Cuap-cuap penulis: Yo, minna-san. Sebelumnya author mau minta maaf, karena sejujurnya author akan berencana merubah pairing jadi KilluaxTifa, is that too absurd, no? (digaplok) memang nggak total, tapi untuk beberapa saat, saya tiba-tiba menemukan ilham dari Gunung Kukuroo untuk merubah pirng dan tiba-tiba saja sebersit full plot story terbentuk dibenak saya. Jangan pada kecewa ya. Nggak usah nangis juga. I know I'm a bad author, tapi yah... every ideas could change.
Beware akan ketidak jelasan chapter ini, mudah-mudahan tidak jijik. (Akan ada sedikit rate M, jadi siap-siap mental)
Sudah dulu, mari kita lanjutkan ke ceritanya
Based on Hunter x Hunter (2011)
Pairing : Tifa (OC) X Illumi (or maybe Killua?), Slight Tifa x Hisoka
Disclaimer: Hanya beberapa plot dalam cerita ini dan Tifa yang merupakan milik saya, selebihnya punya Yoshihiro Togashi.
.
.
.
.
Normal POV
Tifa memandang Celestial Tower. Kepalanya mendongak dengan wajah bodoh. Ini adalah kedua kalinya Tifa menginjakkan kakinya di Celestial Tower saat terakhir kali di usia 17 tahun ia mengikuti Battle Olympia. Saat itu Killua dan Gon antri dengannya mengikuti pertarungan di celestial tower demi mendapat uang dan berlatih untuk lebih kuat.
Saat sampai di loket pendaftaran, setelah mendaftar, Tifa memandang penjaga loket.
"Ne, kapan Battle Olympia di laksanakan?"
"Apakah Tifanny-sama pernah mencapai floor master?"
"Ya," Tifa mengangguk.
"Kalau tidak salah, 31 November tahun ini. Apakah anda akan berpartisipasi?"
Tifa menerawang sejenak, "lihat saja nanti."
Saat ia berjalan, ia mendapat pandangan dari Gon dan Killua.
"Kau sempat jadi floor master?"
"Ya," Tifa mengangguk, "di lantai 250, lalu mengikuti battle olympia, dan pulang untuk mengerjakan misi keluarga. Sangat tidak bertanggung jawab kan?!"
"Sugoooi~" Killua memandang Tifa dengan kagum, "kau pasti sangat hebat dalam bertarung, baa-san."
Tifa tertawa canggung. "Tidak...tidak sehebat itu. Aku petarung berdarah panas, dan seringkali kehilangan kendali saat bertanding. Satu-satunya lawan yang tidak kumutilasi saat bertanding selama aku hidup adalah Hisoka. Dan berhenti memanggilku 'baa-san'!"
Killua tertawa ngakak.
"Dan Tifa-nee melewati floor master?"
"Ya, aku menang dengan dua tulang di tubuhku patah," Tifa tertawa kecil, menggaruk kepalanya, "agak menyesal, kenapa dulu aku tak membunuhnya saja..."
"Tapi, Tifa-nee, kalau Tifa-nee membunuhnya, mungkin aku tak akan pernah punya kesempatan untuk melawannya..." ucap Gon dengan wajah antusiasnya. Tifa tersenyum kecil, mengangguk.
Benar juga, batin Tifa sembari mengacak kepala Gon.
"Tapi aku heran, Tifa-san," Killua berjalan menuruni tangga menuju bangku penonton, "aku heran kenapa kau tidak membunuhnya, padahal kau bisa mengalahkannya."
Ohya, Tifa terdiam sejenak. Sejujurnya ia juga bingung. Mungkin ia tak cukup tega? Yang ia ingat, saat itu ia hanya merasa Hisoka adalah lawan yang cukup berarti untuk dibunuh, tapi disisi lain, ia juga masih menghargai Hisoka sebagai lawannya yang tangguh. Ah, ia juga tak mengerti dengan keputusannya waktu itu.
"Ngggh..." Tifa menggaruk pipinya sembari menerawang, "sejujurnya aku juga heran, Killua."
Dua tetes air muncul di kepala Gon dan Killua. Sejenak ketiganya terdiam, memandang setiap pertandingan dari 16 ring yang ada disana.
"Ngomong-ngomong, Killua..." Tifa melirik pada Killua, dan ia menoleh, "bisakah kau memanggilku dengan sebutan Tifa-neechan atau neechan saja seperti Gon? Sejujurnya aku merasa agak canggung jika kau memanggilku dengan embel-embel san."
Killua mengerutkan alisnya, "kau bukan kakakku! Lagipula kau lebih cocok kupanggil nenek!"
"Tapi aku menganggapmu adikku," ucap Tifa sembari membuka bungkus permennya yang baru. Sebelum mereka berangkat ke Celestial Tower, Tifa menyempatkan diri membeli beberapa Lollipop sebagai persediaan.
Saat itu, secepat kilat tangan Killua merebut permen lolipop tersebut dari tangan Tifa. Tifa ternganga selebar-lebarnya melihat permen tersebut sudah berpindah tangan, dan Killua tersenyum dengan mode wajah kucing nakalnya.
"Killua..."
"Seorang kakak seharusnya mengalah jika adiknya menginginkan sesuatu dari kakaknya..." ia tersenyum sembari memandang wajah Tifa, "...neechan..."
Wajah kesal Tifa berubah menjadi sebuah senyuman sumringah. Ia mengacak rambut Killua, lalu mengambil permen yang lainnya dari saku celananya, sebelum tersadar, bahwa sakunya benar-benar tak berisi uang sepeser pun.
Ia benar-benar tidak punya uang sekarang.
Pertandingan Gon dan Killua berjalan lancar. Keduanya hanya butuh satu serangan untuk mengalahkan lawan. Tifa bertepuk tangan saat Killua kembali ke kursi penonton dan menunjukkan sebuah tiket ke lantai 50.
"Kau langsung naik ke lantai 50! Nah, tinggal aku..." Tifa mengemut permennya dengan perlahan. Otaknya berpikir. Kalau ia menggunakan nen, maka ia akan langsung naik ke lantai 200 dan di lantai tersebut, kemenangan tidak akan mendapat uang. Yah, untuk sementara ini ia akan bertarung dengan fisik saja. Setidaknya sama dengan lantai dimana Killua dan Gon berada, sehingga ia bisa mendapat cukup uang untuk beberapa bulan ke depan sebelum ia mendapat pekerjaan sebagai Hunter.
"Nomor 1871 dan nomor 2056, menuju ring F," sebuah suara dari speaker terdengar.
"Giliranku," Tifa melepas tasnya.
"Semangat, neechan!" Killua memberikan senyum lebarnya sementara Killua mengepalkan tangannya memberi dukungan. Tifa hanya mengangguk.
Sampai di ring F, dilihatnya seorang pria bertubuh setinggi 2 meter, dengan otot menyembul disana-sini, memandangnya dengan wajah sangar. Ia mengemut permennya lebih lama, lalu memperhatikan lawannya.
"Mulai!"
Sosok Tifa menghilang dari lawan nomor 1871 tersebut. Sosoknya tiba-tiba muncul dari atas dan menyentil keningnya, dan tubuh berotot itu terlempar keluar ring dan tubuhnya menghantam dinding pembatas kursi penonton.
"Ah, ini penampilan terbaik," ucap wasit sembari memandang Tifa, lalu memijit beberapa tombol di mesin pencetak tiketnya, dan terkesiap sejenak, "oh, apakah kau pernah naik ke floor master?"
"Ya," sahut Tifa, sembari mengemut permennya.
"Baiklah, kau maju ke lantai 200!"
"Tidak, tidak, aku akan mulai dari lantai 50 saja," Tifa memandang sosok Gon dan Killua yang mengacungkan jempol padanya. "Aku ingin mulai dari bawah."
~oOo~
.
.
Killua POV
Menganggap adik? Aku menghela nafas. Ada rasa yang aneh menyelip di hatiku. Aku tak tahu itu apa, tapi yang jelas, aku tak suka ketika ia menganggapku adiknya. Ada sekelumit perasaan kacau, sebal, tak terima, dan sebagainya. Disatu sisi, aku pikir wajar saja jika ia menganggapku adik karena ia lebih tua (jangan hiraukan penampilan 16 tahun-nya yang menipu), namun di sisi lain, aku tak mau. Aku tak suka dianggap adik, hanya saja aku tak bisa protes.
Tifa adalah wanita yang lebih tua jauh dariku. Dua kali lipat usiaku. Dan inilah yang selalu membuatku bimbang juga gamang. Kenapa aku selalu gugup di dekatnya? Ia bersikap baik padaku selayaknya sebagai seorang kakak, dan aku pun bersikap baik untuk menerima posisiku yang sudah dianggap adik olehnya, tapi tetap saja, aku tak mau.
Aku ingin lebih dari sekedar adik di matanya.
~oOo~
Tifa POV
"Sepertinya kalian tak akan memakan waktu lama untuk mencapai lantai atas," ucapku sembari memandang Killua yang kini menghabiskan makan siang yang kubawakan di atas ranjangnya.
"Nah, Tifa-nee sendiri? Aku yakin Tifa-nee bisa menaiki lantai 200 tanpa susah payah..."
"Kalau aku melakukan itu, aku tidak melakukan amanat Mito-san," kataku pendek.
"Mito-san? Maksudmu bibi Mito?" tanya Gon yang disekitar pipinya penuh dengan nasi.
"Ya, bibimu," aku mengambil sebuah tisu, lalu menyeka kotoran di pipinya, "bibimu memintaku untuk menjagamu, setidaknya sampai kau kembali ke pulau paus. Selanjutnya mungkin aku akan pergi."
"Tifa-nee..." wajah Gon terlihat agak sedikit kecewa. Kedekatanku dengannya mungkin cukup berarti baginya, juga bagiku.
"Mha, yang jelas aku akan mengawasimu sampai kau pulang."
