High Heels
Kaihun
Romance/Humor
Warning for yaoi, easily plot, typo(s), and other
"Oh Sehun apa kau tidak mendengarkan eomma?!"
Sehun tersentak dari lamunannya ketika seorang wanita berumur 40-an menegurnya. Sehun mengangkat kepalanya malas malasan, lalu memberikan tatapan lelah kepada wanita itu.
Sial. Bagaimana tidak lelah, setelah dirinya merasakan air dingin di sekujur tubuhnya ketika ia terbangun, lalu tiba tiba diseret oleh sesosok rusa betina, dan yang lebih parah lagi, ketika ia melirik jam tangannya, ―oh tuhan, yang benar saja― jam 2 dini hari! Apa tidak ada waktu lagi selain saat ini? Matanya benar benar terasa berat sekarang.
―"the sooner the better"
AAARRGGGHH!
―"Hhh..." hanya helaan napas Sehun yang terdengar, membuat seisi ruangan menatap Sehun tajam.
"Jadi, apa yang kamu lakukan kemarin? Mengapa pulangnya larut sekali? Mengapa kau tidak menghubungi kami dulu sebelumnya? Mengapa?" Pertanyaan dari mulut eommanya terus menimpanya bertubi tubi. Membuat kepalanya terasa lebih pusing, dan tubuhnya semakin lelah. Sialan Si Rusa Betina, mengapa harus membangunkannya dengan air dingin, sih? Tidak adakah yang lebih kejam?
Tapi ia tetap berusaha berpikir keras. Jawaban mana yang tak akan mengundang kecurigaan. Oh ayolah, mana mungkin ia memberikan jawaban yang sebenarnya? Bisa bisa ia kena gamparan dan yang lebih parahnya lagi, luhan akan membocorkannya di sekolah. Shit!
"A-aku hanya mencari pengganti gitar akustikku..." terus berpikir... terus berpikir... "Tapi sayangnya tokonya tutup." Bagus sekali! Ia baru ingat, beberapa bulan yang lalu, ia tak sengaja melemparnya ketika mendengar teriakan Si Alay Rusa Betina, tepat saat ia menaiki tangga. Dan beruntungnya dia, ―seingatnya― toko untuk menjual alat alat musik yang sebelumnya ia lewati memang sedang ada perbaikan. Mungkin karena pemilik tokonya mendengar suara alay itu juga :v
Ia kembali menatap keluarganya satu persatu dengan tatapan datar andalannya. Yehet! Mereka terlihat percaya padanya, terlihat dari kepala appanya dan luhan yang bergerak naik turun―mengangguk. Oh yeah mengapa eommanya masih menatapnya tajam?
"Kau tahu, eomma sangat khawatir padamu, mengapa kau tidak meminta izin dulu?! Untung saja ada pemuda baik hati yang membawamu..." Eomma berkata dengan nada khawatirnya, dan dilihat dari tatapannya sekarang, antara lega dan kecewa.
But wait! Apa? Pemuda? Yang berkulit gelap itukah? Astaga, darimana ia tahu alamatnya? Awas saja jika ia tahu karena ia membuka handphonenya...
Sehun menahan napasnya. Tidak mungkin jika Jongin tidak membuka handphonenya, orang bodoh mana yang mau repot repot mencari biodatanya, kalau sudah ada handphone? Shit shit shit shit...! disana kan banyak sekali percakapan antara dirinya dengan Baekhyun mengenai... ehem, high heels?!
Tidak tidak... positive thinking saja dulu...
"Apa dia temanmu? Atau pacarmu?!" suara eomma kembali terdengar.
Ugh... menganggapnya sebagai temanpun ia tak sudi... apalagi pacar... sial ―"Teman, teman satu kelas denganku..."
