Based on Hunter x Hunter (2011)
Pairing : Tifa (OC) X Illumi (or maybe Killua?), Slight Tifa x Hisoka
Disclaimer: Sebgian besar plot dalam cerita ini dan Tifa yang merupakan milik saya, selebihnya punya Yoshihiro Togashi.
.
.
.
.
.
Tifa POV
Sejujurnya aku heran. Sejak kecil aku selalu ingin terlepas dari kekangan keluarga Fuscienne dan hidup bebas, berteman dengan siapapun, makan enak sepuasnya, dan bisa melakukan apapun yang kusuka. Tapi saat aku benar-benar terbebas, aku bahkan bingung dengan apa yang harus kulakukan. Sejak kecil aku terbiasa membunuh, dan sebagai Hunter, kemungkinan besar atau pada beberapa kesempatan, aku pasti diharuskan membunuh, sementaraitu adalah hal yang harus kuhindari sekarang. Bagaimanapun, janji adalah janji. Dan aku tak bisa mengingkarinya.
Didalam kapal udara, aku hanya bisa pasrah memikirkan apa yang seharusnya aku lakukan. Kepada siapa aku harus meminta saran? Gon dan Killua? Ah rasanya mereka terlalu muda untuk ditanya-tanya. Leorio? Pria mata duitan mana paham pertanyaan sulit. Kurapika? Nah. Aku tersenyum. Laki-laki dari suku Kuruta itu cukup pintar dan bijak, sehingga kurasa ia bisa jadi tempatku bertanya. Aku mengambil ponselku, dan aku mengirimnya pesan.
To: Kurapika
Yo, Kura-chan. Ini aku Tifa. Apa kabarmu? Aku berniat ke York Shin, dimana kau sekarang?
Send.
Terkirim. Yosh. Sekarang aku tinggal menunggu kabarnya saja. Dengan french fries di tanganku, aku mengemil sepuasnya. Tak sampai lima menit, sebuah pesan masuk.
From: Kurapika
Jangan panggil aku dengan embel-embel 'Chan'! Aku baik-baik saja, aku di York Shin skrg.
Aku tertawa. Dan aku membalasnya.
.
To:Kurapika
Kau kan masih usia 18, jadi rasanya kupanggil dgn embel" chan tak mslh. Kau di York Shin? Aku bru sj brniat ksn untuk mencari pkrjaan sbg Hunter.
Terkirim.
Meanwhile...
"Wanita itu!" Kurapika mengangkat sebelah alisnya dengan pandangan tak suka menatap ponselnya.
.
From: Kurapika
Baik, baik baa-san. Kurasa kau sudah lebih dari memenuhi kemampuan sbg Hunter. Ngmg" aku juga sudah mempelajari nen skrg, jd aku bs dianggap stara dgnmu. Knp kau tak mncri pkrjaan sbg Blacklist Hunter dan bkrj pada mafia atau smcmnya? Kurasa kemampuanmu akn sgt brguna.
.
"Baa-san?" aku tersentak kaget membaca pesan tersebut. Sial. Sekarang aku benar-benar merasa tua. Setelah Killua, kini Kurapika. Apa karena umurku tua, lantas mereka seenaknya saja memanggilku 'baa-san'? Aku masih cukup baby face untuk dibandingkan dengan wajah para remaja 17 tahun-an! Sialan. Killua sih aku masih maklum, tapi Kurapika? Tunggu dulu, dia terlalu meany untuk memanggilku baa-san! Aku tak terima. Dan apa itu tadi, setara denganku? Tch, tch, you still have long way to go! Aku merengut seketika.
Eh, tapi isi pesannya boleh juga. Mungkin aku akan mempertimbangkannya. Hanya saja, hidup di bawah majikan yang biasa dalam kehidupan underground membuatku tak suka juga. Mereka masih sama, sebelas dua belas dengan membunuh dan sebangsanya, sementara itu bertentangan dengan janjiku.
To: Kurapika
Sial, aku mrs lbh tua skrg. Entahlah, aku tak mamu membunuh lagi. Aku khawatir dengan kerja seperti bodyguard atau smcmny aku harus membunuh lagi. Tapi, mungkin aku mmg hrus mncobanya.
