Cuap-cuap penulis : Update lagi. Berharap cepat selesai (kayak kejar setoran aja )
Penggemar Killua, alert! Jangan teriak-teriak pas baca chapter ini!
Based on Hunter x Hunter (2011)
Pairing : Tifa (OC) X Illumi (or maybe Killua?), Slight Tifa x Hisoka
Disclaimer: Sebgian besar plot dalam cerita ini dan Tifa yang merupakan milik saya, selebihnya punya Yoshihiro Togashi.
.
.
.
.
.
Normal POV
Killua menutup telponnya dengan perasaan tak menentu. Beberapa bulan sudah berlalu, dan akhirnya ia bisa kembali bertemu dengan Tifa. Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang, membenamkan wajahnya di bantal dengan senang. Baginya, ini adalah kebahagiaan yang tak terkira. Ini sudah lima minggu mereka tak bersua, dan pertemuannya dengan Tifa mungkin akan sedikit mendebarkan.
Lagi...Killua merasakan pipinya memanas karena benaknya dipenuhi bayangan Tifa. Ia tertawa kecil sendiri sembari berguling-guling di bantal.
Namun sejenak, ia terdiam.
Ia hanya seorang anak lelaki berusia 12 tahun. Siapa dia dimata Tifa, kecuali sebagai seorang adik? Tawanya terhenti, dan ia beranjak duduk. Ia menghela nafas panjang, tersadar. Percuma rasanya kalau Tifa tak mengetahui perasaannya, dan sepertinya konyol jika mengingat Tifa adalah gadis berusia 28 tahun, lebih tua jauh darinya...
Cintanya terlalu buta, juga polos.
"Tch," ia berdecak. Ia merasa semakin bingung dengan perasaannyaa. Ia beranjak dari kasur dan berdiri di hadapan kaca. Diapandanginya bayangan tubuh dirinya sendiri dengan wajah dingin. Tubuhnya terlihat sedikit berotot, dan tetap saja, masih kekanakan. Meski Tifa awet muda, rasanya malu sekali jika ia harus mencintai Tifa. Secara penampilan, ia terlihat seperti anak kecil sekali. Killua menghela nafas, kemudian berjalan pelan dari kamarnya, mengetuk pintu kamar Gon.
"Masuk saja!" terdengar teriakan Gon dari dalam. Killua melangkah masuk.
"Gon, tadi aku menelpon Tifa-nee...aku membicarakan soal game yang kita butuhkan, dan kudengar ia bersedia membantu..." ucap Killua sembari duduk di pinggir ranjang Gon.
"Benarkah? Bagaimana caranya?"
"Ia bilang kita harus menemuinya di bandara untuk mengambil uang tersebut," lanjut Killua.
Gon mengerutkan kening, "kemana kita mengambil uang tersebut?"
"Aku tak tahu," ucap Killua sembari menggeleng kepalanya.
Setelah pembicaraan tersebut, keduanya bersiap memasukkan pakaian dan barang-barang lainnya ke dalam tas di kamar masing-masing. Sepanjang malam itu Killua tak dapat menahan perasaannya yang panik tentang pertemuannya nanti dengan Tifa. Malam itu terasa begitu panjang untuknya. Ia bahkan tak bisa memperkirakan bagaimana perasaannya saat ia bertemu kembali dengan Tifa.
Gadis itu masih terlalu jauh untuk dijangkau.
~oOo~
Tifa POV
"Hey, Tifa-nee!" Gon melambaikan tangannya padaku dengan riang. Aku membalas lambaian tangannya, berjalan mendekat.
"Aku sudah membeli tiket untuk kalian bertiga, jadi sebaiknya kita tidak membuang waktu. Keberangkatan kita sekitar satu jam lagi, sebaiknya kita segera menunggu tak jah dari pemeriksaan tiket," kataku sembari memberikan satu-satu tiket pada mereka.
"Tapi neechan, sebenarnya kita ini mau kemana?"
"Rexas."
"Rexas?" Killua terbelalak. "Kita ke Rexas? Rexas kota...kota asalmu?"
"Ya," aku memakan permenku.
"Aku belum pernah mendengar nama Rexas, apa itu semacam nama negara?" tanya Gon pada Killua.
"Ya. Terkenal dengan teknologinya yang canggih dan para ilmuwan. Yang aku tahu, Rexas juga tempat asal Tifa-nee. Ya kan?" Killua memastikan, memandangku.
"Hm. Keluarga angkatku dulu tinggal di Rexas, tepatnya kota Gordote. Nah, ayo. Kita akan segera boarding," kataku sembari mengajak mereka menuju ke pemeriksaan tiket.
