Janji Di Bawah Sunset

By: Haruno Tsubaki

Chapter 5

Satu Kali Lagi

"Sebenarnya aku mempunyai sebuah permintaan untukmu, apa kau bisa mengabulkannya?"

"Apa pun itu Tuan Putri, aku akan mengabulkannya." Sasuke pun melipat tangannya di dada seperti Jin Lampu Aladin.

"Em, anu… aku ingin…." Kata-kata Sakura terpotong oleh seseorang yang baru saja datang.

"Sakura, kau sedang apa di sana?" Tanya pria berambut merah dan secara spontan Sasuke dan Sakura menoleh ke arahnya.

"Gaara, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sakura, Gaara pun menghampiri mereka dan berdiri tepat diantara mereka.

"Em, apa ya yang aku lakukan?" Gaara pun menepuk pundak Sasuke dari belakang. "Hey pantan ayam, geser sedikit…!"

"Enak saja kau bilang, tidak mau." Ujar Sasuke

"Aku bilang geser sedikit.!"

"Duduk saja di sana, di sana kan masih kosong." Sasuke pun menunjuk bangku taman yang ada di samping mereka.

"Aku bilang geser sedikiiiiiiiiiitttt…..!" Gaara pun menerobos mereka dan mendorong Sasuke.

BRUUUKK! Sasuke jatuh tersungkur.

"Kau! Dasar kau jidat berstempel, apa yang kau lakukan?" Sasuke pun bangkit.

"Jidat berstempel katamu? Ini tato, dasar pantat ayam!"

"Tato, apa benar? Tapi kelihatannya itu seperti stempel di kantor ayahmu? Jangan-jangan kau mencurinya dari kantor dan setiap pagi kau menstempet jidatmu dulu sebelum berangkat ke sekolah. Hahahahaha."

"Tutup mulutmu, pantat ayam!"

"Hahahahahah. Sakura, coba lihat!" Sasuke pun memegangi kepala Gaara dan dihadapkan wajahnya pada Sakura. "Dia memakai stempel di jidat. Hahahaha"

"…." Sakura tak mengatakan apa pun, dia hanya tertegun melihat tingkah mereka yang masing-masing tidak mau mengalah. Seketika Wajah Gaara langsung memerah seperti kepiting rebus.

"PANTAT AYAAAAAAAMMM!" Gaara pun melayangkan tangannya dan mendaratkan telapak tangannya tepat di wajah Sasuke. lalu tangan yang satu lagi dia lingkarkan di leher Sasuke, dan…. "Rasakan ini!"

"Waahaaa… bau sekali…. Lepaskan aku! Lepaskan, dasar jidat berstempel.." Gaara menempelkan wajah Sasuke tepat di ketiaknya. Gaara terus saja tertawa dan Sasuke terus meronta-ronta karena lehernya terkunci.

"Sudah, hentikan…. Hey, kalian. Ya ampun." Ujar Sakura. sayang mereka tak mendengarkan suara Sakura yang berusaha melerai mereka. "KALIAN BERDUA HENTIKAAAANNN!"

TAAKK! Sakura menjitak kepala Gaara.

"Lepaskan!" Ujar Sakura. Gaara pun kaget dan langsung melepaskan Sasuke.

"UUUOOOO! Bau sekali…. Akhirnya aku bisa bebas.." Sasuke pun muntah-muntah disana.

"Kau juga…"

TAAKK! Sakura juga menjitak Sasuke.

"Kenapa kau juga memukulku?"

"KENAPA KATAMU!" Kini Sakura benar-benar marah pada mereka berdua.

'Se-seram…' Gumam mereka berdua.

"KALIAN INI KENAPA, BERTINGKAH BODOH SEPERTI ANAK KECIL. APA KALIAN TIDAK MALU? DASAR TIDAK TAHU MALU."

"Sa-sakura, tapi dia…." ucapan Gaara terpotong.

"DIAM! JANGAN MEMOTONG SAAT AKU BICARA."

"Maaf…."

