Maaf baru dilanjutin .
Kemaren2 sibuk #sibuk atau malas sih -_-
Males sih. Moodnya ga dapet2.
Mudah2n bisa ngelanjutin dengan baik.


Classique

Chapter 6

(Sasuke's Focus)

240 jam menuju kehari pertunangan NejiNaru

=Normal pov=

"Kau yakin kau baik-baik saja, Sasuke?" sambil melihat sahabatnya yang kelihatan sangat pucat. "Dirimu berantakan." Lanjutnya lagi.

"Hn"

"Hei hei…" teriak salah satu siswi yang tertangkap telingan SasuShika. "Naruto berhenti sekolah." Lanjutnya lagi sontak membulatkan mata SasuShika.

.

.

.

(baca dari sini dengerin lagunya Enya: Exile, diulang2)

"Apa aku seburuk itu?" tanya Sasuke saat sedang bersantai dengan Shikamaru diatap sekolah sepulang sekolah. "Apakah… Apakah aku sejahat itu?" tanya Sasuke sambil meneteskan air matanya.

Shikamaru hanya terdiam.

"Kenapa? Kenapa?" tanya Sasuke berurai air mata. "Kenapa disaat aku sangat mencintainya dia harus pergi? Kenapa mereka memisahkan kami?"

Shikamaru masih tak menggubris, ia pun ikut menangis melihat keadaan sahabatnya yang sangat menyedihkan.

"Aku…Apakah…"

"Sasuke…"

"Apakah…Apakah mereka tak mengerti perasaanku? Apakah aku begitu keras seperti batu?"

"Sasuke…"

"Apakah…"

Dug…

Satu hantaman keras mendarat diwajah pemuda berkulit pucat itu hingga membuatnya terjatuh kelantai dengan kasar.

"HENTIKAN, SASUKE!" teriak Shikamaru kesal.

Sasuke masih pada posisinya dilantai sementara Shikamaru berjalan menjauhinya. Shikamaru melihat kearah matahari terbenam.

"Jangan menyerah, Sasuke," kata Shikamaru lembut sambil masih memandangi langit merah. "Aku akan membantumu untuk mendapatkan Naruto." Kata Shikamaru sambil berjalan kearah Sasuke. "Aku janji." Lanjut Shikamaru sambil duduk disamping Sasuke.

Sasuke tertunduk lemas.

"Aku akan mendatangi orang tua Naruto." Kata Sasuke tegas sambil bangkit dari kejatuhannya dan berjalan kearah tangga.

"Apa?" tanya Shikamaru terkejut. "Apa kau yakin?"

Sasuke tak menggubrisnya.

'Ini yang sangat aku tidak suka darinya. Dia selalu mengabaikan orang lain.' Batin Shikamaru.

'Naruto, apakah aku seburuk itu?' batin Sasuke sambil mengebutkan motornya.

.

.

.

Tok tok tok…

5detik

7detik

9detik

Ceklek…

"Hm…" Kushina sedikit terkejut melihat kedatangan Sasuke.

"Biarkan aku masuk." Pinta Sasuke lembut kemudian memasuki kediaman Namikaze tanpa menunggu jawaban dari sang empunya.

Sasuke duduk manis disofa tempat biasa ia duduk ketika sedang berkunjung kesitu.

Kushina dapat melihat dengan jelas betapa merah dan bengkaknya mata Sasuke, betapa pucatnya wajahnya yang kini semakin memucat.

Sasuke mengusap-usap matanya, menopangkan tangannya dilututnya. Ia tertunduk lemas.

Hening

Hening

Hening

"Apa ini yang kalian inginkan?" akhirnya Sasuke membuka mulutnya dengan paksa sambil menahan air mata yang sebentar lagi sepertinya akan meluncur bebas dari onyxnya dengan posisi masih tertunduk.

Kushina hanya menatap Sasuke datar.

"Apa kalian tahu sakitnya seperti apa?" tanya Sasuke yang akhirnya mengangkat kepalanya dan melihat datar kearah Kushina. Ia masih sempat tersenyum. Senyuman yang penuh luka.

Tak ada jawaban dari Kushina.

Sasuke kembali menunduk.

Keadaan dirumah itu sangat sepi. Minato sedang berapa dikediaman Hyuga.

"Kenapa?" tanya Sasuke kembali menatap Kushina yang sedari tadi masih menatapnya datar namun kini berganti lirih, perih. "Pertanyaan itu yang selalu menghantuiku?" kata Sasuke sambil beranjak dari duduknya.

Dia melangkahkan kakinya kearah pintu, hendak meninggalkan kediaman Namikaze.

langkahnya terhenti.

"Ini adalah sakit yang sangat sakit yang pernah kualami selama hidupku, Nyonya." Kata Sasuke kemudian benar-benar meninggalkan kediaman Namikaze.

Kushina masih mambatu ditempat duduknya.

'Seharusnya ini tak seperti ini.' batin Kushina. 'Aku melukai hati 2 anak manusia yang benar-benar tengah dililiti cinta.' Lanjutnya kemudian menangis.

Diperjalan kerumahnya, Sasuke hanya menangis saja. Ia mnegendarai motornya dengan kecepatan tinggi.

"Naruto…"

Namanya tersembunyi oleh suara angin yang menusuk telinga Sasuke.

"Kenapa?"

Terlalu banyak luka disana.

Tiba dirumah.

