Banyak yang saya skip karena alur Ujian Hunter (versi 2011) mungkin udah banyak yang cukup tahu, jadi lanjut aja. Ohya, entah saya hanya males meng-italic istlah jepang karena ...males, jadi dont judge me. Toh ini fanfic aja kok :3 #DIGAMPAR

Disclaimer: HxH Bukan punya saya. Hanya Tifa dan beberapa plot dalam chapter ini yang disesuaikan dengan cerita HXH, selebihnya plot ini punya saya.


Aku dan Gon tersenyum satu sama lain saat mereka berada di kapal. Bagi Gon, ini adalah kesempatan baginya untuk menjadi seorang hunter dan menemukan alasan ayahnya yang memilih untuk menjadi hunter. Bagiku, ini mungkin takdir yang membimbingku untuk hidup lebih baik. Yang jelas saat itu kami senang dengan alasannya sendiri, sampai suatu saat beberapa suara burung camar berputar di sekitar tiang penyangga terdengar.

Akan ada badai, batinku dalam hati.

"Akan ada badai datang,"

Aku melotot. Tajam sekali inderanya!

Ia menaiki tiang penyangga, sedikit mengendus, dan berteriak padaku dan kapten, "akan ada badai besar datang!"

Tak butuh waktu lama. Badai besar benar-benar terjadi. Tifa berlindung di dalam kabin, diantara puluhan peserta yang mabuk laut, sementara gadis tersebut bersila di dalam kabin, bermeditasi seperti biasa. Gon mengobati beberapa orang yang mabuk laut parah dengan tanaman obat yang ia bawa dari gunung. Gadis berambut indigo itu mengintip dengan satu mata terbuka, lalu kembali menutup. Saat itu, sang kapten memandangku, Gon, serta dua orang lainnya yang tampaknya tak terpengaruh dengan ombak besar tadi. Seorang pria berambut pirang yang asik membaca buku dan pria berjas yang menggumam saat mencicipi apel masam.

Mereka berempat dipanggil oleh kapten tersebut.

"Sebutkan nama kalian."

"Namaku Gon."

"Aku Kurapika," sahut pria berambut pirang tersebut

"Leorio," jawab si pria berjas biru tua

"Tifa," jawabku singkat.

"Kenapa kalian ingin jadi hunter?"

"Hey, kau bukan penguji jadi jangan seenaknya memberikan pertanyaan!" ucap Leorio sambil menuding sang kapten dengan wajah emosi.

"Ayahku adalah seorang hunter. Aku meninggalkan pulau Kujira karena aku ingin menemukan alasan kenapa ayahku menjadi hunter!" sahut Gon tanpa tedeng aling-aling.

"Hoy bocah! Jangan sembarangan menjawab pertanyaan?" ucap Leorio

"Lho, memangnya kenapa kalau hanya menjawab pertanyaan itu?"

Ya, apa salahnya? Mereka mungkin punya alasan khusus untuk menjadi Hunter, tidak seperti aku yang ikut ujian karena harus mengawasi Gon saja. Mereka pasti punya alasan kuat, apapun itu. Dan tekad seseorang ditentukan dari alasan orang-orang tersebut untuk mengikuti ujian, iya kan? Semakin kuat alasan mereka, semakin besar tekad mereka untuk lulus. Well, meski itu bukan asumsi yang 100 persen benar, tapi yah...kurang lebih seperti itu.

Aku menghela nafas. Di satu sisi, aku juga bingung. Apa yang harus kukatakan untuk menjawab pertanyaan ini? Aku tak punya tujuan. Intinya, selama menarik diri hampir 15 tahun, aku hanya ingin jadi manusia yang lebih baik. Tidak sembarang membunuh orang, tidak menjadi sesosok Tifa yang kejam dan tak kenal belas kasih.

Ya, setidaknya hal itu tak harus dilakukan pada orang yang masih layak hidup. Beberapa manusia di dunia ini – sejujurnya – lebih baik saat mereka mati. Dalam arti, orang tersebut menyebabkan banyak penderitaan sejumlah komunitas, penduduk, dan sebangsanya. Mereka lebih baik mati. Atau beberapa orang yang hanya merugikan sekitarnya.

"Dan kau Tifa?"

"Eh?"

"Apa alasanmu ingin menjadi hunter?"

"Pada dasarnya..." aku menggaruk pipi. "Aku disini hanya untuk mengawasi Gon, dan mencari pengalaman baru juga."

"Alasanmu terlalu dangkal untuk menjadi seorang Hunter..."

"Kadang, beberapa manusia tidak punya alasan khusus untuk melakukan hal besar, pak tua..." kataku sambil melipat tanganku kedada. "Mereka hanya melakukannya karena ingin, tanpa ada alasan."

Kapten tesebut memandangku dalam. Aku memandangnya dengan dingin.

Bagaimana jawabanku, pak tua? Itu berdasarkan kenyataan lho.

Saat itu kulihat Kurapika dan Leorio telah keluar. Jujur aku juga bingung dengan apa yang terjadi dengan mereka. Saat itu kulihat sebuah tornado di depan kapal kami, dan awak kapal tercengang. Sang kapten mengambil alih kemudi, sementara aku dan Gon membantu awak kapal lain untuk mempertahankan tiang penyangga dengan menarik tambang penahan. Aku melihat Kurapika dan Leorio sepertinya ribut akan sesuatu, tapi badai membuat suara mereka membaur dan tak jelas. Saat itu kulihat Katsuo – salah seorang awak kapal, melayang terbawa angin, dan Gon berlari ke arahnya. Katsuo terbawa angin ke arah Leorio dan Kurapika, dan keduanya berusaha menahan – tapi gagal. Saat itu Gon tanpa ragu meloncat untuk menahan tubuh Katsuo dan keduanya menarik kaki Gon. Aku ikut menarik kaki Gon.

Saat langit mulai cerah, aku menghela nafas lega. Kudengar keduanya memarahi Gon, dan saat itu sang kapten tertawa dari arah pintu ruang kemudi.

Kami berempat...lulus.

~oOo~

"Awas monster..." bacaku saat melihat sebuah palang berisi peringatan. Saat itu aku juga melihat sebuah rumah dibawah pohon pinus. Saat itu Leorio mengetuk pintu tapi tak ada jawaban, sehingga kami langsung masuk. Kami berempat kaget melihat seorang lelaki dan dengan seekor Kiriko, sementara satu Kiriko lainnya membawa seorang anak perempuan.

"Tolong, selamatkan istriku..." ucap pria terluka tersebut.

"Leorio, aku serahkan pria tersebut padamu," ucap Kurapika sebelum meloncat ke jendela.

Saat ini Gon dan Kurapika mengejar monster tersebut, sementara aku hanya melongo. Aku gamang, membatu Leorio atau Gon. Tapi...aku tak mendapat perintah apapun jadi aku hanya terdiam, dan mungkin sedikit membantu Leorio beberapa hal kecil yang bisa aku bantu.

Sejujurnya aku agak khawatir juga pada Gon. Apa ia akan baik-baik saja? Aku ingin membantunya tapi, bagaimana kalau monster itu justru yang akan membimbing kami menuju lokasi ujian? Kapten yang memberi Gon petunjuk tadi tidak sekedar bicara kosong. Zaban dan pohon pinus ini berada pada arah yang berlawanan. Dilain sisi, aku juga khawatir akan keselamatannya, jadi haruskah aku mengejarnya?