"Sekarang, cepat salaman!" tapi mereka hanya saling bertatapan dan membuang muka. "AKU BILANG SALAMAN….!" Mereka pun terpaksa menuruti kata-kata Sakura karena takut Sakura akan lebih marah dari itu. "Sekarang senyum, ayo cepat!" lalu mereka berdua pun nyengir ala iklan pasta gigi.. "Bagus…" Tanpa basa-basi, Sakura pun langsung melangkah pergi meninggalkan mereka.

"Sa-sakura, kau mau ke mana?" Tanya Gaara.

"Pulang."

"Apa pulang, lalu bagaimana dengan permintaanmu yang tadi?" Tanya Sasuke.

"Tidak jadi, nanti saja." Sakura pun terus melangkah pergi meninggalkan mereka yang mematung.

Tak lama setelah itu, sekolah mulai sepi. Yang terlihat hanya ada beberapa anak basket yang sedang latihan. Salah satunya adalah Gaara, orang yang sangat Karin sukai. Menit demi menit pun berlalu dan tiba saatnya bagi mereka untuk istirahat. Begitu juga dengan Gaara, dia langsung berselonjor ria di pinggir lapangan. Tangannya pun mulai meraih tas yang dia taruh di sana, membukanya dan meraba-raba isinya.

"Air minumku mana, jangan-jangan tertinggal di kelas. Apa boleh buat aku harus mengambilnya." Dia pun mulai bergegasuntuk mengambilnya, sesampainya di depan kelas dia melihat pintu kelasnya tidak tertutup rapat. 'Apa masih ada orang?' Gumamnya, tanpa pikir panjang dia pun langsung saja masuk. Tapi….. "Hey, sedang apa kau disini?"

"Gaara, kau sudah datang?" Karin pun tersenyum, terlihat dia sedang duduk manis di tempat duduk sang pujaan hatinya. "Aku sedang menunggumu."

"Menungguku?" Gaara pun menghampirinya.

"Ya, tentu saja. Kau sedang mencari ini kan?" Karin pun menunjukan botol minuman Gaara.

"Apa kau mengambilnya?"

"Tidak."

"Lalu kenapa kau tahu aku mencarinya dan kenapa kau ada di kelasku sendirian?"

"Tadi aku sedang iseng saja lewat sini dan aku lihat pintunya sedikit terbuka jadi aku masuk saja. Sekali-sekali aku ingin duduk di tempat yang sama denganmu, pada saat aku duduk eh ternyata ada ini. Aku tahu kau pasti akan mencarinya, jadi aku putuskan untuk menunggumu saja."

"Oh." Jawab Gaara, dia pun langsung mengambil dan meneguk air dalam botol itu. tanpa basa-basi dia langsung melangkah pergi begitu saja.

"Gaara, kau mau kemana?"

"Ke lapangan."

"Aku mohon jangan pergi dulu." Karin pun meraih tangan Gaara. "Apa kau masih belum bisa memaafkanku?"

"Sudahlah, aku sedang tak ingin membahasnya. Aku harus kelapangan." Gaara pun melanjutkan langkahnya.

"Mungkin bagimu aku ini hanya iblis, iblis yang penuh dengan dosa. Semuanya terlihat buruk dimatamu, tapi ketahuilah iblis ini sangat kesepian. Semua orang, teman-temanku, kau bahkan ayah sekalipun tak pernah peduli denganku." Gaara pun menghentikan langkahnya. "Semua ini aku lakukan hanya untuk dipedulikan oleh kalian. Tapi kalian, apa yang kalian lakukan? Kalian hanya mencapku sebagai iblis dan semakin tak mempedulikanku." Mata Karin mulai berkaca-kaca.

"Itu karena tingkahmu sendiri kan? kau hanya memeperburuk keadaan dirimu saja."

"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, merengek pada ibuku? Ibuku sudah mati, satu-satunya orang yang peduli padaku sudah mati." Gaara pun terdiam dan gadis itu pun mulai menagis. "Pada saat ibuku meninggal, mereka bilang semuanya akan baik-baik saja. Mereka bilang akan berusaha menjadi pengganti ibu untukku agar aku tidak kesepian dan berhenti menangis. TAPI APA BUKTINYA? AKU HANYA DIBUANG… MEREKA TAK PEDULI… MEREKA MUNAFIK…EGOIS!" Karin pun mulai terduduk dan terus menangis. "Aku hanya ingin dipedulikan, hanya itu, hanya itu…."

