Annyeong para readers semuaa, author kembali dengan chapter 2, semoga nggak mengecewakan yaaa

Selamat membacaaa :D

Main Cast:

Xi Luhan

Oh Sehun

Other Cast:

EXO Members

NAMANYA LUHAN

Selang beberapa minggu setelah kepindahannya, Sehun mulai sering bermain ke rumah Luhan, maksudnya bukan menemui Luhan tentunya, tapi menemui Jongin yang notabene teman sekelasnya. Jongin dan Sehun sudah mulai akrab tentu saja karena mereka mempunyai hobi yang sama yaitu bermain game, bahkan tak jarang mereka bermain PS sampai malam dan sering kena semprot Kris gara-gara hal itu. Apalagi jika Jongdae, teman sekelas mereka yang memiliki suara cempreng nan berisik ikut bergabung, kemarahan Kris akan semakin menjadi-jadi. Alhasil Kris mendapat julukan angry bird dari si trolling machine Jongdae. Well memang muka Kris mirip dengan tokoh burung pemarah itu sih.

Luhan sih fine-fine saja, mau mereka membuat kegaduhan ataupun meledakkan rumahnya sekalipun dia tidak peduli, asalkan dia bisa sedikit mencuri pandang pada Sehun dan melihat Sehun tertawa dengan indahnya ketika bermain game di ruang tengah rumahnya.

Luhan sampai saat ini masih belum mengakui bahwa dia MUNGKIN menyukai namja berkulit pucat dan berahang runcing itu, yah mungkin ini hanya kekaguman sementara saja, setelah beberapa saat pasti juga hilang kalau ada sesuatu dari Sehun yang membuat dia ilfeel, dia selalu berkata begitu pada dirinya sendiri.

Tapi nyatanya BIG NO, sampai saat ini semua yang Sehun lakukan justru membuat Luhan semakin GILA.

.

.

FLASHBACK

Malam itu, Luhan sedang menonton bola di ruang tengah saat dia mendengar suara berisik beberapa sepeda motor berhenti didepan rumah. Dan beberapa saat kemudian tiga orang namja menyeruak masuk ke dalam rumah.

Yang pertama, adiknya, Jongin.

Kedua, namja berwajah kotak Jongdae.

Ketiga.

Oh Sehun.

OH MY GOD, help me please, kenapa Sehun datang disaat seperti ini, aku sama sekali belum mempersiapkan mental bertemu dengannya, batin Luhan.

"Oi minggir dong noona, kita mau main PS" suara Jongin menyadarkan Luhan dari keterkejutannya.

"Err.. emm iya tentu saja" Luhan kemudian beringsut ke pojok ruangan diikuti tatapan aneh dari Jongin.

Aneh, biasanya kalau sedang nonton bola diganggu dia akan mengamuk dan menghajar si pengganggu habis-habisan, kenapa kali ini dia cuma cengo begini, batin Jongin.

Luhan hanya membatu di pojok ruangan, dia bingung antara ingin pergi karena dia merasa jantungnya mau copot atau bertahan diruangan itu karena tidak mau kehilangan momen sedetikpun memandang Sehun dari dekat. Alhasil dia mendapat tatapan aneh dari ketiga namja tersebut. Tapi Luhan tetap tak beranjak dari style membatunya karena dia tiba-tiba tidak bisa bergerak saking deg-degannya. Poor Luhan.

"Jongin-ah, tolilet dimana? Tiba-tiba perutku sakit nih" Jongdae memecah keheningan dan keawkward-an dengan suara cemprengnya. Jongin menunjuk sebuah pintu dan Jongdae langsung melesat kedalamnya.

Jongin dan Sehun kembali fokus ke layar TV dan menganggap seolah-olah tidak ada makhluk bernama Luhan yang sedang membatu di pojokan.

Drrtt.. drrt..drrt….

Handphone Jongin di atas meja tiba-tiba bergetar dan Jongin secepat kilat mengangkatnya setelah melihat tulisan dilayar,

Kyungsoo Noona Calling..

Beberapa menit kemudian Jongin sudah dengan asiknya mengobrol manja lewat telepon dengan kekasihnya, Kyungsoo, di ruang tamu tanpa memedulikan namja dan yeoja di ruang tengah yang saat ini sama-sama membatu.

Awkward Moment.

Satu menit.

Sepuluh menit.

Jongin sepertinya masih setia dengan handphone-nnya dan Jongdae belum juga keluar dari kamar mandi dan malah terdengar suara-suara aneh didalam sana.

