Disclaimer : All of Twilight franchise you knows is belongs to Stephenie Meyer
Pair : Isabella Swan x Edward Cullen
Rating : T
Genre : Romance & Hurt/Comfort
Timeline : College times
Warning : Totally fanon, Something you thought weird. OOC. OC is mine.
Happy Reading..
-:|Extraordinary Love|:-
Chapter 9
Bella mengakhiri perbincangannya dengan Hannah. Perasaan sakitnya sedikit terobati dengan pengakuannya tadi. Dalam hatinya ia berkata "Ya, aku menyukainya. Bahkan mencintainya. Tapi apakah dia mencintaiku juga?" Pertanyaan klise yang selalu dilontarkan dari mulut seorang remaja yang sedang dilanda asmara. Namun memang itu yang sekarang ada di pikirannya. Apakah mungkin Edward mencintai Bella yang selalu menganggap segala perbuatan Edward padanya adalah suatu gangguang? Ketidakpercayaan diri kini menghantuinya.
Bella bersiap untuk tidur setelah membersihkan diri dan menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan esok. Tidak biasanya Bella seperti ini. Biasanya ia tidak terlalu memikirkan pakaian apa yang akan dikenakannya. Beberapa saat ia terdiam di depan lemari pakaiannya memilih pakaian yang pantas untuk ke kampus esok. Setelah memilah-milah barang yang ada di lemarinya, pilihannya ia jatuhkan pada mini dress selutut berwarna putih dengan sedikit aplikasi di bagian bawahnya berwarna magenta yang ia padankan dengan sebuah bollero berwarna sama seperti aplikasi mini dressnya. Wedges setinggi tiga sentimeter dengan model tali terbuka ia pilih untuk menyempurnakan penampilannya.
Di balik selimutnya, Bella memainkan ponselnya sambil terus membuka-tutup ponsel itu. Ia menunggu seseorang mentekstingnya. Ya, ia menunggu ucapan selamat malah dari Edward. Betapa ia merindukan kata-kata romantis itu terlihat di layar ponselnya. Namun apa yang di harapkannya malam ini tidak terpenuhi. Bella hanya menunggu hingga akhirnya ia terlelap tanpa ada pesan yang sampai padanya.
"Bella." Renée mencoba membangunkan putrinya. "Bangun, sayang. Bukankah hari ini adalah pertunjukkan dramamu?"
"Jam berapa ini, mom?" Bella berusaha membuka kelopak matanya yang terasa berat. Dilihatnya alarm clock di meja samping tempat tidurnya. "Astaga! Aku terlambat!"
"Honey, buka matamu dengan benar. Ini baru jam 6." Bella membuka matanya lebar-lebar dan kembali melihat jamnya.
"Aahh, benar. Aku pikir sudah jam 7."
"Mandilah. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu." Renée mengecup kening putrinya.
"Yes, mom."
"Oh, ya. Setelah itu, bangunkan kakakmu. Dia juga akan perform kan hari ini?"
"Baiklah."
Bella bergegas menuju kamar mandi. Pagi ini tidak sedingin biasanya sehingga ia tidak perlu menyalakan water heater. Setelah mandi, dikenakannya pakaian yang telah dipilihnya kemarin. Bella memandang dirinya di depan cermin besarnya. Ia tersenyum melihat penampilannya hari ini, lumayan juga, pikirnya. Ia menuju meja riasnya. Jarang sekali ia menggunakannya untuk berdandan meskipun Renée sering membelikannya alat-alat kecantikan. Ia menyapukan sedikit bedak dengan warna senada dengan kulitnya dan mengoleskan lipgloss merah muda untuk menyamarkan bibirnya yang pucat. Coba-coba ia mengulaskan perona setipis mungkin agara wajahnya terlihat lebih segar. Tidak lupa ia menyisir rambutnya dan mengikatnya setengah bagian agar terlihat rapi. Senyum kembali terukir di wajahnya yang puas melihat hasil karyanya. Simpel, namun sangat menawan.
Segera ia keluar kamarnya untuk turun menuju ruang makan. Dilihatnya pintu kamar Cam sudah terbuka, artinya ia sudah bangun. Memang Cam sudah bangun saat Bella sedang mandi. Cam sudah berada kursinya untuk sarapan. Penampilannya hari ini seperti biasa dengan setelah jeans dan T-shirt yang dilapisi kemeja tak berkancing.
"Morning, all."
"Morning, Bella. Hari ini kau terlihat… Wow! Renée terkesima dengan penampilan Bella pagi ini. Melihat keterkejutan mommynya, Cam memutar badannya agar dapat melihat Bella dibelakannya.
"Berlebihan ya, mom?"
"No. You looks so beautiful. How cute are you, dear!"
"Kau tidak salah makan obat kan?" ucap Cam menyindir, namun ia sendiri terkesima melihat penampilan adiknya itu.
Bella memasang muka masam pada kakaknya. "Cam, jangan begitu pada adikmu."
"Tidak tidak. Aku hanya tidak percaya bahwa adikku bisa secantik ini. Mengapa tidak dari dulu kau seperti ini? Pasti sekarang kau sudah punya pacar." Muka Bella bersemu merah mendengar sanjungan itu.
"Baiklah aku akan berganti pakaian sehari-hariku lagi." ancamnya sambil berpura-pura meninggalkan ruang makan.
