Janji Di Bawah Sunset

By: Haruno Tsubaki

Chapter 4

Memori

"Akhirnya ketemu juga kau, anak pungut." Kata gadis terambut merah itu, lalu dia pun menghampiri Sakura. "Hey kau..!"

"Ya." Jawab Sakura sambil menutup lokernya.

"Dasar anak pungut, berani-beraninya kau merebut Gaara dariku!"

"Apa maksudmu aku merebut Gaara?"

"Dengar anak pungut!" Karin mendorong Sakura. "Aku adalah orang paling berkuasa disini, jadi jangan berani macam-macam denganku. Gaara adalah milikku, jangan pernah bermimpi kau bisa merebutnya." Sebenarnya Karin adalah anak dari Jiraiya.

"Aku sama sekali tidak pernah ingin merebut Gaara dari siapapun."

"Benarkah? Memangnnya aku tidak melihat tingkahmu yang kegatelan menggodanya di taman belakan, HAH?!"

"Aku tidak menggodanya. Jika kau memang menginginkannya kenapa tidak kau ambil saja sendiri!"

PLAAK..! Karin menampar Sakura.

PLAAAAK…! Sakura pun membalas tamparan Karin. "Aku tahu, ayahmu adalah seorang pipminan di sekolah ini. Tapi kau tidak akan pernah takut dengan orang yang bisanya hanya bersemunyi dibalik kekuasaan ayahnya!"

"TUTUP MULUTMU ANAK PUNGUT…!"

BUKK…..! Kini Karin memukul wajah Sakura hingga badannya terdorong dan kepalanya pun membemtur loker hingga terkapar.

"Karin, apa yang kau lakukan?" kata Gaara yang tiba-tiba saja berdiri di belakang Karin.

"Ga-Gaara?" Karin sangat kaget.

"Sakura…" Sasuke yang berlari menghampiri sakura yang terkapar. "Sakura kau dengan aku? Sakura, Sakura sadarlah… sakura.."

"Sakura, bangunlah." Kini Gaara ikut-ikutan membangunkan Sakura. "Aku akan membawanya ke UKS." Tangan Gaara pun meraih badan Sakura.

"Singkirkan tanganmu!" Sasuke pun menepis tangannya. "Kau tak berhak menyentuh Sakura."

"Kenapa?"

"Akulah yang menjaga Sakura, bukan kau." Sasuke pun meraih badan Sakura dan menggendongnnya untuk dibawa ke UKS. "Sebaiknya kau urus saja pacarmu itu!" Kata Sasuke sambil melewati Karin.

Sasuke telah pergi dari tempat itu, kini tak ada pembicaraan apa pun dari mulut Gaara dan Karin. Gaara terdiam dan berfikir kenapa ini bisa terjadi dan kenapa Sasuke bilang dia adalah orang yang menjaga Sakura, padahal dia tak punya ikatan apa pun dengan Sakura. sementara Karin, dia hanya bisa menangis. Entah apa yang dia tangisi sebenarnya, punya rasa bersalah pun tidak. Hanya air mata buaya.

"Kau! Apa yang kau lakukan?" nada bicara pria itu pun mulai tinggi

"Gaara, aku.."

"Apa yang kau lakukan pada Sakura? orang macam apa kau, kau Iblis!"

"Tapi aku hanya…"

"DIAM! Aku tak mau mendengar alasan apa pun darimu. Kau Iblis." Kata Gaara, dia pun berjalan melewati Karin.

"Gaara, maafkan aku." Kata Gadis itu sambil memeluknya dari belakang.

"Lepaskan!"

"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu" air mata Karin menetes selakin deras.

"Sudahlah, sebaiknya kau hapus saja air mata buayamu. Lepaskan!" Gaara pun meronta.

"Tidak… aku tidak akan melepaskanmu. Aku lakukan semua ini karena aku mencintaimu, aku tak mau sipapun merebutmu. Aku mohon, maafkan aku… maafkan aku. Jangan pergi…"

"Karin dengarlah!" Nada bicaranya kini menurun. "Aku ini bukan milikmu, Aku juga bukan milik Sakura atau sipapun. Aku hanya menganggapmu sebagai teman biasa. Jadi aku mohon, lepaskan tanganmu.!"

