One Fist Away

~A Naruto fanfiction by Karupin.69~

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter #2


Pagi hari, di kediaman keluarga Haruno. Tak seperti biasanya, kali ini Mrs. Haruno masak besar. Bagaimana tidak, beliau selalu memanjakan keponakan tersayangnya, Mamoru, yang baru datang kemarin sore. Beliau tidak henti-hentinya menjembil pipi Mamoru dan menggodanya. Tetapi bocah berumur empat tahun itu tidak menghiraukannya dan malah bergelayutan pada kakak sepupu perempuannya.

"Mamoru-kun, duduklah di sebelah Bibimu! Biarkan Nee-san makan dengan tenang, hm?" pinta Sakura sambil memelas. Mamoru menurut dan menempatkan dirinya di sebelah Mrs. Haruno, lalu menonton TV sambil tertawa-tawa.

"Aa, Sakura-chan, bento-mu sudah Ibu siapkan. Kali ini ibu melebihkan nasinya. Harus kau habiskan! Lihatlah badanmu! Seperti tak pernah kuurus saja... Ini, kau harus makan lebih banyak!" Mrs. Haruno menyodorkan tofu pada Sakura yang disambutnya dengan erangan kecil.

"Uh, Ibu, aku sudah kenyang..."

"Onee-san, jangan paksa putrimu," Tenzin, paman Sakura, menyodorkan mangkuknya kepada kakaknya. "Kau seperti tidak pernah muda saja, seorang gadis seperti Sakura-chan pasti selalu menjaga berat badannya, tidak seperti Onee-san yang—"

Ibu Sakura mendengus, "Yang apa?" lalu mengambil—yang lebih seperti merampas—mangkuk Tenzin dengan kasar.

"Yang, er, subur?"

Mrs. Haruno menatap galak adiknya. "Subur-subur begini, aku sehat. Tidak sepertimu yang sedikit-sedikit mengeluh sakit punggung, sakit dada, atau apalah!"

Tenzin cengengesan, lalu menyantap hidangan yang disiapkan Mrs. Haruno dengan lahap. Sakura tertawa melihat tingkah pamannya yang eksentrik.

"Paman, apa kau benar-benar merawat dirimu? Lihatlah, kau sudah seperti kriminal saja karena jambang lebatmu! Kau juga, selama ini tinggal di Sunagakure tanpa memberitahu kami!"

Tenzin nyengir, "Yaah, begitulah. Aku mengambil banyak foto di Suna, kau bisa melihatnya. Aku juga sudah membeli oleh-oleh, koperku penuh dengan oleh-oleh untukmu dan ibumu, kau tahu? Nanti malam akan kuberikan padamu."

Sakura tersenyum dan mengangguk, "Aa, baiklah."

"Jusnya sudah jadiii!" Teriak Mrs. Haruno seraya membawa lima gelas jus tomat favorit Tenzin dari dapur. Mata Sakura terpaku pada cairan berwarna merah itu. Uh.

"Kuharap kau suka makanan khas Konohagakure, Gaara-kun." Mrs. Haruno menyodorkan gelas pada Gaara. Yeah, Gaara yang sedari tadi duduk di sebelah Tenzin dalam diam.

Gaara menundukkan kepalanya dan menggumamkan arigatou. Ibu Sakura menggeleng dan mendecak. "Aku tidak tahu kenapa pria tampan sepertimu bisa bertemu dan bekerja dengan adik iparku, Gaara-kun. Kuharap kau tidak disuruh bekerja macam-macam oleh orang sinting ini."

"Oi, oi..." Paman Tenzin memprotes.

"Tenzin-sensei sangat baik padaku, Bibi Haruno. Terimakasih atas makanannya, aku tidak keberatan dengan makanan apapun."

"Syukurlah, Gaara-kun. Aa, benar juga. Untung kemarin kau dan putriku bertemu di bis. Kalau tidak, Tenzin pasti akan kalang kabut mencari murid kesayangannya..."

Gaara dan Sakura saling berpandangan. "Benar. Saya juga kaget, ternyata rumah yang kucari adalah rumah milik... Haruno... yang duduk di sebelahku waktu itu."

