Janji Di Bawah Sunset
By: Haruno Tsubaki
Chapter 6
Gitar Klasik
TIIIIIIDD….
"Sakura, ayo naik." Kata Sasuke yang membawa motor gedenya yang berwarna biru.
"Tunggu dulu, kau belum menjawab pertanyaanku." Ujar Gaara.
'Ya ampun bagaimana ini? Jika aku bilang sekarang, apa Sasuke akan marah? Dia kan tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Ya tuhan, aku harus bagai mana?' Gumam gadis itu.
"Kenapa kau diam saja, ayo cepat naik..!"
"GAARA….!" Teriak seseorang, seketika mereka bertiga pun menengok padanya.
"Karin?" Gaara terkejut.
"ANAK PUNGUT, LAGI-LAGI KAU…"Kata-kata nya terpotong
"Hentikan..!"Gaara pun menghampirinya. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Apa yang kau lakukan? Seharusnya aku yang bertanya itu."
"Ayo cepat kita pergi." Gaara menarik tangan Karin.
"Lepaskan!" Karin melepaskan genggaman Gaara.
"Kau ini kenapa?!"
"Kenapa? Seharusnya kau tahu aku ini kenapa, harusnya kau tahu aku ini tak suka kau terus mendekatinya. Kenapa kau belum juga mengerti?" Emosi Kain nampaknya akan segera meledak. Gaara pun terdiam sejenak.
"Ayo, sebaiknya kita jangan bicara disini!" Gaara kembali menarik tangan Karin dan lagi-lagi gadis itu meronta.
"Lepaskan aku..!" Tapi sayang, cengkraman Gaara semakin kuat. "Lepaskan aku bilang.. !" dan akhirnya Gaara terpaksa sedikit menyeret Karin.
"Tunggu,,,!" Ujar Sakura, gadis bermata hijau ini langsung saja mengejar mereka. "Tunggu dulu, aku ingin bicara sesuatu." Mereka berdua pun berhenti.
"Diam kau, jangan ikut campur! Kau mau aku beri pukulan seperti waktu itu hah!" Karin membentak Sakura.
"Tutup mulutmu!" kata Gaara.
"Aku sama sekali tidak takut..!" Jawab sakura dengan datar.
"Apa kau bilang!" Emosi Karin kini semakin memuncak, tapi Sakura sama sekali tak menghiraukannya.
"Seharusnya seorang laki-laki itu tidak bersikap kasar, kan?" Sakura pun melepaskan tangan Gaara yang masih mencengkaram tangan Karin. "Dia kesakitan."
"Jangan sok baik." Ucap Karin dengan datar sambil mengelus-elus tangannya.
"Sebenarnya aku sama sekali tidak peduli dengan semua perkataan teman wanitamu ini, terserah dia ingin mengatakan apa. Tapi yang jelas, aku kemari bukan untuk memperkeruh suasana." Mereka berdua pun terdiam. "Baiklah, terus terang saja sejak awal aku ada disini aku sudah menyukai seseorang. Aku tahu, aku tak bisa membohongi diriku sendiri dan aku sadar sekarang, semua tak boleh ditunda terlalu lama. Dari sejak awal, aku…."
"A-apa? kenapa kau tidak bilang dari sejak itu, kenapa kau biarkan aku menunggu seperti ini?" Nada bicara pria itu pun mulai meninggi.
"Bukankah satu hari setelah itu pun aku sudah bilang padamu, jangan memaksakan diri?" Gaara pun terdiam. "tapi apa, kau berusaha keras untuk tetap menunggu aku menjawab. Apa kau tidak mengerti dengan sebuah tolakan halus dariku?"
"Maaf."
"Selain itu, aku hanya tak ingin melihat wajahmu berubah murung ketika aku dengan jelas bilang tidak. Karena aku juga menghargai perasaanmu, begitu juga dengan perasaan Karin. Aku tahu, dia menunggumu lebih lama dari pada kau menunggu jawabanku sampai hari ini. Itu benarkan, Karin?" Gaara pun membulatkan matanya.
"Hem…." Karin malah membuang muka.
"Maaf…" Sakura pun meraih tangan Karin. "Aku sama sekali tak ingin merebutnya darimu, karena aku tahu…" Sakura kini meraih tangan Gaara dan menyatukannya dengan tangan Karin. "Kau sebenarnya mempunyai perasaan yang sama kan, Gaara?"
"A-anu.. aku…" Wajah Gaara memerah.