"….." tak ada kata apapun dari Karin. Tangan Gaara pun mulai memegang tangan Karin yang melingkar di dadanya lalu menurunkannya. Gaara pun bejalan pergi meninggalkan Karin sendirian.

Sementara di UKS, Sasuke terlihat sibuk menelpon ibu angkat Sakura. dia sangat panik karena Sakura tak kunjung bangun meski petugas medis sekolah sudah membangunkannya berulang kali. Tapi tak selang beberapa lama, Nona Tsunade datang menjemput Sakura dan Sakura pun dibawa ke Rumah Sakit.

Saat ini, terlihat Sasuke sedang menemani Sakura di ruang perawatan. Sudah hampir jam 10 malam tapi tak ada tanda-tanda Sakura akan siuman.

'Sakura, bangunlah. Aku mohon, aku tak mau kehilanganmu untuk yang ke dua kalinya.' Gumam Sasuke.

"Sasuke.." Kata ibu angkat Sakura yang baru saja masuk ke ruangan itu. "Pulanglah, ini sudah malam. Kau juga perlu istirahat, nanti akan aku hubungi jika Sakura telah siuman.

"Tapi….."

"Pulanglah, aku tak mau membuat keluargamu khawatir."

"Baiklah, aku mengerti."Sasuke pun bangkit dari tempat duduknya. "Sakura, maaf aku tidak bisa menjagamu dengan baik." Pria berambut hitam itu pun beranjak pergi menuju pintu.

"Sasuke…" kata Nona Tsunade, Sasuke pun berbalik badan. "Mungkin hubunganku dengan Jiraiya akan memburuk dengan adanya peristiwa ini. Tapi, aku tidak akan mempermasalahkan hal ini dengan serius. Aku tahu, Jiraiya adalah orang yang baik."

"Iya, aku mengerti"

"Terimakasih telah menjaga Sakura."

"Ya, terimakasih kembali. Selamat malam."

"Selamat malam." Sasuke pun keluar dari ruangan itu.

Keesokan harinya, jari Sakura mulai bergerak. Kelopak matanya pun mulai terbuka. Terlihat atap yang asing baginya, ruangan itu pun juga terlihat asing. Dilihatnya cairan infuse terpasang di tangannya.

"Dimana aku.." Kata Sakura.

"Kau sudah bangun, Sakura." Kata Tsunade.

"Ibu, aku dimana?"

"Kau ada di Rumah sakit."

"Rumah sakit, memangnya aku kenapa?"

"Memangnnya kau tidak ingat?"

"Oh iya, kemarin aku…" Tiba-tiba saja sakura terdiam. "Bu, ayahku mana?"

"Ayahmu?"

"Iya, kenapa hanya ada ibu, apa mamah tidak datang ke sini?" sepertinya Sakura merasa dirinya baru bangun dari tragedy 10 tahun lalu.

"Mamah, kau ini bicara apa? Apa kau masih bermimpi?"

"Tapi kan…" Lagi-lagi Sakura diam, sekarang memorinya sudah kembali. Tapi bukan hanya memori yang dia ingat, bahkan ingatannya yang hilang pun kembali. "Ayah, ayah di mana? Adikku dan mamah kemana mereka? kenapa mereka tidak ada disini? Mereka selamat kan?" mata gadis itu mulai berkaca-kaca.

"Sakura kau kenapa?"

"Bu, kemana mereka? kenapa mereka tidak ada disini?" Sakura mulai menangis.

"Sakura, tenanglah!" Tsunade pun memeluknya.

"Mana mereka? kemana mereka?" Sakura pun histeris.

"Tenanglah, Dokter, dokter cepat kemari… dokter…." Tak lama Dokter pun datang, dia memberikan obat penenang untuk Sakura. dan untunglah Sakura tak histeris lagi setelah obat itu diberikan. Tsunde pun cepat menelpon sang pemilik panti yang pernah merawat Sakura untuk menjelaskan semua yang terjadi pada mereka.

"Ibu…" Sakura memanggil ibunya.

"Kenapa, apa yang kau rasakan?"

"Kenapa mereka tidak ada di sini? Mereka kemana?"

"Tenanglah, Tuan Kabuto akan segera tiba. Dia akan menjelaskan apa yang terjadi."

"Permisi…" Tedengar seorang pria baru saja masuk ke ruangan itu.