Terdengar suara desahan lega dari ketiga orang yang masih berada di hadapannya. Sehunpun ikutan lega. Ia melirik jam tangannya, uh-oh, sudah jam 5 pagi. Ia beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Mungkin ia harus mengisi air panas dulu di bak mandinya, sungguh, ia sudah menggigil sejak ia membuka kedua matanya.
.
.
.
Sehun terus terusan menendang kaleng cola di sepanjang jalan menuju sekolahnya. Jalanan yang sepi membuat suara yang dihasilkan kaleng itu terdengar sangat jelas. Wajahnya yang ditekuk dan pipinya yang menggembung layaknya balon membuatnya terlihat seperti anak tk yang tidak dibelikan es krim.
Menyebalkan.
Ia pikir, eommanya akan benar benar melepasnya setelah melewati introgasi yang cukup melelahkan dan menegangkan. Tapi ternyata, dugaannya meleset 100%. Hak untuk mendapatkan uang jajan diberhentikan selama satu bulan oleh eomma, dan parahnya, keputusan eomma disetujui dengan anggukan dari appa dan Luhan.
Angin musim semi berhembus melewati tubuhnya begitu saja. Bunga bunga ceria yang ia lewati terus tersenyum kearahnya, entah mengejek atau malah memberi semangat. Sehun menghembuskan napasnya berat. Seandainya saja nasibnya secantik musim semi, tak perlu repot ia memikirkan high heels eommanya. Tak perlu susah payah juga ia mengusir Jongin dari pikirannya. Sial. Apa ini semua berawal dari permainan terkutuk itu?
Sehun segera menendang kaleng cola itu dengan kakinya yang masih lecet, lalu memukul mukul batang pohon yang kini berhadapan dengannya. Semua kekesalannya ia tumpahkan pada pohon tak berdosa itu. Terus, terus ia meluapkan kekesalannya. Hingga darah segar menetes pada jari jarinya, ia memelankan pukulannya, dan berhenti, ketika ia sadar bahwa matanya tak lagi dapat membendung air matanya. Ia menundukkan kepalanya yang terasa begitu berat. Seberat masalah masalah yang kini ia hadapi. Tak apa, jalanan ini sepi, jarang ada yang mau menggunakannya. Setidaknya, hanya saat ini ia bisa melampiaskan kekesalannya. Tidak, ia tidak akan menyalahkan Baekhyun, atau bahkan permainannya. Ia hanya menyalahkan dirinya sendiri yang begitu ceroboh dalam mengambil keputusan.
Semuanya akan baik baik saja, kalau kau mau menjalaninya sepenuh hati, dan berusaha memperbaikinya, Sehun. Fighting!
Setelah memantapkan dirinya, ia mengangkat kepalanya, berniat menghirup udara sedalam dalamnya. Namun ia tersentak, ketika mendapati sosok pemuda yang kini berada di hadapannya, menatapnya datar. Sebentar, mengapa ia berada di sana?
DHEG!
Segera ia menghapus air matanya, walaupun ia sudah tertangkap basah sedang menangis, setidaknya ia tak mau terlihat sangat menyedihkan di depan seseorang yang akhir akhir ini mengganggu pikirannya.
"Se-sedang apa kau disini?" tanyanya berusaha menutupi kesedihannya, walaupun tubuhnya sedikit bergetar.
"Jalan menuju ke sekolah, dan kebetulan aku melihatmu disini." Jawabnya santai, masih dengan pandangan datarnya.
"Lalu? Mengapa kau tidak melanjutkan saja jalanmu, tidak usah membuang waktumu untuk melihatku―" Sehun menghentikan ucapannya, tak berniat untuk melanjutkannya. Itu sama saja ia menurunkan harga dirinya.
"Ya sudah. Sudah beruntung kau mau kutemani, malah diusir." Jongin mengedikkan bahunya, lalu membalikkan tubuhnya, hendak meninggalkan Sehun. Namun ia segera mengurungkan niatnya ketika ia merasakan sebuah cengkraman pada pergelangan tangannya.
