"Kau tahu Shin, aku selalu senang dengan hari libur seperti ini,"

Shintarou menoleh ke arah Seijuuro yang kini tengah bersandar di dadanya. Seperti yang dikatakan laki-kai bermata hetero itu, hari ini Shintarou dan Chihiro dapat terbebas dari rutinitas keseharian mereka. Shintarou dapat istirahat sejenak dari pekerjaannya dan begitu pun dengan sang buah hati yang dapat libur dari kegiatan sekolahnya.

"Hm? Kenapa kau menyukainya?"

"Karena saat libur, kau dan Chihiro ada di rumah," jawab Seijuuro lugas. "Jadi dengan begini, aku tidak perlu kesepian di rumah,"

Shitarou mendengus geli, "begitukah? Aku tidak tahu kalau kau begitu kesepian saat aku dan Chihiro pergi,"

Dan Seijuuro balas dengan mendelik tajam ke arah Shintarou. "Aku tarik ucapanku lagi, aku jauh lebih senang kalau Shin pergi dan tidak kembali,"

Pemuda berkacamata itu tahu rasanya mempunyai kekasih sensitif seperti Seijuuro dan karena sikap sang kekasih yang seperti itu, tingkat kesabaran Shintarou pun sudah terlatih sejak mereka berjumpa pertama kali. Walaupun kadang menyebalkan, namun Shintarou sadar kalau ini juga merupakan sisi termanis Seijuuro yang ia sukai.

"Maafkan aku. Aku kan hanya bercanda, Sei,"

"Shin menyebalkan,"

"Bukan begitu maksudku mengatakan hal itu,"

"Lalu apa pembelaanmu, tuan berkacamata?"

"Aku merasa kau tidak akan kesepian karena... ya, bukankah kau masih ditemani oleh bayi yang ada dikandunganmu?"

"Iya, dia selalu menemaniku untuk sembilan bulan belakangan ini," jawab Seijuuro. "Dan sejujurnya aku sudah tidak sabar menunggu ia lahir,"

"Tinggal tiga hari lagi bukan? Bersabarlah, Sei," ucap Shintarou seraya mengelus perut Seijuuro yang kini semakin membesar.

Seijuuro pun tersenyum simpul, "Kau benar," ujarnya, "Rasanya menunggu tiga hari itu sangatlah lama,"

"Aku tahu itu," tanggap Shintarou. "Sebab aku pun tidak sabar menunggunya,"

Laki-laki bersurai merah itu terkekeh pelan. "Menurutmu seperti apa bayi kita nanti, Shin?" tanyanya sambil sedikit mendongakan kepalanya untuk melihat Shintarou.

Shintarou pun menaikan kacamatanya, tanda ia sedang berpikir dan entah kenapa sejak dulu, Seijuuro selalu menyukai gestur yang dilakukan Shintarou tersebut. Terkesan tenang dan misterius di saat bersamaan.

"Entahlah, mungkin akan mirip kau, aku atau Chihiro,"

"Ah, mirip dengan Chihiro, ya?" Seijuuro tersenyum. "Bisa jadi,"

"Memangnya kenapa kalau mirip dengan Chihiro?"

"Kau tahu sendiri kan kalau Chihiro anak yang sangat pendiam,"

"Tentunya aku tahu, dia anakku juga kan? Lalu?"

"Seandainya bayi ini mirip Chihiro, bukankah Chihiro dapat sedikit terbuka karena ia jadi memiliki teman bercerita?"

Seulas senyum terlukis di wajah Shintarou, "Mungkin kau benar, aku harap juga begitu,"

"Bukan mungkin, Shin. Kenyataannya aku memang selalu benar," ucap Seijuuro disertai senyum jahil.

"Tidak pernah berubah, eh?" tanggap Shintarou sambil mengacak-acak surai merah itu asal dan Seijuuro hanya tertawa ringan.

