Chapter 2
Apartement akatsuki pagi hari ini terkesan layaknya kuburan yang tak berpenghuni, tidak ada gurauan, bahkan sapaan antar sesama. Semua anggota sibuk dengan pikirannya masing-masing, kejadian kemarin malam belum benar-benar hilang dari ingatan mereka.
Ting….. ting….. ting…..
Hanya suara dentingan piring dan sendok yang beradu mendominasi acara makan pagi bersama di apartement akatsuki.
"Hah aku benar-benar tidak betah dengan situasi seperti ini un, tidak bisakah kalian bersikap seperti biasa? Kenapa semuanya diam? Memangnya tidak ada yang harus kita bicarakan demi kesuksesan band kita? Bukankah kita lagi-lagi akan mengadakan konser besar 2 mingggu yang akan datang un?" ujar Deidara mencoba mencairkan suasana yang beku layaknya es tersebut.
"Kau masih bisa makan sambil berbicara Dei? Apa kau ingin tersedak?"
"Eh?" Deidara benar-benar terkejut akan pertanyaan yang lebih tepatnya sebuah pernyataan yang terlontar dari mulut Itachi. Tidak hanya Deidara bahkan semua anggota pun secara sepihak menghentikan aktifitas makan mereka. Semuanya tidak menyangka bahwa Itachi yang menyebabkan konflik malam itu ikut angkat bicara. Padahal sebelumnya anggota yang dikenal paling irit berbicara ini tidak mudah berkomentar atau menanggapi gerutuan dari orang lain.
Hening.
"Ada yang salah? Kenapa kalian memandangku seperti itu?"
"Ti..tidak" jawab serempak semua anggota Akatsuki (minus Sasori yang masih mengunyah makanannya dengan wajah yang ia hadapkan ke kiri) sambil tergugup dan mereka pun melanjutkan aktivitas makan mereka yang sempat terganggu.
Dan lagi-lagi itachi menunduk dalam dengan kedua tangannya yang meremas kuat celana yang dipakainya. "Gomenasai minna-san" ujar Itachi.
Sebuah pernyataan yang benar-benar mengejutkan keluar lagi dari mulut Itachi. Pasalnya ini adalah kali pertamanya itachi dapat mengucapkan kata maaf. Mengingat Itachi merupakan seseorang yang mempunyai ego dan harga diri tinggi dan pastinya enggan untuk sekedar mengucapkan kata maaf. Lagi-lagi untuk yang kedua kalinya semua anggota (minus Sasori yang tetap dengan posisinya tadi namun ditambah dengan tangan kiri yang menyangga dagunya) menghentikan aktifitas makan mereka secara sepihak.
"Ehm... Tidak apa Itachi jangan terlalu dipikirkan.", ujar sang ketua mencairkan suasana yang kembali tegang.
"E-eto, maaf telah menumpahkan air pada kepalamu un", ujar Deidara tergugup namun hanya ditanggapi senyuman oleh Itachi.
"Tidak apa-apa Itachi", Hidan menimpali.
Dan begitu seterusnya, semua mengatakan 'tidak apa-apa Itachi'. Kecuali seseorang yang kala itu terlibat perkelahian dengan uchiha sulung ini. Siapa lagi kalau bukan The Kiler Smile of Akatsuki, Akasuna no Sasori. Sasori hanya diam meneruskan aktivitas makannya yang terganggu akibat acara maaf-maafan mendadak layaknya idul fitri ini tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ehem!", Pein pun berdehem cukup keras, menandakan perintah untuk Sasori agar dia merespon permintaan maaf dari Itachi. Karena mengerti akan maksud dari deheman tersebut, Sasori meletakkan sendok pada piringnya dan menoleh ke arah Itachi yang kebetulan memang duduk tepat di samping kanannyanya (yah, itulah alasan kenapa Sasori dari tadi hanya menoleh ke arah samping kiri). Tangan Sasori secara tiba-tiba memegang dagu Itachi.
