Disclaimer : All ofTwilightfranchise you knows is belongs toStephenie Meyer
Pair :Isabella Swan x Edward Cullen
Rating : T
Genre : Romace & Drama
Timeline :College times
Warning :Totally fanon, Something you thought weird. OOC. OC added.
A/N :This fict wasrepostfrom one of Robert Pattinson's Indonesia fanbase forum in Twitter. Some other chars in this fict is totally fiction. No offense. Sorry for late :D
Happy Reading..
-:|Extraordinary Love|:-
Chapter 3
Jam dinding menunjukan pukul 06.15 saat Bella terbangun. Terhitung lambat untuk seorang Bella. Biasanya ia bangun lebih awal 15 menit. Tetapi ini masih terhitung wajar karena ia baru memejamkan mata lewat pukul 1 dini hari.
Pagi ini Bella tidak seceria biasanya, mengingat apa yang baru saja ia alami tadi malam. Pikirannya masih dilanda kekhawatiran akan keadaan Jake. Sampai saat ini, ia masih belum bisa menghubungi Hannah dan mengetahui kondisi terakhir dari Jake. Setelah selesai bersiap dari kamarnya, Bella memutusakan untuk sarapan dahulu sebelum ke kampus. Ia merasa kondisinya kurang fit hari ini sehingga perlu asupan energi berlebih. Hari ini ia tidak akan menggunakan mobilnya untuk ke kampus, ia akan ikut bersama mobil kakaknya. Sebenarnya Bella tidak suka bila ke kampus bersama kakaknya, karena biasanya Cam berangkat pada waktu 'injury time' sehingga kadang-kadang ia terlambat masuk kelas. Tetapi untuk hari ini pengecualian. Terlalu riskan untuk mengendarai mobil seorang diri disaat keadaannya yang tidak terlalu baik.
"Cam, kau tidak sarapan dulu?" tanya Renée.
"Tidak, mom. Terima kasih. Aku buru-buru sekali."
"Tidak biasanya kau pergi sepagi ini. Ini masih jam 7, Cam!"
"Kalau aku tidak pergi sekarang, nanti bisa-bisa Bella mencakarku hingga babak belur," ucapnya sambil memelirik geli ke arah adiknya.
"Shut up!" ucap Bella sebal pada Cam. "Dad kemana, mom?"
"Kau lupa ya? Dad kan kemarin tugas ke luar kota."
"Ah, ya! Aku benar-benar lupa segalanya."
"Ada apa denganmu, honey? Kau tampak tidak bersemangat," tanya Renée curiga. Ia sudah menduga ada sesuatu yang tidak biasa pada anaknya itu. Sedari turun dari kamar wajahnya tampak murung.
"Tidak ada apa-apa, om. Aku baik-baik saja," dusta Bella. Bella tidak pandai berbohong. Renée hanya bisa tersenyum. Sepertinya anak gadisnya sedang tidak ingin bercerita padanya.
"Minumlah dulu orange juicemu. Aku sudah menyiapkannya untuk kalian," pinta Renée pada keduanya.
"Oke!" ucap Cam sambil meneguk segelas orange juice. "Aku berangkat dulu, mom! Come on, Bella!"
Bella beranjak dari meja makan setelah menghabiskan minumannya dan segera menghampiri Renée. "Mom, aku berangkat," sambil mencium kedua pipi ibunya.
"Good luck, my dear," ucap Renée sambil bergantian mencium pipi kedua anaknya. "Cam, hati-hati mengendarai mobilmu."
"Yes, mom. Bye."
"Bye."
-:|:-
Sesampainya di kampus, Bella mampir dahulu ke ruang klubnya. Siapa tahu saja ada yang bisa memberi tahunya mengenai kabar Jake. Di ruangan itu, terlihat Hannah dan Jessica. Jessica adalah sahabat lama Hannah, anggota Fork Music Club. Bella sedikit bingung, mengapa kedua temannya itu ada di ruangaan ini, padahal keduanya sama-sama bukan anggota klub drama?
Masih tampak jelas raut kesedihan di wajah Hannah. Bella mencoba menyapanya selembut mungkin. "Hai," sapa Bella sembari tersenyum. Tanpa diduganya, Hannah langsung berhambur ke pelukannya sambil menangis tersedu-sedu.
