Cuap-cuap penulis : Apakah saya cukup produktif XD Yang jelas, saya mau ngepost lagi, tapi kali ini yah (sumpel-sumpel tisu di hidung akibat mimisan) lemon...jadi, selamat menikmati aja. Mungkin masalah akan berawal dari sini.


Based on Hunter x Hunter (2011)

Pairing : Tifa (OC) X Illumi (or maybe Killua?), Slight Tifa x Hisoka

Disclaimer: Sebgian besar plot dalam cerita ini dan Tifa yang merupakan milik saya, selebihnya punya Yoshihiro Togashi.

Warning: Di bagian akhir ada Rate M!

.


.

.

.

Normal POV

Tifa memandang layar LCD di sebuah internet cafe, mencari tahu mengenai pria bernama John Evans. Ternyata ia adalah seorang penyanyi pop star ternama yang menjadi idola banyak gadis-gadis muda. Tifa mengakui, foto pria tersebut memang tampan. Usianya baru saja 23 tahun. Masih sangat muda. Dari berita, ia juga mengetahui bahwa Angela adalah kekasihnya, anak seorang bangsawan yang juga seorang aktris dan model.

Tangannya mengarahkan ke arah panah dimana layar menunjukkan foto-foto pasangan muda tersebut.

Pasangan serasi. Yang satu cantik, dan yang satunya tampan.

Tifa mencari beberapa berita tentang pesta tersebut. Dari situs hunter, ia mengetahui bahwa pesta tersebut memiliki tema. Rupanya pesta tersebut berbentuk formal, dimana para pengunjung wanita mengenakan gaun puffy yang sangat victorian, sementara para pria mengenakan jas ala para pria inggris abad 19.

Tifa mengangkat sebelah alisnya. Darimana ia menemukan gaun seperti itu di era canggih jaman sekarang. Memesan pun rasanya tidak mungkin, karena membuat gaun ekstra kain seperti itu pasti akan memakan waktu lama, sementara pestanya saja tinggal 9 hari lagi! Tifa menggaruk kepalanya keras-keras, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menghembuskan nafas lelah. Ia memejamkan matanya, berpikir. Ia harus tampak membaur di antara pengunjung pesta tersebut. Disana, setiap pengunjung pasti membawa gandengan pria atau wanita, dan harusnya dia juga membawa seseorang. Selintas, benaknya teringat dengan Killua. Sembari tersenyum kecil, diambilnya ponsel dan ditelponnya Killua.

Terdengar nada sambung.

"Halo ada apa sayangku?" tanya Killua genit dari sebrang.

"Kau ini selalu genit. Aku butuh bantuanmu," ucap Tifa serius. "Aku ada misi, dan...dalam misi ini...aku akan membutuhkan dirimu."

"Tampaknya serius," Killua berdeham. "Bisa kau ceritakan?"

"Aku mendapat misi untuk menjaga seorang pria dalam sebuah pesta...hanya sjaa pesta itu mewah dan rasanya aneh jika aku tak membawa pasangan," aku Tifa jujur. Killua terdengar mendesah di seberang.

"Aku kira kau merindukanku, Tifa..."

"Sebenarnya memang ya...itulah sebabnya aku memintamu datang lebih dulu."

"Maksudmu?"

"Acara pesta tersebut dilangsungkan tanggal 12...kau ada waktu dari tanggal 7 sampai tanggal 14? Sebelum tanggal 12...kupikir kita mungkin bisa memanfaatkan waktu luang kita bersama..." suara Tifa memelan,merasa agak malu. Ini adalah pertama kalinya ia mengundang Killua untuk menemuinya.

"Hm~~," Killua tersenyum. "Sepertinya ada yang merindukanku."

"Jangan menggodaku, Kil,"

"Kalau kau bilang 'aku merindukanmu', hari ini pun aku siap berangkat."

"Kemana kau mau berangkat, aku saja belum memberitahukan lokasi pesta tersebut..."

"Lovazky?" tebak Killua.

"Darimana kau tahu?" tanya Tifa dengan mata terbelalak. "Kau...bagaimana kau bisa tahu?

Killua tertawa kecil di seberang. "Aku punya banyak telinga di seluruh penjuru negeri, cintaku. Lagipula, di Lovazky itu...aku tahu siapa klienmu."

"Ssssh, saluran telpon tak pernah aman," Tifa menyergah. "Kalau begitu, aku tunggu kau di Lovazky lusa, bagaimana?"

"Baiklah. Aku akan bersiap-siap hari ini kalau begitu. Kau akan langsung kesana juga?"

"Entahlah, akan kukabari lagi. Sampai nanti, Killua."

"Hati-hati, Tifa-chan."

Tut. Sambungan telpon dimatikan. Kini yang terpenting adalah...kostumnya.