"Jadi, kalian mengerjai kami?" tanya Leorio dengan wajah sebal. Aku manyun. Asumsiku yang pertama terbukti benar.

"Lokasi ujian hunter selalu berubah, dan kami membimbingnya menuju lokasi tersebut..."

"Tapi kami tidak membantu semua peserta. Kami hanya membantu peserta yang kami anggap pantas," ucap sang anak perempuan.

"Kurapika-dono, anda benar menggunakan petunjuk yang benar yang membuktikan bahwa kami bukanlah sepasang suami istri," anak perempuan tersebut menunjukkan pergelangan tangannya, "tato ini adalah tato daerah sini yang menunjukkan bahwa seorang gadis belum menikah. Apa yang anda lakukan benar-benar sangat pintar. Anda lulus."

"Leorio-dono," ucap anak laki-laki tersebut. "Pada dasarnya anda tak mengetahui identitasku yang sebenarnya, tapi anda merawat lukaku lebih cekatan dari dokter. Disamping itu kau terus meyakinkan bahwa istriku dalam keadaan baik-baik saja. Kebaikanmu membuatmu pantas untuk mengikuti ujian hunter. Anda lulus."

Gon memberi salam tinjunya dengan tawa kecil.

"Gon-dono," ucap suami dari si Kiriko. "Hai," sahut Gon.

"Kau manusia super dengan kemampuan fisik dan kekuatan pengamatan yang luar biasa, membuatmu layak ikut ujian hunter. Anda lulus."

Gon memberi salam tinju pada Leorio dan Kurapika.

"Selanjutnya, Tifa-san," ucap Kiriko. Tifa mengangkat alisnya. "Sejujurnya aku tak bisa meluluskanmu karena kau tidak melakukan apapun."

"Tifa-nee..." Gon memandangku dengan pandangan sedih.

"Santai saja," aku mengibaskan tanganku pelan. "Kalian bisa mengantar mereka sementara aku mengikuti dari bawah."

"Benarkah, Tifa-nee?" Gon memandangku dengan mata berbinar.

Aku hanya mengangguk pelan. Saat itu keempat Kiriko tersebut terbang membawa mereka bertiga, aku mengikuti mereka dari bawah. Aku tak akan kehilangan mereka, karena aku bisa melacak mereka dengan En milikku. Lagipula tanpa En, aku sudah hafal dengan aura mereka. Pada dasarnya, setiap manusia memang memiliki aura, meskipun mereka belum mempelajari nen.

Nah, mengikuti mereka dari bawah bukanlah hal yang sulit.

~oOo~

Kami sampai di lokasi ujian pertama. Sebuah terowongan dengan banyak orang. Saat itu seorang pria dengan bentuk seperti kacang memberi kami nomor peserta. Ya, aku nomor 406, nomor paling terakhir. Sepertinya kami paling telat.

Aku memandang kerumunan orang-orang tersebut. Kuakui, atmosfir disana terasa lebih berat karena penuh dengan ketegangan, tapi bukan berarti semua orang disini kuat. Dari pengamatanku sendiri, hanya beberapa orang disini yang benar-benar menguasai nen. Satu atau dua diantaranya memiliki aura gelap, tapi sejujurnya aku sendiri tak akan mnnilai kekuatan seseorang berdasarkan nen, karena sepengalamanku bertarung, banyak juga orang kuat meski hanya mengandalkan kekuatan fisik dan strategi.

"Yo!" sebuah suara dari atas membuat kami mendongak. Seorang pria dengan perut besar dan hidung kotak menyapa kami. Pria tersebut tersenyum, tapi matanya tampak menunjukkan niat lain yang berlawanan dengan sikap familiarnya. Ia meloncat turun, lalu memperkenalkan dirinya dengan menyalami ketiga orang pria yang bersamaku. Jujur saja, aku bahkan tak berniat menyalaminya. "Namaku Tonpa."

Aku tak bertanya, batinku dingin.

"Kalian pasti peserta baru, ya kan?"

"Bagaimana kau tahu?" tanya Gon dengan wajah polos.

"Mudah saja. Aku mengambil ujian ini saat usiaku 10 tahun, dan ini adalah ke-35 kalinya aku mengambil ujian Hunter!"

Hah, ke-35? Saat itu yang terpikirkan adalah dua hal. Pertama, apakah memang pria ini yang segitu tololnya sampai harus mengikuti ujian ini 35 kali? Yang kedua, apakah ujian Hunter memang sesulit yang dikatakan orang?

"Kalau begitu, kau pasti mengenal banyak orang disini!" ucap Gon dengan mata penuh rasa ingin tahu. Tonpa mengangguk, menunjuk beberapa orang. Telunjuknya pertama menunjuk pada Todo, seorang pegulat, lalu seorang pria dengan tutup kepala, Bourbon, sang pawang ular. Kemudian Bodoro, sang ahli kungfu, serta Amari, Umori dan Imori yang konon terkenal dengan kerja samanya yang paling baik. Saat ia menjelaskan yang lain, sebuah teriakan menyela mereka.

"AAAAAAAAHHHH!" sebuah suara yang terdengar kesakitan. Aku dan yang lainnya menoleh ke sumber suara, dan seketika, mataku menangkap bayangan yang tampaknya asing di mataku. Seorang pria dengan pakaian aneh dan rambut yang melawan gravitasi, berwarna merah dengan warna mata ambernya. Kulihat seorang pria mengaduh melihat tangannya menghilang berubah menjadi kelopak-kelopak bunga...

Yah, trik sulapnya itu.

Ah, rupanya dari dialah aku merasakan aura gelap itu berasal. Aku menyipitkan mataku. Aku merasa tak asing dengan aura tersebut. Ya, itulah aura insting membunuh. Aku bisa merasakan instingnya yang haus darah dan penuh kepuasan saat melihat orang menderita. Aura seorang pria yang 10-11 tahun lalu mengajakku bertarung dengannya, meski aku menolak membunuhnya saat ia memintaku karena ia kalah telak.

Kukira dia sudah mati, batinku.

"Kau sebaiknya berhati-hati..." katanya dengan suara dingin, dimana aku merasa auranya berasa pada posisi kesal – tapi juga terhibur . "Seharusnya kau meminta maaf jika kau menyenggol seseorang."

Aku menghela nafas. Sudah kuduga.

"Psikopat itu lagi," ucap Tonpa dengan wajah takut. "Nomor 44, Hisoka. Tahun lalu ia sebenarnya berhasil mengikuti ujian, tapi ia didiskulifikasi karena membunuh salah satu penguji."

Aku melongo hebat. Membunuh penguji? Terdengar sangat Hisoka sekali. Tak heran, mengingat seorang dengan aura keji seperti itu dengan mudahnya membunuh orang yang tak ia suka, dan memiliki kecenderungan membunuh saat ia bad mood. Saat itu ia tak pilih-pilih, siapapun bisa jadi korbannya. Yah, semacam perasaan kepuasan pribadi, atau pelampiasan saat emosi, jika tak bisa dibilang hobi. Kenapa aku bisa tahu detail? Tentu saja karena aku adalah seorang pembunuh. Aku bisa tahu semua keingian terdalam seseorang yang memang terlahir sebagai pembunuh.