"Apa masih sakit?", ujar Sasori sambil tangannya menyentuh sudut bibir Itachi yang lecet akibat pukulan yang melayang darinya.
"Sedikit, apa kau mau menambahkannya lagi?
"Haha dasar kau ini", Sasori memukul pelan pundak Itachi. "Jangan mengatakan ingin keluar dari band lagi hey uchiha. Kalau tidak, akan kupastikan wajah tampan khas uchihamu itu babak belur di tanganku. Hahaha, aku memaafkanmu, sahabat kecilku", dan Sasori pun kembali sambil tersenyum.
"Pasti Sasori." Akhirnya Itachi pun turut membalas senyuman sahabatnya itu. Dan mereka pun kembali bercanda dengan saling melayangkan pukulan pelan pada bahu masing-masing sebagai tanda persahabatan yang kembali terjalin. Dan keadaan akatsuki yang sempat menegang kini menghangat kembali.
.
.
.
Sementara itu di sebuah universitas tingggi ilmu komunikasi yang terletak di Konoha, nampak dua orang gadis berambut merah jambu dan kuning sedang menikmati istarahat jam kuliah mereka sambil bersenda gurau layaknyaa mahasisiwi yang tidak memiliki beban apapun.
"Hey Sakura. Kau sudah dengar kalau Akatsuki mempunyai akun My World, kan?" tanya Ino sambil memegang pundak sahabatnya tersebut.
"Tentu saja", ujar Sakura dingin.
"Yak, kau ini kenapa Saku-chan? Dingin sekali huh?"
"Itu salahmu sendiri Ino."
"Salahku? Apa maksudmu?"
"Postinganmu di My World, kenapa kau mengincar ice price? Kau tahu aku penggemar beratnya kan?"
"Hahahaha!" Ino pun tertawa lepas seakan kata-kata Sakura barusan menggelitik perutnya.
"Memang ada yang lucu?", Sakura merasa kali ini dia benar-benar seperti orang bodoh di hadapan Ino.
"Kau lucu sekali Sakura. Postingan seperti itu saja menganggu pikiranmu? Bagaimana kalau ice princemu itu mempunyai seorang PACAR? Bisa-bisa kau bunuh diri hahaha", tawa Ino pun meledak melihat tingkah sabatnya ini layaknya seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan permen atau ice cream. Ino sengaja menekankan kata pacar pada Sakura agar sahabatnya ini tidak terlalu berimajinasi tinggi untuk dapat mngencani seorang selebriti.
"Ino! Awas kau, jangan lari!", Sakura sudah siap dengan kuda-kudanya untuk melayangkan pukulan pada Ino. Sedangkan gadis yang berambut kuning masih saja tertawa keras dan berlari-larian menghindari Sakura yang telah terpancing emosinya dan akhirnya jadilah acara kejar-kejaran antara dua sahabat tersebut.
.
.
.
.
Mari kita kembali ke apartemen akatsuki.
Sasori terus saja memprhatikan kotak berpitakan merah jambu yang ia letakkan pada meja kamarnya, mata Sasori tidak bisa terlepas untuk melihat kado milik temannya itu. Dan akhirnya karena rasa penasaran yang cukup besar bergemuruh di hatinya, Sasori memutuskan untuk membuka kado tersebut. Setelah melihat isinya, mata hazel Sasori membulat sempurna akan isi kado tersebut.
"Apa ini? Sebuah tape recorder?", karena rasa penasaran yang menyelimuti dirinya, Sasori memberanikan diri menekan tombol 'play' pada recorder itu lalu terdengarlah suara gadis dari recorder tersebut.
"Hey ice prince, salam kenal. Namaku Haruno Sakura, bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan Itachi-kun saja? Aku sudah menyukaimu semenjak Akatsuki dibentuk, sebenarnya aku mengirimkan hadiah ini untuk membantumu menyelesaikan masalahmu."
