High heels
kaihun
Humor/Romance
warning for easily plot, yaoi, typo(s), etc.
.
.
.
"Annyeonghaseyo, Park Chanyeol imnida!"
Luhan mengangkat kepalanya yang terasa sangat berat yang sedari tadi ia tenggelamkan di di antara kedua tangannya yang dilipat di atas mejanya. Bukan. Bukan karena penasaran ataupun menghormati murid baru yang tingginya di atas rata rata itu, namun suara teman teman di kelasnyalah yang membuatnya tersadar dari istirahatnya.
Luhan memandangi siswa baru yang berada di depan kelasnya sebentar, sebelum pada akhirnya ia kembali menjatuhkan kepalanya di atas tangannya.
"Baiklah, Chanyeol, kau bisa duduk di sebelah Luhan. Oh Luhan, angkat tanganmu!"
Luhan yang masih sedikit tersadar mengangkat tangan kanannya walau kepalanya masih ia tundukkan.
PLETAK!
"Aish..." Luhan mengangkat kepalanya sambil menringis kesakitan. Sebuah spidol mendarat di kepalanya. Luhan sedikit mengumpat ketika mendapati Jung sonsaengnim yang tengah tersenyum penuh kemenangan.
"Silahkan."
Chanyeol membungkuk 90 derajat sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan menuju meja kosong yang berada di sebelah meja Luhan yang terletak di barisan keempat. Senyum yang tak pernah ia lunturkan membuat Luhan merasa pegal sendiri.
"Park Chanyeol imnida." Ugh, masih dengan senyumannya yang benar benar menyilaukan, membuat Luhan sedikit menyipitkan matanya, karena wajah Chanyeol sangat dekat dengan wajahnya.
"Oh Luhan imnida." Luhan tersenyum tipis yang sedikit dipaksakan, lalu kembali menjatuhkan kepalanya, masa bodoh dengan Jung sonsaengnim yang sedang asyik berbicara dengan papan tulis.
Setelahnya Chanyeol tidak mengatakan apapun, dan kembali memperhatikan Jung sonsaengnim. Namun kali ini tidak dengan senyuman, oh, lebih tepatnya cengiran bodohnya.
.
.
.
Untuk kesekian kalinya, Sehun mengernyitkan dahinya setiap membaca ulang soal pertama yang berada di hadapannya. Ulangan dadakan di mata pelajaran favoritnya, matematika. Namun kali ini ia merasa begitu kesulitan, bahkan hanya untuk membaca angka angkanya. Angka angka yang juga disertakan huruf huruf seakan tengah menari nari di atas kertasnya. Tidak, tidak ada hubungannya dengan dirinya yang tidak belajar semalam, tetapi, bayangan bayangan high heelslah yang kini memenuhi pikirannya, dan tidak memberi celah sedikitpun untuk menuntaskan soal soal yang berderet dengan angkuhnya di atas lembaran keramat itu.
Entah apa yang Sehun pikirkan, ia mengalihkan pandangannya ke sebuah meja yang berada di seberangnya, dan menemukan sosok Jongin yang tengah menutup kedua matanya. Pasti sudah selesai, pikirnya.
Sehun kembali menatap miris kertas ujiannya yang masih bersih tanpa noda. Baru kali ini ia merutuki kecerobohannya. Ia benar benar tak mau berurusan dengan nilai matematikanya ataupun dengan Jongin, pemuda yang tempo hari ia celakai dengan lemparan konyolnya, dan sekarang ia berurusan dengan sebuah high heels yang menjadi faktor utama dari keduanya. Ini lebih buruk dari setetes kecap asin.
Waktu ujian sudah habis, dan Sehun benar benar mengumpulkan kertasnya yang masih kosong. Tanpa menunggu Song sonsangnim menutup pelajaran, Sehun sudah berlari keluar kelas menuju koridor lantai dua, tempat dirinya memulai masalah masalah konyolnya.
Sehun memperlambat langkahnya ketika ia sudah menginjakkan kakinya di sana. Ia melewati koridor itu berulang ulang, namun matanya tak sedikitpun menangkap sebuah high heels. Keringat sudah menetes deras di pelipisnya. Sejak kapan musim semi terasa sangat panas?
Sehun membalikkan badanya untuk kesekian kalinya, dan mempertajam matanya. Kali ini langkahnya lebih lambat, berusaha untuk lebih teliti lagi dan tidak ceroboh. Pikiran pikiran negative tentang High heels yang sudah dibuang mulai merambat di kepalanya. Gelisah, tentu saja. Eh? Lalu bagaimana dengan Jongin, yang tempo hari ia celakai dengan high heelsnya―
Bruk!