Sehun akhirnya mengalah dan memulai pembicaraan, "Hey noona ayo duduk disini, kau tidak merasa dingin apa sedari tadi duduk dilantai begitu?"

Roh Luhan sepertinya baru saja kembali ke tubuhnya setelah mendengar suara Sehun barusan. Sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal dia akhirnya duduk di sofa, di samping Sehun. Catat, DI SAMPING SEHUN.

Dan Awkward Moment kedua pun terjadi, mereka kembali membatu, hanya kali ini Luhan telah berganti tempat, tidak lagi di pojokan tapi di SAMPING Sehun.

"Ehm.. Jongin sepertinya akan lama mengobrol dengan Kyungsoo" kali ini Luhan yang membuka pembicaraan, tapi tetap tidak berani menatap Sehun.

"Padahal sepertinya tadi siang di sekolah mereka sudah bertemu dan mengobrol lama" Sehun menyahut.

"Asal kau tau saja kalau mereka sudah teleponan itu bisa berabad-abad, bahkan kata Kyungsoo ke kamar mandi saja handphonenya bisa dibawa, ah itu sih modusnya si Jongin saja biar bisa mendengar suara Kyungsoo mandi sembari membayangkan yang tidak-tidak. Dasar bocah gila" Luhan memberanikan diri berbicara panjang lebar untuk menormalkan detak jantungnya.

Sehun terkekeh mendengar perkataan Luhan.

Ya Tuhan, apa Sehun barusan tertawa karenanya? Batin Luhan.

"Ehm.. noona kenapa ekspresimu selalu begitu kalau didekatku? Bahkan ketika dulu pertama kali bertemu kau malah lari segala, kau takut padaku ya?" Sehun bertanya sambil mengernyit.

Luhan kembali teringat kejadian disuatu pagi dimana dia membanting pintu didepan Sehun, dan jangan lupakan juga ketika dia ketahuan mengintip, well itu sangaaaat memalukan.

Ya Tuhaaaan, dia pikir aku takut padanya padahal kan aku su-, Hey NO, aku tidak suka padanya, tidak Luhan tidak, batin Luhan bergejolak.

"Hahaha habisnya mukamu itu seram Sehun-ah karena kau jarang tersenyum" Luhan tertawa kikuk dan membuat alasan sekenanya.

"Well baiklah mulai saat ini aku akan sering tersenyum didepanmu kalau begitu" Sehun berkata sambil tersenyum pada Luhan.

Luhan cengo.

Ya Tuhan apakah aku bermimpi?

FLASHBACK END.

.

.

Semenjak saat bersejarah itu Luhan dan Sehun menjadi agak akrab. Maksudnya sudah tidak se-awkward dulu. Kadang Luhan ikut bermain PS bersama Sehun, walaupun bermain bola di dunia nyata jauh lebih mudah menurutnya, karena dia selalu kalah dari Sehun. Luhan berharap detak jantungnya kian hari akan kian normal ketika berada di dekat Sehun, tapi ternyata nihil, hanya saja sekarang dia sudah bisa bersikap wajar walaupun jantungnya selalu meronta minta keluar ketika berada di dekat namja itu.

.

.

"Noona ayo berangkat denganku saja, daripada kau berjalan kaki"

Pagi itu Sehun menawari Luhan membonceng motornya karena adiknya, Jongin, kakinya terkilir ketika berlatih dance bersama klubnya sehingga dia tidak masuk sekolah, padahal setiap pagi dia selalu berangkat membonceng Jongin.

"Baiklah, tapi ngebut ya, aku tidak suka naik motor pelan-pelan, kurang menantang" Luhan berkata sambil menerima helm yang diulurkan oleh Sehun.

Sehun hanya terkekeh kecil sambil terus memandang Luhan.

SEHUN POV

Entah kenapa kalau didekat Luhan noona aku merasa nyaman.

Apa karena dia mirip noona-ku?

Dengan segala tingkah childish-nya itu, gaya tomboy dan anehnya, kecintaannya pada sepakbola mengingatkanku pada taotao si penggila wushu itu.

Hey aku memang tidak pernah mau memanggilnya noona, bahkan dia yang lebih sering bermanja-manja dan beraegyo padaku, noona macam apa itu?

Hah tapi sekarang aku menyesal tidak pernah menuruti keinginannnya untuk memanggilnya noona. Cepatlah sembuh noona, bogoshippo.

NORMAL POV

Sehun menghela nafas dalam, membuat Luhan mengernyit bingung, "Sehun-ah kau kenapa sih? Daritadi bengong begitu sambil melihatku."

