Disclaimer: Hunter x Hunter bukan punya saya, tapi Tifa dan sebagian besar alur cerita ini adalah punya saya
Warning: Alur Kecepetan, ujian Hunter didasarkan pada versi HXH 2011
.
.
.
Ujian tahap ketiga dimulai. Kami diturunkan disebuah tower tinggi dan goal kami adalah mencapai dasar. Aku bisa saja menjatuhkan diri dan menggunakan nen untuk memelankan kecepatan saat mencapai tanah, tapi bagaimana yang lain? Kupandang Leorio, Killua, Kurapika, dan Gon. Mereka celingukan, mencari cara untuk turun. Aku memang belum bisa sangat menyatu dan membuka diri dengan mereka. Aku hanya takut tidak dengan penolakan mereka, terutama dengan sikap Killua yang tampaknya masih waspada, dan terkadang pandangan Kurapika yang seolah-olah ingin mengetahui kedok dibalik wajah tololku. Leorio pun demikian. Hanya Gon yang tampaknya tak berubah, bahkan setelah mendengar pengakuanku bahwa aku adalah seorang pembunuh.
"Tifa-Nee! Kenapa melamun disituu?!" Gon melambaikan tangannya padaku, mengajakku untuk mendekatinya. Aku berjalan mendekat.
"Kau punya ide bagaimana kami bisa turun?" tanya Leorio dengan wajah serius.
Aku menggeleng. Kami menyebar. Saat itu aku memandang peserta yang kini tinggal setengahnya di atas tower itu. Berarti, batu dimana tempat kami berpijak memiliki beberapa pintu masuk yang tersembunyi. Aku tersenyum mengerti. Tiba-tiba saat aku berlari...
"Gooon a – !"
Tubuhku jatuh terjerembab pada sebuah lantai keras dengan posisi terduduk. Aku memandang langit-langit. Sepertinya saat aku akan berlari pada Gon, aku menginjak pintu masuk dari lantai atas. Aku beranjak berdiri, melihat sekitar.
"Tak kusangka, neko-chan akan datang padaku untuk satu tim denganku~"
Aku merasa sebuah batu seberat satu ton menghantam kepalaku. Aku memutar kepalaku ke sumber suara, dan sesosok pria dengan make up ala joker tampak duduk dengan satu lutut tertekuk dan tangannya tertumpu pada lutut tersebut. Aku kehilangan kata-kata. Semenjak insiden semalam, sejujurnya aku benar-benar malu untuk bertemu dengannya. Sampai saat ini aku bahkan masih gugup. Sejuta pertanyaan muncul dikepalaku mengenai sikapnya semalam.
Tifa, ingat, dia seorang psikopat, kataku pada diriku sendiri. Kulihat ia beranjak berdiri, dan berjalan mendekat padaku.
"Sebaiknya kau baca dulu itu, neko-chan~," tangannya menunjuk pada sebuah tulisan di dinding. Mataku tertuju pada arah yang ia tunjukkan.
PERMAINAN DUA NYAWA. KEDUA KONTESTAN HARUS TETAP HIDUP SAAT BERTARUNG, SEBAB JIKA MATI, MAKA YANG HIDUP PUN DIANGGAP KALAH. KERJASAMA TIM DIBUTUHKAN DALAM PERMAINAN INI.
Dua buah jam yang saling terletak di dekatnya, dengan angka 72 jam dan mengihitung mundur. Gigiku bergemeretuk, mengingat bahwa kerjasamaku dengan seorang psikopat adalah ide terburuk. Kami pun mengenakan kedua jam tersebut, lalu berjalan menuju sebuah pintu besi.
"Hnn~, neko-chan, tidakkah kau berpikir kita seperti sepasang kekasih yang sedang mempertaruhkan nyawa untuk tetap bersama?" katanya dengan senyum lebar dan tampak excited.
Hisoka, suatu saat aku harus membunuhmu.
~oOo~
Normal POV
Tifa tak habis-habisnya meruntuk di tengah jalan. Keduanya melewati beberapa pintu, memijit O atau X. Lawan-lawan mereka sebagian besar adalah narapidana, dan bagi mereka, keduanya bukanlah hal sulit. Hanya saja, bisa dikatakan Tifa cuma berdiam diri dan menonton pertandingan Hisoka, sementara ia ongkang-ongkang kaki. Hampir 25 narapidana berhasil Hisoka bunuh hanya dengan melempar kartu, sementara Tifa menyanyi-nyanyi tidak jelas.
