Disclaimer : All ofTwilightfranchise you knows is belongs toStephenie Meyer
Pair :Isabella Swan x Edward Cullen
Rating : T
Genre : Romance & Drama
Timeline :College times
Warning :Totally fanon, Something you thought weird. OOC. OC added.
A/N :This fict wasrepostfrom one of Robert Pattinson's Indonesia fanbase forum in Twitter. Some other chars in this fict is totally fiction. No offense. Sorry for late :D
Happy Reading..
-:|Extraordinary Love|:-
Chapter 5
Hannah menjelaskan pada Jake dan Jessica dengan suara yang pelan. "Aku juga tidak tahu awal mulanya bagaimana. Pernah suatu hari ketika Bella masuk kelas dengan wajah masam lantas berkata padaku 'Pokoknya sampai kapan pun aku tidak ingin mendengar nama itu diucapkan di depanku!' Aku mencoba menanyakannya mengapa, tetapi Bella sepertinya tidak ingin masalah itu perpanjang."
"Memangnya mengapa dia tiba-tiba berkata begitu? Tidak biasanya dia marah-marah tidak jelas," tanya Jessica.
"Aku pun tidak tahu pasti. Tetapi dari yang ku dengar dari temannya, pernah ada seseorang yang kerap kali mengganggu Bella saat kita masih menjadi mahasiswa baru. Dan aku menduga orang itu adalah Edward. Bila bukan, mengapa dia sampai harus meninggalkan ruangan ini begitu Jake menyebutkan nama itu."
"Edward? Memangnya apa yang ia perbuat pada Bella hingga Bella begitu membencinya?" tanya Jake kali ini.
"Entahlah. Hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu," Hannah menghela nafas
"Ya Tuhan. Aku jadi tidak enak pada Bella. Apa bisa ia bekerjasama dengan Edward? Mana waktunya sangat terbatas," ucapan Jake pun hanya dijawab dengan gelengan kepala dari Hanah dan Jessica.
.
-:|:-
.
Lima belas menit berselang setelah mereka yang di dalam ruangan menyudahi pembicaraan mengenai Bella-Edward, terdengar suara ketukan pintu. "Sorry, aku sedikit lama," Bella pun masuk dengan wajah yang tampak seperti habis menangis.
"Tidak apa, Bella. Kau... kau menangis?" tanya Hannah curiga.
"Ah tidak," kilah Bella. "Aku hanya habis mencuci muka."
"Umm.. Jess, jika tidak keberatan, apakah kita bisa pulang sekarang?" pinta Bella.
"Ya tentu saja. Kau bagaimana, Hann?"
"Tidak masalah. Lagipula Jake harus istirahat. Kau tak apa kan, sayang?"
"No problem. Lagipula obat yang kuminum tadi mulai bereaksi dan sekarang aku mulai mengantuk. Hoamm..." ucap Jake sambil menirukan orang yang sedang menguap. Memang Jake mulai mengantuk akibat efek obat yang tadi diminumnya.
"Thanks. Jake, maafkan aku karena mengganggu kencanmu dengan Hannah," ucap Bella merasa bersalah.
"Sudahlah, jangan dipikirkan, Bell."
"Terima kasih banyak, Jake. Semoga kau lekas sembuh."
"Sama-sama doanya."
"Kami pulang dulu, babe," Hannah melambaikan tangan. "Besok aku kemari lagi."
Jake hanya mengangguk, "Hati-hati kalian. Bye.."
Mereka bertiga berpamitan pada Jake lalu bersiap keluar meninggalkan ruangan.
Belum lagi keluar pintu ruangan, dua orang yang mereka kenal berjalan menuju ke arah mereka. Seketika wajah Bella memucat dan memasang wajah sebal.
.
-:|:-
.
'Mau apa dia kemari? Ingin mengajakku berkelahi?' geram Bella dalam hati.
"Hi, girls!" Sam menyapa ketiga gadis itu. "Hi, Jake! Bagaimana keadaanmu?"
"Hi, Sam!" sapa Jake. "Hi, Ed!"
"Hi, you guys!" sapa Edward pada semua orang dalam ruangan itu.
"Mau apa kau kemari?" Bella bertanya dengan nada menantang. Ia sendiri bingung mengapa ia memulai pembicaraan dengan Edward.