Byur!
Setelah Sehun terjatuh menimpa lantai yang licin, Sehun dapat merasakan sebuah cairan yang dingin yang merambat di area sepatu dan celana sekolahnya. Wewangian khas pewangi lantai perlahan menusuk indra penciumannya. Entah sejak kapan ember pel itu dibiarkan begitu saja di koridor dan membiarkannya mencelakai Oh Sehun yang selalu ceroboh.
"HYAA! Celana dan sepatuku basah!" Sehun segera berdiri lalu memelototi sepatu dan celananya yang setengah basah. Kedua alisnya bertautan, mengapa ia bisa seceroboh ini? Kedua tangannya meraba jas biru tuanya mencari saputangannya yang berwarna biru langit. Tetapi ia kembali memasang wajah datarnya pasrah, ketika mengingat saputangannya ia tinggalkan di kelas.
Sehun membalikkan badannya, meninggalkan jejak di setiap langkahnya. Masa bodoh dengan hukuman atau mencelakai orang lain, salahkan OB yang sembarangan meninggalkan ember pel di koridor lantai dua ini. High heels, uang jajan, celana basah, matematika―apa lagi yang kurang? Kembali ke kelas tanpa membawa apa yang diharapkan, dan malah mempermalukan dirinya sendiri.
Bruk!
Suara debuman keras menghentikan langkah Sehun. Perlahan, Sehun menoleh ke belakang. Dan matanya terbuka sempurna ketika mendapati seorang pemuda yang sedang tersungkur dengan sangat tidak elit di tempatnya terjatuh sebelumnya. Sehun sedikit meringis melihatnya, lalu kembali berjalan hati hati agar tidak terlihat. Intinya, ia tak mau masalahnya bertambah hari ini.
.
.
.
Tok tok tok...
Cklek...
Tanpa diberi perintah Sehun sudah membuka pintu kelasnya. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Kim Sonsaengnim―guru sejarahnya yang mengerikan tengah berdiri di depan kelas kini menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Pandangannya beralih ke celana Sehun yang setengah basah, lalu kembali menatap Sehun.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa celanamu basah?" tanya Mr. Kim sambil berjalan mendekati Sehun yang masih dengan wajah ketakutannya.
"A-Ah, itu..." Sehun menghentikan ucapannya, mencari alasan yang masuk akal karena ia tak mungkin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, ini benar benar memalukan.
Tatapan Mr. Kim semakin menjadi jadi, membuat Sehun sedikit memundurkan wajahnya.
"Tadi...saya ter―"
"Hhh... apa pelajarannya sudah dimulai?"
Sehun dan Mr. Kim menoleh kebelakang, dan mendapati sosok Jongin yang membungkuk sambil memegangi kedua lututnya. Nafasnya terdengar terengah engah, seiring dengan gerakan tubuhnya yang naik turun. Namun bukan itu yang membuat Sehun terkejut, melainkan celana Jongin yang juga basah, dengan aroma pewangi lantai yang ikut menyertai.
Pandangan Mr. Kim beralih ke celana Jongin, lalu mengernyitkan dahinya.
"Jongin, ada apa dengan celanamu?" Jongin memandangi celananya, lalu wajahnya kembali terangkat.
"Seseorang membiarkan air pel yang berceceran." Jongin melirik Sehun. Meskipun lirikannya tidak bersifat menuduh, Sehun dapat merasakan aura gelap dari diri Jongin.
Sehun mengangkat tangannya ragu, "B-bolehkah kami masuk?"
Mr. Kim tampak berpikir. Tak lama, ia kembali menatap Sehun dan Jongin secara bergantian. "Pertama, kalian tidak bisa mengikuti kelasku dalam keadaan basah, dan kedua, tidak ada yang bisa masuk ke kelasku meskipun hanya terlambat satu detik. Dan kalian sudah tahu hukumannya kan?"
Tentu saja, karena anda sangat terkenal dengan hukuman mencabuti rumput di halaman belakang sekolah dengan tangan kosong, setidaknya itulah yang berada dalam pikiran Sehun dan Jongin.
.
.
.