"Kau menutupi perasaanmu kan, karena kau merasa kurang pantas dengan anak dari kepala sekolah disini? Lalu beberapa kali kau mencoba memalingkan perasaanmu pada seseorang tapi hasilnya….."
"Sssstt.. sudah cukup! Dari mana kau tahu?" Gaara pun sedikit membisik, tapi Sakura hanya tersenyum dan berkata…
"Maaf, tanpa sepengetahuanmu aku menanyakan hal ini pada teman sebangkumu."
"APA?! DASAR EMBER DIA!"
"Apa itu benar?" Tanya Karin, saat ini wajah Karin mulai merona sama seperti Gaara. "Kenapa kau tidak bilang yang sebenarnya padaku?"
"Karena aku…. Sebaiknya kita hangan bicara disini ya..!"
"Sakura, cepat! Kenapa lama sekali?" Kata Sasuke.
"Iya sebentar." Jawab Sakura. "Em aku rasa sekarang aku harus pergi, sekali lagi aku minta maaf . sampai jumpa…" Sakura pun beranjak dan segera naik ke motor Sasuke.
"Kalian ini bicara apa sih, sepertinya seriu sekali?"
"Bukan apa-apa, ayo jalan." Motor biru itu pun mulai melaju.
"Apa yang dikatakan dia itu adalah benar?" Tanya Karin sambil memperhatikan tangannya yang masih berpegangan dengan Gaara.
"Maaf.." Gaara pun melepaskan tangan Karin, karena saat ini dia baru sadar banyak orang yang memperhatikan mereka berdua sedang berpegangan tangan. "Sebaiknya kita ke taman belakang saja." Tanpa basa-basi dan busu, mereka pun beranjak ke taman belakang. Mereka duduk di sebuah kursi taman tempat Sakura, Sasuke dan Gaara kemarin.
"Jadi, sekarang bagaimana?" Karin pun mengawali pembicaraan mereka.
"Yang dikatakan Sakura itu benar. Pasti saat dia mendengarnya dari Kiba, dia merasa terpukul. Aku yang bersalah, andai saja waktu itu aku tidak melakukan apa-apa."
"Hm….." Karin pun merasa ini beguti menyebalkan, karena Gaara hanya memikirkan Sakura dan Sakura saja. Tapi dia yang dihadapannya hanya… "Aku rasa kau itu egois." Gaara pun membulatkan matanya, dia tak menyangka Karin akan mengatakan hal itu. "Kau hanya memikirkan 'bagai mana caranya diriku' dan aku yakin kau tidak pernah memikirkan 'bagaimana dengan dia'. kau tak pernah mencoba untuk berusaha memperjuangkan apa yang jadi keyakinanmu dan mimpimu."
"Tapi lihat dirimu, siapa kau yang sebenarnya? Kau anak dari seorang pimpinan disini, tapi aku.. aku ini hanya….."
"Aku sama sekali tak pernah peduli." Kata Karin dengan sedikit berteriak. 'Pasti itu hanya alasan saja. Jika itu alasan yang sesungguhnya, dia tak mingkin mendekati Sakura. Sakura kan anak dari Nona Tsunade. Pasti ada hubungannya dengan Ayah.' Gumam gadis itu. "Kau tahu, hati ku sangant sakit ketika aku melihat kalian berdua ada disini waktu itu."
"Kau melihatnya?"
"Ya, memangnya menurutmu apa alasanku sampai berani memukulnya waktu itu?" Gaara pun terdiam. "Sudahlah, lupakan saja. Ayo, kita pulang." Karin pun segera berdiri dan Gaara pun juga ikut berdiri. Tapi denga spontan Gaara menghadapkan Karin padanya.
"Aku berhutang satu pelukan padamu kan?" Tanpa komando apa pun Gaara langsung saja memeluk gasi itu. gadis itu sangat terkejut dengan apa yang Gaara lakukan dan hanya bisa diam. "Maafkan aku…"
"…" Karin tak menjawab apa pun, dia hanya membalas pelukan Gaara dengan melinkarkan tangannya pada badan Gaara hingga beberapa detik.
"Karin?"
"….."
"Karin…."
"….."
"Kenapa kau diam saja, apa kau tidak memaafkanku?" Gaara pun berniat melepaskan pelukannya.
"Jangan dilepas….!" Karin malah mempererat pelukannya. "Ahirnya ku tangkap juga kau. Sekarang aku tak akan melepaskanmu, kau tak bisa kemana-mana?"