Jongin menghela napasnya. "Apa lagi?"
Sehun mengerucutkan bibirnya, sebal. "Kau mau meninggalkanku disini sendirian? Menyebalkan!" Melipat kedua tangannya dan diletakkan di depan dadanya, lalu membuang pandangan.
Jongin memutar bola matanya malas. Dasar labil. Tadi mengusir, sekarang malah marah marah karena ditinggal. Ada apa dengan anak ini? Ia berjalan satu langkah mendekati Sehun lalu meraih pergelangan tangan dan menariknya.
Untuk yang kedua kalinya, Sehun tersentak. Namun langkahnya masih berusaha mengimbangi langkah Jongin yang begitu lebar dan cepat.
"Hitam! Santai saja jalannya! Kakiku―" Sehun berusaha melepaskan genggaman Jongin.
"YAK!"
BRUK!
Sehun menjatuhkan tubuhnya ketika dirasanya kakinya sudah tak mampu berjalan. Pergelangan tangannya yang masih digenggam oleh Jongin kini sudah terlepas mengingat jarak tubuhnya dengan tubuh Jongin sangat berbeda jauh.
Jongin membalikkan tubuhnya, lalu menggendong Sehun layaknya seorang pemulung yang mengangkat barang bawaannya. Tak ada waktu lagi untuk melihat keadaannya, begitu pikirnya.
Sehun yang merasa disamakan dengan karung terus terusan memukul punggung Jongin, dan sesekali mengumpat. Jongin yang merasa jengah dengan tindakan sehun, langsung memukul pantatnya.
Sehun merasakan pipinya yang memanas, entah marah atau menahan malu. Umpatan dan pukulan tak lagi Jongin rasakan.
"YAK DASAR MESUUUUM! TURUNKAN AKU SEKARANG!"
Jongin menutup kedua matanya ketika Sehun mengeluarkan amukannya. Namun ia tak peduli, ia tetap melanjutkan jalannya, meski ia tahu mereka sudah telat lebih dari setengah jam.
Baginya, tak masalah jika Sehun terus mengomel sepanjang jalan. Asalkan ia tidak menitikkan air matanya lagi.
.
.
.
Baekhyun mengetuk ngetukkan kakinya bosan di tengah keramaian kelas. Meskipun sebenarnya banyak teman sekelas yang bisa dijadikan teman mengobrol, tetap saja, ia bosan. Di mana Sehun? Apa dia telat? Tapi kalau telat, ia benar benar keterlaluan. Ini sudah lebih dari satu jam setelah bel masuk dibunyikan, bahkan sebentar lagi akan ada pergantian pelajaran. Tinggal menunggu Im Songsaengnim beranjak dari duduknya dan meninggalkan kelasnya dan Sehun.
Baekhyun menghela napasnya bosan, ingin sekali ia cepat cepat pulang. Suara bel pulang sekolah sudah pastinya menjadi suara terindah hari ini. Ugh, bahkan ia sudah mengirimi Sehun beberapa pesan singkat, namun tak ada satupun yang dibalas.
"Byun Baekhyun."
Bersamaan dengan tertunduknya kepala Baekhyun, suara Im songsaengnim terdengar sangat jelas pada indra pendengaran Baekhyun. Segera ia mengangkat kepalanya, lalu berdiri dan menghampirinya yang sudah berada di ambang pintu, hendak meninggalkan kelas.
"Saya, saem?"
"Ah, ya. Saya boleh minta tolong untuk mengantarkan buku buku ini ke perpustakaan?" Baekhyun memandang buku buku yang dibawa Im songsaengnim dari atas sampai bawah. Dapat dibayangkan betapa beratnya buku itu. tapi, ah, daripada tidak ada kerjaan, lebih baik ia membantu kan?
Baekhyun menganggukkan kepalanya, dan gurunya yang berada dihadapannya itu langsung menyodorkan tumpukan buku buku itu padanya.
