Cuap-cuap penulis: Whoaaaaa...apa ini? Rasanya hanya kalimat itu yang ingin saya teriakkan saat saya menulis ini. Ini hanya sekedar chapter singkat tentang saat-saat Tifa bersama Killua diantara kesibukan mereka sebagai Hunter, jadi...yah...gitu deh...


Based on Hunter x Hunter (2011)

Pairing : Tifa (OC) X Illumi (or maybe Killua?), Slight Tifa x Hisoka

Disclaimer: Sebgian besar plot dalam cerita ini dan Tifa yang merupakan milik saya, selebihnya punya Yoshihiro Togashi.

.

.


Normal POV

Siapa yang suka jauh-jauh dari kekasih? Sebagai seorang pro-hunter, Tifa dan Killua seringkali harus berpisah dalam waktu yang lama dan tak tentu. Keduanya sama-sama saling kehilangan kabar, tapi Tuhan selalu tahu, kedua insan itu adalah jodoh. Sejauh apapun keadaan membawa mereka pergi, keduanya tetap bertemu kembali. Tempat pertemuan mereka sering kali tak terduga –bisa disebuah hutan pinus yang mencekam di Bartolomon –atau di antara tebing air terjun Sepiri yang terkenal tertinggi di dunia. Tak seperti kencan kekasih pada umumnya, seringkali keduanya bertemu di tempat-tempat eksotis yang tak terjamah manusia biasa.

Dan kali ini, di sebuah negara cagar alam milik asosiasi, NGL. Di atas sebuah tebing tinggi dimana kita bisa melihat pemandangan asri kawasan NGL, Killua dengan celana jeans dong pakaian turtle neck biru dan kaus longgar putihnya mengambil nafas panjang,e mnunggu kedatangan Tifa.

"Lama tak jumpa," ucap Tifa setelah keduanya hampir beberapa bulan tak bertemu. Killua menoleh ke arahnya, memandang sosok yang tak pernah terlihat tua dan kini lebih pendek darinya. Tinggi Killua kini 178 cm, jadi jelas saja tubuh Tifa terlihat lebih pendek darinya.

"Aku senang kau mau datang," Killua tersenyum kecil. "Kau terlihat pendek di mataku sekarang."

"Bilang pendek sekali lagi dan aku akan membunuhmu!" Tifa melotot, tak terima. Untuk ukuran gadis di sekitarnya, ia memang termasuk pendek. Killua tertawa, menarik tangan Tifa dan tangannya merengkuh pinggang Tifa. Dibelainya wajah wanita tersebut dengan sayang.

"Beginikah sambutanmu setelah lama tak melihatku?" tanyanya dengan nada genit dan senyuman nakal. "Kau kadang-kadang harus diberi pelajaran, Tifa."

"P-p-p-p-pelajaran?" mata Tifa terbelalak kaget mendengar ucapa Killua. "M-m-m-maksudmu?"

Kilua kembali menunjukkan seringainya, dan sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Tifa. Tubuh Tifa menegang mendapat perlakuan demikian, namun tangannya refleks menarik kepala pria tersebut dan mengembalikan ciuman Killua dengan pagutan yang lebih ganas. Killua membelai punggung Tifa halus, dan keduanya saling mencumbu dengan panas. Di atas tebing tertinggi NGL, sepasang kekasih itu saling melepas kerinduan, dibawah atap langit yang tampak luas dan biru, diiringi semilir angin yang meniup rambut mereka, serta suara gemerisik daun yang bergesekan karena angin. Sebuah pertemuan yang selalu berbeda, namun tetap panas. Dimanapun keduanya bertemu, hanya alam yang menjadi saksi mereka memadu kasih.

~oOo~

.

.

"Quality time?" tanya Tifa saat keduanya berada di saah satu restoran di Peijing.

"Hm. Kurasa aku bisa bersamamu selama beberapa hari di sini," Killua memakan sandwhich nya. "Kita juga tak bisa terus-terusan diperbudak oleh kerjaan kita sebagai Hunter kan? Aku dan kau, sama-sama manusia yang butuh hiburan..."

"Seperti waktu khusus untuk kau dan aku, begitu?" tanya Tifa yang seolah paham dengan arah pembicaraan Killua.

"Nah," Killua menjentikkan jari. "Kau pintar, sayang."

