"Jangan membunuh orang yang tak seharusnya kau bunuh..."

Aku terbangun dari tidur siangku. Sudah hampir 10 tahun ini aku bermeditasi. Aku memandang langit. Jujur saja, ini terasa cepat. Memang meditasi membuatku lebih tenang, ditambah dengan konsentrasiku untuk berlatih membuat waktu seperti terbang saja. Sisanya, aku gunakan untuk bertahan hidup di hutan yang begitu liar ini, dan minggu ini adalah minggu terakhir aku memastikan semua pengendalian hatsuku sempurna.

Angin musim panas menerbangkan dedaunan. Aku menggigit ambil sebuah daun yang terjatuh, mengeluarkan ren, dan melempar daun itu dengan 5 persen nen milikku pada beberapa deretan pohon. Sebuah suara dentuman beberapa pohon yang menjadi korban gravitasi setelah terpotong oleh daun yang kulempar tadi. Kalau dihitung, prakiraanku 30 pohon besar tumbang dari jarak 2 km dariku. Kyokaku bagus juga.

Aku menghela nafas. Beberapa kemampuan lain hanya bisa dipakai untuk menyerang manusia atau dipakai bertarung. Aku tak mungkin mendemonstrasikannya disini, atau hutan akan hancur. Sebaiknya aku segera kembali ke dunia nyata dan mencoba menjadi manusia yang lebih baik.

Sebentar.

Apa itu terdengar aneh? Sebab aku pun berpikir begitu.

Lalu aku harus kemana? Saat ini aku bahkan berada di sebuah padang rumput yang tak jauh dari sebuah hutan, di bawah kaki pegunungan...

Gawat. Aku bahkan lupa dimana aku berada!

Lalu bagaimana aku kembali ke ... ah pokoknya kemana saja, asalkan ada manusia!

Sebuah suara elang memecahkan lamunanku. Aku mendongak ke atas. Ah, ya. Ada seekor naga yang katanya tertidur di dekat gunung ini. Mungkin aku bisa menjinakannya dan menurunkan aku di suatu tempat yang ada manusianya. Pokoknya kemana saja boleh deh. Kalau ada manusia, pasti ada orang yang bisa kutanya-tanya.

Daripada kehilangan arah seperti ini?

Aku berjalan dari titik dimana aku berlatih selama tiga tahun. Aku meloncat dari pohon ke pohon untuk mempercepat pergerakanku. Dengan kaki telanjang dan baju mirip pengemis, aku benar-benar dalam kondisi terburuk saat ini. Meski gua tersebut bisa dicapai dalam waktu 10 menit saja, kakiku jadi korban pohon berduri, tapi tak sempat kuhiraukan. Setelah berjalan cukup jauh ke dalam gua, aku menemukan seekor naga (?) dengan bentuk seperti kadal dan bersayap.

"Yo, kadal bersayap!"

"RAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRR!"

Aku memejamkan mata karena suaranya benar benar memekakkan telinga. "AHOOOO! SUARAMU MEMEKAKKAN TELINGAAAA!"

"RAAAAAAAAAAAAAAARRR!"

"DIAAAAAAAAAAAAAAAAMMMMM!"

Aku membalasnya dengan suara lebih keras lagi. Aku bahkan tak sadar bahwa aku mengeluarkan nen dalam teriakan tadi.

Raut gahar naga tersebut tergantikan dengan wajah ketakutan. Aku menghela nafas, merasa bersalah pada binatang raksasa tersebut, berjalan mendekatinya lalu menepuk kepalanya pelan. "Seharusnya kau lebih ramah pada orang. Kalau begitu kan aku tak perlu meneriakimu."

Aku mengelus kepalanya pelan. Bisa kurasakan pandangan binatang raksasa tersebut melunak. Tanpa sadar, aku tersenyum kecil. Sepertinya ia paham bahwa aku tak ada niat buruk padanya. Aku menaiki lehernya sebelum akhirnya berkata lagi.

"Hey, aku harus pergi dari sini. Bagaimana kalau kau mengantarku?" kataku mencoba bicara, berharap ia mengerti perkataanku. Belum ada reaksi. Aku menghela nafas, melenakan tubuhku di atas tubuhnya dan meletakkan kedua telapak tanganku di belakang kepala.

"Aku akan menunggu hingga kau paham, kalau begitu..."

Hening.

Masih hening.