Sial, ini lebih dari yang kubayangkan, umpatnya dalam hati.
Setelah Mrs. Im mengucapkan terimakasih padanya, ia segera mengambil langkah menuju lantai dasar, tempat perpustakaan sekolahnya berada. Tumpukannya yang begitu tinggi membuat dirinya kesulitan melihat jalan, sehingga sesekali ia hampir menabrak orang orang yang berjalan melewati koridor. Rasanya ia ingin mengembalikan buku buku ini lagi pada guru itu, atau setidaknya, kirimkanlah dirinya malaikat penolong!
Bruk!
Seseorang telah menabraknya dan sesungguhnya itu tidak akan menjadi masalah JIKA ia tak menjatuhkan semua buku bukunya dari tangan Baekhyun.
Baekhyun mengangkat kepalanya, masih dengan mulut terbuka. Dan didapatinya pemuda jangkung dengan cengiran khas nya. Sial. Ia kan tadi meminta malaikat penolong, bukan alien-_-
"Eh, Baek-a, maaf." Ucap Chanyeol dengan wajah tanpa dosanya, membuat Baekhyun menahan marahnya.
"Yah terserahah. Pokoknya kau harus membantuku membawa buku buku sialan ini ke perpustakaan!" pintanya sambil menunjuk bubu buku yang berserakan dengan telunjuk lentiknya.
Chanyeol mengikuti arah tunjukkan Baekhyun, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak mau."
Baekhyun menatap Chanyeol kesal. Wajahnya sudah memerah menahan marah. "YAK! DASAR TIDAK TAHU―"
"Yayayayayaya ampun ampun, akan ku bawakan." Chanyeol meletakkan hari telunjuknya di depan mulut Baekhyun, membuat Baekhyun bungkam. Lalu ia berjongkok, dan menyusun buku bukunya.
Glek.
Ini tumpukan buku atau monas, gumamnya dalam hati.
Chanyeol menatap Baekhyun dan tumpukan buku itu secara bergantian, membandingkan ukuran Baekhyun dengan tumpukan itu.
"Apa liat liat?!" Baekhyun melemparkan tatapan mautnya pada Chanyeol.
"Ya ampun Baek, yang benar saja. Kau serius mengangkat semua ini sebelumnya?" tanya Chanyeol, sambil berusaha menahan tawanya.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Tidak apa apa, hanya saja, tubuhmu―"
PLAK!
"Yak! Enak saja kau, mentang mentang tiang, mengataiku kecil! Cepat sana bawa ke perpustakaan!" Chanyeol mengelus elus pipinya yang terkena tamparan Baekhyun yang sudah mendahuluinya ke perpustakaan.
"Aku kan tidak bilang kau kecil, Baek-a!" Ia segera mengangkat tumpukan buku buku itu lalu berlari dengan susah payah menyusul Baekhun menuju perpustakaan.
"Argh, diam kau Tiang!"
.
.
.
"Huaaaa Jongin hitam pesek jelek menyebalkan! Turunkan aku!" Sehun masih tak henti hentinya mengomel, dan Jongin tak henti hentinya pula memutar kedua bola matanya malas mendengarkan teriakan Sehun.
"Ssst.. diam lah! Kita sudah sampai!" Sehun menghentikan aksinya, lalu menoleh ke belakang dan betapa senangnya ia sudah sampai di depan gerbang sekolah. Ia segera menggoyang goyangkan tubuhnya tak sabaran, meminta Jongin untuk melepasnya.
Jongin berdecak, lalu melepasnya. Dilihatnya kaki Sehun yang masih pincang, membuat dirinya berniat untuk merangkul Sehun, namun ia kurungkan niatnya mengingat ia benar benar TIDAK menyukai teriakan Sehun yang ―sialnya― masih menggema di kepalanya.
"Akh, sial! Gerbangnya dikunci!" Gerutu Sehun dari kejauhan, yang dapat didengar jelas oleh Jongin.