"Maafkan aku." Gaara pun berjalan mendekatinya lalu berjongkok di depannya dan tanpa diduga-duga Gaara pun langsung memeluk gadis yang ada dihadapannya itu. "Aku tidak bermaksud untuk tidak mempedulikanmu, maaf jika aku membuatmu tertekan. Tapi saat ini aku…." Ucapannya terpotong.

"Aku tahu, kau lebih menyukai Sakura dari pada aku." Karin pun melepaskan pelukan Gaara. "Tapi satu kali saja, bukalah hatimu untukku."

"Tapi saat ini….. mungkin saat ini lebih tepat aku menjadi seorang kakak untukmu."

"Kenapa?"

"Semuanya proses itu membutuhan waktu, kau pasti mengertikan?"

"Tapi jika aku menjadi adikmu, berarti Sakura masih…"

"Sudah hentikan, untuk sekarang kau jangan memikirkan masalah aku dengan Sakura. sekarang yang harus kau pikirkan adalah bagaimana menjadi seorang adik yang baik untukku. kau mengerti?" Karin pun mengangguk. "Sudah, sekarang jangan menangis lagi." Gaara pun mengapus air mata di pipi Karin. "Coba ku lihat sekarang, sunyum ayo cepat senyum."

"Tidak mau." Karin pun memalingkan wajahnya.

"Jangan begitu, Cepat senyum!" Karin pun mulai tersenyum. "Nah, begitu. Sekarnang kau adalah iblis termanis yang pernah aku lihat." Pipi gadis itu pun memerah. "Pipimu merah."

"Hentikan." Karin langsung memalingkan wajahnya. "Jangan memandangiku seperti itu."

"Ya baiklah, tapi sekarang kau harus berjanji untuk menjadi adikku yang paling baik." Gaara pun mengacungkan jari kelingingnya.

"Aku berjanji." Karin pun mengkaitkan kelingkingnya pada kelingking Gaara. "Tapi apa boleh aku meminta pelukannya satu kali lagi?"

"Enak saja, tidak boleh."

"Kenapa, memangnya apa bedanya? tadi kan kau juga memelukku." Karin berusaha melingkarkan tangannya di dada Gaara.

"Aku bilang tidak boleh, hey hentikan…" Gaara berusaha mundur untuk menjauh dari Karin.

"Kenapa, hanya satu kali lagi."

"Aku tidak mau…" Gaara pun lari keluar dari kelas itu dan Karin pun mengerjarnya.

"Jangan lari, ayo peluk aku…!"

"Aku tidak mau, hentikan cepat hentikan!"

"Hanya satu kali saja."

"Hentikaaaannn…" Gaara pun memegangi kedua tangan Karin. "Sekarang kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi."

"Lepaskan aku..." Karin pun mulai meronta.

"Tidak akan aku lepaskan, nanti jika aku lepaskan pasti kau akan….."

"Karin…" Panggil seseorang.

"Ayah?" Ujar Karin.

"Kepala sekolah…" Gaara pun langsung saja melepaskan tangan Karin.

"Karin, ayo pulang..!"

"Iya.." Karin pun melangkah meninggalkan Gaara di sana. "Sampai jumpa.." Karin pun melambaikan tangannya.

"Iya, sampai jumpa." Gaara pun juga melambaikan tangannya. Sesaat dia tak mengerti dengan kepribadian Karin. Terkadang ia terlihat dengan kepribadian dan aura yang tampak negative karena masalalunya yang suram, sampai-sampai tak ada satu orang pun yang mau menemaninya di kelas. Tapi saat ini yang dia lihat sangatlah bertolak belakang. 'Dia terlihat sangat gembira sekarang, syukurlah.' Guman Gaara.

Di kediaman Tsunade, terlihat seorang gadis berambut pink itu sedang duduk di kamarnya sambil sedikit bermain-main dengan sebuah boneka beruang besar miliknya.