"Papa, Otousan,"

Seijuuro dan Shintarou terlonjak kaget sewaktu mendengar suara datar anaknya. Walaupun mereka berdua tahu kalau Chihiro memiliki aura seperti bayangan (yang sejujurnya membuat Shintarou bingung dengan asal muasal genetik sang anak, mengingat ia dan Seijuuro tidak memiliki aura setipis itu), namun terkadang kemunculannya yang tiba-tiba membuat mereka terkejut juga.

"Ada apa, sayang?" tanya Seijuuro dengan nada halus. Tidak lupa senyum tipisnya ia tunjukan.

Kaki kecil Chihiro pun berlari untuk mendekati Seijuuro dan Shintarou yang tengah bersantai di ruang tengah sambil membawa—atau lebih tepatnya memeluk—sebuah boneka kelinci putih serta sebuah bola basket kecil. Shintarou rasa, Chihiro terlihat kesulitan membawa boneka dan bola itu bersamaan karena kedua tangannya masih terlalu kecil.

"Papa, Otousan, temani Chihiro bermain," pinta Chihiro seraya menyodorkan dua mainan miliknya tadi ke arah Shintarou dan Seijuuro.

Ah, Shintarou tahu ia akan disebut tega kalau menolak permintaan Chihiro. Apalagi ia meminta dengan wajah polos bak anak kecil, walaupun masih terlihat ekspresi datar ciri khas anak bersurai abu tersebut. Sehingga akhirnya ia pun menganggukan kepalanya tanda setuju dan ia tahu Seijuuro pun sependapat dengannya.

"Baiklah, papa dan Otousan akan menemani Chihiro bermain," jawab Seijuuro senang, tentu hanya di depan anaknya.

Kedua mata Chihiro terlihat berbinar karena senang dan senyuman polos pun ikut terpoles di wajah datarnya.

"Ah, sebentar! Sepertinya ada yang aku lupakan," Ucap Shintarou tiba-tiba.

"Apa itu, Shin?" tanya Seijuuro.

"Bukankah pagi ini kau belum meminum susu untuk kesehatan bayimu?"

Mulai lagi, batin Seijuuro sebal. Midorima Shintarou, seorang dokter yang paham betul soal kesehatan dan sifatnya yang terlalu berlebihan itu terkadang membuat Seijuuro jengah. Sedikit-sedikit minum obat ini, minum obat itu. Walaupun sebenarnya ia sendiri bersyukur karena Shintarou sangat memperhatikan kesehatan keluarganya—terutama kesehatan dirinya karena saat ini Seijuuro tengah mengandung.

"Aku lupa untuk meminumnya,"

Shintarou menghela napas berat. "Kau selalu saja begitu," sang dokter pun beranjak dari duduknya. "Kau temani Chihiro bermain dulu, nanti aku menyusul. Sekarang aku akan membuatkan susu untukmu,"

Seijuuro mendengus dan Shintarou segera berlalu ke dapur. Memangnya ia ini anak kecil apa? Harus dibuatkan segelas susu seperti itu segala. Seijuuro kesal dibuatnya. Namun rasa kesal yang sempat mampir di hatinya meluap seketika begitu Chihiro, dengan susah payah, mencoba menaiki sofa. Tubuh kecil itu nyaris terjungkal jika tidak dengan cepat Seijuuro menariknya pelan, dan berakhir duduk di sampingnya.

"Chihiro, kau suka bermain basket?" Seijuuro bertanya iseng, lalu tersenyum geli begitu Chihiro mengangguk antusias. Satu tangan kecilnya mengangkat benda yang dimaksud Ayahnya tinggi-tinggi, menunjukannya di depan Seijuuro.

"Suka sekali, Papa! Tapi teman-teman di sekolah tidak suka bermain dengan Chihiro,"

Kening Seijuuro berkerut samar, sisi lain iblis di hatinya bertanya, siapa-yang-berani-melukai-hati-anaknya-yang-manis-ini? "Kenapa mereka tidak suka?"