"Lalu apa yang kau lakukan jika kau tidak bersama Gon lagi?" tanya Killua. Ada sorot mata yang tampak berbeda saat ia tahu bahwa aku akan meninggalkan mereka segera setelah urusan di sini selesai, meski aku tak tahu apa sebabnya.
"Aku juga tak tahu," aku terdiam sembari mengangkat bahu, "mungkin aku akan meminta misi ke agensi Hunter untuk membayar taruhanku pada Netero-jii. Nah, yang terpenting sekarang adalah kalian berlatih untuk menjadi lebih kuat dan aku akan membantumu."
Killua meloncat dari ranjangnya karena makannya telah selesai. Kini ia hanya berbalut kaus dalam dan celana pendek, berdiri di hadapanku.
"Tifa-nee, lawan aku kalau begitu," katanya dengan mimik antusias.
"Baiklah, kau boleh melawanku dengan satu pukulanmu, dan aku tak akan kabur," kataku dengan senyum lebar. Saat itu secepat kilat tubuhnya melewatiku dan sebuah pukulan mendarat di tengkukku. Aku memandang reaksinya sejenak, sebelum ia membeku merasakan sensasi sakit di tangannya dan tersadar.
"T-tangankuuu!"
"Eh?" Gon ternganga kaget. "Apa yang kau lakukan padanya, neechan?"
"Tidak melakukan apa-apa..."
"Gon! Leher Tifa-nee sekeras besi!" Killua mengelus tangannya yang masih terasa sakit sementara aku tertawa kecil. Aku memang tak melakukan apapun kecuali mengeraskan tubuhku, tepatnya pada bagian leherku.
"Bagaimana kau melakukannya, Tifa-nee?" Killua memandangku dengan wajah yang bersungut-sungut, masih mengelus tangannya.
"Hmm...aku tak jago berteori, tapi–"
Aku tersentak. Mendadak instingku menangkap aura yang terasa tak asing tak jauh dari Celestial Tower ini. Aku memandang ke atas, merasa aura tersebut berasal di atas. Aura gelap ini, aku tahu betul. Sejenak aku mengelus tengkukku. Kenapa aku tak bisa mengingat aura ini? Rasanya aura yang tak asing.
"Tifa-nee?"
"Ne, Killua, dilantai berapa kita berada sekarang?"
"Lantai 199..."
"Berarti di atas lantai 200?" tanyaku pelan. "Dan kalian akan menaiki lantai 200 nanti sore?"
"Ya, ada apa? Tampaknya tadi kau melamun, Tifa-nee," Killua memandangku dengan bingung. Sepertinya ia bisa menangkap gelagatku yang aneh saat ucapanku terpotong tadi.
"Berhati-hatilah," kataku pendek.
"Tapi, ada apa?" Gon mengelap mulutnya, beeranjak berdiri di hadapanku. "Bisa kau menjelaskan?"
"Aku merasakan aura yang begitu buruk tak jauh dari sini," kataku, mengingat-ingat, "aku tak asing dengan aura ini, tapi aku tak bisa mengingat siapa orang ini."
Killua dan Gon terdiam. Ia memandangku dengan wajah serius.
Pertandingan keduanya dimulai saat sore, dan menjelang malam, kami bertiga menaiki lantai 200. Entah kenapa saat itu firasatku mengatakan bahwa ada orang lain yang memiliki aura gelap, juga berada di lantai ini. Dan seketika kami melangkah menuju loket pendaftaran, aura itu semakin terasa. Langkah kami terhenti melihat aura gelap itu menguar hebat menuju sepanjang jalan dan aku tahu, insting membunuh itu ditujukan pada kami.
"Gon, Killua, aura ini yang tadi aku maksud!"
"Kenapa kau bisa merasakannya sejak siang?"
"Kepekaanku dengan hawa ini cukup tajam, baka!" sentakku pada Killua. "Jangan paksakan tubuh kalian!"
Seketika aku mengaktifkan Ten milikku pada keduanya, karena Ren yang gelap ini dapat menghancurkan Killua dan Gon. Sebagai orang yang berpengalaman, aku merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka, sehingga aku merasa aku harus menyelamatkan mereka.
"Nee-chan, apa ini!"
"Itu auraku! Tubuhmu bisa hancur tanpa selubung aura!"
"Tapi aku tak–"
"DIAM DAN MENURUTLAH. TETAP DI DEKATKU!"
Keduanya kaget dan seketika menurut. Saat itu aku melihat seorang wanita penyambut berambut ungu memandang kami, menjelaskan mengenai aturan di lantai 200, dan aura gelap itu mulai menghilang. Tiba-tiba aku melihat sebuah kartu terlempar, dan aku menangkapnya. Kartu ini, tak asing lagi~
"Ara, neko-chan, lama tak jumpa..."
"BERHENTI PANGGIL AKU NEKO-CHAN, HISOKKAAAA!" geramku emosi.
Pria bertubuh tinggi itu tersenyum dengan senyum anehnya. Ia memandang kami dengan mata elangnya, dan aku menghela nafas. Aku akhirnya paham, bahwa aura gelap tadi berawal dari Hisoka. Tak heran, aura itu memang berasal dari seorang pria yang haus darah dan 'hobi' membunuh orang kuat. Aku memandang kartu di tanganku, lalu meremasnya, dan seketika dengan auraku, kartu itu berubah jadi debu.
"H-hisokaa..." Killua terbelalak. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Tidak aneh bukan?" ia tersenyum. "Aku suka bertarung dan tempat ini juga adalah tempat bertarung. Kalian sendiri, apa yang kalian lakukan disini?"
"Pembohong," gumamku.
"...becanda..." lanjutnya. "Tentu saja aku tahu kenapa kalian disini. Kalian ingat saat kalian memesan tiket dari Cybernet? Dengan sedikit usaha, tidak sulit bagiku untuk menentukan kapan kedatangan kalian disini."
"Jadi, kau menunggu, Gon melawanmu?" tanyaku sembari melipat tanganku ke dada.
"Gon? Tidak hanya Gon, tapi kalian semua..."
"Hisoka, kau ingin dipatahkan berapa tulang lagi..." gumamku jengkel. Tentu saja, mengingat aku tak mau mencari keributan dengan orang yang haus darah dengannya, aku juga menghindari pertarungan dengan maniak sepertinya. Aku masih muda, masih sayang nyawaku, meski aku pernah mengalahkannya.
"Ara, neko-chan, kau menakutkan~"
"Berisik."
"Tapi, sejujurnya, aku tak tertarik melawan Gon saat ini. Gon, dan Killua, kalian terlalu cepat untuk sampai sini. Sebagai senior, kalian kuperingatkan..." ia menjulurkan tangannya, dan sebuah dorongan besar menerpa kami.
"Jangan bercanda! Kami sudah sejauh ini!" seru Killua dengan marah.
"Coba saja kalau kalian bisa lewat..." tiba-tiba, ia kembali mengeluarkan aura gelap. Saat itu aku memang sudah mengaktifkan Ten agar bisa menyelubungi mereka, tapi kekuatan mental mereka terlalu lemah untuk menghadapi aura membunuh Hisoka yang begitu kuat.
"Percuma, jangan paksakan!" sebuah suara mengagetkan kami. Kami menoleh kebelakang. Saat itu Wing, salah seorang master Zushi, kenalan Killua dan Gon, memandang kami dengan serius.
"Percuma kalian melawannya, yang ada kalian akan hancur. Saat ini kalian seperti berada di tengah badai salju tanpa perlindungan dan tak tahu kenapa kalian kedinginan..."
Perumpamaan yang bagus.
"Aku akan mengajarkan kalian nen, untuk melawan aura tersebut sebagai perlindungan."
Aku memandangnya. Aku tahu ia memang bukan orang jahat, hanya saja sebagai orang yang tak mudah percaya pada orang asing, aku masih harus waspada. Berdasarkan kesepakatannya, Wing akan mengajari Gon dan Killua nen dan keduanya harus bisa menguasai ten sebelum jam pendaftaran habis, namun aku menolak saat ia mengajakku ikut. Saat Gon dan Killua diminta lebih dulu untuk turun dengan lift, aku berjalan menghampirinya.
"Aku percayakan Gon dan Killua padamu, Wing-san."
"Yah, dan aku sudah menduga kau memang bukan orang biasa..." katanya yang tampaknya tak suka dengan kenyataan bahwa aku juga pengguna nen namun tak mengajarkan nen kepada kedua anak laki-laki tadi.
"Aku juga pengguna nen, tapi aku bukanlah orang yang baik. Aku tak yakin aku bisa menjadi guru mereka," kataku berargumentasi.
"Aku bisa menduga, karena kuakui auramu kuat namun terasa sangat gelap."
"Maksudmu..." aku mengeluarkan aura ku yang begitu gelap dan dingin, "seperti ini?"
Ia terdiam, dan seketika ten ditubuhnya aktif. Aku mengangguk, meniadakan auraku. "Baiklah, kurasa aku memang percaya padamu. Kupercayakan mereka padamu Wing-san."
Ia mengangguk, lalu sosoknya hilang dari balik lift. Saat itu aku melihat sosok Hisoka berada di persimpangan yang menuju ke ruang pendaftaran lantai 200 dengan wajah yang menggoda memandangku.
"Ne, aku tahu wajahmu tampan tapi aku tak tertarik denganmu," kataku pendek, melangkah santai melewatinya. Saat ituia menarik pergelangan tanganku dan aku memandangnya sebal.
"Apa?"
"Tak tahukah kau bahwa aku merindukanmu?"
"Kalau kau berhenti menggunakan make up dan memanggilku neko-chan, aku pun bisa bilang aku merindukanmu," kataku dengan nada mengejek.
Ia melepas cengkramannya, lalu menoleh ke arah lain, "kau begitu tega neko-chan. Aku teman lamamu."
"Aku bahkan tak menganggapmu teman," ucapku cuek, lalu duduk disebelahnya. "Aku lapar..."