Mataku mulai terpejam, dan aku mulai ngantuk. Aku merasakan sebuah pergerakan tapi kesadaranku terlalu minim untuk merespon. Yang terakhir kurasakan adalah, hembusan angin terasa begitu kuat menerpa tubuhku, dan aku sendiri tak tahu kenapa.

~oOo~

JBURRRRR!

"ASDFGJHKLLBLUPBLUPBLUP..."

"RAAAAAAAARRR!"

Basah!

Kesadaranku langsung bangkit dan menyadari bahwa aku terjatuh ke air saat sebuah suara yang tak asing diikuti bayangan besar melintasi kepalaku, dan aku mendongak.

"Naga itu! AHOOOOO!" aku mengacungkan kepalan tangan, emosi. Kenapa pake jatuh ke air segala sih?

"Ma, mau bagaimana lagi. Binatang tetap binatang," aku membenamkan setengah kepalaku di air hingga gelembung-gelembung air muncul. Aku memandang sekitar, dan baru kusadari sesuatu. Aku dijatuhkan ke laut, dengan luka-luka di kaki.

"Oh siaaal," aku menepuk kening. Bisa-bisa hiu mencium bau darah ini. Bagai katak yang akan ke darat, aku berenang seperti katak dengan kepala muncul di atas permukaan air dengan gerakan cepat. Mataku memandang sebuah pulau yang berbentuk seperti paus dari kejauhan dan mempercepat kayuhan kakiku. Kuharap aku bisa segera di daratan dengan beberapa penghuni, yang mungkin bisa kutanyai. Aku benar-benar kehilangan direksi. Jujur saja aku agak khawatir, jangan-jangan aku tak bisa bicara bahasa manusia lagi?

Bodoh, apa yang kupikirkan? Aku masih bicara bahasa manusia kok, bahkan dengan naga tadi. Ah, bagaimanapun, aku harus menemui seseorang dipulau tersebut.

Sial, pulau itu masih terlalu jauh. Dan tubuhku mungkin terlalu lelah setelah 10 tahun berlatih tanpa henti. Untungnya, ombak memberiku sedikit dorongan.

Tubuh basahku sampai ke darat – tepi pantai – ketika aku merayap dengan kuyu; perpaduan antara benci basah dan lelah, menuju arah sembarang yang bisa memberiku tanda bahwa disana ada manusia. Aku melihat ada beberapa rumah penduduk dan perahu berlabuh. Seketika senyumku melebar. Aku berusaha berdiri, dengan sedikit harapan bahwa aku bisa tahu dimana posisiku berada. Tapi saat itu tiba-tiba pandanganku mengabur, dan semuanya jadi gelap.

~oOo~

Normal POV

"Mito-san," seorang anak kecil dengan rambut jabrik ke atas dan baju berwarna hijau memapah seorang gadis dengan pakaian compang-camping, kumal dan rambut panjang tak terurus yang ia temukan di tepi pantai. Ia memandang wanita berambut coklat yang kaget melihatnya bersama wanita tidak dikenal dengan penampilan tak terurus.

"Dimana kau menemukannya, Gon?"

"Ia terjatuh saat mencoba berjalan. Sepertinya ia hanyut terbawa ombak," Gon menatap wanita berambut panjang tersebut. "Aku akan membawanya ya, Mito-san!"

"Tentu saja! Aku akan segera kesana setelah pekerjaanku selesai! Minta nenek membantumu merawatnya!"

"Baik!" Gon menggendong wanita tersebut, lalu berjalan menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, ia meminta tolong neneknya untuk membersihkan wanita tersebut dan memberinya pakaian yang layak. Wanita itu tertidur nyenyak di ranjang bibinya, dan ia hanya menatap wanita tersebut dengan wajah khawatir.

Saat matahari terbenam, wanita tersebut membuka matanya. Irisnya yang berwarna merah darah itu tampak terbuka penuh, dan ia mengerjap pelan. Ia beranjak duduk, dan seketika menangkap siluet seorang anak kecil tersenyum melihatnya.

"Ah, Nee-san! Kau sudah sadar rupanya!"

Gadis itu terdiam, memandang sekitar. Ia melihat. Tampaknya ia berada di sebuah kamar perempuan yang cukup nyaman. Ia memandang anak kecil di hadapannya.

"Siapa kau?" tanyanya pelan.

"Namaku Gon Freecs, panggil saja aku Gon!"

"Ah, aku Tifa..." sahutnya pelan. "Terima kasih telah menolongku. Ngomong-ngomong dimana ini?"