Meski pada kasus Hisoka, ia lebih kecenderungan memiliki penyakit mental.

Hobi: membunuh sembarang orang. Terdengar keren kan?

Tidak. Aku bercanda. Aku hanya asal bicara.

Saat itu aku menyembunyikan keberadaanku dari siapapun. Yang aku takutkan saat ini adalah...Hisoka kembali menantangku bertarung, sementara aku sendiri tidak mau lagi membunuh orang sembarangan. Disatu sisi, aku juga kesal, karena ia adalah satu-satunya lawan yang berhasil mematahkan tulang kering dan lengan kananku. Tapi, dilain sisi, pertarungan terhebatku yang terakhir adalah dengannya, dan ia adalah lawan yang sempat menorehkan kesan dalam pikiranku.

Oh, kenapa aku jadi sentimentil sekali.

"Tanpa zetsu, aku bisa mengetahui bahwa kau ada diantara kerumunan, neko-chan~"

~oOo~

Normal POV

"Tanpa zetsu, aku bisa mengetahui bahwa kau ada diantara kerumunan, neko-chan~"

Tifa meloncat ke sisi kanan, terkejut setengah mati. Hisoka tampak menyandarkan tubuhnya di dinding tepat di sebelah kiri Tifa dengan senyum playful miliknya sembari memainkan kartu. Tifa merogoh rogoh sakunya, tapi ia tak menemukan permen lolipop. Tolol. Bahkan ia tak menyimpan stock permen pada saat seperti ini! Hisoka tertawa kecil, menyodorkan sebuah lolipop padanya. Ah, ia tahu betul kebiasaanku saat bingung, mengemut permen!

Stalker. Itu salah satu kemampuannya selain membunuh.

"Kau masih tak berubah. Kemana saja selama ini?~"

Tifa membuka bungkus permen tersebut, tak langsung menjawab. Mengolah sedikit kalimat yang terlontar dari mulut pria psikopat itu, sebelum akhirnya terbelalak. "T-tunggu, kau panggil aku neko-chan?"

"Bukannya kau suka kucing~?" ia menjepit sebuah kartu as sekop dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, menutup mulutnya dengan senum palsu yang selalu freak dimataku. Jujur saja, make up itu, ughhhh...Tifa benar-benar menyayangkan wajah tampannya harus tampak aneh karena make up itu.

HE, TAMPAN? TIFA, BERPIKIR JERNIH!

"Dan bagiku, kau adalah kucing kecilku~," katanya lagi.

Tifa tertawa palsu dengan suara keras, mengangkat tangan kirinya seperti kaki kucing dengan sebuah suara, "miaow." (Apa, kucing kecil?!)

Hisoka tertawa kecil. Ia selalu menyukai tingkah tolol wanita di sebelahnya ini.

Namun seketika wajah Tifa kembali dingin dan datar, dan sebuah aura gelap memancar dari tubuhnya, "kalau aku adalah kucingmu, kau seharusnya sudah bisa membunuhku, Hisoka. Permohonanku sekarang adalah, menjauhlah dariku, Hisoka. Aku tak tertarik denganmu."

"Ara, kau menakutkan, neko-chan~"

"Terima kasih untuk permennya," bersamaan dengan itu ia berjalan dengan punggungnya, meninggalkan Hisoka dalam berbagai pertanyaan tak terjawab.

Baginya, Tifa adalah buah matang yang tak bisa ia makan. Dalam arti, ia tak bisa membunuhnya. Dan saat ini adalah saat yang tepat untuk menuntaskan semuanya, tapi rasanya Tifa tampak tak tertarik untuk bertarung dengannya. Tak bisa ia pungkiri, perasaan itu mungkin muncul sama seperti ketika ia tak tertarik untuk bertarung dengan orang lemah, dan menurut pandangannya, Tifa tak ingin bertarung dengannya karena ia lemah. Baginya, itu adalah sebuah penghinaan terbesar. Dalam perihal kekuatan, ia tak mau mendapat penghinaan, terutama dari lawan yang jelas-jelas tak pernah bisa ia bunuh.

Sementara itu seorang penguji bernama Satotz muncul setelah sebuah deringan nyaring, dan sosoknya muncul dari balik pintu besi. Tifa memandang pria tersebut sambil sedikit merendahkan tubuhnya.

"Penerimaan peserta telah berakhir," ucapnya, dan Tifa bingung. Apa pria penguji ini memang punya mulut kecil sampai-sampai hanya kumisnya saja yang terlihat bergerak saat ia bicara?

"Ujian akan segera dimulai," ia berbalik dan berjalan menyusuri terowongan gelap tersebut. "Mari ikuti saya."

Terowongan ini dalam dan panjang, batin Tifa. Langkah pria kurus itu semakin lebar, memaksa semua peserta untuk berlari kecil, sampai akhirnya mereka berlari dengan kekuatan penuh. Tifa mencebik. Penguji ini mengerjainya, juga peserta. Ikuti? Eh, yang benar saja. Penguji tersebut melangkah dua-tiga kali langkah lebih lebar daripada manusia. Eh, apa ia manusia, batin Tifa dengan macam-macam pikiran tolol membanjiri otaknya.

Bertepatan dengan itu, seorang anak kecil – mungkin seusia Gon, melintas dengan enaknya dihadaapan Tifa dengan skateboard. Sial, andai saja aku membawa skateboard!

"Heh, bocah? Bisakah kau hargai ujian Hunter sedikit? Kau tak boleh menggunakan skateboard!" Leorio meneriaki anak berambut putih tersebut.

"Kenapa?"

"Kau salah," Gon yang berlari di depan Tifa memandang Leorio. "Penguji bilang kita hanya harus mengikutinya."

"Jadi sebenarnya kau memihak pada siapa?" Leorio masih ngotot merasa kesal.

Skateboard itu sedikit pelan saat ia melihat Gon. Tifa menangkap bahwa anak berambut putih itu tertarik pada Gon; mereka tampak seumuran.

"Ne, berapa umurmu?" tanyanya pada Gon.

"Aku?" sahut Gon. "Usiaku duabelas tahun."

"Oh," anak tersebut berpikir sejenak. "Seumuran denganku."

Nah, Tifa sudah menduganya. Saat itu anak tersebut meloncat dari skateboardnya, lalu berlari disebelah Gon. "Kupikir aku akan berlari saja."

"Keren!" ucap Gon dengan senyuman bersahabat.

"Aku Killua," ucapnya pelan pada Gon.

"Aku Gon!"

Dan sebuah pertemanan telah terbentuk. Ah, anak kecil gampang sekali sih berteman dengan orang? Tanya Tifa dalam hati. Tifa meringis sedih. Sampai saat ini ia bahkan belum pernah tahu bagaimana rasanya punya teman.

Hidupku sungguh buruk sekali, batinnya, menghela nafas.

"Dan kau, paman?" tanya Killua pada Leorio.

"Paman jidatmu! Aku masih remaja sama seperti kalian!"

Tentu saja, baik Gon, Killua, Kurapika dan Tifa tak percaya.