"Neko-chan," Hisoka berdiri di hadapannya saat Tifa asik duduk. "Jujur saja, aku muak kalau begini~kenapa kau diam saja dan menonton. Ini seharusnya menjadi kerja sama kita berdua~"
"Kau bisa menyelesaikan semuanya sendiri, jadi kenapa aku harus membantumu?"
Hisoka memandang Tifa dingin. Aura buruknya kembali memancar, tapi Tifa tak peduli. Tanpa dipaksa, aura ten miliknya selalu siap tanpa dipicu.
"Kubilang, bantu aku~" ucapnya dengan suara dingin, dan Tifa tertawa kecil. Ia berdiri dari sebuah kursi, lalu mengangguk.
"Beginikah kau memperlakukan wanita, ne~Hisoka? Ck," Tifa menggeleng, berkacak pinggang. "Begini saja, untuk selanjutnya, biar aku yang bekerja dan kau impas."
Sesaat keduanya hening sementara Hisoka melipat tangannya ke dada dan Tifa mendongak padanya dengan wajah manis, meski hatinya saat itu merasa bersalah. Ia berada dalam dilema, karena ia sebenarnya tidak ingin membunuh lagi, sementara baginya, saat ia melawan orang, dipastikan lawannya mati, atau jika tidak, koma beberapa bulan. Ia susah mengendalikan dirinya saat ia sudah melihat darah.
Sebuah senyum jahat tersungging dari bibir Hisoka, "baiklah, neko-chaan!"
Diam-diam, Tifa menghela nafas suntuk.
Pintu selanjutnya terbuka. Hisoka tersenyum kecil saat sosok bertubuh kecil berjalan lebih dulu dihadapannya. Ia sudah tidak sabar melihat aksi kucing kesayangannya kembali bertarung, meski tampaknya pertarungan ini akan jadi pembantaian sepihak. Hisoka – sejak dulu, selalu tergila-gila dengan bagaimana Tifa bertarung mengalahkan lawan mereka. Lawan gadis itu selalu berakhir dengan tubuh terpotong, kehabisan darah, atau termutilasi, dan baginya, pemandangan itu begitu indah untuk disaksikan.
Kali ini hanya 10 narapidana yang menghadapi Tifa, tapi mereka semua sebelumnya adalah mantan pembunuh, pemerkosa, dan kriminal kelas kakap.
"Saa, neko-chan~hibur aku," ucap Hisoka sembari menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Pinjam satu kartumu," Tifa menengadahkan tangan kanannya. Hisoka mengangkat alisnya. Tifa menoleh padanya.
"Untuk apa?" tanyanya berpura-pura bodoh.
"Untuk berjaga-jaga saja," Tifa memandangnya dengan aura menakutkan. Bukannya takut, pria berambut Merah itu memandang Tifa dengan penuh nafsu, dan memberikan sebuah kartu joker kesukaannya.
"Terima kasih."
Selanjutnya, tubuh Tifa tampak bergerak bagai kilat. Yangterdengar hanya sebuah suara para narapidana yang kesakitan dan pukulan bertubi-tubi yang membuat mereka tak sadar. Tifa – bagaimanapun – tidak mau lagi membunuh orang. Jika ada cara yang lebih baik dari membunuh, maka ia akan melakukannya. Dan tak kurang dari 5 menit, tubuh-tubuh itu kini tak sadar, sementara sosok Tifa tampak menjulang di antara mereka.
Diantara tubuh-tubuh terluka yang bergelimpangan tak sadar tersebut, Tifa melipat tangannya ke dada, berpikir sejenak. Ia pun kemudian berjalan menghampiri Hisoka yang kini menjilat bibirnya dengan penuh nafsu. Seketika Tifa langsung horror.
"Hisoka, aku masih gadis, jadi tolong jangan telanjangi aku dengan pandanganmu," ucap Tifa, merasa tak enak mengingat sorot mata sang joker tampak begitu bernafsu padanya, diikuti seringai sadis khas Hisoka yang membuat Tifa mengangkat sebelah alis.
"Tifa~kau sungguh membuatku bernafsu~"
Kedua kalinya, Tifa merasa ada sesuatu yang menghantam kepalanya.
Pintu besi selanjutnya kembali terbuka. Ruangan itu remang-remang, dengan seorang pria yang memiliki luka di wajahnya tampak beranjak berdiri saat kami datang. Saat itu, sejumlah lilin menyala dengan otomatisdia dua sisi ruangan tersebut. Tifa memandang pria bertubuh kekar dan berkulit gelap itu, kemudian tersenyum.