Pesan itu terkirim. Bertepatan dengan itu, kapal udara yang kutumpangi mendarat. Aku menuruni kapal tersebut, lalu mencari sebuah taksi yang dapat membawaku ke gedung Asosiasi Hunter. Perjalanan menuju gedung tersebut memakan waktu 20 menit. Sesampainya di gedung tersebut, aku beranjak masuk dan mengkonfirmasi sebagai anggota, aku diizinkan menemui Netero-jii di lantai 21.
Aku mengetuk pintu ruangannya. "Masuk..." terdengar suara dari dalam.
Aku membuka pintu tersebut. Kulihat pria berambut kucur dengan jenggot putih dengan pakaian berwarna putih tersenyum senang melihatku.
"Tifa-kun..."
"Ketua Netero..."
"Panggil aku Netero-Jii, Tifa-kun. Te? Ayo duduk...sepertinya kau datang kesini karena menginginkan sesuatu, iya kan?"
"Ah, Netero-jii selalu tahu apa yang kumau..." aku tersenyum dan duduk di sebuah sofa sementara ia menyediakan sebuah teh hijau di meja. "Sejujurnya aku hanya butuh saran darimu, jii-san."
"Saran? Saran seperti apa yang kau mau?"
"Saran seperti..." aku terdiam, "...mungkin langkah selanjutnya dalam hidup ini. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan ke masa depan nanti, jii-san..."
"Seharusnya kau ke agensi Hunter dan mencari pekerjaan dari sana, Tifa-kun."
"Aku malas mencari kantor agensi Hunter, Netero-jii."
"Hm..." ia mengelus jenggotnya, "begini saja. Aku punya alamatnya. Kau kesana sendiri."
Ia mengambil sebuah kartu nama dari laci meja kerjanya, dan menyerahkannya padaku. Aku menghela nafas lagi.
"Ohya, jii-chan. Soal taruhan itu karena aku yang kalah...aku akan mengirimkan uangnya ke rekeningmu..."
"Tentu, aku tunggu!" ia tersenyum lebar, dan aku menutup pintu dari luar.
Aku harus kembali mengembara.
~oOo~
Normal POV
Tifa memandang surat kabar di pagi itu. Terlalu banyak jumlah penjahat. Bandit pemerkosa, tukang korupsi. Yang terakhir mungkin akan sulit ditangkap tanpa adanya bukti. Tifa membaca mengenai beberapa berita pembunuhan disekitar kota kumuh di selatan.
Husle O'Neil. Pemerkoa dan pembunuh. Motif belum diketahui. Jumlah korban hampir 80 orang. Tifa berdecak. Yah, pembunuh seperti inilah yang tak ia suka. Ia memberi beberapa ratus jenny pada sang loper koran, lalu menepikan taksi, menuju bandara. Tujuan kota utamanya saat ini adalah Budaveck, kota kumuh di selatan dimana kejadian kasus tersebut masih hangat.
Keberangkatan menuju Budaveck benar-benar terasa panjang. Meski hanya 2 hari, tapi ia merasa hari itu lama sekali. Sebagai Black List Hunter, ia selama 2 bulan ini ia telah menangkap lima orang kriminal dan membawanya ke balik jeruji besi. Karena prestasinya menangkap para kriminal dan buronan, ia jadi akrab dengan beberapa Black List Hunter, dan salah satunya adalah Lippo. Dalam dua bulan terakhir, ia benar-benar menyibukkan dirinya dengan berbagai misi.
Sesampainya di Budaveck, ia menemui seorang pria yang ia anggap sebagai informan. Ia duduk di sebuah kursi panjang sebuah penjual minuman di pinggir jalan. Pria tersebut duduk disebelahnya seolah tak saling kenal.
"Jadi?" ucap Tifa pelan.
"Ia terlihat terakhir kali di disekitar kota Matutu, dan terkadang ke Dungaga juga. Kota tersebut berdekatan. Biasanya ia melakukan aksinya pada jam 10 ke atas, dengan pola yang tak tentu, tapi ia paling sering melakukannya di hari Selasa, Rabu dan Jumat."
