Based on Hunter x Hunter (2011)

Pairing : Tifa (OC) X Illumi (or maybe Killua?), Slight Tifa x Hisoka

Disclaimer: Sebgian besar plot dalam cerita ini dan Tifa yang merupakan milik saya, selebihnya punya Yoshihiro Togashi.

.

Alert: Sekali lagi, jangan mimisan/teriak-teriak, dan sebangsanya. Kedengeran tetangga malu! XD

.

.


.

.

.

Normal POV

"Tigapuluh dua milliar Jenny..." kata Tifa, membaca besar rekening di buku tabungannya.

Ketiganya baru saja berhasil menjual seluruh harta keluarga Fuscienne. Hanya harta benda milik mereka. Ia berdecak memandangi jumlah nol di buku tabungannya

"Ne, Tifa-nee, kau sengaja tak menjual berlian itu?" tanya Gon memandang kilauan berlian di telinga, jemari dan pergelangan Tifa. Wanita itu terkekeh.

"Berlian ini dari De Beers dan koleksi terbatas. Aku tak akan menjualnya karena kupakai," kata Tifa sembari menyimpan buku tabungan tersebut di tasnya, menunjuka kedua anting dan sebuah cincin berlian miliknya yang berkilauan.

"Kau tampak norak, Tifa-nee," ucap Killua.

BLETAK.

"Aku tak butuh komentarmu," Tifa melipat tangannya ke dada, lalu menekan beberapa tombol di ponselnya, mendepositkan uang, "ohya Gon, aku akan mendepositkan padamu 20 M saja, selanjutnya. Hanya ini yang bisa kulakukan, karena dengan uang sisa ini untuk sementara aku juga ingin menikmati hidup..."

"Tidak, tidak, Tifa-nee! Kau begitu banyak membantuku. Aku terbantu sekali dengan pertolonganmu!" Gon tersenyum lebar dan Tifa mengangguk.

Killua mengelus kepalanya yang sakit dengan perasaan kesal dan sakit hati. Bahkan Tifa tak memperlakukannya spesial sebagai seorang pria. Dipandanginya Tifa yang entah kenapa, terlihat lebih feminim dengan sedikit perhiasan di tubuhnya. Meski ucapan Killua tadi pedas, sebenarnya ucapan itu bohong. Ia senang melihat gadis yang ia sukai sedikit lebih feminim. Akan lebih cantik sepertinya jika ia mengenakan pakaian perempuan, tapi semuanya hanya bisa ia bayangkan.

"Sekarang tinggal membobol rekening dari ketiga tabungan ini," Tifa memandang ketiga buku tabungan di tangannya. Milik ayah, ibu, dan Emma.

"Ha, masih ada lagi?"

"Hm. Tentu. Ini uang di rekening mereka. Jumlah terakhir yang kulihat ternyata tak besar, hanya 18 M di rekening ayah, 7 M di rekening ibu, dan 11 M di rekening Emma. Aku hanya tak tahu bagaimana harus membobolnya. Sebab jika aku bisa membongkarnya, mungkin aku bisa membantu kau membeli game itu di pelelangan, mengingat harga penawaran game gila itu sudah cukup mencekik, setidaknya kau harus memegang uang lebih..." Tifa memandang buku tabungan yang tampak agak usang itu, berpikir.

"Ne, Tifa-nee..."

"Hmm?"

"Kenapa kau rela melakukan hal sejauh ini untuk kami?" tanya Killua.

Tifa tertegun. Kenapa? Kenapa ya? Mungkin itu karena Killua dan Gon sudah ia anggap sebagai anggota keluarganya. Dua orang yang ia hargai sebagai teman dan juga orang kepercayaan. Orang-orang yang selalu Tifa inginkan sejak ia mengerti arti hidup di dunia ini selain membunuh. Orang-orang yang bisa membuatnya tertawa, bahagia, baginya, adalah orang yang berhak ia bela, bahkan jika itu berarti ia harus mati.

"Aku hanya tak pernah merasa memiliki teman sekaligus keluarga sejak aku hidup," Tifa membuka mulut, "saat aku mengenal Gon, Killua, Mito-baasan, aku merasa, kebaikan kalian lah yang selama ini aku cari. Bagiku, orang-orang yang bisa membuatku senang adalah orang yang patut kutolong, bahkan jika itu berarti aku harus mengorbankan nyawaku."

