Janji Di Bawah Sunset
Chapter 3
Pria Berambut Merah
'Apa ini?' guman gadi itu, tenyata ada sebuah kertas telipat rapi di tempat duduknya dan bertuliskan "Untuk Sakura". Gadis itu pun segera mengambil kertas itu, lalu duduk dan membuka kertasnya.
Sakura,
sepulang sekolah nanati aku akan
menunggumu di taman belakang.
Kau harus datang ya..
"Selamat pagi, Sakura." kata teman sebangkunya yang baru saja datang, Sakura pun langsung menyembunyikan kertas itu dengan ke dua tangannya.
"Pagi…" Jawab Sakura.
"Eh, apa itu?" tenyata Tenten sudah menyedari benda yang disemunyikan teman sebangkunya.
"Oh ini, ini bukan apa-apa. Sungguh…" kata Sakura sambil tertawa palsu.
"Apa benar?" Sakura pun mengengukan kepalanya. "Kalau begitu coba aku lihat…" Tenten dengan sangat gesit merebut kertas yang ada ditangannya dan langsung membaca surat itu.
"Tenten…."
"KYA… dari siapa ini?" Kini Tenten mulai berteriak-teriak gaje di kelas itu, Sasuke yang kaget dengan teriakannya pun menoleh padanya. "Sa-sasuke….. selamat pagi hehehe"
"Pagi…" jawab Sasuke dengan singkat. 'Gadis yang berisik.' Komentar dalam hatinya.
"Sakura, dari siapa ini?" Tanya Tenten lagi.
"Aku tidak tahu, tadi aku menemukannya di tempat disini."
"Begitu ya, lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?"
"Entahlah…."
"Kenapa begitu, apa kau tidak mau menemui orang itu?"
"Hanya saja aku tidak yakin." Sakura pun menatap Sasuke yang ada di sebelah kanannya.
"Dengar ya, jika aku jadi kau aku mau menemuinya."
"Lalu setelah itu apa yang akan kau lakukan?."
"Em….. kemari!" Tenten pun membisikan sesuatu pada telinga Sakura.
"Ta-tapi masalahnya….."
"Coba saja dulu!"
"Iya-iya baiklah."
Singkat cerita, jam pelajaran pun berakhir. Semua murid yang ada di kelas itu pun keluar, kecuali Sasuke. Sepertinya dia masih ingin berlama-lama di kelas itu sambil memandangi pemandangan kota yang terlihat dari tempat duduknya yang berada di lantai 2.
"Sasuke, kau tidak pulang?" Tanya si anak pirang.
"Tidak, aku belum mau pulang."Jawab Sasuke yang terus menatap ke luar jendela.
"Ya sudah kalau begitu, aku pulang duluan saja." Naruto pun beranjak dari tempat duduknya.
"Hm….." kini Sasuke sendirian di sana, dia memikirkan begitu banyak kemungkinan yang ada dalam masalahnya ini. Sempat terlintas rasa ragu dalam hatinya bisa mengembalikan ingatan Sakura, karena menurut informasi yang didapat dari kepala sekolah, Sakura mengalami Amnesia yang jangka pemulihannya sangat panjang. 'Tapi seberapa panjang waktu yang dibutuhkan? Aku tidak bisa menunggu terus menerus, apa aku harus melakukannya sendiri?' Gumam pria berambut hitam.
Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang sahabat sedang berusaha untuk meyakinkan temannya untuk memenuhi permintaan si penulis rahasia surat itu.
"Sakura, tunggu apa lagi? Ayo cepat sana, orangnya sudah menunggu." Kata tenten sambil mendorong-dorong badan temannya, memang saat itu telah terlihat seseorang berdiri membelakangi mereka di bawah pohon.
"Ta-tapi aku…." Kata-kata Sakura terpotong oleh Tenten.
"Tidak, dia tidak mempermainkanmu, jika saat ini dia hanya mempermainkanmu pasti dia tidak akan menunggu di sana. sekarang berjuang ya…" Kata Tenten yang sedikit mendorong badan Sakura.