Perjalanan kami menuju Rexas memakan waktu 2 hari. Gordote, tempatku tinggal dulu adalah kota yang terkenal dengan teknologinya yang canggih dan para orang-orang penggila sains. Hanya saja, mereka maniak. Mereka melakukan apapun demi ilmu, sehingga terkadang, aku merasa Gordote memiliki dua sisi yang begitu kentara ; luar biasa karena kemajuan ilmu pengetahuannya, tapi juga keanehan para penduduknya yang mengorbankan apapun demi ilmu, bahkan termasuk nyawa orang.
Perjalanan kami dari Karimbu, kota utama menuju Gordote memakan waktu 4 jam dengan kereta. Dua anak kecil di sebelahku ini berkali-kali takjub dengan kecanggihan mesin dan keamanan transportasi di kotA Rexas. Sejujurnya perjalanan ini cukup menyenangkan, meskipun sejujurnya aku masih merasa tak betah karena harus kembali 'napak tilas' ke kota dimana mimpi burukku berawal.
Setelah menggunakan bus, kami sampai disebuah gerbang tinggi yang terbuat dari beton. Meski tidak sebesar gerbang utama Zoldyck, akan sulit mendorongnya. Aku memandang gerbang tersebut dengan pandangan kuyu. Rumah ini, betapa mewah dan canggihnya, selalu menguarkan aura mengerikan bagi siapapun yang mendekatinya.
Gon mendekat ke salah satu sisi plat bertuliskan nama, "Fuscienne...apa itu nama keluarga mu, neechan?"
"Keluarga angkat," sahutku sembari tersenyum.
"Gerbang ini seperti gerbang dirumahku..." komentar Killua.
"Ha, coba saja dorong..." kataku iseng. Killua dan Gon tersenyum lebar, menggosokk-gosokkan tangannya dengan pandangan antusias, lalu mendorong, tapi nihil. Pintu tersebut tak bergerak, dan sebuah listrik 1 juta volt menyetrum tangan mereka setika.
"AAAAAARGGHH!"
"Ha, tak mudah kan?" kataku sembari tertawa.
"Kau pasti mengerjai kami!" Killua menuding-nudingku, sementara kulihat Gon meniup niup tangannya dengan wajah kesal.
"Sebenarnya memang iya," aku tertawa kecil. Aku menekan sebuah kotak yang berbentuk agak lain di sisi pintu tersebut, dan sebuah pemindai retina muncul dengan handprint scan tampak bersinar. Aku memijit beberapa angka, lalu meletakkan telapak tanganku di handprint scan, lalu mendekatkan mataku ke pemindai retina tersebut. Seketika suara pintu besar tersebut bergeser, tertarik ke atas.
"Whoa, sugeeee..." Killua ternganga melihat keamanan rumah keluarga Fuscienne. Kami bertiga masuk melangkah, dan seketika kami disuguhkan pemandangan umumnya pada sebuah halaman mansion yang lama tak berpenghuni: air mancur yang begitu kotor, tanaman rambat dimana-mana, serta...beberapa tulang belulang manusia berceceran.
"Dan, kenapa ada tulang manusia disini?" Gon menunjuk tulang belulang yang berceceran di halamn rumah.
"Sepertinya mereka mencoba masuk dari atas," kataku pendek. "Sistem kemanan rumah ini menyelubungi sampai 40 meter vertikal ke langit. Bagi yang masuk tidak dari pintu, tapi melalui atas, maka keamanan pasti menganggapnya sebagai ancaman dan listrik jutaan volt pasti sudah membuat mereka hangus seketika. Meski rumah ini lama tak berpenghuni, keamanan rumah ini akan tetap sama, karena keluargaku membangun sumber daya energi dari matahari. Tulang-tulang manusia itu mungkin korban dari beberapa orang yang mencoba menerobos rumah kami dari atas."
"Haaa...bahkan proteksi rumah ini lebih mengerikan dari rumah Killua..." Gon bergidik.
"Tapi neechan, kenapa kalian bahkan begitu ketat membuat keamanan rumah ini, sementara aku yakin tak ada yang berani menaiki rumah mu, karena gerbang rumahmu cukup tinggi juga," Killua memandangku dengan pandangan menyelidik.
"Mha, jelas ada sebabnya..." aku melangkah menuju pintu mansion ku yang tampak lebih mengerikan.
"Suasana rumah ini mengerikan sekali..." Gon memandang sekitar.
"Kuharap kalian tak terkejut melihat beberapa tulang belulang di dalam rumah..."
"Eh?"
Aku berjalan masuk. Ruang tamu dengan puluhan lukisan klasik menempel di dinding.
"Aku yakin rumah ini sangat indah dulunya," komentar Gon sembari mendongak melihat beberapa lukisan mahal yang tertempel di dinding. Aku yang melangkah lebih dulu kini telah melewati lorong, berniat menuju kamar utama orang tua angkatku. Mudah-mudahan dugaanku benar. Sejujurnya aku tak yakin akan asumsiku sendiri, tapi aku tak tahu jika tak mencoba.
