Miss me? Ah, I miss you too, fellas. Maaf saya baru update, dan kuharap, saya nggak diomel-omel karena hal ini, huehuehue. Oke, lanjut saja kalau begitu.


Based on Hunter x Hunter (2011)

Pairing : Illumi x Tifa (OC) x Killua, Slight Tifa x Hisoka

Disclaimer: Sebgian besar plot dalam cerita ini dan Tifa yang merupakan milik saya, selebihnya punya Yoshihiro Togashi.


.

.

.

Normal POV

.

Keesokan harinya, baik Tifa dan Killua kini sibuk dalam urusan utama mereka, misi. Tifa menyodorkan sebuah setelan jas dan sepatu vantovelnya khusus untuk Killua agar pria tersebut tak perlu kerepotan memikirkan kostum untuk pesta nanti.

"Sebaiknya kau coba dulu, memastikan bahwa jas itu cukup untukmu. Juga sepatunya. Ini semua untukmu," katanya pendek.

"Ah, terima kasih Tifa-chan! Aku coba dulu ya!" Killua membawa kemeja tersebut ke toilet untuk mencobanya. Tak sampai 10 menit, ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Tifa melebarkan matanya, melihat pria di hadapannya benar-benar terlihat dewasa dengan pakaian jas seperti itu.

"Kil, kau tampak benar-benar seperti pria usia 20-an."

"Jas memang mampu membuat anak muda bertranformasi jadi pria dewasa," katanya sambil tersenyum tipis, bercermin pada kaca di dekat lemari. "Bagaimana menurutmu, Tifa-chan?"

Tifa hanya mengangkat jempolnya sebagai pujian, dan Killua mengangguk senang. Ia kembali mengenakan pakaian biasanya, lalu duduk berhadapan dengan Tifa.

"Te, Tifa-chan, apa yang harus kulakukan sekarang?" katanya dengan pandangan ingin tahu.

Tifa tersenyum, "berhubung pesta ini pesta bangsawan, kuyakin pasti ada acara formal dan pesta dansa semacamnya. Apa kau bisa berdansa?"

"Tifa! Apa kau pikir Zoldyck memasukkan ilmu tersebut kedalam daftar latihanku?" tanya Killua retoris, dan Tifa ngakak.

"Hahaha. Aku tahu, tapi keluarga kami mempelajarinya," Tifa tersenyum, menarik tangan Killua untuk berdiri. "Ayo kuajarkan."

Killua menggaruk kepalanya dengan kikuk, menurut. Ia pasrah saat Tifa membiarkan tangannya digenggam untuk memegang pinggan wanita dihadapannya, sementara satu tangannya saling bertautan dengan jemari Tifa. Wanita itu mengajarkannya langkah demi langkah. Killua benar-benar payah dalam gerakan seperti ini, namun Tifa bukanlah orang yang mudah putus asa. Ia beberapa kali terinjak Killua, namun ia tetap mengajarkan pria muda itu dengan sabar, karena baginya, ini penting demi misinya. Yah, walalupun ia harus mengakui, ia benci misi ini, tapi mau bagaimana lagi...

Hampir 3 jam mereka berlatih, dan keduanya sudah cukup lelah. Keduanya memutuskan untuk melanjutkan latihannya besok, dengan pakaian lengkap – gaun dan jas.

.

.

.

Keesokan harinya...

"Selamat pagi, saya mengantarkan laundry anda Nona..." ucap seorang Room Service dengan tiga pakaian super ribet di kedua tangannya.

"Baik, terima kasih," Tifa menerima ketiga gaun tersebut, lalu meletakannya di ranjang. Setelah memastikan gaunnya telah cukup bersih dan layak dikenakan, ia mengenakan korset super sesak itu agar tubuhnya berbentuk dalam gaun mahal tersebut. Saat itu ia meminta Killua segera mengganti pakaiannya dengan jas yang ia belikan, dan pria itu menurut. Tak sampai lima menit, Killua membuka pintu toilet, ia terperanjat melihat sosok Tifa dalam balutan korset dan celana jeans nya. Pipinya memanas, sementara sisi hatinya yang lain memaksa dirinya untuk melihat tubuh itu.

"Tifa! Apa maksudmu dengan pakaian itu!" sergah Killua dengan suara agak gugup. Meski ia sudah tahu detail tentang 'luar dalam' Tifa, itu tetap memalukan untuknya, mengingat pengalamannya kemarin dengan Tifa adalah malam pertamanya dimana saat itu ia dikuasai oleh nafsu dan setengah sadar - tidak sadar, melihat Tifa dalam kondisi seperti saat ini jelas-jelas terasa lain dan itu membuatnya canggung.

"Sudahlah. Kau kekasihku kan? Nah sekarang, pilihkan gaun mana yang menurutmu pantas untukku," Tifa menarik tangan Killua dan menunjukkan tiga gaun, "aku akan fitting dulu, baru latihan berdansa denganmu."

"Baiklah..." Killua mendesah. Tangannya terlipat, memandang ketiga gaun yang ia yakini pasti mahal – ia bukan orang bodoh untuk menaksir sebuah pakaian dari sekedar menyentuh bahan pakaian itu. Itu kualitas kain terbaik.

"Dari mana kau mendapatkan gaun ala jaman dulu ini?"

"Haha, aku membawanya dari Rexas," Tifa tersenyum kecil. "Kuambil dari penyimpanan di lemari ibuku. Ibuku dulu seorang turunan bangsawan juga soalnya."

"Kau bermain-main dengan barang orang yang sudah mati," ucap Killua dingin.

"Aku tak percaya hal klenik, Kil," Tifa tertawa. "Aku sudah membunuh ribuan nyawa, tapi kupikir, aku pasti sudah mati jika mereka dendam padaku. Tapi nyatanya, aku masih bernafas!"

"Terserahlah," Killua terdiam, memandang tiga gaun tersebut, "coba pakai yang ini, yang biru muda."

"Whoa, kau suka bentuk yang sedikit terbuka di bahu," Tifa tersenyum lebar, menggodanya.

"Aku hanya suka warnanya," Killua memutar bola matanya lagi.

"Baiklah," Tifa tersenyum, memakai gaun tersebut tanpa kesulitan. Killua mengamati wanita di hadapannya. Ia heran, melihat wanita ini tampak sangat terbiasa mengenakan pakaian begitu. Sejujurnya ia heran, apa wanita ini juga biasa mengenakan gaun super berat seperti itu? Di jaman sekarang?

"Ne, Tifa-chan, kau tampaknya terbiasa sekali dan seolah tak canggung dengan gaun berpinggang kecil seperti itu. Apa kau dulu terbiasa memakainya?"

"Cerita lama, Kil! Dulu ibuku memaksa kami untuk memakai baju begini saat tidak sedang latihan atau misi. Kami persis seperti puteri kerajaan yang dipingit. Hanya saja, (ia membetulkan posisi pakaiannya pada bagian lengan agar terlihat mengembang) aku tak mungkin berhak mengenakan gaun semewah ini. Aku hanya harus mengenakan korset dengan gaun seperti pembantu abad 19-an (ia membentulkan bagian dada pakaiannya agar sedikit menonjolkan bagian dadanya – seperti itulah pakaian tersebut harus digunakan) ...ia sedikit membedakan sikapnya pada kakak dan anak angkat sepertiku – tentu saja, tapi itu bukan masalah besar..." Tifa melangkah pada cermin, lalu memandang bayangannya, memandang Killua lewat bayangan tersebut. "Bagaimana penampilanku Kil?"

Killua mengitari penampilan wanita tersebut, lalu menggeleng.

"Tampaknya kurang menonjol. Kulit putihmu tampaknya tidak terekspos (wajahnya tiba-tiba sedikit memerah karena kaget dengan ucapannya sendiri) ma-maksudku, kau seharusnya mengenakan pakaian yang menonjolkan warna kulit, jadi kau terlihat sedikit stunning..."

"Hmm..." Tifa tahu perubahan wajah Killua, namun ia tahu kondisinya sedang serius jadi ia memutuskan untuk tak menggodanya, lalu menunjuk gaun berwarna merah, "bagaimana kalau merah hati?"

"Boleh dicoba..."

"Baiklah," Tifa tersenyum, lalu meminta Killua membantunya melepas pakaian tersebut. Ia melempar gaun berat itu dengan gaun yang berwarna merah. Setelah ia memakaianya, ia memasang senyum lebar, memandang wajah Killua dengan isyarat: bagaimana-penampilanku?

