Based on Hunter x Hunter (2011)

Pairing : Tifa (OC) X Illumi (or maybe Killua?), Slight Tifa x Hisoka

Disclaimer: Hanya beberapa plot dalam cerita ini dan Tifa yang merupakan milik saya, selebihnya punya Yoshihiro Togashi.

.


.

.

Tifa POV

Demam Killua sudah turun, dan ini sudah beberapa minggu kami berada di Arena surga. Ini adalah hari ke 6 semenjak pertarunganku dengan Hisoka. Aku mengetuk kamarnya, dan sebuah suara mengijinkanku masuk. Aku membuka pintu tersebut, dan memandangnya yang kini tanpa make up dan tanpa pakaian anehnya. Ia benar-benar terlihat lain saat itu. Meski hanya berbalut piama, aku merasa ia tampak lebih baik dengan penampilannya yang apa-adanya. Aku berjalan mendekat menghampirinya, lalu meletakkan sebuah bungkusan di meja kecil sebelah ranjangnya.

"Aku bawakan kau makanan, kuharap kau suka..." kataku sembari memandang tubuhnya. "Kau benar-benar sudah sehat ya?"

"Tentu saja~ini berkat kebaikanmu dan juga Machi..." ia tersenyum kecil.

"Ah, syukurlah," aku mengangguk, meski hati kecilku benci mengakui kalau aku cukup senang melihatnya tampak sehat-sehat saja.

"Hanya saja, untuk 2 minggu ini aku tak boleh bertarung demi pemulihan," katanya menjelaskan sembari memeluk guling. Aku mengangguk paham, lalu menghela nafas.

"Ya, itu demi kebaikan tubuhmu juga, jadi menurut saja. Banyak istirahat," kataku pendek. Ia mengangguk. Saat itu aku duduk di pinggir ranjangnya dan memunggunginya. Aku menghela nafas panjang. Saat itu tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan kokoh melingkari pinggangku dan aku terkesiap.

"H-hisoka, a-apaan kau!"

"Aku hanya ingin memelukmu~"

"T-tapi H-Hiso–"

Ia menarik tubuhku sehingga tubuhku jatuh ke ranjang. Hanya dalam beberapa detik aku kini berada di bawah tubuhnya, terperangkap diantara kedua tangannya, sementara aku hanya bisa kaget menatap mata ambernya yang menatapku seperti pemburu menatap mangsanya. Aku tak bisa mendefinisikan pandangan apa yang ia lemparkan padaku – nafsu membunuh atau nafsu yang lain – tapi yang jelas, tatapannya begitu lain bagiku.

"Tifa-chan~"

"K-kenapa kau t-tiba-tiba begini, Hi-Hisoka?" wajahku memanas dan kalimatku terbata saat ia menyusuri rahangku dengan telunjuknya.

"Kenapa kau selalu membuatku panas, neko-chan~"

"M-maksudmu apa?"

Saat itu aku merasakan bibir tipisnya menimpa milikku. Jemarinya meremas-remas rambutku dan rambutku tergerai akibat ulahnya. Saa itu aku bisa merasakan bibirnya bermain dengan milikku, menghisap, menjilat, bermain dengan kedua bibirku. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa ada gejolak yang aneh dihatiku. Kurasakan lidahnya memaksa mulutku terbuka, dan aku membiarkannya memasukki mulutku. Setelah beberapa lama, ia melepaskan ciumannya dan menatapku begitu lembut. Sejujurnya aku tak percaya, bahwa psikopat ini bahkan memiliki pandangan terlembut yang belum pernah aku lihat darinya.

"Neko-chan~" tiba-tiba entah mengapa, ia mendekapku. Aku bingung saat aku merasakan ia menghirup aroma tubuhku dalam-dalam. Yang aku tahu, saat ini aku melihat sisi lain seorang Hisoka.

"Tifa-chan...aku benar-benar merindukanmu~"

Eh?

~oOo~

Hisoka POV

Tubuhku memeluknya erat. Tubuhnya yang tak seperti kelihatannya. Aku menghirup aroma khas gadis itu, aroma yang sesungguhnya membuatku diam-diam mabuk kepayang saat aku didekatnya. Sejak dulu aku selalu ingin melakukan ini, dan akhirnya, impianku jadi nyata. Gadis inilah yang mampu membuatku bisa menunjukkan sikap termanisku sebagai manusia, buah termatang yang tak pernah bisa kumakan karena aku begitu sayang padanya. Wanita yang diam-diam membuatku jatuh hati, dan keberadaannya saat ini seolah menjadi obat dan pelampiasan atas rinduku bertahun-tahun lalu yang akhirnya bisa tersalurkan.