"DASAR BODOHH! Kenapa kau muncul pada saat aku akan bicara pada Sasuke…."

BUUKK! Gadis itu pun memukul bonekanya.

"Padahal tinggal sedikit lagi….. dasar JIDAT STEMPEL….. RASAKAN INI….."

BUUKKKK! Sakura pun kembali meninju-ninju bonekanya.

"Sakura, kau sedang apa? Kenapa berisik sekali?" Teriak ibunya dari lantai bawah.

"A-anu, di sini ada kecoa. Aku sedang berusaha menangkapnya…." Sakura Berbohong.

"Apa kecoa? Cepat pukul saja dengan sandamu, jangan biarkan dia turun ke sini!"

"Iya bu, Akan ku pukul dia. RASAKAN INI….!"

BUUKKK! Sakura kembali memukul bonekanya.

Kriiiiiing… Kriiiiing….. Terdegnar ponsel Sakura berdering, gadis itu pun langsung saja melihat siapa yang menelponnya.

"Ya ampun, Sasuke…." Gadis itu pun mengangkatnya. "Halo, ada apa Sasuke?"

"Apa kau sedang sibuk, Sakura?" Tanya Sasuke.

"Tidak, memangnya ada apa?"

"Em, anu… mengenai tadi yang di sekolah, aku ingin minta maaf."

"Oh itu, tidak apa-apa."

"Benarkah? Lalu tadi kau mau minta apa?"

"Em, apa ya? Hehehe…."

"Ayo cepat bilang, jangan malu-malu begitu..!"

"A-anu, aku bilang apa besok kau ada acara?"

"Tidak, memangnya ada apa?"

"Apa kau mau…. Em, anu …bisa temani aku ke toko buku?"

"Oh, hanya ingin ke toko buku? Tentu saja, nanti sepulang sekolah kita langsung ke sana."

"Iya, terimakasih."

"Sama-sama. Ya sudah, sampai besok ya." Sasuke pun menunup telponnya.

"Akhirnya… Biar pun hanya bilang ingin ke toko buku tapi… eeemmmm!" Kini Sakura pun mulai senyum-senyum gaje. Sebenarnya dia hanya ingin berduaan dengan Sasuke dengan bermodus ingin ke toko buku. Tapi yaaa….. sepertinya strategi bermodus toko buku ini mulai berhasil.

Keesokan harinya.

TEEEEEET… TEEEEEET…

Bel tanda sekolah usai pun di bunyikan. Terlihat semua siswa berhamburan ke luar kelas.

"Sakura aku duluan ya." Kata Tenten.

"Iya." Jawab Sakura yang masih membereskan bukunya.

"Sakura, apa kita langsung pergi?" Tanya Sasuke yang menghampiri Sakura.

"Iya, ayo." Sakur pun berdiri dan menggendong tasnya, lalu merekapun berjalan menuju pintu kelas. Tantpa mereka sadari, sepasang mata hijau itu terus memperhatikan merka.

'Sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu? Kau belum menjawab pertnyaanku waktu itu, tapi kau malah selalu terlihat dekat dengan Sasuke. Lalu bagaimana denganku?' Gumam Gaara. "Apa jangan-jangan dia sudah lupa?" Kata Gaara sambil memandangi ke arah mana mereka pergi.

"Kalau dia sudah lupa, ya seharusnya kau mengingatkannya." Kata Kiba.

"A-apa?" Gaara pun kaget karena tiba-tiba saja Kiba merespon pertanyaanya.

"Aku bilang, jika dia sudah lupa kau harus mengingatkannya."

"Apa maksudmu?"

"Kau pasti mengerti. Sudah ya, aku pulang duluan." Kiba pun meninggalkan teman sebangkunya di kelas. Gaara pun berpikir, kenapa dia bisa berkata seperti itu. padahal dia tak menceritakan pada siapapun bahwa dirinya sudah menyatakan perasaan pada gadis berambut pink itu.