"Tahun ini aku bukan penguji," ucapnya sembari. "Dan aku akan menuntut balas dendam atas luka ini..."
Saat itu Tifa dan Hisoka melihat jelas wajahnya.
"...Hisoka..."
"Nah, Hisoka. Sepertinya dia lawanmu, jadi sebaiknya aku akan menunggumu bertarung dengannya," Tifa berjalan menuju salah satu sisi dan menyandar di dinding. Ia menatap Tifa dengan wajah dinginnya, merasa sedikit kesal.
"...bunuh dia..."
Tifa mendongak padanya, "tidak. Dia menuntut balas padamu. Jadi ini bukan urusanku."
"Aku sudah membunuh semua lawanku dan kau baru membunuh 10 orang di tahap akhir, kita belum impas..." katanya, dengan aura yang lebih dingin dari sebelumnya.
"Stop bicara dengan diri kalian sendiri, dan lawan aku, Hisoka! Kau bertanggung jawab atas luka ini!" ucapnya menyela pembicaraan kami.
"Hmm~ jadi kau menyalahkan aku atas luka-lukamu, padahal itu kesalahanmu karena kau tidak kuat," Hisoka tersenyum freak seperti biasanya. "Maaf, tapi lawanmu adalah kucing ini.." ia menunjuk Tifa, dan Tifa melotot sejadi-jadinya.
"K-kau..." pria itu memandang Tifa dengan emosi.
"Tidak, tidak!" Tifa mengibaskan tangannya. "Aku hanya satu team dengannya, itupun secara tidak sengaja. Kau bebas melakukan apapun padanya! Aku pribadi pun ingin membunuhnya, kalau boleh jujur!"
Hisoka terkesiap saat mendengar kalimat terakhir tadi. Sebuah sunggingan terbentuk, "Kalau aku mati, kau pun kalah, neko-chan~, itu peraturannya."
"Duh, Hisoka. Dia seorang hunter, dan sebagian besar hunter itu orang baik, jadi aku tidak mau melawan orang baik. Ini urusanmu, pastikan kau tidak mati, joker-san," Tifa mengangkat bahu.
Saat itu tanpa disadari Hisoka, dua buah pisau melengkung melayang, dan langsung menyerang ke arah Hisoka. Tubuh pria itu dengan mudahnya menghindar, namun kedua pisau itu berbalik, dan kulihat sang joker tampak sedikit kesal dengan serangan tersebut. Pada lemparan pisau yang ketiga, Hisoka tersudut dan mendapat sedikit luka di bahu dan pinggangnya, namun ia tampak tak peduli. Tifa duduk bersila, sekali-kali menunduk saat pisau itu melayang ke arah kepalanya. Namun hingga ketika pisau itu menyenggol tangan kiri Tifa, urat emosi muncul di pelipis Tifa. Ia bangkit dari duduknya, memutar kedua telapak tangannya degan cepat saat kedua pisau itu melayang ke arahnya, dan tak ayal, dua pisau itu kehilangan gaya sentrifugalnya dan terlempar ke dinding.
Hisoka menoleh ke arah Tifa, cukup kaget. Tifa yang seolah paham pandangan Hisoka berjalan ke arahnya, "ia melukaiku."
Hisoka tersenyum saat ia melirik ke lengan kiri Tifa. Pria dengan luka wajah tersebut kaget melihat kedua pisaunya terlempar ke dinding, dan melempar kedua pisau ditangannya lagi ke arah Tifa dan Hisoka. Saat itu keduanya tak bisa menghindar, dan Hisoka menangkap pisau itu dengan mudahnya.
"Kuakui, pisaumu memang sulit dihindari, jadi sebaiknya kutangkap saja..." Hisoka berjalan mendekat ke arah pria tersebut, dengan sebuah aura membunuh mulai terasa dari sosok tinggi tersebut, "sebagai imbalannya, akan kuberi kau hadiah atas usaha sia-siamu..."
Tifa berbalik menjauh, sudah menduga tentang apa yang akan terjadi. Terdengar suara benda jatuh ke lantai dengan suara cipratan liquid yang bisa Tifa yakini adalah darah. Sebuah pintu besi selanjutnya terbuka, dan pintu besi itu adalah pintu yang menandai usainya ujian tahap tiga mereka.