"Hehe tidak apa, hanya saja penampilanmu aneh tau, kenapa kau pakai celana olahraga begitu sih?" Sehun menganggukkan kepalanya ke arah celana olahraga Luhan yang tampak aneh karena dipakai dibalik rok pendek sekolahnya.

"Ah ini, soalnya rok sekolah terlalu pendek kau tau, dan itu menyulitkanku membonceng motor Jongin, jadinya aku memakai ini dan memakai celana itu lebih nyaman daripada pakai rok tau hehe" Luhan menjawab sambil nyengir.

Sehun memperhatikan lagi Luhan dari atas sampai bawah, rambutnya yang diikat ekor kuda, jaket baseball-nya yang kebesaran, dan yang paling aneh adalah celana panjang dibalik roknya itu. Sehun geleng-geleng dan Luhan hanya mempoutkan bibirnya.

"Sudahlah, style begini keren tau, belum ada yang menyamai di dunia ini" Luhan membela diri.

"Kau aneh" kata Sehun singkat dan sukses mendapat hadiah cubitan keras dari Luhan.

Jadi dia menganggapku aneh. Aneh? aku aneh? oke aku memang aneh, batin Luhan.

"Ayo naik noona aneh, kita bisa terlambat" Sehun berkata sambil menaiki motornya.

Luhan membonceng sambil menggaplok punggung Sehun. Diiringi dengan gerutuan Sehun karena kena gaplok, motor mereka melaju di tengah padatnya kota Seoul, dan jantung Luhan juga melaju sama kencangnya dengan motor Sehun.

Apa Sehun bisa merasakan detak janntungku yang berlebihan ini? Luhan blushing sendiri.

.

.

Dikelas Luhan

Seorang yeoja imut bermata rusa tengah menyandarkan kepalanya di mejanya sambil memainkan pulpen ditangannya, sepertinya dia tengah melamun.

"Hey Lu kau kenapa sih? Tidak biasanya kau seperti ini? Kalau jam istirahat begini biasanya kau tidak akan melewatkan waktumu untuk makan dengan porsi kuli dikantin" Yeoja ber-eyeliner menghampiri tempat Luhan dan duduk di sebelahnya.

Luhan mendongakkan kepalanya, "Baekki-ah, apa aku ini aneh?"

"Kalau itu sih kau tanyakan pada kaca besar di ruang dance saja sana- AW sakit tauuu!" yeoja bernama Byun Baekhyun itu mendapat bonus cubitan keras dan deathglare dari Luhan.

"Aku serius bertanya tau, aku frustasi memikirkan ini semua sendiri" Luhan memasang wajah desperate dan kembali menelungkupkan wajahnya di meja.

"YA Lu, siapa juga yang akan memandangmu tidak aneh dengan tampilan celana olahragamu yang mencolok dan sepatu futsalmu itu" Baekhyun memutar bola matanya malas sambil mengaca pada sebuah kaca kecil untuk membetulkan eyeliner-nya.

Luhan kembali mendongak dan menatap Baekhyun, tiba-tiba sebuah ide terlintas dipikirannya.

"Baekki-ah, tolong ajari aku berdandan"

Baekhyun cengo, eyeliner-nya jatuh dengan indahnya dari tangannya.

"Ehm Lu, apa kau lupa meminum obatmu pagi ini?" Baekhyun kena deathglare Luhan lagi gara-gara perkataannya.

"Aishh kau pikir aku gila apa? Aku serius Byun Baekhyuuun, ajari aku berdandan dan memakai pensil-pensil seperti itu, pretty please" Luhan menunjuk eyeliner Baekhyun sambil memasang puppy eyes-nya, atau deer-eyes?

"Aigoo seorang Luhan yang notabene anggota tim sepakbola sekolah, cewek paling tomboy di sekolah, yang paling anti make up di dunia sekarang minta diajari berdandan, ini sebenarnya aku yang salah dengar atau kau yang gila sih Lu?" Baekhyun menatap Luhan tak percaya.

"Hey sudah kubilang aku tidak gila Byun Baekhyun!" Luhan balik menatap tajam Baekhyun.

Baekhyun menatap Luhan sambil menyipitkan matanya yang memang dari awal sudah sipit sehingga semakin sipit, "Kalau kau tidak gila, hanya ada satu kemungkinan lain.."

Luhan memiringkan kepalanya bingung.

"…Kau.. pasti.. jatuh cinta, Lu"

JDEERRRR. Luhan membulatkan matanya sebesar Kyungsoo.

