Cuap-cuap penulis:
Setting chapter ini diambil setelah Chimera Ant Arc, beberapa tahun setelahnya. Terhitung dari sebelum Killua dan Gon mendpaatkan Game Greed Island, maka chapter ini adalah 6 tahun sesudahnya, jadi usia Tifa 34 tahun, Killua dan Gon 18 (WHAT A FAR GAP BETWEEN KILLU AND TIFA...)
Mha, nggak ada yang harus saya jelaskan lagi,jadi langsung saja.
Based on Hunter x Hunter (2011)
Pairing : Tifa (OC) X Illumi (or maybe Killua?), Slight Tifa x Hisoka
Disclaimer: Plot dalam cerita ini dan Tifa merupakan milik saya, selebihnya punya Yoshihiro Togashi.
.
.
.
.
Kediaman Zoldyck...
Satu Tahun Kemudian...
Silva memijat-mijat pelipisnya. Kikyo tampak mondar-mandir di ruang keluarga, sementara Zeno asik menikmati tehnya. Illumi – yang kini jadi spot utama dalam ruangan ini, memandang ketiganya dengan wajah datar, meski di hatinya ia tahu, ketiganya memikirkan hal yang sama – dan ini berkaitan dengan pendamping Illumi selanjutnya, mengingat usia Illumi sudah cukup matang untuk beristri, namun ketiga orang yang dihormatinya itu kini tampak bingung, karena sudah sebulan mereka mencari kandidat yang pas, namun tak ada yang sesuai dengan kriteria seorang istri yang baik untuk Illumi.
"Ini sudah ketujuh kalinya kita mendapatkan kandidat namun ternyata tak sesuai dengan harapan kita," Silva melipat tangannya ke dada.
"Sulit ternyata menemukan wanita yang cocok untuk menjadi calon istri Illumi. Perempuan-perempuan itu begitu lemah. Kita tidak bisa membiarkan keluarga ini memiliki penerus-penerus yang lemah..."
"Ayah, apa kau punya saran?" tanya Silva pada Zeno.
Pria itu meletakkan gelasnya perlahan. Ia terdiam beberapa saat, lalu memandang Illumi,menerawang sejenak, mengingat-ingat sesuatu.
"Aku hanya teringat keluarga Fuscienne..." Zeno menyilangkan kakinya, memandang serius pada ketiganya. "Hano Fuscienne, adalah salah satu kenalanku, yang memilki profesi sama dengan kami, dan ia tinggal di Rexas. Kau masih ingat tentang keluarga tersebut? Rasanya begitu janggal saat kediaman tersebut tak pernah mengontak kita lagi selama 10 tahun terakhir. Aku ingin mengecek mengenai desas-desus mengenai penyebab kematian mereka. Kudengar mereka memiliki seorang anak gadis yang kemampuannya begitu hebat."
"Maksud ayah, ayah ingin mendatangi mereka?"
"Kalau mereka masih hidup, kemungkinan kita bisa menjodohkan salah satu anak mereka dengan Illumi..."
"Bukankah kudengar mereka memang tewas dibantai?" tanya Kikyo.
"Bagaimana kau tahu?"
"Hanya desas-desus sebenarnya, karena aku ingat salah seorang mata-mataku yang tinggal disana mengatakan bahwa sekitar 16-17 tahun lalu seorang Fuscienne keluar dari rumah tersebut, dan tak pernah kembali lagi, lalu ia mengatakan bahwa semenjak itu, kediaman mereka benar-benar tak terawat..."
"Bagaimana kalau kita langsung kesana?" Zeno memandang Kikyo.
~oOo~
.
.
.
Tifa tercenung memandang lisensi hunternya. Misi besarnya memburu seorang kriminal kelas A, Raul Ivanovzky adalah misi terbesarnya dua tahun lalu. Sembari memainkan lisensi hunternya, ia memandang Cheadle masuk ke dalam ruangan, dan ia segera membetulkan posisi duduknya. Semenjak kematian Netero Jii dalam pertarungannya melawan raja Chimera Ant, ini adalah kali pertamanya ia menginjakkan lagi kedua kakinya di gedung Asosiasi.