"Tidak buruk," komentar Killua. "Ayo kita latihan berdansa lagi."

"Baik, baik, ayo..."

Hari ini gerakan Killua terasa lebih luwes. Tifa tersenyum saat Killua berhasil menari dengan luas bersamanya, dan keduanya tertawa saat keduanya berhasil menari tanpa saling terinjak karena kecanggungan mereka. Rasa sesak Tifa dan badannya yang kaget membawa pakaian berat itu di tubuhnya terasa hilang karena keduanya merasa berhasil berdansa bersama. Keduanya tak tahu, bahwa dari gedung lain, seorang pria memandang keduanya dengan pandangan dingin.

"Aku tahu ada seseorang yang mengawasi tapi aku tak tahu kenapa ia mengikuti kita..." ucap Killua masih dengan tangan yang melingkari pinggang Tifa.

"Selama ia tak berniat buruk, kita biarkan dia..."

"Aku merasa saat kita bersama, aku seringkali diawasi oleh orang ini..." ucap Killua dengan pandangan serius pada kekasihnya. "Sejak kita berada di Rexas, serta saat kita bersama, seringkali ia mengawasi. Aku jadi penasaran siapa dia sebenarnya. Bagaimana kalau aku kejar dia, hm?"

"Bicara soal Rexas..." Tifa teringat sesuatu, memandang kekasihnya dengan tatapan dalam-dalam, "keluargamu mendatangi mansion Fuscienne."

"Appa?" Killua terbelalak dengan nada suara yang meninggi. Tifa mengelus punggungnya dengan maksud sedikit menenangkan pria berambut perak itu yang rautnya tiba-tiba berubah lebih dingin. "Apa mau mereka, Tifa? Kenapa mereka mengikutimu?"

"Aku tak tahu pasti, tapi yang kutangkap dari mereka, sepertinya mereka akan mencarikan calon istri untuk Illumi, dan bahkan sempat memintaku untuk jadi calon istrinya..."

"A-aniki..." bibir Killua bergetar hebat. "Kau? Calon istrinya?"

Tiba-tiba jemari Killua yang kini melingkar di pinggang Tifa mengencang. Ia mengencangkan pelukannya, membuat dada Tifa menyentuh dadanya dan sontak saja wajah Tifa memerah malu.

"Kau milikku Tifa. Kau milikku," ucapnya dengan suara bergetar, dimana sikap posesifnya kini begitu mendominasi sikapnya.

"Aku tahu, aku pun tak mau dengan kakakmu..." Tifa yang tahu wajah Killua yang ketakutan bahwa ia akan berpaling pada Illumi menenangkan Killua. "Kau bisa percaya padaku. Aku milikmu."

~oOo~

12 Agustus, jam 07.35 PM

Seorang gadis berdiri di lobby hotel Silver Orchid. Ia benar-benar jadi sorotan orang-orang hotel saat ia menunggu dengan pandangan penuh kagum juga heran darimana sosok berpakaian ala putri kerajaan itu berasal. Wajahnya hampir tanpa make up, dengan sebagian rambut membentuk bun dalam bentuk kelabang dengan sisanya menjuntai melingkari wajahnya, tersenyum saat Killua membukakan pintu untuknya. Wanita dalam balutan gaun merah itu benar-benar terlihat seperti boneka. Killua tertawa saat melihat kekasihnya tiba-tiba murung saat melihatnya datang.

"Kau kenapa Tifa-chan?"

"Aku tak suka jadi sorotan publik. Kau lama sekali sih?"

"Hahaha, aku tak selama itu kok. Kau saja menunggu, jadi waktu terasa lebih lama dari seharusnya," ucap Killua berteori, sementara tangannya menyalakan mobil. Untung bagian rok gaun tersebut berbahan tipis dan jatuh sehingga ia dapat masuk ke dalam mobil tersebut tanpa kesulitan.

"Kau tampak cantik," Killua mengelus setir mobilnya dengan senyuman tipis.

"Kau juga tampan..." Tifa terkekeh, meski ia harus segera diam dengan membekap mulutnya dengan kipas berbahan sutra.

"Aku sudah tampan dari dulu," puji Killua pada dirinya sendiri. "Ngomong-ngomong, dengan pakaian seperti itu, sebenarnya kau lebih pantas mengenakan kereta kuda dibanding mobil, Tuan Putri..."

"Benar sekali, pangeran..." Tifa mengangkat alisnya sembari tertawa.

Keduanya tertawa kecil. Dengan GPS dan alamat dari catatan Tifa, mereka dapat menemukan kediaman Couraz tersebut yang tampilannya tak begitu jauh dari mansion Tifa di Rexas. Saat itu keduanya melihat beberapa mobil mewah telah berjejer rapi, dan Killua keluar dari mobilnya. Ia membukakan pintu untuk Tifa, dan gadis itu – yang dalam hati bersungut-sungut benci kalau ia harus bertingkah seperti Lady karena terpengaruh oleh kostum – menerima uluran tangan Killua yang benar-benar tampak elegan dan bertingkah seperti seorang pria bangsawan.

"Kau tampak canggung Kil," gumam Tifa.

"Seumur hidupku, aku baru pertama kali menggandeng wanita selain ibuku, dan menghadiri pesta semewah ini..." gumam Killua. "Aku tak tahu harus senang atau marah dengan semua kecanggungan ini..."

"Jaga mulutmu Killua, atau aku akan membunuhmu jika kau menghancurkan misiku hanya karena kegugupanmu..." gumam Tifa dengan senyum yang masih terjaga di bibirnya saat beberapa pengunjung membungkuk melihat wanita bak seorang Lady itu masuk.

"Itu menakutkan, Lady Tifa..." Killua yang sama-sama berusaha terlihat manis menggumam dengan suara berbisik. "Tapi, aku yakin, meski kau bisa membunuhku, aku tak akan pernah kalah darimu soal 'pergulatan' di ranjang."

Tiba-tiba Killua merasa pinggangnya dicubit keras diikuti semburat merah muncul dari pipi Tifa, "itu urusan lain, Killua!" desisnya malu. Killua tertawa.

Saat keduanya masuk, sorot mata tiba-tiba tertuju padanya. Ternyata, masih banyak bangsawan yang kaku mempertahankan gaya kunonya dengan etiket membungkuk dengan mengembangkan rok gaunnya atau melepas topinya sembari membungkuk agak rendah. Tifa hanya membalasnya dengan senyuman kecil, sementara pria di sebelahnya melirik pada Tifa, agak bingung. Tentu saja, pria muda itu tak biasa berada di perkumpulan para 'darah biru' yang tampak ekslusif.

Ruangan pesta tersebut sangat luas, mampu menampung seribu orang, dengan pemain musik yang live (Tifa benci mengakui ia suka keklasikan ini), sementara matanya diam-diam mencari target yang harus ia lindungi. Ah itu dia, membawa segelas champagne dengan tuxedo berwarna hitam. Tifa mengakui bahwa pria itu lebih tampan saat ia melihat secara langsung ketimbang di foto, dan perlahan ia menyeret Killua agar keduanya berada sedikit dekat pada kerumunan John Evans.

"Itu pria yang harus kujaga," ucap Tifa saat Killua mengambilkan segelas Champagne dan Wine dari pelayan yang melintas. "Ingat, kau masih dibawah umur..."

"Aku hanya berpura-pura minum, Tif–eh, Immelda. Kau tak perlu khawatir (ia kelepasan, karena seharusnya ia memanggil wanita tersebut Immelda dalam pesta ini)," Killua mengedipkan sebelah matanya, dan Tifa paham.

"Apa kalian orang-orang yang diundang ayahku?" sebuah suara mengagetkan mereka.

Tifa memandang ke sumber suara. Seorang gadis berpakaian tak jauh seperti miliknya hanya saja berwarna biru muda dengan sebuah bonnet di kepalanya, tampak luar biasa cantik. Angela Couraz.

"Ya, aku disini diundang oleh Tuan Couraz. Senang bisa bertemu dengan anda, Nona Couraz, anda selalu tampak luar biasa seperti biasanya..."

Killua mengerling ke arah Tifa dengan hati menjerit, tak percaya bahwa kekasih galak di sebelahnya bisa berbasa-basi layaknya bangsawan. Kenal saja tidak, dia bilang 'biasanya'?

Wanita ini benar-benar ahli dalam menipu! Apa benar ia seorang Tokushitsu? Karena ia lebih pantas jadi Henka!

"Panggil saja aku Angela. Dan anda?"