"Sudahlah, otouto," tenang Itachi saat dirinya menyambut kedatangan adiknya. "Kami akan membantumu, ayah dan ibu juga."

Ya, setelah keduanya menjalin kasih, orang tua keduanya sudah merestui hubungan keduannya. Fugaku dan Mikoto juga merasa dikecewakan.

"Lihatlah," kata Itachi sambil mendongakkan kepala Sasuke. "Matamu sudah membengkak. Tidurlah." Lanjutnya sambil mengiring Sasuke ke kamar.

Sama sekali tak ada pembicaraan.

"Akan kubuatkan jus tomat."

"Tidak perlu." Jawab Sasuke serak kemudian membaringkan badannya.

"Apa kau sudah makan?" tanya Itachi sedikit panic. Sudah semanjak mendengar pertunangan NejiNaru, Itachi belum pernah melihat Sasuke memakan sebutir nasipun dirumah dan dia terlihat sangat pucat.

"Bisakah kau tidur dikamar tamu untuk sementara?" tanya Sasuke lembut kemudian menutup penuh seluruh badannya dengan selimut.

"Tenangkan dirimu, Sasuke." Kata Itachi sambil mengelus lembut punggung Sasuke kemudian meninggalkannya.

.

.

.

"Apa Sasuke sudah dirumah, Itachi?" tanya Mikoto setibanya dirumah.

"Iya. Dia sedang beristirahat." Jawab Itachi sambil membuka pintu tamu.

"Kaa-san dan Tou-san akan membantu Sasuke."

Langkah itachi terhenti. Lalu memandangi ibunya.

"ya, sebaiknya seperti itu. Dan minta Sasuke untuk makan, kaa-san." Tambah Itachi yang kemudian benar-benar memasuki kamar tamu.

"Sasuke sudah tidur?" tanya Fugaku setelah dirinya memarkirkan mobilnya digarasi.

"Iya. Kita harus berbicara pada keluarga Namikaze." Tagas Mikoto. "Aku tak ingin melihat anakku seperti ini." lanjutnya lagi sambil meneteskan air mata. "Aku tidak ingin…"

"Sudahlah, Mikoto. Kemarilah." Tenang Fugaku sambil memeluk Mikoto.

Dampak sakit hati yang luar biasa.

.

.

.

"Bukan bayanganmu lagi, Sasuke. Tapi Neji."

Sasuke hanya mematung dikursinya.

"Apa yang salah? Dan kenapa? Itu tak perlu dijawab, Sasuke. Semuanya sudah tau jawabannya. Dan kau, kau adalah orang terakhir yang akan mengetahui jawabannya."

"NARUTO!"

Naruto menghilang dari pandangannya.

"NARUTO!"

Blap…

'Mimpi?' batin Sasuke sambil melihat jam dinding.

Sekarang menunjukan pukul 10 malam. Masih begitu dini untuk tidur bagi pemuda sepertinya. Namun kenyataannya seluruh keluarganya sudah berada dikamar masing-masing.

Karena sudah terbangun dari tidurnya dan malam belum begitu larut, Sasuke memutuskan untuk berjalan keteras yang berada dikamarnya. Ia melihat langit malam yang begitu sepi, tak ada bintang maupun bulan.

Ces…

Lighter dinyalakan.

Sasuke menghisap rokok yang sudah menyala.

"Naruto…" kali ini ia tak menangis.

Mungkin sudah begitu sakit hingga ia tak bisa bersedih lagi. Atau mungkin karena ia benar-benar sudah menyerah. Tidak.

Ia terduduk lemas dilantai, bersandar dipintu yang setengahnya lagi masih tertutup rapat.

"Jangan mempermainkanku, Naruto." Kata Sasuke sambil mengepulkan asap rokoknya keudara. "Apa alasanmu hingga dirimu benar-benar menyerah pada cinta kita?" tanya sasuke datar. "Lihat," katanya lagi sambil tersenyum. "Aku bahkan berbicara sendiri." Lanjutnya lagi.

Sasuke memandang langit malam yang begitu indah, tragis tanpa bintang dan bulan.

"Dan mimpi itu," gumam sasuke. "Apa maksudmu dengan bukan bayanganku melainkan Neji?"

Sasuke kembali mengepulkan asap rokoknya.

"Aku bahkan tak ingin menyakitimu, Naruto." Kata Sasuke kembali meneteskan air matanya. "Tapi kenapa kau yang menyakitiku? Apakah ini balasanmu kepada cintaku? DAMN!" teriak Sasuke yang saat detik itu juga bisa membangunkan Itachi dan orangtuanya.

Ia mematikan rokoknya dan melemparnya kesembarang tempat dan memutuskan untuk kembali ketempat tidurnya.

Tap

Tap

Tap

Tap

Terdengar oleh Sasuke langkah kaki seseorang.

'Naruto?' batinnya.

Bayangan itu sangat mirip dengan perawakan Naruto.

"Naruto?" panggil Sasuke perlahan.

Tak ada jawaban sama sekali. Bayangan itu terus berjalan kesana kemari.

Skak…

Sasuke menangkap bayangan itu. Menangkap.

Iya, dia menangkap sehelai kain hitam yang tergantung dipintu lemarinya.

"terlalu rindukah aku padamu, Naruto?" runtuk lembutnya sambil melepaskan tangkapannya.

Tbc


Kalo lagi ngebut ngetik ya gini jadinya , abal-abal -_-
maaf ye ^^