High heels

Kaihun

Romance/Humor

Warning for yaoi, easily plot, Typo(s), and other.

.

.

special thanks to Kaish noona. ily

.


Jongin membuka matanya ketika dirasanya biasan sinar matahari menerpa wajahnya yang tampan. Ia memilih untuk menetap di atas ranjangnya. Entah mengapa, ia merasa enggan untuk bergerak sedikit saja. Rasa malas dan mengantuk memang sudah sering menyelimutinya di setiap bangunnya, namun hal yang kini ia rasakan saat pertama membuka matanya adalah rasa pegal pada tubuh atletisnya, terlebih pada bagian punggung dan kakinya.

Sesungguhnya kegiatan tidak pentingnya itu akan memakan banyak waktu yang singkat ini, dan ia akan diberi hukuman jika ia tak segera membersihkan dirinya. Tapi, ugh, salahkan Mr. Kim yang kemarin sore marah marah hingga mulutnya penuh busa lantaran hanya setengah rerumputan yang baru dicabut. Oh, tentu saja ia harus menyelesaikannyaa, dan sialnya, Sehun sudah pergi mendahuluinya, dan membiarkan dirinya tersiksa selama enam puluh menit, kurang lebih. Yeah, mungkin ini karma untuknya, walaupun ia merasa tak sebanding, jelas jelas di sini ia yang paling menderita.

Hidup ini tidak adil. Begitu kata Chanyeol, setiap orang orang menganggap dirinya lebih tampan daripada Chanyeol. Sebelumnya ia tak pernah setuju dengan kata kata Chanyeol, namun untuk saat ini, ia merasa kata kata Chanyeol ada benarnya, mengingat punggungnya yang sudah tak mampu menegakkan tubuhnya.

"Jongin! Cepat bangun atau kuguyur wajahmu itu!"

Sebuah teriakan yang ia sangat yakin itu adalah suara Chanyeol membuat kedua bola matanya berputar putar malas. Ancaman yang benar benar menjengkelkan, karena ia tidak suka jika ranjangnya basah. Dengan berat hati, ia mengumpulkan nyawanya dan bangkit dari ranjangnya sambil memegangi punggungnya. Persis seperti nenek nenek yang kesulitan berjalan.

.

.

.

Suara langkah kaki dari seorang pemuda pucat terkalahkan oleh ributnya siswa siswi di sepanjang koridor lantai tiga, kelas hoobae-nya. Namun mata Sehun―pemuda itu yang menghitam, yang terlihat seperti mata panda membuat beberapa hoobae-nya terus menatap Sehun. Sebenarnya ia juga merasa risih dengan tatapan yang diberikan padanya, tapi ia tak mau mengambil pusing dan terus berjalan seperti sebelumnya ke arah tangga menuju lantai empat.

Sungguh, ia sangat lelah hari ini. Ranjang adalah hal pertama yang menjadi 'yang dirindukan' hari ini. Setelah ia memikirkan nasib dirinya semalaman, dan pada akhirnya ia memilih untuk menguras tabungannya.

Masih dengan langkah malasnya, ia berbelok dan berharap tangganya tidak pindah, karena ia malas untuk mencarinya. Konyol memang, namun itulah yang benar benar ada di pikirannya yang kelut.

Sehun menghentikan langkahnya yang hampir menyentuh tangga, ketika dirasanya pergelangan tangannya terkunci oleh sebuah genggaman. Dengan malas, ia menoleh ke belakang, dan memperlihatkan bitch face nya.

"Se-Sehun...masih ingat aku?" Seorang yeoja dengan senyum manis yang terasa familiar bagi Sehun bertanya ragu ragu ketika melihat respon sehun yang terlihat ogah ogahan.

Sehun tersentak ketika mengingat yeoja manis yang berada di hadapannya itu. "Sulli?"

Yeoja itu semakin mengembangkan senyumannya lega, mendengar respon yang sangat diinginkannya. "Kukira kau akan lupa."