"Ah, Tifa-san! Maaf telah membuatmu menunggu!"
"Tak apa,"
"Aku hanya tak enak karena aku telah mengundangmu tapi aku malah membuatmu menunggu..." Cheadle duduk di sofa yang berseberangan dengan Tifa, "mengingat blacklist hunter selalu sibuk. Kau baru satu-satunya blacklist hunter yang berhasil kuhubungi, karena yang lainnya tampak terlalu sibuk dengan kerjaannya."
"Sebenarnya aku kesini karena memang baru saja menyelesaikan misi, hahaha! Kuharap kedatanganku tak begitu terlambat! Kemarin aku baru saja dari kota Nuraju, aku bahkan mengabaikan beberapa email darimu seminggu lalu karena terlalu sibuk..."
"Aku bisa maklum. Mari kita langsung ke titik masalah saja..."
Tifa mengangguk.
"Aku mendapat permintaan langsuang dari orang penting negara ini agar kau dapat menjaga anaknya. Anak ini bernama John Evans, seorang artis, model dan penyanyi ternama. Permintaan ini tak dilancarkan ke agensi hunter karena yang meminta adalah seorang petinggi yang merahasiakan identitasnya, dan tugasmu adalah memastikan keselamatan John Evans tersebut dalam satu tahun ini. Soal pembayarannya, setengah upahnya telah masuk ke rekeningmu."
Tifa terkesiap, membuka ponselnya. Sebuah sms banking yang menkonfirmasi bahwa 2,5 M Jenny telah masuk ke rekeningnya. Tifa ternganga, "m-maaf Ketua, tapi aku bahkan belum menerima misi ini."
"Aku dan klien tidak mengharapkan penolakan," ucap Cheadle sembari beranjak memunggungi sosok Tifa yang membeku di sofa sembari tercenung. Siapa klien berengsek yang memaksa seorang blacklist hunter menjadi bodyguard artis ternama tersebut? Batin Tifa jengkel. Ia bukanlah orang yang congkak, tapi melihat ia bahkan tidak berhak bersuara untuk menolak misi ini cukup membuatnya merasa sedikit terinjak. Ia adalah seorang blacklist hunter! Dengan perlakuan seperti ini, tentu saja ia merasa harga dirinya jatuh.
"Ketua...kenapa aku bahkan tak berhak bersuara?"
"Karena ia juga telah mengirimkan sejumlah donasi yang besar demi Asosiasi."
"DAMN!" wajah Tifa berubah gahar. "JADI KAU BAHKAN MENOLAK MENERIMA KEBERATANKU KARENA UANG?"
Cheadle terdiam. Tifa memasang raut wajah tak terpercaya. Ia menahan amarahnya, menarik nafs panjang-panjang, lalu memandang sosok Ketua tersebut dengan sedikit usaha utuk tetap mengendalikan suaranya agar tetap berada dalam situasi yang terkontrol, meski saat ini ia ingin sekali menghancurkan sesuatu.
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Sebelum mengkonfirmasi dirimu, sebaiknya kau menjaganyadulu. John Evans akan menghadiri sebuah pesta ulang tahun Angela Couraz, anak dari Antonio Couraz, seorang bangsawan di Lovazky. Misi pertamamu yang pertama adalah, pastikan bahwa John Evans selamat dan tak terbunuh...pastikan kau tak terlihat mencolok dilihat 3 bodyguardnya yang lain, pastikan kau membaur dalam pesta tersebut."
"Apa? Tiga Bodyguard? Apa Bodyguard itu tak cukup mampu menjaganya agar tidak dibunuh?"
"Ayahnya hanya khawatir bahwa anaknya akan jadi titik lemah kekuasaannya saat ini, jadi ia butuh seorang hunter yang kuat. Ketiga bodyguard itu tak lebih dari tukang pukul, sementara blacklist hunter sangat bertalenta dan lebih kuat. Itulah sebabnya ayah dari John Evans meminta kami menurunkan blacklist hunter. Oh ya, pastikan kau menangkapnya juga, kalau kau bisa."
Tifa menghela nafas. Sepertinya, tak ada yang bisa ia lakukan lagi untuk menolak misi menunduk lelah, lalu kembali mendongak memandang Cheadle.
