Based on Hunter x Hunter (2011)

Pairing : Tifa (OC) X Illumi, Slight Tifa x Hisoka

Disclaimer: Hanya beberapa plot dalam cerita ini dan Tifa yang merupakan milik saya, selebihnya punya Yoshihiro Togashi.

.


.

.

.

Tifa POV

"Jadi, kita benar-benar di Republik Padokea. Di depan gerbang Kediaman Zoldyck," aku berkacak pinggang saat melihat si penyusup yang dilempar lewat gerbang kayu dalam bentuk tinggal tulang belulang. Sontak seluruh pengunjung yang mengunjungi tempat wisata tersebut berhamburan ke dalam bis tour.

"Apa yang kalian lakukan? Cepat kembali ke bus!" seorang tour guide berambut oranye melambaikan bendera pada kami.

"Tidak, kami sini saja," tolak Gon dengan halus dan sopan. Aku sempat melihat keterkejutan sang tourguide, hingga akhirya bus tersebut pun menghilang dari pandangan kami.

Aku menoleh pada Gon. Sejak insiden ujian hunter terakhir dan mengetahui semua kebenaran tentang Killua, ia benar-benar berniat untuk menemui Killua. Kupandang sosok pria kecil tersebut. Kulihat penjaga gerbang bernama Zebro-san itu dibantu berdiri oleh Gon.

Aku sendiri telah mendengar banyak cerita mengenai legenda keluarga pembunuh bayaran dengan nama belakang Zoldyck tersebut, meski aku belum pernah berkesempatan bertemu salah satu dari mereka sejak aku hidup. Yang jelas, mereka pembunuh ulung dan pengguna nen yang kuat juga. Yah seperti kebanyakan pembunuh bayaran, mereka membunuh untuk mencari uang. Sejujurnya aku memang sempat tertarik untuk melawan mereka dulu, tapi mereka tak pernah berniat bertarung dengan alasan yang tidak jelas.

Setelah kupikir-pikir, alasan mereka jelas juga.

"Oy, Tifa-neee!" Gon memanggilku untuk masuk ke dalam pos penjaga. Aku berjalan mendekatinya. Penjaga gerbang bernama Zebro itu bicara banyak tentang kediaman ini. Ia juga sempat mengatakan bahwa gerbang tinggi itu adaah gerbang sebenarnya yang tak terkunci.

"Jadi, kami harus melewati gerbang tersebut agar tidak dimakan Mike?" kataku, lalu menyesap air teh yang kini hampir mendingin di cangkir yang kupegang.

"Begitulah..." ia mengangguk. "Tapi pada dasarnya, aku tetap tak akan menginjinkan kalian masuk, karena aku tak ingin melihat teman Tuan Muda Killua menjadi kerangka."

"Jadi tak ada cara lain selain melewati gerbang pengujian itu?" Gon tampak bingung. Zebro mengangguk, lalu membimbing kami keluar dari pos. Leorio tampaknya mengambil kesempatan pertama. Ia mendorong pintu tersebut dengan berbagai cara, menarik, mendorong, sampa wajahnya memerah dengan penuh peluh.

"Oy, apa kau yakin pintu ini tidak terkunci?" katanya emosi, memandang Zebro dengan wajah penuh keringat.

"Kau hanya tidak cukup kuat untuk mendorong pintu tersebut," ia melepas pakaiannya, menyisakan celana panjang dan kaus dalamnya.

"Yang benar saja?! Aku telah memakai seluruh kekuatanku!" teriak Leorio dengan emosi.

"Nama resmi gerbang ini adalah Gerbang pengujian," ia mengambil nafas, dan seketika aura ditubuhnya meningkat tajam. "Orang yang tidak bisa membuka gerbang ini, tidak layak memasuki kediaman Zoldyck!"

Whoa, aku berdecak. Dunia kami dan mereka tampaknya memang berbeda. Yah, keluarga pembunuh memang sesuatu kan?

Tunggu. Aku mengecap permenku lebih dalam. Bukankah aku juga dulu seorang pembunuh? Berarti aku tak jauh berbeda dengan mereka?

Zebro mendorong pintu tersebut. Seketika pintu tersebut terbuka sejenak, sebelum akhirnya tertutup lagi. Aku bisa membayangkan berat pintu tersebut dari sudut pandang orang normal, karena melihat Zebro membuka pintu tersebut dengan tenaga penuh dan menaksir dari urat-urat yang muncul dari tubuhnya, pintu tersebut bisa jadi berton-ton.

"Seperti yang kalian lihat, ada 7 pintu. Pintu tersebut dapat terbuka berdasarkan kekuatan kalian. Harus kukatakan, bahwa pintu pertama beratnya dua ton. Kebetulan saat Tuan Muda Killua pulang, ia dapat membuka 3 pintu..."

Nah, apa kataku. Berton-ton!

Aku terhenyak. Kini perhatianku tertuju pada Gon.

"Zebro-san, bisa kupinjam kuncimu?"

"Oy Gon, jangan gegabah! Kalau kau meggunakan pintu penyusup, kau bisa dimakan Mike!" ucapku.

"Tapi aku kesini untuk menemui temanku, bukan untuk dimakan!"

"Maaf Gon-kun, tapi aku tak bisa meminjamkan kunci tersebut padamu. Aku tidak mau kalian jadi santapan Mike..."

Gon melempar kail dari alat pancingnya untuk memanjat. Kami berempat melotot. Anak ini benar-benar kerasa kepala. Dan aku sendiri tak mungkin membiarkan ia melakukan itu hanya karena ia ingin menemui Killua. Aku ingin win-win solution, tanpa ada pengorbanan atau salah satu dari kami cidera karena keinginan tulus Gon. Disisi lain, aku merasa dillema. Haruskah aku menggunakan kekuatanku? Itu sama saja dengan aku membongkar siapa diriku sebenarnya, dan aku takut mereka meninggalkanku. Aku takut mendapat penolakan. Aku benci dengan pandangan sinis mereka yang mungkin akan bertambah benci saat tahu siapa aku sebenarnya. Kurapika dan Leorio mungkin sudah lebih dahulu memendam kecurigaan padaku saat mereka melihat aku dengan mudahnya membunuh monster besar itu dengan modal senjata sebuah daun saja.

