Terimakasih buat yang udah review dan baca chapt sebelumnya, karna ga nyangka aja ada yang mau baca -_,-
High heels
Kaihun
Humor/Romance
Warning for easily plot, yaoi, Typo(s), etc.
.
.
.
"Hey! Siapa yeoja norak itu? Berani beraninya ia melempari Jongin-ku dengan high heels noraknya!"
"Anak baru, ya? Wajahnya tidak ku kenal."
"Bukankah ada larangan untuk tidak menggunakan sepatu tinggi?"
"Kalau begitu, ayo kita beri pelajaran pada anak itu!"
.
.
"YAK!" Tanpa diberi aba aba, kaki jenjang Sehun bergerak sangat cepat. Entah tempat apa yang menjadi tujuannya, yang pasti menghindari penggemar gila Jongin. Ia semakin takut, mengingat berita tentang sasaeng fans yang mencelakai idolanya yang baru saja ia tonton minggu lalu. Ia memang bukan idola mereka, tapi ini jauh lebih buruk―menyakiti idola mereka. Oh ya, ia sempat berpikir sebelumnya, apakah terkena lemparan sebuah heels setinggi 10 cm itu sangat menyakitkan? Namun ia segera mendapakan jawabannya ketika melihat perubahan raut wajah Jongin dan tentu saja juga penggemarnya.
Sehun dapat melihat sebuah tikungan ke arah kanan dari tempatnya ia berlari. Ia segera mempercepat langkahnya, tak peduli dengan kaki kirinya yang sepertinya sudah memerah akibat gesekan, dan ia yakin sebentar lagi kaki kirinya akan lecet. Ugh, melihatnya berlari saja sudah seperti melihat orang pincang berlari.
Sehun berhasil menikung. Ia segera menoleh ke belakang, memastikan apakah penggemar gila Jongin masih mengejarnya atau terkecoh. Dan ia mendapati belakangnya yang terlihat kosong dan damai. Tetapi tentu saja ia masih berlari, namun ia sedikit memperlambat langkahnya hingga...
Bruk!
"Aih!" Dan Sehun terjatuh dengan posisi yang sangat tidak elit. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap tidak ada orang di sekitarnya, sebelum pada akhirnya ia meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan kaki kirinya yang terkilir.
Sehun terlalu sibuk mengurusi kakinya, sampai ia tak menyadari akan kehadiran seseorang tepat di belakangnya.
"YAK, TEMAN TEMAN! ORANGNYA ADA DI SINI!"
Mata Sehun membulat sempurna, melebihi bulatnya mata Kyungsoo, sunbae-nya. Ia langsung menoleh ke belakang, dan mendapati pemandangan yang sangat buruk―penggemar gila Jongin, namun kali ini lebih banyak dari yang sebelumnya dan itu semakin memperburuk keadaan.
"Cepat beri dia pelajaran, Krystal!" Tuntut sebuah suara yang Sehun yakini dialah yang berteriak paling pertama saat ia melempar high heels nya tepat di kepala Jongin.
Seorang yeoja berambut merah dengan senyum mengerikannya melangkah mendekati Sehun. Pada saat itulah Sehun benar benar tidak mengerti, mengapa takdir memilihnya sebagai orang yang paling sial. Yeoja berambut merah yang sehun tebak bernama Krystal itu membungkuk, masih dengan tatapannya. Tangannya perlahan menyentuh dagu lancip Sehun, dan setelahnya Sehun tidak tahu, karena ia terlanjur pasrah.
"Hey! Berhenti!" tiba tiba terdengar sebuah perintah yang membuat Krystal menghentikan pergerakannya. Yeoja itu menoleh dengan kasar, tentu saja ia tak suka kegiatannya di ganggu begitu saja.
Orang yang menyelamatkan Sehun itu langsung menarik pergelangan tangan Sehun, dan membawanya menjauh dari yeoja yeoja sinting itu, tanpa menghiraukan cara berjalan Sehun yang sudah seperti orang pincang. Ok, lebih tepatnya, ia membawa Sehun ke rooftop sekolah, dan lagi lagi tanpa menghiraukan Sehun yang kesulitan mengikutinya menaiki tangga.
"Kau tak apa?" Orang itu berjongkok di depan Sehun, mensejajarkan posisinya dengan posisi Sehun yang sedang berselonjor membiarkan kakinya yang sudah lecet.
Sehun terdiam sebagai jawaban. Ia tak mau orang itu mendengar suaranya.
"Aku Sulli. Apa kau anak baru? Siapa namamu?" Sulli―orang itu mengernyitkan dahinya karena tak mendapatkan jawaban. Namun seketika kedua sudut bibirnya terangkat, "jangan takut, aku bukan penggemar Jongin."