Ia mengerling padaku, "saa, neko-chan, bagaimana kalau kita makan malam bersama?"
"Kalau kau mentarktirku, mungkin aku mau..." kataku pendek.
"Yosh, neko-chan! Aku akan mentraktirmu kalau begitu," ia bangkit berdiri, ia menjulurkan satu tangannnya bak seorang gentleman. Aku menaut tangannya, dan terkekeh dalam hati.
Lumayan, makan malam gratis. Kubuat kau tekor, Hisoka.
Aku dan Hisoka melangkah menuju ke sebuah lift. Setelah menekan tombol lantai dasar, lift bergerak turun. Aku bisa merasakan kerlingan Hisoka yang membuatku merinding, tapi berhubung aku juga tak punya teman makan (sebenarnya lebih senang karena ia mentraktir sih), jadi kuabaikan saja pandangan anehnya itu. Terdengar suara 'ding' dari lift saat pintu terbuka, dan saat itu bisa kurasakan pandangan aneh para pengunjung Celestial Tower ke arah kami. Siapa yang tak heran, semuanya pasti heran memandang penampilan Hisoka yang aneh, tapi dasar Hisoka memang muka tembok, jadi ia tak peduli dengan pandangan orang.
Ia selangkah lebih dulu dariku, mungkin mengajakku ke restoran yang telah cukup familiar baginya, tapi aku tak mau tinggal diam.
"Kita kesana," aku menunjuk ke sbuah restauran mahal dengan tingkah seorang anak kecil yang meminta pada orang tuanya ke suatu tempat. Ia memandangku, dan senyumnya kembali terbentuk.
"Baiklah~ kalau itu maumu," katanya sembari mengangguk.
Yeah, aku meng-yes dalam hati.
Setelah memesan tempat duduk, seorang pelayan memberikan kami dua buah buku menu dan ia siap mencatat. Mataku berbinar melihat daftar makanan yang membuat perutku semakin kelaparan.
"Baiklah, aku pesan lobster kuah saus tiram, lemon chicken, nasi dua porsi, sandwhich isi daging asap empat tangkup dan sepiring spagetti, minumnya lemon tea dua gelas," kataku panjang lebar.
Kulihat Hisoka hampir saja ternganga mendengar pesananku sebanyak itu.
Aku terkekeh dalam hati. Kupastikan dompetmu habis, Hisoka...yah setidaknya untuk malam ini, kataku cekikikan dalam hati.
"Aku lemon chicken dengan cool capuccino frappe," katanya pendek. Pelayan tersebut mengangguk, sementara aku menggoyang-goyang badanku kegirangan karena bisa makan besar.
"Ternyata kau punya nafsu makan yang besar juga, neko-chan," katanya sembari menopang dagunya, memandangku dengan intens.
"Memangnya kenapa? Aku lama tidak makan enak," kataku pendek.
"Ne~kemana saja kau selama ini? Sudah lama sekali semenjak kita terakhir kali bertarung, neko-chan~" katanya serius.
"Aku ke Bartolomon," kataku pendek.
"Bartolomon?" ia mengangkat alisnya. "Kenapa kau mengunjungi negara tak berpenghuni itu?"
"Haruskah aku membuat buku kronologi tentang hidupku?" kataku menyindir.
"Neko~chan, bukan begitu, maksudku...10 tahun aku kesana kemari, tapi aku benar-benar kehilangan jejak dirimu. Kenapa kau malah ke Bartolomon? Kurasa kau orang yang senang dalam kerumunan."
"Terpaksa dalam kerumunan, tepatnya..." kataku menyergah. "Aku ke Bartolomon untuk mencari titik terang dalam hidupku, bermeditasi dan berlatih. Melepaskan diriku dari bayang-bayang masa lalu."
"Maksudmu, dari dunia gelapmu?" tanyanya.
"Kurang lebih,"
Ia tertawa kecil. Aku mengerutkan kening.
"Menurutmu itu aneh?" tanyaku melihat ia seolah menertawakanku.
"Tentu saja. Kau, bagaimanapun, tetaplah Deadly Venus. Bagaimanapun kau melepas imagemu, kau tetaplah gadis pembunuh yang bersembunyi di balik bayangan, dengan teknik membunuhmu yang selalu memotong tubuh targetmu menjadi beberapa bagian atau menghancurkannya jadi debu, neko-chan...itulah sebabnya kau selalu membuatku bernafsu..."
Aku bergidik melihat wajah mesumnya muncul lagi.
"Ne, Hiso-chan, dengar. Yang perlu kau tahu, aku bukanlah aku yang dulu lagi, jadi camkan itu, oke?" aku mengambil garpu dan pisau saat pesanan kami tiba.
Hisoka tersenyum aneh, lalu menikmati hidangannya. Aku menggeleng, dan menghabiskan pesananku. Hanya dalam 15 menit, semua hidangan itu masuk ke dalam perutku tanpa sisa. Aku mengelus-elus perutku yang telah penuh, sementara Hisoka hanya meminum capuccinonya tanpa berkomentar. Sejenak kami terdiam dalam keheningan kami masing-masing, sementara suasana di sekitar Celestial Tower masih sama. Kebetulan restoran ini juga tak jauh dari Celestial Tower.
"Saa~neko-chan. Ayo kita kembali. Aku tak mau Gon dan Killua menyelinap untuk bertanding di lantai 200 tanpa sepengetahuanku," katanya sembari menyelipkan uang di sebuah buku dengan bill yang tertera didalamnya. Dengan kurang ajarnya, aku mengambil bil tersebut, lalu membacanya.
"Duapuluh delapan ribu Jenny," kataku membaca bill tersebut, sementara wajah Hisoka sedikit kesal melihat kekurang ajaranku. Aku meremas kertas tersebut, lalu dengan auraku, aku merubah kertas itu menjadi debu, dan debu dari kertas itu terbawa angin.
"Aku selalu menyukai teknikmu itu, neko-chan~" komentarnya saat melihat debu itu dengan pipi merona.
Aku bergidik melihat wajah freaknya. "Hentikan wajah itu, Hisoka. Ayo kita kembali. Ohya, belikan aku permen lolipop kesukaanku juga ya."
"Neko-chan, kau lucu sekali~" katanya sembari tertawa kecil.
"Ah, cerewet, ayo!"
Kami melangkah dari restauran, menuju sebuah toko makanan manis, membeli puluhan permen lolipop dan memintanya membayar. Setelah puas karena berhasil mengerjainya, kami kembali menuju Celestial Tower. Sepanjang jalan kami hanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai celestial tower, ia kembali dalam spotnya, berada diantara tikungan menuju loket pendaftaran. Aku menyandarkan tubuhku tak jauh dari spotnya menunggu, lalu melempar sebuah permen loli milikku.
"Barangkali kau bosan," kataku saat ia memandangku penuh tanya melihat aku melempar permen ke arahnya. Ia tersenyum kecil, lalu memakan permen dariku.
"Ne, neko-chan~"
"Hmm?"
"Apa kau memiliki kekasih?"
Aku ternganga, "apa-apaan kau menanyakan hal seperti itu?"
"Sa~aku hanya bertanya, kucingku~"
Aku berdecih, menoleh ke arah lain, "aku tak peduli soal asmara."
"Benarkah? Kau terlalu cantik untuk jadi seorang lajang," komentarnya sembari memainkan satu dek kartunya dan mengocoknya. Ia memandangku dengan sebuah kartu Queen Hati yang terselip diantara jemari telunjuk dan jemari tengah kanannya, menutupi mulutnya dan ia tampak tersenyum menggoda, "bagaimana jika kau jadi kekasihku, neko-chan?"
"Hahahahaahaha," aku berpura-pura tertawa, "candaanmu sungguh lucu."
"Aku serius, kucing kecil~"
"Heh," aku berdecak, melayangkan pandangan tak suka ke arahnya. "Never in your wildest dream."
"Kau begitu jahat, kucing kecilku~"
"Persetan apapun komentarmu," kataku cuek mengangkat bahu, "aku masih ingin punya kekasih yang normal dan tidak memiliki gangguan mental sepertimu."
Ia berpura-pura kaget dan seolah menunjukkan wajah sakit hatinya, "kau tega, neko-chan."
"Sejak dulu," sahutku pendek.
Aku berbalik, menuju loket pendaftaran. Saat itu aku merasakan aura Hisoka kembali menguar, dan aku menoleh. Kulihat Gon dan Killua, tepat dengan ten di tubuhnya! Aku tersenyum penuh kekaguman, dan seketika menyambutnya setelah aku selesai mendaftar.
"Selamat datang di lantai 200," ucap Hisoka pelan menyambut keduanya, "aku tahu alasanmu datang kemari. Kau ingin berlatih sebelum bertarung melawanku kan?"
"Ya. Keberadaanmu disini membuatku menghemat waktu," jawab Gon dengan wajah serius
"Tapi..." Hisoka membentuk sebuah bentuk dengan auranya, "jangan terlalu bangga dengan Ten mu. Masih banyak pelajaran tentang nen yang harus kau pelajari."
Aku memutar bola mataku.
"Tapi...sejujurnya saat ini aku tak berniat melawanmu. Kecuali jika kau memenangkan satu pertandingan, aku baru mau melawanmu..." katanya, beranjak berdiri, kemudian berlalu.
Aku manyun. Kenapa pria itu tak pernah berubah sih?
"Tifa-nee, apa kau sudah mendaftar?" tanya Killua, mendongak padaku.
"He, aku. Ya, sudah. Aku di kamar 2210 kalau kau ingin menemuiku," kataku sembari tersenyum. "Meski sejujurnya aku tak begitu berniat mendaftar di lantai 200..."
"Eh, kenapa?" tanya Gon, mendongak padaku.
"Karena bertarung di lantai ini aku tak akan dapat uang," sahutku pendek. Sweatdrop muncul di kepala dua anak laki-laki tersebut.
"Ternyata kau benar-benar mata duitan, Tifa-nee," komentar Killua dengan wajah sebal.