"Rasanya aneh mendengar Tifa-nee bicara bijak, mengingat ia selalu bertingkah kekanakan dan matre terkadang," bisik Killua pada Gon. Keduanya cekikikan.

BLETAK.

"Aku mendengarnya," Tifa memandang keduanya dengan gahar.

"Itteeeee..." keduanya mengelus kepala mereka bersamaan.

"Hey, tapi ngomong-gomong, apa kau punya seseorang yang bisa membantuku membobol rekening ini?" Tifa memandang Killua. "Aku rasa, uang ini pun pasti akan berguna untuk kalian juga..."

Killua terdiam sejenak. Namun tiba-tiba wajahnya berubah buruk, "ada sih."

"Apa itu...buta-kun yang kau katakan waktu itu di rumahku?" tanya Gon.

"Yeah, siapa lagi. Tapi untuk membayarnya kau harus merelakan sepertiga dari uangmu pastinya," ucap Killua memberitahu, "yang jelas, kau pasti rugi, karena sepertiga dari total tabungan tersebut 36 M, dan dibagi 3, maka ia akan mendapat 12 M. Sayang kan?!"

"Sial, itu sih tekor," Tifa melipat tangannya ke dada. Killua tampak mengangguk, diam-diam ia tahu, bahwa Tifa adalah orang yang cukup perhitungan akan segala sesuatu, apalagi uang. Ia menyunggingkan senyum tipisnya sembari menyakui kedua tangannya di celana.

"Sebaiknya kita pulang kembali ke York Shin dan memikirkan langkah selanjutnya, yang terpenting adalah...kita sudah mendapat 20 M untuk berjaga-jaga," ucap Killua memberitahu.

"Aku setuju," gumam Tifa.

Meski Tifa tampak tenang, ia tahu, ada seseorang yang mengawasi dirinya dari jauh. Entah siapa, yang jelas orang tersebut tak memiliki niat buruk apapun padanya kecuali mengawasinya. Ini sudah terjadi semenjak ia di Budaveck, namun ia memilih diam sampai orang tersebut menunjukkan dirinya, atau ia merasakan hawa yang buruk dari orang tersebut. Untuk sementara ini ia tak akan bergerak.

"Tifa-nee, apa kita harus bermalam dulu disini?" tanya Gon tiba-tiba. "Sepertinya langit mendung."

Tifa dan Killua memandang langit. Keduanya terdiam, lalu Tifa memandang Gon, "sepertinya begitu. Ayo kita segera cari hotel."

Ketiganya berjalan di trotoar, menoleh kesana kemari. Pilihan mereka jatuh pada sebuah hotel bintang tiga. Setelah memesan kamar, ketiga menaiki lift dan berniat memasuki kamar masing-masing. Saat Gon telah masuk ke kamarnya, Killua menahan tangan Tifa, membuat Tifa mengerutkan kening, memandangnya bingung.

"Temani aku ke minimarket di bawah," ucapnya pelan.

"Ada apa?"

"Aku mau beli cemilan," ucap Killua beralasan.

"Baiklah," Tifa mengangguk. Diam-diam Killua tersenyum dalam hati. Saat menuruni lift, tanpa sengaja, keduanya memandang dua sosok sepasang kekasih yang menarik perhatiannya. Wanita yang berpakaian glamor dan cantik bersama seorang pemuda yang terlihat begitu sederhana. Sepertinya timpang sekali.

"Mereka manis," ucap Tifa tiba-tiba.

"He?"

"Ya, mereka..." ucap Tifa sembari sedikit mengerling pada kedua orang tersebut yang tampaknya akan menyewa kamar, "pasangan yang cukup...menarik perhatian."

"Karena mereka terlihat sangat berbeda?"

"Tidak," ucap Tifa sembari membuka bungkus permennya, "karena wanita tersebut jauh lebih tua dari sang pria."

Tiba-tiba, seperti ada petir menyambar di hati Killua.

"Memangnya kenapa kalau pria itu lebih muda dari sang wanita?" tanyanya, memancing pembicaraan. Saat ini adalah saat yang tepat untuknya menanyakan pendapat gadis di sebelahnya ini soal hubungan demikian. Ia perlu tahu. Tak ada salahnya kan?

"Aneh, tapi manis," sahut Tifa pelan. "Aku mengagumi kejujuran mereka untuk mengakui perasaan mereka masing-masing, meski komunitas zaman sekarang didominasi oleh budaya patrilineal –dimana pria seharusnya lebih tua, sehingga pasangan seperti mereka tampak absurd. Jadi, keinginan mereka untuk menunjukkan cinta mereka sendiri bagiku luar biasa..."