"Bella..." tangis Hannah tanpa melepaskan pelukannya.
"Menangislah, jika itu membuatmu lebih tenang," tutur Bella menenangkan sahabatnya, mengusap punggungnya. "Aku ikut bersedih, Hannah."
Hannah sepertinya sudah bisa mengendalikan emosinya. Ia pun melepaskan pelukannya.
"Jake kecelakaan karena aku, Bells. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku.. benar-benar..." ucap Hannah terbata-bata.
"Jake kecelakaan saat akan menjemput Hannah di studio. Dia mungkin sedikit tergesa-gesa mengendarai motornya, dan akhirnya..." jelas Jessica sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang? Apakah lukanya parah?" tanya Bella.
"Syukurlah dia sudah siuman dini hari tadi. Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkannya di rumah sakit, tetapi dia memaksaku untuk tetap masuk kuliah. Dia ingin aku menyampaikan sesuatu padamu, makanya aku mampir kesini."
Rasa penasaran Bella mengapa mereka ada disini terjawab sudah. Rupanya Hannah akan menyampaikan sesuatu yang cukup membuat Bella lemas. "Apa yang ingin disampaikannya?" tanya Bella pura-pura tidak tahu.
"Sebelumnya dia ingin meminta maaf padamu karena kecelakaan itu membuatnya tidak bisa meneruskan pementasan itu. Dia sungguh menyesal."
"No! Tidak seharusnya dia merasa bersalah padaku. Aku juga yang menyebabkan dia pulang terlalu sore. Andai saja aku tidak memintanya latihan sore itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi."
"Aku tidak tahu bagaimana menyampaikan ini, Bella. Aku takut kau akan marah."
"Katakanlah, Hann."
"Awalnya Jake ingin menghentikan pementasan ini karena dia pikir karenanya semua jadi berantakan, dan waktunya sudah sangat dekat. Tapi aku bersihkeras untuk membujuknya agar tetap meneruskan pementasan ini dengan..." ucap Hannah terputus.
"Teruskanlah. Aku akan mendengarkannya."
"Dengan mencarikan pemeran pengganti Jake. Mungkin kau tidak akan suka mendengar ini."
"Tidak. Sebenarnya aku sudah menduganya. Namun yang masih aku ragukan, apakah ada yang bersedia menggantikan peran itu sedangkan waktunya tinggal dua hari lagi. Apa sebaiknya kita batalkan saja pementasan ini?" tanya Bella sedikit ragu.
"Jangan! Bagaimana tanggapan orang-orang bila kalian tidak jadi tampil? Mungkin mereka akan mencemooh klub ini, dan ini akan berimbas pada Jake dan padamu," tegas Hannah.
"Hannah benar, Bella. Jangan karena satu hal kau menciutkan nyalimu untuk tetap tampil. Kalian harus bersikap profesional. Ini tidak hanya menyangkut dirimu, tetapi seluruh anggota klub ini." Jessica mencoba mejelaskannya.
"Pikirkan itu, Bell. Aku tidak bermaksud memojokkanmu. Ini demi kau, Jake, dan anggota klub drama lainnya. Ini demi nama baik kita semua."
"Maafkan aku," Bella merasa bersalah kali ini. Ia merasa terpojokkan akibat ucapannya sendiri. "Tapi akupun tidak tahu apa yang harus kulakukan. Siapa yang akan menjadi partnerku esok lusa?"
"Aku tau ini cukup berat bagimu. Tapi kau tidak sendiri, Bella. Ada kami yang bersedia membantumu. Anggota klubmu kan tidak sedikit. Jake sedang berusaha mencarikan penggantinya. Dia sedang menghubungi anggotanya yang bersedia menjadi partermu. Semoga keputusannya sudah ada siang ini."
"Ya, semoga saja," Bella berharap. "Dan semoga saja orangnya menyenangkan," ucap Bella pada diri sendiri. Tiba-tiba saja ia teringat akan seseorang yang membuatnya memicingkan matanya.
Bella mencoba tetap tersenyum "Thanks, Hann, Jess."
-:|to be continue|:-
