Disclaimer : All of Twilight franchise you knows is belongs to Stephenie Meyer

Pair :Isabella Swan x Edward Cullen

Rating : T

Genre : Romance & Drama

Timeline :College times

Warning :Totally fanon. Something you thought weird. OOC. OC added.

A/N :This fict was repost from one of Robert Pattinson's Indonesia fanbase forum in Twitter. Some other chars in this fict is totally fiction. No offense. Sorry for late :D

Happy Reading..

-:|Extraordinary Love|:-

Chapter 6

Bella membulatkan matanya mendengar apa yang diucapkan Edward barusan. Ia membuka kembali naskahnya. Mencari halaman endingnya. Disitu disebutkan bahwa diakhir cerita, Bella dan Edward berciuman. Memang bukan french kiss, melainkan hanya mengecup bibir satu sama lain sekilas. Tetapi tetap saja itu membuat Bella kaget dan tanpa sadarnya mukanya memerah. 'Ya, Tuhan! Aku harus menciumnya?' pikirnya dalam hati.

"Kenapa? Kau senang ya akan berciuman denganku?" Edward menggoda Bella.

"What? Melihatmu saja aku sudah ingin muntah." ucap Bella berlebihan.

"Hahahahha... kau ini terlalu melebih-lebihkan, Bella. Santai sajalah!"

Bella menggerutu dalam hati 'Bagaimana bisa santai? Aku sungguh tidak sabar untuk menuggu pementasan ini selesai.'

Lama kelamaan Bella bisa mengendalikan emosinya dan menurunkan amarah yang sebenarnya tak beralasan itu pada Edward. Ia hanya ingin fokus pada penampilannya nanti. Dan ternyata Edward orangnya cukup flexible dan cepat tanggap sehingga memudahkan kedua dalam latihan. Tentu saja latihannya diselingi dengan saling ejek karena Edward seringkali menggoda Bella.

.

-:|:-

.

Pukul 3 sore, seluruh kru dan pemain memulai rehearsal di aula besar dan tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore hari. Mereka semua berpamitan pulang pada Sam sebagai 'petinggi' yang menggantikan Jake. Bella meninggalkan aula menuju toilet wanita untuk menuci muka. Saat dirinya mengambil tasnya di ruang klub, disadarinya bahwa sebagian besar anggota klubnya sudah pulang. Tersisa dirinya, Sam, Tom, dan Edward. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Cam untuk menjemputnya di kampus. Belum sempat mengambil ponselnya di tas, ada seseorang yang menghampirinya.

"Ayo, Bella!" ajak Edward.

"Hah? Kemana?"

"Ya tentu saja pulang."

"Terima kasih. Tapi aku punya rumah sendiri."

"Hahahaha... kau ini lucu sekali. Maksudku, pulang ke rumahmu."

"Kau?"

"Bukan aku. Aku akan mengantarmu sampai depan rumahmu. Kalau perlu sampai depan kamarmu."

"Tidak perlu. Cam akan menjemputku."

"Tadi Cam menitipkanmu padaku. Dia bilang dia akan ke rumah Kevin, dan kemungkinan akan pulang malam. Dia menyuruhku untuk mengantarmu pulang."

Bella sedikit kesal pada kakaknya. Untuk apa dia menyuruh orang seperti Edward untuk mengantarnya pulang. Seperti adiknya anak kecil saja. Lagipula dirinya bisa naik taxi.

"Sam dan Tom mana?"

"Sam sudah pulang ikut mobil Tom."

"Jadi tinggal kita berdua?" telunjuk Bella bergantian menunjuk dirinya dan Edward.

"You and me, Exactly! Come on! Sebelum hujannya membesar."

Edward melangkah meninggalkan ruangan itu. Mau tidak mau Bella mengikutinya.

Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam. Hanya suara rintik hujan saja yang memecah keheningan. Cuaca malam ini kurang mendukung. Untung saja hujannya tidak sebesar biasanya.

"Mengapa selalu saja hujan saat aku sedang tidak bawa mobil sendiri?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengahadap luar jendela.

"Itu berarti sudah takdir," Edward menjawab seadanya. Bella menoleh karena ternyata ucapannya tadi didengar Edward.

"Hah?"

"Ya, itu takdirmu. Takdirmu untuk pulang bersamaku. Dan takdirku untuk mengantarmu pulang," ujar Edward santai sambil pandangannya tidak lepas dari jalanan.

"Takdir yang tidak menguntungkan."

Kemudian keduanya terdiam. Suasana hening menyelimuti di dalam mobil. Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing. Sesekali Bella terlihat menguap. Berusaha menahan kantuknya. Dan nampaknya Edward juga mengalami hal yang sama. Kerap kali jari-jari tangannya mengusap matanya yang kelihatan lelah.

"Bella?" Edward menoleh pada Bella. Bella pun terpanggil untung menoleh pada Edward. Mata mereka bertemu.

"Hmm?"

"Bella... sebenarnya..." nada suara Edward terdengar serius. Matanya menatap Bella dengan pandangan serius.

.

-:|:-

.

"Sebenarnya apa?" tanya Bella gugup. Bagaimana tidak gugup ditatap dengan pandangan mengintimidasi seperti itu.

"Sebenarnya... kita sudah sampai di depan rumahmu," Edward tersenyum jahil.

Dugg!