"Lho, semua orang suka uang kan?" kataku dengan wajah tanpa dosa.
"Kupikir nee-chan seperti Leorio juga, hahahha..." Gon tertawa.
"Berisik," kataku sembari mengemut permen. Saat itu keduanya sampai di loket pendaftaran, dan menulis formulir.
"Selamat datang di lantai 200! Apa kalian ingin mendaftar sekarang?"
"He?"
"Di lantai ini kalian bisa bertanding kapanpun kalian mau," kataku. "Ada waktu 90 hari persiapan untuk pertandingan pertama kalian, tapi jika kalian tak mendaftar sampai waktu 90 hari itu berakhir, kau akan didiskualifikasi."
"Ya, anda benar!" ucap sang resepsionis dengan ramah.
"Hmm, apa kita akan bertarung berkali-kali di lantai ini?" tanya Gon padanya.
"Ya, kalian butuh 10 kemenangan untuk menyelesaikan lantai ini, tapi jika kalian kalah empat kali sebelum menang 10 kali, maka kalian akan didiskualifikasi!" katanya menjelaskan. "Lalu, jika kalian menang 10 kali, maka kalian berhak menantang Floor Master disini! Ada 20 lantai master disini, dan masing-masing memegang satu lantai, dan jika kalian menang, maka kalian akan menjadi master terbaru di lantai tersebut."
Percuma, masih tak dapat uang, batinku dengan matrenya.
"Kalian mengerti?! Dan jika kalian menjadi master, maka kalian berhak mengikuti Battle Olympia yang dirayakan tiap setahun sekali!"
"Hm...bicara soal Battle Olympia, Tifa-nee pernah ikut kan? Apa kau berniat ikut lagi?" tanya Killua, memandangku.
Aku menerawang, "entahlah. Aku disini hanya ingin menemani kalian dan mengumpulkan uang saja."
Killua memandangku dengan aneh. Aku nyengir lebar. Killua memandang pada resepsionis tersebut.
"Ngomong-ngomong, selain hal itu...apa ada lagi hal spesial di atas?"
"Tentu saja! Seorang Floor Master tinggal di atas, itu adalah kehormatan yang besar!" kata sang respsionis menggebu-gebu.
"Bagi yang gila tahta mungkin suka," komentarku pendek.
"Selain itu, pemenang battle olympia tinggal di rumah seluas 1000 meter pesegi di atas tanah!"
"Tapi, bukannya rumah Killua berada di atas tanah seluas 3700 meter persegi?" tanya Gon polos pada Killua.
Nah, you really got the point Gon, kataku dalam hati sembari nyengir.
"Jadi bagaimana Gon, Tifa-nee? Kau sudah tahu rahasia lantai atas, dan aku jadi tak tertarik lagi. Bagaimana dengan kalian?" Killua memandang aku dan Gon.
"Mha, aku tak mencari kejayaan atau semacamnya, aku mencari uang," aku cengengesan.
"Aku juga hanya ingin bertarung dengan Hisoka," ucap Gon bersemangat.
"Kalau begitu, silahkan isi formulir ini," ucap resepsionis muda itu dengan nada jutek. Mungkin ia bingung melihat kelakuan tiga orang peserta yang bahkan tak berminat naik ke atas.
Saat itu aku menoleh. Ada tiga orang yang berjalan mendekat dengan pakaian aneh mereka. Yang satu dengan kursi roda, yang berbaju merah menggunakan tongkat, sementara yang berdiri dengan pakaian berwarna hitam memiliki wajah seperti topeng. Aku membaca ada gelagat aneh dari mereka. Killua pun merasakan hal yang sama.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Killua dingin.
"Tak ada," sahut pria yang berada diatas kursi roda.
"Kami hanya kebetulan ingin mendaftar saja," timpal pria berwajah seperti topeng tersebut.
"Hm...kau ingin bertarung dengannya?" aku menunjuk kedua anak lelaki tersebut. "Gon, Killua, orang ini ingin bertarung di hari yang sama, dan itu berarti ada kemungkinan sebenarnya ketiga orang ini menantangmu."
"Benarkah Tifa-nee?" Gon memandangku dengan tatapan polosnya.
"Sistem disini akan selalu memasangkan petarung yang mendaftar di hari yang sama," kataku pendek, mengemut permenku dalam, "kau bahkan bisa menantang para petarung hebat hanya dengan mencocokkan jadwalnya denganmu."
"Tampaknya kau terlihat berpengalaman disini," ucap pria aneh yang menggunakan tongkat dan kaki palsu dari besinya.
"Aku menjadi pemenang Battle Olympia beberapa tahun lalu," kataku memberitahu.
"Apa?" ketiganya terkesiap kaget.
"Lupakan. Sekarang mari kembali ke topik," aku memandang Gon, "kau sendiri bagaimana? Kau menerima tantangannya?"
Ia mengangguk, mencentang sebuah kolom di formulir lalu menyerahkannya pada resepsionis. "Aku siap kapan saja!"
"Nah, kalian dengar itu," ucap Killua.
Resepsionis tersebut memberikan dua buah kunci pada Killua dan Gon.
"Tifa-nee, kami ke kamar dulu!"
"Ya, kalian duluan saja," kataku mengangguk kecil. "Selamat beristirahat."
Gon dan Killua mengangguk, dan sosoknya menghilang di balik pintu kamarnya masing-masing. Aku memandang ketiga pria di hadapanku, dan tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah gangsing di atas bahu pria bertongkat tersebut. Aku berjalan mendekat, lalu menghentikan putaran gangsing itu dan memandang gangsing yang terbentuk dari besi itu.
"Aku tak masalah jika kalian ingin menantang mereka..." ucapku menggantung, aku menggenggam gangsing itu erat-erat, dan seketika dengan sebuah aura kecil, gangsing itu hancur menjadi bubuk besi, "tapi jika kalian berani macam-macam dengan mereka..."
Ketiganya memandang bubuk besi yang kutaburkan perlahan ke karpet merah.
"...kalian berhadapan denganku, suka atau tidak suka."
Pandangan mereka terbelalak. Aku tersenyum dingin, kemudian berbalik pergi meninggalkan mereka. Aku melangkahkan kakiku menuju kamarku, kemudian merebahkan tubuhku di atas kasur. Merasa tak begitu nyaman karena tubuhku lengket, aku beranjak berdiri menuju toilet lalu melepaskan pakaianku satu per satu. Tanganku menyambar keran dan aku menikmati sensasi air hangat yang membanjur tubuhku. Nyaman sekali.
Meanwhile... (Normal POV)
Killua berjalan pelan menuju kamar Tifa. Ia menekan bel, namun tak ada sautan. Sebenarnya, ia hanya bermaksud menanyakan seputar pertandingan nen di lantai 200, namun tampaknya wanita ini sedang pergi atau ketiduran, karena ia sudah memijit tombol beberapa kali namun tak ada sahutan. Ia mencoba membuka kenop pintu dan...ternyata tak dikunci. Langkahnya yang selalu pelan membawanya menuju kamar Tifa, dan saat itu dilihatnya sesosok wanita tanpa pakaian sedang memunggunginya sembari bersenandung kecil. Ia dapat melihat jelas tubuh Tifa yang ternya penuh bekas luka jahitan dan memar permanen karena latihannya dulu, tapi mengabaikan semua itu...ia tampak sempurna. Pantatnya terlihat sekal dan warna kulitnya benar-benar ranum, membuat Killua menelan ludahnya dengan mulut ternganga. Tepat saat Tifa berbalik, sontak kedua mata mereka bertemu dan ...
"AAAAAAAAAAAAAAAAA!"
BLAM!
Killua refleks berbalik keluar dari kamar tersebut.
"KILLUA BAKA! Apa kau tak bisa ketuk pintu dulu!" teriak Tifa dari dalam.
Nafas Killua terengah-engah, sementara tubuhnya bersandar di dinding dengan jantung yang berdetak cepat. Ya Tuhan, aku melihatnya telanjang! T-e-l-a-n-j-a-n-g! Bayangan erotis itu tak bisa hilang dari benak Killua. Sembari memegang dadanya yang masih terasa berdetak kencang. Ia berbalik melangkah menuju kamarnya dengan gugup. Di kamar, ia mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang dengan perasaan kacau. Seumur hidup, baru kali ini ia melihat pemandangan erotis! Dan itu membuatnya benar-benar panik. Tiba-tiba saja, perasaannya jadi aneh. Ia merasakan tubuhnya tiba-tiba bergetar, aneh. Killua membuang perasaan aneh itu dengan mengganti pakaiannya dan beranjak tidur. Saat itu, pertama kali dalam hidupnya, ia bermimpi aneh.
Mimpi yang membuatnya menjadi seorang pria.
~oOo~
.
.
Tifa POV
"Pagi," sapa Gon saat melihat aku keluar dari kamarku. Aku mengangkat tanganku sembari tersenyum tipis, membalas sapaannya. Saat kami beranjak menuju kamar Killua, aku melihat room service baru saja beranjak keluar dengan gundukan bed cover di tangannya. Baik aku dan Gon mengerutkan kening saat kami berdua melihat Killua memandangku dengan wajah yang memerah.
"Kau kenapa?" tanyaku, apalagi saat aku heran melihat room service itu membawa bed cover dan seprai kasurnya. "Baru sehari tidur sudah diganti?"
"Kotor," ucapnya pendek.
"Hehehe, kau ngompol ya?" ejek Gon sambol tertawa menggodanya.
"Sembarangan saja kau bicara!" sentaknya emosi sembari melotot memandang Gon. Gon tertawa mengejeknya.
"Sudah, sudah. Gon, sebentar lagi kau bertanding, ayo," ucapku sembari mengacak rambut Gon. Gon mengangguk antusias, kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan aku dan Killua yang berjalan agak jauh di belakangnya.
"Tifa-nee...maafkan aku...soal semalam," ucapnya dengan wajah yang agak merona, sementara aku hanya mengibaskan tangan.
