High heels

Kaihun

Humor/Romance

warning for easily plot, yaoi, typo(s), etc

.

.

.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Tepat sasaran! Pertanyaan yang cukup singkat namun dapat membuat Sehun gelagapan. Wajahnya ia pasang sedatar mungkin, tapi tetap saja matanya tak bisa menipu pemuda yang berada di hadapannya. Pemuda itu semakin menatapnya intens, karena tak mendengar jawaban dari Sehun.

"Yeah... t-tentu saja... kita kan satu sekolah," jawab Sehun berusaha setenang mungkin.

Jongin kembali memasang wajah datarnya, "kau benar." Ia langsung melepaskan cengkramannya dari tangan Sehun yang basah karena keringat, membuat Sehun menghela napasnya lega.

"Hey Jongin, di situ kau rupanya," panggil seseorang yang memecahkan kecanggungan di antara mereka berdua. Pemuda itu berjalan menghampiri Jongin dan Sehun dengan dua kantung plastik putih yang bertengger di kedua tangannya. Kalau dilihat lihat, pemuda itu memiliki tinggi yang diatas rata rata, memiliki telinga yang sangat lebar, dan cengiran yang konyol. Bicara tentang cengiran konyol, Sehun jadi teringat Baekhyun.

"Siapa dia?" pemuda itu beralih menatap Sehun.

Jongin ikut menoleh mengikuti arah pandang pemuda itu. Ditatapnya Sehun datar, lalu ia mengedikkan bahunya tak peduli. Pemuda tinggi itu hanya memandangi Jongin kesal, ia tahu Jongin mengenalnya, mengingat seragam mereka yang sama. Namun ia harus bisa memaklumi sifat tak acuh Jongin.

"Ayo balik," ucap Jongin pada akhirnya. Tubuh tegapnya berbalik membelakangi Sehun dan berjalan menjauhinya.

"Ya... ya..." Pemuda tinggi itu memutar bola matanya malas, lalu kembali beralih ke Sehun, "kau tidak pulang? Matahari sudah terbenam."

"Ada sesuatu yang harus kubeli. Sudah ya, annyeong!" dan Sehun mengakhiri semuanya, meninggalkan pemuda yang masih cengo. Apa ia belum sadar bahwa dirinya sudah ditinggal keduanya? -_-

.

.

.

Hari minggu yang cerah. Ah, iya, tak ada hari minggu yang suram, sekalipun suram tak akan sesuram hari senin. Untuk itulah Sehun selalu bangun sekitar jam 8 pagi, biasan sinar matahari benar benar membangunkannya. Yeah, terkecuali musim salju. Ia akan lebih banyak menghabiskan waktunya di bawah selimut tebal dan tertidur seperti putri tidur di bawah penghangat ruangan.

Sehun beranjak dari tempat tidurnya. Seperti biasa, ia berjalan menuju pojok ruangan yang jika kau ke sana, kau akan menemukan sebuah cermin yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Tentu saja Sehun ke sana hanya untuk bercermin, memastikan apakah wajahnya sudah berubah atau masih tampan seperti biasanya.

Sehun tersenyum tipis ketika mendapati dirinya di pantulan cermin itu masih terlihat tampan atau bahkan lebih tampan. Tidak sia sia orang tuanya membelikannya cermin, meskipun pada awalnya mereka membelikan cermin karena Sehun tidak dapat menggunakan dasinya dengan benar.

Merasa puas, Sehun segera keluar dari kamarnya dan berlari lari kecil menuju ruang makan. Dan disana ia sudah mendapati kedua orang tuanya dan hyungnya yang menyebalkan namun sangat menyayanginya, Luhan, terduduk rapih mengelilingi meja makan yang berberkapasitas untuk 6 orang. Entahlah, mungkin eomma dan appanya berencana untuk memiliki keluarga baru. Eh?!