Sakura menyeruput habis jus tomatnya, "Sakura, panggil aku Sakura." Lalu ia bangkit sambil menyunggingkan senyum.

Jadi, kemarin adalah hari yang sangat mengejutkan bagi Sakura. Setelah menerima secarik kertas berisikan alamat rumahnya sendiri dari Gaara, ia bertanya-tanya ada perlu apa cucu nenek Chiyo datang ke rumahnaya.

Sesampainya mereka di rumah, Sakura disambut dengan paman yang sudah lama tidak ia temui. Si kecil Mamoru langsung memeluk Sakura erat, lalu berganti dipeluk Tenzin yang berdiri di sebelahnya. Tenzin bilang, Gaara adalah muridnya. Atau partner, mungkin, karena mereka berdua sedang mengerjakan suatu proyek; membuat sebuah program sekuriti komputer atau semacamnya—Sakura tidak begitu paham.

Kini Sakura mengerti mengapa mata Gaara dan pamannya sendiri terlihat lelah, itu pasti karena mereka terjaga setiap malam untuk menyelesaikan program itu.

Kedatangan Tenzin, Mamoru, dan Gaara bukan semata-mata untuk berlibur. Mereka ingin tinggal di Konoha. Sebelumnya, Tenzin sering berpindah-pindah, sampai akhirnya ia menetap di Suna dan menikah dengan wanita lokal. Tetapi sayang sekali istrinya langsung meninggal begitu ia melahirkan Mamoru. Bertahun-tahun kemudian, ia bertemu si jenius Gaara dan memulai perusahaan kecil yang bergerak di bidang software komputer. Awalnya Tenzin ragu untuk membawa serta Gaara dan dua pegawai lainnya ke Konoha. Tapi karena Gaara bilang ia punya saudara di Konoha, maka Tenzin langsung membawanya.

Sebenarnya mereka hanya akan menumpang sampai mereka menemukan tempat tinggal dan kantor baru, tapi tentu saja Mrs. Haruno menyuruh adik iparnya untuk tiggal di rumahnya. Toh, rumah besarnya ini awalnya memang untuknya. Semenjak kecil Haruno bersaudara tinggal di rumah itu. Apa salahnya jika sang adik sekarang menempati rumah itu. Apalagi rumah itu menjadi sangat sepi sepeninggal Mr. Haruno, ayah Sakura. Lagipula, Sakura sudah menjadi remaja putri yang setiap akhir pekannya pergi keluar dengan teman-temannya—dan meninggalkan ibunya sendirian.

Mrs. Haruno sangat senang ketika Tenzin bilang ia akan membawa Mamoru. Tentu saja, Tenzin pun akan sangat terbantu karena sekarang sudah ada yang mau merawat anaknya. Tenzin kurang percaya pada pengasuh bayaran, ia takut Mamoru dibawa kabur atau semacamnya. Untunglah kakak iparnya menyukai anak kecil...

"Ah! Kita keasyikan mengobrol sampai lupa waktu!" Mrs. Haruno sedikit panik ketika melirik pada jam dinding. "Sakura-chan, bergegaslah!"

Sakura menenggak jusnya yang tinggal sedikit sampai habis, lalu mengambil helm sepedanya yang kemudian disuruh disimpan lagi oleh ibunya. "Naik bis, Sakura sayang. Kau mau betismu bengkak karena mengayuh sepeda dalam kecepatan tinggi? Hm?"

Sakura mengangkat bahu sambil tetap berlalu dengan sepeda kesayangannya. Ibunya geleng-geleng tidak percaya.


"Nee-san, kau tidak perlu repot-repot—aku bisa mencari tempat lain di Konoha."

Mrs. Haruno mengabaikannya dan malah menyuruh para tukang untuk menempatkan perabotan baru di kamar Tenzin dan Gaara.

"Kau ini bicara apa, Ten-kun. Ini toh rumahmu juga."

Tenzin merasa tidak enak pada kakak iparnya. "Benarkah aku tidak akan mengganggu kalian? Juga soal Mamoru..."