"Baiklah...kapan pesta tersebut dilaksanakan?"
"Agustus tanggal 12. Semoga berhasil," ia menyalami Tifa. Tifa mengangguk. Ia berjalan keluar, membuka bungkus permen lolipopnya, lalu berjalan menuju lift. Lift mulai bergerak dan membawanya turun. Baru saja ia keluar dari lift, tiba-tiba ia merasa tubuhnya bertabrakan dengan seseorang.
"Oh maafkan saya," Tifa membungkuk kecil. Sosok Tifa hanya melihat pria tersebut secara sekilas – ia mengenakan penampilan yang agak lusuh dan tampak sedikit tak terawat–tapi ia tak peduli.
"Maaf Nonaa!"
Tifa membeku. Ia menoleh ke sumber suara. Kini ia dapat melihat penampilan pria tersebut dengan jelas. Ia mengenakan pelindung kepala yang agak sedikit aneh, dengan pakaian putih dan selubung hijau yang menutupi hampir sebagian tubuhnya. Saat itu ia berjalan mendekat pada Tifa, dengan sebuah lisensi di tangannya. Pria itu terdiam sejenak, memandang Lisensi itu, lalu mendongak pada Tifa.
"Kupikir lisensimu terjatuh..." ia memandang Tifa sembari menyodorkan lisensi itu padanya.
"Eh, oh ya..."
"Tak kusangka ada juga hunter berbakat yang masih belasan sepertimu..." katanya saat Tifa menerima Lisensi tersebut. Tifa menggaruk kepalanya dengan wajah bingung tapi juga malu.
"Aku tak semuda yang kau kira Tuan..." Tifa tersenyum kecil, menyimpan lisensi itu ke dalam dompet di saku celananya.
"Kupikir kau tampak seperti berusia 16-17-an?"
"Usiaku 34 tahun," ucap Tifa pelan.
"EEEEH?"
Saat itu Tifa melihat pria itu dengan jelas, dan entah mengapa, ia merasa sepertinya ia mengenal pria tersebut. Wajahnya tampak tak asing bagi Tifa. Hanya saja, sebelum ia banyak bertanya, pria itu telah berpamitan dan meninggalkannya. Ia tercenung sejenak, lalu pergi meninggalkan gedung asosiasi tersebut.
Sementara itu, pria tersebut tercenung memandang sosok Tifa. "Hunter bintang 1..." gumamnya pendek.
.
.
~oOo~
.
.
TBC
Balesan Repiu:
Chastray Artyu : Nekat? Whoa, honestly, yes or no. Yes because it was a love between two people who has too much age gap, no; because love is blind. Awalnya saya mau bikin dengan Illumi, tapi kayaknya ga seru gitu, mangkanya banting setir ke Killua.
Soal typo: maaf, saya memang nggak setiap saat mengecek typo, karena kejar setoran (ditampar). Ketika ide terlalu banyak di kepala, ngetik cepat, udah dikoreksi masih ada yang salah, sampe selesai dikoreksi dan di post pun, masih ada yang salah. Yang jelas, itu bukan kesengajaan. Terima kasih untuk reviewnya, kawan.
rie megumi: No, udah saya koreksi kok, tapi nggak ah. Mungkin fanficmu eror. Tapi, makasih udah repiu. Dateng lagi ya? ^^
Ghost186 : Hentaiiiii...your mind just full of lewd, but so do I! (Ketawa gila) Basically memang Killua lebih nakal disini, karena mungkin nafsu yang menggebu-gebu? Entah saya belum pernah survey dengan cowok yang lebih muda, jadi saya nggak tahu XD (Blatantly talk). Alert, chapter" depan bener-bener saya kasih lemon, jadi, beware aja supaya ngggak mimisan.
Arisato yukito : authornya juga ngerasain pipinya panas saat nulis ini, jadi...not too different. Bedanya, mungkin saya sedikit terkekeh kecil saat mengetik ini, menginterpretasi pengalaman XD
Saa, kayaknya segitu dulu balesan Repiu. Repiu lagi yak? Mata ne~ ^^