Suara desiran angin memenuhi indra pendengaran seorang pemuda berkulit Tan yang tengah berbaring di atas rumput. Surai hitamnya tampak bernari di atas kepalanya, hampir menutupi sebagian matanya. namun pemuda itu hanya tersenyum sambil menutup matanya sebagai respon. Ya, memang tertidur di atas rerumputan di tengah desiran angin sangat menyenangkan, namun, yang membuatnya tersenyum bukanlah hal itu, namun tak lain seorang namja yang sedari tadi sibuk mencabuti rumput sambil sesekali mengumpat, dan diakhiri dengan mendengus kesal.
"Hey, Jongin! apa yang kau lakukan? Malah tersenyum senyum sendiri seperti orang gila!" Sehun menoleh ke arah Jongin. Tangannya masih sibuk mencabuti rumput.
Sehun mendecih kesal, lalu merangkak mendekati Jongin. Lebih tepatnya, telinga Jongin.
"HITAM!"
Dan teriakan itu sukses membuat Jongin terbangun dan menatap horror wajah Sehun yang tersenyum penuh kemenangan.
"Mengapa harus aku? Kau kan yang menjatuhkan airnya." Jongin meraba rumputnya sebentar, lalu kembali membaringkan tubuhnya di atas rerumputan dan menatap langit.
Untuk kesekian kalinya Sehun mendecih kesal. Dengan brutal, ia mencabuti rumput rumput yang berada di depannya, dan berharap ada beberapa serangga yang menempel di rumput rumput itu. Jongin tersenyum melihat perlakuan Sehun melalui ekor matanya, tanpa mengetahui niat Sehun melakukannya. Dan dengan begitu, Jongin kembali menutup kedua bola matanya dengan damai.
Puk.
Jongin kembali membuka kedua matanya ketika wajahnya merasakan sebuah benda yang terjatuh di atas wajahnya. Dan yang benar saja, ia mendapati setumpuk rumput yang dilengkapi oleh tanah dan beberapa ekor semut yang siap menggigitnya kapan saja, kalau saja ia tak cepat cepat menyingkirkan mereka dari hadapannya.
Jongin menoleh ke kanan, hendak memberinya protes. Namun ia segera mengurungkan niatnya ketika melihat wajah damai Sehun yang sudah menutup kedua matanya menghadap cerahnya biru langit. Ingatannya kembali pada ujian dadakan tadi siang. Entah apa yang ia lakukan selama ujian tadi, kertasnya benar benar kosong. High heels dan pemuda yang kini berada di hadapannya sudah jelas jelas memenuhi pikirannya, tanpa memberi celah sedikitpun pada soal soal ujian itu.
Sehun menoleh ke kiri, lalu membuka matanya dan mendapati Jongin yang terdiam menatapnya. Sehun hendak berbalik lagi untuk mengalihkan tatapannya, namun lagi lagi, tatapan Jongin mengunci semua pergerakan Sehun, termasuk pikirannya.
Tatapan mereka menjadi semakin dalam, seiring berjalannya waktu. Desiran angin, tempat, bahkan bunyi bel pulang sekolah tak mereka dengar dan rasakan, seakan indra mereka tak berfungsi lagi, terkecuali penglihatan.
Perlahan tapi pasti, Jongin memajukan wajahnya mendekati wajah Sehun yang hanya terdiam memperhatikan wajah Jongin yang semakin lama semakin mendekat. Kedua detakan jantung semakin berdetak tak normal saling beradu cepat, di tengah keheningan dan ketidaksadaran. Tak lama, Sehun dapat merasakan sebuah benda kenyal yang menyentuh permukaan bibirnya lembut.
Hangat. Itulah yang sekarang Sehun rasakan. Jujur saja, ia merasa kaget, meskipun ia harus mengakui bahwa sentuhan Jongin membuat dirinya merasa nyaman. Matanya terus menatap Jongin yang juga masih menatapnya. Dapat dilihat pantulan dirinya pada manik Jongin. Seketika ia merasa bersalah karena tidak membereskan air pel tadi. Setelah dirinya dan Jongin, orang sial mana lagi yang akan mendapatkannya?
Perlahan, kedua mata Sehun tertutup, menikmati setiap lumatan lematan kecil yang diberikan Jongin padanya. Di tengah ributnya angin sore, akal sehat mereka benar benar terasa lumpuh pada saat itu.
"YAK! Apa yang kalian lakukan?!"