Dia? Jatuh cinta? Kenapa semua orang mengira dia jatuh cinta?

"Baek, apa kalau jatuh cinta itu kau akan merasa jantungmu berdebar hebat ketika berada didekatnya" Luhan bertanya degan cemas.

"Tentu saja Lu, itu ciri-ciri dasar jatuh cinta, astaga yang begitupun kau tak tau, bukankan aku sudah pernah bilang padamu ya?" Sebuah suara menjawab pertanyaan Luhan pada Baekhyun saat Baekhyun sudah membuka mulutnya untuk menjawab. Baekhyun pun menutup mulutnya kembali dengan sebal. Yeoja bermata bulat dan berpipi chubby bernama Do Kyungsoo itu kemudian duduk didepan Luhan dan Baekhyun.

"Kau darimana Kyung? Kau ke kantin tidak mengajakku?" Baekhyun bertanya dengan sinis.

"Hehe mian, tadi aku bertelepon dengan Jongin diluar kelas kemudian Hyeri mengajakku dikantin jadinya aku langsung pergi tanpa mengajakmu. Oia Lu, Jongin sudah mendingan kan? Tadi ditelepon dia mengeluh kakinya sakit sekali dia minta dijenguk dan malah dia memintaku menginap juga dirumahmu untuk menemaninya" Kyungsoo berkata dengan polosnya. Baekhyun cengo dan Luhan mendengus sebal.

"Astaga anak itu, lagi-lagi berkata yang tidak-tidak, akan kupatahkan sekalian nanti kakinya" Kyungsoo dan Baekhyun begidik ngeri mendengar perkataan Luhan.

"Hey Lu kenapa tadi kau tadi membahas soal jantung berdebar dan jatuh cinta? Apa kau sedang jatuh cinta?" Kyungsoo mengalihkan pembicaraan, dia takut Jongin-nya benar-benar akan dipatahkan kakinya oleh Luhan.

Luhan sweatdrop mendengar pertanyaan Kyungsoo.

"Ehm.. ehm.. anu.. itu.." Luhan bingung mau menjawab apa.

"Dengan siapa Lu? Astagaaa seorang Luhan akhirnya jatuh cinta juga, aku turut berbahagiaaa Lu" Kyungsoo bertepuk tangan heboh.

Luhan bingung.

Dia bingung harus menjawab apa.

Bahkan dia belum bisa memastikannya perasaannya sendiri? Apa indikator jatuh cinta itu cuma jantung berdebar? Sebegitu simple-nya?

"Eh kalian, apakah tanda kalau jatuh cinta itu hanya berdebar ketika didekatnya begitu?" Luhan tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.

"Aigoo tentu saja tidak, kau juga akan merasa bahagia jika bertemu dan berbicara dengannya, ingin tahu lebih dan lebih banyak lagi tentang dia, merindukannya jika tidak melihatnya sehari saja, melihat senyumnya cukup untuk menghilangkan rasa lelahmu seharian, mendengar suaranya di telepon, bla bla bla bla bla" Kyungsoo terus menjelaskan panjang lebar sambil membayangkan kekasihnya yang tak lain tak bukan adalah adik Luhan. Baekhyun hanya mendengus dan memutar bola matanya malas.

Sementara Luhan, otaknya terus mengiyakan apa yang Kyungsoo ucapkan.

Jika semua tanda-tanda itu terjadi padanya itu berarti dia..

..benar-benar..

..jatuh cinta?

Pada Oh Sehun?

"Baiklaaah Baekki, ajari aku berdandan, aku juga akan membuatnya jatuh cinta padaku karena dia sudah membuatku jatuh cinta padanya" Luhan berkata dengan mantap sambil menggebrak meja.

Baekhyun dan Kyungsoo cengo.

Sepertinya Luhan benar-benar jatuh cinta, atau dia hanya lupa meminum obatnya saja? Batin Baekhyun dan Kyungsoo.

Luhan sudah mengeluarkan semangat berapi-api bahwa dia akan menjadi gadis cantik, imut, dan lembut sehingga oh Sehun akan jatuh cinta padanya dan mereka akan hidup bahagia selamanya.

Luhan tersenyum sendiri membayangkannya.

Ya, cinta memang bisa membuat seseorang jadi gila.

Dan orang itu bernama Luhan, yang sedang terkena virus cinta untuk pertama kalinya.

.

.

.

MIND TO REVIEW?

GHAMSAHAMNIDA :DD

CHIU CHIU CHIU-