"A-apa?" Gaara terkejut. 'Aku kira tadi itu dia sudah kembali waras, ternyata dia hanya memancingku untuk memeluknya.' Gumam Gaara. "Hey, lepaskan cepat!" Gaara pun meronta.
"Tidak mau…. Tiak mau, tidak mau, tidak mau…. Jika aku lepaskan, pasti kau akan kembali mengejar Sakura kan?"
"Cepat lepaskan…! Nanti jika ayahmu lihat bagaimana?"
"Biarkan saja dia lihat."
"A-apa?" Gaara pun berhenti meronta. Dia pun kembali melinkarkan tangannya pada tubuh Karin dan membiarkannya beberapa menit. "Mau sampai kapan kau memelukku terus?"
"Sampai kau berhenti mengejar Sakura."
"Aku sudah berhenti."
"Bohong.." Karin pun mengencangkan pelukannya.
"Tidak, aku tidak bohong."
"Apa buktinya?"
"Bukti?" Gaara pun segera melepaskan pelukan Karin dan memegang kedua bahu gadis itu lalu mendekatkan wajahnya dan menatap mata Karin beberapa detik.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Tidak ada, aku hanya ingin memandangi wajahnya dari dekat saja.." Karin pun terdiam dan wajahnya mulai merona sekarang. "Wajahmu, seperti kepiting rebus."
"KAAAAU….. SINGKIRKAN WAJAHMU!" Karin pun mendorong wajah Gaara hingga dia hampi terjatuh.
"Kau ini kenapa sih…?" Karin sama sekali tak menggubrisnya, dia malah meninggalkan Gaara di sana. "Dia marah. Karin, tunggu…" Gaara pun mengejarnya.
Sementara itu, gadis berambut pink dan Sasuke telah sampai di sebuah toko buku dan segera masuk.
"Ramai sekali.." Ujar Sakura.
"Tentu saja, ini kan Toko buku yang paling terkenal. Sebenarnya kau mau cari buku apa?"
"Aku mencari buku tentang gitar. Sepertinya ada di bagian sana…" Sakura pun berjalan menuju bagian music dan Sasuke pun mengikutinya.
"Apa kau mau belajar bermain gitar?"
"Ya, begitulah." Sakura pun sibuk memilih-milih buku yang ada di hadapannya.
"Sejak kapan kau suka music?"
"Sejak aku di panti, aku sering melihat anak laki-laki di sana bermain gitar dan bernyanyi. Sepertinya itu sangat menyenangkan. Nah ketemu." Sakura pun mengambil buku berwarna putih dan hitam bergambar gitar. "Em, sepertinya ini tidak dengan contoh lagunya."
"Jika kau ingin belajar, aku bisa mengajarimu. Di rumah aku punya beberapa contoh lagu yang mudah untuk pemula. Kau mau?"
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Sejak kapan kau bisa memainkan gitar?"
"Sejak kau menghilang, aku jadi kesepian. Lalu kakak mengajariku bermain gitar agar aku tidak kesepian, katanya. Ayo cepat bayar bukumu..!" Kata Sasuke sambil berjalan ke arah kasir.
'Ternyata dia masih yakin aku adalah Sakura masa kecilnya. Kalau begitu, bagus lah.' Gumam gadis itu.
"Kenapa kau diam saja?"
"I-iya sebentar." Sakura pun menghampiri Sasuke. "Kemari sebentar." Sakura pun menarik tangan Sasuke dan lagi-lagi dia memilih buku. "Coba lihat..!" Sakura menunjukan buku yang berjudul Sunset.
"Kenapa kau ambil buku itu?"
"Karena sepertinya ini sangat menarik."
"Bohong, kau ingin melihat matahari terbenam lagi kan?" tapi Sakura tak menjawab apa pun, dua hanya tersenyum menandakan itu benar. "Ahir pekan nanti, kita pergi ke sana lagi ya.! Kau mau kan?"
"Tentu saja." Sakura pun tersenyum.
"Sakura..!" Panggil seseorang.
"Temari?"
"Wah kebetulan sekali kita bertemu disini." Kata Temari. "Hey ayo cepat..!" gadis itu pun seperti menarik seseorang.
"Dasar merepotkan.."
"Shikamaru?" Kata Sasuke dan Sakura dengan kompak.
"Wah..wah… kalian ini sudah saling kenal ya? Padahal tandinya aku akan meperkenalkannya padamu."
"Tentu saja, kami kan satu kelas. Tapi kenapa kalian bisa….?"