"Sudahlah, accident happen. Lain kali kalau mau masuk, ketuk dulu."
"Aku sudah memijit bel," aku Killua jujur.
"Begitukah? Aku tak mendengarnya. Mungkin belnya rusak," kataku berpikir sembari menyentuh daguku. "Ah sudahlah. Jangan dipikirkan."
Pertandingan Gon dengan Gido berlangsung sengit. Aku benci mengatakan bahwa Gon saat ini memang lemah, karena mungkin Wing-san belum mengajarkan mereka kemampuan menyerang. Dalam pertandingan itu Gon hanya bisa bertahan dan Gido benar-benar terlihat ingin menghabisi Gon. Amarahku hampir saja memuncak dan ingin rasanya menghancurkan kaki palsu Gido dengan bom auraku, tapi Killua beberapa kali menahan tanganku untuk menenangkan. Dari pertandingan itu, Gon terluka parah dengan sejumlah tulang patah, tulang tangan ikut patah dan beberapa tulang lainnya retak-retak.
"Kau memang bodoh!" sentak Killua pada Gon.
"Maaf," Gon tersenyum penuh perasaan bersalah.
"Minta maaf tidak merubah apapun!"
Aku hanya bisa tersenyum meringis melihat Killua 'menyiksa' Gon dengan sentakan. Saat itu aku tengah bermeditasi saat aku mendengar sebuah ketukan dari luar. Aku merasakan aura Wing-san memasuki kamar Gon dan mendekat. Dan tiba-tiba sebuah suara tamparan terdengar. Aku terdentak dalam meditasiku.
Apa Gon ditampar?
"Kau memang bodoh!"
Nah, sepertinya dugaanku benar. Wing-san marah besar. Aku hanya bisa menghela nafas mendengar omelan Wing-san yang memberitahu bahwa tindakan Gon melepas ten-nya pada saat –saat terakhir pentandingan merupakan sikap yang ceroboh. Yah, aku tak bisa berkomentar deh. Wing-san guru mereka, jadi aku hanya bisa diam dan mendengarkan saat ia mendapat cercaan dari Wing-san. Kudengar pintu tertutup, lalu aku membuka mata.
"Aku tak akan ikut memarahimu Gon," kataku saat ia memandangku dengan pandangan penuh sesal. "Segala keputusan pasti ada resiko, meski kuakui sikapmu kemarin saat bertarung cukup berbahaya."
"Mau bagaimana lagi, Tifa-nee..."
"Sudahlah, yang sudah lewat, ya sudah..." aku beranjak berdiri. "Aku ke kamar dulu. Killua, titip Gon."
"Serahkan padaku," sahut Killua sembari tersenyum.
"Yosh," aku menutup pintu. Langkahku membawaku menuju kamar, dan baru saja aku menutup pintu kamar, televisiku berbunyi, memberitahu.
Pertandinganmu telah ditentukan, jam tiga sore hari ini!
Aku ternganga. Itu cukup cepat, gumamku pendek. Aku melihat ke jam dinding. Jam 2.30 PM. Aku melotot. Kenapa begitu dadakan!
Che, aku lapar, batinku saat aku keluar dari pintu kamar. Aku melangkah menuju lift, berniat ke area pertandingan dengan wajah kuyu. Sambil bertanya-tanya siapa lawan yang akan kuhadapi, aku tercenung, mengkhawatirkan keadaan Gon. Meski aku belum mengenalnya lama, kuakui, ia sudah kuanggap adikku sendiri. Aku selalu merasa bahwa aku harus melindunginya, karena ia lebih muda, tak punya banyak pengalaman, dan ia terlalu polos.
Yang membuatnya begitu menyenangkan, tapi juga sasaran empuk orang-orang jahat yang memanfaatkan kebaikannya.
Saat itu arena pertandingan sudah cukup penuh. Suara promotor mengiringi langkahku ke arena pertandingan, sampai aku terkejut melihat lawanku yang tampak tak asing.
"HISOKAAAA!"
"Yo, neko-chan~"
"Apa maksudmu dengan 'Yo, neko-chan'!" kataku sembari menuding-nudingnya. "Kau pasti sudah merencanakan ini kan?"
"Bagaimana kalau kukatakan bahwa ini takdir?" katanya dengan nada yang menggoda.
"Henka adalah seorang penipu," kataku pendek. "Mana bisa aku percaya kata-katamu."
"Sistem TKO, tidak ada batasan waktu. Pertandingan dimulai!" suara wasit memberi aba-aba.
Wajahku suram. Semalam aku tak tidur demi menjaga Gon, dan esok sorenya aku harus melawan psikopat ini. Oh, hidup sungguh tak adil terkadang...
"Kau melamun, neko-chan..." ia mengatifkan selubung aura di tubuhnya. Aku – masih dengan mood yang setengah-setengah – mengaktifkan ten ditubuhku, dan berubah menjadi sebuah Ken.
"Ara, neko-chan langsung memasang pertahanan kuat..."
Diam, kau, badut, gumamku kesal. Disamping mengantuk, aku juga lapar. Lengkap sudah deritaku di pertandingan ini. Sekarang aku hanya harus menunggu kapan aku akan marah, dan menghancurkan panggung serta meremukkan tulang-tulang sang badut itu dan menghantamkannya ke lantai.
Ide bagus. Aku mengaktifkan Gyo, memasang Ken, dan menyiapkan serangan ku dalam sebuah bola aura di tanganku. Ia menyeringai melihatku mulai memasuki posisi menyerang, dan seketika sebuah bola aura meluncur. Ia berkali-kali menghindari seranganku, dan saat ia lengah, aku menghindar ke kiri, secepat kilat tubuhku bergerak di belakangnya, dan aku menendangnya.
"Oy, oy...kau benar-benar tak berubah, neko-chan~"
"Berisik."
"Kritikal hit, dua point untuk Tifa!" ucap wasit.
Baru saja ia beranjak bangkit, aku menghantam punggungnya dengan sikuku. Sontak ia memuntahkan darah.
"Tak akan kubiarkan kau memasang bungy gum padaku..." kataku dengan geram.
"Aku tahu kau selalu waspada~"
Aku meloncat mundur. Ia telah kembali berdiri dengan sedikit darah di sudut bibirnya. Aku menghela nafas. Ia memang tak bisa dihancurkan hanya dengan pukulan. Aku menjulurkan kedua tanganku, dan sebuah en terbentuk menyelubunginya. Ia memandangku dengan mata terbelalak, tepat saat aku menunjukkan telapak tanganku.
"Deadly Venus..."
Aku tak akan membunuhmu, Hisoka, itu berlawanan dengan prinsipku, kataku dalam hati. Perlahan jemariku bergerak perlahan membuat gerakan akan menggenggam, dan bisa kukatakan ia mulai merasakan tubuhnya seperti ditekan dengan kekuatan super besar yang perlahan namun mematikan. Aku bisa mendengar beberapa tulangnya mulai patah – lengan atas kanan, lengan atas kiri, lalu beberapa rusuknya, tulang paha – suaranya mulai terdengar berteriak dengan nafas terengah-engah.
"Aku bertarung cepat, Hisoka," kataku pendek, melepaskan en-ku, dan seketika ia menghembuskan nafasnya, menahan puluhan sakit pada beberapa bagian tubuhnya.
"Neko-chan~kau benar-benar tak bisa bermain-main...bahkan denganku."
Aku meloncat. Tubuhnya yang kini telah sulit bergerak seketika mendapat hantaman dari tanganku, menghantamkan kepalanya ke lantai arena. Lantai arena tersebut hancur seketika, dimana
Kupastikan kau KO sebelum kau bangkit untuk melawanku, Hiso-chan, batinku saat aku meloncat mundur.
"...10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1...Kemenangan berdasarkan KO, Tifa pemenangnya!"
Aku memandang tubuh yang hampir melesak ke dalam lantai arena itu dengan miris. Aku berjalan mendekat, jongkok di dekatnya, lalu mencoleknya dengan telunjukku.
"Hisoka~, kau masih hidup?"
"Me-ngutmuh (menurutmu)...?" suaranya tak begitu jelas karena wajahnya masih melesak kedalam lantai arena.
"Ohya, masih..." aku menarik tubuh tersebut tanpa keperimanusiaan. Ia memandangku kesal dengan wajah lebam disana-sini. Wasit baru saja akan memanggil P3K saat aku menolaknya.
"Ia temanku..." kataku saat melihat wasit itu memberiku pandangan penuh tanya.
Aku memandangnya yang telentang dan tak bisa bergerak. Sudah kuduga, beberapa tulangnya patah. Aku memapahnya, dan dengan cueknya, mengangkat pria setinggi 186 cm itu masuk. Ia kini melena pasrah di punggungku, tak berdaya. Saat itu aku melihat seorang wanita berambut pink memandang kami dengan heran.
"Kau siapa?" tanyaku bingung.
"Aku teman Hisoka," katanya, lalu memandang ke arah Hisoka dengan dingin. "Baru kali ini aku melihatmu terluka parah karena bertarung, Hisoka..."
"Aku tahu, aku tak bisa mengalahkannya," ucap Hisoka pelan. "Aku hanya tak puas dengan kekalahanku 11 tahun lalu."
"Hah, Hisoka. Kau pendendam," ucapku pendek. "Kau kini mendapat 7 tulang patah, 5 tulang rusuk retak, 1 tulang melayang hancur. Aku bisa merubahmu jadi debu dalam 5 detik, Tuan Tampan."
"Seharusnya kau membunuhku, ne~Tifa-chan..."
"Aku sudah bilang, aku tak mau lagi membunuh," aku memandang wanita berpakaian ninja tersebut, "apa kau kekasihnya?"
"Tch, yang benar saja. Aku hanya datang kesini saat ia bertarung untuk mengobati luka-lukanya yang mungkin parah, seperti luka yang kau bilang tadi."
"Ah syukurlah," aku tersenyum lega. "Aku tak perlu repot-repot menolongnya. Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Namaku Machi."