"Apa kau yakin? Bagaimana jika ada urusan mendesak?" Tifa menikmati spagettinya meskipun matanya tertuju pada pria berambut perak di hadapannya.

"Hm..." Killua mengelus dagunya sejenak, "tak apa. Akan kukatakan kalau aku ingin beristirahat. Lagipula...apa kau tak mau menikmati sedikit waktumu selama beberapa hari denganku, hm?"

Senyum nakal Killua terkembang, dan seketika pipi Tifa memanas. Killua tertawa menyaksikan pemandangan tersebut, kemudian mengacak rambut Tifa. Ia melanjutkan makannya, sembari sesekali menanyakan kesibukan Tifa akhir-akhir ini. Wanita di hadapannya menjelaskan kalau ia baru saja mengaplikasikan sejumlah berkas untuk menjadi Hunter bintang 1. Killua tersenyum melihat keberhasilan wanita tersebut, diam-diam bangga.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Gon?"

"Tak ada yang istimewa, setelah bertemu dengan ayahnya, ia sempat kembali lagi ke pulau Kujira dan bersantai. Sampai situ, aku tak tahu lagi. Aku juga punya banyak kesibukan soalnya," ucap Killua menjelaskan.

"Aku tahu," Tifa meminum es jeruknya, "itulah sebabnya kenapa kau selalu sulit untuk bertemu denganku."

"Hm~," Tifa memandangnya dengan genit, "apa kau merindukanku?"

"Berisik," Tifa mengalihkan pandangannya ke arah lain sembari menyembunyikan pipinya yang memerah. Killua tersenyum kecil. Tiba-tiba saja, ia mengambil sebuah bungkusan seperti kertas amplop coklat dari sakunya, lalu menyodorkannya ke arah Tifa. Tifa mengerutkan kening, memandang Killua dengan wajah bingung.

"Apa ini?"

"Buka saja,"

Tifa membuka amplop tersebut. Tak ia sangka, isinya adalah sebuah kalung dengan bandul berbentuk hati terbuat dari berlian berwarna biru. Ia ternganga, memandang kilauan bandul permata yang begitu indah tersebut, kemudian mendongak pada Killua dengan mata berkaca-kaca, terharu.

"Permata itu langsung kuambil dari salah satu reruntuhan kuno di Kongo, saat membantu beberapa Hunter arkeolog. Mereka bilang aku berhak memilikinya sebagai imbalan karena membantu mereka," ucap Killua menjelaskan. "Aku langsung memotongnya sekembalinya aku dari Kongo."

"Kalau begitu...ini...termasuk blue diamond langka yang pernah masuk daftar berharga negara yang harus dilindungi kan? Bagaimana kau bisa mendpaatkannya? Butuh keberanian besar untuk mendapatkan ini...Kill..." ucap Tifa sembari masih memandang kalung itu dan Killua.

"Tak sesulit itu, sayang. Lagipula...apa sih yang sulit selama itu untukmu?"

"Jadi kau sengaja membantu Hunter Arkeolog untuk mendapatkan ini?"

Killua mengangguk. "Sini, aku pakaikan."

Killua beranjak berdiri, mengambil kalung itu dari tangannya, lalu memakaian kalung itu di leher Tifa. Tifa menyentuh bandul hati itu dengan perasaan berkecamuk; senang, terharu, ingin meloncat girang, dan sebagainya. Setelah kalung itu berhasil dipakaikan, Killua memandang Tifa dengan senyum manisnya yang terkembang.

"Kau pantas mengenakannya,"

"T-terima kasih Kil," Tifa memandang Killua, dan sebuah air mata mengalir. Air mata kebahagiaan. Killua mengerutkan keningnya, lalu sadar akan wajah terharu Tifa. Disekanya air mata tersebut dengan sayang.

"Terima kasih sudah mau menjadi kekasihku," katanya sembari tersenyum kecil, mengelus pipi Tifa penuh kasih sayang.

Tifa mengangguk, mengelus tangan Killua yang kini berada di pipinya. "Sama-sama."

~oOo~

TBC


No comment...sangat butuh RnR minna, karena saya mulai aneh ketawa-ketiwi sendiri membayangkan keintiman pasangan tersebut. Jangan pake flame, saya nggak suka flame. Kritik saya terima, tapi jangan pedes-pede.

R n R minna -_-