"Itu dia, dia sudah datang." Kata Tsunade. Pria setengah baya itu pun segera menghampiri Sakura yang terbaring lemah.

"Bagaimana keadaanmu, Sakura?" kata Kabuto.

"Tuan Kabuto, kemana mereka?" Tanya Sakura.

"Ternyata ingatamu sudah kembali ya, sebelunya aku minta maaf tidak memberi hatumu dari awal. Sebenarnya tragedy 10 tahun silam ini dimulai saat aku bertemu denganmu bersama Sasuke di pantai."

"Sasuke?"

"Benar, dia adalah temanmu kan? Saat itu kalian…."

Flashback

"Sakura lihat, mataharinya terbenam." Kata Sasuke.

"Iya benar." Ujar Sakura.

"Mataharinya seperti telur mata sapi."

"Te-telur mata sapi, jangan-jangan kau lapar ya?"

"Hehehe, aku ketahuan. Em….. Sakura."

"Apa?"

"Aku akan menunggumu di sini, tepat pada saat kau berusaia 17 tahun. Kau harus datang ya, ini permintaan.

"Apa, tapi itu kan masih 10 tahun lagi."

"Biar saja, bagiku tidak masalah menuggumu selama 10 tahun. Bahkan 100 tahun pun akan aku tunggu, asal kau kembali ke sini nanti."

"Kau ini, ada-ada saja."

"Aku serius, Sakura. berjanjilah, nanti kau akan datang."

"Iya baiklah, aku berjanji aku akan datang. Memangnya nanti kau mau apa?"

"Em, rahasia….."

"Kau ini…"

"Hey, kalian. Apa yang kalian lakukan disana?" Tanya Kabuto.

"Tuan Kabuto, kami sedang melihat matahari terbenam." Jawab Sakura.

"Begitu ya." Kabuto pun menghampiri mereka. "Kalian suka melihat marahari terbenam disini?"

"Tentu saja, ini adalah tempat paforit kami untuk melihat matahari terbenam. Benarkan Sakura?" Ujar Sasuke.

"Tentu saja."

"Begitu ya, sekarangkan matahatinya sudah terbenam, sebaiknya kalian pulang. Nanti orang tua kalian khawatir. Ayo aku antar kalian pulang, kebetulan aku juga akan kembali ke panti.

"Iya." Kata mereka berdua. Lalu mereka bertiga pun beranjak dari sana. karena rumah Sasuke lebih dekat, maka tinggal mereka berdua saja yang masih berjalan dan tak lama mereka sampai di depan rumah Sakura.

"Tuan Kabuto, aku pulang dulu ya."

"Ya…" Kabuto pun kembali melanjutkan perjalanannya, tak seberapa jauh jarak dari rumah Sakura, terdengar gadis berambut pink itu pun berteriak.

"AAAAAA…. TOLONG… SIAPA PUN LOLONG AKU…!"

"Sakura…" Kabuto pun kembali sambil berlari ke rumah itu, dilihatnya rumah sakura sudah mengeluarkan banyak asap meski api masih terbilang kecil di dalam rumah. Kabuto berusaha membuka pintu depan, namun mustahil pintunya berlapis trails besi. Dia pun berlari menuju pintu belakan dan dia pun berhasil mendobraknya.

BRAAKK! Pintu pun didobrak

"Sakura.."

"Tuan Kabuto, tolong aku." Sakura terjebak oleh tetuntuhan di sana.

"Bertahanlah.." Pria itu pun mencoba masuk, tapi….

"AAAAAAAA!" Gadis kecil itu kembali berteriak, ternyata ada balok kayu yang menimpa kepalanya hingga tak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang lagi, Kabuto langsung menyingkirkan balok kayu yang menimpanya dan membawa Sakura keluar. Dia pun membaringkan tubuh sakura di tempat yang aman. "Sakura, kau tunggu dulu di sini." Pria itu pun kebali ke dalam rumah. "APA MASIH ADA ORANG DI DALAM….?"

"…" Tak ada jawaban yang terdengar.

"HOYYY, APA ADA ORANG, APA MASIH ADA YANG TERJEBAK." Pria itu terus masuk menyusuri ruangan, tapi dari tadi tak ada jawaban sama sekali. Perjalanannya pun terhenti karena material bangunan mulai berjatuhan. Akhirnya pria itu keluar dengan tangan hampa. "TOLOOOONG… KEBAKARAN…! KEBAKARAN!" Dan pria itu langsung membawa Sakura yang tak sadarkan diri ke rumah sakit.