"Baik," Tifa mengangguk kecil. Langkahnya melebar, mencari sebuah hotel yang tak jauh dari kota Matutu dan Dungaga. Ia check ini di sebuah hotel kecil agar tak mencurigakan, berpakaian sangat slengean dan tampak acak-acakkan agar bisa membaur di kota kecil yang kumuh tersebut. Kemungkinan ia akan bergerak nanti malam. Sepanjang hari ia menunggu, ia menghabiskan waktunya dengan novel-novel action yang baru saja ia beli. Semenjak ia mengakhiri pernikahannya (meski secara tak resmi) ia malas membeli novel percintaan. Ia takut perasaan rindunya tak terbendung, jadi semaksimal mungkin, ia mengambil langkah untuk jauh-jauh dengan hal berbau romantisme.
Malam mulai menjelang. Tifa bangkit dari kasurnya, dan meloncat dari jendela. Tifa, dengan jaket hoodienya yang gelap dan kumal, berjalan diantara deretan rumah yang tak layak huni sembari menahan bau tak sedap di tempat tersebut. Tiba-tiba saat ia baru saja berniat memakan permennya, sebuah teriakan terdengar. Telinganya dapat menangkap suara tersebut dari arah Timur. Tifa meloncat dan dengan sigap, meloncati atap-atap rumah tersebut tanpa kesulitan.
Pria itu tampak berambut coklat dengan tubuh gelap dan agak kekar. Ia tersadar saat Tifa mengejarnya, meninggalkan dua jasad wanita yang tergeletak di jalan kecil tersebut. Tifa mendesis sejenak melihat korban yang tampak tak senonoh saat kematiannya, berlari mengejar buronan tersebut. Pria yang ia duga bernama Husle O'Neil itu terasa semakin dekat. Ia memusatkan nennya pada kakinya, dan secepat kilat tubuhnya melesat, memojokkan pria tersebut di antara jalan-jalan setapak. Tanpa kesulitan, ia menghantam kepala pria tersebut dengan tinjunya, dan pria itu jatuh tak sadarkan diri. Dari sebuah tas selempang kecil miliknya, ia menyuntikkan sebuah obat penenang pada pria tersebut. Diambilnya ponsel, dan ditelponnya seorang pria bernama Bushidora Ambitious.
"Bushi-san? Aku menangkap Husle O'Neil. Ya, kirim saja polisinya. Baik, sampai nanti," Tifa menutup
Tifa mengangkat buronan itu dengan mudah, dan mengangkatnya ke sekitar pinggir jalan dimana polisi akan mudah menemukannya. Saat raungan mobil polisi terdengar dan menepi , Tifa berdiri di pinggir dan menunjuk sesosok pria yang ia letakkan begitu saja didekat tiang listrik.
Bertepatan dengan itu, bayangan seorang pria tersenyum di atas sebuah atap rumah memandang kepergian sosok wanita tersebut.
"Selanjutnya, Sirose..." gumam Tifa sembari memandang peta dalam GPS melalui ponselnya.
~oOo~
Tifa POV
Republik Unaihulu, kota Sirose. Dari Budaveck, butuh waktu 5 hari untuk sampai kesana. Perjalanan yang panjang itu membuatku bosan, sehingga aku memutuskan untuk membaca buku novel yang kubeli 2 hari lalu. Sesampainya di bandara, aku turun. Dengan lisensi, aku menggesekkan kartu tersebut untuk memastikan bahwa aku mendapat izin masuk dengan lisensi tersebut. Aku berjalan melenggang, memandang suasana sekitar. Kota Sirose ini sebenarnya indah, hanya pada beberapa bagiannya, telah hancur. Mungkin akibat para pengguna nen yang menjarah sebagian toko perhiasan. Dari Netero-jii, aku mendapat penjelasan bahwa para bandit ini hanya mencari batu permata saja, namun tidak mencuri barang antik apapun. Alasan mereka belum diketahui, tapi yang jelas aku harus menghabisi mereka.
Yah, pekerjaan ini tidak seperti pembunuh bayaran kok.
Matahari mulai tenggelam saat aku check ini hotel. Aku harus segera bergerak saat mereka melakukan penjarahan yang dikabarkan akan dilakukan dua hari lagi di sebuah toko berlian terbesar di Sirose, Emerald Jewelry Shop. Masih ada satu hari untukku untuk beristirahat sembari mengumpulkan informasi dan bergerak melawan mereka.