"Neko-chan~" panggilnya pada Tifa saat keduanya berjalan menuju raung tunggu yang masih sepi itu. Sial, penguji mengatakan bahwa mereka hanya menghabiskan waktu enam jam lewat beberapa menit saja! Tifa berharap saat itu ada orang lain yang bisa segera sampai disitu sehingga ia tidak harus menunggu dalam keheningan yang aneh dengan psikopat tersebut.
"Neko-chan~" panggilnya lagi. Tifa menoleh, "apa?"
"Aku yakin kau bisa membunuh pria tadi hanya denga memotong kepalanya dengan kartu yang kuberikan tadi~" ia memandangku bingung, "mengapa kau tak melakukannya?"
"Alasannya satu: aku membiarkanmu memenuhi kepuasanmu untuk melakukan hal tadi padanya."
"Itu aneh~," ia melipat tangannya ke dada, "bukankah kau juga memiliki karakter sepertiku yang menikmati setiap momen saat melihat orang berdarah atau terbunuh dengan babak belur~?"
"Kau pikir aku menghilang limabelas tahun dari dunia ini bukan tanpa sebab?" Tifa mengerling. "Aku memang pembunuh, tapi tidak punya penyakit mental seperti kau."
Hisoka memandangnya bingung, dan wajah polos itu membuat Tifa tersenyum dalam hati.
Tifa berjalan kearah berlawanan dari posisi dimana Hisoka berada. Ia duduk di lantai, dan baru saja akan bermeditasi, saat suara Hisoka kembali menganggunya.
"Kau dingin sekali, neko-chan~setelah semalam aku menciummu dan tidur bersamamu, bahkan satu tim dalam ujian ini, kau bahkan masih tidak mau duduk di sebelahku..."ucapnya sembari tersenyum, memainkan satu deck kartunya, dan seketika vena pelipis Tifa mengeras menahan kesal. Jujur, perkataannya membuat Tifa kembali mengingat momen semalam saat ia mencuri ciuman pertama Tifa. Duh, kenapa dia harus mengangkat topik itu lagi sih? Tifa berusaha tetap tenang, menarik nafas dalam-dalam, kembali dalam posisi meditasinya, sebelum emosi kembali menguasainya dan membuatnya bisa jadi membunuh Hisoka saat ini.
Meskipun Hisoka pantas dibunuh, ada sisi lain di hatinya yang mengatakan kalau ia tak boleh melakukan itu...
Maka ia sebaiknya mengendalikan diri.
Setelah beberapa jam menunggu, sebuah pintu besi kembali terbuka. Seorang pria berbaju hijau dengan berbagai paku ditubuhnya keluar. Menurut yang Tifa dengar dari speaker, namanya Gittarackur. Hisoka menyapa Gittarackur dengan dua jari terangkat saat ia membangun rumah kartunya. Tifa sweatdropped. Sejak pertama ia melihat pria tersebut, sejujurnya ia heran. Apa Hisoka memang berteman dengannya? Yah, orang aneh pasti berteman dengan orang aneh kan? Permasalahannya adalah, apakah Gittarackur adalah seorang manusia, sebab penampilannya tak tampak demikian.
"Kami baru saja menikmati game dalam satu tim~" ia mengerling pada Tifa dan mengedipkan sebelah matanya. Tifa yang memandang ia dengan satu mata terbuka, kali ini hanya bisa diam.
"Dan ia masih selalu menarik perhatianku seperti biasanya~"
Gittarackur memandang Tifa, "sejujurnya aku tak peduli."
Ha, ia bicara! Tifa tersentak dalam meditasinya. Disamping itu, suaranya juga bagus!
Ia memandang Tifa dan berjalan ke arah Tifa. Tifa membuka matanya.
"Kuperingatkan kau, jangan pernah mencoba berteman dengan Killua," ucapnya dengan nada mengancam. Tifa tertawa kecil.
"Siapa kau, berani mengancamku? Tapi tenang, aku tak tahu apapun soal dirinya kecuali namanya," Tifa kembali memejamkan matanya. Meski di hatinya, ia cukup penasaran kenapa pria aneh ini memberinya peringatan. Memang dia siapanya Killua?
"Bagus, sebab akan jadi masalah jika aku harus melawanmu, karena Hisoka pun bahkan kalah melawanmu," ucapnya.
Vena di pelipis Tifa kembali mengeras, "Hisoka, apa yang kau ceritakan padanya tentangku?"