Killua melirik pada Tifa dengan pandangan dingin dan iris birunya. "Dan bagaimana dengan kakak yang ada disebelah sana?"

"Aku?" Tifa tersenyum. "Menurutmu, berapa usiaku?"

"Lima belas, atau enam belas mungkin?" tebaknya.

Tifa tertawa ngakak. Ia bahkan bukan remaja lagi. Usianya sudah 28 tahun, meski mungkin penampilan awet mudanya terbentuk karena ia sering berlatih. Saat seseorang bisa menggunakan nen, mereka cenderung selalu tampak awet muda, itu yang ia tahu. Yah, Tifa tak heran jika Hisoka memanggilnya 'neko-chan' karena selain suka kucing, dimata Hisoka, mungkin ia tampak mungil dan menggemaskan. Tingginya memang Cuma 160 cm, dan itu berbeda 26 cm dari Hisoka...

"HOHOHOHO..." Tifa tertawa sendiri. Namun, sejujurnya ia tahu bahwa pandangan Killua sejak tadi memerhatikannya dalam sikap waspada. Tifa memberikan senyuman terbaiknya pada Killua, "Kil, kau tak perlu begitu waspada padaku. Aku tak akan membahayakan siapapun, kecuali situasi dan kondisi memaksaku."

Sebaliknya, aku malah ingin melindungi orang yang bisa aku lindungi, batinnya pelan. Namun tetap saja Killua masih memandang tajam pada Tifa. Tifa memang bisa menangkap, bahwa anak ini sangat terlatih untuk selalu waspada. Gadis dengan rambut messy high bun itu tampak pasrah dan menghembuskan nafas menyerah, "susah sekali ya jadi orang baik."

"Tifa-nee bilang usianya 28 tahun..." ucap Gon polos.

Aku akan membunuhmu Gon, batin Tifa dengan vena mengeras di tangannya.

"KAU PASTI BERCANDAAAA!"

~oOo~

Tifa POV

Satotz berhenti sampai tangga puncak – pintu keluar tepatnya. Gon dan Killua lebih duluan keluar, dan aku setelah mereka. Kudengar mereka ribut soal siapa yang menang dan kalah – mungkin mereka bertaruh untuk seporsi makan siang atau makan malam mungkin. Aku tertawa kecil, memandang lurus pada pemandangan yang tertutup kabut. Ugh. Aku merasa kemejaku penuh dengan keringat. Aku melepas kemejaku yang berwarna pink, menyisakan sebuah celana jeans dan tank top berwarna hitam. Saat itu kulihat beberapa peserta lainnya mulai berdatangan, dan kabut pun mulai hilang. Satotz menyebutkan bahwa daerah ini disebut Rawa Numere, dengan berbagai monster yang menggunakan cara menipu untuk memperoleh makanannya.

Aku tersenyum lebar. Monster, neeee?

"Selanjutnya, mari ikuti saya!"

"Tunggu!" Sebuah suara dari belakang para peserta terdengar. "Pria tersebut berbohong!"

Seluruh peserta menoleh pada Satotz. Pria tadi adalah seorang lelaki yang terluka, membawa bangkai yang tampak persis seperti Satotz. Aku menggeleng. Tidak, tidak. Aku bisa merasakan aura kuat pada penguji di hadapanku ini tanpa harus menggunakan en. Dan aura orang yang terluka itu bahkan tidak terasa seperti manusia

"Dia berbohong! Penguji sebenarnya adalah aku!" ucapnya. Ia mengatakan bahwa monyet berwajah manusia itu menyukai daging segar manusia, dan ia terlalu lemah untuk mencari makan sehingga menggunakan kemampuannya untuk menipu dan ia menunjuk Satotz sebagai salah satu yang akan menyesatkan kami untuk menjadi bahan makanannya. Para peserta mulai kebingungan. Sempat terjadi riuh rendah, sampai akhirnya sebuah kartu menancap pada pria yang terluka tersebut, sementara Satotz menangkap kartu tersebut.

"Hmmm~, begitu rupanya..." Hisoka memainkan kartunya. Vena di pelipisku mengeras lagi. Ia benar-benar tahu cara agar jadi pusat perhatian.

Monyet yang tadi di bawa pria itu terbangun, dan melarikan diri.

"Jadi monyet itu tidak mati?"

"Para penguji ini adalah hunter yang dipilih oleh asosiasi tanpa dibayar," ucap Hisoka dengan nada suaranya yang singsongy . "Hunter dengan gelar apapun yang kita cari-cari...pasti bisa menangkap kartu tersebut."

"Saya anggap itu sebagai pujian," ucap Satotz. "Tapi, jika anda menyerang penguji lagi dengan alasan apapun, kami akan mendiskulifikasi anda. Mengerti?"

"Baik, baik. Aku mengerti~," katanya dengan senyum tipis.

Aku mengangkat alis. Yakin kamu benar-benar mengerti, Hisoka?

Maraton kembali dimulai. Aku benci mengakui, tapi berlari di tanah basah cukup membuatku lelah. Aku tak suka dengan sensasi ini, ditambah lagi kabut mulai menebal. Aku memang merasakan aura Gon dan Killua yang berada agak jauh didepanku, dan aku berada di antara Kurapika dan Leorio. Aura Hisoka berada di sebelah kiri, sedikit di depanku.

"Kurapikaaaaaaa! Leoriooo! Tifa-nee! Killua mengatakan kalau kita harus cepaaaat!" suara Gon terdengar dari depan.

"Bodooooh! Aku pasti sudah ada disana jika aku punya tenagaaaaa!" ucap Leorio dengan nada agak kesal

"Kalian duluan sajaaaa! Kami menyusul," sahut Kurapika.

"Eh?" Gon terdengar agak kecewa.

Aku tersenyum, memandang Kurapika. "Tenang saja, kalian tak akan kehilangan arah."

"Atas dasar apa kau bisa begitu yakin, Tifa-san?" tanya Kurapika dengan mata sedikit menyipit.

"Hmmm," aku meletakkan telunjuk kananku di mulut. "Insting!"

"Bodoooh! Buat apa aku percaya instingmu?" Leorio melotot. "Kau bahkan tidak meyakinkan, Tifa!"

Urat emosi muncul lagi pelipisku, meski aku masih tersenyum tipis. "Bagaimana kalau aku mengatakan kalau aku lebih hebat dari Hisoka?"

"Pembual," ucap Leorio dengan kesal. "Aku saja heran kau masih bisa bertahan sejauh ini, Tifa. Kukira kau seperti gadis-gadis cantik pada umumnya yang tak pernah biasa dengan latihan fisik."

"Betul, aku pembual!" aku masih tertawa kecil. "Eh kau mengakui kalau aku cantik? Maaf, aku tak berminat dengan remaja, hohoho~"

"Dasar tua," vena pelipis Leorio mengeras. Aku hanya meringis, meski ingin rasanya ku meninju wajah pria bernama Leorio tersebut.

"Kabut mulai menebal..."

Atch, ini bukan aura manusia!

"Lihat!" Leorio berhenti berlari, saat melihat bayang-bayang orang didepan kami tiba-tiba tampak seperti kehilangan kepala. Tiba-tiba sebuah bentuk seperti buah stroberi dengan ukuran sebsar kepala manusia muncul dari kabut.