Aku belum cukup kuat untuk menerima penolakan mereka saat ini. Saat ini, Gon bahkan hanya tahu bahwa akan adalah seorang pembunuh, dan mungkin dia adalah orang pertama yang mau menerimaku dengan tulus, siapapun aku.

"Zebro-san," panggilku pelan pada sang penjaga. "Tolong bantu kami agar kami bisa memasuki Gerbang Pengujian..."

Ia memandangku dengan wajah bingung.

"...bagaimanapun caranya."

~oOo~

.

.

Saat itu malam telah larut. Kami berempat diijinkan untuk tinggal di rumah penjaga, meski kulihat Zebro-san memiliki alasan tertentu untuk menerima Gon sebagai tamunya sebelum menemui keluarga Zoldyck. Ia menawari kami untuk berlatih agar kami bisa membuka gerbang pengujian dengan tangan kami sendiri, bahkan kami diperbolehkan bekerja sama.

Yah, setidaknya lebih baik begini.

"Zebro-san...ini berat sekali," ucap Gon saat berusaha memakai rompi seberat 50 kg. Kami berempat mengangkat cangkir teh dengan keberatan, meski aku sejujurnya hanya berpura-pura.

Jujur, rumah penjaga ini sangat tidak biasa. Cangkir seberat 20 kg, teko sebesar 50 kg. Aku hampir tak percaya mereka bisa nyaman sekali hidup seperti ini. Ditambah lagi, aku heran dengan berat-berat yang kurasakan saat aku mengangkat benda-benda tersebut. Dari bahan apa benda ini dibuat? Radioaktif stabilkah?

"Silahkan gunakan rompi tersebut kecuali pada saat tidur..." katanya dengan senyum sopan. Aku menggeleng tak percaya. Hanya demi seorang teman, mereka harus melakukan ini. Aku menyesap tehku dengan perlahan, dan saat itu pikiranku melayang tak keruan.

Pembunuh hanyalah pembunuh.

~oOo~

.

.

Ini sudah hari kelima kami tinggal di rumah Zebro, dan kami baru saja selesai latihan mengangkat berat. Masih dengan ropi seberat 80 kg, aku mengambil sebuah cangkir seberat 35 kg, menuangkan air putih, lalu meminumnya. Sementara itu, kulihat Leorio, Kurapika dan Gon terpekur kelelahan, duduk di kursi meja makan dengan wajah penu keringat. Tanpa sengaja, aku melihat Zebro melintasiku.

Saat itu aku melihat Zebro memandang aku dengan bingung.

"Ada apa, Zebro-san?"

"Sejujurnya aku heran," ucapnya. "Kau tampak tak sepayah mereka. Bahkan kau bersikap normal mengangkat cangkir tersebut. Siapa kau sebenarnya?"

Kali ini aku tersedak. Kurapika, Gon, dan Leorio memandangku. Gon tiba-tiba mengangkat kepalaku dan memandangku dengan pandangan polos.

"Oh ya, aku ingat sekarang. Bukankah, Tifa-nee juga...dulunya juga adalah seorang pembunuh?"

Gon, kauuuuu!

"Yang benar, Gon?" Leorio dan Kurapika sontak kaget, seolah lupa dengan beban yang ia bawa di tubuhnya. Aku terkesiap. Kuletakkan cangkir itu dimeja, lalu duduk disebelah Gon. Pandanganku lurus memandang taplak meja.

"Yah, aku memang sudah curiga semenjak ujian pertama hunter, kau dengan mudahnya membunuh para monster itu hanya dengan senjata setangkai daun saja," Kurapika memandangku wajah dingin, "aku sudah gatal untuk bertanya tapi tampaknya kau selalu menyembunyikan diri dibalik kerumunan."

"Benarkah?" Gon memandangku dengan kaget.

"Sepertinya tak ada gunanya kau berbohong sekarang, Tifa," Leorio memandangku dingin. "Beritahu kami siapa kau sebenarnya."

Kulihat Zebro menarik sebuah kursi tambahan untuk menyimak ceritaku. Aku menghela nafas, mengambil sebuah lolipop di saku, lalu membuka bungkusnya, setelah mengemut sejenak, akhirnya aku angkat bicara.

"Namaku Tifanny Fuscienne," kataku mengawali. "Dulu aku terkenal sebagai mesin pembunuh yang diadopsi oleh keluarga Fuscienne, meski sebenarnya tidak sepenuhnya benar kalau aku haus darah..."

"Tifanny Fuscienne...Deadly Venus?" Zebro ternganga tak percaya. Aku kaget sekaligus antusias, ternyata namaku terkenal juga.

"Betul," aku tersenyum kecil.

"Deadly Venus?" Leorio memandangku. "Kenapa Deadly Venus?"

"Karena aku membunuh diam-diam," kataku pendek.

"Dari mana kau berasal?" tanya Kurapika.

"Kota Meteor," aku mengemut sebentar. "Kota yang terkenal dengan tempat terlahirnya para mafia dan pembunuh."

Kudengar helaan nafas kaget dari mulut mereka. Aku tersenyum getir, "Aku diadopsi oleh keluarga Fuscienne, tapi berakhir dengan membantai semua keluargaku, berkelana sejenak, sampai akhirnya aku bertemu Netero-jii – ya, ketua asosiasi Hunter – dan ia menasihatiku banyak hal."

"Jadi, kau kenal dekat dengan Netero-san?" tanya Gon.

"Pada dasarnya tidak dekat," aku menggeleng, "aku hanya bertemu dengannya sekali, sebelum akhirnya aku memutuskan berubah."