Tiba tiba saja ada seseorang berseragam putih biru, lengkap dengan senjata pada pinggangnya, yang ia tebak adalah satpam, menghampiri Sehun.
"Maaf sekali, kau sudah terlambat lebih dari satu jam setelah bel masuk berbunyi." Ucapnya dengan nada bersalah namun terdengar tegas.
Sehun memberikan tatapan kecewa, tapi tiba tiba saja ia merasakan tangan Jongin menggenggam tangannya.
"Yah, yasudah lah, ayo kita pulang, Sehun-a, tidak ada gunanya lagi kita di sini." Kata kata yang keluar dari mulut Jongin membuat Sehun dan juga Satpam itu melebarkan kedua matanya. Yang benar saja. Baru kali ini ada pelajar yang langsung menyerah.
"Kau gila?!" Sehun menoleh lalu menatap Jongin tidak percaya.
Jongin menganggukkan kepalanya, lalu menarik tangan Sehun dan berjalan menjauhi Sekolah dan satpam yang masih menatap punggungnya dari jauh. Setelah dirasanya tak ada lagi tatapan dari sang satpam, Jongin membawa Sehun untuk bersembunyi di balik pohon.
"Aish kau ini kena―"
Jongin membungkam mulut Sehun, lalu meletakkan ujung jarinya di bibirnya. "Kita bisa memanjat pagar dekat perpustakaan, kau... masih bisa memanjatkan?" Jongin memandang kaki Sehun yang lecet, dan ia yakin itu ditambah keseleo.
Sehun menganggukkan kepalanya, matanya mendadak menampilkan sorotan kesedihan. Jongin uang sedikit tidak tega menghela napasnya. "Kau tak perlu memaksakan dirimu. Aku akan menggendongmu lagi."
Sehun menatap nanar Jongin. "Apa? Dan membiarkanku terlihat seperti karung beras?"
"Itu lebih baik."
"Apanya yang ―HUAAA"
Sekarang lihat, ia bahkan lebih buruk dari karung beras ketika digendong sambil memanjat pagar yang tidak terlalu tinggi. Sehun terus menutup kedua matanya, bersiap siap jika dirinya akan jatuh untuk yang kesekian kalinya dalam seminggu.
Bruk.
Mendarat dengan mulus. Yah setidaknya itu bagi Sehun, karena jelas ia berada di atas Jongin! Dengan dirinya di posisi menduduki punggung Jongin.
"Hun... berat..." Sehun yang baru menyadarinya segera menyingkirkan dirinya dari tubuh Jongin.
Jongin menegakkan tubuhnya, lalu memegangi punggungnya. "Aduh, kau berat sekali."
Sehun yang mendengarnya menundukkan kepalanya malu. Jujur saja ia akhir akhir ini sangat sering ngemil, untuk menghilangkan stres, katanya.
"Haha, hanya bercanda. Ayo segera ke kelas, lewat pintu belakang!"
.
.
.
"Haft, akhirnya~" Baekhyun menyenderkan dirinya pada salah satu lemari di perpustakaan setelah ia mengembalikan setumpuk buku pada pustakawati.
Chanyeol memandanginya malas. "Harusnya aku yang berkata seperti itu!" dan dengan begitu, ia mendapatkan pukulan telak dari Baekhyun.
"Kau juga bisa mengatakannya, bodoh."
Merasa lelah, Chanyeol mengambil bangku yang berada di belakangnya, lalu memutarnya hingga menghadap Baekhyun.
"Kau tahu? Tadi aku menabrakmu karena aku sedang terburu buru mencari Jongin. Tadi pagi ia berangkat tanpa menggunakan kendaraan dan tidak mengizinkanku menemaninya." Ujar Chanyeol memulai. Baekhyun yang mulai tertarik terus memasang telinganya antusias.