"Kami baru saja jadian." Temari pun sedikit berbisik.
"Begitu ya, selamat ya?"
"Terimkasih. Tapi itu siapa, apa dia pacarmu?"
"Bu-bukan. Ini Sasuke."
"Apa benar?"
"Memangnya kami terlihat seperti sedang pacaran ya?" Tanya Sasuke.
"Ya, begitulah."
"Begitu ya. Hey Sukamaru, pacarmu ini cantik juga ya. Aku kira kau tidak akan tertarik pada perempuan."
"Diam kau, sembarangan saja kau bilang. Bukannya kau juga sedang pacaran, masih saja meledekku."
"Aku bercanada.." Sasuke pun nyengir.
"Kami tidak pacaran…" Kata Sakura.
"Apa benar?" Tanya Temari dan Shikamaru dengan sangat kompak. Hal itu sukses membuat wajah Sakura menjadi merah.
"Benar."
"Ya sudah kalau begitu, terserah kau saja. Silahkan lanjutkan pacarannya ya, kami juga masih harus mencari sesuatu disini. Sampai jumpa….." Temari dan Shikamaru pun beranjak dari sana.
"Iya… terserah kau saja. Tolong sampaikan salamku pada Hinata dan Ino ya.."
"Pasti."
"Apa dia berasal dari panti juga?" Tanya Sasuke.
"Iya benar. Ayo cepat, kita bayar buku ini saja." Sakura pun menaruh kembali buku yang berjudul Sunset itu dan segera beranjak ke kasir.
"Kau tidak jadi membelinya?"
"Tidak, aku rasa akhir minggu nanti akan lebih menyenangkan dari pada membaca buku itu, kan?" Sakura pun tersenyum.
'Dia semakin cantik saja. Andai saja ingatanmu sudah pulih, pasti rasanya akan berbeda sekarang.' Gumam Sasuke.
"Sasuke, ayo! Aku sudah selesai."
"Iya." Mereka pun berjalan ke luar toko. "Sekarang kita mau kemana?"
"Menurutmu?"
"Hm… ya baiklah. Ayo naik.!" Sakura pun kembali naik dan moge biru itupun kembali melaju. "Sakura, kau ingin belajar bermain gitar kan?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Kita belajar di rumahku saja ya."
"A-apa, kenapa di sana?"
"Kau tidak mau? Lalu kau ingin dimana?"
"Di rumahku saja."
"Baiklah, tapi sebelumnya kita harus ke rumahku dulu. Aku harus membawa beberapa kertas lagu untukmu."
"Iya…" jawab Sakura, ya mau tidak mau dia harus berkata iya. Sebenarnya saat ini Sakura sedikit enggan untuk mampir dulu ke rumah Sasuke, karena dia tahu pasti akan terjadi kehebohan di sana. Singkat cerita, kini mereka telah sampai di kediaman Uchiha. Rumahnya memang tidak sebesar rumah Sakura yang sekarang, hanya rumah sederhana berlantai dua dengan halaman rumah yang tidak terlalu luas, hanya cukup untuk memparkirkan 2 buah mobil saja.
"Ayo turun, kita sudah sampai." Gadis itu pun turun dari motornya, begitu juga dengan Sasuke. Tanpa banyak acara lagi, Sasuke langsung saja membukakan pintu rumahnya dan segera masuk. "Ayo masuk, lagi pula di sini tidak ada siapa-siapa."
'Syukurlah…' gumam gadis itu. "Baiklah." Sakura pun masuk ke ruang tamu.
"Duduklah dulu, aku akan segera kembali." Sasuke pun beranjak ke kamarnya yang berada di lantai 2.
"Iya.." Sakura pun mulai duduk, dia melihat beberapa foto yang tertempel di dinding. Di sana ada foto Sasuke yang masih kecil, lalu kakaknya, dan disebelah foto mereka terdapat foto pernikahan ayah dan ibu Sasuke. Sakura pun melirik ke sebelah kanannya, dia melihat ada sebuah meja kecil yang juga dihiasi beberapa foto. Ternyata foto Sasuke dan kakanya dan foto mereka berempat. Tapi tiba-tiba saja Sakura membulatkan matanya. 'I-ini fotoku dan sasuke kan? kenapa bisa di pajang di sini?' Gumam Sakura dan gadis itu pun mengambil foto itu dan terus saja memperhatikannya.
"Sakura…" Panggil Sasuke, ternyata dia sudah berganti padakian dan memawa sebuah ransel hitam yang dia gendong..