Mereka terhenyak. Aku memandang mereka bertiga dengan tak enak hati, "maafkan aku, tidak jujur pada kalian sebelumnya."

"Apa itu sebabnya kau menangis saat Killua mengatakan tentang dirinya saat ujian terakhir?"

Aku mengangguk, "ya. Aku benar-benar paham kondisinya. Bagi aku, dan mungkin Killua, membunuh itu sudah bagian dari hidup. Aku cukup beruntung karena saat itu aku berhasil membunuh semua keluargaku akibat tekanan mereka sehingga aku terlepas dari kecaman mereka. Tapi posisi Killua cukup berat, mengingat membunuh bukan sekedar keinginannya, tapi tradisi keluarga, dan ia sadar bahwa ia tak akan bisa mengalahkan keluarganya demi mengubah dirinya sendiri. Ditambah lagi, ia punya potensi untuk menjadi pemimpin Zoldyck. Kuakui, ia memang berbakat sebagai pembunuh, meski ia belum belajar nen."

Saat itu, kulihat Kurapika ingin bertanya lagi, tapi Zebro-san menyela, mengatakan bahwa ini sudah cukup malam dan besok adalah hari terakhir kesempatan kami untuk membuka Gerbang Pengujian, jadi kami segera diminta untuk beristirahat.

Hanya saja, Gon masih juga mengangguku saat aku berniat tidur.

"Tifa-nee..." ia memandangku yang baru saja menutup mata.

"Ada apa Gon," kataku malas, karena mulai mengantuk.

"Apa itu nen?"

Mataku tiba-tiba terbelalak. Aku beranjak dari kasurku, lalu memandang sosoknya, kemudian kembali merebahkan tubuhku di kasur.

"Itu semacam kekuatan yang berasal dari energi kehidupan tubuhmu. Saat kau menguasai nen, kau punya kekuatan berkali-kali lipat dari kekuatan normalmu, ngggh..." aku menggaruk pipiku. "Semacam itulah, aku tak pintar berteori, dan aku mengantuk. Sebaiknya kau tidur Gon."

"Apa kau yakin dengan kekuatanmu kau bisa membuka gerbang tersebut bersama kami?"

"Sebenarnya aku lebih senang menghancurkannya daripada membukanya, Gon..." kataku pelan, mengingat kesabaranku memang tak tak setebal yang lainnya. Pada dasarnya aku adalah Emitter, jadi mungkin aku bisa saja melemparkan bom aura ke pintu tersebut sehingga kami bisa lewat, kalau aku mau.

Tapi, tch, aku malas berurusan dengan Zoldyck sekeluarga.

Normal POV

"Sepertinya, kita tak perlu lagi turun untuk mengerjakan semua misi. Biarkan Tifa yang menyelesaikannya, sementara bayaran klien masuk ke akun kita," Akeno, pemimpin keluarga Fuscienne tampak berbisik pada istrinya.

"Aku setuju. Buat apa kita mengadopsinya kalau ia tak bisa membayar jasa kami karena telah mengadopsinya dan memberinya tempat tinggal? Selama misi, pastikan setelah ia selesai bekerja, segera segel nen miliknya dan masukkan ia ke gudang bawah tanah. Bahaya jika ia tak disegel, kekuatannya seperti monster" Priscilla memberitahu Emma, anak sulung keluarga Fuscienne.

"Tentu saja," Emma menyeringai sembari mengacungkan jempolnya.

"Bagaimana soal pembagian pembayaran klien?" tanya Claude, anak terakhir mereka yang berusia 14 tahun.

"Soal pembagian upah klien, adalah bergantung kepada siapa klien meminta bantuan. Jika klien meminta jasamu, maka uang akan masuk ke rekeningmu, tapi biarkan Tifa yang bekerja."

Jade, anak kedua mereka membantah, "apa itu tak cukup sadis? Bisa saja ia melawan?"

"Kalau ia melawan, jangan beri dia makan? Monster sepertinya akan patuh jika sudah berurusan dengan perut!" ucap Akeno dengan suara meninggi.

~oOo~

Tifa terbangun.

"Mimpi itu lagi..."

Mimpi masa lalunya. Dilihatnya Leorio Gon dan Kurapika telah membereskan ranjang mereka, tampak bersiap. Kebetulan hari ini adalah hari terakhir mereka mendorong Gerbang Pengujian. Hari sudah pagi saat mereka bersiap didepan gerbang pengujian. Mereka akhirnya diijinkan melepas rompi berat tersebut. Tifa hanya terdiam memandang Gon yang melepas penyangga tangannya, yang tampaknya telah membaik dari cedera akibat ujian Huter terakhir tersebut. Ia berdiri disebelah Zebro, masih dengan mengemut permen.

"Tifa-san, apa kau tidak membantu?"

"Aku akan membantunya jika mereka benar-benar kepayahan," ucap Tifa sambil tersenyum. Buat apa mereka berlatih jika mereka masih membutuhkan tenagaku?

Pintu pertama mulai tergeser sedikir. Tifa mengangkat alisnya. Aku tahu mereka pasti dapat melakukannya tanpaku, batinnya dengan anggukan kecil.

"Leorio, keluarkan semua tenaga yang kau punyaaaa!" Kurapika berteriak dengan suara tertahan.

"Aku sedang berusaha!"

Ketiganya masih mendorong. Pintu masih belum terbuka sepenuhnya. Bertepatan dengan itu terdengar suara benda berat bergeser, dan Tifa melihat keduanya berhasil membuka pintu tersebut. Gon terlempar jatuh ke tanah. Tifa mengemut permennya dalam-dalam dan dilihatnya pintu tersebut.

Hening sesaat. Saat itu Zebro memandangnya bingung, heran kenapa ia masih berdiri di sebelahnya

"Tifa-neee, apa kau tak berniat masuk ke dalam?" teriakkan suara Gon membuyarkan lamunannya.