Sasori mengernyitkan sebelah alisnya dan menajamkan pendengarannya. "Membantu menyelesaikan masalah Itachi? Apa maksud gadis ini?", meskipun nampak sedikit heran, Sasori pun tetap mendengarkan lanjutan dari tape recoder tersebut.
"Aku tahu masalahmu mengenai kesulitan berkomunikasi kan? Aku akan mengajarimu cara berkomunikasi yang baik dan benar agar kau tidak canggung di hadapan fansmu. Hahaha, memang terkesan lucu sih, Itachi-kun. Mana mungkin seorang selebriti dewasa dan bukan anak kecil lagi diajari seorang gadis biasa seperti aku ini, tapi itu yang kulihat darimu. Itachi-kun sepertinya kesusahan berkomunikasi dengan orang banyak. Baiklah kita mulai belajarnya, pertama-tama kau harus - (bla bla bla)."
"Hahahaha", gelak tawa Sasori menggema di ruang kamarnya. "Gadis bodoh, bisa-bisanya dia mempunyai ide konyol dan kekanak-kanakan seperti itu. Memangnya Itachi itu bayi yang harus diajari cara berkomunikasi", ujar Sasori sambil memegangi perutnya yang keram akibat tertawa yang berlebihan.
"Begitulah caranya Itachi-kun. Kuharap kau dapat memperaktekkan saranku itu setiap hari. Aku tahu julukanmu sebagai ice prince, namun itu tidak menyebabkan kau benar-benar menjadi seorang pangeran es yang dingin dan beku kan? Oh iya di kotak kadoku itu terdapat alamat berbagai akun pribadiku seperti facebook, twitter, kakaotalk, line, dan akun My World. Kuharap jika kau mempunyai sebuah akun, hubungi aku ya? Kau boleh menghubungiku di akun mana saja untuk mengucapakan rasa terima kasih, hehe. Namun akun favoritku di My World, aku banyak menghabiskan waktu disana. Oke cukup sekian dariku Itachi-kun. Terima kasih telah meluangkan waktumu untuk mendengarkan petuah-petuah dariku. Ganbatte ice prince!"
Setelah mendengarkan secara keseluruhan isi rekaman tersebut, Sasori menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya atas apa yang ditangkap oleh indra pendengarannya barusan. Pasalnya, hadiah seorang fans kepada idolanya pada umumnya sebuah jaket, supplement vitamin, gitar, dan benda-benda berharga lainnya. Namun, berbeda dengan gadis yang mengaku fans dari seorang Uchiha sulung ini, dia memberikan pelatihan cara berkomunikasi, benar-benar hadiah yang tak pernah terpikirkan dari dalam benak Sasori bahwa sahabatnya itu mempunyai fans girl yang unik. Dalam hatinya ia tersenyum, bsebab dibalik keanehan gadis itu dia merupakan fans yang benar-benar memperhatikan tingkah laku seorang Uchiha Itachi, sahabat kecilnya. Dan tangan Sasori tergerak untuk melihat sebuah kertas kecil yang dilipat di dalam kotak berpita merah jambu tersebut berisikan nama akun-akun pribadi milik gadis bernama Haruno Sakura. Lagi- lagi sasori menyunggingkan senyum lebarnya yang lebih tepatnya lagi dia hampir saja tertawa melihat tulisan tangan gadis itu.
"Itachi benar-benar beruntung memiliki fans girl seperti Haruno Sakura, gadis ini menarik dan usahanya untuk mendekati Itachi perlu diacungi lebih dari satu jempol", ujar Sasori senyum-senyum sendiri sambil melipat kertas itu dan mengembalikan recordernya ke tempat semula. Namun pikiran gila menghampiri sasori. Ia kembali membuka kotak merah jambu itu dan menyalin semua akun pribadi milik gadis bermarga Haruno itu
"Ya... Akhirnya aku mempunyai akun-akun miliknya, mungkin suatu saat nanti ini akan berguna. Sore ini juga aku harus memberikan kotak kado ini kepada Itachi, siapa tahu Itachi akan membuka hatinya kembali setelah sekian lama tertutup dan mungkin gadis ceria dari keluarga Haruno ini dapat mencairkan hatinya", batin Sasori tersenyum dari dalam hatinya.