Mrs. Haruno berkacak pinggang. "Serahkan Mamoru padaku! Aku tahu aku ini bibi yang baik. Kau bekerja saja dengan tenang, Ten-kun. Kau bisa menggunakan basement sebagai laboratorium komputermu. Aku tahu kau punya perusahaan kecil-kecilan—gunakanlah itu sebagai markasmu, atau kau bisa menggunakan seluruh sisa lantai dua kalau kau mau yang lebih nyaman."

Merasa terharu, Tenzin pura-pura menyusut air matanya sambil menepuk kakak iparnya. "Aku tahu kenapa aniki menyukaimu, Nee-san. Kau sangat baik hati... Astaga, terimakasih! Aku merasa sangat tertolong! Baiklah, aku akan menyuruh seseorang untuk menyulap basement menjadi kantor yang nyaman!

"Oh ya, Nee-san, kau tahu, soal Gaara, bisakah ia tinggal di sini juga? Dia memang punya saudara di Konoha, tapi pasti aku akan lebih membutuhkannya. Dan akan lebih mudah jika kami tinggal berdekatan."

Mrs. Haruno langsung mengangguk. "Tentu saja, kau boleh membawa siapapun untuk tinggal di sini, Ten. Selama ia orang baik-baik, tentunya. Dan kurasa pemuda setampan Gaara-kun tidak akan berbuat jahat. Aku mempercayainya sebagaimana kau mempercayainya."

"Baiklah, aku juga akan mengurus kepindahan sekolahnya. Aku pernah membuatnya tinggal kelas setahun karena ia terlalu sering membolos karena bekerja dan merawatku. Aku akan merasa sangat bersalah kalau aku tidak menyekolahkannya. Kurasa sekolah Sakura-chan tidak buruk, bukan begitu?"

"Oh, Konoha Koukou adalah sekolah terbaik di Konoha! Suruh ia melihat-lihat ke sana besok, oke?"

Tenzin mengacungkan dua jempol. "Terimakasih, Nee-san! Jangan khawatir, aku akan membantumu membayar listrik, air, dan sebagainya."

Mrs. Haruno tersenyum, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Gaara. "Gaara-kun?"

Gaara yang sedang menaiki tangga menoleh pada Mrs. Haruno.

Dengan tubuh gempalnya, Mrs. Haruno bersusah payah menaiki tangga. Gaara kembali ke bawah dan membantu Mrs. Haruno naik.

"Ah, kau pemuda yang baik sekali, Gaara-kun."

Gaara tersenyum. "Sudah seharusnya. Nenekku juga begini."

Mata Mrs. Haruno menyipit. "Jadi maksudmu aku seperti nenek-nenek?"

Gaara terpaku, lalu menggaruk kepalanya. "E-eto..."

Mrs. Haruno mencubit lengan Gaara sambil tertawa. "Aduh, aku hanya bercanda, kau tahu. Jangan membuat wajah kikuk seperti itu! Ah, nah, ini dia. Ini kamarmu, Gaara-kun."

Mrs. Haruno membukakan pintu, lalu masuklah mereka ke ruangan gelap. Setelah Mrs. Haruno menyibak tirai berdebu, tampaklah ruangan itu.

Di sana terdapat satu tempat tidur kecil, lemari pakaian, lemari buku, dan sebuah meja. Gaara pikir, ruangan ini lebih dari cukup untuk ditempati satu orang. Bahkan lebih besar dari kamarnya di Suna dulu. Kankurou akan sangat iri padanya bila ia melihatnya. Temari pun sepertinya begitu.

"Aku akan menambahkan sofa di sini, dan kursi untuk meja belajarmu. Ah, jendela besar itu sebenarnya pintu. Ada balkon di sana, kau akan menyukainya."

Gaara membuka jendela tersebut, semilir angin langsung menerpa wajahnya. Ternyata balkon di kamarnya menghadap kolam ikan kecil di halaman belakang rumah. Ia menyunggingkan senyum kecil.

"Terimakasih banyak, Bibi. Kuharap aku tidak merepotkanmu."