"Eomma, kenapa nasi gorengnya putih? Tidak menggunakan kecapku?" Tanya Sehun ketika menyadari nasi gorengnya tidak ada unsur kecap di indra pengecapannya.

"Eum... eomma ingin mencoba yang lain Sehunie." Sehun hanya mendengus kesal, ia merasa tak dihargai, sudah bersusah payah pergi ke supermarket dan lagi uang jajannya yang terkuras.

"Baiklah, biar aku saja yang menggunakannya." Sehun mengambil botol kecap yang masih ditutup rapat, lalu membukanya dan menuangkannya di atas nasi gorengnya. Ugh, terlalu banyak, batinnya. Ia segera mengaduk ngaduk nasinya agar kecapnya terbagi rata.

Saat ia memasukkan nasinya yang sudah menjadi berwarna cokelat kedalam mulutnya menggunakan sendoknya, ia merasa ada sesuatu yang aneh di dalam mulutnya. Entahlah apa nama reaksi ini, namun ini benar benar tidak menyenangkan untuk dijilat. Jauh lebih buruk dari tidak meminum bubble tea selama 1 minggu.

Krik...krik...

"GYAAAA! KENAPA RASANYA ASIN!"

Eomma, appa, dan Luhan hanya memandangi Sehun yang menengguk air minumnya tidak sabaran dengan wajah datar. Sesungguhnya mereka juga tidak menggunakan kecap itu karena Sehun salah membeli kecap.

"Aku tahu kau pelupa tapi... apakah hanya untuk membaca tulisan sesederhana ini kau tak bisa hanya karena kau lupa cara untuk membaca?" Ejek Luhan berapi api sambil menunjuk tulisan 'kecap asin' pada botol.

"AAA... eomma... kembalikan uang jajanku!" rajuk Sehun sambil menarik narik tangan eommanya.

"Tidak. Siapa suruh kau tidak membaca tulisan itu?"

Sehun menghentikan gerakannya.

"Oh, baiklah. Aku tidak jadi makan! Sebelumnya juga aku sudah ingin muntah memakan nasi cokelat itu!" Sehun segera meninggalkan meja makan dan berlari menuju kamarnya.

Keluarganya kembali memasang wajah datar. Ok, kasus seperti ini sudah sangat sering terjadi, namun dalam bentuk variasi yang berbeda. Dalam hati mereka, repot juga memiliki anak dan adik yang sangat pelupa dan ceroboh.

BLAM!

Sehun langsung membanting dirinya di atas ranjangnya. Ia sangat kesal karena eommanya tidak mengembalikan uang jajannya dan Luhan yang mengejeknya, oh ok, Luhan memang selalu mengejeknya, tetapi tidak di sekolah. Entah apa yang mereka pikirkan, namun mereka benar benar seperti tidak saling mengenal, bahkan banyak yang tidak tahu bahwa mereka bersaudara. Tetapi tentu saja Baekhyun mengetahuinya.

Ngomong ngomong soal Baekhyun, Sehun jadi menyalahkan Baekhyun atas kejadian pagi ini. Ia segera mengambil handphonenya dan mencari contact Baekhyun, lalu menghubunginya.

"Hhh... ada apa? Kau tahu? Kau sudah mengganggu tidur cantikku."

"Yak! Kau juga harus tahu, bahwa kau sudah mengganggu selera makanku!"

"A-apa?!"

"Baiklah, kuharap kau tidak melupakan janjimu. Kutunggu kau di depan kedai bubble tea seperti biasa tiga puluh menit kedepan."

"Hey!"

"Tidak ada penolakan, annyeong!"

Tuut...tuut...

Senyum Sehun kembali mengembang. Ia segera mengambil handuknya dan berjalan ke kamar mandi.

.

.

.

"Baekhyun... aku mau yang rasa green tea!" ucapnya sambil menunjuk sebuah gelas yang bersisi teh hijau dengan krim dan bubble di dalamnya. Oh tentu saja hanya sebuah gambar.