Mari kita pikirkan, siapa yang suka mengenakan dress abad 19 itu. Ia memejamkan matanya sejenak, merasa mendapat ide yang samar-samar. Bangsawan, gaun khas victoria, pakaian bangsawan, identik dengan perhiasan mewah, permata dan emas terbaik, klasik, mengagung-agungkan seni...rasanya tak asing dengan hal-hal tersebut, tapi siapa orang yang tergila-gila dengan hal tersebut di jaman seperti ini?

Tiba-tiba pikirannya menangkap satu bayangan yang sudah lama ia hilangkan dari ingatannya.

Priscilla Fuscienne.

~oOo~

.

.

Kikyo mendongak memandang gerbang yang cukup besar itu. Kelima Zoldyck – Silva, Kikyo, Illumi, Milluki dan Zeno kini berada di depan gerbang kediaman Fuscienne. Kelimanya memandang pintu dari beton yang tampak seperti gerbang milik mereka, namun sedikit lebih kecil.

"Ayo kita dorong," Silva memandang Zeno, dan ia mengangguk. Baru saja keduanya mendorong, aliran listrik jutaan volt menyetrum mereka. Bersyukurlah bahwa mereka adalah Zoldyck, sebab jika tidak, keduanya pasti mengejang meski hanya sejenak.

"Pintu ini tak seperti di rumah kita," Illumi memandang pintu tersebut. Ia berjalan mengitari pintu tersebut, lalu berusaha mendorong juga. Hal yang sama terjadi padanya. Ia memandang kedua tangannya sambil merasakan sisa-sisa efek setruman tersebut, lalu mendongak, memerhatikan gerbang tersebut.

"Sepertinya pintu ini memberi sinyal untuk mengalirkan sejumlah listrik jika ada orang yang berusaha mendorongnya."

"Bagaimana kalau kita ledakan saja?" Silva membentuk dua buah bola nen dari kedua tangannya, lalu melemparkannya.

BUMMM.

Debu-debu beterbangan. Namun pintu tersebut masih kokoh berdiri, dengan sedikit debu-debu disekitarnya. Kelima Zoldyck itu menghela nafas pasrah. Ia memijit interkom, mencoba untuk menyapa kediaman kosong tersebut, dan tentu saja hasilnya nihil. Milluki dan Illumi berjalan mondar-mandir di sekitar, berharap mereka menemukan cara untuk membuka pintu tersebut. Tiba-tiba, seorang pria datang menghampiri Kikyo dan membungkuk.

"Maaf jika saya salah, tapi apa benar anda Nyonya Kikyo Zoldyck?"

"Ah, benar."

"Saya Raso, mata-mata anda yang anda pekerjakan di daerah sini. Baru saja saya akan mengabari anda bahwa tahun lalu seorang wanita dengan dua anak lelaki memasuki kediaman ini..."

"Benarkah? Bagaimana cara mereka masuk?"

"Sepertinya, wanita yang masuk itu merupakan bagian dari keluarga ini, Nyonya. Saya tidak tahu siapa, tapi dugaan saya mengatakan, bahwa ia satu-satunya Fuscienne yang terakhir kali meninggalkan mansion Fuscienne ini 10-11 tahun lalu..."

"Jadi, kau menduga bahwa ada seorang anggota Fuscienne yang masih hidup dan datang kemari?" tanya Silva.

"Benar tuan. Mereka masuk dari pintu depan dan menggunakan iris scanning dan fingerprint scanning. Bisa saya pastikan mereka bagian dari anggota keluarga tersebut."

"Apa kau tahu cara masuk menuju kediaman mereka tanpa harus menggunakan scanning semacam itu?"

"Beberapa hunter pernah mencoba memanjat dari atas, tapi mereka tidak pernah kembali. Yang saya tahu dari data blueprint mansion Fuscienne, mereka memasang aliran listrik yang melindungi bagian rumah mereka dari segala sisi, termasuk dari langit. Jadi...siapapun yang lewat atas pasti akan hangus karena alat mereka akan mendeteksi orang asing yang menyelinap dan mengirimkan sinyal untuk mengalirkan listrik jutaan volt tuan."

"Listrik lagi?" Zeno terdiam sejenak. "Bagaimana? Kalian mau mencoba?"

"Tidak ada cara lagi. Mungkin terkesan seperti kurang sopan..." Illumi meloncat menaiki gerbang, dan seketika sebuah kilatan listrik muncul dari bagian atas kediaman kosong itu. Tiba-tiba suara Illumi terdengar dari dalam, memanggil mereka. Keempat Zoldyck itu seketika meloncati gerbang, dan menembus 'lapisan listrik' pelindung vertical keluarga tersebut. Bukan Zoldyck namanya jika mereka tak mampu menangani kekuatan listrik seperti itu.

Seketika kelimanya disuguhkan dengan pemandangan mengerikan. Sebuah mansion dengan taman yang tak terurus, tulang belulang, bangkai dimana-dimana, serta sampah tanaman dan tanaman rambat yang tumbuh tak terawat.

"Sepertinya kematian mereka memang benar..." gumam Kikyo sembari memandang suaminya. "Ne, anata, apa kita harus menghentikan ini?"