Shimattaa (sial), Tifa melangkah cepat. Ia terlalu kagum atas keberhasilan ketiga remaja tersebut mendorong pintu 2 ton hanya dengan kekuatan fisik saja sampai ia lupa tujuannya datang kesana adalah untuk menemani Gon. Saat itu Tifa melangkah, mengambil tas Leorio dan Gon, lalu membuka pintu kelima pintu tersebut tanpa kesulitan berarti.

"Kalian melupakan ini," ucap Tifa melemparkan dua tas tersebut pada pemiliknya. Ketiga pria tersebut memandang kaget sosok gadis setinggi 160 cm yang kini menahan salah satu pintu kelima gerbang pengujian tanpa kesulitan.

"Kauuuuu..." Leorio memandang Tifa dengan vena mengeras di pelipisnya.

"Apa?"

"Kalau kau bisa membuka 5 pintu tersebut tanpa susah payah kenapa kau tak membantu kami sejak pertama kali kita kesini, bodooooooh!" Leorio melotot dengan wajah gahar.

Sementara itu Gon dan Kurapika hanya bisa tertawa memandangi kedua sosok yang kini kejar-kejaran dengan Leorio sebagai pengejar dan Tifa sebagai yang dikejar.

Keempatnya berjalan menuju jalan setapak seperti yang diberitahukan Zebro. Sepanjang jalan Leorio masih menaruh kesal pada Tifa, mendumal sepanjang jalan. Saat hari mulai siang, mereka sampai di sebua gerbang kecil yang tak begitu terawat dan banyak ditutupi tanaman liar. Seorang gadis kecil berpakaian tuxedo ala pelayan dengan sebuah tongkat dan kristal diatasnya memandang mereka dengan dingin.

"Silahkan pergi," ucapnya pelan. "Anda memasuki kawasan wilayah pribadi. Saya tidak dapat membiarkan kalian utuk masuk tanpa izin."

"Kami sudah hampir sampai," Gon berjalan maju mendekati. "Lagipula kami masuk kesini melalui gerbang pengujian."

"Kepala pelayan tidak memberikan izin untuk masuk."

"Jadi apa yang perlu kita lakukan supaya kami mendapat izin? Aku bilang aku adalah teman Killua, tapi mereka tidak mau memberikanku izin untuk masuk," sahut Gon jujur.

"Tidak tahu," ucapnya. Aku melongo. "Karena tidak akan pernah ada orang meminta izin."

Tifa terjengkang.

"Jadi, kita harus masuk tanpa izin?"

Gon tepat sasaran.

"Saya rasa begitu."

Tifa terjengkang untuk yang kedua kalinya.

"Bagaimanapun," ia memuat garis dengan tongkat yang dibawanya diatas tanah. "Jika kalian melewati ini, maka saya akan menolak anda dengan paksa."

Wohooo, Tifa berdecak. Aku bisa saja menghancurkan kepalamu dengan sebuah kerikil dan nen, nak, batinnya sembari mengemut permennya dalam-dalam. Ketiga dari mereka bersiap, tapi Gon memberi isyarat : serahkan-saja-padaku, dan seketika mereka terdiam. Ia berjalan maju, mendekati. Saat langkahnya menginjak garis, sebuah tinju dari ujung tongkat berbentuk bola kristal tersebut menghantam wajah Gon, membuatnya terpental. Kurapika dan Leorio sontak bersiap dalam posisi menyerang, meski Tifa tetap tidak bergeming.

"Kurapika, Leorio! Jangan mengganggu," ia beranjak dengan tertatih. "Biarkan aku menangani hal ini."

Kurapika dan Leorio kaget. Tifa memandang Kurapika yang kebetulan saling adu pandang, dan Tifa mengangguk, seolah memberi isyarat : serahkan-saja-padanya. Saat itu keduanya pun kembali dalam posisi normal, lalu terdiam.

Dan seperti yang Tifa duga, pemukulan terhadap Gon terjadi secara berulang. Ia tahu Gon adalah anak yang keras kepala, tapi kegigihannya lah yang membuat ia salut. Mungkin jika ia diposisi Gon, ia pun akan membiarkan dirinya habis babak belur demi seorang teman. Menemukan seorang teman tidaklah mudah, meski pertemuan Gon dan Killua tak begitu lama, tapi ketulusan hati Gon adalah sesuatu yang patut dihargai.

Ia hanya ingin mengunjungi temannya.

Ia menghela nafas. Saat ia merogoh sakunya, permen lolipopnya habis. Ia mendecak kesal. Sejak tadi ia tahu, bahwa ada sesorang yang mengawasi mereka. Ia meletakkan tasnya di tanah.

"Kurapika, aku titip tas."

Seketika sepersekian detik, sosok Tifa menghilang. Kurapika merasakan kelebatan angin karena kecepatan tubuh berambut indigo tersebut, dan ia hanya bisa kaget.

Meanwhile...

"Berhenti mengintip, anak kecil..." suara dingin Tifa menggetarkan kuduk. Seorang gadis bermata burgundy menoleh kebelakang, dan dilihatnya gadis yang tadi bersama ketiga orang yang ia awasi kini tengah mengacungkan sebuah jarum nen panjang tepat di tengkuknya. Gadis itu memiliki iris merah darah dengan rambut hitam kebiruan, tersenyum dingin. Senyum mengerikan itu persis senyum dingin Killua. Ia bahkan tak mampu bergerak. Auranya membuat lututnya bergetar.

"Aku bukanlah manipulator jadi aku akan langsung saja mengancammu," Tifa tersenyum, "jangan membuatku marah. Jawab saja. Dimana Killua sekarang."

"I-ia dihukum di sel bawah tanah..."