"Immelda Terrance," Tifa dengan lancarnya berbohong. Killua kaget. Darimana nama keluarga Terrance itu? Karangannya saja atau apa?

"Ah, suatu kehormatan bisa mengenal anda Nona Terrance, keluarga anda benar-benar dihargai di England."

Eh, jadi keluarga Terrance benar-benar ada? Killua teriak dalam hatinya.

"Oh ya, perkenalkan, ini Austin Terrance, suamiku."

Tifa-chan, kau serius?!

"Ah, tuan Terrance, dan Nyonya Terrance, selamat menikmati pesta ulang tahunku ini, aku harus pergi dulu..."

Seperginya Angela dengan dua bodyguardnya, Killua memandang Tifa kaget, "apa-apaan kau?"

"Diam dan menurutlah," Tifa meminum wine miliknya.

"Ngomong-ngomong siapa Terrance? Sepertinya dihargai?" tanya Killua penasaran.

"Keluarga Terrance, pengusaha dan seorang bangsawan yang menjalani usaha sutra dan wol terbaik di England. Ibuku, adalah anak dari keluarga Terrance, sebelum ia dibuang karena kelainannya dan menikah dengan Fuscienne," jawab Tifa lancar. "Semenjak itu, nama ibuku dicoret dari anggota bangsawan, dan Immelda adalah nama dari anak kakak ibu angkatku."

"Dan kau dengan mudahnya berbohong?"

"Kheh, tenang. Angela adalah wanita pelupa, itu yang kubaca dari datanya. Ia pasti melupakan perkenalan ini, wajahku, atau wajahmu beberapa hari kemudian."

Killua terdiam. Wanita ini benar-benar menekuni pekerjannya sebagai Blacklist Hunter, batinnya kagum.

Saat itu, mata Tifa tertuju pada pria yag menjadi fokus utamanya, dan melihat sekitar, memastikan bahwa tak ada yang mencurigakan . Saat itu, perhatiannya terpecah ketika suara alunan musik dansa mengalun. Ia tersenyum pada Killua, dan Killua mengangguk. Beberapa pasangan mulai berdansa, meski padangan Tifa tak beralih dari sosok John Evans. Saat itu ia juga tampak sedang berdansa dengan kekasihnya. Tifa memandang sekitar, sebelum ia memandang sesosok pria yang tak asing dalam kerumunan dengan segelas wine di tangannya.

"I-Illumi..." gumam Tifa sembari memandang Killua.

"A-apa maksudmu? Kau melihat Illumi?" Killua tiba-tiba panik. Lelaki di hadapannya masih tak berubah jika sudah menyangkut soal kakak pertamanya.

"Tenang, tenang. Kita harus tetap tenang, Kill. Ia sedang meminum winenya," Tifa mengerling; pandangannya beralih antara Killua dan Illumi.

Hatinya bertanya-tanya. Apakah Illumi yang dibayar untuk membunuh John Evans? Ia mengangguk kecil. Bisa jadi, karena kalau ia perhatikan sepertinya Illumi berusaha mencari timing, mengerling pada John Evans dengan mata kucingnya. Tifa menghentikan dansanya, dan berjalan ke arah kerumunan, menarik lengan Killua.

"Pastikan kau tak kehilangan John, aku akan terus memperhatikan pergerakan Illumi. Awasi sekitar John juga. Aku curiga kalau ia yang akan membunuh John..."

"Masuk akal..." ucap Killua, meski beberapa keringat dingin mulai menetes di keningnya. Tifa menghela nafas, lalu mengambil sebuah sapu tangan dari saku Killua, kemudian menyeka keringatnya.

"Jangan khawatir, aku tahu kau takut padanya, tapi aku juga ada denganmu. Dan selama beberapa tahun ini, kau pasti jauh lebih kuat, aku yakin Killua. Kau harus menghilangkan rasa takutmu padanya..." bisik Tifa penuh perhatian.

"T-tapi, a-aniki...a-aku takut ia ak –"

"Tidak, ia tak akan membawamu. Aku yakin ia kesini hanya ingin melakukan misinya, kau jangan khawatir..."

Ia memandang Tifa. Wajah putihnya yang tadi terlihat pucat tampak lebih baik, dan Tifa mengelus punggungnya. Aku tahu ia takut, tapi ia tak boleh selamanya takut, batin wanita tersebut dengan tatapan sayang.

"Aku akan mengawasi Illumi, jadi tenang saja..." Tifa mengedipkan matanya, memberi isyarat bahwa : hubungi-aku-dengan-earphone-ini lalu melangkah menjauh. Killua mengangguk, dan matanya kembali mengawasi John Evans.

'Venus, target bergerak menuju toilet...' bisik Killua terdengar.

Tifa mulai bergerak saat Illumi berjalan menjauh. Sosok tersebut berjalan menuju toilet dan ia mengikutinya. Tifa sadar kalau Illumi tahu keberadaannya, tapi ia tak peduli, ia hanya harus memastikan kalau pria ini tak membunuh orang yang seharusnya ia jaga.

"Halo, nona. Aku hampir tak mengenalmu," gumam Illumi meski ia tak melihat sosok Tifa yang masih dibalik pintu toilet pria. Tifa membuka pintu tersebut, lalu memandangnya dingin.

"Kulihat kau akrab dengan adikku. Apa kau menganggapnya kekasihmu?"

"Bukan urusanmu," jawab Tifa pendek.

"Haaah, aku khawatir. Juga heran, kenapa kau begitu perhatian pada adikku tersayang," ia memandang sosok wanita itu dengan kosong. "Usianya terpaut jauh denganmu, iya kan?"

"Lalu?"

Saat itu sebuah pintu terbuka terdengar. Bertepatan dengan itu Illumi melemparkan lima jarumnya ke sosok John Evans yang tak tahu apa-apa, sementara dengan kibasan kipasnya, ia mengalihkan arah jarum-jarum itu dan kelimanya menempek ke tembok.

Illumi menghela nafas, "jangan ikut campur urusanku, Nona."

"Aku hanya melakukan tugasku sebagai bodyguardnya," sahut Tifa lebih dingin.

"A-ada apa ini? JELASKAN PADAKU!" John Evans tiba-tiba terlihat panik, bersembunyi dibalik punggung Tifa.

Illumi mendesah, "yare yare...ini akan panjang urusannya."

"NONA JELASKAN PADAKU AD AP–"

"DIAM!" sergah Tifa kasar padanya. "Pria dihadapan kita ini adalah seorang pembunuh bayaran, dan ia berencana membunuhmu. Aku disini untuk melindungimu!"

John ternganga, shock, "k-kenapa i-i-ia mau membunuhku?"

"Aku akan diam jika aku jadi kau," jawab Tifa ketus.

"Aku tak akan melawan orang yang lebih kuat dariku," Illumi melipat tangannya ke dada, lalu berjalan mendekat sementara Tifa memutar tubuhnya dan John masih bersembunyi dibalik punggungnya. "Aku akan menyerah untuk misi ini selama kau jadi bodyguardnya."

"Aku senang kalau kau paham," Tifa memandang Illumi dingin. Illumi mengangkat bahu, lalu membuka pintu toilet, keluar. Ia serius menyerah, tapi bukan berarti salah satu keluarganya tak akan mengambil alih misi itu. Ia hanya perlu menunggu.

Menunggu adalah hal terpenting demi terjaminnya kesuksesan misi.

Saat Illumi berlalu, John menghembuskan nafasnya lega, lalu memandang wanita berwajah boneka itu dengan pandangan dari lega – lalu marah.

"Kau siapa tadi? Kau bilang kau bodyguardku? Aku tak pernah merasa telah merekrutmu."

"Ayah anda meminta ketua asosiasi Hunter langsung untuk mengirimkan Hunter untuk menjaga anda, Tuan John Evans," jawab Tifa sopan.

"Oh ayah..." ia melotot pada Tifa, "LALU KALAU KAU BEKERJA UNTUK MENJAGAKU ATAS PERMINTAAN AYAH KENAPA KAU BERANI MEMBENTAKKU TADI, HAH?"

"I-itu..."

"BODYGUARD MACAM APA KAU? JANGAN MENTANG-MENTANG KAU HUNTER LANTAS KAU BISA SEENAKNYA BERTINGKAH HEBAT DIDEPANKU! DIMATAKU KAU HANYALAH MANUSIA DENGAN KEKUATAN SUPER YANG MENGAIS UANG DARI KANTONG KAMI KARENA KAMI BUTUH PERLINDUNGANMU, TAK LEBIH! JADI TAK USAH BERTINGKAH SOK DAN MEMBENTAKKU SEPERTI TADI! MINTA MAAF!"