"Tidak, sebaiknya kita masuk dulu..." Silva memberitahu.

Kelimanya bergerak menyusuri jalan utaman menuju mansion tersebut. Zeno yang berjalan terlebih dahulu, lalu membuka piintu utama. Kelimanya terpana melihat bentuk arsitektur mewah yang terpampang didepan mereka. Sebuah patung klasik dimana-mana, dengan lantai marmer dan lampu kristal yang tergantung dan penuh dengan sarang laba-laba. Kikyo ternganga.

"Oh~rumah ini pasti sangat indah dulunya...Seperti yang kuduga dari keluarga Fuscienne, mereka begitu menghargai karya seni. Benar-benar berkelas..."

"Keluarga Fuscienne memilki kecintaan terhadap buku dan seni. Mereka termasuk orang yang membangun kota Gordote, jadi wajar saja kalau mereka begitu berkelas. Gordote terkenal akan orang-orangnya yang berpendidikan tinggi dan memiliki cinta yang besar pada ilmu..." timpal Zeno, melihat beberapa tumpukan buku di rak ruang tamu, lalu melangkah menuju ruang utama. Lampu kristal yang lebih besar menggantung, perapian mewah, dengan lukisan dengan harga jutaan Jenny menempel di dinding.

Kelimanya terbelalak saat sampai di ruang utama tersebut. Bau apek menguar disertai pemandangan yang cukup mengerikan untuk ukuran normal. Beberapa tulang tampak terkapar disana sini, masih dalam balutan pakaian mereka, disertai bau busuk yang tak sedap. Banyak tikus-tikus berlarian saat mereka melangkah, memandang onggokan belulang yang masih memakai pakaian – pakaian tersebut bisa dipastikan berharga mahal bergaya bangsawan – dengan cipratan darah kering dimana-mana.

"Sepertinya desas-desus itu benar, mereka dibunuh salah satu anak mereka," ucap Kikyo sembari memandangi tulang belulang tersebut.

"Hm," deham Zeno mengiyakan.

Mereka berusaha menahan aroma tak sedap tersebut, mengitari ruang tersebut. Milluki memerhatikan beberapa lukisan di dinding sembari mengangguk-angguk.

"Tampaknya mereka suka lukisan..." komentar Milluki sembari menunjukkan lukisan Picasso di dinding.

"Sepertinya ini adalah lukisan keluarga mereka..." Illumi memandang sebuah lukisan berukura meter terpampang di dinding. Ada dua orang anak perempuan dan dua anak orang laki-laki, mengenakan gaun gaya victoria, begitu juga wanita paruh baya yang mereka duga adalah ibu dari keempat anak tersebut, sementara sisanya dua orang pria – kakek dan ayah dari keempat anak tersebut – serta seorang nenek yang tampak renta.

"Hano," gumam Zeno sembari memandang pria tua di lukisan tersebut.

"Mereka benar-benar sangat klasik, menggunakan lukisan dibanding foto..." komentar Illumi sembari berjalan mendekat.

"Anak perempuan ini cukup cantik, ya kan Illumi?" Kikyo menunjuk gadis berambut pirang di lukisan tersebut yang menggunakan gaun ala victoria berwarna merah hati.

"Ya," sahut si sulung sambil mengamati lukisan tersebut.

Keluarga tersebut memiliki keturunan gen yang cukup bagus. Illumi bisa membayangkan bahwa anak-anak dalam lukisan itu pasti cantik dan tampan pada kenampakan aslinya. Mereka berambut dominan pirang dengan iris mata biru muda atau turmalin. Tiba-tiba matanya memandang sesosok gadis yang memiliki rambut hitam kebiruan dan lurus seperti miliknya, dengan iris mata merah dan tampak seperti boneka porselen yang mengenakan gaun victoria berwwarna biru tua. Karena kulitnya seperti porselen, maka sosoknya yang berbalut gaun gelap tampak kontras, disamping iris merahnya yang tajam.

"Mereka cantik-cantik..." Milluki tersenyum mesum memandang gambar kedua anak gadis di lukisan tersebut.

"Rasanya aku tak asing dengan gadis ini..." Zeno menunjuk gadi berambut hitam kebiruan yang sedari tadi Illumi perhatikan. "Sepertinya aku pernah melihatnya..."

"Mencariku?"

Kelima Zoldyck itu terkesiap mendengar sebuah suara terdengar dari belakang mereka. Kelimanya menoleh. Disana, sosok wanita setinggi 160 cm dengan rambut terurai, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru laut dan celana jeans berwarna hitam dengan sebuah permen lolipop di mulutnya. Ia berjalan mendekat.

"Ada perlu apa keluarga Zoldyck mengunjungi kediaman ini?"

"Tifa?"

"Lama tak jumpa, Zeno-jii, Illumi-san.." Tifa melangkah, mendekat pada mereka, lalu memandang lukisan tersebut. "Itu lukisan kami 15 tahun yang lalu. Emma, Jade, Claude, Akeno, Priscilla, Hano, Hannah..."

