Disclaimer : All ofTwilightfranchise you knows is belongs toStephenie Meyer

Pair :Isabella Swan x Edward Cullen

Rating : T

Genre : Romace & Drama

Timeline :College times

Warning :Totally fanon, Something you thought weird. OOC. OC added.

A/N :This fict wasrepostfrom one of Robert Pattinson's Indonesia fanbase forum in Twitter. Some other chars in this fict is totally fiction. No offense. Sorry for late :D

Thank to justnana98 dan little santa for review ^^

Happy Reading..

-:|Extraordinary Love|:-

Chapter 2

Seakan tak percaya apa yang baru didengarnya, Bella menampar pipinya sendiri, dan itu terasa sakit. Ya, tentu saja sakit, karena ini bukan dalam mimpinya. Itu semua nyata. Jacob mengalami kecelakaan. Ia di rumah sakit sekarang.

Hannah menceritakan sekilas kejadiannya di telepon sambil terisak-isak. Motor Jake terserempet mobil dari arah berlawanan saat dirinya sedang menghindari mobil lain yang berhenti mendadak. Motornya terlempar 5 meter dari posisi semula, namun untungnya Jacob terlempar ke trotoar. Entah apa yang akan terjadi seandainya saja Jacob terlempar ke badan jalan disaat lalu-lintas sedang ramai-ramainya.

Kalut. Itulah yang dirasakan Bella saat ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia cemas tentang keadaan Jacob sekarang. Bagaimana kondisinya sekarang? Apa separah yang kubayangkan? Apa dia sudah siuman? Pertanyaan-pertanyaan itu masih berputar di kepalanya. Hannah langsung menutup telepon setelah menceritakan kejadian itu karena isakannya makin menjadi dan Bella tidak tega untuk bertanya-tanya lagi. Dalam kondisi setengah mengantuk, Bella berlari menuju kamar Cam.

"Cam!"

"Hmm.. Aku baru saja tertidur," jawab Cam sambil menarik selimut dan menutupi kepalanya dengan bantal.

"Ayolah bangun, Cam!"

"Hmm..."

"Cam! Please bangunlah! Aku membutuhkanmu."

"Aku ngantuk sekali, Bella"

"Jake kecelakaan!" ucap Bella dengan nada tidak sabar.

Bagaikan terbangun dari mimpi buruk, Cam langsung terduduk di kasurnya sambil menatap adiknya dengan saksama. "Kau tidak sedang mengigau kan, Bella?"

"Tentu saja tidak, Cam! Baru saja Hannah menelponku memberi kabar ini."

"Lantas, bagaimana kondisinya sekarang? Apakah parah?" tanya Cam khawatir.

"Aku tidak tahu. Hannah menceritakan kejadiannya sekilas sambil menangis sejadi-jadinya, dan dia langsung menutup telponya tanpa menceritakan kejadiannya lebih jelas."

"Dimana sekarang dia dirawat?"

"Aku juga tidak tahu dimana dia dirawat, bagaimana keadaannya sekarang, dia sudah siuman atau belum."

"Coba hubungi Hannah lagi. Siapa tahu sekarang dia sudah bisa diajak bicara dengan."

Bella menuruti nasihat kakaknya. Ia mengambil ponsel Cam di sebelah tempat tidur dan mencari nomor kontak Hannah. Beberapa saat ia mencoba menghubunginya tetapi hasilnya nihil. Sepertinya Hannah sedang tidak ingin diganggu.

"Bagaimana?" tanya Cam cemas. Bella hanya menggelengkan kepala. Mustahil rasanya menghubungi seseorang yang sedang dilanda kepanikan seperti Hannah. Hannah memang gampang panik jika menghadapi sesuatu.

"Mengapa kau begitu terlihat sangat cemas dibandingkan aku?" tanya Bella penasaran pada Cam.

"Kau ini bagaimana sih? Dia kan teman kita. Apa kau tidak panik mendengar ini?" belum selesai Cam meneruskan kalimatnya Bella sudah memotongnya. "Tentu saja aku panik. Tapi ..."

"Oh, Bella! Apa kau tidak sadar? Dia itu kan partnermu dalam pementasan dan tiga hari lagi pementasan akan berlangsung. Apa kau sudah lupa?"

Bella baru sadar sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. "Ya Tuhan!" sambil menepuk keningnya. "Aku tidak kepikiran sampai sejauh itu. Ya Tuhan! Bagaimana ini Cam?" ucapnya kali ini lebih cemas. "Antar aku ke rumah sakit, Cam!"

"Kau ini gila ya? Ini sudah larut malam. Lagipula di rumah tidak ada siapa-siapa. Bagaimana jika rumah ini dibobol maling saat kita pergi?" Cam berhiperbola. "Lagipula kau kan tidak tahu dimana ia dirawat. Aku juga ngantuk sekali, Bella."

"Kau terlalu berlebihan."

"Whatever. Lebih baik kau tidur sekarang. Istirahatkan pikiran dan perasaanmu dulu. Besok setelah lebih baik, aku yakin kau akan berpikiran sehat." Cam menyeringai.

"Sial! Kau pikir aku benar-benar gila, ya?"

"Hahahaha... Cepat tidur sana!"

"OK. Goodnight, Cam."

"Night, Bells."

Memang sebaiknya Bella mengikuti saran kakaknya itu. Ia memang harus beristirahat malam ini karena saat ini pikirannya sedang tidak jernih karena kabar buruk itu. Ia harus beristirahat agar besok ia bisa beraktivitas dengan segar bugar. Bella tidak langsung bergegas ke kamarnya. Ia pergi ke dapur untuk mendapatkan segelas susu. Ia pikir itu akan membuatnya dapat tidur lebih nyenyak. Dan benar saja, kelelahannya hari ini dan segelas susu yang diteguknya membuatnya tertidur dengan nyenyak. Namun hati kecilnya tidak sepenuhnya tenang. Tentu saja karena sesuatu yang lebih besar akan terjadi esok.

-:|to be continue|:-

2nd A/N :

So sorry for late update. Dan beribu maaf saya ucapkan untuk pembaca dan pereview atas kesalahan saya dengan tidak menuliskan keterangan TO BE CONTINUE di akhir chapter 1.

Untuk yang bingung soal ending dari chapter kemarin, fict ini belum berakhir. Dan untuk yang menanyakan dimana Edward, sampai chapter ini Edward belum bisa saya tampilkan. Mungkin 2 atau 3 chapter kedepan. Tapi tenang aja, Edward pasti saya tampilkan.

Untuk chapter selanjutnya saya usahakan diupdate secepatnya. Doakan..

Mind to review? ^-^