"Ini monster penipu itu!" ucapku keras.

Terlambat. Kabut mulai menghilang, dan muncul beberapa kura-kura berleher panjang dengan cangkang yang tersusun atas bentuk bentuk seperti stroberi. Aku facepalm. Monster apa ini? Ditambah lagi, ia memakan manusia! Beberapa peserta telah lari, sementara jumlah monster itu semakin banyak dan kami terkepung bertiga. Aku terhenyak, sampai Leorio mengambil sebuah batang pohon yang agak besar, namun tiba tiba monster tersebut mengigit kayu tersebut sehingga tubuh Leorio terbawa bersama kepala si monster yang berayun. Kurapika meloncat dengan pedang kayu di tangannya, menusuk mata monster yang menyerang Leorio. Aku terhenyak, mengambil sebuah daun yang agak besar.

Hanya butuh kurang dari 1 persen dari nen untuk membunuh semuanya. Aku menjepit daun itu dengan jari telunjuk dan jari tengahku, memberi gerakan horisontal ke arah para karnivora tersebut. Sesaat mereka terdiam, sebelum akhirnya, tubuh mereka terbagi jadi dua, sementara Leorio dan Kurapika akhirnya mendarat ke tanah.

Leorio dan Kurapika ternganga. Sebelum mereka bertanya, aku langsung menyela.

"Tak ada pertanyaan, pergi ke arah barat. Aku akan berlari di belakang," kataku pelan. Kurapika ingin berkomentar, tapi akhirnya mereka bungkam, berlari menuju arah yang kutunjukkan. Saat itu aku sempat merasakan aura membunuh yang kuat tak jauh dari arah kiri. Saat itu bertepatan dengan langkah Leorio terhenti. Sesosok pria berambut merah diantara kabut tampak begitu dominan, dikelilingi beberapa pria yang sepertinya akan mengajaknya berduel.

"Sembunyi, sembunyi!" aku menekan kepala Leorio dan Kurapika, tapi percuma, mereka terlalu ketakutan, bahkan lutut mereka ikut bergetar hanya dengan melihat Hisoka. Ini buruk...aku menghela nafas. Entah apa yang mereka ributkan, sampai akhirnya Hisoka mengeluarkan kartunya dan membuat gerakan melingkar, dan lelaki yang mengitarinya terjatuh. Seperti yang sudah kuduga dari seorang Hisoka. Bahuku turun, dan aku berjongkok frustasi. Aku berusaha menjauhkan mereka dari Hisoka, tapi keduanya tampak terlalu takut untuk bergerak, sementara tanganku menulis-nulis asal di atas tanah.

Intinya, kalau keduanya butuh bantuan, aku siap sedia.

"LARI!"

Aku terdiam menyadari keduanya berlari ke arah yang berlawanan. Aku memeluk lututku, masih menulis-nulis di atas tanah.

"Hmmm, lihat apa yang kutemukan! Seekor kucing kecil~!" katanya dengan nada yang terdengar senang.

"Miaow," kataku pelan tanpa merubah posisi.

"Apa kau mengajakku bertarung?" tanyanya dengan nada bahagia.

"Apa auraku tampak seperti itu? Aku bahkan tidak menggunakan nen saat ini," kataku, menghembuskan nafas frustasi. "Aku hanya kesal, melindungi orang-orang cukup sulit juga... apalagi dari pria psikopat sepertimu."

"Ara, neko-chan~bukankah itu berarti kau juga membicarakan dirimu sendiri?" mata ambernya menelusuri sosokku tiap sentinya.

"Kadang aku bingung, haruskah aku senang atau sedih karena berhasil menang melawanmu beberapa tahun lalu," aku beranjak berdiri.

Senyum aneh Hisoka pudar saat melihat sesosok bayangan. Aku menoleh, dan kulihat Leorio membawa sebuah kayu yang akan ia gunakan sebagai senjata. Aku menepuk keningku. Frustasiku berlipat dua kali.

"Seperti yang kuduga, aku tak bisa..." ucapnya. "Aku tahu ini bukan pertarunganku...tapi..."

Ia berlari dengan brutal ke arah Hisoka. "Aku tak bisa tinggal diaaaaam!"

"Leorio, dia bukan tandinganmu!" ucapku keras. Aku mengepalkan tanganku, berusaha untuk tetap tenang.

Kayu yang acungkan untuk menghajar Hisoka mengenai kabut kosong. Aku bisa melihat jelas pergerakan cepatnya yang terlatih dan kini berada di belakang tubuh Leorio. Saat ia hendak mengacungkan tangannya, sebuah bola apung kail alat pancing melayang ke pelipisnya.

"Gon!" kini aku tak bisa tinggal diam. Bagaimanapun aku harus menyelamatkannya!

"Lumayan, bocah," ia memandang Gon dengan pandangan tertarik. Aku menelan ludahku, membayangkan kemungkinan terburuk jika anak kecil yang sudah kuanggap sebagai orang yang berarti di hidupku harus mati di tangan pria yang bahkan pernah kukalahkan. Mulutku tak bisa lagi menahannya, saat ia tampak menaruh ketertarikan pada Gon. Bahaya, pria ini bahkan belum sembuh dari penyakit psycho-nya. Aku bukannya tak mau bertarung, tapi dengan bertarung, semuanya akan membongkar jati diriku.

Dan aku tak akan pernah siap dengan penolakan semua orang yang pernah kukenal saat ini.

Namun, lebih baik aku yang celaka daripada Gon! Aku sudah membunuh ratusan orang tak berdosa, dan aku layak untuk mati ditangan seorang psycho. Sementara Gon? Ia bahkan terlalu polos untuk tahu soal kematian!

"Hisoka, lawan aku kalau kau memang ingin bertarung, tapi jangan Gon!"

Hisoka tak menghiraukanku, sementara kesabaranku mulai habis melihat Gon tampaknya jadi mainan untuk Hisoka. Aku tercekat melihat leher Gon yang berada dalam cengkraman tangan kirinya. Habis sudah kesabaranku.

~oOo~

Normal POV

Kelebatan bayangan yang lebih cepat dari suara itu kini mengacungkan empat buah jarum nen tepat di arteri leher Hisoka.

"Dulu aku pernah menganggapmu lawan yang kuhargai, Hisoka, meski kau berani mematahkan tangan dan kakiku..." aura membunuh mulai terpancar dari tubuh Tifa. Meski Hisoka pun seorang pembunuh, ia bisa merasakan aura bergejolak yang bahkan lebih mengerikan dari aura milik siapapun. Auranya terasa padat dan menusuk tubuhnya seperti jarum.

"...tapi jika kau berani membunuhnya saat ini, kupastikan kau mati sekarang."

Tangan kirinya terdiam. Meski ia masih bisa tersenyum, ia mengakui, selain Tifa, Gon adalah seorang anak yang berpotensi menjadi lebih kuat. Dan tentu saja, ia tak akan mau membunuh Gon. Selain karena ancaman Tifa, tentu itu karena kepuasan pribadinya. Pada dasarnya ia sama seperti Tifa dulu; terobsesi menjadi yang terkuat, dan bahkan selalu menunggu seseorang yang cukup potensial sampai cukup matang untuk ia bunuh.

