A/N: Pertama, mohon maaf atas keterlambatannya! Kayaknya udah setahun lebih... hehe. #keplaks
Ya sudah, enjoy saja, semoga tidak mengecewakan! ^^
One Fist Away
~A Naruto fanfiction by Karupin.69~
Disclaimer: Masashi Kishimoto
#3
Suara sepatu bot berat pria berambut pirang itu terdengar jelas dan bergema ringan di parkiran basemen yang luas ini. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara, dan yang terdengar hanyalah dengungan blower dan decitan ban dari satu-dua mobil yang lewat dari kejauhan.
Gaara masih berdiri dengan tangan terkepal—kali ini dengan kuda-kuda. Sakura tak berani bergerak sedikit pun. Yang bisa ia lakukan hanyalah berharap bahwa dirinya tidak akan mati konyol karena dijambret preman kampung atau semacamnya.
Pria brambut pirang itu mendekati Gaara sambil menyeringai. "Kau tidak perlu setegang itu, hm… Gaara-kun."
Sakura mengernyit, lalu melayangkan tatapan ternyata-kau-kenal-mereka pada Gaara.
"Apa maumu, Deidara." Kepalan tangan Gaara semakin erat.
"Sudah kubilang, kali ini kau tenang saja, hm. Aku tidak akan berbuat macam-macam. Terlebih," katanya sambil mendelik pada Sakura, "kau sedang ada muatan, hm?"
Sakura menatap galak pada pria bernama Deidara. Deidara mendekat satu langkah dan menjulurkan kepalanya ke arah Sakura. Sakura menghindari tatapan matanya, matanya tertuju pada salah satu tangan Deidara yang memegang belati kecil. Ia menahan napas.
"Cewekmu manis juga, Gaara-kun. Manis sekali, sampai-sampai aku muak melihatnya. Mungkin…" Deidara mengangkat tangannya yang bebas, jemarinya hanya beberapa senti dari pipi Sakura. Sakura menegang, menahan napas sambil mengepalkan tangan. Ia ingin sekali meninjunya, tapi pamannya sering sekali bilang; jangan memulai perkelahian dengan orang yang bersenjata sedangkan kau tidak. Maka ia hanya diam, berharap si brengsek ini tidak berbuat macam-macam padanya.
"…Mungkin, satu goresan di pipinya akan menjadi hiasan yang indah untuknya?" Kemudian ia menjulurkan lidahnya dan berlagak seperti sedang menjilat pipi Sakura dan mulai menggerakkan tangan yang satunya lagi—yang memegang belati.
Sebelum ujung pisaunya menyentuh pipi Sakura, Gaara sudah melayangkan tinjunya ke dagu Deidara dan membuat pisau itu terlepas dari tangannya. Pisau itu jatuh terkelontang, entah ke mana. Deidara terjembap, membungkuk memegangi dagunya.
"Deidara—kau baru saja berjanji kau tidak akan macam-macam. Dan gadis ini tidak ada hubungannya dengan semua itu."
Kawan Deidara yang sedari tadi diam hendak maju, namun Deidara menghentikannya. "Ha!" Ia terbahak. "Aku hanya bercanda, tahu! Tenang saja, nona manis, aku tidak tertarik pada bocah sepertimu. Tahu tidak, kau, punyamu itu, masih sangat kecil, hm."
Sakura melangkah mundur, Gaara memegangi lengannya. Kakinya lemas. Sakura menatap nanar pada Deidara. Berani mendekat selangkah lagi, ia akan melayangkan botol kecapnya jika perlu.
Ketika Sakura mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling, ia baru sadar bahwa Deidara dan kawannya tidak sendiri. Di balik pilar, ia menemukan siluet gelap seseorang yang sedang memperhatikan mereka. Dan tidak hanya orang itu saja, tapi juga beberapa orang lain dengan jarak agak berjauhan.
"Gaara, kita dikepung."
Gaara melihat sekeliling, menggumam sumpah pelan. "Bagaimana kau menemukan kami?"
"Oh, gampang saja, hm. Selama kau punya banyak massa, tidak ada yang tidak diketahui." Deidara mengusap-ngusap dagunya, lalu berjalan ke mobil terdekat dan berkaca di sana. "Ah, dagu indahku…"
"Katakan apa yang kaumau, lalu pergilah."