"Katanya Chihiro tidak kelihatan,"

Pfft—astaga! Polos benar anaknya. Seijuuro tidak jadi marahnya.

Ya, ia juga sadar itu karena keberadaan Chihiro yang terlihat nyaris seperti angin.

"Ah, tidak perlu sedih," satu tangan Seijuuro mengacak rambut abu sang anak, mengelusnya pelan. "Papa yakin kau memiliki kemampuan yang unik dalam bemain basket."

"Benarkah?" iris abunya berbinar, terlebih ketika sang Papa tersenyum lalu mengecup dahinya pelan. "Aku harap begitu. Oh! Otousan pernah bilang padaku kalau dulu Papa juga sering bermain basket."

"Shin?" kali ini satu alis Seijuuro terangkat. "Dia bilang padamu seperti itu,"

"Un! Otousan selalu cerita padaku jika Papa tidak ada di rumah."

Seijuuro terkekeh. Apa ini? Semacam balas dendam menceritakan hal memalukan masa-masa dulu pada anaknya? Dan, oh! Shintarou memang hebat dalam bercerita. Seijuuro tidak meragukannya.

"Apa saja yang Otousan-mu ceritakan?"

"Hm," Chihiro menyimpan satu jarinya di depan dagu, tampak berpikir. "Tentang anggota tim Papa yang takut pada Papa?"

Oke, Shin memang balas dendam padanya.

"Ah, lupakan saja cerita itu Chihiro," Seijuuro bangkit berdiri, mendapat tatapan bingung dari anak kecilnya. Masih tetap diam, ia membantu Chihiro untuk turun, lengkap dengan boneka kelinci dan bola basket yang tadi dibawanya.

"Kita main di taman atas saja," ujarnya kemudian, menggenggam kelima jemari kecil Chihiro. Ya, biarkan saja Shintarou, paling nanti pria itu akan mencarinya di taman atas. Lalu kembali mengomel tentang ini dan itu. Berkata bahwa bisa saja ia jatuh dari tangga jika tidak—

"Akh!"

—ugh! Tunggu!

Seijuuro meringis kecil. Genggaman tangannya di tangan Chihiro terlepas begitu saja. Refleks—satu tangan mencengkeram ujung sofa dengan cepat sebagai pegangan ketika kedua kakinya mulai terasa lemas, hingga akhirnya kedua lututnya menyentuh lantai. Seijuuro menggigit bibir bagian bawahnya, cukup keras.

"Papa?"

Chihiro mendekat, raut wajahnya khawatir. Terlebih ketika mendapati Seijuuro terlihat seperti menahan sakit, dengan satu tangan tersimpan di atas perutnya yang sedikit membesar. Bibir yang gemetar, rona merah di wajahnya mulai memutih, dan keringat dingin yang mengalir di daerah pelipis.

Sakit.

Seijuuro merasakan sakit di bagian bawah perutnya.

"S—Shin," ia mengerang kecil, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Menjalar di setiap otot-otot tubuhnya. Sesak. Dadanya terasa sesak. "Ukh! Shin!"

"Papa?"

Susah payah Seijuuro mendongak, menatap Chihiro yang kini sudah berlutut di depannya. Ada binar khawatir di sorot matanya, juga raut wajah polosnya.

"Otousan-mu …" napasnya terengah, "Shin. Panggilkan Otousan-mu, Chihiro—ukh!"

Satu kata mengenai seseorang, Chihiro mengangguk, setelah itu berlari cepat.

.

.

.

"Sweet Pieces"

Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Sweet Pieces © Alice To Suki

Pair : MidoAka (Midorima x Akashi)

Warning : M-Preg. Shota!Mayuzumi. Two-shoot.

.

Special request for our beloved Neechan.

.

.

Pictures 2 : Welcome To Midorima Family

.

.

.

"Otousan!"