Sehun hendak berkata kata. Ia ingin sekali meminta bantuan, tapi, apakah yeoja yang berada di hadapannya ini orang yang tepat? Sial sekali handphone nya tertinggal di saku kemeja seragam aslinya. Namun ia tahu, tidak ada pilihan lain.
Sehun menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menyamarkan suaranya, "Sulli-ssi, aku tahu kau orang baik." Sulli mengangkat kedua alisnya tak mengerti, "bisa kah kau rahasiakan ini?"
Sehun mendekatkan wajahnya ke telinga Sulli, hendak membisikkan sesuatu. Ia meminta tolong untuk mengambilkan tas Sehun yang berada di mejanya. Pada awalnya, Sulli tidak mau, dengan alasan itu tidak sopan. Namun Sehun berkata bahwa ia akan bertanggung jawab dan menjelaskan semuanya. Dan pada akhirnya Sulli mengangguk setuju dan meninggalkan Sehun di rooftop sendiri.
.
.
.
Tak lebih dari lima menit Sehun menunggu, Sulli sudah kembali menampakkan batang hidungnya. Melihat itu, Sehun tersenyum lega dan mengambil tas hitam miliknya.
"Sulli-ssi, bisakah kau berbalik? Sampai aku bilang sudah, baru kau boleh kembali seperti semula." Sulli hanya mengangguk, lalu memutar badannya membelakangi Sehun.
Dengan gerakan cepat, Sehun melepas wig milik nuna baekhyun dari kepalanya dengan sedikit mendesah karena kesakitan, namun untungnya Sulli tak mendengarnya. Setelahnya, Sehun membersihkan wajahnya dengan tissue yang ia basahi dengan air minum yang ia bawa. Dan terakhir, ia melepas kemeja seragam yeojanya dan memakai celananya terlebih dahulu sebelum melepas roknya―tentu saja.
Tanpa sabaran, ia merogoh saku kemejanya yang belum ia kenakan mencari handphonenya, berniat untuk menyuruh Baekhyun membawakan sepatunya yang sengaja ia taruh di tas Baekhyun karena tidak mau mengambil resiko tasnya akan kotor.
"Ck, sampai kau memperlihatkan cengiran bodohmu, akan kucekik kau pada saat itu juga!"
Sulli yang sedari tadi terdiam menunggu Sehun kini melotot kaget. Ia segera membalikkan badannya dan tiba tiba saja wajahnya memerah ketika mendapati Sehun yang half naked.
Sehun yang menyadari tingkah laku Sulli langsung menggunakan kemejanya dan memasang kancingnya sangat berantakan.
"S – Sehun? i-i-itu b-benar kau?" Tanya Sulli gelagapan.
"Aku bisa jelaskan." Namun Sulli masih terlihat kaget.
"Kau tahu Baekhyun? Dialah yang membuat sebuah tantangan ini. Tantangan menjadi fans-berat-Jongin," jelas Sehun yang sebenarnya juga panik, ia takut Sulli menuduhnya namja yang bukan bukan.
"A―"
"Kuharap kau bisa menjaga rahasia ini. Aku masih ada perlu dengan Baekhyun. Terimakasih, Sulli-ah." Sehun segera membalikkan badannya hendak meninggalkan Sulli yang masih ternganga cukup lama, namun tiba tiba sebuah tarikan membuat langkah Sehun terhenti.
"B-boleh aku meminta nomor ponselmu?"
Sehun tampak berpikir, lalu ia mengangkat sebelah sudut bibirnya, "berikan saja nomormu, nanti kuhubungi jika ada waktu."
.
.
.
Sehun mempercepat langkahnya, mencari ruangan bertuliskan 11-1. Sesekali ia melirik jam tangannya, jam pelajaran pertama sebentar lagi habis, batinnya.
Namun ada satu hal terpenting yang ―hampir saja terlupakan. Ia lupa mengambil sepatu. Tanpa berpikir panjang, Sehun segera mengirim pesan singkat kepada Baekhyun untuk menemuinya di toilet lantai tiga seusai pelajaran pertama.
Dan pada waktu yang bersamaan, bel jam pelajaran pertama telah selesai dibunyikan. Sehun dapat melihat Baekhyun yang keluar dari kelasnya beberapa detik setelah bel dibunyikan, sambil menenteng tasnya.
"Baekhyun!" yang merasa terpanggilpun menoleh, mencari sumber suara. Dan saat melihat wajah Sehun, ia langsung berdecak kesal.
"Kau bilang di toilet," ucap Baekhyun sambil mengeluarkan sepatu Sehun dari tasnya.
"Tak ada waktu lagi." Sehun langsung mengenakan sepatunya, lalu menghentak hentakkannya karena merasa nyaman, "sudahlah, ayo kekelas, sebelum Kang sonsaengnim datang."