Mrs. Haruno tersenyum puas. "Tentu saja tidak! Kau bisa membersihkan ruangan ini dulu, kemudian memindahkan barang-barangmu kemari. Anggaplah rumah sendiri, anakku. Kau bisa menemukan sapu dan teman-temannya di lemari bawah tangga. Kamar mandinya ada di seberang pintu kamarmu..."

Sebelum melangkah keluar, Mrs. Haruno berkedip, "Dan, di sebelah kamarmu adalah kamar putriku. Kuharap kalian akan menjadi tetangga yang baik!"

Gaara hanya terdiam sambil menatap sang tuan rumah berlalu.


Sesampainya Sakura di rumah pada sore harinya, ia kebingungan melihat orang berlalu lalang sambil membawa meja, kursi, seperangkat komputer, dan koper-koper besar. Mamoru menghampirinya sambil menggenggam pistol air.

"Sakuya-nee! Matilah kau!" teriaknya sambil menembakkan pistol itu pada Sakura.

Gadis berambut merah itu kerepotan menghindari serangan saudara sepupunya. Akhirnya ia tertawa-tawa juga sambil menjembil Mamoru.

"Kau jadi tinggal bersamaku, huh?"

"Iyaa! Pokoknya aku mau tidur sama Sakuya-nee!" Lalu ia melesat ke dalam rumah sambil menembakkan pistol airnya ke setiap orang yang dilewatinya.

Sakura melongok pada pintu basement yang terbuka. Ia menuruni tangga dan menemukan ruang bawah tanahnya yang sebelumnya kosong, bau, dan kotor telah berubah menjadi ruangan terang dan bersih, dengan beberapa meja dan komputer-komputernya.

"Ah, Sakura-chan. Kuharap kau tidak keberatan." Tenzin muncul dari balik meja, kerepotan memasang instalasi kabelnya.

Sakura menggeleng. "Jangan khawatir. Ayah pasti bangga, seandainya dia masih hidup. Paman berhasil membuat perusahaan Paman sendiri. Selamat, Paman. Cita-citamu tercapai."

Tenzin nyengir sambil memeluk Sakura sekilas. "Naiklah, Sakura-chan. Di sini berdebu."

Sakura menurut. Ia memasuki ruang utama di rumahnya dan menemukan Mamoru sedang menonton Ultraman Gaia, ditemani oleh ibunya. Sakura mengecup pipi ibunya sekilas dan langsung naik ke atas.

Dia keheranan ketika pintu kamar di sebelah kamarnya terbuka. Dia melongok dan menemukan Gaara sedang mengepel lantai dengan giatnya.

"Ah. Kau."

Gaara terhenti dan menatap Sakura. "Kita sekarang bertetangga."

Sakura mengernyitkan dahi. "Kau tidak tinggal dengan Nenek Chiyo atau Temari-nee?"

Gaara mengangkat bahu. "Pamanmu tidak mengizinkan,"

Sakura mengangguk. "Sou. Baiklah, rajin-rajin membersihkan kamarmu ya. Dan... jangan pernah menginjakkan kaki di kamar seorang gadis. Oke?"

Gaara mencibir, "Aku baru melihat ada samsak tergantung di kamar seorang gadis, omong-omong."

Sakura langsung melesat ke kamarnya yang ternyata pintunya melongok juga. Sial, ia lupa menguncinya pagi tadi. Si Gaara itu... Sakura berteriak memprotes dari dalam kamarnya. Gaara menjawabnya dengan suara keras juga, "Pintunya memang terbuka!"

Sakura melihat sekeliling, memastikan tidak ada pakaian dalam atau benda-benda berbahaya yang tergeletak di lantai. Bersih. Fuh, Sakura menarik napas lega.

Untunglah Gaara melihat kamarnya dalam keadaan rapi. Kamar yang sama luasnya dengan kamar Gaara. Dengan perabotan yang sama, namun dengan suasana yang berbeda. Kamar Sakura lebih girly dengan sentuhan lukisan bunga sakura yang tergantung di dindin di belakang tempat tidurnya. Di sana ditambah sofa beludru merah, lengkap dengan cushion warna-warni di atasnya.

