk dengan anak itu ya!" Kepala sekolah itu pun menunjuk bangku kosong di sebelah Tenten.

"I-iya." Sakura pun berjalan ke bangku itu dan duduk di samping Tenten. "Hai…" sapa Sakura.

"Haanttu…." Gadis itu pun pingsan.

Di ruang kepala sekolah….

"Kiba, apa yang kau lakukan di kelas tadi benar-benar keterlaluan. Kau membuat kegaduhan dan membuat seisi kelas keluar karena tingkahmu."

"Maafkan aku pak." Jawab Kiba yang dari tadi menundukan kepalanya.

"Kau tahu, dia itu putri dari Tsunade, aku tak tahu apa jadinya nanti sekolah kita di hadapan masyarakat jika berita ini tersebar keluar."

"Ta-tapi apa yang aku katakana itu adalah benar pak."

"Diam!" kepala sekolah itu memukul meja di hadapannya. "Sangat tidak masuk akal jika ada hantu bisa bersekolah di sini."

"Aku benar-benar berkata jujur pak, bahkan beberapa temanku juga tahu hal itu."

"Apa benar?"

"I-ya pak"

"Baiklah. Jika yang kau katakana itu tidak benar, kau akan aku hukum membersihkan semua toilet di sekolah ini. Mengerti!"

Singkat cerita, semua orang yang tahu tentang tragedy itu pun di panggil ke ruangan kepala sekolah.

"Kepala Sekolah, apa yang dikatakan Kiba itu memang benar. Dia telah meninggal sekitar 10 tahun yang lalu karena kebakaran di rumahnya." Kata Lee.

"Ya… ya itu benar. Tak mungkin jika ada orang mati bisa hidup lagi. Kecuali dia itu adalah hantu." Sai pun menambahnkannya.

"Tapi sangat tidak mungkin juga kan jika hantu bisa berkeliaran pagi-pagi begini?" kata Shikamaru. "Lagi pula jika dia meninggal 10 tahun yang lalu pasti sekarang dia masih berwujud anak kecil."

"Kau tau dari mana? Sepertinya kau ini tau banyak tentang hantu." Ujar Kiba.

"Bukan urusanmu."

"Shikamaru benar, apa kalian masih ingat kejanggalan pada tragedy itu?" Tanya Sasuke.

"Ya, aku ingat. Jasad Sakura sama sekali tidak diketemukan."Jawab Naruto dan semua yang ada di ruangan itu pun terdiam mendengar jawabannya.

"Benar juga, jadi masih ada kemungkinan hidup ya?" tanya Shikamaru.

"Ya, itu benar." Jawab Sasuke.

"Kiba, sekarang sudah jelas? Dia bukan hantu." Kata kepala sekolah, Kiba pun Mengangguk. "Jadi aku minta pada seluruh murid yang ada di kelas kalian untuk meminta maaf pada anak itu. Jika ada kejadian serupa terjadi lagi, kalian semua akan aku hukum. Terutama kau, Kiba."

"Ba-baik.."Jawab Kiba.

"Maaf, aku ingin menambahkan sedikit. Aku minta semua yang ada di ruangan ini jangan menunjukan bahwa kita telah lama mengenalnya. Bersikaplah seperti halnya orang yang baru pertama kali bertemu." Ujar Sasuke.

"Kenapa?" Tanya Lee.

"Karena dia sama sekali tidak mengenali kita semua. Jika benar dia itu adalah Sakura teman kita, berarti dia sedang dalam keadaan amnesia. Aku baru sadar hal itu tadi pagi saat bertemu dengannya di gerbang sekolah."

"Jangan-jangan sebelumnya kau pernah bertemu dengannya."

"Ya, Kepala sekolah.."

"Hm…"

"Aku minta bantuanmu untuk mengumpulkan informasi tentang Sakura, karena aku tahu kau sangat dekat sekali dengan Nona Tsunade. Aku yakin dia adalah temanku, aku ingin mengembalikan ingatannya yang hilang. Aku mohon." Sasuke pun membungkukan badannya.

"Hm, baiklah kalau begitu. Aku mengerti perasaan seorang teman, nanti aku akan menginformsikannya padamu." Kata Kepala sekolah itu.

"Teimakasih, aku benar-benar berterimakasih." Lagi-lagi Sasuke membungkukan badannya.

Sementara itu di kelas XI-2, gadis berambut pink ini sedang asik memperhatikan sebuah kotak hitam sendirian di bangkunya. Tak ada satu siswa pun yang berani memasuki kelas itu karena takut padanya.