Tangan Hisoka melepas leher Gon. Sebelum Gon sadar bahwa ia tadi mengancam Hisoka, dengan kecepatan yang sama, ia kembali ke titik awal tempat dimana ia tadi menunggu. Ia tahu, mungkin Gon mendengar suaranya mengancam, tapi ia bisa menampiknya dengan enteng. Bukan maksud ia membohongi Gon, hanya saja, rasanya belum saatnya bagi Tifa untuk membeberkan jati dirinya.

Maafkan aku Gon.

"Kau bisa menemukan jalanmu sendiri kan?" tanyanya saat membawa Leorio pada Gon. Gon mengangguk, dan Hisoka hilang ditelan kabut.

"Goooooonnn!" Tifa berjalan menhampirinya, lalu menjitaknya keras. "Tahukah kau betapa berbahayanya menghadapi Hisoka sendirian dengan kemampuan seperti iniiii? Haaaah?"

"Gomen, gomen..." ia mengelus kepalanya yang tadi dipukul. "Tapi...apa Tifa-nee juga tahu kemampuan Hisoka?"

Tifa sedikit terkesiap, lalu memandang ke arah lain, "itu bukan hal penting. Sekarang ayo kita cari Kurapika dan pergi ke lokasi kedua."

"Hmm!" ia mengangguk, beranjak berdiri. Tifa menggunakan en, sejenak untuk mencari dimana Kurapika berada, dan mendapati auranya berada di arah selatan.

"Ayo ke selatan, mungkin ia ada disana," katanya, berlari kecil, kembali ke lintasan dimana mereka bisa menemukan Kurapika dan bisa bersama-sama menuju lokasi ujian kedua. Setelah berlari beberapa saat, keduanya bertemu Kurapika – sesuai dugaan Tifa, dan mereka pun ke arah timur.

"Gon, apa kau tahu mana jalan yang benar?" tanya Kurapika.

"Ya, aku bisa menciumnya, sebab bau parfum Satotz-san sangat khas," katanya sembari mendengus. Memang, Satotz berada di timur, Tifa bisa merasakan auranya. Tak sampai limabelas menit ketiganya sampai di lokasi. Gon menoleh, melihat Hisoka menunjuk ke arah timur, menunjukkan sosok Leorio yang masih tak sadar. Ketiganya mendekati Leorio.

"Aduh, badanku sakit-sakit," ucapnya. "Apa yang terjadi denganku?"

Tifa, Gon dan Kurapika saling berpandangan. "Sebaiknya kita merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi," ucap Kurapika pada Gon dan Tifa, dan keduanya mengangguk.

Pintu gerbang lokasi ujian kedua dibuka. Tifa memandang seorang wanita berpakaian sangat seksi dengan mini jeans dan kaus yang memperlihatkan pinggang ramping bahkan transparan menunjukkan pakaian dalamnya – Tifa sempat heran kenapa wanita yang menyebut dirinya Menchi itu bisa sangat nyaman mengenakan pakaian demikian – sementara pria bertubuh besar di belakangnya bernama Buhara, tampak duduk di hadapan kami di antara puluhan kitchen set di halaman gedung tersebut.

"Jadi...ujian Hunter tahap kedua adalah memasak!"

Tifa bukanlah satu-satunya orang yang ternganga dengan bodoh.

"Memasak? Tapi kami kesini untuk ujian hunter, bukan memasak?" tanya Todo, si pegulat.

"Memang," ucap Menchi beranjak berdiri. "Tantangan di tahap kedua ini adalah membuat masakan yang bisa memuaskan mulut kami."

"Kenapa kami harus memasak?" tanya sebuah suara lagi

"Sebab kami adalah ...Hunter Citarasa!"

Terdengar kikikan, beberapa tawa kecil, bahkan sebagian tawa besar. Tifa memandang sekitarnya, merasa tak enak. Ia bisa membayangkan perasaan Menchi yang sadar bahwa ia ditertawakan peserta ujian Hunter. Meski ia pun sejujurnya bingung kenapa ujiannya harus memasak, ia tak cukup tega untuk tertawa. Entahlah, mungkin hatinya terlalu sensitif dengan perasaan orang saat ini...

"Lalu apa yang harus kami masak, Hunter Citarasa?" tanya Todo.

"Buhara..." Menchi memanggil pria dibelakangnya.

"Bahan yang kalian butuhkan adalah babi...kalian bebas memlih spesies babi apapun selama masih di dalam hutan Biska!"

"Dan kami menilai bukan hanya dari rasa, tapi juga penampilan masakan..." ucap Menchi.

"Baiklah, mulai saja ujiannya kalau begitu," ucap Todo, sepertinya ia tampak meremehkan ujian ini.

Buhara menepuk perutnya sebagai tanda ujian dimulai. Tifa dan keempat laki-laki tersebut sebnarnya bingung mau dimasak apa babi tersebut, sebab Tifa tidak pernah memasak sesuatu yang besar seperti babi, sementara yang lainnya bahkan tidak pernah memasak. Gon memandang ke suatu arah, dan ia menuruni sebuah turunan dan menggelincir, diikuti Killua yang beteriak 'yohooooo' hingga akhirnya ia terhenti mendadak dan ekspresi Killua menjadi takut karena khawatir tubuhnya menabrak Gon, selanjutnya hal tersebut belanjut berturut-turut; Leorio, Kurapika, dan Tifa. Kelimanya ternganga memandang puluhan ekor babi berwarna merah muda, salah satunya mengunyah tulang.

"Jangan bilang kalau babi ini..." Leorio terhenti sejenak saat pandangan babi itu terhenti ke arah mereka.

KARNIVORAAAA! Batin Tifa ngeri, berlari dengan mereka berempat sementara puluhan babi mengejar mereka. Beberapa peserta mencoba menyerang, tapi tampaknya hidung babi itu terlalu keras, sampai akhirnya Gon menemukan kelemahannya: dahinya. Kami pun berhasil membawa bahan mentah kami masing-masing untuk dimasak.

Tapi, tahap ini adalah tahap yang terburuk, sebab semua peserta digagalkan oleh Menchi. Tak lama sampai keributan atas penolakan keputusan tersebut, sebuah zeppeline dengan lambang asosiasi hunter muncul. Seorang kakek tua muncul, dan Tifa bisa langsung tahu siapa dia meski kepulan debu menutupi sosok tersebut selama beberapa waktu. Ia tahu aura tenang namun mengerikan yang bisa ia rasakan saat keberadaannya hadir.

Seseorang yang ia hargai diam-diam, Netero-Jii.

.

.

.

.

Tifa POV

"Jadi, Menchi-kun..." ucap Ketua Netero, memandang Menchi. "Kau telah menggagalkan seluruh peserta yang mengikuti ujian hunter ini."

"Maafkan saya ketua, saya hanya tidak bisa menahan diri saat seseorang mengejek Hunter Citarasa, jadi saya membuat ujiannya lebih sulit daripada seharusnya. Saya akan mengundurkan diri dari penguji, ketua," ucap Menchi dengan kepala yang agak tertunduk.

"Tapi, mencari penguji akan sedikit sulit, Menchi-kun. Bagaimana kalau begini saja: kau memberikan contoh untuk ujian selanjutnya, sehingga mereka bisa menerima keputusanmu jika mereka gagal."