Gittarackur menoleh pada Hisoka. Hisoka tak meladeni pertanyaan Tifa, meletakkan dua kartu terakhir di puncak rumah kartunya. Tifa merasa kesal. Sebuah aura panas ia lemparkan dengan jarinya ke arah rumah kartu Hisoka, dan seketika, kertas itu jadi debu. Hisoka tersentak memandang Tifa dengan pandangan datar, dan Tifa hanya menyunggingkan senyuman jahil.
"Selanjutnya matamu, jika kau bicara lebih jauh tentangku pada orang lain..." ucapnya dengan nada tenang namun mengancam.
"Ia memang menarik," ucap Gittarackur, berjalan menjauh dari Tifa.
"Benar kan~?" Hisoka tersenyum lebar.
Kalian berdua, Tifa menggeretukkan giginya dengan kesal. Ia tak bisa lagi menahannya. Demi apapun, ia harus melepaskan emosinya.
"AAAAAAAAAAAARGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHH!"
Gitarackkur dan Hisoka menutup telinganya sembari memandang gadis berambut indigo itu dengan wajah bingung.
Tifa menghela nafas panjang. Begitulah. Setidaknya melampiaskan emosi dengan berteriak lebih baik daripada harus membunuh keduanya.
~oOo~
Tifa POV
Sebuah pintu besi terbuka di waktu-waktu akhir saat aku melihat Gon, Kurapika dan Killua keluar dengan penuh debu pada tubuhnya. Apa yang terjadi dengan mereka.
"Tifa-nee!" Gon berlari dan memelukku hingga aku terdorong kebelakang, sementara aku hanya tersenyum, mengelus kepalanya. "Aku tahu Tifa-nee pasti bisa melakukannya! Berapa waktu yang Tifa-nee butuhkan untuk sampai sini?"
"Enam jam lebih beberapa menit, kalau tidak salah," ucapku.
"Enam jam?" ia membelalakkan matanya. "Aku tahu bahwa Tifa-nee memang hebat! Aku senang sekali Tifa-nee!"
Mau tak mau aku tertawa kecil. Kedatangan Tonpa dan Leorio mengakhiri ujian tahap tiga ini.
~oOo~
Pulau Zevil. Sebuah pulau yang menjadi ujian tahap ke empat kami. Setelah mengambil nomor target yang plate-nya harus kami ambil, kami berangkat menuju pulau tersebut dengan pulau. Sepanjang perjalanan menuju pulau tersebut, kulihat Gon tampaknya agak berbeda. Aku duduk disebelahnya, membatulkan kemeja yang kuikatkan ke pinggangku, lalu memandangnya.
"Ada apa Gon? Kulihat kau sedikit aneh setelah mengambil undian tadi?" aku memandangnya dengan perhatian. Memang aku baru mengenalnya beberapa minggu, tapi sejujurnya, aku benar-benar peduli padanya. Mencari orang sebaik dan sepolos dirinya sangatlah sulit dizaman ini, maka ketulusan hati seorang Gon dimataku begitu tampak berkilau, terutama untuk seorang anak yang hidup di kota Meteor dan mengalami hidup keras sepertiku.
"Tifa-neesan," panggilnya dengan wajah muram. Aku memandangnya, ingin tahu. "Aku hanya berusaha menenangkan diri."
Saat itu Killua datang dan duduk disebelah kirinya. Ia masih tampak memendam kecurigaan padaku, tapi berusaha tetap cuek dibalik sikap waspadanya, ikut memandang Gon. "Kau kenapa Gon?"
"Kau tampaknya jadi begini setelah mengambil nomor undian tadi," kataku, mengambil sebuah permen lolipop dari sakuku, lalu mengemutnya. Semenjak dari zepeline, aku melihat beberapa permen loli, dan aku sengaja mengambil semuanya. Itu persediaan, terutama untuk seperti ini.
"Apa ini ada kaitannya dengan pengambilan nomor undian tadi? Siapa targetmu?" tanya Killua lagi.
"Tenang saja, targetku bukan kau. Bagaimana denganmu?"
"Rahasia," Killua mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Keduanya terdiam sejenak dan tiba-tiba keduanya tertawa. "EHEEE!"
Aku memandang mereka dengan tatapan aneh.
"Bagaimana kalau kita menunjukkan nomor target masing-masing?"
Keduanya saling menghitung, dan menunjukkan nomor target mereka. Aku tercengang melihat nomor yang diambil Gon. Nomor 44, nomor Hisoka. Killua mengeluarkan nomor 199. Killua pun tak kalah kaget.