End Flashback

"Sungguh kejadian yang aneh, sore itu sangat sepi sekali. Orang-orang seakan tak ada di sana dan kebakaran pun sangat cepat terjadi. Aku berusaha memanggil orang tuamu namun tak ada jawaban. Sebenarnya apa yang kau lihat pada saat masuk ke rumahmu waktu itu?."

"Aku… aku mencium bau bensin yang bocor dari sepeda motor ayah yang ada di garasi belakang. Aku pikir ayah sedang membetulkan motornya. Di rumah sangat sepi, aku lihat ibu dan adikku terbaring di kamarnya. Tapi saat aku akan ke kamar mandi, ayah sedang mandi disana. Aku pun menuju ke ruang makan, tapi tak lama api menyala begitu saja dan sangat cepat sekali membesar." Ujar Sakura sambil menangis.

"Apa kau melihat seseorang yang baru keluar dari pintu belakang?"

"Tidak, memangnya ada apa?"

"Saat itu aku menyelamatkanmu dari puntu belakan, pintu itu sangat mudah di dobrak."

"Apa?"

"Ya, tapi menurut penyelidikan itu adalah kebakaran murni."

"Tapi kenapa Tuan mau merawatku?"

"Karena aku ini sangat kenal betul dengan orang tuamu, aku tahu kalian tidak punya kerabat lagi kan? jadi aku memutuskan merawatmu di pantiku."

"Tapi kenapa teman-temanku tak ada yang tahu?"

"Mau beri tahu bagaimana, saat itu aku langsung membawamu ke rumah sakit sendirian. Saat itu aku masih tak punya ponsel, hanya ada telpon rumah di panti. Di tambah lagi tak ada nomor teman-temanmu yang tersedia di sana dan jarak panti dengan kampung halamanmu itu sangat jauh. Kebetulan aku ke pantai karena telah mencari kulit kerang."

"Begitu ya. Terimakasih, selama ini kau telah merawatku dengan baik."

"Sudahlah, bagaimana pun juga aku sudah mengangapmu sebagai anakku sendiri."

"Lalu, keluargaku di makamkan dimana?"

"Aku sendiri tak tahu. Mungkin temanmu ada yang mengetahuinya." Ujar kabuto. Pertemuan mereka berlangsung singkat, tapi sedikitnya pertemuan ini telah membuat Sakura bisa mengetahui dan menerima kenyataan.

Sesaat setelah Kabuto pergi.

"Ibu akan menelpon Sasuke, ibu akan menanyakan dimana makan keluargamu." Ujar Tsunade.

"Jangan, jangan dulu bu. Jangan beritahu dulu Sasuke tentang ini. Aku tak ingin dulu dia tahu ingatanku telah kembali, jangan beri tahu juga teman-temanku bu."

"Kenapa?"

"Itu…. Itu biar aku yang beritahu mereka."

"Ya sudah, kalau begitu ibu akan menelponnya untuk mengabarkan kau telah siuman saja."

"Iya, terimakasih bu." Kata Sakura, sang ibu angkat itu pun segera menelpon Sasuke. tapi sayang sepertinya Sasuke tidak bisa langsung menengok Sakura saat itu juga karena beberapa urusan di sekolah yang harus dia kerjakan.

Karena dokter telah memperbolehkan Sakura untuk pulang, jadi pasangan anak dan ibu ini pun langsung bergegas pulang ke rumah megah mereka. tapi ditengah perjalanan….

"Bu, apa kita bisa ke kampung halamanku dulu?" Tanya Sakura.

"Tapi, kita kan harus pulang." Kata Tsunade.

"Aku mohon, bu! Aku ingin mengunjungi makan keluargaku dulu sebentar."

"Baiklah, ibu tidak bisa menolak permintaanmu." Lalu mobil yang ditumpangi mereka pun berputar arah menuju suatu perkampungan dekat pantai. Disana Tsunade bertanya-tanya tentang keluarga Haruno pada penduduk sekitar. Akhirnya mereka pun mendapatkan informasi tentang lokasi pemakamannya. Mereka di makamkan di pemakaman umum di tempat itu. Tanpa basa-basi, mereka pun segera tancap gas ke lokasi.