"Dan ini..." ia menunjukkan lukisan gadis bergaun biru tua itu. "Tifanny Fuscienne, aku."

"Jadi, kau anggota keluarga ini? Itu berarti kau..."

"Ya, ya, itu aku yang membunuh mereka..." Tifa mengangguk. "Secara hukum, mereka bisa bilang aku anggota keluarganya, tapi aku tak pernah merasa demikian."

"SYUKURLAAAAAAH!" Kikyo tiba-tiba memeluk Tifa erat. "Akhirnya kita punya calon istri yang pas untuk Illumi!"

"HA?"

Tifa melepas pelukan Kikyo seketika dengan mata yang horor. "Yang benar saja Nyonya! Calon istri Illumi?" Tifa menunjuk Illumi dengan wajah tak percaya dan ngeri. "Yang benar saja?"

"Kami telah mencari banyak wanita yang pas untuk dijadikan calon istrinya hingga saat ini, tapi hingga saat ini kami tak menemukan wanita yang cocok untuk menjadi ibu dari anak-anak Illumi, jadi kau bersedia kan? Tifa-chan!"

"Sebentar, sebentar, sebentar!" Tifa mundur perlahan dengan wajah ngeri. "A-aku tak sudi menikah dengan pria tanpa ekspresi sepertinya! Lagipula kenapa aku harus menikahi seorang pembunuh?!"

Sedetik kemudian Tifa tersadar ucapannya, dan membekap mulutnya saat kelima Zoldyck itu terdiam mendengar responnya. "M-maaf maksudku, aku bukanlah lagi seorang pembunuh jadi rasanya tidak benar jika kalian menjadikan aku sebagai calon istrinya..."

"Begini, Tifanny..." Silva menepuk bahu gadis tersebut yang masih tampak kebingungan. "Kami paham maksudmu, tapi kenapa? Bukankah dulunya kau adalah bagian dari keluarga pembunuh juga?"

"Tuan Zoldyck, aku bahkan membunuh keluargaku karena aku tak mau lagi membunuh demi bayaran seperti harapan mereka. Apa yang kau harapkan? Bukankah lucu jika aku yang tak mau lagi membunuh malah menikahi seorang pria dari keluarga pembunuh bayaran terkenal? Itu sama saja seperti aku mengotori diriku sendiri setelah aku membersihkan tubuhku dari kotoran."

"TAPI TIFA-CHAN! APA YANG KURANG DARI ILLU-KUN! (ia menyodorkan sosok Illumi ke hadapan Tifa) IA TAMPAN, KAYA RAYA, TAK AKAN PERNAH SELINGKUH, DAN PENURUT! PRIA IDAMAN WANITA, IYA KAN?"

Tapi tak berekspresi dan dingin, buat apa, pikir Tifa bosan.

"Kikyo, biarkan Tifa memilih dulu..." Zeno memandang Kikyo dengan pandangan serius. "Ini adalah keputusan yang akan mempengaruhi hidupnya ke depan, jadi ia tak bisa memutuskan ini secepatnya!"

"Maaf Zeno-jii, tapi keputusanku tak berubah..." Tifa tersenyum kecil. "Silahkan cari calon yang lain. Sekedar memberi tahu saja, aku kesini hanya ingin mengambil beberapa perhiasan yang tertinggal di kamar Priscilla, jadi...(ia membungkuk sejenak) sampai nanti."

Sosok Tifa berlalu. Kelima Zoldyck itu tercenung memandang kepergiannya.

"Anata! Bagaimana ini?! Illumi belum tentu akan mendapatkan calon istri sekuat dirinya yang bahkan bisa membunuh keluarganya! Anata, apa yang harus kita lakukan!" Kikyo meneriaki suaminya dengan histeris.

"Tenanglah. Kita bisa cari calon istri yang lain untuk Illumi."

"TAPI TAK ADA YANG SECANTIK DAN SEBAIK TIFA! LIHAT! (ia menunjuk lukisan potret Tifa) TAK ADA YANG MENYAINGI KECANTIKANNYA! IA SEPERTI BONEKA!"

Ibu, kau hanya terobsesi padanya karena ia begitu cantik dalam gaun victoria, dan kau akan memperlakukannya seperti barbie, pikir Illumi dalam hati. Tapi ia akui, gadis itu memang cantik apalagi dalam rambutnya yang tergerai. Ia bahkan tak menyangka bahwa gadis di lukisan itu adalah seorang Tifa. Ia tampak seperti boneka, tanpa minus. Mungkin minus pada sikap Tifa yang mudah marah dan berdarah panas, tapi secara fisik, Tifa benar-benar manekin hidup.

~oOo~

.

.