Killua merasa seperti ada sinyal baginya untuk perasaannya yang telah lama terpendam.

"Seandainya hal itu terjadi padamu, apa yang akan kau lakukan, Tifa-nee?"

"Maksudmu aku mencintai seseorang yang lebih muda?"

"Atau sebaliknya," tambah Killua cepat.

"Tak masalah," Tifa dan Killua beranjak masuk menuju sebuah minimarket di sebelah hotel. "Cinta itu kan buta. Bagiku kalau memang aku cinta, dan ia mencintaiku, kenapa aku harus menolaknya?"

Tangan Killua yang mengambil keranjang terhenti, menoleh pafa Tifa. "Kau yakin?"

"Kenapa harus tak yakin?" tanya Tifa. Keduanya berjalan pelan di deretan makanan manis, dan Tifa mengambil permen lolipop kesukaannya ke dalam keranjang, sementara Killua mengambil Choco Robo.

"Bagaimana jika suatu ketika, aku yang mencintaimu?" tiba-tiba Killua sontak melancarkan pertanyaan tersebut. Tangan Tifa membeku, menoleh pada Killua. "Atau Gon?" tambahnya agar tidak mencurigakan.

"Kalau Gon mungkin aku akan sulit menerimanya," Tifa terdiam sejenak, mengambil biskuit isi coklat ke dalam keranjang. "Kalau kau...beda cerita. Kau lebih dewasa dan matang, jadi tampaknya akan kupertimbangkan."

Sinyal positif. "Jadi kalau aku mengatakan aku mencintaimu, apa kau akan menerimanya?"

Tifa sontak tertawa, "hahahaha, Kill. Kuberitahu kau. Kalau kau mau menyatakan cinta, cari tempat yang lebih romantis! Tapi jika kau berniat melucu, lawakanmu cukup bagus!"

"Tapi aku serius!"

Suasana hening sejenak.

Killua membeku, menutup mulutnya dengan mata terbelalak, sementara Tifa memandangnya dengan pandangan kosong, perpaduan antara kaget dan tak percaya. Diambilnya keranjang di tangan Killua yang sudah penuh, lalu diletakkannya di kasir. Killua tersadar, Tifa pasti tak akan suka perkataannya tadi. Ia berjalan menghampiri Tifa sementara Tifa mengambil belanjaannya yang sudah dibayar tadi, seolah menganggap Killua tidak ada.

Padahal di dalam pikirannya, pikiran Tifa sudah cukup lama berkecamuk.

Bohong kalau ia tak menyukai Killua. Siapa yang tak suka penampilan pria berusia tanggung yang ramah, menyenangkan dan pintar. Killua –disamping kebaikan dan sikapnya yang manis, ia punya banyak karakter yang bisa membuat Tifa tertawa setiap kali mengingatnya. Ia suka keluguan Killua, meski pada awalnya, perasaan itu hanya sebatas sikap kakak terhadap adik.

Bohong kalau ia tak punya perasaan pada Killua. Itulah sebabnya kenapa ia meminta Killua memanggilnya 'nee-chan' dengan maksud agar ia membatasi jaraknya antara dirinya untuk Killua bahwa mereka hanyalah sepasang kakak beradik. Ia berusaha membatasi dirinya terhadap perasaan akan eksistensi Killua yang membuatnya selalu senang, hanya saja sebagian besar dari dirinya menolak perasaan tersebut. Killua bukanlah Gon. Killua –meski usia mereka terpaut jauh –sudah tahu kerasnya hidup sebagai pembunuh dan mengerti kerasnya kehidupan orang dewasa, dan somehow, itulah yang membuat Tifa merasa bahwa Killua lah yang mampu menerima dirinya. Mereka mengalami hal yang sama –pembunuh yang ingin lari dari kehidupan gelap dan mencoba ingin lebih baik, dan Tifa tahu, tak ada yang lebih memahami dirinya kecuali Killua. Matanya tertuju pada sebuah kafe yang terletak dari 3 bangunan dari hotel, menghela nafas.

"Tifa nee–"

"Panggil aku Tifa," potong Tifa, membuat Killua kaget. "Kau tak perlu panggil aku dengan embel-embel seperti itu."

"Tapi Tifa-nee..."

Ucapan itu terhenti saat Tifa mengerling padanya, "kalau kau mau tahu jawabanku, ikut aku."