"Gon, kau kurang beruntung..."
Kulihat Gon hanya tertawa kecil.
"Dan kau tahu siapa targetmu?" tanya Gon pada Killua.
"Tentu saja tidak, buat apa aku repot-repot menghafalkan nomor ID mereka. Saat aku baru mau melihat ID mereka, semuanya telah menyembunyikan nomor ID mereka, kecuali si nona super pede di sebelah sana," ia menunjukku.
"Haha, yah, aku hanya lupa Kil, bukan pede atau apa..." aku menggaruk-garuk kepalaku. Saat aku mendapat nomor 21, aku pun tidak langsung melihat nomor-nomor orang di sekitar. Entah kenapa, aku hanya tak begitu penasaran. Jalani saja. Toh, kalau nanti
"Bagaimana kalau targetmu adalah Hisoka?"
"Aku tinggal membunuhnya!" aku tertawa kecil, lalu tersadar dengan ucapanku. Aku menutup mulutku, merasa tak enak dengan keduanya. "Maaf..."
Killua memandangku, "seperti yang kuduga, kau memang lebih kuat dari yang kuduga, meski wajahmu seringkali tampak bodoh."
Killluaaaaa, aku akan berusaha menahan, Kil...aku masih menahan...
Kulihat Gon tertawa melihat ekspresiku yang kesal setelah mendapat ejekan tanpa basa-basi dari seorang anak berusia 12 tahun. Dibalik tawanya, ada kekhawatiran dan semangat yang menyatu. Kekhawatiranku memuncak. Semenjak kami mengikuti ujian hunter, aku tahu Hisoka telah menaruh ketertarikan pada Gon. Meski aku tahu ia tak akan membunuhnya saat ini – seperti yang selalu aku tahu darinya bahwa ia selalu ingin membunuh target yang kuat, tetap saja aku khawatir Gon bisa menjadi sasaran. Aku menghela nafas. Aku benar-benar kasihan padanya. Mungkin sepanjang ujian selama seminggu ini, aku harus berada didekatnya. Tanpa sepengetahuannya.
Perjalanan dua jam itu terasa begitu tegang. Aku turun bersamaan dengan Hisoka, meski aku tak langsung masuk ke dalam hutan rimbun demi menunggu Gon. Sosok Hisoka telah masuk ke dalam hutan, sementara aku sendiri menunggu dibalik sebuah pohon besar, menunggu sosok anak laki-laki berbaju hijau masuk dan melewati pohon dimana tempatku bersembunyi.
Nah itu dia. Aku meloncat ke atas pohon, mengikutinya. Kulihat ia menaiki pohon, bersantai sejenak. Mungkin berpikir. Aku tersenyum. Sementara ia berpikir, sepertinya aku juga harus berpikir bagaimana aku bisa menadapatkan plate tanpa harus membunuh orang. Mungkin sebaiknya aku mencari pohon berjarum dan getah yang cukup beracun untuk melumpuhkan manusia beberapa hari sebaga senjata. Tapi sebaiknya aku mengaktifkan En dalam jarak 10 meter.
Yosh, aku tidur dulu.
~oOo~
Saat terbangun, hari telah gelap. Kulihat Gon tampak tak jauh dari pohon tadi, tertidur di pinggir sungai. Aku meletakkan satu buah daun rumput di rambutnya yang sengaja kujadikan sebagai pelacak. Langkahku pelan meninggalkannya, sementara aku harus menyusuri pulau dan mencari target, dan malam adalah saat terbaik untuk menyerang. Aku menemukan sebuah pohon yang kucari-cari, pohon jarum dan kini tinggal mencari racun. Nah, ini yang sulit. Aku tak menemukan pohon beracun. Kalaupun ada, itu mematikan dan aku tak mau membunuh orang hanya demi plate ID. Mau tak mau, aku hanya bermodal jarum dan sedikit ketangkasan untuk menyerang titik lemah mereka, setidaknya untuk mengambil plate saja.
Saat itu, aku merasa seseorang mengawasiku. Aku terdiam, menunggu sosok tersebut memunculkan dirinya, atau aku akan mendekatinya.
"Keluarlah, aku tahu kau mengawasiku," kataku pelan. Aku mengenakan kemeja yang tadinya kuikatkan ke pinggang, karena malam mulai dingin, "atau aku yang akan mendatangimu."