Sehun tersenyum tipis sambil menatap Sulli, membuat pipi Sulli memerah. "Bagaimana aku bisa melupakan orang baik lagi manis sepertimu?"

Sial! Apa barusan seorang Oh Sehun menggodanya? Sulli menundukkan wajahnya menahan malu, tak mau Sehun melihat wajahnya yang semakin memerah.

"Ngomong ngomong, ada apa?"

"Eum... itu..." Sulli menggantungkan kalimatnya, mencari kata kata yang pas untuk di bicarakan dengan pemuda yang berada di hadapannya. "Kau belum menghubungiku..."

Sehun menepuk jidatnya pelan, dalam hati, ia merutuki sepatu eomma. "Maaf, aku lupa," ucap Sehun pada akhirnya.

Sulli mengangguk, lalu mengangkat kepalanya, menyertai senyuman manisnya. "Tidak masalah, mungkin kau sibuk. Lain kali juga tak apa. Sudah ya, aku ada urusan di bawah. Annyeong!"

Sulli berjalan memunggungi Sehun yang terus menerus menatap punggungnya yang semakin lama semakin menjauh. Beberapa detik setelahnya, Sehun tersadar dari lamunanya, lalu berteriak, "Sulli, angkat panggilanku nanti siang!"

Tiba tiba koridor bergeming setelah mendengar teriakan Sehun. Semua mata mengarah ke arahnya yang hanya menelan ludahnya kasar. Shit, pasti mereka berpikir yang tidak tidak.

"Apa? Sehun oppa sudah memiliki kekasih?"

"Bukankah ia sudah bersama Luhan sunbae?"

"Ku kira Sehun hyung tidak lurus..."

"Andwae! Tak ada harapan lagi untukku..."

Sehun menggelengkan kepalanya pelan, yang tentu saja tak disadari hoobae hoobae-nya. Dengan wajah ketakutan, ia berbalik dan berlari menuju lantai empat dan berusaha tidak mendengar kicauan hoobae hoobae-nya, walau akhirnya sia sia.

.

.

.

Walaupun mereka berada di kantin yang ramai, tetap saja Baekhyun dapat mendengar dengan jelas suara dentingan antara sumpit dengan piring yang Sehun ciptakan. Dengan kesal, Baekhyun menoleh ke sebelah kanannya, dan mendapati Sehun yang tengah memainkan makanannya tak berselera. Ditambah sorotan matanya yang terlihat tak begitu bersemangat seperti biasanya, membuat dirinya enggan untuk memarahinya.

Sehun yang merasa ditatap horror, menatapnya balik. "Apa?"

Baekhyun tersedak oleh makanannya dan cepat cepat mengambil minum.

"Kau tidak terlihat bersemangat. Ada apa?"

"Tidak, hanya saja..." Sehun kembali menatap makanannya yang sudah hancur. "Kau mau menemaniku ke mall sepulang sekolah?"

Baekhyun membulatkan matanya. "Apa? Tidak mungkin, besok kan sekolah, hun. Lagipula, apa yang ingin kau lakukan?"

"Kau tahu? Aku sedang dibebani oleh high heels eomma."

"Ada apa dengan high heels eomma mu? Hilang?"

Sehun mengangguk pelan.

"APA?!" Dengan gerakan cepat, Sehun menutup mulut ember Baekhyun. Dan lagi lagi ia harus mendecak karena kini seisi kantin menyorot mereka.

"Jadi..."

"Maaf, hun, aku tidak bisa. Kalau hari sabtu aku bisa." Baekhyun menatap Sehun penuh rasa bersalah.

Sehun menghela napasnya pasrah. Ia juga sebelumnya sudah yakin akan menerima penolakan dari Baekhyun. "Dan pada hari itu pula eommaku menggunakannya."

"APA?!"

