Disclaimer : All of Twilight franchise you knows is belongs toStephenie Meyer

Pair : Isabella Swan x Edward Cullen

Rating : T

Genre : Romance & Drama

Timeline :College times

Warning :Totally fanon, Something you thought weird. OOC. OC added.

A/N :This fict wasrepostfrom one of Robert Pattinson's Indonesia fanbase forum in Twitter. Some other chars in this fict is totally fiction. No offense :D

Thanks to Nicole Angevine for your review

Happy Reading..

-:|Extraordinary Love|:-

Chapter 4

Di kelas, Bella tidak begitu memperhatikan kuliahnya. Pikirannya masih seputar siapa yang akan menjadi partnernya menggantikan Jake.

Belum-belum, ia sudah cemas apabila penggantinya itu adalah orang yang saat ini ada di pikirannya. Orang yang membuat rasa bencinya semakin meluap-luap bila berhadapan dengannya. Orang yang sebenarnya tidak ingin ia temui di dunia ini, pikirnya berlebihan.

Selepas kuliah pertama, Bella tidak masuk ke kelas berikutnya. Ia bukan membolos, lagipula dosen mata kuliah tersebut berhalangan hadir kali ini. Akhirnya Bella memutuskan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Jake. Ia bersama Hannah dan Jessica akan berangkat ke rumah sakit menggunakan mobil Jessica. Kebetulan mereka bertiga sama-sama tidak ada kelas lagi selepas jam 10 tadi sehingga mereka leluasa untuk bepergian.

Setengah jam kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit tempat Jake dirawat. Mereka langsung menuju ke lantai 3 dimana ruangan Jake dirawat berada. Di depan ruangan itu, tampak sesosok dewasa baru saja keluar meninggalkan ruangan. Ia tidak lain adalah Mrs. Sarah Black, ibunda Jake. Di lorong, Bella dan teman-temannya berpapasan dengan wanita paruh baya itu dan sedikit berbincang-bincang.

"Hi, Mrs. Black," sapa Bella dan Hannah bersamaan.

"Hallo, Hannah," sapa Sarah pada Hannah. "Kau Bella, kan? Wah, sudah besar ya, kau rupanya," kali ini ia mencoba mengingat Bella. "Bagaimana kabar orang tuamu?"

"Mereka baik-baik saja. Oh ya, kenalkan ini Jessica, sahabat Hannah, temanku juga," Bella memperkenalkan Jessica pada Sarah.

"Hi, Mrs. Black. Senang bertemu dengan Anda," sapa Demi dengan sopan sambil menjabat tangan Sarah.

"Me too," balas Sarah. "Oh untunglah kalian datang. Temani Jake, ya?" pintanya.

"Ya tentu saja. Memangnya Anda mau kemana?" kali ini Hannah mengambil alih pembicaraan.

"Aku mau menjemput si kembar Rachel dan Rebecca di sekolahnya. Aku duluan ya, Billy sudah menunggu di bawah."

"Sampaikan salamku pada Mr. Black," ucap Bella.

"Pasti. Bye.." Sarah pergi meninggalkan ketiganya. Mereka lantas menuju ruangan tempat Jake berada.

"Hi, babe. Lihat aku membawa siapa?" seru Hannah di balik pintu diikuti Bella dan Jessica.

"Hi, Jake," sapa Bella dan Jessica.

"Hi, Bell, Jess," sapa Jake pelan sambil berusaha bangkit dari tidurnya.

Hannah segera menghampiri tempat kekasihnya berbaring. "Tidak usah, honey! Kau berbaring saja, biar aku yang menaikan kepala ranjangnya." sergah Hannah lalu kemudian memutar tuas di bawah ranjang agar kepala ranjangnya naik 45 derajat. "Nah, begini kan lebih baik."

"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Bella dengan saksama melihat sekujur tubuh Jake. "Kakimu?" Bella terkejut ketika membuka selimut yang menutupi kaki Jake terbalut perban.

"Well, seperti yang kau lihat," Jake mencoba menjelaskan dengan santai. "Tulang keringku sedikit retak, tapi dokter sudah memasangkan pen di dalamnya. Yang lainnya sudah lebih baik. Untunglah helm yang kugunakan tidak terlepas dari kepalaku," ujar Jake bergurau.