"Hmm, bagaimana, ya. Sebenarnya kuharap aku bertemu dengannya juga. Tapi aku malah bertemu dengan bocah seperti kalian. Kau bisa bilang kepadanya untuk, yah, kau tahu apa, Gaara-kun. Kami tak perlu menjelaskannya lagi. Kalian tau percis apa yang kami inginkan, bukan?"
Pria bungkuk di sebelah Deidara yang sedari tadi diam kini merogoh sesuatu pada saku jubahnya. Ia melemparkan kotak kecil tipis bersampul kertas coklat pada Gaara. Ia menangkapnya, lalu memasukkan benda itu ke saku jaketnya tanpa meliriknya sedikitpun.
"Itu salam dari bosku," tukas Deidara. "Sekarang, kami undur diri. Sampai jumpa, Manis!" Ia berkedip pada Sakura, melambaikan tangan seraya berbalik, diikuti oleh si pria bungkuk.
Setelah memastikan dua orang itu dan kawan-kawannya yang mengepung mereka hilang dari pandangan, Sakura baru berani mengambil napas lagi. Untunglah mereka tidak benar-benar berkelahi. Lagipula, apa yang dilakukan sekuriti?! Mengapa tidak satupun menyadari ada kejadian seperti ini, meski ini di tempat parkir basemen?
Sakura mendelik pada Gaara, sudah siap melontarkan protes. "Kau—"
"Kita harus pergi." Gaara mengambil kunci mobil di tangan Sakura dan berjalan ke mobil mereka.
Sakura mengejarnya, "He-hei! Jelaskan dulu apa yang terjadi baru—" Ia meraih tangan Gaara, hendak merampas kunci mobilnya. Tapi yang ia temukan di dalamnya adalah kunci dengan bercak darah…
"Tanganmu…"
"Ah. Pisau tadi," Gaara tidak ambil risau, karena untuk sekarang, rasa perih di tangan kanannya bukan apa-apa baginya. Ia malah mengambil kuncinya lagi dari tangan Sakura. "Aku yang menyetir. Mereka bisa saja mengikuti atau mengejar kita, dan aku tidak ingin dikejar dengan menaiki mobil yang dikemudikan seorang cewek yang bahkan tidak berani menyalip." Gaara memutar kunci mobil dan membukakan pintu untuk Sakura. "Masuklah. Untuk sekarang kau harus percaya padaku."
Sakura menyilangkan tangannya di depan dada. "Bagaimana aku bisa percaya padamu setelah kejadian barusan?"
Gaara mengangkat bahu, "Karena aku baru saja menyelamatkan pipimu dari goresan pisau?"
Sakura memutar bola matanya, dengan ogah-ogahan masuk dan meletakkan kantong belakangnya ke jok belakang dengan kasar, lalu memasang sabuk pengaman. Ia mengeluarkan saputangan dari kantong celananya dan menyodorkannya pada Gaara yang sudah duduk di kursi pengemudi.
"Setidaknya jangan nodai setirnya."
Meski penasaran setengah mati, Sakura tak berani buka mulut untuk sekedar bertanya. Bibirnya terkatup rapat selama perjalanan pulang, sambil mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat. Tapi setidaknya, Sakura bisa sedikit tenang karena dia tahu dia tidak sedang diculik oleh Gaara—ia mengemudi dengan kecepatan normal, percis ke arah rumahnya, mengikuti arah yang ditunjukkan GPS.
Meski begitu, dahi Sakura tetap berkerut. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang ia pikirkan soal Gaara. Apakah Gaara seorang buronan? Apakah ia pembunuh bayaran? Atau hanya boneka yang—siapa tadi, Sandara atau Deidara atau siapalah—dipergunakan untuk melakukan suatu misi? Tapi apa tujuan mereka? Tujuan Gaara tinggal di Konoha? Bersama Tenzin? Bersama Sakura? Ibu? Mamoru?
Sakura menghela napas panjang. Ia memperhatikan jalanan yang basah karena hujan tadi. Langit tak lagi mendung—kelabu dan dinginnya pindah ke lelaki yang duduk di sebelahnya. Gaara. Sakura melirik ke arahnya. Kalau dilihat-lihat, ia tidak seperti orang jahat. Mungkin hanya rambut merahnya saja yang membuat ia terkesa nakal. Kulitnya pucat, dan matanya sayu. Meski dikelilingi lingkaran hitam lantaran insomnia, matanya tak menunjukkan bahwa ia punya suatu motif membahayakan. Tapi entahlah, Sakura tak mungkin menilai orang hanya dari tatapan matanya saja. Apalagi ia baru mengenalnya selama beberapa hari.