Tifa menghantam tengkuk gadis kecil itu dengan 20 persen dari nen miliknya. Ia tahu dengan siapa ia berhadapan. Seorang Zoldyck mampu bertahan hanya dengan serangan biasa, jadi ia butuh tenaga ekstra. Gadis kecil itu ambruk, dan Tifa merogoh-rogoh yukata yang dikenakannya, mencari ponselnya. Ia melangkah meninggalkan sosok kecil tersebut setelah mendapatkan ponselnya, mencari-cari nomor kontak Killua, berniat menelponnya. Siapapun yang mengangkat, yang penting ia butuh akses langsung ke keluarga besar.

Di Kediaman Zoldyck

"Kau masih tidak mau menyesali perbuatanmu Killu?"

Pria kecil berambut putih itu terdiam, seolah tak peduli apapun yang kakaknya lakukan padanya. Milluki menggeretukkan giginya, dan mencambuknya lagi. Kali ini terdengar lebih keras, tapi Killua sudah mati rasa. Saat itu telpon disakunya berdering, dan Milluki mengangkatnya.

"Halo, ada apa Kalluto?"

"Hey, aku Tifa..."

Killua mengangkat kepalanya kaget saat mendengar suara dari telpon tersebut.

"Siapa kau?"

"Hah, ini bukan Killua ya?" Tifa terdiam sejenak, memandang sebuah mansion besar di hadapannya yang bisa ia yakini adalah kediaman utama Zoldyck, "lalu ini siapa?"

"Aku Milluki, kakaknya!"

"Hah? Kenapa ponsel Killua ada padamu? Baiklah, serahkan ponsel itu padanya."

"Kenapa aku harus melakukannya?" katanya dengan suara marah. Tifa mendesah, "berikan saja, Milluki-san. Aku berada di depan rumah kalian."

Baik Milluki dan Killua, keduanya terkesiap kaget. Bagaimana ia bisa sampai di kediaman Zoldyck, menggunakan ponsel Kaluto dan menghubungi mereka?

"Tidak. Lagipula kau tak akan kembali hidup-hidup andaipun kau berhasil masuk," ucap Milluki dengan nada meremehkan.

"Milluki-san," sebuah urat emosi muncul di pelipis, sementara sebuah bola aura di tangan kanannya kini telah muncul, dan dilemparkannya sembarang ke salah satu sisi gunung Kukuroo. Sebuah suara ledakan terdengar, "Kau dengar suara itu? Milluki-san, itu yang akan kulakukan pada rumahmu jika kau tidak segera memberikan ponsel itu padanya."

Becanda, batin Tifa. Aku menghargai kalian kok, katanya dalam hati.

"Milluki, serahkan ponsel itu padaku," ucap Killua pelan setelah ia mendengar sebuah ledakan pelan dari gunung Kukuroo.

"Tidak, aku tak akan memberikannya! Lagipula kau masih dalam masa hukuman!" Milluki mengerutkan alisnya tak suka, "Dengar Tifa, siapapun kau, aku akan mendatangimu dan teman-temanmu, lalu membunuhmu."

Rantai yang mengekang tangan kiri Killua putus dengan tiba-tiba, dan senyum menakutkan Killua muncul.

"Milluki," ucapnya pelan. "Kalau kau berani menyentuh mereka...kubunuh kau."

Milluki merasa kuduknya berdiri. Dengan perlahan, ia mendekatkan ponsel itu pada telinga Killua.

"Tifa," suara Killua terdengar, dan Tifa tersenyum, "ini aku Killua."

"Kupastikan ini bukan rekaman," Tifa tersenyum, "bisakah kau beritahu dimana posisimu? Kalluto hanya bilang kau berada di sel, dan tampaknya rumahmu luas, aku akan kesulitan tanpa petunjuk arah."

Killua menjelaskan dengan gamblang. Meski Tifa sejujurnya masih setengah tak paham, ia tak mau membuat Killua lebih lama lagi berbicara. Segera setelah ponsel tertutup, Tifa yang semula berada di atas pohon kini meloncat turun.

Sementara itu, di sel tempat Killua berada, seorang kakek tua mengentuk pintu tersebut dan beranjak masuk. Ia mengenakan pakaian aneh berwarna ungu dengan sebuah tulisan di pakaiannya 'membunuh satu orang tiap hari' dengan rambut putih dan celana panjang.

"Killua, kau boleh pergi sekarang," ucapnya pada Killua.

"Tapi, kakek Zeno..." Milluki kebingungan.

"Baik," Killua melepas rantai yang membelenggu tangan kiri dan kakinya, kemudian melengos dengan santai.

"Hah, capeknya..." ia berjalan pelan. "Aniki, aku tak menyesal, tapi aku tahu itu salah, jadi aku biarkan kau menyiksaku."

"Kil," Zeno memandang cucunya yang ketiga, "Silva ingin menemuimu."

"Ayah?" Killua terdiam sejenak saat membuka gerbang. "Baiklah."

~oOo~

.

.

Tifa menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung. Kediaman utama Zoldyck benar-benar membuatnya merasa seperti memasuki maze. Berdasarkan penjelasan Killua, setelah ia masuk, ia harus belok ke kanan, lalu pada belokan kedua di sebelah kiri, kemudian turuni tangga, kemudian belok lagi ke kanan, pada pintu besi keempat di sebelah kanan, lalu selanjutnya ia lupa. Ia benar –benar stuck pada petunjuk terakhir. Saat itu ia mendengar gema langkah seseorang. Saat itu muncul sesosok pria berambut hitam yang kilaunya berhasil mengalahkan kilau rambut Tifa, melempar delapan pakunya dengan cepat yang dengan satu kibasan tangan Tifa berhasilkan dialihkan ke kiri.

"Yah, kukira aku memang tak akan pernah melawanmu," ucapnya dengan ekspresi yang sangat kosong.

"Ah, si muka-boneka," Tifa memutar bola matanya.

"Bagaimana kau bisa masuk kemari?"

"Panjang ceritanya," kata Tifa, sementara berjalan disebelah Illumi yang juga berjalan ke arah yang sama, "aku kesini untuk menjemput Killua."

"Aku tahu," ucap Illumi, "kau cukup tak sopan sebagai seorang tamu."

