Disclaimer : All of Twilight franchise you knows is belongs to Stephenie Meyer
Pair : Isabella Swan x Edward Cullen
Rating : T
Genre : Romance & Hurt/Comfort
Timeline : College times
Warning : Totally fanon, Something you thought weird. OOC. OC is mine.
A/N : This fict was repost from one of Robert Pattinson's Indonesia fanbase forum in Twitter. Some other chars in this fict is tottaly fiction. No offense.
Happy Reading..
-:|Extraordinary Love|:-
Chapter 8
Sepanjang perjalanan pikiran Bella tidak lepas dari pemandangan yang dilihatnya di kampus tadi. Dirinya tidak bisa fokus pada jalanan, padahal hari semakin gelap ditambah jalanan licin sehabis diguyur hujan. Cuaca hari ini menambah kegundahan hati Bella. Tiba di rumah, Renée mendapati anak bungsunya itu tampak berbeda, tidak seceria dan sesemangat seperti pagi hari tadi.
"Mom, aku pulang!" Bella memasuki pintu utama.
"Hello, dear. What's wrong with you?" tanya Renée sambil mengecup kedua pipi Bella.
"Tidak ada, Mom. Aku hanya butuh istirahat saja."
"Oh, dear," Renée mengiba.
"Aku naik dulu, Mom." Bella meninggalkan Renée di ruang keluarga dan naik menuju kamarnya. Ia hanya ingin menyendiri.
Bella melemparkan tasnya begitu saja di lantai lantas. Cam belum pulang dari latihan bandnya. Bella tidak tahu harus bercerita pada siapa. Dia memutuskan untuk duduk di atas meja yang menghadap ke luar. Dibukanya jendela agar ada udara segar yang masuk memenuhi otaknya yang sedang kacau. Langit sedang tidak bersahabat. Biasanya dengan menatap bintang-bintang malam sambil menceritakan kegundahan hatinya dapat membuatnya sedikit tenang bila sedang mengalami masa-masa seperti ini. Namun hari ini bintang pun enggan menampakkan setitik sinarnya untuk menemaninya dikala sedang ia inginkan kehadirannya. Benar-benar malam yang buruk, pikirnya. Tiba-tiba tepikir olehnya untuk bercerita pada sahabatnya semasa SMA, Rose, yang kini tinggal di Kanada. Dibukanya notebook miliknya yang tergeletak di sampingnya. Dia pun mulai menuliskan isi hatinya.
Dear my Rose,
Bagaimana Cannada? Apa disana aman-aman saja? Baguslah kalau begitu.
Bagaimana denganmu dan keluargamu? Anjingmu pasti sudah melahirkan ya? Senangnya bisa memiliki anak-anak anjing yang lucu. Andai saja Dad tidak alergi terhadap bulu anjing. By the way, kau sudah mempunyai kekasih lagi, belum?
Rose..
Andai saja kau masih tinggal disini, pasti sekarang aku sudah mengabiskan tissu di kamarmu. Aku benar-benar butuh teman untuk bercerita.
Kau masih ingat Edward? Seniorku yang dulu pernah kuceritakan sering menggangguku. Beberapa hari ini aku betemu lagi dengannya. Aku sedang dalam persiapan untuk pementasan drama perdanaku di universitas. Aku akan memerankan peran utama wanitanya, dan peran utama prianya adalah Jake. Namun dua hari yang lalu dia kecelakaan lalu lintas, dia terjatuh dari motornya hingga kakinya retak. Dan apa yang terjadi? Pemeran utama prianya digantikan olah Edward, orang yang selama ini aku benci. Awalnya aku tidak ingin, tapi demi pertunjukkan ini akhirnya aku mau meneruskannya. Ya dengan risiko aku harus selalu berdekatan dengannya. Namun sikapnya padaku kali ini tidak seburuk masa lalu. Memang dia masih suka menggangguku dengan menggodaku. Tapi sikapnya menjadi lebih baik padaku. Dia perhatian sekali padaku. Kemarin dia mengantarku dengan alasan Cam yang menyuruhnya, padahal tidak. Bahkan tadi saat aku tersedak ketika sedang sarapan di kampus, dia yang memberikan minuman untukku dan membantuku mengusap-usap punggungku. Malam lalu dia mentextingku dengan ucapan selamat malam yang sangat romantis. Jujur aku menyukai keadaan ini.
Tapi... tadi sebelum aku pulang, aku melihatnya sedang berduaan dengan Alice. Alice, mahasiswi jurusan Desain Interior satu angkatan dengan Cam. Aku mengenalnya karena dia pacar dari sepupu Hannah, Jasper. Oh ya kembali lagi ke persoalanku. Saat aku melihatnya, mereka sedang berbincang-bincang sambil berpegangan tangan. Tidak. Lebih tepatnya Alice yang memegang tangan Edward. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi terlihat serius dan... Oh, aku tidak bisa meneruskannya lagi. Entah mengapa hatiku sakit sekali melihatnya. Aku tidak suka melihat Edward dekat dengan perempuan lain, apalagi Alice sudah mempunyai pacar. Apakah ini yang disebut cemburu, Rose? Tapi mengapa aku cemburu? Aku ini bukan siapa-siapanya Edward. Sampai sekarang pun aku masih sering marah terhadapnya. Tapi sepertinya marahku tidak beralasan. Edward memang menjadi baik padaku, perhatian padaku, melindungiku, dan menurut Cam dia menyukaiku. Aku tidak tahu apakah aku menyukainya juga. Tapi mengapa aku begitu sakit hati saat melihat dia dengan perempuan lain? Aku tidak tahu, Rose! Aku tidak bisa berfikir jernih belakangan ini.