Gaara tampak awas. Setiap tiga menit ia mengecek kaca spion untuk memastikan bahwa mereka tidak diikuti siapapun. Mulutnya tidak bicara apapun selain menanyakan arah pada Sakura. Selain dari itu, ia hanya mengemudi dalam diam, menyalip mobil-mobil yang bisa ia lewati, dan mengejar lampu hijau di perempatan. Begitu tiba di rumah pun, dirinya langsung menghilang ke basement setelah menaruh barang belanjaan di dapur.
Hal pertama yang Sakura rencanakan begitu tiba di rumah adalah mencari Tenzin atau ibunya dan menceritakan semuanya. Tetapi yang ia lihat begitu masuk ke rumah adalah paman, ibu, dan sepupunya yang sedang tertawa-tawa dan saling berangkulan di depan televisi.
Ah.
Sudah lama ia tidak melihat gambar "keluarga" seperti ini. Maka sepertinya ia harus mengurungkan niatnya.
Semoga kejadian tadi tidak ada hubungannya dengan kita…
Siang hari, Konoha Koukou...
Seperti biasa, waktu istirahat di kelas Sakura adalah Waktu Bagian Bergosip dengan Ino Yamanaka sebagai host-nya. Sejak tadi ia sudah rebut-ribut bercerita tentang junior baru mereka, tentang siapa yang baru putus dengan siapa, sampai gosip di ruang guru. Sahabatnya yang satu ini memang luar biasa. Entah dia berkeliling mencari tahu, atau telinganya memang ia "duplikasisasi" lalu ia pasang di seluruh penjuru sekolah.
Setelah sesi beritahu-semua-orang selesai, Ino menarik Sakura untuk mengikutinya ke kamar mandi. Ia berkedip, meminta kabar terbaru dari Sakura.
"Jadii, apa kau sudah menemui Lee?"
Sakura menepuk jidatnya. Ino langsung mencibir dan mencubitnya. "Haah, kau ini 'gimana sih. Aku sudah terlanjur bilang pada Lee bahwa kau sendiri yang akan menemuinya. Meski aku tidak bilang bahwa kau akan menolaknya, tentu saja."
"Serius, aku benar-benar lupa. Padahal Lee orang baik-baik. Aku jadi tak tega."
Ino mengangguk setuju. "Lagipula, kalau saja level Lee sedikiit saja lebih oke dari Sasuke," katanya sambil mengibas poninya, "mungkin suatu hari kau menaruh minat padanya. Benar ka—ah." Begitu melihat muka datar Sakura, Ino langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Maaf. Nama yang terlarang," Ino yang sedari tadi merangkul Sakura melepaskannya perlahan, "Yamanaka undur diri…"
Sakura nyengir dan mencubit Ino. "Aku hanya bercanda, Ino-babi. Lagipula aku sudah lupa."
"Ooh, benarkah? Kalau begitu kau tidak akan gamang lagi kalau kuberitahu kabar yang satu ini?"
Sakura mengangkat bahu. "Coba saja,"
Mereka berdua baru saja kembali dari toilet ketika ia mendengar ribut-ribut di kelasnya. Suara teman-teman perempuannya, terutama Karin, terdengar lebih keras ketika ia hampir sampai. Ia tercengang ketika ia mendapati Gaara sedang dikerubungi oleh teman-temannya di ambang pintu.
Sakura berjalan mendekat, tanpa disadari seorangpun kecuali Gaara.
Ia mengeluarkan ekspresi bersyukur ketika melihat Sakura—meski yang dilakukannya adalah berkacak pinggang—dan menatapnya untuk meminta pertolongan.
Ketika Karin menyadari Sakura berdiri di belakangnya, ia langsung menyeret Sakura ke tengah, "Aha, Sakura! Mengapa kau tidak pernah bilang kalau kau punya sepupu setampan ini? Hmmm?"
Sakura mengangkat kedua alisnya dan kembali menatap Gaara.