Yang paling janggal adalah sebuah samsak yang tergantung di balkon, dibalik tirai berwarna peach. Sakura mendapatkan samsak itu pada ulangtahun ke-15nya dari sang paman. Berlatihlah, katanya. Atau terkadang, samsak bisa menjadi sasaran paling pas kalau kau sedang kesal.

Setelah berganti pakaian dan mengendalikan dirinya, Sakura memutuskan untuk membantu Gaara menata kamarnya. Sekalian memastikan bahwa pemuda itu tidak membawa barang-barang berbahaya atau semacamnya.

"Banyak sekali buku bawaanmu. Apa ini? Coding untuk Pemula. How to Build Your Own Motherboard. Kamus Encoding jilid IV. Dan... Icha-Icha Paradise!Astaga, yah, setidaknya kau lelaki normal, Gaara."

Gaara tidak menghiraukan ocehan Sakura. Ia terus memasukkan—tepatnya menjejalkan pakaiannya ke dalam lemari. Sakura menggeleng melihatnya.

"Wow, kau membawa komik juga. Crows, Akihabara at Deep, dan, aaah, Black Butler! Aku punya semua volumenya di kamarku. Setiap malam kau pasti membaca buku-buku ini, benar? Matamu sudah menjawabnya."

Gaara mendelik. "Aku tidak tidur, kau tahu."

Sakura mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan lebih lanjut.

"Insomnia akut. Aku hanya tidur satu-dua jam tiap malamnya. Selebihnya—aku kelelawar."

Sakura mengangguk. "Baiklah, aku tidak akan kaget kalau tiba-tiba aku mendengar derit pintu tengah malam. Dan mungkin ketukan pintu di kamaru, karena kau lapar dan ingin aku buatkan makanan."

Gaara mengangkat sebelah bibirnya. "Baguslah kalau kau mengerti."

"Oh, jangan bilang ini dirimu waktu kau masih kecil!" Sakura mengangkat tinggi-tinggi pigura hitam yang baru ia temukan dari dus. Tampak Gaara kecil dengan Temari dan sepertinya kakak lelakinya, dan kedua orangtuanya beserta seorang wanita tua yang Sakura yakini adalah nenek Chiyo.

Gaara merebut pigura tersebut dan menyimpannya di meja dalam keadaan tertutup. Ia melirik Sakura yang tertunduk. "Kenapa? Kecewa karena aku tidak selucu dulu?"

Sakura sweatdropped. "Bukan itu. Aku hanya teringat Nenek Chiyo. Sudah lama aku tidak melihatnya... Ah, benar juga. Apa mereka tahu sekarang kau tinggal di sini?"

"Mereka tidak akan pe—" Gaara menggeleng, "—maksudku, mereka tidak perlu tahu."

Sakura kebingungan. Peduli? Siapa yang tidak peduli di sini? Gaara atau keluarganya? Atau bahkan dirinya? Sakura sebenarnya ingin ia tidak merepotkan dirinya sendiri dengan memikirkan masalah orang lain. Tapi sekarang Gaara sudah seperti saudaranya—karena pamannya menganggap ia sebagai anaknya—dan bisa dibilang, Nenek Chiyo bukanlah orang lain dalam hidupnya. Beliaulah yamng selalu memberinya nasehat, yang mengajarinya, yang menyadarkannya.

Sakura menatap punggung lelaki berambut merah itu. Lelaki yang mulai sekarang akan tinggal di bawah satu atap dengannya—meski Sakura yakin ia akan menghabiskan waktunya di basement—yang perlu Sakura ketahui asal-usulnya. Setidaknya, Sakura akan tenang kalau dia sudah mengenal siapa sebenarnya Gaara.

Sakura tahu ibunya sangat polos dan terlalu baik hati—seenaknya mengizinkan orang asing tinggal di rumahnya. Beda lagi dengan pamannya. Sakura sangat percaya pada pamannya. Setelah ayahnya meninggal, pamannya lah yang berlaku sebagai walinya. Pamannya pun sangat menyayangi Sakura.