"Tidak ada yang lebih beruntung selain nyawamu yang masih selamat. Bisa saja kau amnesia atau geger otak karena kecelakaan itu," ucap Jessica sebal. "Kau selalu saja mengganggap hal-hal seperti ini tidak penting. Kau tidak tahu bagaimana kita sangat khawatir padamu."

"Dia sebenarnya hanya ingin mengalihkan perhatian kalian terhadapnya dan tidak ingin kalian begitu cemas. Ya, tetapi begitulah caranya," jelas Hannah.

"Tipikal Jake sekali," Bella menambahkan.

"Hahahaha. Kalian ini ada-ada saja," Jake berusaha mencairkan suasana. "Ya ya ya, maafkan aku. Aku hanya ingin kalian tidak terlalu mencemaskan aku. Aku sudah lebih baik, kok!"

"Yeah," Jessica mendengus. "Sesukamu sajalah."

"Oh ya, babe, kau sudah meminum obat yang diberikan dokter?" tanya Hannah.

"Tentu saja sudah," jawab Jake. "By the way, kalian kesini ingin menjengukku atau ..." pertanyaannya terpotong ketika pandangannya terarah pada Bella.

"Ya jelas kami kesini untuk menjengukmu, honey!" potong Hannah.

"Sebenarnya bukan hanya untuk menjengukmu kami kesini. Aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu, Jake," Bella terlihat ragu-ragu untuk berbicara.

"Ah, ya! Pasti Hannah sudah menyampaikan pesanku padamu. Hampir saja aku lupa!"

Bella hanya menatap dengan penasaran. Menunggu ucapan yang selanjutnya akan dikeluarkan dari mulut partner kerjanya.

"Sebelum kalian datang, Sam sudah mengabariku perihal penggantiku untuk peran Robert. Dia sudah menemukan orangnya yang bersedia. Mungkin Sam lupa untuk menghubungimu."

"S-siapa?" tanya Bella terbata-bata, tampak cemas dan penasaran. Hannah dan Jessica pun mendengarkannya dengan saksama.

"Tampaknya kau gugup sekali, Bells? Calm down!"

"Oh, ayolah, sayang. Cepat katakan!" pinta Hannah.

"Edward," Suara Jake terdengar samar saat mengucapkan nama itu sehingga Bella tidak dapat mendengarnya dengan jelas.

"Hah? Siapa? Stuart?" Bella balik menanyakannya lagi.

"Sepertinya kau perlu ke dokter THT. Bukan Stuart. Edward, Bells. E-D-W-A-R-D." Jake memperjelas ejaan nama itu.

"What? Ed..ward?" Bella terduduk lemas di bangkunya. "Jangan bercanda, Jake! Aku tidak mau mendengar lelucon konyolmu." Tiba-tiba Bella beranjak dari bangkunya dan bergegas menuju pintu.

"Bella, kau mau kemana?" cegah Jessica.

"Aku keluar sebentar. Sepertinya aku membutuhkan udara segar untuk bernafas. Nanti aku kembali lagi," Bella berkilah seraya meninggalkan ruangan itu.

"My fault? Apa ada yang salah?" kali ini Jake yang penasaran.

"Entahlah. Tapi sepertinya nama itu nama yang tidak ingin didengarnya di dunia ini," Hannah mencoba menjelaskan pada Jake sedikit berbisik.

"Memangnya ada apa dengan Edward, sampai-samapai Bella sepertinya sangat benci mendengar nama itu?" Jessica pun ikut penasaran.

-:|to be continue|:-

A/N :

Maaf untuk pendeknya chapter yang saya buat. Memngingat ini fict lama, jadi saya tidak mengubah banyak isinya. Khawatir jika saya tambah-tambah malah membuat fict ini ancur dan akhirnya terbengkalai. That's my problems :D

Disini Edward sudah dimunculkan meskipun baru namanya saja. Chapter depan si ganteng itu akan saya munculkan. Tunggu saja.

Disini juga saya masukkan chara baru. Di canon, Rachel dan Rebbeca merupakan kakak kembar Jacob. Tapi disini saya jadikan sebagai adik kembarnya. Sarah Black saya hidupkan kembali dan Billy saya buat normal (ceritanya) -.

Thanks untuk yang sudah mereview, memfave, dan mengalert fict ini. Saya usahakan untuk update cepat sebisa saya.

RnR? ^^