.
.
.
Apartemen Akatsukim kembali sepi siang ini, sebab seluruh anggotanya sedang melaksanakan aktivitas di ruangan pribadi mereka masing-masing. Namun itu tidak berlangsung lama sampai seseorang mengganggu acara siang anggota band ternama ini.
TADAIMAAAA!
Suara seseorang dari balik pintu utama apartemen Akatsuki dengan cukup keras yang dapat memekakkan telinga orang yang mendengarnya. Hal itu sukses membuat seluruh anggota akatsuki keluar dari kamar masing-asing karena mendengar suara aneh yang menggema di sudut-sudut apartemen mereka.
"Ada keributan apa ini? Siapa kau? Bagaimana bisa kau memasuki apartemen kami yang memiliki kata sandi ini, heh?", ujar Hidan yang pertama kali angkat bicara karena merasa terganggu dengan suara yang membuyarkan konsentrasi ibadahnya tersebut. Dan memang Hidan adalah anggota yang paling alim yang menghabiskan waktu senggangnya dengan beribadah sendirian di kamar pribadinya.
"Perkenalkan namaku adalah Tobi. Aku manajer sementara kalian, pengganti dari Kakuzu-sama yang saat ini pergi ke luar negeri karena ada urusan mendadak yang tidak bisa ia tinggalkan. Maaf darinya untuk kalian karena tidak sempat berpamitan. Aku diberi tahu oleh Kakuzu-sama mengenai kata sandi apartemen kalian, itu sebabnya aku dapat masuk kemari. Mohon kerjasamanya", ungkap Tobi dengan watados sambil membungkukkan badannya 90 derajat sebagai tanda persahabatan, budaya khas orang-orang Jepang.
"Jadi begitu? Tapi kau berisik sekali, tidak perlu berteriak-teriak seperti itu un", ujar Deidara yang juga merasa terganggu akan suara dari Tobi.
"Ah.. Gomenasai… Aku hanya merasa bersemangat karena akan memberikan pengumuman penting kepada kalian semua."
"Pengumuman penting apa itu?" ujar Pein yang merasa penasaran tentang pengumuman yang sebentar lagi akan di lontarkan mahluk pendek yang lebih tepat disebut anak kecil daripada seorang manajer pengganti.
"AKU MENDAFTRKAN KALIAN SEMUA DI SITUS MY WORLD", ujar Tobi lantang dan tersenyum puas memperlihatkan gigi-giginya yang tersusun rapi.
"APAAAA?"
Semua anggota kaget dan cengo melihat tingkah laku aneh bin ajaib dari manajer baru mereka tersebut minus Itachi yang hanya diam tanpa ada ekspresi terkejut dalam raut wajahnya, sedangkan Sasori hanya tersenyum sendiri entah apa artinya senyuman itu.
"Tenang- tenang, ini hanya usahaku agar kalian lebih dekat dengan fans. Dan juga kalau kalian aktif dalam sosial media, fans kalian akan semakin besar, percaya padaku", ujar Tobi yang lagi-lagi memamerkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi bak buku-buku yang terawat dalam perpustakaan.
"Ini!", Tobi memberikan selebaran kertas pada masing-masing anggota Akatsuki. "Di kertas itu terdapat nama akun pribadi kalian, dan semua anggota mengetahui akun masing-masing anggota lainnya. Kalian tahu? Followers kalian sudah sangaaaatt banyak", ujar Tobi lebay. Sedangkan yang lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku manajer baru itu.
.
.
"My World ya? Menarik juga" kata Sasori dalam hati.
to be continue