Tifa melangkah cepat menuju di mansion tak terurus itu, menuju kamar ibunya. Ia tahu, ibunya memang agak sedikit freak, krena ia memang keturunan bangsawan Inggris yang memiliki penyakit masokis, suka membunuh. Ia sangat ortodok, karena di abad ke 20, saat ia masuk ke keluarga tersebut, semua anak perempuan diwajibkan menggunakan korset gila yang menyesakkan itu saat dirumah, kecuali saat mereka melakukan misi, dan latihan. Bahkan saat tidur, ibunya membuat aturan ketat agar memakai korset tersebut.

Ia menghampiri lemari built in dengan pintu besi baja setebal 10 cm, lalu membukanya. Ia terpana melihat koleksi mahakarya para desainer terkenal dalam bentuk victorian dress itu masih utuh, hanya sedikit apek, namun pengatur suhu kamar masih aktif, mengingat rumah ini memiliki sumber energi sendiri, jadi selama sumber energi itu aktif, seluruh listrik, air dan alat-alat lainnya akan baik-baik saja.

Ia mengambil sebuah gaun berwarna merah hati dan memandangnya dengan pandangan terpukau. Meski ia tak paham seni dan fashion harus ia akui, selera ibunya memang berkelas dan sangat tahu seni. Ia tersenyum, mengambil 3 dress – merah, biru muda dan ungu muda – melipatnya masuk ke dalam tas punggung besarnya secara paksa termasuk korsetnya – ia berniat melaundrynya sesampainya di Lovazky, lalu melangkah menuju pintu keluar utama. Saat itu keluarga Zoldyck telah pergi, dan ia hanya bisa menghela nafas.

Semoga mereka tidak membicarakan hal-hal aneh lagi.

~oOo~

.

.

"Hey, apa kabar Tifa?"

"He, Killua?"

Pria itu tersenyum, memeluk Tifa sejenak, melepas rasa rindunya. Tifa terkesiap memandang remaja bertubuh tinggi di hadapannya. Baru saja satu tahun berlalu, dan Killua benar-benar terlihat dewasa sekarang. Killua lebih tinggi saat ini, begitu pandangan Tifa sesaat sebelum ia melihat Killua terakhir kalinya, dengan gaya yang masih tetap modis seperti biasanya. Ia mengenakan kemeja pink kotak-kotak tanpa dikancing dengan sebuah kaus dalaman berwarna biru serta celana jeans dan sepatu sneaker merah.

"Kau lebih tinggi dari terakhir kali kita bertemu, Kill," ucap Tifa sembari mendongak pada pria tersebut.

"Tentu saja, aku anak laki-laki. Dan kebetulan keluargaku didominasi tinggi juga," Killua tersenyum, lalu membawakan tas punggung Tifa yang masih di kursi tunggu. Ada dua tas, dan ia membawa keduanya.

Tifa tersenyum dalam hati. Ia lebih gentle sekarang, batin Tifa.

"Dihotel mana kau tinggal sekarang?" tanya Tifa saat keduanya beranjak keluar dari bandara.

"Silver Orchid. Aku sengaja memesan presidential suite," ia menoleh pada Tifa dan mengedipkan sebelah matanya, "kita akan satu kamar mulai malam ini."

"Dasar genit. Apa hotel tersebut jauh dari sini? Kau sudah memesan taksi?"

"Tidak, aku tak memesan taksi, karena..." suaranya menggantung, lalu menunjuk ke sebuah mobil Bentley Continental GT, membuat wanita tersebut terkesiap.

"Kau membeli itu?"

"BA~KA! Tentu saja aku menyewanya, karena kupikir kita pasti ke pesta besar, jadi kita harus bisa menyesuaikan," katanya dengan wajah sebal, "kau beruntung, aku punya inisiatif. Kalau tidak, kau pasti lupa kan soal ini."

Benar, batin Tifa. Ia menepuk bahu Killua layaknya seorang kakak yang bangga pada adiknya, dan Killua tersenyum lebar. Keduanya berjalan menuju mobil tersebut. Killua memasukkan kedua tas berat itu kedalam mobil, kemudian duduk di kursi supir untuk mengemudi. Tifa mengernyit. Bukankah anak ini masih dibawah umur?

"Kill, biar aku yang mengemudi. Kau masih dibawah umur," Tifa menadah, meminta kunci mobil tersebut pada Killua, namun sang Zoldyck muda menggeleng.

"Tenang, aku punya surat mengemudi kok," sahutnya pendek.

"Hah? Kau kan masih 18 tahun?"

"Nee-chan, sebagai hunter, terkadang kita harus sedikit berbohong, termasuk soal usia, demi kebaikan bersama, jadi kau tak perlu khawatir..." ia mengedipkan matanya dengan nakal, dan Tifa menggeleng. Ia mengangguk lalu menyalakan mobil.

Perjalanan menuju Silver Orchid hanya memakan waktu 10 menit. Setelah check in, keduanya menaiki lift, lalu beranjak menuju kamar Killua. Tifa terperangah melihat kamar kelas Presidential Suite hotel bintang lima tersebut. Killua menurunkan kedua tas punggung yang dibawanya (keduanya menolak menggunakan jasa bill boy) lalu mengganti sepatunya dengan sandal hotel.