Tifa berjalan menuju ke arah cafe tersebut dan Killua mengikutinya dengan patuh. Jantungnya berdegup kencang, dan wajahnya terasa memanas. Ia merasa bersalah, karena melihat sikap Tifa yang tiba-tiba dingin, ia sudah bisa menebak bahwa pasti tak akan suka padanya. Tangannya terkepal, dan ia menahan perasaan sakit hatinya. Ia harus siap mental terhadap jawaban Tifa, meski ucapannya tadi di minimarket sebenarnya keluar secara spontan. Keduanya duduk di salah satu meja di sudut cafe, dan bertepatan dengan itu, hujan mulai turun diikuti petir yang menyambar.

"Aku pesan coklat panas, kentang goreng dengan telur kocok," ucap Tifa pada pelayan, kemudian pandangannya beralih ke Killua, "kau mau apa?"

"Aku ..." Killua meremas buku-buku jarinya. "Aku ...pesan yang sama saja."

Pelayan tersebut selesai mencatat, dab berbalik pergi. Permen di mulut Tifa mulai habis, sementara tangannya mengambil sekotak Choco Robo dan melemparkannya pada Killua. "Nih."

Killua menerimanya, meski ia masih tak berani menatap Tifa secara langsung.

"Aku menerimanya."

Eh?

"Kalau kau mengucapkan hal tadi sebagai pernyataan cintamu padaku, aku menerimanya," Tifa menggigit permennya memandang Kilua yang kini mendongak dengan pandangan tak percaya, "pandanganmu lucu kalau begitu, Killua-kun."

"Maksudmu aku...eh...kau...menerima...c-c-c-cintaku..."

Tifa tersenyum tipis, mengangkat alisnya dengan sebuah senyuman di bibir.

"Ya, Killua-ku sayang. Kau senang?" sahut Tifa sembari mendekatkan wajah ya ke arah Killua, membuat wajah Killua memanas.

Kantung kebahagiaan di dada Killua meledak. Kalau mungkin ia punya penyakit jantung, bisa dipastikan ia akan jantungan saat itu juga. Tifa tersenyum, dan akhirnya tertawa lebar melihat sikap Killua.

"Jadi Tifa-nee...maksudku...Tifa...kau tak keberatan? Dan aku jadi...k-k-k-kekasihmu?"

"Kalau kau bisa bilang begitu," Tifa tersenyum tipis, menerima piring yang dihidangkan pelayan. "Kau tak perlu khawatir atau malu. Di luar, kita terlihat sebaya kok, jadi...kurasa tak ada yang perlu kau khawatirkan."

Killua tersenyum kecil.

Tifa menerima cintanya. Ia merasa waktu terhenti sejenak karena kebahagiaannya.

"Makanlah...atau perlu kusuapi?"

"Eh?" Killua membelalakkan matanya, kaget mendengar pertanyaan Tifa.

"Kalau kau mau," ucap Tifa sembari tersenyum, mengambil sendok dan memakan telur kocoknya. "Ayo duduk di sebelahku."

Killua tersenyum lebar. Ia beranjak dan duduk di sebelah Tifa, kemudian membuka lebar mulutnya seperti anak kecil dan Tifa tertawa. Disuapinya Killua perlahan, sementara Killua mengunyah dengan perasaan senang.

"Ne, Tifa..."

"Hm?"

"Apa kau juga...m-mencintaiku?"

Tifa memandang Killua, membeku. Tiba-tiba wajahnya terasa panas, dan tangannya menyambar banyak kentang goreng , mencoleknya ke saus dan memakannya dengan rakus. Killua tertawa melihat sikap Tifa yang tiba-tiba jadi aneh, dan wajah ala kucingnya muncul.

"Kau mencintaiku?"

"Berisik!"

"Hahaha, ne, ne...Tifa~~," Killua menyikut pinggangnya, tapi Tifa berusaha menjauh.

Tifa benar-benar merasa dipermalukan. Kenapa juga sih anak ini harus tanya-tanya soal perasaannya? Tifa bukanlah orang yang bisa megekspresikan perasaan cinta dengan langsung, dan jelas saja hal itu membuatnya malu. Killua masih tertawa, sebelum akhirnya mengambil nafas, lalu tersenyum.

"Kau mau melanjutkan menyuapiku?"

Tifa menggembungkan pipinya, meski akhirnya tangannya menyambar sendok, kemudian kembali menyuapinya.

"Ngomong-ngomong Kil," Tifa membersihkan sekitar mulutn Killua dengan tissue, "kau tahu kita sedang diawasi?"