"Baiklah," gumam Sakura. Hanya satu tempat yang harus ia tuju.


Kedai Nenek, keesokan harinya.

"Kau tak perlu khawatir dengan Gaara." Nenek Chiyo tersenyum sambil menuangkan ocha untuk Sakura. Ia membetulkan posisi duduknya di bar, menyondongkan badan lebih ke depan untuk mendengar nenek Chiyo.

Suara hujan di luar lebih menyamarkan suara wanita tua itu. Sakura mengangguk-angguk, lalu menoleh pada Temari.

"Meski penampilannya begitu, Gaara adalah pemuda yang baik hati. Syukurlah kalau sekarang Gaara tinggal di rumahmu, Sakura. Setidaknya kau adalah orang yang kukenal. Kau bisa menghubungiku kapanpun, oke?"

Sakura mengangguk. Ia bisa menarik napas lega sekarang. Ia menatap hujan yang semakin deras di luar jendela.

Gaara bukan seseorang yang perlu ia khawatirkan. Ia hanya lelaki yatim piatu—orangtuanya tewas ketika ia masih sangat kecil. Ia tinggal dengan nenek Chiyo dan suaminya, sementara Temari dan Kankurou, kakaknya, dirawat oleh nenek dari sisi lain. Itu sebabnya mereka tidak terlalu akrab.

Temari tahu dulu Gaara pernah bercerita ia telah menjadi anak kesayangan gurunya. Ia kerap membantu Tenzin dengan masalah programming—Gaara sangat berbakat di bidang itu. Lalu pada akhirnya, Gaara meninggalkan nenek Chiyo karena pindah ke tempat Tenzin.

Sakura baru tahu dari nenek Chiyo kalau pamannya mengidap penyakit asthma akut. Beliau sering berkunjung ke kediaman Tenzin sewaktu ia masih tingga di Suna.

"Untunglah ada Gaara yang mengawasi Tenzin," kata nenek Chiyo. "Tenzin sangat baik hati dan ceria. Ia sering menemani suamiku memancing. Kami teman baik. Dan ternyata ia adalah pamanmu, Sakura."

Merasa puas dengan cerita dari Temari dan nenek Chiyo, Sakura memutuskan untuk pulang. Temari menyuruhnya untuk berhati-hati karena hujan di musim panas tidaklah baik. Kalau hujannya tidak kunjung berhenti, hujan ini bisa berubah menjadi badai musim panas. Sakura mengangguk dan membuka payungnya.

Tepat ketika Sakura membuka pintu kedai, Gaara baru saja turun dari mobil sedan putih milik ibunya. Ia memakai payung biru dan mendekati Sakura.

"Ibumu menyuruhku menjemputmu," ia menyodorkan secarik kertas yang berisi daftar belanjaan. "Supermarket?"

Sakura tertawa, "Dasar ibu. Kau tidak masuk dulu? Ada nenek Chiyo di dalam."

Gaara tampak ragu, lalu ia berjalan menuju mobil dan mengedikkan kepalanya tertanda meyuruh Sakura mengikutinya. "Tidak usahlah," ujarnya.

"Kau bisa menyetir? Aku sedikit mengantuk."

Sakura menangkap kunci mobil yang dilempar Gaara. "Lumayan. Aku hanya menabrak pagar dua kali. Tapi setidaknya lebih baik daripada seorang pengemudi yang sedang mengantuk," katanya seraya masuk ke kursi pengemudi.

Gaara melongo, tapi dirinya benar-benar mengantuk dan berharap Sakura tidak menabrak apa-apa kali ini.

Gaara benar-benar tertidur dalam perjalanan menuju supermarket. Hujan di luar dan dingnnya AC turut membuat mata Sakura berat. Untungnya kali ini Sakura bisa mengemudi dengan mulus, meski kakinya pegal setengah mati karena menginjak kopling sialan yang sangat keras.

Sakura nyaris meninggalkan Gaara di tempat parkir ketika Gaara akhirnya terbangun dan mengikutinya. Ia mengambil keranjangnya sendiri sementara Sakura membawa kereta dorong.