Seorang pria muncul dan menyerangku seketika dengan tinjunya. Aku mengelak, menahan tinju tersebut, dan membantingnya. Ia terjatuh dengan posisi telentang, dan aku yakin itu sangat menyakitkan. Aku menodongkan sebuah jarum tanaman yang sempat kusimpan dan kuarahkan ke mata kanannya.
"Beritahu berapa nomor platemu dan berikan padaku."
"Jangan bercanda," ia tertawa. "Mana mungkin kau bisa membunuhku hanya dengan sebuah duri pohon?!"
"Aku tak harus mendemonstrasikannya kan?" kataku dengan tatapan tajam. "Berikan saja dan aku akan biarkan kau hidup."
"Coba saja."
"Kuhitung sampai 3. Satu..."
Tidak bergeming.
"Dua..."
Masih sama.
"Tiga."
Stratch.
Aku menghantam hidungnya, dan seketika ia tak sadarkan diri. Aku merogoh sakunya, dan dua buah plate berhasil kutemukan. Plate 21 dan plate 371. Waw, aku sangat beruntung langsung menemukan target. Aku memandang tubuh yang tak sadarkan diri itu, menghela nafas. Aku bisa saja membunuhnya, tapi rasanya itu bertentangan dengan prinsipku. Sepuluh tahun lalu hingga saat ini aku sudah berjanji untuk tidak pernah lagi membunuh manusia. Aku berjalan, tercenung sejenak.
Netero-jii, tidak membunuh itu cukup sulit rupanya.
Tapi...kenapa hanya satu? Aku merasakan ada dua aura yang berada di sekitarku, dan aura seseorang dimana salah satunya aku mengenalnya. Aura ini tampak akrab sekali. Siapa? Aku mengingat-ngingat sejenak.
DORRR!
"Sial!" aku menghindar. Sebuah Peluru melesat ke arahku. Sepersekian sekon aku mempercepat tanganku, dan seperti waktu yang terdilatasi, tanganku menangkap peluru tersebut. Aku memandang ke arah dari mana peluru tersebut berasal, dan sang penembak terletak cukup jauh dariku. Pantas, aku tak menyadarinya, sementara dari tadi aku tak memakai En yang cukup luas. Aku memandang peluru tersebut di telapakku, berpikir sejenak. Si penembak tersebut melarikan diri. Aku tersenyum memandang peluru tersebut. Mungkin ini bisa jadi senjataku.
"Kau memang kuat, Tifa-san," sebuah suara yang tak asing muncul dari belakangku. Aku menoleh. Kulihat anak laki-laki berambut putih memandangku dengan wajah serius. Aku berbalik padanya.
"Kil?" aku melebarkan mataku. Rupanya Killua toh. Pantas saja auranya terasa familiar.
"Butuh kemampuan luar biasa untuk menangkap peluru," katanya, berjalan mendekat padaku, dengan pose sombong dan cueknya, menyakui kedua tangannya di saku celana, "mungkin kakakku dan kedua orang tuaku yang bisa melakukannya. Atau kakekku. Ah, tapi aku yakin kau tak lebih kuat dari mereka."
Bocah, aku nggak peduli siapa orang tua kamu, tapi aku peduli bagaimana mereka harusnya mengajarkan etika padamu!
"Kil, aku tak mau kehilangan kendali," kataku, menyakui ketiga plate – termasuk plate milikku kedalam saku – dan memandangnya denyum tipis, "aku menghargaimu seperti orang Gon menganggapmu temannya, jadi tolong, jangan buat aku marah."
"Memangnya kenapa kalau kau marah?" katanya dengan nada cuek.
Aku hanya diam. Kupandang kedua iris birunya yang penuh dengan kegelapan. Rasanya aku seperti melihat sorot mataku sendiri di cermin. Mata yang penuh dengan masa kecil pahit, tidak normal, dan hanya kegelapan. Mata yang terlalu biasa melihat darah, kematian, bahkan pemandangan yang seharusnya sering dilihat oleh anak seumurnya. Aku bisa merasakan sorot mata itu begitu mencekam, tapi disisi lain, aku merasakan ada kebaikan dan titik putih dalam sorot matanya. Sebuah sisi yang selalu memaksanya untuk berhenti membunuh orang. Sisi yang sampai saat ini ia tunjukkan kepada kami.
"Hey, kenapa kau tak jawab aku?"