Shintarou memutar tubuh, satu tangannya membawa gelas tinggi berisi cairan putih berbentuk koloid, sedangkan satunya lagi membawa beberapa cemilan yang tersimpan di atas piring kecil. Namun begitu melihat anaknya berlari—yang bisa dikatakan—panik, kening Shintarou berkerut lalu menyimpan dua bawaannya di atas konter.

"Chihiro, ada—"

"Papa!" Shintarou bisa melihat ketakutan dalam iris matanya. "Otousan, Papa!"

Shintarou tidak mengerti. Ada apa dengan anaknya?

"Papa bilang perutnya sakit!"

Shintarou membelalak, namun detik berikutnya ia sadar. Kakinya berlari gesit, dengan kaki melangkah lebar, nyaris mengenai lemari yang menjadi pemisah di antara ruangan satu dengan ruangan lainnya. Dan begitu kakinya berhenti tepat di ruang tengah, Shintarou bersumpah bahwa saat itu juga, jantungnya serasa berhenti berdetak.

"Sei!"

Mengapa ia tidak mendengarnya lebih cepat?!

Shintarou berjongkok tepat di samping Seijuuro yang tengah kesakitan, bahkan jika dirinya tidak bergerak cepat, bisa dipastikan tubuh yang mulai ringkih itu terjerembab di atas lantai, dan tidak akan menubruk dadanya dengan bebas. Dokter muda itu melingkarkan sebelah tangannya di sekeliling bahu Seijuuro, terkadang memberikan remasan kecil sekadar memberikan kekuatan kecil. Sekecil apapun itu.

"Sei… Sei…"

"Shin—perutku …"

"Aku tahu,"

Tenang. Jangan panik. Seorang dokter seperti dirinya harus tenang.

Di sisi lain ia menenangkan Seijuuro, sisi lainnya Shintarou berusaha mencari ponsel. Benda kecil itu berada di atas meja kecil tidak jauh dari pintu kamar tidurnya. Shintarou tidak bisa menjangkaunya, tapi ketika irisnya mendapati Chihiro mulai kembali mendekat, susah payah Shintarou tersenyum dan memintanya untuk mengambil ponsel. Shintarou harus cepat menelepon pihak rumah sakit.

"Bernapas Sei, bernapas …"

"Shin!" Seijuuro memekik, mencengkeram kameja sang dokter, sedangkan kepalanya terbenam dalam dada Shintarou. Dalam hati terus berkata bahwa ia harus kuat. Bahwa ia bisa melakukannya. "Shin, cepatlah!"

Telepon! Telepon siapa saja!

"Papa! Papa!"

"Sei, tetap bersamaku! Sei, bertahanlah!"

Seijuuro tidak membalas perkataan Shintarou maupun teriakan Chihiro yang terdengar khawatir karena dirinya sibuk mengatur napas agar kontraksi di perutnya dapat berkurang.

Cepat. Shintarou harus berpikir cepat. Tidak ada waktu untuknya dan Seijuuro apabila harus menunggu ambulance. Pilihan alternatif lain, ia dan Seijuuro juga Chihiro—tidak mungkin ia meninggalkan Chihiro sendiri—harus berangkat ke rumah sakit menggunakan mobil miliknya.

Cengkraman Seijuuro pada kemeja Shintarou mulai melonggar. Shintarou pun merasakan napas Seijuuro yang mulai teratur walaupun wajahnya masih pucat dan dari matanya tampak kalau lelaki bersurai merah itu masih kesakitan.

"S—Shin..."

"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Shintarou khawatir.

Hanya anggukan kecil menjadi jawaban dan Shintarou juga Chihiro menjadi lega karenanya.

Shintarou mulai membantu Seijuuro untuk duduk kembali di sofa. Setidaknya dengan begini, kontraksi dari perut Seijuuro dapat berkurang dan Seijuuro dapat rileks.

"Chihiro, tolong jaga Papa disini. Otousan ingin menyiapkan mobil dulu,"

"Shin!"