"Biasanya kau pesan rasa choco." Baekhyun beralih memandangi Bubble tea yang berwarna coklat.

"Aku sedang tidak mood melihat warna cokelat. Sudah ya, aku mau mencari tempat dulu." Sehun berbalik membelakangi Baekhyun yang menatap miris dompetnya, mengingat bubble tea rasa green tea adalah minuman termahal di kedai ini.

Senyum Sehun semakin mengembang, ketika mendapati tempat favoritnya masih kosong. Pojok dan dekat jendela besar yang memperlihatkan jalanan Seoul dari atas. Ok, kedai ini memang bukan terletak di atas bukit, tapi tempatnya lumayan tinggi untuk melihat beberapa jalanan dan bangunan bangunan yang pendek. Harus ia akui bahwa menikmati segelas bubble tea di tempat ini pada malam hari sangat menyenangkan, mengingat kota yang tidak pernah tidur ini.

Saat Sehun mendaratkan dirinya diatas sofa single berwarna merah di tempat favoritnya itu, seorang pemuda berkaus hitam juga baru saja mendudukkan dirinya diatas sofa berwarna merah di seberang meja Sehun. Tentu saja Sehun merasa terganggu karena tempat yang pemuda duduki itu adalah tempat untuk Baekhyun. Namun saat Sehun hendak mengeluarkan suaranya, pemuda itu menaikkan kepalanya menghadap Sehun setelah ia mematikan handphonenya. Dan mereka berdua akhirnya menyadari siapa yang mereka lihat.

"Kau!" teriak mereka berbarengan sambil menunjuk muka orang yang berada di hadapan mereka.

"Oke, menyingkirlah, pucat!" Ucap Jongin sedikit menghina.

"Apa kau bilang? Seharusnya kau yang menyingkir, hitam!" balas Sehun yang tidak terima dirinya diejek Jongin, cukup Luhan saja yang mengatainya seperti itu.

"Mengapa harus aku?" tanya Jongin dengan nada yang sedikit kesal, namun wajahnya masih terlihat tenang.

"Mengapa harus kau? Karena mengapa harus aku?" Sehun bertanya balik, yang membuat Jongin menggertakkan giginya.

"Tentu saja karena aku lebih dulu." Ucap Jongin sambil memukul pelan meja di depannya.

"Apa kau tak lihat? Bahkan aku yang lebih dulu duduk di sini!" Sehun memajukan badannya, menatap sinis Jongin dari dekat.

"Oh, kalau begitu kau saja yang pindah." Jongin juga memajukan badannya dan menatap Sehun sinis.

"Tidak! Ini adalah tempat favoritku!" Sehun semakin memajukan kepalanya.

Selanjutnya Jongin tak membalas perkataan Sehun, namun tatapannya semakin tajam dan sinis, membuat Sehun sedikit takut, tapi justru Sehun semakin mempertajam tatapannya. Yeah, terlihat seperti menantang.

Mereka tak melepas tatapan mereka selama setengah menit, beriringan dengan kembalinya tatapan mereka seperti semula. Dan pada saat itu pula Sehun menyadari, bahwa pemuda yang berada di depannya ini menar benar tampan. Kulitnya yang cokelat sexy, tulang pipinya yang terpahat sempurna, bibirnya yang gemuk menggoda, dan jangan lupakan tatapannya yang dapat membuat dirinya mematung seperti saat ini. Pantas saja pemuda di hadapannya ini memiliki banyak penggemar.

"Maaf, Sehun tadi ada sedikit―" Sebuah suara menyadarkan Sehun dan Jongin dari pikiran mereka masing masing, membuat mereka berdua berpaling satu sama lain. Ugh, benar benar canggung.

"―Masalah." Lanjut Baekhun yang juga ikut ikutan merasa canggung.