"Kau sudah makan?" tanya Killua saat Tifa memandang sekitarnya dengan pandangan kagum sembari terduduk di pinggir ranjang.

"Belum, tapi nanti saja," sahut Tifa. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran King Size itu dengan pasrah. Killua menggeleng, melepaskan sepatu Tifa dan menyimpannya di rak.

"Eh, Kill, apa-apaan kau?" Tifa sontak duduk saat merasakan sepatunya sudah lepas.

"Tifa, sebaiknya jika kau mau beristirahat, kau lepas sepatu dulu," ucap Killua bijak.

"Bukan, maksudku kenapa harus sampai melepaskan sepatuku segala!?" Tifa merasa tak enak, tentu saja. Sikap Killua terlalu manis, bahkan untuk ukuran seorang kekasih. Killua tersenyum.

"Tak apa. Kalau kau lelah, beristirahatlah dulu," Killua beranjak duduk di sebelah Tifa, membetulkan poni rambut Tifa yang menghalangi wajahnya. "Ayo tidur."

"Hm..." Tifa merebahkan tubuhnya di ranjang, diikuti Killua yang tiduran di sebelahnya. Killua memandang wajah Tifa lekat-lekat, dan tentu saja, itu membuat Tifa merasa risih.

"Kau tak pernah menua," ucapnya sembari tersenyum kecil. "Selalu manis seperti biasanya."

"Kau terlalu berlebihan," ucap Tifa kemudian memejamkan matanya. "Aku tidur ya."

Kilua mengangguk. Saat ia sadar Tifa mulai cukup lelap, diam-diam beranjak dari posisinya. Dikecupnya bibir Tifa, sementara tangannya mulai merayap di bagian pungggung wanita tersebut. Gadis tersebut setengah tersadar, mengerjapkan matanya namun tak bisa berkomentar saat bibir Killua mengecupnya. Ia ingin memberontak, tapi tubuhnya mengkhianati pikirannya. Bukannya mendorong pria yang kini mengekspansi tubuhnya, ia malah menarik kepala Killua untuk memperdalam ciuman mereka. Suara Tifa menjadi erangan saat Killua menjilat daun telinganya dengan sensual, sementara jemari Tifa meremas ujung kemeja yang dikenakan Killua.

Killua menyelipkan jemarinya dibalik kaus yang dikenakan Tifa dan meremas bagian dada Tifa yang mulai menegang. Sementara bibirnya mencumbu leher Tifa, jemarinya asik memainkan ujung payudara wanitanya yang semakin mengeras dikuti desahan Tifa yang kini hampir dikuasai oleh nafsu. Killua tersenyum, membenamkan wajahnya di leher Tifa dalam-dalam sebelum akhirnya ia memandang wajah Tifa dengan jahil.

"Kau bau..."

Nafsu Tifa hilang seketika. Ia beranjak duduk, menekuk wajahnya dengan kesal, dan membetulkan pakaiannya sementara Killua tertawa melihat sikapnya yang seperti bocah.

"Tak usah dekat-dekat kalau aku bau," Tifa mendengus, jengkel. Diambilnya peralatan mandi dan pakaian ganti dari tasnya, kemudian ia mengambil handuk. "Aku mau mandi."

"Kebetulan!" Killua menyambar handuk. "Aku juga!"

"Tck! Kau ini, sana antri!" Tifa mendorong tubuhnya saat Killua hampir sampai di depan toilet, namun tubuh Killua yang lebih kuat mampu menahan dorongan tenaga fisiknya. Killua tertawa melihat Tifa hanya mendengus saat keduanya (pada akhirnya) masuk ke dalam toilet bersama-sama. Killua menyalakan keran air hangat untuk mengisi bathtub sementara Tifa meletakkan alat mandinya di dekat westafel satu-satu. Saat bath tub penuh, Killua tanpa malu-malu melepaskan pakaiannya satu per satu dan Tifa terpekik.

"A-a-apa-apaan kau?" tanya dengan wajah horor, menutup matanya.

Killua tertawa nakal, hanya dengan pakaian dalamnya saja, ia menyongsong ke arah Tifa lalu menarik tangan yang menutupi wajahnya, kemudian membantu gadis tersebut melepas bajunya.

"Kenapa kau harus malu-malu sih, hm?"

"K-Killua k-kau...me-mesum..."

Killua menarik pinggangnya sembari tersenyum genit. "Kau baru tahu?"

"T-tapi Ki–"

Ucapan Tifa dipotong oleh ciuman Killua. Kali ini kecupannya lebih panas, dan penuh gairah. Tangannya membimbing jemari Tifa untuk melepas celananya sementara salah satu tangannya melepas kancing celana wanitanya. Ia melepaskan ciumannya dan mendapati gadisnya kini tampak tak berbusana, dan saat itu ia menarik pinggang Tifa kembali, tersenyum penuh nafsu melihat wanitanya tampak malu-malu, menunduk sembari menutupi dadanya. Meskipun begitu, kini ia bisa melihat jelas apa yang disembunyikan Tifa dalam balutan pakaiannya yang selalu menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala dan kedua tangannya.