Sehun menutup kedua matanya lantaran teriakan Baekhyun yang begitu memekakkan telinga. Berisik sekali, lebay pula, pikirnya.

"Yasudah, aku tahu kau tak bisa. Aku duluan ya." Sehun berdiri lalu berjalan menjauhi meja Baekhyun yang terus menatap punggung Sehun dengan sendu. Dalam hatinya ia benar benar merasa bersalah, karena pada kenyataannya, ialah yang membuat masalah masalah ini.

.

.

.

Sehun menaikkan resleting jaketnya ketika langkahnya sudah memasuki area mall. Untung saja celana sekolahnya berwarna hitam, jadi orang orang tidak akan curiga pada dirinya jika ia membolos. Hng, walau sebenarnya Sehun tidak membolos. Yeah, pada umumnya, sekolah menengah atas di korea akan memulangkan muridnya tengah malam. Dan betapa beruntungnya Sehun, bisa masuk ke sekolah bergengsi yang memulangkan muridnya di sore hari.

Sebenarnya ia sudah mengelilingi mall besar ini, namun matanya tak menangkap satupun sesuatu yang setidaknya familiar untuk high heels eommanya. Dan tentunya itu membuatnya hampir berputus asa, lalu memilih untuk mengistirahatkan kakinya dulu sejenak, di kursi yang sudah di sediakan bagi yang merasa kelelahan.

Dengan ditemani segelas bubble tea rasa cokelat, Sehun terus menonton orang orang yang berlalu lalang di depannya dengan tatapan lelah. Tatapan Sehun yang hanya mengarah ke kantung belanjaan membuat risih orang orang yang melewatinya.

Tiba tiba saja ia merasakan air liurnya menyedak tenggorokannya ketika seorang ibu ibu yang melewatinya. Bukan, tentunya bukan karena dia ibu ibu, melainkan kantung belanjaannya yang memiliki banner yang sama dengan high heels eommanya. Tanpa ragu, Sehun berlari kecil mendekati ibu ibu itu yang sudah jauh darinya, lalu memegang tangannya.

Ugh, ternyata aksi Sehun membuat ibu ibu itu menoleh sambil melotot kaget ke arahnya, oh, tentu itu tidak masalah karena ia memaklumi, namun itu akan menjadi masalah ketika seorang satpam yang tak melepaskan tatapan mengerikannya ke arah Sehun.

"Apa yang kau lakukan anak muda?!" tanya ibu ibu itu sedikit kencang, yang mengundang tatapan menusuk ke arah Sehun.

"Err... di-di mana kau mendapatkannya?" Sehun menunjuk kantung belanjaan orang yang berada di depannya dengan gugup.

Ibu ibu itu menoleh, mengikuti arah tunjuk Sehun, lalu bernapas lega.

"Hhh... kukira ada apa. Kau bisa mendapatkannya di lantai dua di antara toko game dan toko buku," ujarnya sambil tersenyum.

"Te-terimakasih, bu. Saya permisi dulu, maaf telah mengganggu." Sehun membungkukkan bandannya 90 derajat sebelum pada akhirnya meninggalkan ibu ibu itu yang sedari tadi tersenyum melihat tingkah anak itu. Apa ia ingin memberi hadiah pada pacarnya? Hh.. anak muda jaman sekarang, pikirnya.

.

.

.

Ternyata ibu ibu itu tidak menipunya! Berterimakasihlah sekali lagi padanya, karena ini sangatlah mudah di temukan, dan tolong jangan merutuki dirinya sendiri karena kekurangtelitiannya dalam hal mencari "barang". Oh, sejauh ini ia memang tak pernah teliti akan sesuatu, dan semua orang tahu itu.

Dan ia akan segera mendapatkan barangnya jika sosok familiar yang baru saja keluar dari toko yang hanya berisi game sambil memegang kantung plastik yang ―taruhan― isinya beberapa video game, tak menampakkan dirinya.

