Disclaimer : All of Twilight franchise you knows is belongs to Stephenie Meyer

Pair : Isabella Swan x Edward Cullen

Rating : T

Genre : Romance & Hurt/Comfort

Timeline : College times

Warning : Totally fanon, Something you thought weird. OOC. OC is mine.

A/N : This fict was repost from one of Robert Pattinson's Indonesia fanbase forum in Twitter. Some other chars in this fict is tottaly fiction. No offense.

Happy Reading..

-:|Extraordinary Love|:-

Chapter 7

Jumat ini semua kegiatan perkuliahan hanya dilaksanakan sampai pukul 12 siang. Pihak kampus berbaik hati memberikan dispensasi kali ini dengan harapan semua mahasiswa dapat berpartisipasi dan membantu kelancaran dari acara tahunan ini. Dan kebetulan hari ini Edward tidak ada jadwal perkuliahan sehingga ia bisa memulai latihan lebih awal. Tetapi ia harus rela menunggu Bella menyelesaikan kuliah pertamanya hingga jam 10. Sambil menunggu Bella keluar kelas, ia memutuskan untuk latihan seorang diri sekaligus menghafal naskah dan melatih penghayatan terhadap peran yang ia bawakan. Ia latihan di ruangan klub drama bersama beberapa anggota lainnya yang sama-sama tidak ada jadwal kuliah hari ini.

"Morning, all!" sapa Bella ceria.

"Morning, Bella!" balas semua orang yang ada di ruangan itu.

"Morning! Kau membolos, Bell?" tanya Edward.

"Tidak."

"Lantas, mengapa kau sudah sampai disini? Bukankah kau ada kelas hingga jam 10?"

"Kau tidak punya jam ya? Liat, sudah jam berapa ini?"

"Astaga! Aku kira baru saja aku membaca naskah ini, ternyata sudah lewat jam 10 rupanya. Hahaha!"

"Huh! Selalu saja tidak serius," Bella mencibir.

"Pagi ini kau tampak ceria, tidak semuram kemarin. Something good?" tanya Sam.

"Umm… Nothing. Aku merasa biasa saja. Memanya ada yang salah?" tanya Bella keheranan.

"Tidak juga sih. Hanya saja kau terlihat lebih fresh pagi ini, dan juga cantik," Sam menjawab sambil melirik jahil pada Edward. Edward membalasnya dengan mengacungkan kedua jempolnya. Bella merasa tersanjung juga heran melihat tingkah kedua temannya itu. "Apa sih kalian ini? Selalu saja menggodaku," ujar Bella dengan rona merah menghiasi pipinya dan segera ia meninggalkan tasnya di ruangan itu dan beranjak keluar ruangan.

"Mau kemana?" sergah Edward.

"Ke cafetaria." Bella terus melangkahkan kakinya menjauhi ruangan klub menuju cafetaria. Di rumah dia tidak sempat sarapan karena ia bangun sedikit kesiangan. Bella menyadari ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.

"Buat apa kau mengikutiku?"

"Kau mau sarapan kan? Kebetulan juga aku belum sarapan."

Bella tidak memerdulikan Edward. Ia mengambil nampan dan segera menghampiri meja food-display, sambil menimang-nimang makanan apa yang akan ia makan.

"Sandwich?" Edward menawarkan.

"Baiklah," Bella menerima sepiring sandwich pemberian Edward dan segera menuju meja drink-display untuk mengambil segelas orange juice. Edward juga menambahkan sepiring sandwich ke atas nampannya.

"Orange juice?" kali ini Bella menawarkan.

"No, thanks. Aku mau air mineral saja," jawab Edward sambil mengambil sebotol air mineral dalam kemasan. Setelah masing-masing selesai membayar, mereka menuju meja untuk menyantap sarapannya masing-masing. Belum lama mereka duduk, Cam menghampiri mereka dengan membawa nampan berisi semangkuk chicken salad dan segelas orange juice.

"Mengganggu bila aku bergabung?" Cam meminta izin keduanya. "Tidak apa-apa bila mengganggu. Aku bisa pindah ke meja sebelah."

"Tidak, Cam! Tidak mengganggu sama sekali. Bergabunglah!" Bella memberi izin kakaknya untuk bergabung bersama mereka. Mereka pun memulai sarapannya masing-masing.

"Hey, Edward! Thanks ya!" ucap Cam.

"Untuk?"

"Sudah mengantar adikku pulang dengan selamat semalam."

"Oh itu. Ahh… tidak perlu sungkan. Aku senang melakukannya. Aku mau saja melakukannya setiap hari,"

"Apaan sih kau ini?" muka Bella memerah.

"Lihat mukamu! Hahaha…" Cam menggodanya. Bella merasakan bahwa mukanya panas karena malu. Ia segera mempercepat menghabiskan sandwichnya agar segera beranjak dari tempat itu. Namun karena terburu-buru, Bella tiba-tiba saja tersedak. Edward yang duduk di sebelahnya segera membantu memukul-mulul punggungnya dan memberikan botol air mineralnya pada Bella. Terlihat di wajahnya bahwa sebenarnya dia menahan tawa.

"Minumlah dulu. Kau tidak apa-apa?"

"Kalau makan jangan sambil marah-marah. Jadi saja kau tersedak." Bukannya membantu Cam malah menceramahi adiknya.

"Kau yang mengacaukan ini, tahu!" Bella mencibir pada kakaknya.