Langkah Shintarou terhenti begitu satu lengannya tertahan, Seijuuro mencengkeramnya kuat, enggan melepaskan. Shintarou bisa melihat tangan rapuh dan nyari pucat itu gemetar, tidak jauh berbeda dengan parasnya dan bagaimana helai merahnya sedikit berantakan.

Shintarou tersenyum, tipis. Dengan maksud menenangkan.

"Tidak apa-apa, kau harus tenang, Sei," Shintarou mencondongkan tubuh ke depan, dan memberikan satu kecupan singkat di kening Seijuuro. Lembut. "Kau pasti bisa, Sei. Kau pasti bisa."

Shintarou memohon, Shintarou berharap, Shintarou berdoa—

—dan menjerit dalam hati agar Seijuuro baik-baik saja. Agar Seijuuro tetap bersamanya, bersama Chihiro, bersama bayi yang dikandungnya.

"Chihiro—"

"Aku mengerti Otousan! Aku akan menjaga Papa!"

.

.

.

Sekarang disinilah ia, bersama dengan Chihiro duduk menunggu di depan ruang operasi. Shintarou sengaja menunggu di luar. Karena sesaat sebelum operasi, Seijuuro mengatakan padanya untuk menunggu bersama Chihiro. 'Kasihan nanti Chihiro menunggu sendiri,' Kata Seijuuro tadi disertai senyum lemah.

Sungguh, sampai sekarang, Shintarou masih merasa bersalah pada dirinya sendiri juga pada Seijuuro. Beberapa pemikiran pun—yang entah kenapa—sempat terlintas lalu terngiang dalam benaknya serta berkecamuk dalam batinnya. Apakah Seijuuro dan bayinya akan baik-baik saja? Apakah Seijuuro dan bayinya dapat selamat?

Shintarou tahu kalau operasi ini memiliki persentase hidup dan mati yang sama, seimbang juga setara. Bahkan dokter seperti dirinya pun sadar kalau terkadang tidak semua operasi akan berakhir baik-baik saja. Komplikasi, kesalahan, infeksi bahkan kematian akan menjadi batas nyata kalau dokter hanyalah seorang manusia biasa, bukan seseorang yang memiliki tangan sempurna selayaknya Tuhan.

"Otousan,"

Suara Chihiro berhasil menariknya kembali ke kenyataan, "Ada apa, Chihiro?" senyuman tipis ia tunjukan. Berusaha tetap terlihat tenang walaupun sebenarnya Shintarou sedang cemas.

"Otousan... apa Papa dan adik bayi akan baik-baik saja?" sorot kekhawatiran terpancar dari iris kelabu milik Chihiro dan matanya pun kini berkaca-kaca menahan tangis. Wajar saja kalau Chihiro begini. Karena sebelumnya ia tidak pernah melihat Ayahnya kesakitan seperti tadi.

Dan pertanyaan itu sama dengan pertanyaan yang memenuhi pikirannya saat ini.

Tangannya mengelus puncak kepala abu milik Chihiro dengan penuh sayang. "Tentu, Papa dan adik bayi akan baik-baik saja, Chihiro," jawab Shintarou tanpa menghilangkan senyumannya. Entah ini kebohongan atau kenyataan sebab Shintarou sendiri tidak mengetahui jawaban pastinya. Yang jelas, perkataan tadi merupakan harapan untuk Seijuuro serta bayinya kelak.

"Benarkah, Otousan?" Suara itu terdengar bergetar.

Shintarou lalu mengangkat tubuh Chihiro dan mendudukan Chihiro di atas pangkuannya. "Kapan Otousan pernah berbohong sama Chihiro?"

Chihiro terdiam lalu menarik kemeja Shintarou erat. Tangan mungilnya terlihat gemetar. Takut, khawatir, cemas, Shintarou tahu itu.