Ouh, ok, tak usah ditanya lagi siapa, itu jelas sosok Kim Jongin. Namun ia bersama seseorang bermata bulat imut, dan pendek. Sehun langsung bisa menebak, itu adalah Do Kyungsoo, sunbaenya yang sangat baik hati, polos, dan pintar memasak. Sedikit berdenyut pada dada di sebelah kirinya, tapi ia segera tersadar dan bersembunyi di balik tiang, jika dirinya ingin selamat.

Merasa aman kembali, ia mulai menampakkan dirinya dan bersiap untu berjalan seperti biasa, berharap Jongin dan Kyungsoo belum melihatnya.

"Tuh, kan, Jonginie! Itu Sehun, yang beberapa bulan lalu memenangkan olimpiade matematika!"

Shit! Mau tidak mau ia harus membalikkan badannya, walau rasanya ia sedikit sulit untuk menggerakkan badannya, karena disitulah Jongin berdiri sambil memutar bola matanya malas.

"Eh? A-annyeong, Kyungsoo sunbae, dan... err... Jongin-ssi." Sehun sedikit memaksakan senyumnya canggung, dan masih tak berani menatap Jongin.

"Kau lagi." Suara bass yang terdengar malas membuat telinga Sehun memanas. Dan setelahnya pemilik suara itu mendapatkan pukulan kecil di lengannya dari Kyungsoo.

"Yeah jangan pernah bosan melihatku," jawabnnya setenang mungkin, namun menyertai seringaiannya.

Jongin hanya mendecih dan membuang muka. Pasalnya, ia masih tak bisa berhenti memikirkan bibir tipis pemuda yang tengah menyeringai dengan gampangnya di hadapannya ini.

"Kalian saling mengenal?"

"Tidak," jawab mereka berbarengan.

Kyungsoo menghela napasnya. "Hem, ngomong ngomong, kau sedang apa berdiri di depan..." Kyungsoo menggantungkan kalimatnya. Lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat nama toko itu. "Toko―"

"A-aku hanya melewatinya, baru saja ingin pulang." Sehun tergagap.

"Baiklah, apa kau mau minum bubble tea bersama kami?"

Jongin memandang Kyungsoo tak suka. "Hyung..."

"A-apa? Bagaimana―"

"Semua orang juga sudah tahu kalau kau penyuka bubble tea akut. Hahaha." Seakan dapat membaca pikiran, Kyungsoo langsung menjawab tanpa menunggu Sehun melanjutkan kalimatnya. Sehun membiarkannya, menatap canggung Kyungsoo yang tertawa lepas dengan manisnya. Ugh, pantas saja Jongin memilihnya.

Plak!

Kyungsoo menghentikan tawanya ketika melihat Sehun menampar pipinya sendiri, begitu pula Jongin, yang sedari tadi hanya mendengus bosan menunggu keduanya berbicara. Keduanya menatap Sehun bingung.

Aish! Apa yang baru saja ku pikirkan? Dan apa yang baru kulakukan? Ini benar benar bodoh!

Sehun menggelengkan kepalanya pelan, lalu tersenyum tipis, menahan malu, walaupun rona di pipinya tak dapat ia sembunyikan.

.

.

.

Setelah membeli bubble tea dan berbincang bincang sedikit, yang diselipi ledakan tawa yang terdengar sangat puas, dan membuat Jongin memutar bola matanya malas (lagi), mereka akhirnya berpisah karena sudah larut malam. Namun ternyata Kyungsoo tak bisa pulang bersama Jongin karena harus menunggu sekitar setengah jam lagi untuk mendapatkan batang hidung temannya, yang sebelumnya sudah dijanjikan akan bertemu.

Sialnya, selain matahari sudah terbenam, hujan juga ikut menerjang sebagian kota Seoul dan bertepatan di tempatnya berdiri.