Sakura dengan tekun memilih sayuran dan bahan-bahan makanan yang dititipkan ibunya. Gaara mengikutinya di belakang sambil memborong beberapa peralatan mandi dan kudapan kesukaannya. Mereka tidak bercakap sepatah kata pun selama berbelanja, tidak sampai Gaara memasukkan lima cup puding ke dalam keranjangnya.

"Puding? Orang seperti dirimu?"

Gaara angkat bahu. "Sesukaku. Kau tidak beli sarung tinju sekalian?"

Sakura menonjok pelan lengan Gaara sebelum kabur membawa kereta dorongnya ke meja kasir.

"Hmph."


Parkir Basement Konoha Mart, 4:57 PM.

Meski sedikit menyebalkan, Gaara sedikit berguna pada hari ini. Ia menjemput Sakura, juga membawakan keresek yang paling besar dan berat untuknya. Tak disangka-sangka, ia penurut juga. Mau disuruh-suruh oleh ibunya atau pamannya. Well, bukankah anak yang baik harus seperti itu?

"Uh, aku lupa dimana aku memarkirkan mobil. Karcis parkir, dimana kau?" Sakura mendecak sambil merogoh-rogoh tasnya.

Gaara menghela napas. Ia berjalan duluan menunjukkan jalan. Sakura yang sibuk mencari karcis parkir di tasnya buru-buru mengikutinya.

"Kenapa terburu-buru begitu, hei, rambut merah?"

Sontak keduanya memalingkan muka ke arah sumber suara. Mata Gaara menyipit untuk melihat orang itu lebih jelas. Mereka yakin yang pria misterius maksud adalah dirinya. Atau bisa saja Sakura, mengingat warna rambutnya yang senada.

Seorang pria berambut pirang panjang dan seorang pria bungkuk muncul dari balik pilar. Wajahnya tersamarkan karena gelap. Keduanya bisa dipastikan memakai jubah hitam, dan Sakura yakin bahwa mereka bukan orang baik-baik dari gelagatnya. Semacam jambret atau penculik?

Gaara merentangkan sebelah tangan kirinya untuk menahan Sakura maju. "Diam di belakangku."

Sakura menurut dan menelan ludah. "Kau benar, seharusnya tadi aku membeli sarung tinju."

Meski Sakura bisa berkelahi, ini adalah kali pertamanya ia bertemu lawan langsung. Biasanya ia hanya bergulat dengan samsaknya. Ia menatap Gaara yang berwajah keras.

Ia memperhatikan pria bungkuk itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sesuatu yang mengkilap ketika tertimpa cahaya temaram lampu. Sakura merasakan jantungnya berdebar.

Sakura menghimpitkan badannya ke dekat Gaara dan berkata pelan, tanpa mengalihkan pandangan pada dua orang berbahaya itu. "Gaara, aku bersumpah lelaki itu baru saja mengeluarkan pisau."

Gaara mengepalkan tangnnya, tinjunya siap melayang kapanpun ia mau.

Paman, orang asing macam apakah yang kau bawa ke rumahku...?


To Be Continued...


A/N: Whoooa! Mohon maaf atas apdetnya yang sangat lama! Urusan SNMPTN dan kawan-kawannya drives me crazy pisan aduh maaf. Doakan, beberapa hari lagi hasilnya diumumkan, saudara-saudara. #curcol

Eniwei, semoga suka dengan kelanjutannya. Di sini muncul OC, Tenzin dan Mamoru. Jangan bayangkan Tenzin sebagai lelaki tua botak dari kartun Avatar Korra, ya! Saya cuma pinjem namanya doang karena bagus, hihi. Bayangkan Tenzin dengan perangai Uncle Bumi, oke? :P Nantinya dia akan punya peran besar di penpik ini, hehe.

Genre-nya pun sudah saya ganti ke Romance-Suspense. Meski sebenernya nggak suspense-suspense amat sih :P

Terima kasih telah membaca! Nantikan kelanjutannya~

Jangan lupa review ;)