"Aku Tifa," kataku. Kami bertiga menaiki lift menuju lantai 200. Setelah sampai di lantai tersebut, aku merebahkan tubuh tinggi itu di kasur. Ia mengaduh kesakitan saat tanpa sengaja aku mengenai bagian tubuhnya yang patah kekasur.
"Kau pasti cukup hebat karena bisa mengalahkannya,"
"Tch, aku hanya mantan pembunuh bayaran," kataku menggeleng. "Baik Machi, kurasa kau terbiasa mengobatinya, jadi kutinggalkan kalian berdua. Jaa."
Aku menutup pintu tersebut, dan manyun. Wajah Machi membuatku muak. Secara figur wanita, wajahnya adalah wajah congkak dan jutek. Aku melipat tanganku ke dada, melangkah menuju kamar Gon, dan melihat Killua menyambutku girang.
"Oiiiiy, nee-chan, aksimu sungguh luar biasa!" Killua menepuk lenganku. "Kau memang petarung hebat!"
"Hngg..." kataku dengan tampang bingung, lalu memandang ke ranjang Gon. Ia sedang beristirahat. Tidurnya terlihat begitu nyenyak. Aku berjalan ke arahnya, lalu mengelus kepalanya dengan sayang.
"Kill, sebaiknya kita bicara dikamarmu. Gon sedang beristirahat," kataku sembari mengajaknya keluar. Killua mengangguk. Ia menutup pintu kamar Gon dari luar lalu melangkah menuju kamarnya. Aku merebahkan tubuhku ke kasur, sementara ia menari kursi dan duduk di sisi kasur ku.
"Ne, ne, Tifa-nee! Bagaimana kau melakukan hal tadi? Itu loh, tiba-tiba dengan menjulurkan telapak tanganmu kau membuat Hisoka berteriak-teriak kesakitan..."
"Ha itu? Itu salah satu kemampuan hatsuku. Aku seorang tokushitsu, meki lebih dominan menggunakan kemampuan emitter, tapi aku juga punya jurus khusus yang hanya bisa aku lakukan. Dan ya itu tadi. Mungkin Wing-san belum mengajarkanmu?"
Killua menggeleng.
"Nah, mungkin masih terlalu awal untukmu mempelajari Hatsu, tapi cepat atau lambat kau akan mempelajarinya," kataku. "Kau bersabar saja. Kau punya kemampuan yang lebih hebat dari pada anak pada umumnya dalam mempelajari nen."
"Lalu kenapa?"
"Kau akan menguasai kemampuan hatsumu dengan mudah, itu maksudku, bodoh..." kataku manyun.
"Jangan panggil aku bodoh, baa-san!" sentaknya dengan emosi. Aku bangkit duduk dan melotot.
"Siapa yang kau panggil baa-san, anak bodoh?"
"Tentu saja kau, wanita tua!"
"Anak bodoh!"
"Mata duitan!"
"Tolol!"
Dan pertarungan mulut kami kembali terjadi.
~oOo~
.
Killua POV
Ini sudah hari ketiga untuk Gon yang beristirahat karena terluka akibat pertandingan. Tifa dan aku sengaja meninggalkannya untuk banyak beristirahat. Kami berjalan keluar dari arena surga. Tifa mengajakku menuju sebuah cafe yang terletak tak jauh dari arena surga. Setelah memesan, kami berdua saling sibuk dengan pikiran masing-masing. Iseng, kupandangi wajah Tifa-nee yang benar-benar tampak seperti anak sebaya usiaku. Kalau aku boleh jujur, ia memang seperti boneka. Mengabaikan usianya yang sudah tua, ia sebenarnya masuk dalam kategori gadis yang cantik. Kulitnya seputih boneka, dengan rambut indigo, serta iris matanya yang merah, ia begitu menggemaskan. Apalagi jika ia benar-benar menggunakan pakaian perempuan, bisa kupastikan, ia tampak luar biasa menawan. Hanya saja, itu hanya bisa kubayangkan, mengingat Tifa termasuk wanita yang cukup tomboy. Andai saja usianya sebaya denganku, mungkin bisa jadi aku akan menyukainya.
Hah, ngomong apa sih aku? Ngawur!
"Kau pesan banana split?" tanya Tifa melihat pesanan mereka sama. "Tak kusangka, selera kita sama."
"Haha, kau ternyata suka makanan manis juga," aku tersenyum lebar sembari menyendok es krim yang terhidang di depanku. "Apa kau suka coklat juga?"
"Aku suka semua makanan manis dan pedas," ucap Tifa sembari menempelkan sendoknya di mulut, seperti anak kecil. "Lollipop, coklat, dan sebagainya. Berhubung coklat mudah meleleh dan rusak jika aku bawa di saku, aku lebih sering mengemut lolipop. Itu hanya semacam kebiasaan buruk."
"Kebiasaan buruk?" aku mengangkat alis.
"Tanpa lolipop, aku sulit berkonsentrasi, Killu," katanya menjelaskan.
Ah, begitu. Pantas saja ia selalu mengantongi banyak permen lolipop. Entah mengapa, kesukaannya terhadap makanan manis membuatku geli sekaligus senang dalam hati. Seumur hidup, baru pertama kalinya aku mengenal gadis seusia Tifa yang suka makanan manis sepertiku. Terlepas dari kekanakan atau tidak, aku senang memiliki kenalan yang memiliki kesamaan sepertiku, apalagi saat orang itu adalah Tifa.
Entah, tiba-tiba saja, jantungku mulai berdegup. Ada apa denganku?
Aku memasukan es krim ke dalam mulutku sesendok demi sesendok. Wanita di hadapanku kini tampak membetulkan rambutnya dan melepas kuciran rambutnya. Seketika bayangan tubuhnya yang telanjang beberapa hari lalu kembali melintas di benakku dan wajahku langsung terasa panas. Berusaha untuk tidak panik dengan pemandangan 'wah' di depanku, aku memasukkan sesendok besar penuh es krim dan pisang ke dalam mulut, namun seketika aku berjengit, karena aku merasakan kepalaku pusing sesaat dan rahangku ngilu. Ia tertawa melihatku.
"Brain freeze...pasti menyakitkan..." katanya disela tawanya.
Aku terdiam sembari mengentuh rahangku. "Sialan."
"Mangkanya pelan-pelan," ucap Tifa memberitahu. Aku hanya menunduk, mengangguk kecil. Padahal aku bersikap seperti ini juga karena dirinya!
"Ah, rupanya neko-chan sedang bersama Killua...boleh aku ikut bergabung?" sebuah suara menginterupsi kami. Aku mendongak. Hisoka tampak menyunggingkan senyum anehnya sembari mengambil sebuah bangku dan duduk di antara kami. Ia selalu aneh seperti biasanya dengan make up joker dan pakaian sirkusnya. Aku berdecak. Sekarang badut ini aku menghancurkan suasana kencan kami. Hebat sekali.
Eh tunggu. Kencan? Ngomong apa sih aku?
"Ewh, Hisoka..." Tifa memicingkan matanya, tampaknya agak jengkel dengan kedatangan pria berambut merah tersebut. Aku melahap es krimku dengan muka merengut.
"Neko-chan. Aku sakit hati dengan sikapmu. Padahal kau baru saja melukaiku beberapa hari lalu. Beginikah sikapmu padaku?"
Sakit hati? Kenapa pula dia harus sakit hati? Sudah jelas kan kalau Tifa bersikap begitu karena ia tak suka dengan Hisoka. Ake memakan es krimku dengan cepat sembari mendelik tajam ke arah Hisoka.
"Ne, dengar aku Hisoka. Aku tak peduli dengan perasaanmu padaku. Bagaimana kondisimu? Kau cepat sekali membaik?" tanya Tifa seolah tak peduli.
Apppaaaa? Tifa bahkan menanyakan kondisinya? Apa sikap Tifa-nee tidak terlalu berlebihan untuk pria aneh seperti Hisoka? Kugenggam sendok di tanganku erat-erat.
"Ara, neko-chan, kau mengkhawatirkanku juga rupanya~," Hisoka tertawa kecil dengan sikap berpura-pura-senangnya, sementara kulihat Tifa memutar bola matanya dengan sebal. "Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Machi mengobatiku dengan tuntas."
"Oh, baiklah," Tifa tampak kembali tak peduli dengan Hisoka dan melanjutkan makan es krimnya.
"Jadi, jangan bilang bahwa kalian sedang berkencan, hm?"
Aku tersedak. Kulihat Tifa memicingkan matanya pada Hisoka, sebelum akhirnya tertawa kecil.
"Aku? Killua? Berkencan? Yang benar saja?! Ia lebih muda, jauh lebih muda dariku, Hisoka! Yang benar saja kalau aku berkencan dengannya?!"
Ada yang menekan dadaku.
Sesuatu.
Jauh di dalam dadaku.
Membuatku begitu sesak nafas.
Sakit hati.
"Tifa-nee...kupikir, sebaiknya aku duluan Tifa-nee," aku mengambil beberapa uang dari saku celanaku, sengaja mengambil lebih agar bisa membayar dua porsi, milikku dan miliknya. Kulihat Tifa mengerutkan kening sementara Hisoka tampak berekspresi.
"Ada apa?"
"E-entah mengapa...tiba-tiba aku sakit perut," aku memegang perutku dengan memasang ekspresi: jangan-larang -aku-karena-aku-tak-kuat-menahannya kemudian berlari meninggalkan keduanya secepat mungkin.
Di lantai dasar Arena Surga, langkahku memelan menuju lift. Entah kenapa, rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum. Kupegang dadaku. Aneh, padahal aku tak punya penyakit asthma, kenapa tiba-tiba dadaku terasa sesak. Saat lift mengeluarkan suara 'ding' dan sampai di lantai 200, kulangkahkan kakiku pelan menuju kamar. Setelah menutup pintu, kuhempaskan tubuhku di atas ranjang dengan helaan nafas panjang.