"Ya," wajah Killua berubah serius, "tapi aku tak akan melakukan apapun kecuali ia menyerang kita. Tampaknya mereka hanya ingin mengintai kita tanpa berniat buruk."

"Ya, kurasa kau benar," ucap Tifa sembari mengambil kentang goreng, "kita diam saja. Kau mau kentang goreng?"

"Tanpa saus," sahut Killua cepat, dan Tifa kembali memasukkan sepotong kentang goreng ke mulutnya, "aku tak suka pedas."

"Hahaha, begitu," Tifa mengangguk paham. "Setelah ini sebaiknya kita memesankan makanan untuk Gon."

"Coba cek saja dulu, mungkin ia sudah memesan lewat room service?" tanya Killua, dan Tifa mengangguk, mengambil ponsel di saku celananya, lalu mengirim pesan.

To: Gon Freecs

Gon, kau sudah makan malam? Mau kubelikan? Aku sedang keluar nih.

Terkirim.

"Tinggal kita tunggu balasannya," Tifa meletakkan ponselnya di meja, kemudian kembali melanjutkan makannya dan menyuapi Killua. Saat keduanya terdiam, suara hujan yang menyentuh tanah terasa mengisi suasana hening. Cafe tersebut memang tak begitu ramai, dan sepertinya para pengunjung kafe pun tampak enggan meninggalkan cafe tersebut dalam keadaan hujan deras seperti ini.

"Habis, nah, sudah ya..." Tifa menyuapi suapan telur kocok terakhir. Killua mengangguk, masih dengan wajah bahagianya. Tak bisa ia pungkiri, sikap manis Tifa membuatnya senang bukan main. Seumur hidup, baru pertama kalinya ia diperlakukan manis oleh seorang wanita –bahkan tidak dengan ibunya –yang notabene merupakan seorang pembunuh sehingga memperlakukan dengan keras –meski masih, dengn sikap protektifnya. Tapi sikap Tifa padanya, adalah sikap yang lain. Kasih sayang normal. Kasih sayang seorang kekasih. Yang membuatnya tersipu tiap kali ia menatap dalam ke iris mata Tifa.

"Nah, Gon membalasnya," Tifa mengambil ponselnya, dan membaca pesan dari Gon.

From: Gon Freecs

Belum. Belikan aku ayam goreng, bagian paha yang banyak! Spagetti juga boleh! ^^

"Heh, ia minta dibelikan paha goreng dan spagetti," ucap Tifa pada Killua, melemparkan pandangannya ke luar, "setelah hujan berhenti, kita belikan pesanannya."

~oOo~

.

.

Tifa dan Killua berjalan masuk menuju hotel dengan bungkusan besar di tangannya. Sesuai permintaan Gon, ia membelikannya paha goreng dan spagetti, tak tanggung-tanggung, masing-masing tiga porsi. Sampai di lantai di mana kamar mereka berada, kedua melangkah keluar dari lift, menapaki karpet merah yang melapisi lantai indah hotel tersebut.

"Tifa, menurutmu bagaimana jika Gon tahu bah–"

"Untuk sementara, lebih baik kita diam," ucap Tifa sembari memandang lurus. "Gon itu polos, tak mudah curiga, jadi kurasa ia tak akan curiga apa-apa. Lagipula, kau tak mau ditertawakannya jika ia tahu kau menjadi kekasihku, iya kan?" Tifa menoleh pada Killua.

"Iya sih," Killua mengangguk kecil.

"Sekarang kau istirahat saja. Mandi, dan langsung tidur..." ucap Tifa sembari tersenyum. "Aku juga akan beristirahat setelah memberi bungkusan ini.

Killua mengangguk. Keduanya berjalan ke lorong yang berlawanan arah. Tifa mengetuk pintu kamar Gon, sementara Killua kembali ke kamarnya. Baru saja ia menutup pintu, tiba-tiba ia meloncat girang, menghempaskan tubuhnya di ranjang dengan senang. Ia benar-benar bahagia. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan! Ia berguling ke kanan, berguling ke kiri, dan menggoyang-goyangkan kakinya. Saat itu, yang jelas ia tahu satu hal.

Kini ia paham seperti apa rasanya dicintai oleh orang yang kita cintai.