Sekarang mau apa? Ia tak mungkin meminta dijemput Luhan, atau ia akan mendapatkan omelan serta ejekan jika ia benar benar memberi tahu Luhan tentang rahasianya ini. Bicara soal high heels, ia jadi merasa kesal sendiri. Tujuan utamanya datang ke sini adalah high heels, namun kenapa malah satu gelas bubble tea yang sekarang berada di genggamannya?

Sehun tak punya pilihan. Dengan putus asa, ia berdiri di dekat pintu utama sambil menunggu hujan reda. Yang sepertinya tidak akan cepat reda. Argh!

Puk.

Dapat dirasanya sebuah tangan bertengger di bahu sebelah kanannya. Ia mencoba menoleh, dan mendapati Jongin yang tidak menatapnya.

"A-apa?" Sehun masih setia menatapnya.

"Kurasa hujan tidak akan cepat reda. Pulanglah bersamaku." Jongin melangkah masuk ke dalam mall, yang sepertinya bertujuan ke baseman.

"Eh?" Pipi Sehun sedikit memerah, dan ia bersyukur Jongin tidak sedang melihatnya.

"Kyungsoo hyung yang memintaku." Jongin menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang. "Kau mau ikut atau tidak?"

Rasanya memang sedikit kecewa ketika mendengar kalimat pertama yang Jongin keluarkan dari mulutnya. Namun ia segera menggelengkan kepalanya kecil, tak terlihat oleh Jongin, lalu berjalan mengikuti Jongin di mana ia menempatkan mobilnya.

.

.

.

Suasana di dalam tidak begitu menyenangkan, hanya ada keheningan dan kecanggungan yang menyelimuti, tak ada di antaranya yang mau atau berani membuka pembicaraan hanya untuk sekedar mencairkan suasana. Yeah, memang tak ada yang mau. Tapi semuanya berubah ketika kecepatan mobil Jongin yang di atas rata rata, dan sukses membuat Sehun heboh sambil menekan nekan jantungnya.

"Yak! Dasar bodoh! Kalau kecelakaan bagaimana?!"

"Kau yang bodoh! Bagaimana bisa kau memukuli orang yang sedang menyetir?!"

"Kalau begitu cepat turunkan kecepatannya, hitam!"

"Dan tolong untuk menyingkirkan tanganmu, Albino!"

Jongin menurunkan kecepatannya sebanyak 50 persen. Walaupun Sehun sudah tak merasa jantungnya ingin melompat keluar lagi, ia masih merasa kesal dan terus menerus menatap Jongin melalui kaca yang berada di mobil Jongin. Jongin pun masih belum memutuskan tatapannya ke Sehun melalui cara yang sama.

TIIN TIIIN!

Dengan lihai Jongin langsung membelokkan stirnya, dan membiarkan mobil di belakangnya mendahuluinya.

Sedikit jahil, Jongin melirik ke arah Sehun dan langsung mendapati Sehun yang tengah melotot sambil memegangi dada kirinya dengan kedua tangannya yang kaku. Mulutnya sedikit terbuka, membuat Jongin ingin sekali menyumpalnya dengan puluhan gelas bubble tea.

"Kau tak perlu repot repot untuk menunjukkan ekspresi bodohmu itu," ujar Jongin yang lebih menjurus ejekan, sambil diikuti kekehan kecilnya.

"Ini tak lucu!" Sehun menutup kedua matanya, lalu memajukan bibirnya.

Lucu.

A-apa?

Jongin mengalihkan pandangannya, dan berusaha untuk tetap fokus pada jalanan. Sialan pemuda yang di sebelahnya ini, bisakah ia menormalkan kembali bibir tipis dan kissablenya itu? Tak usah memajukan bibirnya seperti itu, karena Jongin hampir mengalami sesak pada pernapasannya. Tidak, paling itu hanya karena ia tak terbiasa melihat manusia bermulut mancung, sehingga ia harus menahan napasnya. Ini masuk akal.

―Sama sekali tidak.