"Ha, tak sopan? Gon dan yang lainnya sudah meminta ijin pada kepala pelayan berengsek itu, tapi ia bahkan tak peduli! Bahkan kami harus berlatih demi membuka gerbang pengujian itu demi harapan agar Zoldyck menerima kedatangan tamu!" ucapnya dengan nada tinggi.

"Aku yakin bisa membukanya hingga pintu ke tujuh."

"Mha, mereka tak tahu siapa aku sebenarnya secara rinci."

"Hmmm..." hanya itu respon yang ia berikan pada Tifa. Mukanya masih tampak kosong, "Killua sedang menemui ayah."

"Jadi, dia sudah keluar dari sel-nya?"

Illumi hanya mengangguk. Kepala Tifa menunduk pasrah.

Sebuah suara pintu besi dibuka terdengar. Zeno Zoldyck, pria tua yang mungkin berusia sekitar 60-an keluar dari sebuah ruangan yang bisa Tifa duga sebagai ruang penyiksaan.

"Illumi, kau dengar suara dentuman tadi?" Zeno memandang Illumi, lalu pandangannya jatuh pada Tifa. "Dan siapa dia?"

"Tiffany, salam kenal," Tifa membungkuk dengan senyum lebar. Zeno jii-chan hanya memandang gadis itu dengan

"Tampaknya dia yang membuat suara dentuman tadi, Zeno-jii," Illumi menunjuk Tifa dengan wajah expressionless miliknya, dan entah kenapa, itu malah membuat Tifa jadi gemas.

"Ada perlu apa kau menemui kami?" Zeno memandang Tifa.

"Aku...mencari Killua. Gon, aku dan yang lainnya ingin menemuinya..."

"Ah, jadi kau dengan mereka. Ia sedang bicara dengan ayahnya, sebaiknya kau menunggu saja. Kuantarkan kau ke ruang tunggu," Zeno mengangguk. Pandangannya tampak penuh arti pada Tifa, lalu kemudian pada Illumi. Tifa menangkap pandangan aneh yang tampaknya penuh arti tersebut.

"Tifa-san."

"Panggil saja Tifa, Zeno-san," katanya dengan suara merendah.

"Berapa usiamu?" tanyanya. Tifa mengernyit. Kenapa ia menanyakan usiaku? Batin Tifa dengan wajah keki. Ia sudah sebal jika ditanya perihal usia, pasangan dan perihal...dada besarnya.

"Tahun ini 28 tahun, Zeno-san..."

"Ah rupanya kau lebih tua tiga tahun dari Illumi," ia memandang Tifa lekat-lekat.

Oh fuuuuucccck, Tifa ingin menggaruk garuk dinding sekarang juga. Kenapa sekarang ia dibanding-bandingkan dengan si muka boneka? Tifa ingin segera kabur dari suasana aneh yang diciptakan oleh kakek Zoldyck ini!

Illumi dan Zeno-jii berjalan lebih dulu darinya. Ia memandang rambut panjang Illumi yang berkilau, dan itu membuatnya iri. Tanpa sadar, Tifa memegang ujung rambut yang membingkai wajahnya, lalu berdecih. Rambutnya kalah dari rambut seorang pria.

Tifa dipersilahkan duduk si sebuah ruangan yang mewah, dan segelas teh dengan aneka cemilan disajikan. Bisa dikatakan ruang tunggu yang kakek tersebut maksud sebenarnya adalah ruang tamu, tapi berhubung mereka memang tidak pernah menerima tamu, jadi tentu saja kata ruang tamu terasa aneh mungkin untuk dikatakan.

Saat itu, Zeno dan Illumi menemaninya di ruang tersebut.

"Apa kau sudah punya kekasih, Tifa?"

"Aku belum pernah memikirkan hubungan seperti itu..." Tifa menggaruk-garuk kepalanya. Ada apa sih dengan Zeno Zoldyck ini? Stop menanyakan hal-hal seperti ini...

"Illumi, apa menurutmu Tifa cukup cantik untuk dijadikan istrimu?"

Tifa terjengkang sejadi-jadinya.

Illumi memandang wajah Tifa. Mata hitamnya yang biasanya selalu terkesan menghisap kesan positif orang terhadapnya tampak lain saat ia melihat wajah Tifa. Tifa berpura-pura cuek. Saat itu Illumi benar-benar bisa menikmati pemandangan jarang seperti ini. Bibirnya yang berwarna pink, lalu iris matanya yang semerah darah, rambutnya yang sedikit kebiruan, serta bola matanya yang jernih. Kulitnya memang putih bagai porselen dan kontras dengan rambutnya, namun tampak serasi dengan figur wajah ovalnya. Sejujurnya ia penasaran dengan wajah Tifa saat rambutnya tergerai, tapi bayangan itu hanya dalam imajinasinya saja.

"Illumi?"

"Ia cantik."

Blush.

Pipi Tifa merona. Dilihatnya ekspresi Illumi, masih sama, kosong. Namun tetap saja, perkataan manusia tanpa ekspresi itu membuat pipinya cukup memanas. Cukup sudah, cukup sudah. Hentikan pembicaraan ini. Wajah boneka Illumi tampak memandangnya lalu menudingnya dengan telunjuk, "ia lebih cantik saat merona begini."

Jujur saja, sikap to the point Illumi dengan wajah kosongnya saat mengatakan kalimat tersebut membuat Tifa bingung : apa ia harus tertawa keras atau tersipu malu. Wajah dan perkataannya sangat to the point itu membuat ia ingin ngakak sekeras-kerasnya, tapi kalimat yang ia katakan juga membuat pipinya memanas. Meski ia adalah seorang pembunuh, bagaimanapun, ia tetap wanita, seorang gadis polos yang pasti akan tersipu saat seorang pria memujinya.

"Hey nenek tua! Kau disini rupanya!"