Yang ditatap hanya mengangkat bahu sambil berusaha menjauhkan Karin dari sisinya.
"Ah, apa aku harus memohon kepada guru-guru agar kau ditempatkan di kelas kami?" kata Karin manja sambil meraih lengan Gaara. Seketika itu Sakura langsung menerobos teman-temannya yang melingkari Gaara dan menariknya.
"Ternyata susah juga punya sepupu seperti dirimu. Apa yang kau lakukan di sini? Lagipula, apa itu?" oceh Sakura sambil melihat Gaara dari atas sampai bawah. Ia mengenakan gakuran sekolahnya. Gaara, mau tak mau harus Sakura akui, tampak keren dengan jas cokelat tua yang tak dikancing, kemeja putih yang tak dimasukkan dengan rapi pula, dan dasi yang asal-asalan ia simpul.
Yang dicereweti malah diam saja sambil sesekali melihat-lihat sekeliling. Mereka berjalan-jalan tak tentu arah mengelilingi sekolah, lalu akhirnya naik ke atap sekolah yang sepi dan berangin.
"Kau tidak masuk kelas?"
"Tidak sampai aku tahu kenapa kau ada di sini, Gaara."
Gaara menyugar rambutnya yang berantakan karena angin ke belakang. "Bukankah sudah jelas? Mulai hari ini aku bersekolah di sini. Kemarin pamanmu-yang para guru kira adalah ayahku-mengurus administrasinya."
"Sial. Setiap hari harus melihatmu. Dan jangan bilang kau sekelas denganku…?"
Gaara menggeleng. "Lagipula teman sekelasmu menyeramkan. Yang berambut merah tadi bilang aku dan dia berjodoh karena rambut kami sama-sama merah."
Sakura memutar matanya. "Karin memang agak sinting. Aku tidak kaget dia bilang begitu padamu."
Gaara berjongkok, menyender pada tembok dan memainkan kerikil yang ada di dekat kakinya. Sakura masih melipat tangannya di atas pagar kawat, melihat anak kelas sepuluh bermain dodge ball di lapangan bawah.
Ia akhirnya berbalik dan memperhatikan Gaara yang berjongkok di seberangnya. Pada saat itu Sakura menyadari tangan Gaara yang dililiti sapu tangan dengan motif familiar. Saputangan miliknya.
"Ah, aku lupa tanganmu. Sudah sembuhkah?" Ia menghampirinya dan refleks meraih pergelangan tangan Gaara, melepas saputangannya. Luka kemarin memang tidak dalam, hanya tergores saja, tapi Gaara yang cuek ini bahkan sepertinya tidak membersihkannya. Bekas lukanya jadi menghitam, darah kering menempel di sapu tangannya.
Sakura mengeluarkan obat merah dan plester dari dalam saku roknya, lalu menekuni luka Gaara itu.
"Wah, kau Doraemon."
"Bukan, aku kotak P3K berjalan."
Untuk beberapa saat, mereka terdiam. Gaara lah yang angkat bicara.
"Bukankah seharusnya kau sebal padaku, Sakura?"
Sakura yang sedang menunduk langsung mengangkat kepalanya dan menatap Gaara. Baru kali ini ia memanggil namanya langsung. Awalnya ia ingin protes untuk tak usah sok akrab dengannya, tetapi sebagai gantinya, ia hanya bilang, "Sebal karena kau menyelamatkan pipiku?"
Gaara menyunggingkan sebelah bibirnya meski sangat samar, yang membuat Sakura ikut tersenyum juga.
"Dengan begini, utangku sudah lunas. Tinggal kau yang belum membayar utang ceritamu."
"Soal...?"
"Tentu saja tentang pria bernama Deidara itu!"
Sakura melipat kakinya, duduk manis dan bersiap mendengarkan Gaara yang hanya bisa pasrah. Tetapi, baru saja kata pertama meluncur di bibirnya, suara bersin seseorang di belakang mereka membuat keduanya kaget.
Ternyata, di balik tembok di sisi lainnya, terdengar suara beberapa langkah kaki. Naruto muncul dari baliknya, sama kagetnya seperti Sakura. Mereka baru saja naik ke atap. "Oh, Sakura, kau mau merokok juga?"
Sakura mengernyit. Di belakang Naruto, ada Shikamaru, Kiba, dan Sai. Shikamaru memegang sebungkus rokok. Lalu Sakura mengerti. "Ah, jadi 'markas' kalian itu di sini?"