Ia beranjak duduk, kemudian melepaskan pakaiannya. Sesuai ucapan Tifa, ia beranjak mandi dibawah guyuran air dengan hati senang. Sesekali ia bersenandung pelan meski hanya sekedar deheman bernada tak jelas, ia tak peduli. Setelah mengeringkan tubuhnya, ia mengambil pakaiannya dari tas, lalu dikenakannya baju tidur tersebut. Ia meloncat ke ranjang, menyalakan televisi. Layanan kamar hotel bintang 3 dengan kelas presidential suite memang tak bisa dibohongi, sangat lain! Nyaman dan ...menenangkan.

Sesaat ia merasa mengantuk, tiba-tiba saja ia kembali teringat pada Tifa. Jika aku mengajaknya tidur bersama, apa ia akan mau? Diambilnya ponsel di atas meja, kemudian dikirimnya pesan pada Tifa.

To: Tifanny Fuscienne

Tifa, apa kau mau tidur denganku?

Tak sampai lima menit, pesannya di balas.

From: Tifanny Fuscienne

Ayo, tapi kau ke kamarku saja. Aku malas ke kamarmu. Kamarku tidak dikunci, masuk saja.

Killua tersenyum. Ia beranjak dari kasurnya, mengambil kunci kamarnya dan memasukkannya ke dompet (kuncinya dalam bentuk kartu) kemudian beranjak menuju kamar Tifa. Ternyata benar, pintu kamar Tifa diganjal sebuah tisu tebal yang digulung-gulung (sebab jika tidak diganjal pasti akan terkunci otomatis), kemudian Killua mengambil tisu tersebut. Dibukanya pintu kamar tidur Tifa, dan dilihatnya Tifa sedang bergelung dibalik selimut sembari menonton TV. Setelah menutup pintu, ia meloncat dan merebahkan tubuhnya di sebelah Tifa sembari tersenyum lebar.

"Tifa~..." katanya sembari menyampingkan tubuhnya agar bisa memandang gadis tersebut. Tifa memandangnya dengan tatapan aneh.

"Kau tahu, untuk ukuran laki-laki seusiamu, kau termasuk kategori mesum karena ingin tidur bersama perempuan."

"Aku sudah cukup dewasa kok," ucapnya dengan wajah agak sebal.

"Oh ya? Aku yakin kau bahkan belum pernah mimpi basah!"

"TIFA!"

"Eh?" Tifa kaget melihat wajah Killua berubah galak.

"Kenapa kau mengejekku sih! Aku sudah mimpi basah tau!"

"Oh ya?" Tifa membesarkan matanya, mematikan TV, lalu memasang posisi menyamping sembari menopang kepalanya dengan tangan, "mari kita dengarkan cerita mimpi basah pertamamu kalau begitu."

"Tidak."

"Oh ayolah, pasti lucu. Dengan siapa? Dengan siapa? Dengan siapa kau melakukannya dalam mimpimu?" Tifa mencolek pipi Killua dan tertawa ngakak. Killua merasakan wajahnya memanas dan pipinya memerah.

"Denganmu," sahutnya pendek.

"Iya, aku mimpi melakukannya denganmu. Puas?" Killua meninggikan suaranya, kesal karena Tifa berhasil membuatnya kehilangan muka. Tifa tersentak kaget mendnegar jawaban tersebut, sebelum akhirnya Killua memunggunginya karena jengkel. Tifa tersenyum kecil, lalu mengelus rambut Killua dengan sayang.

"Buat apa kau tidur disini kalau kau hanya mau memunggungiku, hm?" Tifa tersenyum tipi sembari masih dengan tangan mengelus kepalanya. Tercium aroma citrus yang lembut ketika tangan Tifa terasa menyentuhnya. Laki-laki berusia muda itu berbalik, memandang Tifa sembari menyampingkan tubuhnya.

"Kalau begitu, peluk aku Tifa,"

"Kau pria manja,"

"Kalau kau sayang aku, lakukanlah,"

Tifa tersenyum , dan menjulurkan tangannya, mendekap Killua. Pria itu berbalik memeluknya, dan didartkannya sebua kecupan lembut di ubun-ubun Tifa.

"Aku mencintaimu, Tifa."

~oOo~


Terasa seperti loli harem? Meski iya, saya merasa mereka seperti seumuran, mengingat penampilan Tifa nggak jauh dengan Killua...jadi, just guess so. (Maksa lu!) Well, memang aneh, seperti bang setir pairing, tapi...sudah cukup banyak konfllik yang akan saya ciptakan dengan pairing ini jadi, stay tune, uahauahahaha (ketawa jahat).