"Kau ada di rumahku, di Pulau Paus...tadi aku melihat nee-san terdampar di pantai, jadi aku segera menolongmu..."

"Begitu rupanya," ia menghela nafas. Lemah sekali aku rupanya, batinnya pelan. Pelatihan selama lima tahun itu benar-benar sesuatu. Meskipun begitu, setidaknya ia bersyukur ada seseorang yang menolongnya setelah ia kebingungan arah. Ia harus berterima kasih pada takdir, pada tuhan, pada hidupnya...

"Kau sudah sadar rupanya?" tanya seorang wanita berambut pendek yang berwajah keibuan. Aku memandangnya, dan kulihat tangannya membawa sepiring makanan dan segelas minuman.

"Ini Mito-san, bibiku," ucap Gon dengan nadanya yang selalu ceria, memperkenalkan bibinya pada Tifa. "Mito-san, ini Tifa."

"Salam kenal," Tifa sedikit merendahkan tubuhnya sebagai sedikit penghormatan. "Terima kasih telah menolongku."

"Tak perlu sungkan," Mito memandang Tifa, menarik sebuah kursi lalu duduk di sebelah ranjang tersebut. "Kau boleh tinggal disini kalau kau mau!"

Tifa terkesiap. Ia kaget mendengar tawaran tersebut terlontar dari wanita keibuan sepertinya. Ia menunduk merasa tak enak. Penawaran tersebut terlalu baik. Ia memandang kedua orang tersebut dengan perasaan berkecamuk. Kenapa manusia di hadapannya bisa dengan begitu mudah menerima orang dalam rumah mereka, tanpa tahu bahwa orang di hadapan mereka ini adalah salah satu buronan yang bernilai miliaran jenny baik bagi mafia maupun target blacklist hunter yang dulunya terkenal sadis?

Ia tak layak menerima tawaran baik tersebut.

"Tidak, tidak...aku akan pergi setelah merasa sedikit baikan..."

"Tifa-san, aku malah merasa tak enak jika kau malah menolaknya..." Mito memandangku dengan pandangan lembut. "Lagipula rumah kami masih cukup luas untuk menampung satu orang lagi. Disamping itu, kami hanya hidup bertiga..."

"Tifa-san, onegai!" pandangan kekanakan Gon membuat Tifa bingung. Akhirnya ia menghela nafas.

"Baiklah, aku akan tinggal. Terima kasih sebelumnya," Tifa tersenyum kecil.

Seumur hidup Tifa, baru kali ini ia merasa begitu diterima oleh orang sekitarnya.

~oOo~

Tifa POV

"Tifa-nee, ayo ikut denganku!" suara Gon mengagetkanku yang kini sedang memandang jendela keluar. Aku menoleh, melihatnya membawa sebuah alat pancing, dan aku mengernyitkan keningku.

"Apa kau akan pergi memancing?"

"Hm!" ia mengangguk antusias. "Aku yakin nee-san pasti bosan di rumah, jadi sebaiknya Tifa-nee ikut denganku menangkap monster danau."

Hoo, aku tersenyum, mengangguk. Menarik juga. Aku berjalan menghampirinya, lalu menutup pintu kamar. Saat itu Mito menyentaknya.

"Gon, biarkan Tifa-nee beristirahat dulu. Pergilah ke danau sendiri!"

"Tidak, tidak Mito-san, aku sudah baikan...aku bisa menemaninya," aku tersenyum, menggeleng pelan.

"Kau yakin, Tifa-san?"

Aku mengangguk. Mito menghela nafas, dan kami pun beranjak keluar rumah. Di perjalanan baik aku dan Gon terdiam. Aku sebenarnya agak bingung kenapa ia berniat menangkap monster danau dan menyimpan pikiran tersebut untuk beberapa lama.

"Tifa-nee, apa Tifa-nee punya keluarga?"

Hatiku terasa membeku. Keluarga? Aku menggeleng kecil. Jangan bercanda. Aku tak menganggap keluarga angkatku adalah bagian dariku, teman saja aku tak punya. Siapa yang mau berteman dengan seorang pembunuh yang baru mendengar namanya saja orang sudah bergidik? Lagipula bagaimana aku bisa berteman, jika selama misi aku diawasi oleh kakakku hingga misi berakhir, lalu aku kembali dikurung dalam gudang bawah tanah serta segel nen di tubuhku?