"H-Hisoka, maaf..." ia mendorong dadaku, menjauhkan aku darinya. Aku memandangnya dengan bingung.

"Aku tak bisa, a-aku tak tahu...a-aku..."

Secepat kilat ia bangkit, beranjak berdiri, lalu meninggalkanku disana. Aku terdiam. Sejenak aku menyentuh bibirku, dan kurasakan sensasi lembut bibirnya kembali terasa. Aku tersenyum kecil. Kucing kecil itu selalu membuatku begini. Hilang kendali.

Kucing kecil yang tak pernah bisa kukalahkan. Kucing kecil yang selalu aku inginkan.

~oOo~

Tifa POV

Pertandingan Hisoka dan Gon berlangsung hari ini. Aku duduk di sebelah Killua, mengemil keripik kentang. Saat itu pergerakan Gon benar-benar gila. Ia menyerang Hisoka dengan seluruh kemampuannya, tapi serangan itu berhasil ditangkisnya. Aku memandang Gon dengan khawatir. Kuakui, Gon memang punya potensi untuk menjadi seorang pengguna nen yang hebat, tapi dengan kemampuannya saat ini, nihil rasanya jika ia bisa mengalahkan Hisoka. Hisoka–dengan kemampuan bertarung martial art nya saja–sudah cukup membuat Gon kelabakan. Ia punya banyak gerakan tipuan, yang mana teak bisa dibaca oleh seorang Gon yang masih pemula.

Aku menghela nafas.

Kuakui, ada beberapa hal yang memang tak bisa kau dapatkan dengan hanya potensi. Tentu saja pengalaman. Ia kurang pengalaman dalam bertarung.

"Tampaknya kau resah, Tifa-nee..."

"Tentu saja aku resah," kataku pendek. "Melihat anak laki-laki yang kuanggap adikku sendiri harus melawan pria psikopat macam Hisoka. Ditambah lagi ia memiliki ketertarikan pada Gon..."

"Ketertarikan pada Gon?" Killua memandangku bingung, namun juga setengah tak suka, meski pandangan tersebut kuabaikan.

"Ya," aku mengangguk. "Hisoka adalah tipe pria yang akan menyisihkan makanan paling enaknya untuk dimakan di akhir."

"Maksudmu?"

"Bodoh, kau tak paham kalau dimata Hisoka, Gon adalah buah yang belum matang dan ia tunggu untuk dipetik terakhir saat 'buah' tersebut benar- benar 'matang'?"

"Maksudmu, dipetik itu..."

"Dibunuh," kataku lagi, melahap kripik kentang, "salah satu buah yang matang dan tak bisa ia makan adalah aku, dan tampaknya ia sudah pasrah sejak pertarungan kemarin."

"Pasrah? Bagaimana kau bisa tahu?"

"Hey, Tuan Killua, dengan jurusku, aku bisa membuat tubuhnya jadi debu hanya dalam waktu 15 detik!" kataku memberi tahu. "Kemarin hanya dengan 10 persene nen milikku, aku sudah mematahkan hampir 15 tulang miliknya, dengan satu tulang melayang hancur. Bagaimanapun, ia masih sayang nyawanya, bisa kupastikan itu. Hanya saja, Gon masih terlalu 'mentah' untuk melawannya. AKu hanya khawatir ia akan mempermainkannya dan melukainya saja."

Killua terdiam. Tangannya terkepal. Aku memandangnya heran, karena aku merasakan ada rasa ketidaksukaannya pada perkataanku.

"Tapi tenang, Hisoka tak akan membunuh Gon..." sambungku, "setidaknya tidak untuk saat ini. Baginya, Gon belum cukup 'matang' untuk 'dipetik'."

Killua termenung. Mata kami kembali ke pertandingan. Sudah sembilan point diperoleh Hisoka, dan satu lagi, pertandingan berakhir. Aku menghela nafas. Dalam hatiku aku hanya bisa memanjatkan doa, semoga sampai pertandingan selesai, Gon tidak terkena luka parah atau apapun itu. Aku memandang Hisoka, dan pikiranku membawa lamunanku kembali ke kenanganku dengannya beberapa hari lalu saat aku di kamarnya dan ia menciumku. Kenapa yang aku lihat saat itu tampaknya sangat lain dengan Hisoka yang kini bertanding dengan Gon?

Kemana pandangan lembutnya itu

"Menang dengan TKO, 11 – 4, dimenangkan oleh Hisoka!"

Saat aku mendengar pengumuman itu, aku melongo sejadi-jadinya.

"Kok tiba-tiba berakhir?"

"Baa-san, kau melamun tadi..." Killua menghembuskan nafas lelah.

"BERHENTI MEMANGGILKU BAA-SAN!"

"Baa-san..." gumamnya tak peduli.

BLETAK.