Jongin menghela napasnya. Seharusnya ia tak usah memikirkannya, karena itu tak pantas untuk dipikirkan. Oh ayolah, siapa yang tidak kenal Kim Jongin?

Jongin memperlambat kecepatannya ketika mobilnya sudah memasuki area perumahan. Saat ia teringat akan keberadaan Sehun, Jongin berdeham.

"Albino, di mana rumahmu?"

Jongin mengernyitkan dahinya, tak mendapatkan respon apapun dari Sehun.

"Hey!" Jongin mengguncang guncangkan tubuh ramping Sehun, tapi nyatanya itu tak berpengaruh.

"Jangan membuatku menunggu lama, ini tidak lucu! Sama seka―" Jongin menghentikan ucapannya ketika ia menyibak poni Sehun dan dapat melihat kelopak matanya yang sudah tertutup.

Oke, ia jadi merasa keterlaluan karena telah mengerjai Sehun habis habisan, dengan menaikkan kecepatan mobilnya. Dan kini ia mendapatkan karma (lagi) karena―

"Sial! Kemana aku harus mengembalikannya?"

Otak Jongin berputar putar untuk mencari jalan yang mudah dan masuk akal, dan akhirnya mata Jongin bertemu dengan handphone Sehun yang Sehun genggam.

Jongin mengambilnya, dan berharap ada satu dua clue mengenai tempat tinggal Sehun.

10 unread massages

Pada awalnya, Jongin ingin mengabaikan pesan pesan yang belum terbaca, namun ia merasa harus, karena bisa jadi itu ibunya atau semacamnya, lalu ia akan menghubunginya dan meminta alamat Sehun.

Beki

Sehun! kau belum kembali? Kau dicari pacarmu Luhan!

Pacar?

Jongin segera memeriksa ulang dan ternyata orang yang bernama Luhan sudah mengirimi Sehun pean singkat yang cukup banyak.

Luhan

Hey! Kau di mana?!

Luhan

Sehun! cepat kembali! Kau mau dibunuh eomma, eoh?

Oh kakaknya. Jongin memutar kedua bola matanya malas.

Beki

Sehun, bagaimana? Sudah ketemu high heelsnya?

Jongin hanya berhenti pada salah satu pesan singkat yang seharusnya menjadi yang pertama Baekhyun kirimkan untuk Sehun. Cukup membacanya sekali, bibirnya sudah membentuk senyum miring andalannya.

.

.

.

tbc


a/n: BERANTAKAAAAN! T_T

oke, saya minta maaf, pertama, karena updatenya lama, kedua, alur berantakan-_,-

sungguh, sebenarnya saya tidak terkena WB, tapi biasa lah... mager ngetik-_- ini aja saya sempat sempatin, merasa punya tanggung jawab sama nih ff *tendang ffnya*

tapi makasih loh yang udah nungguin, saya jadi terharu :'')

dan... jadi... di sekolah Sehun, muridnya lebih banyak yang menganggap luhan itu kekasihnya Sehun ketimbang kakaknya. karena ada beberapa murid yang sering lihat sehun dan luhan sering jelan bareng ke kedai bubble tea-_- untuk masalah baekhyun tadi, baekhyun cuma bercanda tentang Luhan.

terimakasih juga untuk;

hunhan. shipper. 56 . suyanq . SehunBubbleTea1294 . YoungChanBiased . xoxowolf . daddykaimommysehun . Odult Maniac . ayanesakura chan . Mr. Jongin albino . DiraLeeXiOh . RanHwa19 . sayakanoicinoe . KaiHunnieEXO . shinshin99SM . LKCTJ94 . indaaaaaahhh . Misyel . Psychopat. Orz . DarKid Yehet . askasufa . UnicornTry . kireimozaku . evilwu79 . Kim XiuXiu Hunnie . Yuki Edogawa

dan semua yang sudah menyempatkan diri untuk membaca ff saya.

sekian.