Tifa ternganga. Pria ini kurang ajar! Ia baru saja menyelamatkan pria tersebut dari Illumi, dan karena ia bekerja sebagai bodyguardnya, John tak terima ia sentak? Pria apa ini? Apa yang terjadi dengan pria jaman sekarang?

"MINTA MAAF."

"B-baik...maafkan saya," tak ada yang bisa ia lakukan. Ia masih menghanrgai Asosiasinya, dan ia juga memang sudah seharusnya bersikap baik...meski sebenarnya tadi ia menyentak jelas-jelas demi kebaikan pria dihadapannya juga...

~oOo~

From : Beloved Killu

Tifa-ku sayang, kuharap kau sukses dengan misimu dan hati-hati. Terima kasih atas beberapa hari yang luar biasa ini. Kuharap kita bisa segera bertemu lagi. Aku mencintaimu.

.

.

Tifa tersenyum memandang pesan dari Killua yang hari ini baru saja ia antarkan kembali ke bandara untuk melakukan misinya yang lain. Ia menekan beberapa tombol untuk menghubungi George Evans. Tak butuh waktu lama untuk menunggu samapi sebuah suara bariton menjawab telponnya setelah beberapa saat nada sambung terdengar.

"Tuan Evans, maafkan saya karena saya langsung menyelinap masuk ke pesta kekasih anak Tuan tanpa izin tuan dulu, karena kupikir rasanya sulit menemui tuan..." Tifa memohon maaf pada ayah John Evans, George Evans melalui telpon. Pria tersebut menolak untuk bertemu secara tatap muka dengan pekerja barunya, disamping toh Tifa juga bekerja untuk menjaga John, bukan dirinya, begitu alasannya.

"Tak masalah, kau boleh langsung menuju kediaman John, karena ia tinggal sendiri. Aku sudah memberitahunya perihal ini dan ia menurut. Aku percaya padamu," ucapnya, mengakhiri telpon.

"Baik tuan."

Telepon terputus. Tifa menghela nafas. Ia baru saja sampai di kediaman John Evans jam 4 sore, setelah tadi mengantar Killua kembali ke bandara untuk melakukan misinya bersama Gon di Shanha City. Tifa menggesekkan kartu lisensinya, dan pintu terbuka. Saat itu beberapa pelayan menyambutnya dan membantunya membawakan tas.

"Kamar anda ada di sini, nona..." seorang pelayan kebingungan memandang Tifa, karena ia tak tahu namanya.

"Tifa, panggil saja aku Tifa," ia tersenyum pada pelayan tersebut. Pelayan itu mengangguk, membimbingnya ke kamar baru di rumah John tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih, Tifa mempersilahkan pelayan tersebut keluar, ia baru sadar, bahwa kamarnya mungil, dengan sebuah ranjang kecil, lemari pendek dan meja kecil. Kamarnya mungkin hanya berukura meter. Ia terdiam. Kalau tidak karena menghargai asosiasi, ia tak mau bekerja beginian.

"Kau bodyguard baru itu?"sebuah suara mengagetkan Tifa. Ia menoleh ke arah pintu, dan dilihatnya dua orang pria bertubuh kekar memandangnya dengan pandangan tak suka.

"Ah ya," Tifa mengangguk, bangkit dari kasurnya, lalu mengangguk kecil, "namaku Tifa."

"Aku tak menyangka ada wanita yang bisa juga jadi bodyguard. Kudengar kau seorang hunter, benar?" tanyanya.

Tifa mendesah, merasa disepelekan. Ia mengambil lisensi dari dompetnya, dan berjalan mendekat agar kedua pria bertubuh besar itu melihatnya, "aku Blacklist Hunter, bintang 1."

Keduanya terpaku. "Pro Hunter, bintang satu...iya...lisensinya agak lain dari milik hunter kebanyakan."

"Baik, kalian sudah tahu siapa aku. Jadi karena kita memiliki profesi sama, kumohon kerja samanya," Tifa memasukkan lisensi tersebut ke dalam dompetnya, lalu menyakui dompet itu di celana jeansnya. "Ngomong-ngomong, siapa nama kalian?"

"Aku Ernest," seorang pria dengan rambut perak menunjuk dirinya, lalu memperkenalkan teman di sebelahnya yang berambut hitamm, "ini Abe."

"Baiklah. Err...bukankah kalian ada tiga?"

Kedua pria tersebut tiba-tiba saling berpandangan, tampak sedih, "Matt meninggal ditembak bos."

"Ditembak bos?" Tifa ternganga, "maksudmu, ditembak John?"

Keduanya mengangguk lemah. Tifa mengerutkan alisnya, emosi. Kenapa bisa seorang pria dengan usia masih muda seperti itu membunuh dengan seenaknya? Apa yang terjadi? Dilihat dari ekspresi mereka, Tifa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan keduanya.

"Bisa kalian jelaskan kenapa John membunuh Matt?"

Keduanya saling berpandangan, namun sebuah suara memecahkan perhatian ketiganya. John memanggil mereka.

"Sebaiknya kita bergegas," ucap Abe sembari memberi isyarat Tifa untuk segeramenghampiri John. Tifa berlari, menuju ruang TV, tempat kini dimana John berada. Pria itu kini sedang bermalas-malasan di sofanya dengan baju tidur saja, sementara Fred, managernya telah bersiap untuk berangkat.

"Ya boss?" tanya Ernest.

"Kau dan yang lainnya bersiap-siap. Aku akan berangkat konser," ucapnya malas. "Bawakan tas dan perlengkapan ku yang lainnya."

"Baik..."

Tifa mengikuti pergerakan dua bodyguard yang lebih dulu bergerak menuju kamar John untuk membawa tiga buah koper. Saat Tifa hendak membawa koper, Abe menggeleng.

"Kau perempuan. Biar kami yang mengangkatnya,"

"Ck," Tifa mengangkat koper tersebut dengan satu jari telunjuknya, "aku bisa lebih baik dari kalian."

Seperti yang kuduga dari seorag Pro Hunter, batin Abe sembari tersenyum. Tifa bergerak menuju garasi dan memasukkan beberapa bawaan kedalam bagasi, sementara John yang kini telah siap dengan kemeja dan celana jeans masuk ke dalam mobil mewahnya dengan malas. Tifa menggeleng, lalu memasuki mobil di belakang mobil yang ditumpangi John, sementara Matt menyupir dengan dua orang supir di dalamnya yang akan membawakan mobil John dan mobil mreka saat mereka smua berangkat dengan pesawat.

"Jadi...bagaimana hidup seorang Blacklist Hunter bintang satu sepertimu, Tifa?"

"Sibuk menangkap penjahat?" Tifa menjawab dengan perpaduan antara nada tak yakin dan bertanya. "Kukira kalian pasti sudah tahu hal itu kan?"

"Bukan. Tentu saja petualanganmu, hidupmu. Seorang Hunter memiliki uang yang banyak dan selalu mendapat kelas nomor 1 dimanapun ia menginap atau dengan transportasi apapun ia pergi. Kau pasti hidup senang saat tak memiliki misi?"

"Hahaha, Abe-san. Kau salah duga. Kami bahkan seringkali tak sempat bersenang-senang karena dikejar misi kami sendiri. Kami punya tugas sebagai tanggung jawab kami dalam memikul title kami sebagai Blacklist Hunter..."

"Tapi, kau pasti cukup senang karena tidak hidup monoton di satu tempat, ya kan?"

"Tentu saja tidak, tapi hidupku seringkali berpacu dengan adrenalin, antara hidup dan mati..." timpal Tifa sembari menggeleng geli. "Pria itu selalu menyangka bahwa orang yang banyak uang pasti senang ya? Seperti kami ini? Hahaha."

"Itulah yang kami lihat dari hidup boss," Abe menyahut dengan nada getir. "Selain berlatih, menyanyi, atau konser, ia menghabiskan hidupnya dengan minum, berpesta, tidur dengan wanita, dan sebagainya...ia begitu mengagungkan uang dan kehidupan mewah. Saking kelewatannya, ia bahkan beranggapan kalau uang bisa menyelesaikan semuanya, bisa membeli semuanya..."

"Boss hanya belum cukup dewasa dan tak pernah kehilangan sesuatu yang ia anggap lebih berarti dari uangnya..." komentar Tifa. "Ia masih berpikiran seperti anak remaja."