"Tentu saja aku mau menjenguk Jake. Dan juga.. " Kata-kata Edward terpotong oleh ucapan Sam.
"Oh ya, Bella, Edward ini yang akan menggantikan Jake dalam pementasanmu," Sam menjelaskan.
"Dia sudah tahu. Aku sudah memberitahunya." jelas Jake. "Ya kan, Bella?"
"Whatever!" jawab Bella seadanya.
"Sepertinya kau tidak suka akan hal ini, Bell," Sam menatap wajah sebal Bella. "Anything wrong?" Kini Sam menatap semua orang yang ada di ruangan itu.
"Everything! Sudahlah. Ayo kita pergi dari sini!" ajak Bella pada kedua teman wanitanya. "Rasanya aku pening berlama-lama disini," Bella mendesah sambil menarik kedua lengan sahabatnya.
"Tunggu!" Edward mencoba menahan lengan Bella.
"Apa?" Bella melotot pada Edward.
"Hei, santai saja! Seperti aku ini seorang penjahat," Edward menanggapinya dengan candaan.
"Lepaskan tanganmu!"
"Sorry," Kedua lengan Edward terangkat layaknya tertangakap polisi.
"Mau apa kau?"
"Menjemputmu."
"Menjemputku?" Bella keheranan.
"Tadi kami bertemu Cam di kampus. Dia bilang kau sedang menjenguk Jake di rumah sakit. Ya sudah kami putuskan kesini sepulang kuliah untuk menjemputmu sekalian menjenguk Jake," Sam menjelaskan.
"Dengan tujuan apa kalian mau menjemputku? Kalian akan menculikku?" tanya Bella dengan tampang polosnya. 'Bodoh!' gerutunya dalam hati.
"Hahahaha..." Edward tertawa terbahak-bahak. Seisi ruangan tampaknya tidak sanggup untuk menahan tawa. "Apa tampangku seperti kidnapper*)?"
"Kami menjemputmu untuk memulai latihan drama," ucap Sam serius.
"What the... NO! Aku tidak ingin diganggu sekarang. Ayo, Hannah, kita pulang sekarang." Belum lagi Bella melangkah, Jake sudah menginterupsi.
"Bella, come on. Mengertilah. Pementasan tinggal dua hari lagi. Kalian butuh latihan ekstra. Kau tidak ingin kan pementasan itu berantakan."
"Jake benar, Bells," kali ini Hannah yang menasihati. "Ini pentas drama pertamamu di kampus ini. Kau ingat bagaimana perjuanganmu dari mulai audisi hingga kau bisa terpilih menjadi pemeran utama. Kau kan yang sangat ingin menjadi bagian dari pementasan ini? Masa hanya karena hal sepele kau akan menggagalkannya. Lagipula Edward bukan orang baru di dunia drama."
Bella berpikir sejenak mencoba melunakkan hatinya. Hati kecilnya mengamini kata-kata Hannah. Bella sangat ingin menjadi pemeran utama dalam pementasan ini. Penampilannya kali ini menjadi tonggak dimulainya karirnya di dunia seni peran, itu cita-citanya sejak kecil. Dia ingin pementasan perdanannya sukses, apapun rintangannya. Namun kali ini rintangannya adalah Edward. 'Why must be Edward? Hell no! Mengapa bukannya Sam, Embry, Seth, atau siapa pun, asalkan bukan Edward!' teriaknya dalam hati, merasa ini tidak adil baginya.
"Tapi.." Bella mencoba berargumen.
"Tidak ada tapi-tapian. Kita harus memulai latihannya hari ini juga. Tidak! Saat ini juga," Sam sepertinya sudah tidak sabar.
"Hari ini? Ini tidak adil," matanya mulai berkaca-kaca.
"Makanya kami kesini, ya untuk menjemputmu latihan. Cam bilang kau tidak membawa mobilmu," Edward menjelaskan.
"OK. Begini saja. Bella," Jake mencoba meluruskan masalah, "Sekarang pilihan ada di tanganmu. Kau tetap ingin meneruskan pementasan ini dan ikut latihan bersama mereka, atau kau ingin menghentikan perjuanganmu sampai disini. Kami tidak memaksa. Tetapi ingat harga dirimu sendiri," Jake memberikan pilihan yang cukup berat bagi Bella.