Meanwhile, few days ago in same country...
"Hm? Kau membutuhkanku?" tanya Hisoka, bingung saat Illumi menelponnya. "Kau tahu itu tidak gratis..."
"Aku akan membagi separuh upahku padamu jika kau membantuku..." ucap Illumi.
"Hmm, sepertinya tawaran yang menarik. Baiklah, aku menerimanya~lagipula aku sudah lama tak bertarung," ucapnya dengan suara yang selalu melantun seperti biasanya.
"Baiklah, aku akan menunggu kau di Magdalena Hotel tanggal 18 Juli,"
"Okay~,"sahut Hisoka kalem.
Telepon itu ditutup. Illumi merebahkan tubuhnya ke kasur dan meletakkan tangannya di belakang kepala.
~oOo~
Illumi POV
"Illu-kun~," suara Hisoka membuatku menoleh. Kulihat ia dengan pakaiannya yang selalu aneh itu, tersenyum lebar padaku.
"Ah kau datang juga," kataku sembari melempar pandang ke Hisoka, "kau tepat waktu. Aku tahu kemana mereka akan bergerak sekarang."
"Ah, para pengincar berlian itukah? Hmm, aku bingung kenapa mereka repot-repot mencuri berlian~," Hisoka berjalan disebelahku menuju Emeral Jewelry Shop, menyusuri jalan yang agak gelap karena kami melewati beberapa gang kecil. Kami menaiki gedung permata terbesar itu dari ventilasi udara.
Tapi ketenanganku sedikit terganggu saat aku mendengar sebuah dentuman dari gedung tersebut. Baik aku dan Hisoka langsung menuju sumber suara darimana dentuman itu berasal. Saat itu aku kaget. Dari balik reruntuhan aku melihat seorang wanita dengan rambut indigo tergerai kini bergerak menghindari serangan 3 orang pria yang salah satunya kukenal dan merupakan target utamaku dalam misi, Jun, pemimpin kelompok pencuri berlian tersebut. Klienku meminta aku hanya membunuh pemimpin mereka, entah motifnya apa, sepertinya motif pribadi. Wanita itu tangguh, karena hingga saat ini ia masih baik-baik saja tanpa luka sedikitpun, sementara tiga pria yang menyerangnya kini sudah berdarah-darah. Saat ia menghindar dengan cepat dimana wajahnya menghadap ke arah dimana aku mengintip, aku melihat kini wajahnya dengan jelas.
Itu Tifa.
"Kalian terlalu lemah," Tifa berkacak pinggang, berdiri bagai tower diantara reruntuhan beton sementara lawannya mendongak melihatnya, "ini pertandingan tiga lawan satu, tapi sampai saat ini kau belum melukaiku sedikitpun. Kembalikan permata itu, maka aku akan membiarkan kalian hidup..."
"Jangan meremehkan kami! Yuma! Serang!" Jun meneriaki salah seorang anak buahnya yang kini tampak berdarah-darah. "Pastikan kita mengalahkannya!"
"Hngg...sepertinya jiwa bertarungmu muncul kalau kalian dihina," Tifa mengambil sebuah batu sekepalan tangan, "tapi kita sudah bertarung dua jam dan kalian membuatku marah..."
Tiba-tiba aku melihat seorang pria yang bangkit dari reruntuhan, mungkin anak buah Jun, tiba-tiba melakukan gerakan untuk menyerang, dan seketika aku keluar dari tempatku bersembunyi dan melemparkan lima jarumku ke kepalanya.
Ia menoleh ke arahku.
"Ah, kau..." Tifa memandangku sejenak, tampak sedikit kesal, lalu kembali menghindar saat Jun mengantamnya dengan sebuah nen berbentuk raksasa yang menyerangnya.
"Kau berhutang budi padaku karena dia hampir mengenaimu," kataku pelan.
"Aku sedang bekerja," katanya pendek. Kulihat matanya mengerling saat Hisoka muncul dari belakangku.