"Kuharap kau benar..." nada Ernest kini begitu sendu, "hanya saja ia terlalu kelewatan untuk seorang pria yang mengagungkan hidup mewahnya..."

Tifa mengerutkan kening. Ia merasa ada yang janggal dengan ini.

~oOo~

Panggung super-ekstrim-maha besar itu tampak megah. John yang kini melakukan sedikit latihan sebelum konser tampak serius di atas panggung, sementara Tifa berada di salah satu kursi penonton sembari mengipasi dirinya sendiri dengan sebuah kipas lipat berwarna biru tua. Ernest dan Abe sedang menikmati makan siang, dan Fred sibuk mengatur jadwal dalam laptopnya. Tifa memandang sekitar, memastikan bahwa semua baik-baik saja. Yang terpikirkannya saat ini hanya satu: ia belum tidur sejak semalam, dan di kapal udara tadi bahkan ia tak bisa tidur.

"Kau tak makan siang?" tanya Fred saat melihat Tifa memejamkan matanya, meski keempat inderanya benar-benar siaga jika ada sesuatu yang menyerang John.

"Aku masih kenyang," jawab Tifa jujur. "Makanan di pesawat cukup membuatku kenyang."

"Aku tak memakan makanan pesawat," Fred menggeleng, membuka boks makanannya. "Tidak berselera sama sekali."

"Sejak kecil aku biasa mengais makanan, jadi makanan di pesawat bagiku cukup mewah, Fred-san."

"Mengais makanan?"

"Aku berasal dari kota Meteor," kata Tifa memberi frasa yang memperjelas semuanya. Ia tahu, dengan menyebutkan darimana ia berasal, itu cukup membuat orang bisa membayangkan seperti apa kehidupannya saat kecil.

"Maafkan aku, aku tak tahu..." Fred merasa tak enakan, namun gadis disebelahnya menggeleng, seolah menganggap itu bukanlah masalah besar, dan memang baginya, itu memang bukanlah masalah besar.

"Aku cukup kaget saat tahu dari Tuan George Evans bahwa bodyguard tambahan John adalah wanita, apalagi kau terlalu cantik untuk menjadi seorang hunter."

"Fred, aku kurang suka pujian, sebenarnya..." ucap Tifa tanpa basa-basi, karena baginya pujian bernada demikian seperti sebuah pujian bahwa orang cantik tak bisa melakukan hal-hal kasar atau keras. Walaupun sebenarnya, Emma dan Priscilla, saudara dan ibunya, bahkan terlalu cantik untuk disebut pembunuh.

"Sepertinya kau tipikal wanita yang tak mudah dirayu ya?!" Fred terkekeh, menikmati makanannya.

Memang, batin Tifa sembari tersenyum mengerikan, menyilangkan kakinya.

John baru saja menuruni panggung, duduk tak jauh dari Fred.

"Minum," ia menepuk bahu Tifa, "ambilkan aku minum."

Tifa menghela nafas, lalu meloncat dari kursi nya menuju backstage dalam hitungan detik, dan tak sampai 15 detik, ia kembali menyodorkan sebotol air berukuran 1,5 L pada pria bewajah tampan tersebut. Pria itu terkesiap melihat kecepatan gadis tersebut, sebelum akhirnya ia mengulurkan tangan dan menerimanya.

"Hm," ia menerimanya tanpa mengucapkan terima kasih. Perempatan siku siku muncul di pelipis Tifa dengan wajahnya yang agak memerah menahan emosi. Baik Tifa, tahan emosimu, jangan leburkan barang apapun disekitarmu jadi debu, ucapnya mensugestikan diri. Ia duduk di sebelah Fred yang memisahkannya dengan John, sementara tangannya berusaha menahan aura agar tidak meleburkan apapun yang ada di dekat tangannya jadi debu.

"Jooohhn! Kau sudah datang!"

Suara Angela terdengar. Ia menyongsong John yang sontak berdiri dari kursinya, lalu memeluk kekasihnya. Keduanya tampak saling beremesra-mesraan, namun Tifa hanya melengoskan kepalanya tak peduli.

"Hei, kenapa kau memalingkan kepalamu tiba-tiba? Kau tak suka melihat kami, heh?" John tiba-tiba menyentak Tifa, dan itu jelas membuatnya kaget. Pria ini kenapa sih?

"Aku hanya tak mau memerhatikan orang yang bermesraan, itu saja..."

"Dari pandanganmu, aku bisa lihat kalau kau tak suka melihat kami. Kenapa? Kau cemburu padaku?" tanyanya, mendekat pada Tifa dengan gaya yang mengajak ribut. Lucu kan? Betapa kekanakannya pria tampan ini. Dari gesturnya, Tifa jelas tahu pria ini telah menyiapkan sebuah tinju yang cukup keras kalau ia meladeninya. Hatinya yang sedari tadi sudah panas tak mau lagi bertambah panas, sebab semuanya akan berantakan dan itu akan berakhir dengan ia membunuh John di tangannya sendiri. Tidak, tidak bisa seperti itu.

"Aku hanya tak mau kalian malu saat aku melihat kalian bermesraan," Tifa bangkit berdiri, "kalau kau mengajak ribut dengan bodyguardmu sendiri, harusnya kau berpikir, karena aku yakin nyawamu hanya satu."

"Apa kau bilang?" John menyentak saat sosok itu berlalu menjauh. "Aaaaargh!" ia mengacak kepalanya, dan Angela berusaha menenangkannya.

Diam-diam Fred tersenyum. Gadis itu punya nyali juga, pikirnya.

~oOo~

"Apa? Cemburu? Dia pikir aku wanita gampangan yang mudah jatuh hati pada ketampanan pria? (emosinya tersalurkan dalam aura, menghancurkan sampah-sampah dalam tong sampah didekatnya) Dia benar-benar kelewatan. Kalau aku mau, aku bisa saja membunuh nya tak kurang dalam waktu kurang dari 5 detik! (tong sampah kedua jadi debu) Pria tolol. Tak tahukah dengan siapa ia mengajak ribut? Aku! Tifanny Fuscienne! Semua pembunuh dan kriminal yang pasti langsung akan gemetaran saat mendengar namaku! Tapi ia berani-beraninya menantangku dengan sikap soknya! (tong sampah ketiga jadi debu) Kenapa aku harus mendapat misi yang benar-benar membuatku muak! Tak pernah aku sekesal ini! Cheadle! Aku mau keluar saja dari misi iniiiii!" Tifa bermonolog di sekitar gedung tempat John melakukan konsernya, berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak membunuh. Tak pernah ia segila ini untuk ingin membunuh orang setelah 13 tahun ia berhasil mengendalikan dirinya.

Ia mengambil ponsel dari sakunya, lalu menelpon sang ketua asosiasi.

"Cheadle disini."

"Aku tahu itu kau ketua! Aku mau keluar dari misi pokoknya! AKU KELUAR, POKOKNYA AKU KELUAR. AKU AKAN MENGEMBALIKAN UPAH ITU TAPI AKU INGIN KELUAR!"

"Tu-tunggu Tifa-san! Kenapa kau begitu tiba-tiba!"

"Pria yang seharusnya kujaga, berbalik menantangku dan mengajakku bertarung! Pria itu gila! Padahal aku tak melakukan kesalahan apapun, Ketua! Ia membuatku GILA! AKU TAK PERNAH SEDEMIKIAN INGINNYA MEMBUNUH ORANG HINGGA DETIK INI AKU BERTEMU DIA SELAMA 13 TAHUN! KETUA! TIGA BELAS TAHUN!"

"Oke, oke Tifa, tenangkan dirimu. Andaipun kau bisa keluar, kami tak punya pengganti. Tak ada blacklist hunter yang merespon pesanku hingga saat ini, setelah dua bulan! Mereka juga sibuk!"

"KALAU AKU MEMBUNUHMU SAJA BAGAIMANA KETUA?"

"Tifa, aku tahu kau emosi, tapi tidak perlu semaniak itu. Bagaimanapun, kau harus tetap bertahan, setidaknya sampai kau menemukan pengganti. Sudah dulu, aku ada rapat dengan zodiak, sampai nanti."

Tut.

Panggilan dimatikan. Tangan Tifa bergetar menahan emosinya, hampir saja ponselnya hancur jadi debu kalau ia tak sadar segera dan memasukkan ponselnya kedalam saku. Ia mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangannya, dan menggenggamnya erat-erat, dan tak ayal batu itu juga jadi debu.