"Tenanglah, Papa akan baik-baik saja," ucap Shintarou dengan nada yang hangat. "Chihiro tahu kan kalau Papa adalah orang yang kuat?"

"Un!" tanggap Chihiro disertai anggukan pelan. Setidaknya sekarang Chihiro percaya padanya dan kini binar kekhawatiran dari anak bersurai abu ini mulai berkurang, "Papa orang yang kuat,"

Shintarou tersenyum dan mulai mengelus helaian surai abu Chihiro.

"Otousan," Chihiro memanggil dirinya lagi.

"Iya, ada apa lagi, Chihiro?"

"Apa nanti adik bayi juga menyukai basket, Otousan?"

Shintarou terkekeh geli mendengar pertanyaan polos Chihiro, "Hmm... Otousan tidak tahu," jawab Shintarou, "Tapi mungkin Chihiro bisa mengajaknya bermain basket bersama,"

Chihiro kembali mengangguk. "Nanti kita semua main basket bersama, ya, Otousan,"

Giliran Shintarou yang mengangguk, "Ya, kita semua akan bermain basket bersama nanti,"

"Nanti Otousan juga ajari aku menembak jarak jauh, ya,"

"Tentu saja," jawab Shintarou, nyaris berbisik sambil meletakan dagunya di puncak kepala Chihiro. Mendekap tubuh kecilnya lebih dalam. Memberikan kehangatan secara tak langsung.

Harus Shintarou akui, keberadaan Chihiro saat ini berhasil membuat hatinya kembali lebih baik. Meski salah satu sudut hatinya masih merasa panik, Shintarou berusaha bersikap setenang mungkin. Untuk dirinya, untuk Seijuuro, untuk Chihiro, dan tentu saja, untuk anaknya yang akan lahir nanti.

Hingga pada detik jam yang terus berjalan, mereka berdua terpaksa dikejutkan ketika pintu ruang operasi dimana Seijuuro berada terbuka. Shintarou mengenalnya, pria berjas putih dan suster di belakangnya adalah salah satu dokter kenalannya.

Operasi selesai. Namun Shintarou tak tahu hasilnya bagaimana.

Ia tak bisa lagi merasa tenang.

.

.

.

Dingin.

Pintu besi ruang rawat Seijuuro di depannya itu terasa dingin. Entah mengapa jantungnya kini berpacu cepat, dan itu membuat Shintarou kesakitan dibuatnya. Antara lega, terharu, senang, juga ketakutan menjadi satu.

Satu jam yang lalu dokter bilang operasinya berhasil, meski Seijuuro sempat mengalami kritis karena pendarahan yang cukup hebat, namun para dokter dan suster berhasil menyelamatkannya. Dan yang paling membuat Shintarou lemas bahkan nyaris tubuhnya limbung—

Seijuuro dan bayinya selamat. Dalam keadaan sehat.

Ya Tuhan, orang tua mana yang tidak akan merasa bahagia begitu mendengar berita mengharukan seperti itu?

Dan sekarang sang pasien sudah dipindahkan ke bagian bangsal pasien.

"Chihiro, kau sudah siap?" kepalanya menunduk, menatap bocah kecil di sampingnya, sedangkan satu tangannya sudah saling bertautan dengan jemari mungil Chihiro.

Chihiro, yang sedikit mengerti Ayahnya tengah merasa gugup, mendongak, mengeratkan genggaman tangannya, tersenyum lebar, setelah itu mengangguk antusias. Bersiap melihat hal yang ditunggunya dibalik pintu ruang rawat Seijuuro.

Shintarou terkekeh geli, setelah itu menggeser pintunya sampai terdengar derit halus hingga terbuka sepenuhnya.

Lalu iris hijaunya mulai terfokus—yang sebelumnya sempat melebar—tatkala mendapati sang kekasih di sana. Setengah berbaring dengan posisi duduk, punggung bersandar pada kepala tempat tidur.