'Kotak ini isinya apa ya? Dari semenjak diberikan, kotak ini belum pernah aku buka.' Gumam gadis itu, lalu diapun membuka kotaknya dan dia melihat sebuah kalung berbandul kaca berbenruk lumba-lumba. Di bandul itu terukir jelas namanya, "Sakura Haruno." Nampaknya dia sangat penasaran dengan asal usul kalung itu. 'Ini sangat mirip dengan kalung Sasuke, apa dulu kami membelinya di toko yang sama?' lalu Sakura pun memakainya.

"Sa-sakura…" panggil seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di depannya.

"Ya…." Jawab gadis itu.

"Aku… aku benar-benar minta maaf." Kiba pun membungkukan badannya. "Maaf, aku telah menyebutmu hantu. Tadi aku hanya…."

"Jangan begitu. Aku tidak apa-apa, sungguh." Sakura pun tesenyum.

"Benarkah?"

"Tentu saja." Kiba merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar, karena baru kali ini di langsung dimaafkan, padahal tingkahnya benar-benar kelewatan.

"Sakura, aku mewakili kelas ini ingin meminta maaf padamu. Maafkan kami ya..!" kata Lee sambil membungkukan badannya.

"Tidak apa-apa, aku mengerti."

"A-anu, aku juga minta maaf." Sekarang giliran Tenten yang membungkukan badannya. "Tadi aku juga menyebutmu hantu. Maaf ya…!"

"Oh iya, jika seandainya Sakura ini hantu, dia adalah hantu yang paling cantik yang pernah aku lihat." Ujar Lee.

"Lee…." Kini Sasuke sedikit tak setuju dengan Lee.

"Apa? Tentu benarkan apa yang aku katakana? Coba lihat dia baik-baik, dia itu cantik, kan?" kata Lee, kini pipi Sakura pun mulai memerah mendengar perkataan Lee. Tapi saat itu juga Sasuke membulatkan matanya, dia hampir tak percaya dengan apa yang dia lihat.

'Kalung itu, dia memakai kalung itu? Tapi kenapa aku baru melihatnya, aku akan tanyakan langsung pada Sakura sekarang….. Tapi tunggu, jika aku menanyakannya langsung pasti dia akan seperti tadi pagi. Lebih baik aku menunggunya bertanya saja.' Gumam Sasuke.

"Hey..hey..hey.. kalian ini sedang apa?" Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pira dari arah meja guru, semuanya pun menoleh padanya.

"Guru Kakasi…?" kata Naruto yang kaget, lalu semuamya pun langsung duduk di tempat masing-masing.

"Ternyata ada murid baru ya?" Lalu pria berbaju rapi itu pun berjalan menghampiri Sakura. "Siapa namamu?"

"Namaku…." Begutulah Sakura memperkenalkan dirinya. Hari pertamanya ini memang sangat menguji kesabaran dan mentalnya. Bahkan sebutan hantu pun dia terima hari ini juga, mungkin siswa baru yang lain akan merengek pulang jika di timpa kejadian yang sama.

Hari demi hari telah dia lalui, ternyata dia mulai menikmati suanana yang ada di kelasnya. Bagaimana tidak, dia mempunyai teman sebangku yang sangat baik padanya, dia juga punya teman-teman yang selalu siap untuk menghiburnya. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang mengganjal hati kecilnya meski sudah berusaha keras untuk melupakan hal itu.

Sakura's dream

'Sebentar lagi matahari nya akan terbenam, tapi kenapa Sasuke belum datang? Tadi siang dia bilang akan menungguku di teluk ini.' Gumam Sakura kecil. 'Tapi dia…..'

"Sakura….. sakura….." ku dengar dia memanggilku sambil berlari-lari.

"Sasuke?" Kulihat larinya mulai pelan dan berhenti tepat di depanku.

"Maaf aku terlambat. Coba lihat aku bawa apa?" katanya sambil menunjukan kotak berwarna pink itu.

"Apa itu?"

"Aku buka ya…. Lihat ini adalah kalung dari ayahku. Dia bilang berikan satu pada Sakura. Sakura suka tidak?" Tanya Sasuke sambil menujukan kalung dengan bandul kaca berbentuk lumba-lumba itu.

"Cantik sekali, tentu saja aku suka."

"Kita pakai yuk, kau ambil yang putih dan aku ambil yang hitam."

"Iya." Kami pun mulai memakai kalung itu.

"Sakura lihat, mataharinya terbenam."

"Iya benar."

"Mataharinya seperti telur mata sapi."