Siapapun, hentikan nafsu membunuh Tifa saat ini...

Tifa beranjak ke dalam gedung, menghela nafas. Ia harus bertahan, setidaknya satu tahun. Itu bukan waktu yang lama. Ia mengambil nafas panjang, menenangkan dirinya. Setelah ia merasa dirinya sedikit lebih baik, ia beranjak menuju gedung konser, namun masih belum mamu menemui siapapun, karena takut ia akan membunuh sembarang orang dengan sembrono. Ia masuk ke dalam toilet, mencuci wajahnya berkali-kali, meyakinkan dirinya kalau semuanya akan baik-baik saja. Ia hanya harus bersabar.

Tifa, kau pasti bisa.

~oOo~

Konser itu semalaman penuh, dan itu cukup membuat Tifa empat hari berturut-turut tak tidur. Terima kasih kepada mood swingnya, serta jadwal padat John dan matanya yang tak mau diajak berdamai untuk beristirahat. Dengan lingkaran mata besar yang gelap di sekitar kedua matanya, ia kini harus mengawali keduanya–Angela dan John–ke mall dan tak boleh lepas dari jarak 100 meter. Sebut saja, itu jarak aman maksimum. Tifa harus memastikan bahwa pria itu baik-baik saja tanpa ancaman dari manapun, karena memang begitulah misinya, menjaga anak bangkotan berusia 23 tahun yang sok jagoan dan kekanakan.

Kombinasi buruk untuk sebuah sifat pria, batin Tifa.

"Kau kurang tidur, Tifa..." ucap Ernest sembari memandang wanita tersebut.

"Sebenarnya aku kuat tak tidur seminggu kalau aku diam saja dan tak harus berkonsentrasi setiap saat dari ancaman yang mungkin datang pada boss kita," Tifa meminum kopi hitam dengan sedikit kreamer dan banyak gula dalam cupnya, meski mulutnya masih mengemut lolipop. Hanya lolipop yang sampai saat ini membuatnya tetap waras.

"Kau terlalu paranoid pada keselamatan boss, Tifa," timpal Abe sembari memakan rotinya.

"Beberapa hari yang lalu seorang Zoldyck menyerangnya, dan aku yakin, ia tak akan tinggal diam karena kegagalan pembunuhan tersebut. Pembunuh itu bernama Illumi, anak sulung dari keluarga Zoldyck. Ia mundur karena ia merasa tak bisa menang melawanku, tapi kuyakin, misi itu pasti dipindah alih ke Zeno-jii atau ayahnya..."

"Zeno-jii?" tanya Ernest bingung.

"Kakeknya. Aku sempat menemui keluarga besarnya dua kali. Yang pertama di kediaman mereka, dan yang kedua di mansion Fuscienne..."

"Fuscienne? Bukankah mansion Fuscienne itu dikabarkan sudah lama tak berpenghuni? Banyak desas desus tentang keluarga pembunuh berdarah bangsawan tersebut..."

"Ya, mereka sepertinya akan melakukan silaturahmi pada keluarga sesama pembunuh..." Tifa memutar bola matanya.

"Lalu, kenapa kau ke mansion tersebut," tanya Ernest. "Lagipula bukankah mereka itu bahkan tak mungkin menerima tamu?"

"Aku mengambil beberapa gaun milik ibuku disana, dan kulihat mereka di ruang keluarga kami sembari memandang lukisan keluarga."

"'Ibuku'?"

"'Keluarga kami'?"

"Keluarga Fuscienne adalah keluarga angkatku," jelas Tifa pendek.

"Jadi kau..." kedua pria tersebut horor, memandang Tifa dengan wajah takut.

"Ya, ya. Aku pembunuh, tapi itu dulu," Tifa meminum kopinya, memandang sekitar. John dan Angela masih sibuk berbelanja di toko tas. Iris merahnya mengerling kesana kemari, dan tiba-tiba matanya kembali terpaku pada sosok pria yang menikmati kopinya dengan tenang dengan wajah kosong. Pria itu mengenakan hoodie jaket berwarna biru tua dengan dalam kaus berwarna kuning. Kulit pria tersebut putih pucat dengan rambut sehalus sutra.

"Illumi..." gumam Tifa tak percaya. Kenapa pria itu masih disini?

"Abe, awasi John, aku mau menemui pria itu dulu," Tifa beranjak, melangkah mendekati Illumi yang melebarkan matanya melihat kedatangan gadis itu. Meski wajahnya tenang, jantungnya berdetak kencang. Ia bisa merasakan pandangan ketus Tifa, dan ia harus memakluminya. Ia meminum capuccinonya, memandang gadis tersebut.

"Sepertinya kau tak pernah menyerah ya, Tuan Muda Zoldyck?" Tifa duduk di hadapan si sulung Zoldyck dengan matanya yang tajam memandang Illumi. Ekspresi pria itu tetap tenang, meski hanya Tuhan yang tahu betapa gugupnya seorang Illumi – tangannya berkeringat, jantungnya berdetak kencang – tepat saat gadis ini datang, tapi sekali lagi, hanya Tuhan yang tahu.

"Aku hanya minum kopi," jawabnya pendek.

"Hentikan alasan bodohmu. Aku tahu kau mengikuti John, iya kan?"

Illumi menghela nafas. Ia meletakkan cup kopinya, lalu memandang Tifa dengan sorot yang membuat Tifa mengerutkan kening. Kenapa pandangan itu tampak tak kosong dan penuh arti.

"Aku hanya minum kopi, Nona. Aku kesini hanya berlibur. Itu saja."

"Hahahaha, kau anggap aku percaya bahwa Zoldyck berlibur? Haloo~? Matahari terbit dari barat sepertinya," komentar Tifa dengan sinis.

"Kami memang pembunuh, tapi kami juga manusia," Illumi menghela nafas panjang, merasa tak ada gunanya membuat gadis itu percaya bahwa alasannya itu jujur. Ia beranjak berdiri, tak peduli kalau gadis itu mengikutinya.

Perasaannya campur aduk . Ia mengerling ke sosok pria yang tak jauh dari John dengan wajah sadisnya, memandang Illumi sembari menyeringai. Pria itu yang ia yang pernah dekat dengan Tifa. Ia hanya merasa protektif pada gadis itu saat pria itu didekatnya. Tak rela kalau gadis itu harus bertemu lagi dengannya. Ia hanya berharap satu; suatu saat wanita itu tahu apa yang ia rasakan terhadap wanita itu.

Sementara itu, Tifa yang sedang mengikuti Illumi mendengar earphonenya berbunyi, memanggil Tifa.

'Bos diserang, tapi gagal karena ketahuan oleh kami...'

"Apa ia baik-baik saja?"

'Ia hanya terkena luka cukup dalam di tangannya, tak begitu parah...sebaiknya kau segera kesini. Ia pasti marah besar atas kejadian ini!'

Aku tahu, batin Tifa, meninggalkan sosok Illumi yang kini telah menghilang dibalik pintu utama mall. Ia berlari menuju kedai kopi tadi, meski di hatinya agak bingung. Jika ia tadi melihat Illumi tak melakukan apapun, lalu siapa yang menyerang John? Langkahnya panjang menuju ke sebuah kedai kopi, dimana Angela dan John serta Abe dan Ernest menunggunya. Pria itu terluka cukup parah. Lukanya persis sebuah pisau yang hampir membelah tangannya.

"Apa yang kalian lakukan disini kalau John masih bisa diserang, huh?" Angela melotot pada Tifa. Tifa terdiam, menghela nafas. Memang betul, tapi spekulasinya salah. Ia kira Illumi-lah yang akan membunuh pria tersebut, tapi ternyata ada orang lain.

"Maafkan saya Nona, saya salah,"

"MAAF MAAF! Kau kira dengan maaf saya kau bisa mengobati luka John?"

Ya, aku tahu, aku salah pada posisi ini, batin Tifa. Ia melirik pada John yang masih mengaduh. John bukan pria yang terbiasa dengan rasa sakit, jadi luka sebesar itu cukup untuk membuat ia mengerang.

"Ada yang punya kain panjang atau semacamnya untuk menutup luka ini?"

"Bukankah tadi Nona Angela membeli beberapa pakaian yang cukup panjang untuk me –"

"Yang benar saja! Gaunku tadi harganya mahal! Masa' mau digunakan untuk menutup luka?"