"Hey, Jongin, pesananmu tidak ada, jadi aku pesankan―hey, bukankah kau pemuda yang di supermarket kemarin?" Pemuda yang awalnya memandang Jongin dengan wajah sedikit bersalah kini beralih memandang Sehun senang. Sehun yang merasa dipandang mengangkat wajahnya.

"Apa? Kau pernah bertemu orang aneh ini sebelumnya?" Kini giliran Baekhyun yang menatap Sehun, namun tatapan penuh penasaran.

"Yeah... mungkin... ya sudah, ayo Baek, kita minum sambil jalan saja." Sehun menarik pergelangan tangan Baekhyun dan menyeret Baekhyun yang masih belum berbicara apa apa menuju pintu keluar.

Setelah mereka benar benar keluar, Chanyeol―pemuda itu beralih memandang Jongin yang seperti biasa, berwajah datar. Tentu saja ia sudah menempati tempat Sehun tadi.

"Kau berhutang penjelasan padaku," Tuntut Canyeol tiba tiba.

"Apa?" jawab Jongin tak acuh. Matanya masih tertuju pada handphonenya.

"Kau bilang kau tidak mengenalnya."

"Kau benar."

"Lalu tadi apa?"

"Itu hanya sebuah kebetulan."

"Yeah... kebetulan tapi tadi wajahmu saat menatapnya terlihat..." Chanyeol berhenti sejenak, mencari kata kata yang tepat.

"Terlihat seperti orang yang mengalami cinta pada pandangan pertama!"

Jongin memutar bola matanya malas. Inilah efek bagi orang yang terlalu banyak membaca buku romance.

"Kau tahu, kau membuat sebuah kemajuan dalam dirimu!" ucap Chanyeol tiba tiba, membuat Jongin hampir tersedak oleh bubble bubble-nya.

"Kemajuan apa?" Jongin mengangkat sebelah alisnya.

Chanyeol tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih dan berkilauan yang dapat mengakibatkan kebutaan bagi siapapun yang melihatnya. Oke, ini hanya pendapat Jongin, entah untuk yang lain, namun Baekhyun juga sependapat.

"Nanti kau juga akan menyadarinya sendiri." Chanyeol kembali menyeruput Bubble teanya, membiarkan Jongin berpikir dalam diamnya, walaupun matanya masih tertuju pada handphonenya yang layarnya semakin lama semakin menghitam.

.

.

.

"Tapi appa, hanya itu high heels yang cocok dengan gaunku nanti."

"Sudahlah, pakai saja yang lain."

Berkali kali Eomma Sehun itu menjelaskan bahwa itu-adalah-high heels-yang-cocok kepada appa Sehun, namun hanya ditanggapi dengan paka-saja-yang-lain, membuat Eomma Sehun kesal sampai ia nekat membongkar rak sepatu dan juga gudang.

Sehun yang mendengar adanya keributan dari lantai bawah, segera berjalan dengan malas menuju tangga.

"Hey, ada apa?" tanya Sehun sedikit membesarkan suaranya mengingat jarak mereka yang cukup jauh.

"Di situ kau rupanya, ayo bantu eomma mencari high heels pesta eomma," jawab sebuah suara wanita yang tak kalah kerasnya.

Bicara soal high heels, Sehun jadi teringat peristiwa tempo hari.

"High heels warna apa, eomma?" Sehun kembali bertanya, namun ini terdengar sedikit panik.

"Yang berwarna emas dan hijau."

Jawaban ini sukses membuat Sehun ingin mati pada saat itu juga. Niatnya yang ingin membantu eommanya mencari high heelsnya sudah ia kurung rapat rapat. Pertama, ia takut wajahnya tidak bisa membohongi, dan yang kedua, usaha itu sangat sia sia karena high heelsnya tidak ada.

"Oh, yang norak itu," jawab Sehun berusaha setenang mungkin, lalu Sehun memilih untuk membalikkan badannya dan berlari menuju kamarnya.

"APA KAU BILANG?!"

Blam!