Tubuhnya penuh bekas luka jahitan dan siksaan. Ada sejumlah jahitan panjang di di punggung dari pinggul hingga bahu, beberapa di tangan, lengan atas, paha dalam bahkan kakinya. Killua bisa membayangkan kehidupan Tifa sebelumnya seperti apa hanya dari bekas luka di tubuhnya, karena ia juga tahu apa yang dirasakan Tifa. Mungkin itulah sebabnya kenapa gadis ini tak suka pamer tubuh meski tubuhnya berisi dan seksi. Ia tak mungkin mengekspos kulitnya yang tak sebersih wanita lain, dan merasa malu jika orang melihatnya.

"K-Kill...a-aku..."

"Sssh..." Killua mengajaknya untuk masuk ke dalam bathtub. Ia menurut pasrah, dan perlahan ia membenamkan tubuhnya dalam air hangat tersebut bersama kekasihnya. Killua yang sudah lebih dulu masuk tersenyum.

"Ini yang biasa kulakukan setelah melakukan perjalanan jauh," ucapnya sembari mendekat ke tubuh Tifa, "kuharap kau menyukainya."

"Tapi aku malu..."

"Kau kini tampak seperti perempuan yang jauh lebih muda dariku, nee-chan," katanya dengan nada menggoda.

"Kau menyebalkan, Kil..."

"Tapi kau mencintaiku kan?"

Tifa tak menjawab, namun semburat merah menghiasi pipinya. "Kupikir, aku langsung mandi dibawah shower saja..." ucapnya menyembunyikan pipinya yang memanas. Baru saja ia hendak beranjak berdiri, tangan Killua menahannya.

"Aku mohon, tetap bersamaku," ucap Killua sembari menahan tangannya. Tifa terdiam sejenak, menoleh ke arahnya dengan wajah memerah. "Maaf kalau aku sudah membuatmu kesal..."

Tifa terdiam, kembali merendahkan tubuhnya untuk merendam diri didalam bathtub. Killua mendekap bahunya sembari sesekali membelai rambut indigo Tifa dengan perasaan sayang.

"Aku selalu ingin melakukan ini denganmu tapi...sulit mencari kesempatan yang bagus," aku Killua sembari memainkan sisa rambut yang menghiasi wajah Tifa.

"Itu karena kita sama-sama Hunter, Kil...kita sama-sama sibuk dengan urusan kita masing-masing," ucap Tifa sembari membasahi bahunya dengan percikan-percikan air oleh tangan kanannya.

"Ya, dan aku benci dengan kesibukanku, terkadang," ucap Killua sembari melingkarkan tangannya di pinggang Tifa dari belakang, lalu mengecup bahunya. "Aku selalu merindukanmu..."

"A-aku...juga..." sahut Tifa tergagap. Kenapa malah ia jadi seperti wanita yang lebih tolol dibanding usianya? Hey Tifa, kendalikan rasa gugupmu!

Acara berendam dalam air hangat itu tak berlangsung lama. Setelah keduanya mengeringkan diri, baik Tifa maupun Killua segera mengganti pakaiannya dengan baju piama. Setelah merasa tubuhnya lebih segar dengan wewangian citrus kesukaannya, Tifa merebahkan tubuhnya ke atas kasur, merasa begitu nyaman.

"Kau seharusnya mengajakku tidur di kasur juga, Tifa..." ucapnya sembari menghempaskan tubuhnya di kasur. Tifa tersenyum tipis, refleks memeluk pinggang Killua, begitu juga sebaliknya.

Tifa kaget saat Killua tak lagi di sampingnya dan tubuhnya ditimpa sesuatu yang agak berat. Bibir tipis Tifa tiba-tiba merasakan sensasi hangat yang lembut dan membius. Tangan dingin itu membelai rahang Tifa dengan jemari telunjuknya. Sesaat Tifa kaget, sebelum akhirnya ia merelakan kecupan itu menguasai dirinya. Saraf-saraf ditubuhnya kini terasa meletup. Killua mulai melepas kancing pakaiannya satu per satu sementara bibirnya tak lepas dari milik wanitanya. Tangannya membelai pinggang dan perlahan menelanjangi Tifa. Sesaat ia melepas bibirnya dan membiarkan Tifa terengah mengambil nafas dalam-dalam. Ia tersenyum dalam hati melihat wajah Tifa kini begitu memerah.

"Killua..."