"Kalau aku marah, aku mungkin saja membunuhmu, Kil," kataku pelan, menghela nafas sembari berjalan menjauhinya "Sebaiknya kau mencari tempat perlindungan lain atau memburu targetmu. Atau, kalau sudah kau dapatkan, jaga plate milikmu baik-baik."
"Tifa-san..."
Langkahku terhenti. Aku menoleh. Kulihat kini pandangannya tampak lain. Pandangan gelap seorang pembunuh. Aku menghembuskan nafas pasrah. Aku bisa tahu bahwa ia tak suka diabaikan, tapi aku juga tak mau berakhir dengan tanganku berlumuran darahnya. Aku menggeleng keras. Tidak. Aku tak boleh membunuh lagi.
"Kil, pergilah..."
"Jawab aku, siapa kau sebenarnya?"
Aku berjalan mendekat kepadanya, lalu merendahkan tubuhku agar sejajar dengannya. Kupandang iris biru turmalinnya, dan aku menghela nafas.
"Apakah aku masih akan mencurigakan jika aku menceritakan semuanya padamu?"
"Tentu saja tidak!" sahutnya dengan mata membulat.
"Baiklah. Aku adalah seorang pembunuh bayaran, sama seperti kau, dari keluarga Fuscienne. Kami tinggal di negara Rexas, kota Gordote. Aku adalah anak angkat mereka," kataku memulai, beranjak berdiri, lalu memberinya isyarat untuk berjalan di sebelahku, "Aku terkenal dengan julukanku si Silent Kill. Dulu aku cukup ditakuti didunia underground, karena aku membunuh dengan cara yang... mengerikan. Sebenarnya itu adalah bentuk kefrustasianku karena sebenarnya, di lubuk hati yak terdalam, aku tak mau membunuh. Sampai usiaku 17– menjelang 18, yah, kurasa aku sepertimu, muak membunuh. Hanya saja orang tuaku yang memanfaatkanku sebagai mesin pembunuh demi keuntungan mereka menyiksaku habis-habisan setiap aku mengatakan keinginanku, menyegel kekuatanku, dan klimaksnya terjadi ketika aku tak tahan lagi dan membantai mereka semua."
"Membantai?"
"Ya, membantai. Tampaknya kau kaget?" kataku, memandang Killua yang mendongak memandangku dengan kaget.
"Aku sempat mendengar bahwa ada keluarga pembunuh bayaran lainnya di daerah Rexas yang cukup melegenda akan cerita pembantaian masal anggota keluarga tersebut, tapi aku tak tahu bahwa yang membunuh itu ternyata kau, Tifa-san."
"Ah, jadi kau tahu juga soal itu?"
"Aku hanya mendengar dari kakek dan kakakku. Kata mereka, cerita itu cukup terkenal, dan banyak desas-desus yang berkeliaran. Ada yang bilang mereka mati kena kutukan, diserang hewan eksotis, dan macam-macam..."
"Begitu rupanya," aku tertegun, "tapi tak ada yang tahu bahwa hal itu terjadi karena anak angkatnya membunuh mereka kan?"
"Ada desas-desus begitu, tapi tak sesanter yang lain. Banyak yang menyangka kau juga sudah mati," katanya pendek.
"Ha, tentu saja, sebeab tak lama setelah itu aku mengasingkan diri ke Bartolomon, berlatih dan mengasingkan diri," timpalku, "tak heran mereka menyangka aku sudah mati."
"Tapi, sejujurnya, aku tak melihatmu sebagai seorang pembunuh, Tifa-san," Killua menghentikan langkahnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon besar, dan aku duduk disebelahnya. "Kau tampak baik dimataku, hanya saja, aku menaruh curiga padamu karena aku merasakan aura pembunuh darimu, dan bau darah..."
"Yah, pembunuh tetaplah seorang pembunuh, aku sadar," aku mengangguk kecil, menekuk lututku, "tanganku tetaplah tangan yang telah membunuh ribuan manusia, ratusan kali aku membersihkan diriku dari darah mereka, aku tetap saja bau darah. Kurasa tak ada yang bisa kulakukan untuk itu."
"Kau benar," Killua mengangguk, tersenyum kecil, "kurasa, sebenarnya kita tak beda jauh, Tifa-san."
"Hahaha, ya, ya...dan aku cukup senang, bahwa bukan aku saja yang berusaha mencari titik terang dalam hidupku..."
Kami tertawa bersama.
~oOo~
I know this kinda crappy chapter but welll...simak aja dulu ke depannya
RnR Minna~