"Berhenti panggil aku nenek tua!" Tifa sontak berdiri. Terima kasih Tuhan, kau menyelamatkanku dari situasi awkward begini, batin Tifa bersyukur dalam hati. Killua mengenakan kaus hitam lengan panjang dengan celana biru keunguan. Wajahnya tampak memar disana-sini – mungkin karena hukumannya tadi – tapi terlepas dari itu semua, ia akhirnya bisa melihat Killua.

"Wah, tak biasanya Zeno-jii menyambut tamu sampai menyediakan makanan sebanyak ini," matanya tampak kaget saat ia melihat Illumi. "Aniki..."

"Yo," sahutnya pelan.

"Tifa-san, aku sudah mendapat izin dari ayah," Killua memandang Tifa dan gadis itu tersenyum lebar. "Ayo kita pergi."

Keduanya berjalan melewati lorong lorong gelap yang berhasil membuat Tifa kebingungan, sementara Killua masih dalam posisi kerennya, menyakui kedua tangannya di saku dengan tenang. Kulihat memar-memar di wajah dan lehernya tampak parah.

"Kali ini siksaan macam apa yang diberikan mereka padamu?" tanya Tifa, sudah hafal dengan kebiasaan keluarga pembunuh yang selalu menyiksa anak-anak mereka sebagai hukuman ataupun sekedar latihan.

"Hanya sedikit pukulan dan cambukan."

"Kau harus merawat lukamu, Killua."

"Bukan masalah besar," ucapnya santai, "aku sudah biasa."

"Aku hanya khawatir," katanya.

"Sejak kapan kau menjadi begitu lembut dan perhatian? Bukankah seorang Fuscienne terkenal kejam?" katanya dengan nada mengejek.

"Berisik," Tifa menyergah.

"Baa-san mulai marah."

"Jangan panggil aku baa-san, Killua!"

"Yah itu karena kau memang tua," ucap Killua dengan muka jahil, "aku heran kenapa kau tampak awet muda, mengingat kau sangat mudah marah-marah. Biasanya kan, orang yang mudah marah itu cepat tua!"

"Killu!" sergah Tifa sambil melotot.

"Hahahaha," ia tertawa kecil.

Tifa merengut. Langkah mereka terhenti saat keduanya sampai di rumah pelayan, dan seorang pria dengan kacamata dan wajah sadis menyambut keduanya, membungkuk sopan.

Sesaat setelah mereka berlalu, Gotoh menerima sebuah telepon.

"Gotoh, hati-hati dengan gadis berambut indigo tersebut. Ia tidak bisa dianggap remeh. Pastikan Killua aman bersamanya," sebuah suara wanita terdengar.

Sementara itu kami berdua masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas dan terang. Ada tumpukan kotak berbentuk robot, seperting kotak snack. Tifa mengangkat kotak tersebut, lalu menggoyangkannya. Seketika ia tahu, bahwa kotak itu adalah kotak makanan.

"Choco Roboooo!" seru Killua, menghempaskan tubuhnya di sofa, menyambar kotak tersebut dan membukanya. Tifa melongo, duduk di kursi sebrangnya.

"Kalau kau mau ambil saja, Tifa-san!"

"Bagaimana kalau kau panggil aku Tifa saja?" kata Tifa, merasa kupingnya agak risih dipanggil dengan embel-embel '-san' dibelakang namanya.

"Ha, kalau begitu aku mau panggil kau 'baa-san' saja," katanya cuek.

"OY!" Tifa menyergah lalu menggembungkan pipinya dan melipat tangannya kedada, memandang ke arah lain dengan sebal.

"Hahaha, kadang aku masih sangsi kalau usiamu sudah hampir kepala 3, mengingat sikapmu masih seperti anak kecil, Tifa-san," katanya sembari memainkan bola-bola biskuit coklat dari dalam kotak bergambar robot tersebut.

"Yah, seharusnya aku mengaku kepadamu kalau usiaku masih 15 atau 16 tahun mungkin," kata Tifa sembari mengambil sebuah kotak makanan kesukaan Killua. .

"Mungkin aku akan percaya kalau kau mengatakan begitu sejak awal kita bertemu di ujian Hunter, Tifa-san,"

"Tetap saja, itu tidak menutup kenyataan kalau aku sudah melampaui usia seperempat abad," kata Tifa sembari mengunyah, sementara itu seorang pelayan masuk dan menyediakan teh.

"Dengan penyakit Quarter Life Crysis," timpalnya.

"Appaa kau bilang?" Tifa melotot, tidak terima kalau ia dianggap mengalami penyakit Quarter Life Crysis. Itu lho, penyakit kejiwaan yang sering menerpa wanita usia diatas 25 tahun saat mereka punya karir sukses, namun buruk dalam kisah percintaan. Tifa tentu saja sewot, sebab kenyataannya bahwa ia memang tak laku, tapi ia tak merasa mengalami krisis mental mengenai kekhawatirannya tentang jodoh. Ia bahkan tak yakin kalau ada pria yang mau dengannya jika ia menceritakan dirinya secara jujur.

"Aku tak salah kan?"

"Terserah," Tifa berdecih, meminum tehnya.

Killua tertawa kecil. Ia merebahkan tubuhnya di sofa sembari menggoyang-goyangkan kakinya. Tifa menyilangkan kedua kakinya dengan tangan terlipat ke dada, memejamkan mata. Detakan bunyi jam mulai terdengar karena kesunyian yang dibuat oleh mereka. Ia menghela nafas, lalu mengambil kotak Choco Robo yang lain. Ia tersenyum melihat bentuk kotak biskuit yang sangat kekanak-kanakkan sekali itu, lalu membukanya.

"Kenapa lama sekali ya," ucap Killua, lalu bangkit. Tifa memandang Killua yang berjalan membuka pintu ruangan, celingukan sembari memanggil-manggil nama Gotoh. Tifa mengaktifkan En miliknya, memeriksa barangkali ketiga orang yang ia tunggu sudah datang. Tiba-tiba ia bangkit, lalu menepuk bahu Killua.