"Yeah, dan kau menempati tempat kami."
Sakura mencibir dan bergeser, menyuruh mereka duduk di dekatnya.
Kiba dan Naruto langsung duduk di sebelah Gaara, berkenalan. "Ternyata kau yang disebut-sebut sebagai murid baru yang cool itu? Haa, aku tidak mengerti selera cewek-cewek!" Komentar Kiba sambil menyalakan rokoknya.
"Kau mau?" Shikamaru yang sedari tadi diam, menyodorkan bungkus rokok pada Gaara. Ia berbaring di lantai, melipat tangannya untuk dijadikan bantal.
"Melihat awan lagi, Shikamaru?" Goda Sakura sambil menyenggol kaki Shikamaru dengan kakinya.
"Berisik,"
Dengan agak canggung, akhirnya Gaara mengambil sebatang rokok putih dari Shikamaru, lalu menghisapnya. Meski pertamanya terbatuk, ia mengisapnya lagi untuk kedua kalinya. "Manis…"
Shikamaru nyengir, "Ya, kan? Akan terasa manis di bibirmu. Ini rokok impor, namanya Garam(1)."
Sakura senyum sendiri melihat tingkah laku teman-teman mereka. Entah kenapa, ia merasa lega sekarang Gaara sudah punya beberapa kenalan—meski malah mengajarinya hal-hal yang buruk.
Naruto menyikutnya dan bicara pada Sakura dengan suara pelan, "Oi, Sakura-chan, kemarin Sasuke menghubungiku." Sakura langsung duduk tegak ketika mendengar nama itu. "Ia bilang, ia sedang sibuk membantu kakaknya mengurus perusahaan atau lembaga atau apalah, yang ia sebut-sebut sebagai Akatsuki."
Gaara yang mendengar Naruto berbicara langsung menoleh padanya. "Akatsuki?"
Naruto mengangguk. "Iya, kau tahu?"
Gaara terdiam sebentar, lalu menggeleng.
"Nah," lanjut Naruto pada Sakura, "tidakkah seharusnya kita menemuinya? Memangnya kau tidak kangen padanya? Aku rindu masa-masa bocah kita, waktu kita masih ingusan du—huatsyiii!"
Sakura menjitak Naruto di kepala. "Kau juga sampai sekarang masih ingusan, Naruto." Sakura berdiri, merogoh saku ajaibnya lagi dan melemparkan botol minyak kayu putih pada Naruto. "Yah, entahlah, kau duluan pergi saja kalau kau memang mau menemuinya."
Naruto hanya menatapnya sebal sambil mengusap kepalanya.
Sakura berkacak pinggang sekarang. "Aku pergi. Di sini lama-lama bikin rambutku bau rokok. Tenang saja, aku tak akan melapor siapapun." Ia menoleh pada Gaara, "Kau jangan meracau."
Gaara melambai malas, kembali mengobrol dengan Shikamaru dan Kiba.
"Souka, jadi mereka muncul lagi..." Tenzin menghela napas, kemudian mengempaskan dirinya di sofa. Ia menggengam sekeping CD polos, memutar-mutarnya.
"Maaf baru menyerahkannya kepadamu, aku harus memastikan CD itu bukan alat pelacak. Jadi aku harus membuka CD itu pertama kali di tempat lain."
"Aku mengerti, Gaara-kun. Hanya saja, aku tidak menyangka mereka bisa berbuat jauh seperti ini."
Gaara mengangguk setuju. "Apa yang harus kita lakukan, Sensei?"
Tenzin menimang-nimang. "Mengabaikannya dan mencari klien baru yang sedikit lebih normal, atau menyelesaikannya secepat mungkin seperti yang mereka minta agar kita tidak punya urusan lagi."
Gaara termenung. "Apa kita... telah berbuat kesalahan?"
"Kuharap tidak. Aku tidak keberatan berbisnis dengan siapapun—selama tidak disalahgunakan."