Sehun segera mengambil tas hitamnya, lalu membuka resletingnya yang tak dapat dibuka karena terlalu panik. Dan dirinya semakin dibuat panik ketika hanya mendapati high heels eommanya yang hanya ada sebelah. Awalnya ia kira, high heels nya telah dicuri oleh hantu hantu yang ingin melihat ekspresi paniknya, namun pada akhirnya Sehun berhasil mengingat apa yang sebenarnya terjadi.

Gawat! Sampai eomma tahu bahwa ialah yang menghilangkannya, siap siap untuk tidak diberi uang jajan selama sebulan. Sehun menggigit bibir bawahnya. Besok ia harus mencari high heels eomma diam diam di koridor sekolah tempat ia melemparnya. Dan kalau sampai tidak ada... ini benar benar kesalahan Baekhyun!

Sehun membaringkan dirinya diatas ranjang, mencoba untuk menutup kedua matanya, berusaha agar tidak terlihat panik walau akhirnya ia benar benar tertidur tanpa menghilangkan kepanikan tersebut.

.

.

.

"Aku masih tak bisa mencernanya, tapi bagaimana bisa? Konyol sekali," ucap Chanyeol masih dengan wajah herannya sambil memandangi sebuah high heels yang berada di genggamannya.

Jongin hanya terus melanjutkan permainannya di PSP putihnya, tak merespon ucapan Chanyeol yang berkali kali bekata seperti itu sejak dua jam yang lalu. Oh, ralat, semua ucapan Chanyeol yang intinya hampir sama.

"Hey, kau tak mempedulikannya?" Chanyeol beralih menatap Jongin. Jongin yang ditatap penuh tuntutan itu langsung mematikan PSPnya, lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang kesayangannya.

"Entahlah."

Jongin memejamkan matanya, dan teringat perkataan Chanyeol tadi siang. Ia berusaha mencari tahu apa maksudnya dalam pikirannya, tetapi tetap saja ia tak mengerti. Namun tiba tiba saja pikirannya beralih ke seorang namja berkulit pucat, yang ternyata namanya adalah Sehun, begitulah kira kira pengejaanya, ketika ia mendengar temannya memanggil namanya. Dan pada saat itulah ia menyadari, ada sesuatu yang benar benar aneh yang terletak pada bagian dadanya, ketika menatap mata pemuda itu dari dekat. Dan jangan lupakan bibir tipis pemuda itu, yang benar benar membuat dirinya ingin segera menyentuhnya, jika saja peraturan agama dan tata krama tidak berhasil mencegahnya.

Eh?

"Kurasa yeoja itu bukan benar benar penggemarku."

.

.

.

Tbc

.

.

.


a/n: hey hey. Jangan ada yang panik, soalnya Jongin sendiri belum tau siapa yang ngelempar high heels nya. Tapi disini aku buat Jongin itu orang yang jeli, teliti, dan ingatannya kuat. Jadi, yah... mungkin dia akan tahu siapa pelempar high heels itu seiring berjalannya waktu.

oh ya, ada yang nanya ini yaoi atau straight. jawabannya adalah yaoi, saya kurang tertarik sama straight kalo di ff seperti ini. hehe.

thanks buat yang udah review di chapt sebelumnya...

utsukushii02 | jung yeojin | YoungChanBiased | shinshin99SM | kahunxo | askasufa | KaiHunnieEXO | indaaaaaahhh | SehunBubbleTea1294 | Psychopat | Hwang Yumi | Kim Bo Mi | Mr. Jongin albino | sayakanoicinoe | DiraLeeXiOh | daddykaimommysehun | oracle88 | RanHwa19 | UnicornTry | exxora. seraphine | KaiHun maknae | ixolucky | gwansim84 | DarKid Yehet

dan yang menyempatkan dirinya untuk membaca ff ini hehe, maaf juga chapt ini mungkin kurang greget dan panjang -_-

terimakasih