"Ara~neko-chan, kau disini rupanya! Lama tak jumpa," Hisoka pun keluar dari persembunyiannya, menyapa gadis berambut indigo yang tampak begitu cantik saat rambutnya tergerai, "kau tampak berbeda saat rambutmu tergerai, neko-chan~"
Sejujurnya aku sedikit kesal ketika Hisoka memberinya panggilan sayang seperti itu. Tapi, Tifa masih tak bergeming, menganggap pembicaraan kami hanya angin lalu. Yang jelas, ia kembali menghindari serangan saat Yuma dan Gerra menyerangnya, sementara aku mulai menyerang Jun. Aku lihat Jun itu cukup tangguh juga. Tifa tampaknya tak peduli dengan keberadaan kami, bahkan ia juga tak menahan beberapa serangan emisi nennya yang hampir menerpa tubuh kami. Aku merasakan ia mungkin kesal, entah karena apa. Saat aku muncul, auranya berubah menjadi lebih gelap dan kuat.
Mungkin karena keberadaanku.
"Tifa, Jun adalah targetku, jadi biarkan aku membunuhnya."
"Semua orang disini bisa jadi targetku," katanya pendek. Tiba-tiba aku merasakan sebuah en besar menyelubungi tubuhnya dan ketiga penyerang itu seketika tampak tercekat, seperti kehabisan nafas. Tangannya terjulur, perlahan memebnetuk kepalan, dan kudengar sebuah teriakan kesakitan terlontar dari mulut ketigany. Perlahan tubuh mereka terjatuh dengan darah di mulutnya.
Apa yang ia lakukan? Sungguh aku tak paham dengan apa yang ia lakukan. Ia hanya menyelubungi tubuhnya dan ketiga pria tersebut dengan en, dan aku melihat jelas ketiganya meraung kesakitan dan terjatuh. Atau...apa dengan En saja ia bisa membunuh seseorang? Tapi, jurus macam apa itu? Tokushitsu? Apa dia seorang spesialis?
"Ohook..." suara batuk dari salah satu pria yang terkapar dari tanah tersebut terdengar. Aku menoleh. Ternyata pria itu Jun. Aku membentuk sebuah jarum dengan nenku, dan kulemparkan ke kepalanya, sehingga ia mati seketika.
Misiku selesai.
Kulihat Tifameloncat turun, lalu mengambil sebuah kotak permata dari saku celana Jun. Dibukanya kotak tersebut, lalu ia mengangguk, sepertinya meyakinkan bahwa barang itu masih aman.
Hisoka tersenyum, berjalan mendekati Tifa, lalu memandang kotak itu, "apa itu?"
"Permata," sahutnya kecil. Ia memandang berlian itu sejenak, mengambilnya dan meniupkan nafasnya ke arah permata tersebut, "masih asli rupanya."
Sebuah ponsel berbunyi. Kulihat Tifa mengambil ponsel dari sakunya, lalu mengangkatnya.
"Ya, aku berhasil. Apa? Ya, berliannya ada padaku, aku akan memberikannya padamu dan biar yang punya mengambilnya sendiri. Ohya, sekalian ganti rugi mengenai kerusakan gedung, mereka lawan yang keras kepala, jadi aku harus pakai cara kasar. Ya, baik. Aku akan segera pulang."
Tut.
"Mha, aku telah membayar hutangku dengan menyerang Jun untukmu, jadi kita impas," Tifa memandangku sembari menunjuk Jun, "dan kau tak perlu membayarkan uang klienmu untukku. Aku tidak mata duitan."
Ia mendesah sejenak, memasukkan kotak berlian itu ke dalam tas yang tergeletak tak jauh darinya, kemudian mengambil sebuah lolipop dari sakunya, dan mengemutnya. Saat ia berjalan menjauhi kami, aku mendengar ia mendesah.
"Aku hampir saja membunuhnya..."
Aku terdiam dengan hati mencelos memandang kepergiannya. Bayangan itu langsung segera hilang, dan hatiku kesal karena aku bahkan tak bisa mencegatnya.
"Dia monster..." gumamku, dan kudengar tawa kecil Hisoka.
"Sudah kubilang padamu, dia hebat kan~?" Hisoka berkacak pinggang. "Aku yakin kau bahkan akan terkesima dengan kemampuannya."