"Baiklah kalau begitu," aku melihat Menchi berpikir sejenak. "Kalau begitu ujian selanjutnya adalah...memasak telur rebus!"

Begitulah.

Setidaknya ujian memasak telur ini lebih baik daripada memasak daging babi. Kesulitan memasak ini bukan karena memasaknya, melainkan memburu telur tersebut. Telur tersebut berada di jurang di gunung mafuta, dimana telur tersebut berada di jurang, sehingga kami harus menjatuhkan diri ke jurang dengan sengaja, mengambil telur, lalu kembali ke atas dengan angin yang berhembus dari bawah. Ketepatan akan angin yang berhembus dari bawah itu cukup sulit, mengingat aku harus benar-benar peka menentukan kapan hembusan itu akan terjadi. Jika tidak, itu sama saja dengan bunuh diri.

Tapi, aku berhasil kok :P

Sampai kami kembali ke atas zeppeline, hanya ada 43 peserta yang tersisa. Kami diizinkan untuk beristirahat dan makan malam. Jujur saja, perutku memang sudah keroncongan dari tadi, meski telur rebus super besar tadi sudah masuk ke perutku, rasanya aku belum cukup puas. Aku berjalan pelan menuju ruang makan, mengambil makan dalam porsi besar dan menghabiskannya dengan cepat. Saat aku keluar dari ruang makan, kulihat Gon dan Killua ditendang keluar dari dapur.

Mereka ngapain lagi sih? Aku tertawa sendiri.

"Ah, Tifa-nee!" Gon berlari kecil ke arahku dan aku tersenyum. "Kau sudah makan, Tifa-nee?"

Aku mengangguk. Killua mengunyah daging panggangnya, sebelum ia menoleh sekilas ke luar jendela, dan berseru, "lihat Gon!"

Gon meloncat ke sebelahnya, ikut memandang keluar jendela. Aku duduk sementara Gon berdiri sesaat disebalh Killua. Dan kami terdiam beberapa saat menikmati pemandangan malam lampu-lampu kota yang tampak indah dari tempat kami berada.

"Ne, Killua?"

"Hm?"

"Dimana orang tuamu?" tanya Gon dengan nada polosnya seperti biasa.

"Ada," Killua menghela nafas, "mungkin."

"Apa pekerjaan mereka?"

"Mereka pembunuh bayaran,"

Aku dan Gon memandangnya. "Mereka berdua? Benarkah?" tanya Gon dengan wajah kaget.

Wajah Killua kaget sejenak, lalu tertawa saat ia melihat ekspresi Gon, "Jadi, itu reaksi pertamamu? Sudah kuduga kau memang aneh!"

Aku hanya memandangnya dengan wajah datar, meski sejujurnya aku penasaran juga.

"Eh?" sahut Gon, tampaknya makin bingung.

"Kau adalah orang pertama yang menanggapi jawabanku dengan serius!" ucapnya dengan tawa. Aku bisa membaca, bahwa tawa itu bukanlah tawa lepas, tapi tepatnya, tawa getir...

"Bukankah kau mengatakan yang sebenarnya?" tanya Gon.

Tawa Killua terhenti, "apa yang membuatmu berpikir begitu?"

"Hanya firasatku saja..."

Aku terdiam. Mendengar percakapan mereka dan hanya bisa menghela nafas panjang. Dari situ aku tahu bahwa Killua memang berasal dari keluarga pembunuh bayaran. Tak heran, ia memang sangat terlatih untuk tetap waspada. Aku menopang kepalaku, memandang wajah manis Killua dan menyayangkan, sekaligus bisa membayangkan seperti apa hidup yang ia lewati. Meski ia bisa hidup dan tertawa, aku bisa membaca, keinginan hatinya dengan profesi turun temurunnya saling berlawanan.

Persis seperti yang kurasakan.

"Keluargaku semuanya pembunuh. Dan mereka mengatakan padaku bahwa aku punya bakat luar biasa untuk jadi pembunuh nomor satu. Tapi, siapa yang mau hidupnya diatur-atur?"

"...kasihan sekali..." ucapku pelan. Killua dan Gon terkesiap, seolah baru sadar kalau aku berada disitu. Kuakui, saat ingin menyimak pembicaraan orang, aku sering menggunakan Zetsu, sampai orang seringkali lupa, bahwa aku ada disana.

"Kasihan kenapa, Tifa-nee?" tanya Gon, memandangku ingin tahu.

"Kil, sejujurnya aku memang sempat curiga siapa kau sebenarnya, mengingat kewaspadaanmu terhadapku maupun sekitar sangat tinggi," ucapku. "Tapi, kau sekarang sudah jujur padaku dan Gon."

"Jadi, kau juga akan membeberkan siapa dirimu sebenarnya?" ucap Killua, memandangku dengan senyum dingin.

"Baiklah," aku tertawa kecil. "Aku juga seorang pembunuh."

"EEEEH?" Gon dan Killua terperanjat.

"Ya," aku mengangguk, memandang. "Tapi yang jelas, itu masa lalu. Saat ini aku hanya bertugas mengawasi kalian dari Hisoka."

"Tch, kau tak perlu melindungiku! Aku bisa melindungi diriku sendiri!" Killua melotot memandangku dengan pandangan kesal sembari menuding-nudingku. Meski aku jengkel juga atas tingkahnya yang kurang sopan, aku berusaha tetap bisa menyunggingkan senyumku.

"Ara, benarkah?" aku tersenyum kecil. "Baik, begini saja."

Aku menyentuh keningnya, memendarkan sedikit aura gelap padanya. Saat itu kulihat seketika wajahnya penuh dengan peluh dan ia meloncat menjauh. Aku menghentikan auraku, lalu mengangkat alisku, "bagaimana?"

"B-bagaimana kau memiliki kekuatan seperti itu?"

Aku hanya tertawa. "Dengan ketakutanmu pada kekuatanku, kau yakin bisa melindungi dirimu sendiri?"

"Berisik," ia mengalihkan wajahnya ke arah lain, malu. Aku tertawa lagi.

Aku melepas kemeja kotak-kotak yang diikatkan dipinggangku, lalu memakainya tanpa mengancingnya, tak berniat menjawab pertanyaan tersebut. Sebaiknya aku bergegas tidur. Aku membuka beberapa pintu yang berisi setumpuk pria tidur , meski sisanya masih terbangung, dengan pandangan yang terasa seperti melucutiku satu per satu. Kamar kedua, tch, masih sama. Sekumpulan pria mesum juga. Hingga akhirnya aku membuka pintu sebuah ruangan yang tampak kosong, dengan seorang pria yang kukenal betul, kini membangun rumah kartunya.

"Ah, neko-chan, tak kusangka kau akan kesini~"

Aku ternganga. Maksudku sengaja mencari ruangan yang kosong untuk menghindari para pria mesum, malang padaku yang kudapat adalah seorang pria dengan masalah mental sadomasokis, psikopat, yang juga kucurigai sebagai pedofilia.

"Hisoka," aku menghembuskan nafas pasrah. Ia tersenyum lebar, menatapku seperti aku adalah mangsanya yang paling enak untuk dinikmati, tapi aku tak mau ambil pusing. Aku bisa memasang En pada saat tidur, tapi kalau kuperhatikan, Hisoka bahkan hanya tampak playful.