Tifa terdiam, memandang John yang tampaknya agak kaget dengan ucapan Angela. Tifa memandang lengan kemejanya, lalu melepas kemeja biru tuanya, menyisakan sebuah tank top biru muda yang mengekspos sebagian besar kulit Tifa. John agak terpaku dan kehilangan kata melihat gadis itu mengikat tangannya untuk menghentikan pendarahan dengan kemejanya. Matanya melirik ke tubuh putih wanita ersebut yang ternyata penuh bekas luka jahitan dimana-mana. Ia tak menyangka, dibalik wajah cantik Tifa, gadis tersebut ternyata memiliki banyak bekas jahitan baik dalam bentuk kecil dan besar ditubuhnya. Darimana ia mendapat luka tersebut? Baik Ernest dan Abe pun sama kagetnya. Keduanya bisa membayangkan betapa mengerikannya hidup wanita tersebut sejak ia tumbuh.

"Berhenti mengaduh, dan kami akan segera membawa ke rumah sakit!" Tifa memandang John yang masih mengerang, lalu menoleh pada Angela. "Apa Nona ingin menunggu atau segera pulang?"

"Sebaiknya aku pulang saja kalau begitu. Aku ngeri melihat darah..."

"Baik, Abe dan Ernest. Antarkan Nona Angela ke hotel, aku akan mengantar boss ke Rumah Sakit, ayo cepat..."

Kelimanya bergerak menuruni elevator menuju parkiran. Sementara Tifa segera memasuki mobil pribadi John, Abe menggunakan mobil bodyguard untuk membawa Angela pergi. Kedua moil tersebut pergi berlawanan arah di persimpangan.

"Kau yakin kau bisa mengendarai mobil balap?"

"Ya," sahut Tifa pendek sembari memijit beberapa tombol.

"Darimana kau belajar? Bukankah hunter bahkan tak pernah bersenang-senang untuk hidup di jalanan dan balapan?" katanya dengan nada bingung namun sedikit meremehkan – setidaknya bagi Tifa.

"Aku harus belajar mengendarai pesawat udara, mobil, mobil balap, bahkan semua kendaraan. Itu hanya syarat untuk diriku sendiri sebagai Blacklist Hunter. Pegangan," Tifa menginjak gas kencang dan mobil tersebut melesat menyalip berbagai mobil di jalan. Tak sampai 5 menit, mobil itu sampai di rumah sakit, dan Tifa segera menariknya ke dalam, dan ia langsung mendapat perawatan khusus, sementara Tifa menunggu di ruang tunggu. Ia diizinkan masuk setelah beberapa suster dan dokter merawatnya, dan dilihatnya John memasang wajah suntuk.

"Ada apa?"

"Dokter bilang luka ini akan membekas. Kau kemana saja sih? Penjagaanmu payah! Sampai aku harus terkena serang begini! Kalau begini setelah luka sembuh aku harus segera mengoprasinya agar kulitku kembali ke sedia kala."

Tifa ternganga. Kenapa pria itu kini tampak seperti perempuan ganjen yang selalu khawatir dengan masalah kulitnya? Hey, ada apa dengan pria jaman sekarang?

"Kenapa harus di operasi plastik segala?"

"Bagaimana kalau fansku tahu bahwa idolanya memilki bekas luka di tangan selebar ini dan menganggap aku tidak tampan lagi? Hah? Kulit itu aset bagi kami, Tifa!"

Tifa memutar bola matanya, "baik, baik. Aku akui aku yang salah. Aku juga tidak tahu soal hal itu."

"Tentu saja kau tidak tahu? Mana ada hunter sepertimu tahu perihal seperti itu? Lihat tuh kulitmu, penuh bekas luka disana-sini! Kau bahkan tak pantas menjadi wanita melihat jumlah luka di tubuhmu! Kau lebih pantas jadi pria..."

Itu cukup menyakitkan, batin Tifa dalam hati. Ia terdiam, wajah percaya dirinya yang selalu tampak terpasang di mukanya kini hilang, tergantikan dengan raut muram. Ia tak mungkir, selama ini ia selalu menutupi tubuhnya dengan pakaian panjang karena ia tak mau banyak orang melihat luka-lukanya yang tampak mengerikan saking banyaknya. Bekas luka itu benar-benar kentara, dimana-mana, tapi bisa apa dia? Kalau boleh jujur, ia juga terkadang ingin memiliki tubuh dan kulit yang sama seperti wanita lain, bersinar tanpa cacat, tapi ia tak cukup beruntung untuk hidup seperti itu? Ia bukanlah orang yang sensitif, tapi ucapan tadi benar-benar mengena.

"Ayo kita pulang," Tifa mengambil sejumlah Jenny dari dompetnya. "Boss tunggu di mobil, aku akan membayarnya."

"Kenapa tak pakai uangku saja? Nih," Ia mengambil sejumlah uang dari dompetnya, dan memberikannya pada Tifa. Wanita tersebut menerimanya, lalu melangkah dengan tatapan kosong menuju kasir pembayaran.

Ucapan tadi terasa perih sekali di hatinya.

Saat di mobil, John cukup peka merasakan bahwa wanita tersebut tak terlihat penuh semangat dan percaya diri seperti biasanya. Ia tampak muram, dengan pandangan yang membuat John merasa merinding saat ia melihatnya. Tubuh yang berbalut tanktop hitam dan celana jeans serta sepatu sneaker kuning itu tampak mengendarai mobil balapnya. Sebenarnya ini memang mobil balap sewaan, hanya saja John lebih suka kemana-mana dengan mobil sport, jadi ia menyewa Lamborghini ini. Dengan kerlingan yang agak aneh, ia memandang wanita berwajah cantik yang tampak muram itu dengan takut. Kemeja yang berlumuran darah itu masih di tangannya, dan ia merasa bersalah karena ia tak mengucapkan terima kasih.

"Tifa, terima kasih."

"Untuk?"

"Kemejamu. Jadi kotor karena darahku."

"Aku masih bisa membeli 100 helai lagi kok," sahut Tifa dingin. "Tak perlu berterima kasih dengan bodyguardmu."

Itu sindiran, batin John, tersenyum dalam hati. "Maaf kalau sebelumnya aku tak pernah mengucapkan terima kasih."

"Tak perlu," sahutnya pendek. Mobil berbelok ke arah kanan, sementara pandangan Tifa tak beralih dari jalan, dan entah kenapa, sikap dingin itu membuat John merasa merinding.

"Kau tak apa kan?" tanya John, merasa tak enak karena aura di dalam mobil terasa mengerikan.

"Aku biasa saja," jawab Tifa singkat.

"Maksudmu kau yakin kau tak apa-apa?"

"Bahkan dengan luka sepertimu, atau muka lebam dan berdarah-darah, aku tak apa-apa, Tuan," Tifa gerah dengan pertanyaan tersebut. "Aku bukan orang cengeng."

Aku tahu kau bukan wanita cengeng, batin John dalam hati. "Ngomong-ngomong, darimana kau mendapatkan luka sebanyak itu ditubuhmu?"

"Bukan urusanmu," sahutnya pendek.

Perempatan siku-siku muncul dari pelipis John, "Dengar Tifa, aku hanya mencoba untuk bersikap baik karena kau telah menyelamatkanmu, tapi sikap sombongmu membuatku muak! Kalau aku mau, aku bisa saja meminta ayah memecatmu sehingga kau bisa hengkang dari pekerjaan ini!"

"Aku justru senang," Tifa menyeringai. "Aku masih bisa hidup tenang meski ayahmu membayarku 5 miliar Jenny hanya untuk menjagamu. Aku lebih baik hidup mengejar kriminal yang suatu saat bisa membunuhku dalam pertarungan hidup dan mati daripada harus menjaga anak ingusan sepertimu! Aku masih bertahan disini karena aku menghargai Asosiasi Hunter! Aku punya seabrek daftar kriminal yang harus kutangkap dibanding menjagamu!"

SKAK MAT.

Wanita ini bukan mengejar uang. Bukan seperti hunter-hunter yang selalu menetapkan tarif untuk bekerja. Wanita ini lain.

"Jadi kau...bahkan tak mau menjadi bodyguarku?"

"Tidak pernah bahkan dalam mimpi terburukku. Aku hanya berusaha profesional dengan pekerjaanku, tapi setelah ketua asosiasi mendapat Blacklist Hunter yang lain untuk menggantikanku, kupastikan aku berani mengembalikan uang ayahmu, bahkan dua kali lipat!"

Dua kali lipat? Jadi, dia juga kaya? Batin John dalam hati.