Kenapa aku tak suka saat ia memintaku memanggil 'nee-san'?
Kenapa aku tak suka saat mendengarnya mengatakan 'aku tak mungkin berkencan dengannya' pada Hisoka?
Aku merasa seperti orang gila. Kenapa aku tak terima dikatakan demikian? Aku tak mengerti dengan perasaanku. Terlalu banyak perasaan aneh berkecamuk di dada, dan aku sendiri tak bisa menafsirkan apa arti perasaan ini. Padahal, sebelumnya aku tak pernah merasa segugup ini dengan Tifa. Apa ini karena kebersamaan kami? Atau karena insiden malam itu? Aku mendesah.
Sebenarnya aku ini kenapa?
Kuambil ponselku dari saku, dan kutekan kontak Leorio. Kurasa ia bisa membantuku mencari tahu penyebab kenapa aku bersikap seperti ini. Asumsiku mengatakan, bahwa hanya pria cabul inilah satu-satunya yang bisa memberiku solusi tentang perasaan aneh ini.
"Halo," kataku pendek.
"Yo, Kill! Bagaimana kabarmu? Kau sehat? Bagaimana dengan Gon?"
"Aku sehat," sahutku dengan lemas. "Gon sedang beristirahat di kamarnya."
"Suaramu tak terdengar begitu," Leorio tampak sangsi di seberang, "ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba menelponku?"
"Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan," ucapku jujur. "Sepertinya kau tahu solusi dari masalahku ini."
"Aku siap mendengarkan," sahut Leorio dengan serius.
"Ini hanya masalah perempuan."
"Tampaknya akan menjadi pembicaraan menarik," Leorio tertawa mengejek di seberang, namun aku tak menghiraukannya. "Aku selalu merasa aneh dengan perempuan yang satu ini."
"Aneh seperti apa?"
"Aku sendiri sulit menjelaskannya."
"Kau ini," Leorio mencebik jengkel, "baiklah, aku hanya akan menanyakan beberapa hal ini padamu untuk memastikan apa yang sebenarnya kau rasakan. Cukup jawab ya, atau tidak."
"Baik."
"Apa kau merasa gugup saat bersama perempuan ini?"
Aku berpikir sejenak, "akhir-akhir ini...ya."
"Apa kau merasa senang memperhatikan wajahnya, entah dalam ekspresi apapun?"
"Hm..." aku beranjak duduk, mengelus daguku, berpikir, membayangkan wajah Tifa yang tiba-tiba membuat pipiku panas seketika, "ya."
"Apa kau marah atau tak suka saat wanita itu memperhatikan pria lain?"
Rahangku mengeras saat mengingat Tifa memberikan perhatiannya (walau hanya sedikit) pada Hisoka, "ya."
"Apa kau merasa pipi menghangat saat kau membayangkannya?"
"Bagaimana kau tahu?!" sentakku kaget dengan nada tak percaya.
"Kalau begitu, aku tahu apa yang sedang kau rasakan sekarang."
"Apa?"
"Kau sedang jatuh cinta! Siapa, siapa, siapa perempuan itu, heee?"
"Bukan urusanmu," kataku pendek, dan seketika menutup telpon. Kusimpan ponselku dalam modus getar, dan membiarkan Leorio menelponku berkali-kali, dan aku sengaja tak mengangkatnya. Dengan kedua tangan di belakang kepala aku kembali tiduran di atas ranjang, berpikir. Jatuh cinta? Benarkah? Aku? Jatuh cinta pada Tifa? Wanita yang jelas-jelas usianya lebih tua dariku? Yang benar saja?
Tapi semua ucapan Leorio aku iyakan. Tak mungin ia berbohong padaku. Aku yakin ucapannya tentang perasaanku itu benar, tapi kenapa? Kenapa Tifa. Ingin rasanya aku menonjok diriku sendiri. Ia bahkan lebih tua dariku, betapapun mudanya penampilan remaja tersebut (dan tinggi tubuhnya hanya 2cm lebih tinggi dariku) tapi tetap saja, aku harusnya sadar!
Ini...ini...ini seperti cinta terlarang untukku!
Aku mengacak rambutku dengan asalan. Kenapa juga harus Tifa?
Ia sudah menganggapku seperti adiknya sendiri! Bagaimana kalau ia tahu aku mencintainya? Gawat! Pertanda buruk namanya! Sikapnya pasti akan lain padaku, bahkan ia mungkin akan lebih dingin terhadapku. Bagaimanapun, ia memperlakukanku seperti adiknya, memberikanku perhatian selayaknya seorang kakak, tapi kenapa perasaanku malah membawaku terhadap perasaan yang lebih intim padanya? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Terdengar suara ketuka di pintuku serta bel yang nyaring diikuti suara yang begitu familiar.
"Killuaaa..."
Suara itu...suara...Tifa...
"Ya, nee-chan?" sahutku setelah menelan ludahku sendiri untuk menghilangkan kegugupan.
"Apa kau sakit perut?"
"B-begitulah..." sahutku tergagap. Aku beranjak menuju ke arah pintu, dan kulihat seorang gadis muda dengan kaus lengan panjang berwarna merah hati dan celana jeans tersenyum padaku. Tifa beranjak masuk, sementara au hanya mengkorinya dengan bingung. Ia meletakkan sebuah plastik kecil di meja kecil dekat TV.
"Aku membawakan obat sakit perut untukmu," ucapnya sembari melipat tangannya ke dada. "Kuharap kau segera sembuh."
"T-terima kasih," kurasakan pipiku tiba-tiba memanas saat ia menatapku dengan intens, lalu aku mendudukkan tubuhku di pinggir ranjang. Saat itu kulihat Tifa beranjak ke arah dan kurasakan punggung tangannya menyentuh keningku dan mendekatkan wajahnya begitu dekat denganku.
Menyentuh!
Keningku!
K-e-n-i-n-g-k-u!
Dengan wajah...
Sangat dekat...
"Sepertinya kau sakit," katanya pendek sementara aku berusaha untuk tidak terlihat panik dan mimisan melihat wajah bonekanya dari dekat. "Wajahmu memerah...tapi kau tak begitu panas..."
Ia menjauhkan tangan dan wajahnya dari wajahku, kemudian mengernyit, "aneh."
Entah mengapa, aku merasa hatiku mencelos saat merasakan tangannya berhenti menyentuhku. Sentuhan itu membuatku ingin disentuh lagi, tapi...bagaimana caranya?
"Istirahat saja kalau begitu. Mungkin kau sedang tak begitu sehat," ucapnya lagi. Aku mengangguk kecil, kemudian merangkak menuju kasurku dan merebahkan tubuhku. Kutarik selimut merahku hingga keujung dagu, sementara Tifa mengacak rambutku.
"Kalau kau merasa tak enak, kau boleh datangi aku. Atau kalau perlu, aku akan menjagamu sembari sesekali mengecek Gon? Bagaimana? Atau...apa aku harus tidur disini?"
"Tidur disini!" kataku tanpa tedeng aling-aling. Seketika, aku menutup mulutku sementara Tifa tampak mengerutkan kening melihat sikapku yang begitu excited.
"Baiklah, kalau itu maumu," Tifa mengangguk. "Aku akan kesini lagi setelah mengecek Gon, oke?"
Aku mengangguk kecil. Entah mengapa, tiba-tiba hatiku begitu berbunga-bunga saat tahu bahwa ia akan tidur sekamar denganku. Aku berharap, Tifa tak curiga dengan ucapanku tadi.
Semoga saja.
~oOo~
Normal POV
Tifa melangkahkan kakinya menuju kamar Killua. Sembari bersenandung kecil, ia mengetuk pintu kamar tersebut, lalu melangkah masuk menuju kamar Killua. Killua masih merebahkan tubuhnya di atas ranjang dibalik selimut tebal, dan Tifa memberikan sebungkus kotak styrofoam berisi makanan padanya.
"Makanlah," ucap Tifa, dan Killua menerima kotak tersebut dengan anggukan kecil. Dijulurkannya tangan Tifa untuk mengecek kondisi tubuh Killua, dan tiba-tiba ia mengerutkan alis. Panas, lebih hangat dari tadi siang. Ia berdecak, merasa kasihan pada pria muda tersebut. Wajahnya tampak memerah dan tubuhnya terlihat kuyu.
"Kil, sepertinya kau terkena demam," ucap Tifa sembari duduk di pinggir ranjang, "kalau sampai 2 hari ini kau tak sembuh juga, aku akan memanggil dokter kesini."
Killua terdiam. Ia akui, ia merasa tubuhnya lebih hangat dari tadi. Jangan bilang kalau aku...benar-benar sakit? Dirabanya leher dan kening mmiliknya dengan punggung tangan, dan dirasakannya panas tubuhnya terasa tinggi.
Sial, aku benar-benar sakit. Apa ini karma karena ia berpura-pura sakit tadi siang? Kalau ya, maka ini adalah kebohongannya yang paling menyesatkan dirinya sendiri.
"Tampaknya aku akan menunggumu disini sampai panasmu turun," ucap Tifa lagi.
Killua berteriak kegirangan dalam hati. Entah kenapa, meskipun ia sakit, namun ia merasa patut mensyukuri dirinya sendiri karena kondisi ini, karena sakitnyalah yang membuat Tifa berniat bermalam di sini, sekamar dengannya. Dibukanya kotak makanan yang tadi diberikan untuknya, dan ia mulai makan dengan lahap, sementara Tifa beranjak masuk menuju toilet untuk mandi.
Terdengar suara air jatuh ke lantai. Killua berusaha untuk menikmati makannya dengan tenang, walaupun sedari tadi dalam benaknya selalu terbayang figur seorang Tifa yang basah dibawah guyuran air dengan tubuh tanpa sehelai benangpun. Sial, bayangan Tifa tanpa pakaian kembali menghantui pikirannya. Pipinya terasa memanas, bahkan makanannya hampir tak terasa, kunyah, langsung telan, tanpa menikmati rasanya.