Aku berdecak. Aku benci diriku yang dulu...

"Tifa-nee? Tampaknya kau melamun?"

"Eh?"

"Tifa-nee belum menjawab pertanyaanku," katanya pelan, mendongak padaku. Aku terdiam, tersenyum kecil, "Jujur saja Gon, selama aku hidup 28 tahun, aku bahkan tak punya teman, apalagi keluarga."

"Haaaa?" Gon terbelalak memandangku, "duapuluh delapan tahun?"

Aku tertawa, "kau pasti tertipu penampilanku kan?"

"Tentu saja!" Gon memandangku dengan kaget, "kau tampak seperti usia belasan di mataku!"

"Ngomong-ngomong, kenapa kau ingin menangkap monster danau?" tanyaku ingin tahu.

"Sebab aku ingin menjadi hunter! Mito-san berjanji padaku, kalau aku bisa menangkap monster danau, maka aku boleh mengikuti ujian hunter tahun ini."

"Hm..." aku jadi teringat dengan Netero-jii. Apa kabar ketua asosiasi hunter itu?

"Ayahku juga seorang hunter dan ia menjadi hunter di usia 12 tahun. Dan aku ingin tahu penyebab kenapa ia lebih tertarik menjadi hunter dibanding mengurusku," lanjutnya lagi.

"Hei, apa itu tidak terlalu gegabah? Hunter itu pekerjaan yang mengancam nyawa, Gon," kataku memberitahu. Tentu saja aku tahu. Aku memang sempat membunuh beberapa blacklist hunter, dan bisa membayangkan, pekerjaan hunter itu benar-benar mempertaruhkan nyawa.

"Aku memang tidak tahu. Tifa-nee bisa bilang aku gegabah, tapi...aku akan mencari tahu semua penyebabnya," katanya dengan wajah antusias. Saat itu kami sampai di sebuah danau yang cukup besar dengan sebuah pohon besar di tengahnya. Ia memanjat pohon tersebut dengan lincah, lalu memandangku.

"Tifa-nee, apa kau butuh bantuan?"

Bantuan? Aku mengangkat sebelah alis. Jangan bercanda. Aku meloncat, dan mendarat sukses di sisinya.

"Waaah, Tifa-nee hebat!"

"Mha, itu hanya karena aku lama hidup di alam liar saja," aku tersenyum bodoh. Tolol, meloncat tinggi dan sejauh itu tidak karena hidup di alam liar saja. Yah, anggap saja keahlian seorang manusia yang selalu bertahan hidup dari segala bahaya.

Apa perumpamaan itu terlalu berlebihan?

Yang membuatku heran, Gon langsung percaya dengan alasanku tadi!

Anak ini benar-benar polos. Aku menggaruk-garuk kepalaku.

Matahari mulai meninggi. Alat pancing sudah dipasang beberapa jam lalu, dan tak ada tanda-tanda monster danau itu akan muncul. Aku menghela nafas ketika panas matahari mulai menyengat. Aku meloncat ke darat, berniat mencari makanan seperti buah untuk mengganjal perut dan pelindung kepala, mungkin daun atau apalah. Sinar matahari ini tak bisa ditolerir.

"Tifa-nee, mau kemana?"

"Mencari makanan," kataku pendek, kemudian berjalan ke dalam hutan yang lebih lebat. Aku menaiki beberapa pohon apel dan dan buah tak kutahu namanya, namun aku yakin bisa dimakan berdasarkan pengalamanku hidup di hutan liar. Kini tinggal pelindung kepala. Aku mencari daun berbentuk lebar yang bisa kubuat jadi penutup kepala. Dengan kreativitas berbekal sok tahu, aku kembali ke pohon tempat dimana Gon menunggu, dengan beberapa buah di tangan dan dua buah topi untuk melindungi panas. Aku memakaikan topi itu di kepalanya.

"Hari ini panas sekali," kataku saat memakaikan topi tersebut. Ia mengangguk, "arigatou, Tifa-nee."

Aku tersenyum kecil, "kalau kau butuh sesuatu, bangunkan aku."

"Tifa-nee, kau akan tidur?"

"Hmm..."

"Tifa-nee?"

~oOo~

"Selama kita memilikinya, kita bisa memperoleh banyak uang tanpa harus repot melakukan misi..."

"Ia memiliki kemampuan luar biasa!"

"Jangan lupa segel nennya sebelum kau mengunci ruang bawah tanahnya!"