Kadang aku khawatir barangkali ia akan melecehkanku saat tidur.

"Ne~neko-chan, apa kau tak kedinginan tidur sendiri di situ sementara ada aku disini yang bahkan dengan senang hati memelukmu?" katanya dengan nada menggoda dan wajah bernafsu, kalau tak bisa dibilang mesum.

"Tch, " aku duduk bersila di sebrangnya, "aku bahkan tak yakin seorang pembunuh spertimu memiliki tubuh yang hangat, karena hatimu pun sudah dingin."

Tangannya yang sedari tadi menyusun rumah kartu terhenti. Pandangannya tampak melunak, seperti tercekat akan sesuatu. Kulihat ia menghela nafasnya pelan, lalu kembali menyusun rumah kartunya. Aku duduk dalam posisi meditasiku. Saat ini aku benar-benar ingin menenangkan pikiran. Dalm kondisi hening ini, aku bisa mendengar detak jantung ku, denyut nadiku, bahkan denyut nadi Hisoka, serta pergerakan tangannya untuk membangun rumah kartu tersebut. Mataku terpejam, namun aku bisa merasakan gesekan udara dengan tangan dan kartunya, sampai ia terhenti saat rumah kartunya jadi. Aku tersenyum, menekan sedikit udara ke arah rumah kartunya dengan telunjukku, dan seketika rumah kartu tersebut rubuh.

"Kau memang selalu nakal seperti kucing, neko-chan~" ia menatapku, lalu ia merapikan kartunya, sementara aku membuka mataku. Ia merebahkan tubuhnya di sebelahku, bahkan bisa kurasakan bahunya menyentuh lututku.

"Kau tak tidur, Hisoka?" tanyaku baik-baik. Yah, kalau boleh jujur, meski kami adalah pembunuh yang hidup di dunia hitam, sebenarnya aku ingin kami tetap begini, bertahan sebagai teman, tidak seperti pemburu dan pemangsa.

"Bagaimana aku bisa tidur kalau kucing kesayanganku masih tampak belum mengantuk~" ucapnya, iris ambernya melirik padaku. Mau tak mau, aku tersenyum juga, lalu merebahkan tubuhku di sebelahnya, mengancingkan kemejaku, hanya sekedar mencegah dirinya dari imajinasi macam-macam, karena kaus tanktopku cukup ketat.

Kuakui, ia tak seperti dugaanku. Tidak, ia tidak dingin. Tubuhnya cenderung hangat. Ia memandang langit-langit, begitu juga aku.

"Kemana saja setelah kau bertarung denganku, neko-chan~?"

"Aku? Sibuk dengan banyak hal," kataku pelan, "berlatih dan sebagainya. Tapi yang jelas aku tak mau membunuh orang sembarangan lagi seperti kau saat ini."

Hisoka menyeringai.

"Rasanya sudah 10 tahun berlalu semenjak terakhir kali aku membunuh orang..." aku meletakkan tanganku di belakang kepala.

Hisoka memandangku, "Sembilanbelas tahun lalu? Memang berapa usiamu?"

"Aku? Duapuluh delapantahun," kataku dengan wajah tanpa dosa.

"Aku kira kau masih 17-18 tahunan saat ini, neko-chan...kau tak tampak berubah..." ucapnya pelan. Aku tersenyum, "banyak yang tertipu dengan penampilanku, ya?"

"Daripada pembunuh, kau lebih tampak seperti seorang kucing kecil yang rapuh, Neko-chan~"

"Hahaha, tapi tetap saja aku merasa sudah cukup tua," aku tertawa getir, lalu menutup mataku perlahan. Aku menghela nafas lelah. Sebaiknya aku segera beristirahat. Mataku mulai terpejam, tapi hingga saat ini belum bisa memasuki alam bawah sadar. Akhirnya, kulirik Hisoka yang kini asik dengan imajinasinya sendiri. Aku melepas sanggul kecil dikepalaku yang sempat membuatku tak nyaman. Rambut panjangku, memang selalu kukucir menjadi bun, karena aku tak betah menggerai rambut.

"Bagaimana kalau..." ia mengubah posisinya menyamping, dan tiba-tiba saja aku merasakan sebuah rangkulan dari tangannya yang berotot. Tenggorokanku tercekat, tapi tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. "Bagaimana, neko-chan~?"

Jantungku berdetak kencang. Aku benci mengakui, tapi pelukannya di pinggangku membuatku merasakan sensasi aneh di hati. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba memenuhi hatiku yang melompong. Kupandang mata ambernya yang juga menatapku dengan... pandangan yang tak biasa. Pandangannya yang melunak. Aku tak merasakan auranya yang biasanya selalu memancarkan kehausan akan membunuh. Sebaliknya, ada kehangatan yang lain, yang tak pernah kulihat sebelumnya dari sosok Hisoka.

"H-Hisoka...ini tidak lucu..." aku berusaha melepaskan tangannya, tapi bungee gum-nya melekat dan mengekangku. Tch, aku tak akan bisa lepas. Kupandang dirinya dengan kesal. "Apa maumu?"

"Ah~, kucing kecilku tampak marah...lucunya..." ia tertawa kecil, dan seketika tubuhnya berada di atasku, memnyudutkanku.

Akui saja, kau menyukainya kan?

Heh, siapa kau? Aku tercekat dengan sebuah suara lain di sudut hatiku yang tiba-tiba menyadarkanku.

Jangan mengelak. Kau menyukainya. Akui. Sejak dahulu kau bertarung dengannya, kau telah tertarik padanya.

Bodoh, kenapa aku harus tertarik dengan pria dengan sakit mental sepertinya? Aku bisa mendapatkan banyak pria tampan yang lebih baik darinya.

Tapi kau juga tahu, tak ada yang benar-benar mengetahui dirimu selain dirinya. Pria itu tahu semua tentangmu, dan kau juga tahu itu, Tifa. Ia adalah pria yang paling mengetahui setiap gejolak-gejolak di hatimu.

Saat itu aku terdiam. Telunjuk tangan kanannya menyusuri tiap inci wajahku – kening, tulang pipi, hingga rahang bawah dan tiap sentuhannya membuatku merinding dengan sensasi yang tiba-tiba menyebar di tubuhku. Jempolnya mengelus bibir bawahku, sementara matanya terpaku memandang wajahku. "Kau selalu membuatku panas, neko-chan..."

Dia pikir aku semacam api atau oven, begitu?

Belum sempat aku selesai dengan pikiranku, ia mengangkat daguku pelan, dan sebuah kecupan basah mendarat di bibirku. Tubuhku membeku dan jantungku serasa berhenti berdetak sepersekian sekon. Bisa kurasakan lidahnya menyusuri bibir atas dan bawahku, namun semuanya seperti bukan sentuhan bibir Hisoka. Kecupan itu begitu lembut, memabukkan, dan membuatku terdiam, tidak memaksa dan tidak liar seperti bayanganku.

Ia mencuri ciuman pertamaku.

~oOo~


Repiu dong minna, butuh semangat nih. Pasti saya jawab kok.

Ohya, no flame. Kritik jangan pedes, saran selalu saya terima.

~Lazuardi-Loo~