"Jadi sekarang kau mau bagaimana? Ikut pulang denganku dan Hannah, atau ikut dengan Sam dan Edward?" tanya Jessica.
.
-:|:-
.
Bella akhirnya duduk di mobil Edward, tepat berada di belakangnya. Edward tidak mengemudikan mobilnya kali ini. Sam yang mengambil alih kemudinya supaya Edward bisa beristirahat dan berkonsentrasi menghafalkan naskahnya. Memang Edward baru akan berlatih dialognya hari ini, tetapi jalan cerita dari drama tersebut sudah diketahuinya. Secara tidak langsung ia turut membantu Embry, sang script writer dalam pembuatan dan penulisan naskah drama tersebut. Dan sebenarnya ia sangat ingin memainkan peran Robert dalam drama itu. Tetapi saat audisi pemain, ia sedang berhalangan hadir karena suatu hal tidak bisa ditinggalkannya. Namun sekarang keinginannya terkabul juga, meski disini dia hanya sebagai 'pengganti'. Andai saja Jake tidak mengalami kecelakaan itu, mungkin saat ini dia tidak akan berada di satu mobil yang sama dengan Bella. Edward sangat senang ketika Sam menawarkan peran ini kepadanya. Terlebih ia tahu bahwa lawan mainnya adalah Bella. Tanpa ragu ia langsung menyetujui tawaran itu meski dengan risiko yang harus dihadapinya.
"Bella, kau lapar?" Sam memecah keheningan di mobil itu. Ia tahu ada sesuatu antara Bella dan Edward.
"Sebenarnya, ya," jawab Bella jujur.
"Bagaimana kalau kita mampir ke restauran drive-thru supaya tidak membuang waktu, Sam?" Saran Edward.
"Baiklah."
Di restauran itu Bella memesan double cheese burger dan cola. Edward dan Sam memesan double beef burger ukuran besar dan cola juga ukuran besar. Mereka memang sangat lapar. Edward sedang berbaik hati hari ini sehingga ia yang membayar pesanan itu semuanya.
"Rakus juga rupanya, kalian!" Bella mencoba melunak.
"Wajar saja bagi kami. Toh kami ini pria," jawab Sam.
"Lagipula sebelum menjemputmu kita bermain basket dahulu dan belum sempat makan siang. Jadi kami lapar," Edward menambahkan sambil mulutnya mengunyah burger.
.
-:|:-
.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di kampus, dan semuanya langsung menuju ruang klub drama. Sam dan Edward merupakan anggota dari klub drama itu. Keduanya sama-sama senior Bella. Edward satu angkatan dengan Cam, sedangkan Sam satu angkatan dengan Jake. Sam juga merupakan wakil ketua klub itu. Meskipun Edward anggota dari klub, tetapi ia tidak terlalu aktif beberapa bulan terakhir ini, sehingga Bella jarang bertemu dengannya. Di ruangan itu ternyata sudah ada beberapa pemain lainnya yang juga akan latihan. Siang ini rencananya mereka semua akan memulai rehearsal di aula besar. Tetapi karena penggantian pemain, sang sutradara, yang tidak lain adalah Sam memutuskan untuk menundanya.
"Bella, Edward, aku berikan kalian waktu untuk berlatih berdua hingga kalian merasa nyaman satu sama lain. Jika kalian sudah siap, rehearsal bisa dimulai nanti sore. Sepertinya tidak ada masalah dengan scriptnya kan, Edward?"
"Tidak. Aku sudah tahu jalan ceritanya. Setidaknya aku hafal beberapa dialognya," Edward berkata dengan mantapnya.
"Licik," ucap Bella berbisik, tetapi terdengar oleh Edward.
"Aku tidak licik. Kau, tidak tahu ya, naskah ini kan aku yang menulisnya," ucap Edward sedikit berdusta.
"Tidak percaya," Bella meremehkan. "Seberapa besar sih yang kau tahu dari cerita ini?"
"Aku tahu, kok! Di endingnya Kristen dan Robert akan berciuman kan?"
-:|to be continue|:-
A/N :
Voila! Edward here. So sorry for long long update :"(