"Te-telur mata sapi, jangan-jangan kau lapar ya?"

"Hehehe, aku ketahuan. Em….. Sakura."

"Apa?"

"Aku akan menunggumu di sini, tepat pada saat kau berusaia 17 tahun. Kau harus datang ya, ini permintaan.

"Apa, tapi itu kan masih 10 tahun lagi. Sa-sasuke..." Aku terkejut, ku lihat tubuh Sasuke mulai menghilang. "Sa-sasuke… kau?"

"Berjanjilah untuk datang, aku menunggumu. Sakura….." kini tubuhnya sudah benar-benar menghilang dari hadapanku, air mataku mulai keluar.

"Sasuke…. SASUKEEEE…"

End Sakura's dream

"Sakura… cepat bangun..! hey…. Aduh anak ini kenapa susah sekali dibangunkan?" Kata Tsunade yang membangunkan anaknya.

"Hm…"

"Sakura… Sakura..!" kini wanita itu mulai menggoyangkan tangan Sakura.

"Sasuke…. SASUKEEEE…" tiba-tiba saja Sakura bangun terduduk sambil berteriak-teriak.

"Apa, Sasuke?"

"I-ibu..?" Sakura sangat kaget melihat ibunya yang saat ini ada di sampingnnya

"Siapa itu Sasuke, pacarmu mu ya?"

"Bukan bu, dia bukan pacarku…"

"Apa benar?" lalu wanita itu pun berdiri dan beranjak dari kamar Sakura. "Cepat mandi lalu sarapan! Ibu sudah menyiapkan telur mata sapi untukmu, apa Sasuke juga suka telur mata sapi?" ejek ibunya.

"Iya…." Jawab Sakura dengan singkat. 'Telur mata sapi?' Sakura pun teringat kembali dengan mimpinya.

Di depan pintu gerbang SMA Konoha, seperti biasa sepasang ibu baru itu mengantarkan Sakura ke sana. Sakura pun turun dari mobilnya.

"Sakura, hari ini ibu akan pulang telat. Jadi kau pulang sendiri saja ya."

"Iya bu." jawab Sakura.

"Selamat pagi Sakura…!" seseorang memanggilnya.

"Sasuke? Selamat pagi." Jawab Sakura. Sasuke pun mengampiri Sakura.

"Selamat pagi." Sapa Saseke pada Tsunade.

"Ya, selamat pagi juga. Jadi ini ya Sasuke pacarmu itu?" Kata Tsunade.

"I-ibu, dia bukan…."

"Jangan bilang begitu, ibu tidak melarangmu mempunyai seorang pacar. Oh iya, tahu tidak, tadi pagi Sakura mengigau dan menyebutkan namamu.."

"Benarkah?" Ujar Sasuke, kini pipi gadis itu sangat merah.

"Iya, tentu saja. Ya sudah, karena kau pacarnya jadi kau harus menjaga Sakura dengan baik ya."

"I-iya." Kini pipi Sasuke juga terlihat merah.

"Kalau begitu, aku berangkat dulu. Sampai jumpa…" Mobil pun melaju, wanita itu pun melambaikan tangannya.

"Maaf, jangan dengarkan ibuku ya!" Kata Sakura.

"Iya, aku tahu. Ayo!" mereka pun segera masuk ke area seklah mereka.

Di kelas XI-2, saat ini Sasuke dan Sakura baru saja sampai di kelas mereka. Entah karena terlalu pagi atau semua temen-teman mereka kesiangan, di kelasi itu baru mereka saja yang datang dan mereka berdua pun langsung menuju bangku masing-masing.

'Apa ini?' guman gadi itu, tenyata ada sebuah kertas telipat rapi di tempat duduknya dan bertuliskan "Untuk Sakura". Gadis itu pun segera mengambil kertas itu, lalu duduk dan membuka kertasnya.

Sakura,

sepulang sekolah nanati aku akan

menunggumu di taman belakang.

Kau harus datang ya..

-TBC-

Teriamakasih telah membaca. Kira-kira siapa ya yang mengirim surat itu, apa Sakura akan menemuinya di taman belakang? Ya…. Kita nantikan di chapter berikutanya.

Maaf ya semuanya, chapter 1 memang masih berantakan. Tapi tadi aku sudah memperbaikinya. Mudah-mudahan saja tidak ada yang salah lagi.

Untuk kak Hikary Cresenti Ravenia dan akbar123, aku ucapkan terimakasih telah mereviews.

Sampai bertemu di chapter selanjutnya.