Di pemakaman, Sakura menaburkan bunga di atas makam mereka.

"Mamah, kenapa kau meninggalkanku? Kenapa ayah dan Haku juga ikut pergi, kenapa aku ditinggal sendirian? Hiks… Hiks…" sakura menangis

"Sakura sudah, jangan terus menangis. mereka pasti sedih jika malihatmu seperti ini, sudah ya." Kata Tsunade. "Sebenanya, kau dan ibu memiliki posisi yang sama. Dulu ibu juga memiliki seorang anak perempuan, namanya Shizune."

"Shizune?"

"Benar, dia meninggal sekitar 8 tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan lalulintas, begitu juga dengan ayahnya Dan Kato. Jika dia masih ada, pasti dia sebaya denganmu dan juga sangat cantik. Saat itu, aku merasa tuhan sangatlah tak adil. Kenapa Dia hanya membawa mereka, kenapa tidak membawaku juga. Aku sangat berlarut-larut dalam kesedihan, hingga akhirnya aku jatuh sakit. Sakura?"

"Iya bu."

"Jadi mulai sekarang kau jangan berlarut-larut dalam kesedihan ini ya, sekarang seharusanya kau mulai memikirkan langkah selanjutnya. Bagi ibu, sekarang kau adalah pengganti Shizune dan ayahnya. Begitu juga sebaliknya, ibu adalah pengganti keluargamu. Ibu berjanji pada mereka akan selalu menjagamu, sampai kapan pun."

"Terimakasih, ibu." Mereka pun berangkulan.

Di taman belakang sekolah.

"Sakura…" kata pria berambut hitam.

"Sasuke?"

"Apa yang kau lakukan disini?" sasuke pun menghapmiri Sakura dan duduk di bangku taman tepat di samping Sakura.

"Tidak ada, aku hanya sedang mendinginkan kepala saja."

"Mendinginkan kepala? Apa aku perlu memberikanmu es batu untuk kau taruh di kepalamu?"

"Kau ini ada-ada saja. Sebenarnya, aku sedang merindukan sebuah pohon besar yang ada di halaman rumahku yang dulu."

"Rumahmu yang dulu?" Sasuke mulai bingung.

"A-anu, maksudku panti." Sakura berbohong.

"Oh begitu ya, memanya ada apa dengan pohon besar yang ada di panti?"

"Aku merindukan saat-saat aku bermain dengan teman-temanku di sana."

"Begitu ya, Sakura aku minta maaf saat itu aku tidak bisa ikut menjemputmu pulang dari Rumah Sakit. Disini ku sangat kewalahan menyelesaikan semuanya dengan teman-teman, sampai-sampai aku pulang hampir tengah malam. Dan kau tahu, ibu hampir saja marah besar karena mengira aku melakukan hal yang aneh-aneh karena pulang larut."

"Benarkah? Sepertinya ibumu itu sangat galak."

"Em, tidak. Aku rasa galak itu telalu kejam baginya, ibu lebih cocok disebut dengan orang yang sangat disiplin. Tapi sikapnya sangat lembut padaku dan kakak."

"Maaf…"

"Tidak apa-apa."

"Em, Sasuke?"

"Apa?"

"Sebenarnya aku mempunyai sebuah permintaan untukmu, apa kau bisa mengabulkannya?"

"Apa pun itu Tuan Putri, aku akan mengabulkannya." Sasuke pun melipat tangannya di dada seperti Jin Lampu Aladin.

"Em, anu… aku ingin…." Kata-kata Sakura terpotong oleh seseorang yang baru saja datang.

"Sakura, kau sedang apa di sana?"

-TBC-

Teimakasih telah membaca, jadi siapakah orang yang baru datang itu? Apa yang Sakura inginkan dan kapan Sakura akan mengatakan ingatannya telah kembali pada teman-temannya? kita nantikan dichapter berikutnya.

Terimakasih untuk hanazono yuri, Mega dwi dan yang lain telah mereviews, maaf ya kalau masih ada typo. Oh iya, sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak bisa update kilat, karena saya memegang 2 story. Untuk menunggu Janji di Bawah Sunset ini di update lagi, silahkan berkunjung ke blog saya,saya sudah mengupdate lebih dari 10 chapter.

Ok, untuk sekarang sampai disini saja. Sampai jumpa di chapter berikutnya.