Sebuah jitakan mendarat di kepalanya. "Itttaaaaai..." ia mengelus kepalanya, memandangku dengan pandangan beraca-kaca.

"Rasakan," kataku dengan nada puas. Ia mengelus kepalanya sembari bersungut-sungut.

Pertandingan berakhir. Dengan begini petualangan kami berakhir, dan ini adalah saatnya kami pulang ke pulau Kujira, namun sepertinya aku tak perlu mengantarnya. Aku rasa, petualanganku dengannya harus berakhir disini. Setelah kami berkemas, Gon dan Killua berpamitan pada Wing-san dan Zushi. Aku hanya menunggu mereka dari jauh.

"Jadi, kau akan pulang ke pulau Kujira kan?" tanyaku saat ia menghampiriku.

"Ya, aku ingin menunjukkan Lisensi Hunterku pada Mito-san!"

"Hm, sampaikan salamku padanya kalau begitu," kataku. "Sepertinya perjalananku dengan kalian sampai sini saja. Aku akan berpetualang sendiri..."

"Ha, kenapa?" Gon memandangku dengan kecewa.

"Kurasa, aku juga harus menemukan tujuan hidupku..."

"Kalau begitu, apa kau punya ponsel yang bisa kami hubungi jika kami membutuhkanmu?" Killua memandangku dengan sebuah ponsel di tangannya.

Aku menggaruk kepala, "aku tak punya ponsel..."

"Ha, apa-apaan kau Tifa-nee! Kau harus segera membeli ponsel, sehingga kami bisa menghubungimu jika aku membutuhkanmu! Ayo kita beli!" Killua mendorong tubuhku untuk menuju ke daerah kota. Aku hanya bisa tertawa meringis saat keduanya membawaku ke dalam departement store demi sebuah ponsel. Saat aku akhirnya memiliki sebuah ponsel kami saling bertukar nomor termasuk meminta nomor Kurapika dan Leorio, lalu berpamitan. Sepeninggal mereka, aku menghela nafas, memandang langit yang semakin gelap.

"Lalu apa yang harus kulakukan..." ucapku pada diri sendiri. Kupandang lisensi hunter yang tadi terselip di dompetku, lalu menghela nafas.

Sepertinya aku harus mencoba mencari pekerjaan sebagai Hunter, apapun itu. Aku berdiri, berniat berjalan saat aku menambark seseorang yang empuk. Aku mendongak.

"Yo," Illumi memandangku.

"Eh kau?"

"Lama tak jumpa," ucapnya pendek.

"Ya, lama...kupikir..."

"Hm," ia memandangku dengan wajah kosongnya, "mau kemana kau malam-malam seperti ini?"

"Sepertinya aku akan ke York Shin dan mulai mencari pekerjaan," jawabku pendek. Iseng, kupandang penampilannya saat ini. Ia mengenakan celana panjang warna coklat tua, sebuah jaket hoodie hijau dan kaus berwarna kuning di dalamnya. Waw, ia cukup modis juga. Aku beranjak berdiri saat ia baru saja duduk di sebelahku.

"Aku akan ke York Shin...sampai nanti Illumi," kataku.

"Apa kau benar-benar berniat untuk menjadi Hunter?" tanyanya tiba-tiba.

"Mha, kurasa aku tak punya pilihan lain. Lagipula itu yang terbaik," kataku sembari mengangkat bahu, "kau sendiri, sedang apa disini?"

"Misi," ucapnya pendek. "Tapi sudah kutuntaskan. Besok aku pulang."

"Hmm, baiklah. Jaa-naa..."

"Kau tak tertarik untuk bekerja seperti dulu?"

Aku membeku. Perlahan, aku menoleh padanya. Ia memandangku masih dengan tatapan sama. Entah kenapa, tubuhku tiba-tiba terpaku. Apa dia mengetahui jati diriku yang sebenarnya? Tapi, siapa yang memberi tahu? Hisoka kah? Bisa jadi...tapi apa benar ia betul-betul mengetahui siapa aku? Aku berbalik perlahan, lalu memandangnya serius.

"Apa maksudmu?"

"Bukankah dulu kau juga seorang pembunuh bayaran?"

Aku terdiam. Tiba-tiba nadanya riang.

"Hahaha, kau tertipu. Aku hanya menggertarkmu, Tifa-san. Aku bahkan tak tahu kau ini siapa kecuali teman Hisoka," ia menepuk bahuku pelan. Aku memandangnya sebal, meski tak kupungkiri, aku masih curiga kalau ia mengetahui identitasku dulu.

"Ha, kau yakin?"

"Tifa-san, aku bahkan baru mengenalmu saat ujian hunter, jadi mana aku tahu siapa kau..."ia menjelaskan. Aku menghela nafas sebal, memandang ponselku. Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 PM.