"Aduh.." Sakura pun berusaha menyeimbangkan tubuhnya dan Tenten dia langsung tancab gas lalu mengintip mereka dari kejauhan. Sakura pun mendekat pada orang itu. "Ehm…" Orang itu pun membalikan badannya.
"Sakura, kau sudah datang ya." Kata pira berambut merah itu.
"Gaara?"
"Iya." Gaara pun tersenyum. "Terimakasih memenuhi permintaanku."
"Apa maksudnya ini?"
"Ini, ya…. Hanya sekerdar pertemuan kecil saja."
"Pertemuan kecil?"
"Ya, benar. Aku hanya ingin bicara empat mata padamu tanpa ada yang mengganggu."
"…." Sakura pun terdiam.
"Aku hanya ingin kau tahu, semenjak kau hadir di kelas kami aku melihat sesuatu yang berbeda darimu. Matamu, rambutmu," Gaara pun membelai rambut Sakura. "senyummu, tawamu dan semuanya aku sangat menyukai itu." Dan kedua tangannya dia simpan di bahu Sakura. "Aku menyukaimu, Sakura."
"Kau menyukaiku?"
"Ya, benar. Bahkan sangat menyukaimu. Jadi aku ingin kau jadi ….." Kata pria itu, Gaara pun mulai berlutut di depan Sakura. "Jadilah kekasihku, Sakura."
"…." Sakura terdiam, semua yang dia bayangkan ternyata sanga ada di luar dugaan.
Tapi di tempat lain, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Orang itu merasa cemburu luar biasa, emosi yang hampir meledak kini sudah terlihat pada wajahnya.
'Awas kau anak pungut!' gumam gadis berambut merah itu.
Keesokan harinya, saat jam pelajaran ke 2. Saat ini semuanya sangat berisik di kelas, karena memang dari jam pertama belum ada guru yang masuk. Semuanya sangat heboh dengan obrolan masing-masing, tapi memang ada beberapa yang bersikap baik seperti membaca-baca saja. Begitu juga dengan Sakura dan Tenten yang sangat asik sekali membicarakan kejadian kemari.
"Oh, begitu ya. Lalu dia bilang apa lagi?" Tanya Tenten.
"Dia bilang, begitu begitu begitu dan begini." Jawab Sakura.
"Apa maksudnya begitu begitu begitu dan begini?"
"A-anu… aduh bagaimana ya?" Kelihatannya Sakura khawatir ada yang menguing pembicaraan mereka. Apa lagi orang yang mereka bicarakan ada di dua bangku belakang dari mereka.
"Cepat, dia bilang apa? Dia tidak akan dengar. Dia sedang asik bercanda dengan Kiba."
"Baiklah dia bilang…. Em, 'Jadilah kekasihku.' Begitu katanya."
"Kyaaaaa apa benar? Sangat Romantis. Lalu-lalu… kau jawab apa?"
"Aku tidak jawab apa-apa. Heeeemmmmm… Tenten, bagaimana ini….?"
"Bagaimana apanya? Jika kau juga menyukainya, kau tinggal terima saja."
"Bukan itu….."
"Lalu apa?"
"Aku sudah menyukai seseorang…."
"A-apa?"
"Iya, itu alasanku yang sebenarnya. Aku kira, yang mengirim surat itu adalah Sasuke, tapi kemarin pada saat kita keluar kelas dia hanya diam saja di kelas. Apa yang ha…" kata-kata sakura terpotong oleh Tenten.
"Tunggu- tunggu,,, tunggu dulu. Tahan bicaramu, aku ingi ke toilet sebentar ya. Hehe."
"Tenten….." Kata Sakura. Tenten pun segera tancab gas menuju tolet.
Tapi saat bangku tenten terlihat kosong, pria berambut merah itu segera menempatinya.
"Hi, Sakura." Sapa Gaara.
"Oh, hi."
"Jadi bagaimana yang kemarin?"
"A-anu.. aku masih belum bisa menjawabnya sekarang."
"Begitu ya. Kenapa?"
"Banyak yang harus aku pertimbangkan."
"Banyak yang harus kau pertimbangkan, kau ini seperti pertama kali pacaran saja." Kata Gaara, tapi tak di sangka Sakura menganggukan kepalanya. "Apa, jadi kau sama sekali belum pernah pacaran ya?"