"Oy, Gon, Kill..."
"Hm?" sahut keduanya mendongak padaku saat aku memanggilnya.
"Apa kalian berdua...takut pada hantu?"
"Kenapa kau bertanya begitu?" Killua melotot. "Aku sering melihat kematian, jadi hal seperti itu bukanlah sesuatu yang patut kutakuti!"
"Ettooo..." aku menggaruk-garuk pipiku. "Aku hanya bertanya saja. Dan kau G–"
"Tifa-nee..." tiba tiba Gon memandangku dengan wajah pucat. "Kenapa rumah ini begitu mengerikan, neechan..."
"Yah, sudah kuduga..." aku tertawa kecil. "Begini saja. Kau dan Gon aku menyusuri selasar kanan, dan aku selasar kiri. Tolong jika kau menemui kotak atau tempat –tempat aneh, bongkar saja. Ketiga saudara angkatku semuanya pasti menyembunyikan barang berharga merek di berangkas, itu yang kuingat, namun aku tak pernah tahu pasti dimana. Untuk sementara aku akan mencari harta nyata mereka, sebab membobol rekening mereka akan sedikit sulit. Bagaimana?"
"Jadi kita seperti mencari harta karun di rumah ini?" kedua mata anak-anak tersebut tiba-tiba berbinar. Aku mengemut permenku dalam-dalam, mengangguk.
"Kurang lebih."
~oOo~
.
.
Normal POV
Tifa berjalan menyusuri selasar kiri mansion. Bau apek menguar dimana-mana. Rumah dengan jumlah kamar 28 itu benar-benar luas daripada perkiraannya. Tifa harus menyusuri tiap ruangan mereka satu-satu, mencari berangkat tersembunyi di bawah kasur, dibalik lukisan di kamar mereka, bahkan dalam lemari. Tifa hanya menemukan beberapa kotak berlian di lemari orang tuanya, dan Tifa merasa tak cukup puasa dengan yang ia peroleh. Kotak berlian itu paling hanya bernilai 28 juta Jenny – dugaannya, sementara ia yakin 100 persen kekayaan orang tuanya berpuluh-puluh miliar. Setelah memasukkan beberapa berlian ke dalam tasnya, ia menyusuri kamar yang lain, nihil.
Langkahnya terhenti di sebuah ruangan luas. Ruang keluarga. Ruangan sebesar 25 x 20 meter itu benar-benar kacau. Ia melihat jelas tulang belulang keluarganya yang masih berada di tempat yang sama terakhir kali ia melihat mereka mati. Para pelayan yang juga dibunuhnya masi berada disana, bahkan cangkir teh yang tergeletak sebagai cemilan sore hari mereka pun masih tak berubah posisinya.
"Lama tak jumpa, ayah, ibu..." gumam Tifa saat melihat dua rangka kedua orang tuanya.
"Tapi kalian tak pantas kupanggil kedua orang tuaku..." katanya lagi. Ia melangkah lagi melihat ketiga rangka saudara-saudara angkatnya. Bau bangkai juga karpet yang apek membuat suasana di ruangan tersebut lebih mengerikan. Tifa menghela nafas, mengambil sebuah cincin berlian dari jemari Emma, kakak angkatnya, serta liontin zamrud di rangka tersebut tanpa takut-takut.
"Maaf, kuambil dulu ya," katanya.
"Tifa-nee!"
Tifa menoleh ke belakang. Killua memberi sinyal untuk mengikutinya dan ia mengangguk. Killua berbelok ke sebuah ruangan yang berbentuk kamar ala Romawi, dan Gon menunjuk sebua brangkas yang berada di balik lemari.
"Whoa..." Tifa ternganga. Ketiganya menggeser lemari tersebut agar bisa melihat pintu berangkas itu lebih jelas.
"Sepertinya menggunakan pemindai retina..." Killua memandang Tifa. "Bagaimana Tifa nee-chan?"
"Mari kita gunakan cara kasar kalau begitu," Tifa tertawa sadis. Ia menyentuh brangkas besi berunkura meter itu. Auranya memadat sejenak, dan seketika brangkas besi tersebut hancur menjadi serbuk besi yang menggunduk.
Killua dan Gon ternganga, "sugeee!"
Dan saat itu ketiga ternganga melihat isi di dalamnya.
"Emas dan berlian!"
"Harta karuuuun!"
Tifa ternganga memandang tumpukan harta yang begitu banyak didepan matanya. Ia sudah menduga, bahwa keamanan tinggi di rumahnya pasti karena ini. Kedua orang tuanya lebih senang menyimpan harta tersebut di rumah. Sekarang yang terpikirkan hanya satu. Bagaimana membawa ratusan kilo emas tersebut?
"Kukira kita harus menyewa truk untuk mengangkutnya," gumam Tifa.
~oOo~
TBC