"Sebenarnya..." ia ragu untuk mengucapkannya, "sebenarnya itulah yang sangat saya khawatirkan. Ah, dan kemarin lusa ada yang menghubungiku. Dia juga tertarik dengan itu. Katanya ia bersedia mengeluarkan kocek berapapun untuk—"
Tenzin tertawa sinis, "Gaara-kun," Gaara berhenti dan menatap lekat gurunya, sekaligus orang yang sudah ia anggap sebagai walinya sendiri. "Terkadang aku suka bertanya-tanya, apa aku melakukan hal yang benar? Orang-orang datang berbondong-bondong demi mendapatkan benda itu. Dan tidak sedikit di antara mereka yang... yang bertampang kriminal. Aku sengaja pindah ke Konoha untuk menghindari orang-orang semacam itu di Suna. Tetapi mereka benar-benar serius. Aku tak menyangka mereka sampai mengejarku kemari." Tenzin menghela napas. "Kau tahu, uang yang kukembalikan waktu itu malah kembali utuh masuk rekeningku."
Gaara membuka mulutnya, berniat berkomentar atas sesuatu yang baru ia ketahui namun ia urungkan. Hening melanda selama beberapa saat.
"Gaara-kun, katakan padaku, haruskah aku melanjutkan proyek ini? Bolehkah orang-orang menikmati ciptaanku yang—"
"Yang apa, Paman?"
Suara jernih Sakura dari ambang pintu memotong kalimat Tenzin. Pamannya terkesiap, kemudian duduk tegak di sofanya.
"Bukan... Bukan apa-apa. Makan malam sudah siap, huh? Ahahaha, aku lapar!" Tenzin mendeham dan melirik Gaara, "Ayo, Gaara-kun."
Sakura tersenyum pada pamannya ketika mereka berpapasan, meski kernyitan di dahinya tak bisa menyembunyikan rasa penasaran atas potongan kalimat barusan yang tak sengaja ia dengar.
Begitu Gaara menghampirinya, Sakura melipat tangannya di depan dada, menghalangi jalan Gaara. Senyumannya tadi sudah melayang entah ke mana. Ia mendesis, "Sepertinya kau punya satu cerita lagi untukku, Gaara-kun."
Usai makan malam…
Gaara duduk tegak di sofa di kamar Sakrua. Sebelum Gaara sempat kabur dan mengunci diri di kamernya, Sakura menyeretnya ke kamarnya. Sekarang ia berdiri di hadapan Gaara sambil berkacak pinggang.
"Kau tidak ada hubungannya dengan—"
"Bagaimana aku bisa tidak berpikir seperti itu?! Kau tidak ingat aku juga ada di sana ketika kita diserang? Aku sudah terlibat. Aku tidak tahu orang macam apa kau ini," lalu ia mengingat percakapan di basemen tadi, "atau bagaimana sebenarnya pamanku itu."
Gaara menghela napas. "Baikla Aku dan pamanmu sedang… membuat sesuatu. Dan kami sedang mencari tahu tentang—" tiba-tiba Gaara teringat sesuatu yang tadi ia obrolkan bersama Naruto dan kawan-kawan di atap. "Sebenarnya aku ingin mencari tahu sesuatu, dan kupikir kau sedikit tahu tentang itu."
"Lalu…?"
"Jika kau membantuku—tanpa mengadu pada siapapun, maka nanti aku akan memberitahu semuanya padamu."
Sakura terduduk di kasur. Ia menimang-nimang.
"Baiklah." Katanya akhirnya. "Apa yang ingin kau ketahui?"
Gaara meraih spidol merah dan kertas kosong di meja terdekat, lalu mulai menggambar sesuatu yang menggumpal dengan arsiran merah di dalamnya, serta empat lambang katakana di bawahnya.
Seketika Sakura mengangguk mengerti. "Aah, kenapa kau tidak bilang dari tadi? Aku tahu harus kepada siapa kita berguru." Ia menyambar ponselnya yang tergeletak di kasur, menekan satu tombol speed dial.
"Ino? Aku butuh bantuanmu. Dan mungkin sedikit pinjaman gaun pesta..."
Bersambung...
A/N: Yeah, beginilah jadinya. Mudah-mudahan ada yang bisa menebak-nebak apa yang sebenarnya Gaara lakukan :P Saya sempet kuatir yang baca malah pada lupa cerita sebelumnya karena kelamaan update. Semoga nanti-nanti tidak kelamaan, doakan semoga tugas-tugas tidak terlalu banyak jadi bisa ngetik dengan lancat :)) Tunggu kelanjutannya, ya. Jangan lupa review! ^^