"I-iya.. jadi, aku…." Sakura mulai memainkan tangannya hampir sama seperti kebiasaan Hinata.
"Ya, baiklah. Aku mengeti, aku akan memberikanmu waktu sampai kau siap menjawabnya."
"Iya, tapi aku rasa lebih baik tidak memaksakan diri seperti itu."
"Tidak, aku tidak memaksakan diri, bahkan aku senang menunggu untukmu."
"Begitu ya?" Sakura pun tersenyum.
Inner Sakura.
"WAAAAHAHAAA! APA KAU TIDAK MENGERTI? KENAPA KAU SELALU TIDAK MENGETI?! KAU INI BENAR-BENAR…" innernya terhenti oleh ucapan Gaara.
"Sakura, sudah dulu ya." Gaara pun kembali ke tampatnya karena melihat Tenten sudah kembali.
"Iya…."
"Sakura, jadi bagaimana yang tadi?" Tanya Tenten sambil duduk di kusinya.
"Begini…bla….bla…..bla…" Begitulah cuplikan curahan hati seorang Sakura, jika ditulis pasti sangat pangjang. Memang ini adalah masalah yang lumayan berat untuknya, disisi lain Sakura menyukai seseorang, tapi disisi lain Sakura juga tak ingin melihat Gaara kecewa. Mungkin untuk saat ini lebih baik diam saja, menunggu waktu yang memutuskan dan mencari fakta yang dapat memperkuat alasannya.
Singkat cerita, jam pulang sekolah pun tiba, Seperti kemarin Sasuke tidak beranjak dulu dari bangkunya. Kebiasaan barunya itu sangat mencuri perhatian Sakura dan membuat gadis berambut pink ini begitu penasaran.
'Akhir-akhir ini Sasuke selalu melamun, dia tak cepat-cepat pulang seperti yang lainnya. Sebenarnya dia kenapa?' gumam gadis itu. Akhirnya dia pun memutuskan untuk mengobati rasa penasarannya. "Sasuke…"
"Hm..." Jawab Sasuke yang sama sekali tak melihat pada sumber suara.
"Kenapa bukumu belum kau bereskan?" Tanya Sakura yang melihat buku pria berambut hitam itu masih ada di atas meja.
"Sakura?" Kata Sasuke sambil menoleh ke arahnya, gadis itu pun segera duduk di bangku kosong sebelahnya.
"Apa kau tidak apa-apa?"
"Tidak, aku tidak apa-apa. Oh iya, ada apa? Tidak biasanya kau tidak langsung pulang."
"Em, anu. Aku ingin bertanya sesuatu. Apa kau termasuk orang yang percaya tentang mimpi?"
"Mimpi? Aku rasa aku sedikit percaya. Memangnya kenapa?"
"Begini, akhir-akhir ini sudah beberapa kali aku bermimpi yang sama. Entah itu isyarat tuhan atau apa, tapi mimpi itu seperti kejadian nyata bagiku. Kemarin malam, aku bermimpi berada di teluk yang waktu itu kita datangi. Saat itu adalah saat matahari akan tenggelam, disana aku sedang menunggu seseorang. Lalu, orang itupun datang dan memberikanku sebuah benda. Setelah itu dia bilang akan menungguku disana tepat pada saat usiaku genap 17 tahun. Aku pun terbangun dan meneriakan namamu. Dan jika di pikir-pikir lagi, anak itu sangat mirip denganmu. Apa kau bisa menjelaskan maksudnya?" Sasuke yang mendengar cerita sakura, langsung saja membulatkan matanya. Dia tak percaya, ternyata waktu kepulihan itu sudah datang.
"Apa kau berkata jujur?"
"Iya, aku berkata jujur."
"Ok, aku rasa itu adalah sebuah ingatan yang kau lupakan dengan anak itu. Coba ingat-ingat lagi masa kecilmu!"
"Tapi aku… aku sama sekali tidak bisa mengingat hal itu."
"Kenapa?" Sasuke pura-pura tidak tahu.