Killua merayap diatas tubuhnya. Gadis berkulit kuning langsat itu hanya bisa melenguh saat bibir suaminya menyusuri tiap lekukan tubuhnya dan memberi sedikit gigitan sehingga ruam merah itu muncul. Ia melepas pakaian dari tubuhnya, lalu kembali memanjakan kekasihnya. Ia tak bisa menahan ini lebih lama. Meskipun ia masih muda–bahkan jauh daripada usia Tifa–bagaimanapun ia adalah pria. Sentuhan wanitanya pada setiap bagian tubuhnya yang begitu lembut dan hangat benar-benar menghipnotisnya untuk melakukan lebih jauh. Bibir tipisnya menghisap pucuk dada Tifa yang tampak begitu menggoda–tak akan ada pria yang mampu bertahan melihat figur Tifa saat ini–semuanya begitu jelas. Imajinasi liarnya kini jadi nyata.

"Ngghh...Tifa.."

"Kau begitu menggoda...Tifa-chan..."

Lenguhannya terdengar nyata, sementara kecupan basah itu membuatnya tak bisa mengendalikan diri–Killua benar-benar panas–ditambah lagi kini jemari dingin itu membelai bagian paha dalamnya dan mengecupnya penuh nafsu.

"T-tidak , tidak disitu Killu, nggghh..."

Killua tersenyum kecil. Kepalanya kembali naik, meski kedua tangannya kini melebarkan kedua tungkai kaki Tifa. Tifa memandang benda tumpul diantara kedua selangkangan pria diatasnya dengan setengah takut. Nafasnya tertahan saat ujung benda tumpul tersebut menyentuh lipatan daging miliknya. Killua dapat merasakan sesuatu yang menghalangi miliknya menembus bagian terlarang Tifa. Dan dengan sedikit sentakan, jeritan kecil Tifa terdengar.

"Aaargghhh...Killuaaaa ~"

"Hmm~?" Killua memberi tatapan lembut padanya.

Tifa menahan nafasnya merasakan benda itu kini masuk dan mengekspansi seluruh bagian miliknya. Ia bisa merasakan dinding-dinding itu benar-benar meregang akibat benda tumpul tersebut, dan anehnya, rasa sakit itu semakin hilang dan tergantikan dengan perasaan enak. Ranjang mulai bergoyang pelan saat pria berambut perak itu kini menguasai tubuhnya. Pemandangan tubuh Tifa begitu jelas, dan tak ada yang dapat menahannya untuk tidak mengekspansi tubuh tersebut. Ia meremas, menjilat, mencumbu wanita di bawahnya penuh nafsu sementara Tifa melenguh dibawahnya tiap kali Killua mendorong keras bagian miliknya.

"Killu, lebih cepat~"

"Mhhm...ya..."

Sentakan pinggul itu membuat Tifa semakin gila karena keenakan. Peluh mereka mulai bercucuran–padahal AC cukup dingin. Setengah jam mereka dalam posisi sama, Tifa merasakan ada sesuatu yang memaksa keluar dibalik kewanitaannya. Ia menggigit bibir, dan Killua tersenyum. Ia memberi sentakan yang semakin keras, dan bersamaan dengan itu, keduanya merasakan cairan hangat mengalir pada bagian tubuh mereka yang menyatu.

"Ah..."

"Tifa..."

"Ya?"

Killua memandangnya dengan mata nya yang lucu, "apa kau...mencintaiku?"

Tifa terdiam. Ia menyeka keringat di kening Killua, tanpa tahu bahwa pria diatasnya kini begitu deg-degan menanti jawaban yang akan keluar dari mulutnya.

"Ya, aku mencintaimu."

Killua tersenyum mendengar jawaban tersebut, dan kini benar-benar tahu bahwa kekasihnya tak memiliki keraguan lagi terhadapnya. Sayang, ingin memiliki. Sebuah keegoisan yang begitu wajar bagi seorang pecinta. Killua mencium bibir Tifa sekali lagi, lalu memandang kekasihnya. Bertepatan dengan itu keduanya mendengar sebuah suara perut yang cukup nyaring.

Wajah Tifa memerah.

"Sebaiknya, sehabis ini kita segera mencari makan malam..." ia tak mampu menahan senyumnya, membuat Tifa akhirnya memukul lengan Killua pelan karena malu.

"Kau benar."

"Ohya..." Killua terdiam sejenak sebelum beranjak, membuat Tifa terhenti, memandangnya, "apa kau keberatan jika aku memanggilmu Tifa-chan?"

"Tidak..." Tifa menggeleng sembari mengelus pipi Killua, "meski itu terdengar aneh karena usiaku sudah 34 tahun dan mendapat embel-embel '-chan' dari kekasihku yang berusia 16 tahun lebih muda..."

Killua memberi pandangan lembutnya, lalu mengecup kening Tifa.

~oOo~

.

.

TBC


I...guess I don't have much opinion for this chapter, sorry for the typo and...I hope you enjoy the lemon like I do. For Ghost yang usah menanti Lemon, saya kasih nih. Setelah ini mungkin saya nggak akan banyak nge-cek/update fanfic karena saya pulang kampung sehingga jarang buka laptop, jadi langsung email aja di profil saya kalau ada perlu, mau komentar, atau butuh sesuatu, atau kangen, atau kalau punya BBM, bisa langsung kontak saya. Terima kasih.

So, R n R, perhaps?~ :3