"Illumi, maaf menyela, tapi kukira aku harus segera pergi," kataku menjelaskan.

"Baiklah, kalau begitu bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"

Aku memandangnya tak suka, meski akhirnya aku menunjukkan nomer ponselku padanya, "untuk apa? Jangan bilang kau hanya meminta nomorku untuk memantau keberadaan Killua."

"Sebenarnya itu tak salah, tapi itu juga tidak benar, mengingat ayah bahkan sudah membebaskannya, rasanya sia-sia jika aku harus memantaunya..." ia mengambil ponsel dari saku celananya, menekan beberapa tombol lalu memandangku, "meski bisa kukatakan, rasanya sayang sekali jika ia harus berhenti membunuh demi hidup normal. Ia sangat berbakat untuk jadi seorang pewaris Zoldyck..."

Aku tertawa meringis, "tampaknya kau memiliki penyakit brother complex yang parah..."

"Bukannya seorang kakak memang harus begitu pada adiknya?" tanyanya polos, dan aku memandang wajah itu yang kini terkesan tolol dimataku.

"Tapi tidak berlebihan sepertimu," komentarku ketus.

"Hmm..." ia memasukkan ponselnya, "kau tak tahu betapa berbakatnya Killua."

"Apa peduliku!" sentakku kasar. Melihat wajahnya yang kosong dan gaya bicaranya yang menyebalkan itu lama-lama membuatku kesal juga.

"Kau tahu dimana dia berada sekarang?"

Aku menggeretukkan gigiku, mengepalkan tanganku dengan jutaan tekanan dalam hati agar aku tidak mencekiknya disini. Aku mengambil nafas panjang, dengan perasaan kesal juga heran, kenapa harus ada pria seperti Illumi di dunia ini. Kasih sayangnya terhadap Killua tak bisa kupahami, tapi yang jelas, itu cukup berlebihan untuk sebuah perhatian kakak laki-laki terhadap adiknya. Aku tak pernah tahu soal kasih sayang sebuah keluarga, tapi aku cukup banyak membaca mengenai penyakit mental seseorang melalui buku, dan kuyakini, pria ini posesif, memiliki brother complex, dan mungkin beberapa penyakit kejiwaan lainnya yang belum terlihat.

"Aku tak akan memberitahumu," kataku pendek. "Aku tak peduli jika ia seorang pewaris bisnis keluarga yang baik atau tidak, tapi ia punya hak untuk menentukan hidupnya mau seperti apa."

"Nah, itu yang tak mau..."

"Jangan sampai demi obsesinya hidup normal, ia harus berakhir membunuh keluarganya hanya demi bebas dari tekanan..."

"Huh?" ia terkesiap mendengarku. "Kau bicara apa, Tifa-san?"

"Eh, aku tadi bicara apa?" aku tersentak kaget, berpura-pura tak ingat. Jauh dilubuk hatiku, aku ingin menonjok wajahku sendiri karena mulutku kelepasan

"Tadi kau bicara–"

"Sampai nanti, Illumi!" aku melambaikan tangan, meninggalkannya yang memandangku dengan penuh tanya.

~oOo~

.

Normal POV

Killua tercenung memandang sosok cantik yang kini tampak semakin mengecil saat ia tinggalkan. Ia menghela nafas, merasa begitu lemas. Seumur hidupnya, perasaan ini adalah perasaan paling rumit yang ia rasakan, dimana ia benar-benar merasa tak rela untuk berpisah dengan Tifa. Sebuah perasaan absurd untuk anak seusianya, tapi bagaimanapun, ia juga seorang laki-laki dan manusia yang tak bisa menahan dirinya untuk tidak jatuh cinta pada seseorang, dan perasaannya pada seseorang yang ia cintai atau tidak benar-benar diluar kendalinya.

"Kau kenapa Killua?" tanya Gon saat melihat Killua tampak kuyu.

"Tidak, aku hanya sedih jika kita harus berpisah dengan Tifa-nee..."

"Tenang saja!" Gon menyemangatinya. "Kita sudah punya nomor ponsel untuk menghubunginya, sehingga suatu saat kita bisa bertemu dengannya kapan saja saat kita tak sibuk! Kita pasti bertemu lagi dengannya!"

Pertanyaan di hati Killua adalah; kapan ia bisa bertemu lagi dengan wanita tersebut?

Wanita pertama yang telah mencuri hatinya.

Diambilnya ponsel dari saku celana, dan ditulisnya sebuah pesan singkat untuk Tifa.

To : Tifanny F.

Tifa-nee, hati-hati di jalan. Aku ingin kita segera bertemu kembali.

~oOo~


Bagaimana? :3