Tifa keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya. Rambutnya tampak lembab –seperti baru dikeringkan dengan hairdryer. Sembari menyisir rambutnya, ia duduk di sebelah Killua dan menyalakan TV. Saat dilihatnya kotak di tangan Killua telah habis, ia mengambilnya dan membuangnya ke tong sampah.
"Ne, Kill. Kau tak masalah kan jika aku tidur denganmu? Tenang, tidurku tak heboh kok," ucapnya sembari tersenyum lebar.
"Di ranjang ini?"
"Iya, dimana lagi. Kau tahu sendiri ranjangnya cuma satu. Boleh ya?"
"Denganku?" tanyanya dengan wajah agak sangsi.
"Iyyaaaa..."
"B-baiklah..." Killua mengangguk kecil, kemudian meminum air dari gelas yang diletakkan di meja kecil sebelah ranjangnya.
"Bagus. Aku mengantuk, mau tidur. Kalau kau membutuhkanku, bangunkan saja aku," Tifa merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sementara Killua memandang sosok wanita yang sering ia panggil dengan sebutan 'baa-san' itu tertidur. Ia tampak begitu anggun saat tidur. Sangat polos, bahkan tak tampak ganas seperti layaknya seorang pembunuh.
Sosok yang membuatnya jatuh cinta.
Sosok wanita yang usianya dua kali lebih tua dari usianya...
Gadis itu sangat cepat terlelap. Killua beranjak dari kasur, mematikan lampu utama, menyisakan sebuah lampu meja sebagai penerangan. Kembali menuju ranjang, dilihatnya gadis yang tidur terlentang dengan manis itu tampak begitu menggairahkan.
Tanpa sadar, Killua menjilat bibir bawahnya.
Aaaaaaagggh, mikir apa sih aku?
Killua merasakan jantungnya berdetak kencang saat ia merebahkan tubuhnya di sebelah tubuh Tifa. Sesekali ia mengerling pada wajah tersebut, dan tanpa sadar, Killua tersenyum tipis. Ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Ranjang sedikit bergoyang. Ia menggeser lagi tubuhnya lebih dekat dengan Tifa. Tiba-tiba saja gadis itu merubah posisi tidurnya, menyamping ke arahnya. Killua berteriak dalam hati melihat wajah Tifa terpampang jelas didepannya. Dengan jantung berdebar, diberanikannya mental serta hatinya untuk tidur menyamping menghadap Tifa.
Sial, wajah itu benar-benar seperti seorang dewi...
Grep.
Killua melebarkan matanya saat merasakan tangan Tifa memeluk pinggangnya.
To-tolong aku...
"Tifa-nee..." bisiknya pelan melihat wajah yang terlelap itu begitu nyenyak. Dengan ragu, ia berusaha mengangkat tangan Tifa, namun gagal, karena Tifa maalah mendekapnya semakin kencang.
Tak ada jalan kabur. Ia benar-benar tersiksa, sementara tiba-tiba saja...perasaan anehnya seperti malam saat ia melihat gadis ini tanpa pakaian kembali muncul. Ia tak tahu apa perasaan tersebut sebenarnya, tapi yang jelas, dorongan itu begitu kuat. Dengan perasaan agak takut, ia memberanikan diri untuk melingkarkan tangannya di pinggang Tifa.
Perlahan...dan berhasil.
Killua mengehla nafas lega saat melihat Tifa tak bereaksi setelah tangannya memeluk pinggang Tifa. Entah kenapa, ada sebuah dorongan aneh yang membuatnya ingin sekali mengecup bibir itu.
Tidak, aku tak boleh melakukannya.
Tapi bibir itu terlalu menggoda untuk dibiarkan...
Sial, apa yang harus aku lakukan?
~oOo~
.
.
Pagi menjelang. Cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah gorden yang tak tertutup sempurna. Tifa masih nyenyak dalam tidurnya, sementara ia tak sadara bahwa ia memunggungi seorang pria yang kini memeluk pinggangnya. Yang ia rasakan hanya satu: perasaan nyaman dan hangat. Memang ia merasakan ada sesuatu yang aneh menyentuh dadanya yang hanya dilapisi piama tipis, namun rasanya perasaan ini belum pernah ia rasakan. Seperti ada seseorang yang membelai kedua dadanya.
Ia berbalik, menyamankan posisi tidurnya. Saat itu ia tak tahu bahwa saat ini seorang laki-laki tengah lelap dengan wajah yang begitu dekat dengan wajahnya. Tanpa sadar, ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Killua, sementara Killua yang masih nyenyak pun menarik tubuhnya ke dalam dekapan. Wajah Tifa terbenam dengan manja di dadanya, dan perlahan Killua mengerjapkan matanya. Hidungnya mencium aroma citrus dari rambut Tifa. Sedikit beranjak menjauh dari tubuh Tifa, dilihatnya wajah damai itu dengan senyum tipis.
Bibirnya begitu ranum.
Merekah.
Dan membuatny bernafsu untuk mengecupnya.
Tapi, haruskah aku mengecupnya?
Ia menggeleng kecil.
Lalu jika bukan sekarang, kapan? Aku belum tentu akan mendapat kesempatan seperti ini lagi?
Kedua sisi batinnya berlawanan. Hanya saja, semakin ia melihat wajah tersebut, semakin ingin ia mengecup bibir tersebut. Hingga pada satu keputusan, ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Tifa, kemudian mendekatkan bibirnya diatas bibir merah muda tersebut.
Lembut...
Tiba-tiba, kecupannya dipagut dengan keras oleh Tifa, sementara kedua tangannya menarik kepala Killua dengan kasar. Matanya terbelalak kaget, sementara Tifa masih menciumnya dengan ganas dalam keadaan tidak sadar. Pagutan bibirnya terasa aneh, manis,basah, hangat...terlalu banyak kata untuk menjelaskan rasa tersebut.
T-tifa-neee...
"H-Hisokaa..." desisnya diantara ciuman tersebut.
Killua merasa hatinya mencelos. Hisoka? Kenapa malah pria itu yang diingat Tifa. Saat itu dilihatnya Tifa mulai tersadar dan seketika didorongnya tubuh Killua dengan pandangan tak percaya dan tersentak duduk.
"Apa-apaan kau!"
"A-aku? Aku tak melakukan apapun! Kau yang menarikku!"
"Kau menciumku duluan!"
Killua terkesiap, tapi berusaha menyembunyikannya. "Tidak, tidak! Tifa-nee menarik kepalaku dan tiba-tiba mencium bibirku dengan ganas!"
Wajah Tifa memerah saat Killua menjelaskannya dengan cukup detail. Ia merasa wajahnya memanas, sementara diliriknya Killua juga tampak tersipu. Sial, ini sangat memalukan. Tifa terdiam sejenak, begitu juga dengan Killua. Sesaat keadaan kembali hening, dan Tifa beranjak menuju toilet. Ia mengambil pakaian santainya dari gantungan, lalu melepas pakaiannya untuk mandi.
Dibawah guyuran air, Tifa terdiam, menyentuh bibirnya. Kenapa ciuman itu terasa begitu nyata. Tiba-tiba saja ia menginginkannya lagi, tapi rasanya itu begitu memalukan, berciuman dengan anak berumur 12 tahun, walaupun secara fisik, Killua memang tampak lebih sedikit dewasa dari anak seusianya. Ah sial, Tifa meruntuk dalam hati.
Yah, bagaimanapun , ia tetaplah perempuan. Yang sebelumnya tak pernah disentuh oleh pria, kecuali pertama kalinya ia disentuh adalah oleh seorang pria aneh bernama Hisoka, namun ciuman ini terasa lain. Dibanding ciuman panas Hisoka, kecupan tadi terasa lembut. Tifa benci kalau ia menyukainya, dan hormonnya seolah mendorong dirinya untuk meminta lebih, tapi tidak, itu tak mungkin.
Semuanya hanya faktor ketidaksengajaan. Itu harus ia catat dalam memorinya.
Selesai mandi, ia memakai pakaiannya,sebuah jeans, sneaker putih, dengan kemeja berwarna biru langit dengan tanktop putih di dalamnya. Rambutnya kembali ia kucir menjadi messy high bun – cepol tinggi yang agak berantakan – kemudian melangkah keluar. Dilihatnya Killua masih menonton televisi dan agak gugup saat melihatnya.
"Tifa-nee, soal tadi ak–"
"Tak usah minta maaf, itu hanya kecelakaan kecil," Tifa tersenyum, menggeleng kecil. Ia menjulurkan tangannya ke kening Killua untuk mengukur suhu tubuhnya. "Tampaknya panas tubuhmu sudah agak menurun. Aku akan memesankan makanan untukmu, tapi aku harus ke kamarku dulu, oke? Jangan kemana-mana dulu sampai kau benar-benar sembuh."
Saat Tifa melangkah keluar menuju kamarnya, tak sengaja ia menangkap sosok Gon yang masih tampak menggantung tangannya di depan dada akibat cederanya, lalu melambai kecil ke arahnya. Tifa tersenyum.
"Pagi, Gon."
"Pagi nee-san! Bagaimana kabar Killua?"
"Sudah cukup membaik, tapi sebaiknya kau menemaninya dulu, aku mau pergi keluar. Aku akan memesankan kalian makanan," kata Tifa menjelaskan, karena Gon sebelumnya sudah mengetahui kalau Killua sakit saat Tifa pergi mengecek keadaannya kemarin.
"Baiklah, hati-hati nee-san!"
"Hn," Tifa mengangguk, sementara dilihatnya Gon melangkah masuk menuju kamar Killua.
~oOo~
Ha, aneh? Aneh? ANEH? SAYA JUGA BERPIKIR BEGITU! Tapi ada setiap maksud dibalik twist cerita, ada setiap maksud dibalik setiap perubahan besar (berlagak sok bijak). Begitu juga dengan maksud saya terhadap cerita ini, jadi...stay tune, fellas.
R n R, minna?