'Benar juga apa yang dia bilang. Jika dia sudah lupa, maka aku harus mengingatkannya.' Gumam Gaara, dia pun segera berdiri dari tempat duduknya. 'Baiklah, aku kan menanyakan jawabannya sekarang juga. Tak peduli dia akan menerimaku atau tidak, tapi jika aku tidak melakukan apapun hasilnya akan tetap seperti ini kan?' sekarang pria berambut merah itu pun segera menyusul Sakura ke luar kelas.

Semetara itu, Sasuke dan Sakura telah sampai di gerbang depan.

"Sakura, kau tunggu dulu di sini ya!" Kata Sasuke.

"Iya." Sakura pun menunggunya di sana, sementara Sasuke pergi ke tempat parkir siswa yang jaraknya lumayan dekat dari sana. tapi setelah itu…

"Sakura…" Panggil seseorang, mata gadis itu pun segera mencari sumber suara itu.

"Gaara, ada apa?" Terlihat Gaara sedikit berlari-lari.

"Tunggu dulu, jangan dulu pergi."

"Aku belum pergi, memangnya ada apa?"

"Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu, apa kau sudah lupa dengan apa yang aku katakana di taman belakang?"

"Taman belakang?" Sakura pun segera membulatkan matanya. "A-anu, maaf tapi aku….."

"Tidak, aku tidak mau kau menjawab kau belum siap untuk menjawab. Waktu yang aku berikan kini sudah habis. Aku tidak bisa menunggu ketidak pastian ini terlalu lama lagi."

"Tapi kenapa, kau bilang kan kau akan menunggu sampai kapan pun aku siap?"

"Tapi ini sudah tidak bisa ditolelir lagi, kau seakan sudah lupa dengan hal ini. Aku merasa kau mulai menjauhiku dan mulai mendekati orang lain."

"Tapi, aku sama sekali tidak melupakannya. Sungguh."

"Ya, baiklah jadi sekarang bagaimana dengan jawaban mu? Kau menerima aku atau tidak?"

"A-anu, aku, aku…."

TIIID…. TIIID…. Seseorang membunyikan klaksonnya.

"Hey, jangan berdiri di tengah! Kau sudah gila ya?" Kata orang itu, ya memang saat ini banyak sekali kendaraan siswa dan para guru yang lalu-lalang di sana.

"Maaf…" Gaara pun segera menyingkir dari sana dan orang bersepeda motor itu pun segera melaju pergi. "Nah, jadi sekarang bagai mana?"

"Aku…. Aku… Haaaaah…" Sakura pun mengelah nafas. "Baiklah, aku akan terus terang saja. Sebenarnya dari sejak awal aku…"Ucapannya terpotong.

TIIIIIIDD….

"Sakura, ayo naik." Kata Sasuke yang membawa motor gedenya yang berwarna biru.

"Tunggu dulu, kau belum menjawab pertanyaanku." Ujar Gaara.

'Ya ampun bagaimana ini? Jika aku bilang sekarang, apa Sasuke akan marah? Dia kan tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Ya tuhan, aku harus bagai mana?' Gumam gadis itu.

"Kenapa kau diam saja, ayo cepat naik..!"

-TBC-

Terimakasih telah membaca. Cinta segi tiga yang rumit, eh tidak, ingkin ini cinta segi empat. Ya baiklah, untuk menambah penasaran, kira-kira siapakah yang akan dipilih Sakura? ah pasti itu sudah bisa di tebak. Yaaaaa intinya Sakura akan jawab apa? Nah itu lah kira-kira, dan apa yang akan terjadi jika Sakura telah menjawab pertanyaan dari Gaara? Kita tunggu di chapter berikutnya saja…. ^.^

Saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman yang telah mereviews. Maaf, kalau masih terdapat Typo. Mudah-mudahan saja Typonya tidak terlalu banyak, maaf juga kalau ide di chapter kali ini masih terlihat pasaran, hehehehe saya bingung harus memasukan adegan apa lagi di sini. Terutama di akhir cerita, hahaha dasar masih amatiran.

Baiklah untuk sekarang, sampai disini saja. Sekali lagi terimakasih dan sampai jumpa di chapter berikutnya. ^_^