Aku terbangun. Kulihat ke sekitar. Anak berusia 12 tahun itu masih didekatku, memancing. Aku menghela nafas.

Ini hari ketujuh. Anak ini benar-benar keras kepala dan menolak bantuanku. Aku memakan apel yang kuambil sebelum aku tertidur tadi, berharap monster danau itu segera muncul. Entah kenapa, aku hanya merasa bosan menunggu tanpa melakukan apapun, tapi aku juga menolak saat ia mempersilahkan ia pulang. Meski terkesan aneh, jujur saja, aku sedikit khawatir. Bagaimanapun, ia masih cukup muda untuk mempertahankan dirinya dari segala bahaya yang mungkin terjadi.

Aku memandang lurus ke kail. Saat itu kail bergoyang. Wajah Gon berubah cerah.

"Ya! Ya! Ya! Ya! Ya! Ya! Dapaaaat!"

Sepertinya cukup besar, batinku. Ia melingkarkan kailnya pada cabang pohon dan meloncat beberapa kali agar bisa menarik ikan tersebut. Aku berdiri, berniat membantu, tapi ia menggeleng.

"Biarkan aku melakukannya sendiri!"

Aku mengangkat bahu, membalikkan tubuhku, memasang wajah masam. Keras kepala, batinku sebal.

SPLASH!

Sebuah ikan besar berwarna biru muncul dari danau. Aku memandang monster itu dengan wajah senang, dan memandang Gon. Anak ini berbakat juga.

"Lihat Tifa-nee! Aku mendapatkannya!"

Aku tersenyum kecil. Ia menarik ikan besar itu ke darat dan menyeretnya untuk dipertunjukkan pada bibinya. Aku mencoba membantunya, tapi ia menggeleng, meyakinkanku bahwa ia bisa membawa ikan tersebut. Jujur saja, mendapat penolakan berkali-kali aku kesal juga. Kalau bukan untuk membantunya, lalu untuk apa aku diajak ke danau? Menunggu dan menemaninya? Tch, kalau bukan kepribadianku sebagai Tifa yang baru, mungkin saat ini aku sudah membunuhnya...

Ah lupakan. Kenapa aku berpikir sejahat itu sih?

"Lihat Mito-san, aku berhasil menangkapnya! Kalau begitu, sesuai janjimu, aku boleh ikut ujian Hunter kan?"

Anak itu benar-benar terobsesi untuk menjadi Hunter, batinku sembari menggaruk-garuk kepala.

~oOo~

"Bagaimana?" tanyaku saat melihat Mito menutup kamar Gon dengan wajah sedih.

"Percuma," ia menggeleng. "Aku tak bisa mencegahnya. Jujur saja, aku khawatir padanya."

Mito duduk di kursi meja makan, sementara nenek meminum tehnya. Aku memandang Mito sembari menghela nafas panjang. Aku tahu, tak ada yang bisa menghadang Gon dari antusiasmenya menjadi seorang Hunter. Aku bisa melihat itu dari matanya yang tampak penuh semangat dan punya tekad kuat akan segala sesuatu yang ia inginkan. Ah, atau itu hanya perasaanku saja?

"Tifa-san, bisakah aku meminta tolong padamu?"

"Eh, tentu saja, kalau aku mampu," kataku kaget.

"Bagaimana kalau Tifa-san menemaninya mengikuti ujian hunter?"

Mataku melebar, "ujian hunter?"

"Jujur saja, Tifa-san, aku hanya takut akan terjadi sesuatu padanya. Setidaknya, awasi dia sampai ia kembali ke pulau Paus," ucapnya, menggenggam tanganku dengan sorot mata penuh harap. Aku tak bisa bilang tidak. Wanita ini sudah sangat baik padaku, walau aku baru mengenalnya sebentar.

"B-baiklah. Aku akan menjaganya," kataku, mengangguk.

Aku beranjak berdiri. Mito mengekoriku dan membantuku mengemasi beberapa pakaian. Sebagian besar memang pakaian pria, karena aku sempat memintanya untuk tidak memberiku pakaian wanita, karena aku sangat tidak leluasa dengan pakaian rok atau dress dan pakaian semacam itu. Packing selesai, aku pun beristirahat sebelum keberangkatanku besok.

Apa mungkin...ini adalah jalan hidupku yang baru?

~oOo~


Yah, segini dulu. No flame, ditunggu fav-nya, uohooo~

sampe nanti