"Entahlah, aku rasa ada sebuah benda yang menimpa kepalaku."
"Begitu ya, lalu jika kau sudah bisa mengingat kembali masa kecilmu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tak akan pernah melupakannya lagi."
"Benarkah, walau pun itu adalah kenyataan yang pahit?" Sakura pun terdiam.
"Iya, walaupun itu pahit aku harus bisa menerimanya." Sasuke pun tersenyum mendengarnya. Ternyata dia sudah mulai membuka hati untuk mengetahui semuanya. Sebenarnya Sasuke sangat ingat betul tentang kejadian di mimpi Sakura, tapi dia tak mau memberitahunya secara sekligus.
"Jika anak kecil itu adalah aku, apa yang akan kau lakukan?"
"Pertama aku akan bertanya satu hal padanya. Mana benda itu?" Sasuke pun menunjukan kalungnya. Ternyata Sakura kaget, dia tak menyangka Sasuke mengetahui benda yang dimaksudkan.
"Apa kau membelinya di sebuah toko dekat pantai?"
"Tidak, ayahku yang memberikannya untuk kita. Dan tidak akan ada lagi yang menyamai kalung kita. Lalu apa lagi?"
"Apa maksudnya kau akan menunggu di sana?"
"Jika sudah waktunya kau akan tahu. Itu adalah sebuah janji bagiku dan adalah sebuah permintaan untukmu."
"Jika aku tidak datang bagaimana?"
"Aku akan terus menunggu sampai fajar muncul." Sasuke pun tersenyum. "Bagaimana pun juga itu adalah sebuah janji kan?"
"Begitu ya. Lalu keluargaku gabaimana? Mereka ada dimana?" Sasuke kini terdiam, dia tak bisa menjawabnya untuk saat ini, karena jika dia menjawabnya sekarang akan terlihat seperti omong kosong saja.
"Untuk masalah itu, kau harus cari tahu sendiri."
"Haaaaaahhhh…" Sakura pun mengelah hafas. "Sudah hentikan omong kosong ini."
"Tidak, ini bukan omong kosong."
"Apa?"
"Sudahlah. ayo kita pulang."
"I-iya." Sakura langsung berdiri dari tempat duduknya, sementara Sasuke membereskan buku yang ada di mejanya. Lalu merekapun menuju ke tempat loker, setelah selesai mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Tapi…
"Sasuke, sepertinya ada yang tertinggal. Tunggu dulu sebentar ya." Kata Sakura yang langsung berlari meninggalkan Sasuke di koridor kelas.
"Hm, cepatlah.!" Jawab Sasuke. 'Cepatlah, agar aku bisa selalu melihatmu.' Lalu di tempat loker siswa, Sakura terlihat sedang membuka lokernya.
"Nah, ini dia. untung saja tidak teringgal." Kata Gadis itu sambil membawa Ponselnya. Peraturan sekolah ini memang ketat untuk tidak membawa Ponsel ke kelas, jadi para siswa menaruh ponsel mereka di sana.
"Akhirnya ketemu juga kau, anak pungut." Kata gadis terambut merah itu, lalu dia pun menghampiri Sakura. "Hey kau..!"
"Ya." Jawab Sakura sambil menutup lokernya.
"Dasar anak pungut, berani-beraninya kau merebut Gaara dariku!"
-TBC-
Terimakasih telah membaca. Menurutmu, siapa gadis berambut merah itu dan apa yang akan dia lakukan pada Sakura? ya….. kita nantikan di chapter berikutnya.
Untuk Nice Reviewer, , dan akbar123 terimakasih telah mereviews. Maaf jika ide-ideku ini masih terbilang sedikit pasaran dan masih ada typonya, aku memang baru belajar. Tapi aku akan mencari ide lain agar tidak terlalu pasaran. Maklum masih amatir… heheheh. Oh iya, kisah ini masih terus di lanjut kok, tapi jika harus update kilat mungkin aku tidak sanggup. Karena aku pegang dua cerita yang masing-masing sedang menuju klimaks, jadi butuh pemikiran yang ekstra. Maaf ya…
Ok, sampai disini saja. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