Sebuah insterupsi mengembalikan akal sehat Sehun dan Jongin dalam seketika. Jongin segera melepaskan lumatannya, membuat sebuah benang saliva yang masih menyambung dengan bibir tipis Sehun. Kini wajah mereka memanas setelah mereka baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Sehun lebih dulu bangkit dari tidurnya, lalu berjalan menjauhi Jongin dan entah siapa orang yang datang tiba tiba itu, dengan wajah yang ia tundukkan. Tadi tadi, jujur saja, ciuman pertamanya.
.
.
.
Langit sudah lama menggelap, dan Sehun masih saja tenggelam dalam pikirannya. Kejadian sore tadi memang sudah membuatnya tidak memikirkan high heels dan matematika lagi, namun wajah Jongin terus menerus menghantui pikirannya. Jika saja menelan kecap asin dapat mengalihkan pikirannya, tentu saja ia akan melakukannya. Yeah dengan tambahan bubble tea sesudahnya.
Cklek.
Sehun menoleh ke sumber suara dengan malas. Dan ia menjadi tambah malas ketika mendapati Luhan yang berdiri di ambang pintu, dan kini berjalan mendekatinya.
"Kau kenal Chanyeol? Park Chanyeol?" Tanya Luhan tanpa basa basi, seperti biasa.
Sehun mengerutkan keningnya. "Chanyeol? Siapa?"
Luhan mengangkat sebelah alisnya. "Kau tidak mengenalinya? Benarkah?" Sehun mengangguk yakin, masih dengan tatapan bingung.
Luhan terkekeh kecil. "Ya, seharusnya aku tahu kau tidak mengenalinya, dia kan anak baru."
"Lalu?" Kini giliran Sehun yang mengangkat sebelah alisnya.
"Selama jam pelajaran ke tiga sampai bel pulang sekolah dibunyikan, ia tak henti hentinya mengatakan," Luhan berdehem, "'kau mirip sekali dengan Sehun, apa kalian bersaudara?' begitulah," Jelasnya setelah berusaha meniru suara Chanyeol itu.
"... Dan?" Sungguh, Sehun masih tidak mengerti, apa yang penting di bicarakan Luhan.
"Dia juga tak henti hentinya membicarakan high heels yang katanya terlempar dari seorang yeoja dan mengenai kepala Kim...Kim Jooin? Jaein? Ah atau apalah itu."
Sehun memantung di tempat. Matanya menatap kosong pada layar handphone yang layarnya sudah menghitam. Ini benar benar tidak bagus untuk dibicarakan, apalagi dengan Luhan.
"Katanya sih, Kim-in itu menyimpan sebelahnya. Hahaha... Seperti kisah klasik Cinderella saja."
Sehun tersedak oleh ludahnya sendiri, setelah mendengar ucapan Luhan barusan. Wajahnya yang pucat menjadi semakin pucat. Detakan jantungnya seakan berhenti. Pikirannya kelut sekali, sehingga tak menyadari akan kepergian Luhan. Bayangan bayangan hitam mulai menerjangnya.
.
High heels.
.
Uang jajan.
.
Matematika.
.
Jongin.
.
.
.
Yeah, sepertinya ia akan segera mengibarkan bendera putih.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N: yak akhirnya selesai juga chapt 3 =_= yah walaupun akhirnya berantakan banget. Grammar ancur, typo dimana mana. haha maaf -_-
oh ya, emang ceritanya mirip Cinderella ya? kwkw XD saya juga pernah berpikir begitu, kan lucu aja kalo Jongin nyariin Sehun XD tapi akhirnya saya buat Jongin ga nyari nyari, karena dia bakal tau sendiri, kan udah saya bilang: Jongin itu jeli, teliti, dan ingatannya kuat XD tapi tenang saja, ide fic ini murni dari otak saya, termasuk alurnya, yeah walaupun alurnya agak pasaran ya -_-
eum... apa chapt ini atau chapt sebelumnya alurnya terlalu cepat? grammar terlalu hancur? atau makin ga asik? mohon reviewnya :)
thanks yang udah review di chapt sebelumnya:
Odult Maniac, suyanq, askasufa, Psychopat, Misyel, jung yeojin, byunpies, shinshin99SM, kireimozaku, indaaaaaahhh, KaiHunnieEXO, YoungChanBiased, DarKid Yehet, kahunxo, Kim Bo Mi, Mr. Jongin albino, DiraLeeXiOh, sehunnoona, sayakanoicinoe, uni. nivilla, daddykaimommysehun, gwansim84,
dan yang menyempatkan diri untuk membaca ff ini :D
thanks.