"I-iya." Sakura pun cepat-cepat menaruhnya kembali.
"Kau baru saja melihat foto itu ya?"
"Maaf…"
"Tidak apa-apa." Sasuke pun menghampiri Sakura dan mengambil foto itu. "Ini fotoku dan em…. Jika kau mau kau boleh mengambilnya."
"Tidak, tidak usah."
"Aku masih punya beberapa di kamar, ini ambillah..!" Sakura pun menerima foto itu dan lagi-lagi memandanginya. 'Aku harap kau ingat denga foto itu.' gumam Sasuke. "Jadi, apa kita bisa berangkat sekarang?"
"Iya, tentu saja." Sakura pun bediri dan mereka pun segera beranjak keluar rumah.
"Oh iya, apa kau punya sebuah gitar di rumah?"
"Ya punya, tapi itu milik ibu. Katanya, dari pada gitar itu hanya jadi pajangan saja lebih baik aku belajar memainkannya."
"Begitu ya, ya bagus lah." Sasuke dan Sakura pun segera meninggalkan kediaman Uchiha dan saat ini mereka sudah hampir seperempat jalan. "Sakura.. pegangan..!"
"A-apa?"
"Pegangan, nanti kau jatuh."
"Tapi,,, tidak, aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau…" Sakura bersih keras tidak mau, padahal saat ini Sasuke menjalankan motornya dengan sedikit mengebut. Tak lama, didepan mereka ada sebuah tikungan tajam. Sasuke pun sedikit memperlambat laju moronya dan berubah posisi menjadi miring layaknya motor balap yang sedang melewati tikungan. Lalu…..
"Waaaaaaaa…." Sakura berteriak karena kaget, secara sontan dia langsung saja memeluk pinggang Sasuke.
"Sudah ku bilangkan, pegangan…!"
"Iya, aku pegangan sekarang."
"Dasar kau ini." Sasuke pun tertawa kecil. Singkat cerita, mereka pun telah sampai di kediaman Tsunade. Sasuke pun disambut baik di sana, tanpa banyak sambutan ini dan itu lagi karena ibu angkat Sakura ini akan segera pergi, mereka pun segera menuju ke lantai 2 dan segera memulai pelajaran pertama bermain gitar.
"Sebentar ya, aku akan segera kembali." Sakura pun pergi ke kamarnya meninggalkan Sasuke yang senang duduk selonjor ria di karper. Tak lama, gadis itu pun kembali. Bajunya telah diganti dengan baju rumahan dan dia juga membawa sebuah gitar dari kamarnya.
"Gitarnya klasik sekali, aku suka." Sasuke pun kagum.
"Benarkah?"
"Ya." Sakura pun segera duduk di depannya.
"Apa bisa kita mulai?"
"Tentu saja. Sekarang pegang gitanya dengan benar, oh iya buku yang tadi kau beli mana?"
"Ini." Sasuke pun segera membuka segel plastiknya dan segera membuka lembar demi lembarnya.
"Nah, ini dia. ini adalah kuci C, sekarang perhatikan. Sebelum itu, kita menghitung senarnya dimulai dari bawa, 1, 2, 3, 4, 5, 6." Kata Sasuke sambil menjuk senarnya. "Agar lebih mudah, kita hitung kolomnya dari sebelah kiri dan yang terakhir jarimu itu juga harus di beri nomor."
"Di beri nomor?"
"Ya, coba berhatikan buki ini. Di sini ada bulatan yang disertai dengan nomor. Nomor 1 adalah telunjuk, 2 adalah jari tengah, 3 jari manis dan 4 kelingking. Kau mengerikan?"
"Ya, sejauh ini aku mengerti. Lalu?"
"Lalu sekarang kau coba."
"Coba ya? Baiklah." Sakura pun mulai meletakan jari-jarinya sesuai dengan petunjuk yang ada di buku itu. lalu dia pun memetiknya, suaranya memang kurang merdu untuk pertama kali di coba.
"Coba tekan lagi lebih keras." Sakura pun menekannya dengan kuat dan…..
Jreeeeenggg….
"Lumayan.."
"Aduh…"
"Kenapa, jarimu sakti ya? Coba ku lihat..!" Sasuke pun memegang tangan Gadis itu dan melihatnya dengan seksama. "Tidak apa-apa, untuk pertama kali memang seperti itu. Ayo coba lagi..!" Sakura pun terus mencobanya hingga akhirnya dia bisa menghapal 3 kunci gitar.