Iya, aku akui ucapan Hisoka. Aku tak heran jika Hisoka sangat bernafsu melawannya, karena tabiat Hisoka adalah ia selalu ingin melawan orang yang lebih kuat darinya.
"Hanya saja, aku sadar, ia tak pernah bisa aku lawan..." desah Hisoka.
"Ayo kita pulang," kataku pendek, mengirim pesanku pada klien agar ia bisa mengirim sejumlah bayarannya ke rekeningku, lalu melenggang kembali ke hotel.
Kuakui, aku berhutang budi pada Tifa.
Dan setelah melihat pertarungannya, sekarang aku sadar bahwa Tifa bukanlah orang biasa.
"Hisoka..." aku memandang pria berambut merah itu dengan pandangan serius. "Apa kau tahu siapa sebenarnya Tifa?"
Tifa POV
"Oy Tifa-neechan! Apa kabar?"
GLABRUK.
Aku meraba-raba, mencari ponsel yang terlepas dari tanganku. Aku mengaduh sejenak akibat terjatuh dari kasur, lalu menemukan ponselku dibawah ranjang, kemudian mengambilnya.
"Oy, Killu. B-baik...maaf aku baru bangun tidur," kataku pendek. "Kau sendiri bagaimana?"
"Tentu saja kami baik. Kami sudah di York Shin, dan mencari uang untuk game Greed Island..."
"Ha, game? Kenapa game?" kataku sembari menggaruk pipiku.
"Petunjuk ayah Gon berada dalam game tersebut. Hanya saja, harga game itu gila sekali, Tifa-nee," katanya mengeluh. Aku mengerjapkan mataku, beranjak berdiri lalu duduk di pinggir ranjang.
"Memangnya berapa?"
"Sekitar 9,5 milyar. Hanya saja itu penawaran awal, karena sistemnya bentuk lelang, maka harganya bisa lebih mahal."
"GILA! Game macam apa itu?! Lalu apa yang bisa kulakukan?" kataku terbelalak.
"Bantu kami mencari uang, Tifa-nee~"
"Hm...mengingat game itu dijual di lelang, harganya bisa dua atau 3 kali lipat," aku memegang daguku, berpikir. "Andai digabung dengan uangku, tetap saja masih kurang. Saat ini aku hanya punya 500 juta Jenny..."
"Kau dimana sekarang, Tifa-nee?"
"Aku masih di Sirose, baru saja selesai mengerjakan misi. Tapi aku bisa kesana segera setelah aku mendapatkan uang, bagaimana?"
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Mencari uang, apalagi?" tanyaku retoris.
"Maksudmu apa yang kau lakukan agar kau mendapatkan uang, wanita tua?"
"Berhenti memanggilku nenek tua!" aku ngotot sambil melotot. "Aku akan mencari cara, tapi aku akan memberitahu kau jika aku telah mendapatkannya."
"Baik-baik, sampai nanti, nee-chan."
"Ya."
Tut. Aku menghela nafas. Masih dengan selimut menyelubungi tubuhku, aku memandang keluar. Sembilan koma lima milyar. Hanya hartawan yang bisa membelinya. Aku berdecak. Dengan lemas, aku mengambil dompetku, lalu memgambil sebuah kertas kecil yang sudah cukup usang. Kertas yang sudah 13 tahun tak pernah aku lihat. Aku yakin akan ada cukup uang disana, tapi rasanya begitu berat jika aku harus menginjakkan kakiku lagi disana. Aku memijit tombol di ponselku.
"Kill, aku bisa membantumu. Tapi aku butuh kau menemaniku untuk mendapatkan uang tersebut, bagaimana?"
"Eh, benarkah? Berapa yang bisa kau dapatkan?" suara Killua terdengar girang.
"Entahlah. Aku akan menjelaskan saat kita ketemu. Ajak juga Gon. Karena...kita akan sedikit kerepotan membawa semuanya."
~oOo~
Sorry for my crappy fighting battle and stuff. I'm not really good at that, so, please understand the flaw of this story. I hope you don't mind that.
Next chapter adalah kunjungan mereka ke rumah Fuscienne! Ha! Siap-siap berburu harta karun!
R n R minna!