"Ayo turun. Gon dan yang lainnya sudah dibawah," katanya.

"Bagaimana kau tahu?"

"Cerewet. Ikut saja," Tifa melotot. Killua mengangguk, lalu mengambil beberapa kotak Choco Robonya kedalam tas, lalu menyandang tasnya. Keduanya menuruni tangga, lalu melangkah menuju ruang utama. Saat itu dilihatnya beberapa pelayan dan Gotoh tampak berdiri.

"Gotoh, apa Gon sudah datang?"

"Killua! Tifa-nee!" Gon memandang keduanya dengan antusias

"Gon!" mata Killua membesar melihat teman akrabnya telah menunggunya.

"Sejak kapan kau disini?" tanyanya, lalu memandang Kurapika. "Dan kalau kau tidak salah, Kurapika?"

"Numpang lewat?"

Ia menuding Leorio, "Liorio?"

"LEORIOOOO!" Sentak Leorio dengan urat pelipisnya menyembul.

"Sudah cukup lama ya? Kalian datang juga. Kau kenapa? Wah wajahmu ancur!" Killua memandang Gon yang tampak memar disana-sini.

"Kau juga!" ucap Gon memandang Killua.

Tifa tertegun memandang wajah Gon, yang ia jamin pasti lebam karena dihantam berkali-kali dengan tongkat kristal yang dibawa pelayan muda tadi yang melarang mereka masuk.

Ah, dia juga ada disini, batin Tifa mengerling ke arah Canary.

Setelah sedikit ultimatum dari Killua pada Gotoh, mereka berlima pergi dengan selamat dari kediaman Zoldyck. Kelimanya menaiki kereta menuju bandara. Saat itu Killua kaget mendengar Gon menggunakan visa turis ke Padokea, dan menanyakan mengenai Lisensi Hunternya, mengingat Lisensi Hunter itu bisa digunakan sebagai karcis, visa serta berbagai keperluan lainnya, namun Gon bilang, ia tak akan menggunakan Lisensi itu sampai ia berhasil meninju Hisoka tepat di wajahnya.

"He, tampaknya dugaanku benar," ucap Tifa sembari mengelus dagunya.

"Ha, apa maksud Tifa-nee?"

"Aku melihat saat kau mendapat pukulan Hisoka tepat di wajahmu," Tifa menggaruk-garuk kepalanya, "hanya saja aku tak berniat menolongmu karena kupikir, kau pasti marah padaku jika aku menolongku..."

"Lalu kenapa kau tak menolongnya saat itu heeeeeh?" Leorio mencekik Tifa sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya.

"Lepaskan!" Tifa memukul tangan Leorio pelan, lalu memandang Gon. "Kembali ke topik. Bicara soal melawan Hisoka, kau tahu dimana ia berada?"

Gon terkesiap, lalu memberikan senyuman tanpa dosanya. Tifa memandang Gon sebal. Ia sudah tahu kalau anak ini bisa jadi sangat bodoh, terkadang.

"Aku tahu dimana dia, Gon..." ucap Kurapika pelan.

Keempatnya tersentak. Kurapika mengangguk. Saat itu ia menjelaskan bahwa Hisoka mengatakan mengenai pembicaraannya dengan Hisoka setelah ujian tahap kelima, mengatakan bahwa Hisoka akan menemuinya di York Shin, memberitahukannya tentang Genei Ryodan, sebuah grup bandit dan pembunuh yang telah membantai suku Kuruta, suku darimana Kurapika berasal. Saat itu Leorio mengatakan bahwa di York Shin, tepat pada tanggal 1 September, ada pelelangan besar-besaran, dan kemungkinan bahwa Genei Ryodan pasti tak akan melewatkan kesempatan tersebut. Bagaimanapun, mereka tetaplah pencuri.

"Tapi, Gon, tetap saja mengalahkan Hisoka bukanlah hal mudah," Tifa memberitahu, "kau butuh latihan keras untuk itu. Ia terlahir sebagai pembunuh, juga petarung sejati."

"Sejujurnya aku tak berniat mengalahkannya," Gon memandang Tifa, "aku harus mengembalikan plate miliknya jika aku berhasil meninjunya di wajah, itu saja!"

"Yah, aku hanya memberitahumu berdasarkan pengalamanku saat bertarung dengannya," Tifa mengangkat bahu, "ia punya sedikit kelainan mental, ambisi yang tinggi untuk menjadi yang terkuat, dan cenderung menikmati segala pertandingan. Mungkin selama ia bertarung, baru aku yang bisa mengalahkannya..."

"Kau pernah bertarung dengannya?" keempat laki-laki disekitarnya melotot.

"He, ya pernah! Bukankah tadi aku bilang ia selalu ingin jadi yang terkuat dengan menantang orang yang kuat?"

"Dan kau mengalahkannya?" Killua melotot.

"Mungkin 15 tulang di tubuhnya patah, kalau aku tak salah," Tifa mengawang, "aku tak begitu ingat, itu sudah terjadi 10-11 tahun yang lalu."

"Pantas saja kau tak terlihat takut saat melihatnya..." Kurapika tertegun. "Kau pasti seorang petarung yang luar biasa, Tifa-san."

"Che, aku hanyalah seorang mantan pembunuh..." Tifa memandang keluar jendela, "bertarung adalah salah satu bentuk dari latihan. Tak lebih."

"Sugoi naaa, Tifa-nee..." Gon menggenggam tanganku, "bisakah kau mengajarkanku untuk lebih kuat?"

Tifa melongo, "Ne, Gon. Aku bukanlah guru yang baik."

"Lagipula Gon, aku punya rencana untukmu," Killua memandang Gon. "Kita akan berlatih dengan bertarung juga."

~oOo~


Bagaimana, bagaimana? Selanjutnya, Arena Surga, Kawaaaan~!

R n R minna~?