"Hahahaha... Edward, kau lihat tidak betapa lucunya muka Bella tadi?! Seperti buah apel matang. Hahahaha..." Cam tidak berhenti tertawa. Edward juga tidak tahan untuk tidak ikut tertawa. Bella kesal sekali pada keduanya. Kakaknya tidak membantu malah menertawainya. Edward juga sama saja. Bella menyeruput orange juicenya dan beranjak dari kursinya.

"Hey Bells, mau kemana? Sarapanmu belum habis," Cam bertanya.

"Suka-sukaku mau kemana," Baru saja Bella akan meninggalkan meja, seorang gadis cantik menghampiri mereka, Cam tepatnya.

"Hi, guys! Hi, Cam, Edward! Boleh aku gabung?"

"Oh tentu. Lagipula aku sudah selesai. Aku duluan," Bella berpamitan pada gadis yang tidak dikenalnya itu dan segera mempercepat langkahnya. Edward otomatis menyusulnya untuk menyamakan langkahnya dengan Bella.

"Bella… Bella… tunggu! Kenapa kau pergi begitu saja?"

"Aku kesal dengan kalian! Lagipula aku sudah berpamitan pada gadis itu. Siapa sih dia?"

"Dia Tanya. Juniorku di Broadcast,"

"Oh." Bella tetap tidak memperlambat langkahnya.

"Oh Bells, ayolah. Jangan marah terus menerus. Kita hanya bercanda. Please, jangan marah."

"Aku tidak marah, kok! Aku hanya kesal dan bosan."

"Bosan kenapa?"

"Bosan karena kau selalu saja menggangguku, menggodaku, dan membuatku kesal. Kau tiba-tiba baik padaku, sedetik kemudian kau kembali membuatku kesal." Edward hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Bella saat sedang berbicara sambil marah.

"Aahh itu. Sebenarnya aku tidak bermaksud mengganggumu atau menggodamu. Aku hanya ingin mencairkan suasana diantara kita dan kau tidak marah lagi padaku."

"Tapi usahamu itu sepertinya kurang berhasil, Ed!"

"Okay! Aku akan mencobanya lagi. Boleh kan, Bella?" Edward melingkarkan lengannya ke bahu Bella. Namun Bella langsung melepaskan rangkulan itu. "Terserah kau saja lah!"

-:|:-

Rehearsal hari itu dilangsungkan di aula besar bersama semua pemainnya lengkap dengan dekorasi dan segala perlengkapannya. Tim dekorasi sudah menghias panggung pertunjukan sedemikian rupa sejak pagi. Dekorasinya simpel tetapi tetap menarik untuk dilihat. Setting yang digunakan dalam pertunjukan ini adalah sebuah kampus. Kostum sudah disiapkan oleh wardrobe di ruang ganti backstage. Di sela istirahat latihan, para pemain fitting pakaian masing-masing.

Bella dan Edward tampak lebih mantap dalam latihan kali ini. Pelafalan, intonasi, mimik, dan penghayatan keduanya sudah lebih baik. Mereka sudah bisa menghayati perannya masih-masing dengan baik. 'Feel'dari peran Bella dan Edward sudah didapatkan keduanya. Namun Bella masih tampak canggung saat scene romantis antara Bella dan Edward sehingga sang sutradara harus mengulanginya beberapa kali.

"Bella, aku tidak tahu apa masalahmu dengan Edward. Tapi cobalah kau lebih rileks saat scene di bagian akhir. Kau tampak canggung."

"Begitu ya? Maafkan aku. Akan aku perbaiki lagi."

Setelah sang sutradara memberikan evaluasi dan pengarahan untuk semuanya, latihan hari ini pun diakhiri pada pukul 6 sore. Sam berpesan agar semua pemain dan kru mempersiapkan dirinya masing-masing lebih baik esok. Semua harus saling mendukung satu sama lain demi kelancaran pementasan kali ini. Latihan ditutup dengan hi-five, "Untuk Fork Drama Club dan untuk Jacob," Sam berseru diikuti oleh semua anggota klub yang kemudian segera membubarkan diri. Bella mengambil tasnya dan berpamitan pada yang lain. Bella menuju lapangan parkir tempat mobilnya berada.

Sebelah Barat dari posisinya saat ini, tampak Cam sedang berbincang-bincang dengan perempuan yang ditemuinya di cafetaria tadi. Tanya adalah mahasiswi semester 4 yang mengambil jurusan Broadcasting, jurusan yang sama yang diambil Edward. Baru beberapa minggu ini Cam berkenalan dengan Tanya.

"Calon kakak iparku sepertinya," gumam Bella. Bella masuk ke dalam mobilnya memosisikan dirinya di balik kemudi. Ketika hendak menstarter mobilnya, dilihatnya sesosok pria dan wanita yang dikenalnya sedang berbincang dengan tangan sang wanita memengang tangan sang pria. Mereka berdua seperti terlibat dalam perbincangan yang serius.

Tanpa disadarinya, Bella meremas stir kemudi dengan kencangnya. Ada perasaan kesal dan kecewa melihat apa yang baru saja dilihatnya. Ia cemburu melihat wanita itu memegang tangan Edward seolah-olah tidak ingin melepaskannya. Akhirnya Bella pulang bersama perasaan sedih dan kecewa.

-:|to be continue|:-

A/N :

Hello, I'm back! It's been too long, yeah I know. Sorry for that :( I hope you like this chapter. I'll try to update next chapter as soon as possible.

Big thanks for Kirei, Zahwa H, FirdausiLulu, ridahcullen, .poesphyta, all siders, followers, and who has add this fict into favourites. I really appreciated #hug

Wanna give me some review? ^^

Xoxo,

MY