Seijuuro tidak menatapnya, namun matanya fokus pada seorang bayi kecil yang saat ini terbungkus hangat oleh selimut tipis namun lembut. Shintarou tak melihatnya terlalu jelas karena terhalang oleh kedua lengan Seijuuro yang menggendongnya. Yang terlihat olehnya hanyalah satu kepalan tangan yang begitu mungil dan rapuh.

Terbaring lemah, tapi Shintarou tahu Seijuuro masih memiliki sedikit kekuatan untuk tersenyum. Wajahnya masih terlihat pucat, namun Shintarou sudah bisa melihat rona kehidupan di kedua pipinya. Shintarou sadar, Seijuuro saat ini masih terlihat rapuh dan lelah. Meski iris dwi warnanya memancarkan harapan, juga kebanggaan yang dalam.

"Shin… Chihiro…" bisik Seijuuro parau begitu sadar ruang rawatnya kedatangan dua keluarganya, mungkin kelelahan pasca operasi tadi. "Kalian datang,"

"Papa!"

"Tentu saja," ah, Shintarou tak tahu harus bersikap bagaimana dan seperti apa lagi, yang jelas, banyak hal yang saat ini memenuhi perasaannya, sungguh. Dan salah satunya, ia begitu merasa lega karena tetap bisa melihat iris dwi warna favoritnya itu. Memandang ke arahnya. Menembus dasar jiwanya.

"Bagaimana keadaanmu?"

Seijuuro terkekeh geli, pertanyaan retoris. "Melelahkan."

Langkah Shintarou berhenti di samping ranjang, melepas genggaman Chihiro dan berpindah pada puncak kepala Seijuuro, mengelusnya rambut merahnya pelan. Sungguh, Shintarou bingung harus berkata apa saat ini.

"Anak laki-laki," sahut Seijuuro cepat, memberikan sang dokter muda akses untuk melihat lebih jelas anak keduanya. Dan hal itu sukses membuat iris hijaunya membulat sesaat, setelah itu kembali tersenyum lalu mengangguk.

"Kau sudah berjuang keras," Shintarou mendekat, sengaja menyentuh kening Seijuuro dengan keningnya, mempertemukan iris berbeda mereka, sedangkan satu tangannya yang berada di puncak kini berpindah pada belakang kepala sang rambut merah.

"Terima kasih, Sei."

Seijuuro tak menjawab, namun garis tipis di wajahnya menekuk simpul, membentuk seulas senyum.

"Halo adik kecil, perkenalkan, aku kakakmu!"

Kini atensi Shintarou dan Chihiro berpindah seluruhnya pada manusia kecil di gendongan Seijuuro. Manis, satu kata yang terlintas dalam benak mereka bersamaan, walau tidak diucap secara langsung. Namun mereka memiliki pemikiran yang sama.

"Kau mau mencoba memeluknya? Dia begitu hangat, Shin." dengan perlahan—sangat pelan karena jika salah bisa berakibat fatal—Seijuuro mengangkat bayinya sedikit ke atas dan menyerahkannya di kedua lengan Shintarou. Membiarkan anak keduanya tahu, bahwa dirinya tidak sendirian. Bahwa mereka satu keluarga yang sempurna. Satu keluarga dengan kasih sayang yang utuh.

"Dia manis, bukan?" pertanyaan itu ditujukan untuk Chihiro, "Chihiro, kau berjanji akan selalu menjaga adikmu, 'kan?"

"Tentu saja, Papa," Chihiro menggenggam tangan kanan Seijuuro dengan kedua tangannya. "Chihiro akan selalu menjaganya,"

Shintarou tersenyum, dalam hati tertawa geli mendapati sikap polos anak pertamanya. Terlebih dengan sikap Seijuuro yang saat ini benar-benar berbeda.

"Dan omong-omong Shin,"

"Hm?"

"Kita belum menentukan namanya."

Sebelah alis Shintarou terangkat, matanya mengerling jenaka ke arah Seijuuro. "Ah, benar juga. Kita belum menentukan nama."