Sebuah pukulan ringan mendarat di bahu kanan Edward.

"Hahhahaha..." Edward hanya bisa tertawa melihat wajah lucu Bella. Bella sebal sekali pada Edward yang terus saja menggodanya.

"Apa hobimu menggoda wanita, eh?" tanya Bella ketus.

"Ya. Apalagi wanitanya secantik dirimu. Kau lucu sekali, Bella. Hahaha..."

"Huh!" Bella membuka pintu mobil dan segera menuju pintu rumahnya. Edward segera menyusulnya.

"Hei! Jangan marah begitu. Aku hanya bercanda," sergah Edward.

"Aku ingin istirahat."

"Baiklah kalau begitu. Tidurlah yang nyenyak. Jaga kondisi badanmu."

"Ya... ya... ya..." jawab Bella asal. "Thanks."

"You're welcome. Sampaikan terim kasihku pada Cam."

Bella mengernyit heran.

"Kau akan tahu itu nanti."

"Ya, mungkin. Bye!"

"Bye, beauty!"

Bella ingin segera menuju kamarnya setibanya di rumah. Rumahnya tampak sepi. Sepertinya Cam memang pulang lebih malam. Ditengoknya ke arah dapur. Renée sedang membuatkan makan malam.

"Hai, mom!"

"Bella, makanlah dulu."

"Nanti setelah aku mandi," Bella menaiki tangga. Lelah sekali hari ini, pikirnya. Namun perasaannya tidak selelah kemarin. Ada perasaan senang dan nyaman meliputinya, entah apa itu Bella pun tidak tahu. Ia segera menuju kamar mandi. Lagi-lagi air hangat menjadi obat yang mujarab untuk menghilangkan letihnya. Setelah berganti pakaian, Bella langsung menuju ruang makan. Ternyata Cam sudah pulang.

"Kau dari rumah Kevin?"

"Ya. Kau pulang dengan siapa tadi?" tanya Cam sambil menyuapkan spaghetti ke mulutnya.

"Dengan Edward," jawab Bella santai. "Bukankah kau yang menyuruhnya?"

"Aku menyuruhnya? Tidak."

"Hah? Edward bilang kau menyuruhnya mengantarku pulang karena kau akan pulang malam."

"Tidak. Aku tidak bilang begitu. Memang tadi dia menanyakanmu ada dimana. Ku bilang saja kau sedang menjenguk Jake. Oh ya, Jake bagaimana?"

"Tulang kakinya sedikit retak, tapi kondisinya membaik. Lalu, mengapa Edward bilang begitu ya?" tanya Bella bingung.

"Entahlah. Mungkin dia menyukaimu," ujarnya asal.

"Hah? Menyukaiku? Jangan bercanda, Cam!"

Kakaknya itu hanya tertawa geli melihat tingkah adiknya yang berlebihan. "Tapi baguslah, jadinya kan kau tidak perlu pulang sendiri."

Bella hanya memutar matanya malas.

"Oh ya! Ku dengar dia yang menggantikan Jake dalam pementasan itu ya?"

"Ya."

"Pasti dia senang sekali," ucap Cam sambil tersenyum nakal.

"Tapi aku yang tidak senang. Dia menyebalkan! Dia selalu saja menggangguku."

"Dia baik, kok. Percaya padaku."

"Mengapa kau membela dia? Aku ini kan adikmu. Kau jahat, Cam!"

"Bukan. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Dia kan temanku. Dia orang baik."

"Whatever. Sudahlah, aku mengantuk."

"Ya sudah, sana tidur. Nite, sweety!"

"Nite"

Bella naik ke atas menuju kamarnya setelah mencuci piring bekas makan malamnya. Segera ia berpamitan pada mommynya untuk tidur. Ia ingin tidur lebih awal malam ini. Lagipula hari ini tidak ada tugas kuliah yang harus dikerjakan.

Sebelum ia beranjak ke tempat tidurnya, ia berpikir untuk membereskan barang bawaannya malam ini. Ya supaya besok pagi ia tidak perlu repot bangun pagi-pagi untuk menyiapkan semuanya. Banyak juga barang bawaan Bella untuk esok hari, mulai dari naskah, baju ganti, dan semua yang ia perlukan untuk esok hari. Ia membawa semua peralatan untuk pentas drama esok lusa. Besok mereka akan rehearsal untuk terakhir kalinya sebelum pentas. Sehingga kemungkinan seharian ia akan berada di kampus.

Setelah semua barangnya siap, Bella segera naik ke atas kasurnya. Tiba-tiba ia teringat akan ponselnya yang sedari pulang kuliah tidak dilihatnya. Ponselnya ia temukan di meja si samping tempat tidurnya. Di layarnya tertera sebuah gambar amplop tertutup. Segera ia membuka pesan itu. Pengirimnya dari nomor yang tidak dikenalnya. Pesan itu berisikan "Goodnight, sweety. Sweet dream." Seketika Bella mengernyitkan keningnya, setelah melihat nama pengirim yang tertulis di bawah pesan itu —Edward.

Karena rasa kantuknya yang tidak tertahankan, akhirnya Bella tertidur. Ia bermimpi yang tidak biasa malam ini. Memimpikan seseorang yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya.

-:|to be continue|:-

A/N :

Thanks for read n for your review. Keep it, guys! :)