Sehun berjalan melewati Baekhyun yang masih melongo. Namun secepat kilat, Baekhyun menarik kedua sudut bibirnya, menampakkan senyum bodohnya.
"Kukira dia akan marah marah."
.
.
.
Sehun menekuk wajahnya ketika ia melihat pesan masuk dari eomma. Apa apaan ini? menyuruhnya ke supermarket sepulang sekolah hanya untuk membeli... kecap? Mengapa tidak di mini market? Oh ya Sehun baru ingat, dua mini market yang berdekatan dengan rumahnya sedang ada perbaikan. Di waktu yang bersamaan. Ugh, mengapa harinya sial sekali!
Sehun berjalan menyusuri trotoar sambil menunduk. Jarak dari sekolah ke supermarket tidak terlalu jauh, hanya memerlukan waktu 15 menit kalau berjalan kaki. Jadi ia lebih memilih tidak naik bus apalagi taksi agar uang jajannya tidak terkuras habis karena sudah diberi tanggung jawab untuk membeli kecap -_-
Ia menghentikan langkahnya, mengingat sesuatu yang hampir terlupakan. Traktiran Bubble tea. Sehun mendengus kesal, lalu melanjutkan langkahnya. Ia benar benar merutuki dirinya sendiri yang gampang sekali lupa. Pantas saja nilai sejarahnya tak pernah mendapatkan A. Yeah, Sehun lebih sering mendapatkan nilai A di mata pelajaran matematika.
Sehun melirik jam tangannya. Dan matanya hampir saja keluar karena baru menyadari hari sudah semakin sore. Tanpa ba bi bu lagi Sehun berlari secepat mungkin tanpa memedulikan kakinya yang pincang.
.
.
.
Sehun memperlambat langkahnya, pintu masuk otomatis terbuka saat ia melewatinya. Hal pertama yang dapat ia rasakan adalah hembusan AC yang menerpa dirinya secara tiba tiba. Ia semakin memperlambat langkahnya hanya untuk berlama lama di bawah pendingin ruangan itu. namun lagi lagi ia teringat satu hal yang membuatnya tiba tiba kembali mempercepat langkahnya. Matanya fokus pada satu tujuan, yaitu tempat berdiamnya kecap kecap yang bersebelahan dengan saos saos. Tapi saos bukanlah tujuannya.
Bruk!
Sehun dapat merasakan dirinya terjatuh, namun ia tak merasakan sakit pada bagian tubuhnya. Yeah terkecuali pergelangan kakinya yang semakin terasa sakit. Ugh, ini sudah terhitung keberapa kalinya ia terjatuh? ia segera mengangkat wajahnya, melihat orang sial mana yang ia tabrak. Dan pada saat itulah orang yang berada di depannya juga mengangkat wajahnya.
Tik tok tik tok
"Menyingkirlah." Suara bass pemuda yang berada di bawah Sehun terdengar sangat tidak bersahabat di telinga Sehun. dan suara itu sukses membuat Sehun tersadar.
Jongin.
"M-maaf" Dengan cepat Sehun segera berdiri menyadari posisinya tadi terbilang cukup intim. Ditambah lagi orang yang ia tabrak tak lain adalah Jongin, orang yang sangat Sehun hindari, mengingat kejadian tadi pagi.
Wajah Sehun semakin gelisah, ketika Jongin ikut berdiri, lalu mengibas ngibaskan bajunya, dan kembali menatap Sehun datar. Dalam hati ia menjerit jerit meminta permohonan kepada tuhan agar Jongin tidak mengenali wajahnya.
Takut tuhan tidak mendengar permohonannya, Sehun segera berbalik berniat untuk mengalihkan pandangan Jongin, kalau saja Jongin benar benar mengingat wajahnya. Saat Sehun hendak melangkah, sebuah sentuhan mengunci sempurna pergerakannya. Keringat di pelipisnya semakin bercucuran, melebihi keringat yang ia keluarkan saat ia berlari.
.
.
.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
.
.
.
tbc
.
.
.
a/n: akhirnya selesai juga chapt 1 ini -_- walaupun pada akhirnya berantakan juga. Maaf.
Mohon review nya terutama saran dan kritik. Hehe.
Oh ya terimakasih buat yang review yang kemaren...
Hwang Yumi | SehunBubbleTea1294 | kahunxo | KaiHun maknae | UnicornTry | DiraLeeXiOh | DarKid Yehet | Mr. Jongin albino | | Psycho-Xoxo | daddykaimommysehun | ixolucky | chuapExo31 | askasufa | sayakanoicinoe | yehetmania | .9809 | gwansim84
... dan semua yang menyempatkan dirinya untuk membaca ff ini.
Terima kasih!