"Sudah dulu ya, jari ku sakit sekali."
"Ya sudah."
"Kau mau memaninkannya?"
"Ya, tentu." Sakura pun memberikannya pada Sasuke.
"Sebentar ya, aku akan membuat makanan. Aku tidak akan lama." Sakura pun segera pergi ke dapur untuk memasak sesuatu. "Masak apa ya?" Kata Sakura sambil membuka lembari es nya. "Em, sayuran sudah habis. Hanya ada telur." Gadis itu pun mengambilnya, lalu dia pun membuka sebuah lemari yang bersebelahan denga lemari es. "Mungkin ibu menyimpan sesuatu disini. "Wah ada, tak apa lah. Biar pun hanya mie instan." Tanpa banyak acara lagi, gadis itu pun langsung memasaknya.
Selagi Sakura memasak, terdengar Sasuke sedang mamainkan gitarnya, dia bernyanyi sebuah lagi kesukaanya. 'Suaranya bagus sekali…' Guman gadis itu. singkat cerita, acara masak-memasak di dapur pun selesai. Sakura pun segera membawa masakannya ke atas.
"Sasuke…" Ujar Sakura. "Maaf kelihatannya ibu belum sempat belanja, aku hanya menemukan ini." Sakura pun meletakan piring itu di hadapan Sasuke.
"Tidak apa-apa. Telur mata sapi, dari mana kau tahu aku suka telur mata sapi?"
"Benarkah, kau suka?"
"Ya."
"Syukurlah kalau begitu, baiklah mari makan." Sakura dan Sasuke pun langsung saja menyantap masakan buatan Sakura. 'Sasuke, tentu saja aku tahu kau suka telur mata sapi. Ingatanku kan sudah kembali, maaf untuk saat ini aku tidak bisa mengatakannya. Tapi mungkin…' Gumam Gadis itu.
Beberapa saat kemudian.
"Aku kenyang, terimakasih ya Sakura. masakanmu enak, terutama telur mata sapinya." Ujar Sasuke.
"Iya, sama-sama. Aku senang jika kau suka."
"Oh iya, apa bisa kau bisa bernyanyi?"
"Entahlah, memangya kenapa?"
"Bernyanyilah..!" Sasuke pun kembali mengambil gitarnya.
"Tapi aku tidak…"
"Coba saja dulu. Kau suka lagu fatin?"
"Ya."
"Bernyanila…!"
Jreeeeeeengg….
"….."
"Kenapa kau diam saja? Ayo cepat..!"
Jreeeeengg…..
"Ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta, Mungkin engkau adalah salah satunya. Namun engkau datang di saat yang tidak tepat,Cintaku telah dimiliki….. bla bla bla bla… walaupun kutahu cintamu lebih besar darinya…" Sakura pun bernyanyi hingga selesai dan Sasuke pun tepuk tangan.
"Sejak kapan kau bisa bernyanyi sebagus ini?"
"Entahlah, sepertinya hanya kebetulan saja kali ini aku bernyanyi dengan cukup baik."
"Nanti kita buat band ya."
"Kau ini ada-ada saja. Em… Sasuke, aku ingin bicara sesuatu padamu."
"Bicara apa?"
"Tapi berjanjilah kau tak akan marah."
"Tentu saja tidak, pinky. Kau mau bicara apa?"
"A-anu, aku…"
-TBC-
Terimakasih telah membaca. Kira-kira Sakura akan mengatakan apa, apa dia akan mengatakan terus terang tentang isi hatinya pada Sasuke jika dia menyukainya atau seseuatu yang lain? Jika ingin tahu jawabanya nantikan ci chapter berikutnya ya..
Saya ucapkan terimakasih kepada hanazono yuri karena telah mereviews, em sepertinya memang keburu-buru, gara-gara ngejar target harus beres hari itu. tapi untuk yang sekarang di usahakan kesan buru-burunya dihilangkan. Oh iya, maaf ya jika Chapter sekarang masih terdapat tipo & maaf juga jika ada ketidak sesuaian dengan teori dasar bermain gitarnya, karena itulah yang selama ini saya tangkap dari beberapa orang yang mengajari saya bermain gitar. Maaf juga kalo lagunya dari Indonesia, saya tidak terlalu tahu banyak tentang lagu-lgu di jepang. Paling hanya lagu-lagu anime naruto. Hehehe
Untuk chapter ini sepertinya hanya sekian, sampai jumpa di chapter berikutnya ya… ^_^