"Bukankah kerjaan ini jauh lebih mudah dari pada menangkap kriminal?"

"Setidaknya pertarungan fisik lebih baik daripada menjaga anak ingusan emosional yang membuatku harus mengendalikan diri dalam perang batin antara membunuhmu atau tidak membunuhmu," jawab Tifa sadis.

John ternganga. Wanita ini mengerikan...

~oOo~

"Jadi kau mendapat luka sebesar ini? Lalu untuk apa tiga bodyguard ini disampingmu? Kau tahu kan penampilan fisik adalah aset untukmu?" Fred memarahi pria tersebut dengan wajah gahar.

"Itu yang tadi kukatakan pada mereka bertiga."

"Baik, aku akan membatalkan beberapa event kecil supaya kau beristirahat. Setelah lukamu membaik, aku akan segera membuat jadwal operasi plastik untukmu," Fred menulis beberapa tulisan di agendanya, sementara John masuk ke kamarnya. Ia cukup lelah dengan beberapa ketegangan yang terjadi di mall tadi. Kalau Abe dan Ernest tidak menarik tubuhnya, mungkin nyawanya sudah melayang saat itu. Hanya saja, ia benci mengakui bahwa nyawanya pun selamat karena mereka.

Luka di tangannya terasa masih perih. Ia meringis, merebahkan tubuhnya di kasur. Ia ingin sekali istirahat, berharap rasa sakitnya akan sedikit membaik jika ia membawanya tidur.

Tifa merebahkan tubuhnya di kasurnya. Mereka sudah sampai rumah, karena John meminta agar mereka segera pulang segera setelah kejadian itu. Dua hari sudah berlalu, namun Tifa diam-diam berpikir, siapa yang dengan beraninya menyerang John di mall Jika bukan Illumi orangnya. Dilihat dari peaparan Ernest, penyerang itu juga pasti seorang pembunuh profesional. Selama Illumi masih di mall, tak mungkin salah satu dari keluarga Zoldyck menyerangnya selain Illumi. Tapi kalau bukan si sulung, lalu siapa?

Tifa bangkit dari kasur mungilnya, lalu melepaskan pakaiannya. Ia melangkah ke toilet menuju shower dan mandi. Masih dengan otak berputar, ia tak hentinya memikirkan kelalaiannya. Siapa yang menyerang John?

Setelah mengganti pakaiannya dengan kaus lengan panjang berwarna biru tua dan celana training berwarna hitam, tiba-tiba ia terpaku melihat sosok pria berambut panjang telah berada di kamarnya.

"A-apa yang kau lakukan disini?"

Illumi melangkah mendekat padanya, "aku hanya ingin memberitahu siapa yang melakukan penyerangan pada John Evans."

"Kau tahu dia siapa?"

"Kau pasti menuduhku kan sebelumnya sesaat sebelum penyerangan ini terjadi?" tanyanya memastikan. Sebuah tebakan jitu.

"Tentu saja, kau pembunuh bayaran! Tak aneh kalau kau membunuh demi uang."

"Sayangnya, bukan..." Illumi duduk di sisi ranjang. "Itu Hisoka."

"Sejak kapan Hisoka menjadi pembunuh bayaran?"

"Ia juga terkadang menjadi pembunuh bayaran kalau menurutnya hal itu akan menyenangkan," Illumi memandang Tifa, "sebenarnya memang aku yang seharusnya membunuh John, namun Hisoka membuat perjanjian untuk menggantikanku saat ia tahu bahwa kau akan menjaga John."

"K-kenapa?"

"Karena baginya itu akan menyenangkan! Aku tahu bagaimana sifat Hisoka yang selalu egois demi kesenangan pribadinya."

Tifa menggaruk kepalanya, bingung. Ia duduk di sebelah Illumi dengan wajah percaya dan tidak percaya. "Lalu kenapa kau disini dan memberitahuku?"

Illumi melirik ke arahnya, lalu dengan gesit menarik tubuh Tifa yang tidak sempat mengelak, dan sebuah kecupan mendarat di bibir gadis tersebut. Tifa ternganga saat wajah Illumi menjauh darinya, dan seketika pipinya memanas.

"A-apa yang kau lakukan?!" tanyanya tergagap sembari mengelap bibirnya.

"Hanya bereksperimen," sahutnya pendek, dan seketika pria tinggi itu bangkit, kemudian meloncat dari jendela, "hati-hati."

Tifa ternganga. Apa maksud dari kecupan itu? Ia masih bisa merasakan bibir tipis itu mencium bibirnya, dan sensasi lembutnya masih teras. Tanpa sadar Tifa menyentuh bibirnya, lalu semu merah muncul dipipinya.

Sementara itu, di sisi lain, Illumi yang kini telah jauh dari tempat tinggal John Evans, tersenyum kecil sembari menyentuh bibirnya sendiri.

~oOo~

Hisoka memandang isi gelas birnya yang tinggal setengah. Ia memutar gelas birnya sementara suara musik mengalun pelan di bar tersebut. Senyumnya melebar saat seorang pria dengan tubuh tinggi dan rambut hitam panjang masuk dan duduk di sebelahnya. Illumi memesan segelas bir, sementara Hisoka memandangnya dengan sebuah seringaian.

"Jadi?"

Illumi memandangnya dengan alis terangkat. Segelas bir langsung tersedia di hadapannya, saat Hisoka memandangnya, dan meminumnya.

"Kau benar-benar menyukainya?"

Illumi langsung tersedak. Ia menurunkan gelas birnya, memandang Hisoka, "bicaramu sangat tepat sasaran."

"Tentu saja, aku memang tak pernah memikirkan pernikahan, tapi paling tidak, aku tahu tanda-tanda orang yang sedang dimabuk cinta."

"Aku mabuk bir, tidak mabuk cinta," tandas Illumi datar.

"Bicara sesukamu. Aku tetap tahu bagaimana perasaanmu," sindirnya, menggoda si sulung Zoldyck sementara yang digoda merasa wajahnya memanas, meski sebisa mungkin ia menyembunyikannya.

"Ia cukup dekat dengan adikku," ucapnya sembari memainkan gelas birnya. "Kau lihat bagaimana ia bersikap pada Killua saat di pesta keluarga Couraz."

"Aku tahu," Hisoka meminum birnya, "tapi sepertinya ia bukan tipikal wanita yang menyukai pria yang puya selisih usia jauh dengannya. Usianya sudah 34, ingat? Adikmu baru saja 18 tahun."

"Aku hanya merasa ada sesuatu yang lebih diantara mereka."

"Bukankah itu bagus?"

"Maksudmu?"

"Yang kutahu, ia benar-benar figur yang dihargai bagi Gon ataupun Killua," ucapnya. "Berarti kau bisa menggunakan Killua sebagai titik lemahnya agar ia mau menikah denganmu."

Hati Illumi tercolek. Ia merasa ide itu cukup bagus. Kedua bola matanya memandang Hisoka dengan antusias, merasa kalau ucapan Hisoka benar-benar brilian.

"Kau jenius," timpal Illumi pendek.

"Kau baru tahu?"

"Aku hanya harus mencari Killua."

"Aku bersedia membantu..." Hisoka tersenyum dengan wajah anehnya.

"Baiklah. Aku senang jika kau bisa membantu."

.

.

~oOo~

.

TBC


Bales Repiu:

Arisato yukito : Yea, keributan dan konflik akan segera terjadi. Pada chapter-chapter selanjutny mungkin akan ada adegan gore sebagai sisi lain Tifa yang sebenarnya. Enjoy the conflict, then!

Ghost186: Iya, dia memang bumbu penyedap. Pria tanpa ekspresi yang terobsesi dengan Tifa dan diam-diam menyukai Tifa, jadi...selamat menikmati konflik X3

Clastreblusters : I dont really know how to response when you review me in Irish language but according to google translate ...you like my story, yes? Nah, thank you my fella. Hey, how could you read my fanfiction in Indonesian language. You use google translate too? X3

kyuhyunkim73 : Hmm, itu typo sebenernya, maaf ya, tapii udah saya edit ko. Maklum, author kadang suka lupa kalau mereka belum merit, soalnya author ngerasa mereka itu udah merit aja X3 (Digampar) #spoilerattack XD


Terima kasih atas review kalian, selalu saya tunggu untuk chapter-chapter selanjutnya. Because your review always spice up my mood, so feel free to say everything on review link except flame, because I don't accept flame, hahaha.

So, R n R, minna-san? :3