"Ya, dan menurutku kau sia sia jika mau mencarinya di kelas, karena ia belum menampakkan batang hidungnya." Chanyeol semakin khawatir mendengarnya. Bagaimana tidak? Ia itu sepupunya, tapi membiarkan Jongin pergi ke sekolah sendiri tanpa kendaraan.
"Kau mengkhawatirkannya?" Tanya Baekhyun tepat sasaran. Chanyeol menganggukkan kepalanya.
"Dia kan jago karate, Yeol." Baekhyun menghirup napasnya dalam dalam. "Justru aku khawatir dengan Sehun. Sampai saat ini ia belum juga muncul, padahal kemarin ia pergi ke mall sendiri untuk mencari high heels―" Dengan cepat ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sial! Baru saja ia membocorkan clue pemilik high heels yang akhir akhir ini menjadi trending topic di sekolahnya.
Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. Dan Baekhyun mengerti maksudnya. "A-aniya... hanya saja, ia belum mengabariku apapun..."
Chanyeol melebarkan bibirnya, dan menampakkan sederet giginya yang sangat menyilaukan. Entah apa maksud dari senyuman itu, tapi Baekhyun berharap, itu bukan berarti Chanyeol sudah mendapatkan jawaban dari teka teki High heels. Lagipula, ia kan anak baru.
"Aku sepupu Jongin. Kau mengenalnya? Ia satu sekolah denganmu." Itulah kalimat yang pertama Chanyeol lontarkan ketika ia berpapasan dengan Chanyeol di trotoar menuju rumahnya, setelah pulang sekolah. Degup jantung Baekhyun semakin kencang, saat menyadari sebuah fakta bahwa Chanyeol adalah sepupu Jongin. Jadi, tidak menutup kemungkinan kalau Chanyeol tahu tentang insiden tidak mengenakkan itu.
"Lihat, Baek! Itu mereka! Sedang mencoba memanjat pagar!" Pekik Chanyeol tertahan sambil menunjuk jendela yang berada di dekat lemari yang dijadikan Baekhyun sandaran.
Baekhyun langsung tersadar dari lamunannya, dan membalikkan tubuhnya menghadap jendela besar yang mengarah ke pagar. Ya, ia mendapatkan Jongin yang... menggendong Sehun?
Seketika matanya berbinar. Terlintas sebuah ide baru di kepalanya.
Baekhyun menyikut Chanyeol yang sedang memerhatikan kegiatan Jongin dan Sehun.
"Hm?"
"Aku punya rencana!"
.
.
.
TBC
I'm back! Astaga, udah berapa abad, ini? /lebay/ eh serius, selain mager ngetik, saya juga tidak ada waktu untuk menulis-_- semangatin saya dong-_,-
ok, sepertinya ini semakin tidak asik, dan membosankan. ini juga udah kecium kan tentang siapa yang mengetahui siapa yang melempar high heels? jadi, kayaknya bentar lagi juga nih ff bakal end muehehe /ketawa bebas/ dan i'll feel free~ :v
terimakasih sudah menyemangati saya, dan (kalo) mau nunggu ff ini sampe habis,
ShinHaein61; vina. : Nagisa Kitagawa; utsukushii02: realkkeh; KaiHunnieEXO; Caramelyeol; AuliaEsaa; ; xohunaa; nin nina; kireimozaku; My Name Is JC; Kim XiuXiu Hunnie; UnicornTry; thedolphinduck; indaaaaaahhh; chuapExo31; novachokyuhyun; shinshin99SM; DiraLeeXiOh; blissfulxo; Mr. Jongin albino; dia. luhane; daddykaimommysehun; Yuki Edogawa; sayakanoicinoe; urikaihun; Kim Bo Mi; YoungChanBiased; oracle88; sehunnoona
.
.
.
dan, karena tadi lu kesenengan saya letakkan di atas, akhirnya saya putuskan saya letakkan di bawah
.
.
.
Kaish noona, thanks alot, ilysm! :v