Rose... balas segera e-mailku ini. Aku benar-benar membutuhkanmu. Hug, Bella.
E-mail pun dikirimnya. Lega rasanya bisa mengeluarkan perasaan yang selama ini dipendamnya. Lima belas menit kemudian, ponselnya berdering. Hannah menelponnya.
"Hallo."
"Hallo, Hannah. Ada apa menelponku malam-malam? Tidak ada sesuatu yang buruk lagi kan?" tanya Bella was-was.
"Ah, tidak. Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu."
"Tanyakanlah."
"Kau mencintai Edward, ya?" Seperti ditusuk anak panah tepat di jantungnya, seketika ia kesulitan bernafas. Pertanyaan Hannah seperti petir di siang bolong baginya.
"Me..mengapa kau bertanya seperti itu padaku?"
"Aku hanya ingin membalas e-mailmu."
"E-mailku?"
"Bella… Bella. Cek kembali e-mailmu. Kau salah mengirim rupanya." Buru-buru Bella mengecek e-mailnya tadi. Dan benar saja, pesan itu terkirim ke alamat e-mail Hannah, bukan Rose.
"Ya Tuhan! Maafkan aku, Hannah."
"Haha... tidak masalah, Bella. Justru aku ingin membantumu."
"Aku malu sekali. Bodohnya aku!"
"Sekarang, jawab pertanyaanku tadi."
"Yang mana?"
"Kau menyukai Edward? Iya kan?"
Lama tidak ada jawaban dari Bella. "Hmm..."
"Bella?!" Hannah memperbesar volume suaranya agar terdengar oleh Bella.
"A… aku tidak tahu, Han..."
"Seperti dugaanku. Kau memang menyukainya."
"Aku..."
"Sudahlah, tidak usah mengelak. Dari apa yang kau tuliskan di e-mailmu sudah jelas bahwa kau menyukainya, bahkan mencintanya. Buktinya kau senang berada di dekatnya meskipun dia sering membuatmu kesal. Kau senang dia memperlakukanmu dengan baik. Kau senang dia mentextingmu kata-kata romantis."
Tanpa sadar air mata mengalir dari pelupuk mata Bella. "Tapi aku kesal melihatnya bermesraan dengan Alice!"
"Hahaha... kau ini kekanakan sekali. Memangnya kau tahu apa yang mereka bicarakan?"
"Tidak. Memangnya kau tahu?"
"Hhuh. Begini, Bella. Alice sedang ada masalah dengan Jasper. Lantas dia meminta tolong pada Edward untuk menolongnya memperbaiki hubungan mereka."
"Tapi mengapa sampai memegang tangan Edward seperti orang yang sedang memohon?"
"Awalnya Edward tidak mau mencampuri urusan saudaranya. Sampai-sampai harus Alice memohon-mohon padanya agar mau menolongnya. Akhirnya Edward mengalah dan mau menolong."
"Memangnya Edwarda saudaranya siapa?"
"Kau tidak tahu? Alice adalah adik sepupu Edward dari pihak ibunya. "
"Oh! Aku baru tahu hal itu. Jadi aku tidak enak padanya."
"Sudahlah, Bells, tidak perlu kau pikirkan masalah itu. Edward pasti tidak akan marah soal itu."
"Darimana kau tahu kalau dia tidak akan marah?"
"Kau ini bodoh, ya? Edward kan... Ah sudahlah! Kau tanyakan sendiri padanya."
"Tapi aku takut kalau-kalau dia marah?"
"Kalau kau menyukainya, mengapa harus takut?!"
"Ya, tapi..."
"Aduh, Bella. Mengapa kau jadi pengecut seperti ini? Sudahlah. Aku mengantuk. Sampai bertemu besok. Good luck for your performance, tomorrow."
"Thank you, Hannah, for everything."
"You're welcome. Good night, Bella."
"Good night."
-:|to be continue|:-
A/N :
Saja udah janji untuk update cepat. Ini udah cepat, kan? XD
Chapter ini terasa garing ya? Tapi segini yang bisa saya kasih ke kalian. Disini perasaan Bella akhirnya terungkap. Tinggal gimana dia tunjukkan ke Edward.
Fanfict ini akan tamat pada chapter 10. So, tungguin aja ya! Ngga lama kok, saya usahain bulan ini selesai.
Balasan review:
Lulurobsten makasih Ini udah update, kok. Mudah2an ngga kelamaan :D
Ksatriabawangmerah udah tau kan yg megang tangan Edward siapa? XD Yup, Cam emg iseng. Saya pingin buat Bella punya brother-sister relationship yg manis dan lucu sama kakaknya, krna di canon dia ngga pernah ngerasain itu. Makasih udah mau nunggu
Nabillaesa44 dilanjut kok sampai tamat, tenang aja Makasih udah mampir ^^
Zahwa H makasih ini udah lanjut yaa ^^
Wanna give me some review? #wink
Xoxo,
MY