"Menurutmu, apa nama yang cocok untuknya?"

Pria berkacamata itu tampak berpikir sejenak. Sesekali melirik Seijuuro, lalu berpindah kepada Chihiro, setelah itu kembali melihat anak keduanya. Bayi mungil dengan kulit putih susunya, kedua pipi yang menggembung, bibirnya ranum, kedua mata bulat yang terpejam, dan tentu saja—

Rambutnya.

Shintarou terkekeh, lagi-lagi gen yang berbeda.

"Tetsuya,"

"Tetsuya?" detik berikutnya Seijuuro menimpali, mengangkat satu alis, begitu pula sudut bibirnya. "Hm, aku tak pernah meragukanmu, Shin."

"Tetsuya! Adik bayi, namamu Tetsuya!"

Mereka tertawa bersama, terdengar renyah. Entah untuk Shintarou, Seijuuro, Chihiro bahkan satu anggota keluarga mereka yang baru, mereka sama-sama merasakan kehangatan. Menelesup di setiap perasaan masing-masing, tersimpan jauh di relung hati mereka.

"Baiklah," iris hijau sang kepala keluarga menatap Seijuuro dan Chihiro. Sepertinya saling bertukar informasi. Setelah yakin mengerti, mereka bertiga tersenyum lebar, setelah itu berucap serentak.

"Selamat datang, Midorima Tetsuya."

Kini keluarga kecil itu menerima anggota baru. Seorang anak laki-laki mungil dengan rambut senada langit biru. Kisah-kisah, cerita-cerita serta gelak tawa kebahagiaan pun menanti mereka di depan, menunggu.

.

.

.

~Fin~


A/N : Halooo~~ Kembali lagi dengan Alice dan Suki! X3

Hahaha, lagi bulan puasa pubblish fic ini, wkwkwk... tapi tenang kok, gak ada yang aneh-aneh(?). Yosh! Sepertinya dalam summary, fanfic ini memang two-shoot. Tapi mungkin kami berdua akan membuat prequel dan sequel-nya, berhubung libur masih panjaaaang~~ /apaan/ Dan tebakan kalian benaaaarr, Tetsuya memang anak yang kedua. Ini juga hasil request Neechan dan rundingan kami, hihihi XD

Oh ya, balesan dulu yang anonim, tehe~

Guest : Haloo~ kayaknya kami tahu siapa Anda /plak/ Hihihi, moga-moga ini udah kebih sweet lagii XD Sequel sedang dipertimbangkan~ Terima kasih sudah review ya!

Aoki : Haloo~ Keliatan natural? Yokatta! X3 udah tau kan anak keduanya? Tehe~ maaf ya, gak ngambil yang tsundere kayak Shin-chan :'D Sip! Makasih sudah review ya!

Mel : Haloo~ usulanmu diterima, karena memang dari awal kita rundingin(?) anak kedua memang Tetsuya. Hihihi, Chihiro dan Tetsuya memang cocok kalo jadi adik-kakak XDD Makasih sudah review ya!

xxx : Haloo~ Aaaaa, makasih kalo ini udah manis XD Ini udah dilanjut kok~ Terima kasih sudah review ya!

nyan : Hihihi, mama chan dan papa chan emang manis XD /plek/ makasih udah review ya!

Akashiseichan : Haloo~ Hihihi, syukur kalo ini udah sesuai sama judulnya :3 Dan Akashi cemberut itu emang kawaaiiiiii! XD hahaha, yang bagian itu Alice yang bikin, dan bikin Suki ngakak waktu bacanya XD Terima kasih sudah review ya!

Yosh! Terima kasih bagi yang sudah membaca chapter ini! Untuk chapter sebelumnya, juga review, fave dan follownya :3 *kecupin satu-satu* Kami tjinta kalian semuaaaaa~~

Akhir kata kami ucapkan,

Review please? *wink*