"Hei! Jangan marah. Aku hanya bercanda." Cam menahan adiknya agar tidak pergi.
"Sudah… sudah. Makanlah sekarang, Bells" Bella menempati kursinya dan segera melahap baked smoked beef-potatoe buatan Renée.
"Ini enak sekali, mom!"
"Terima kasih, sayang."
"Oh ya, Cam. Kau tidak perlu membawa mobil hari ini. Kau ikut saja denganku."
"Ya sudah. Baiklah. Kebetulan aku sedang malas menyetir."
Selesai sarapan, masih ada waktu tersisa sebelum ia berangkat ke kampus. Semua kebutuhannya sudah dipindahkannya dari kamarnya ke ruang keluarga. Naskah; baju ganti; jaket; payung, bila nanti turun hujan; sedikit peralatan make-up; sudah masuk dalam tas selempangnya. Tidak ketinggalan pula ponselnya sudah ada di saku tasnya. Tiba-tiba saja terdengar bunyi ring tones ponselnya. Diambilnya segera ponselnya dari dalam tas. Dilihatnya di layar display, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Segera diangkatnya panggilan itu dengan perasaan sedikit gugup.
"Hallo?"
"Hi, Bella. Kau sudah siap? Lima menit lagi aku tiba di rumahmu." Bella mengenali suara itu. Suara Edward. Namun dirinya terkejut dengan perkataan Edward.
"Hah? Untuk apa?"
"Huh. Pasti kau tidak membaca messageku, ya?" Bella kembali melihat layar ponselnya. Ternyata ada satu pesan masuk yang belum terbaca.
"Memangnya apa isi messagemu? Lalu, untuk apa kau kesini?"
"Aku akan menjemputmu. Sekarang aku sudah ada di depan rumahmu. Keluarlah!" Edward memutuskan sambungan teleponnya. Tidak tahu harus berkata apa, Bella segera lari menuju halaman depan rumahnya. Dilihatnya Edward yang dengan tampannya memakai T-shirt putih dengan blazer denim yang lengannya digulung sampai siku dipadukan dengan deep-blue jeans yang sangat pas di badannya yang atletis.
"Morning, Bella! Kau..." Edward tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Dirinya hanya bisa tertegun melihat sosok indah nan menawan berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
"Edward? Mengapa kau bisa kesini?" Edward tidak menggubris apa yang ditanyakan Bella padanya. "Edward!"
"Ya, umm… aku… hanya kebetulan dari rumahku menuju kampus searah dengan rumahmu. Makanya aku mampir kesini mungkin saja kau tidak akan membawa mobilmu."
"Aku memang tidak akan membawa mobil, tapi..." belum sempat Bella meneruskan kata-katanya, Edward sudah menginterupsinya.
"Ah, kebetulan sekali. Let's go, Bella."
"Tapi aku akan berangkat dengan Cam." Bella menyelesaikan kata-katanya yang terpotong.
"Kau pergilah dengan Edward. Lagipula aku akan menjemput Tanya dulu." suara Cam tiba-tiba mucul dari belakang.
"Baiklah." Bella segera masuk untuk mengambil tasnya.
Tanpa sepengetahuan Bella, di luar Cam bertanya sesuatu pada Edward. "Edward!"
"Ya?"
"Cantik bukan dia pagi ini?"
"Sangat!" Edward mempertegas.
"Kau mencintainya?"
"Dengan setulus hatiku, ya." ucap Edward mantap.
"Kau jaga dia baik-baik. Jangan membuatnya bersedih dan kecewa."
"Pasti."
"Kalau sampai ada apa-apa dengannnya, kau berurusan denganku," ancam Cam.
"Kau bisa pegang janjiku."
Cam mengangguk mantap seraya tersenyum.
Bella keluar siap dengan tas tersampir di bahu kanannya. Tas itu sangat serasi dengan sepatunya sehingga menambah kesempurnaan penampilanya hari ini. Ditambah dengan bolleronya yang kontas sekali dengan kulitnya yang putih bersih. Edward sampai takjub melihatnya sampai-sampai ia menjulurkan tangannya yang langsung diterima Bella. Bella hanya mampu tersenyum saking senangnya diperlakukan bak putri oleh Edward. Di perjalanan keduanya saling diam dalam kekagumannya satu sama lain. Sesekali mereka saling melirik dan tersenyum.
-:|:-
Setibanya mereka di kampus, beberapa pasang mata tertuju pada mereka. Mereka sepertinya penasaran karena keduanya datang bersamaan. Namun banyak diantara mereka yang terkejut dengan penampilan baru Bella yang tidak biasa. Terlebih lagi ketika masuk ke ruang klub drama.
"Wow, Bella! Ada apa dengan penampilanmu hari ini?" tanya Embry terkejut
"Mengapa? Jelek ya?"
"Tidak, Bella. Kau cantik sekali hari ini." Hannah memujinya lalu mengajaknya duduk. Sedangkan Edward berpamitan keluar.
"Bella, aku akan keluar mencari Sam."
"Okay." Ia melanjutkan kembali perbincangannya dengan Hannah.
"Hey, kau memakai blush-on ya?" ucap Hannah takjub. Tidak biasanya Bella berdandan.
"Terlalu tebal, ya?" Bella langsung menutupi pipinya.
"Tidak. Aku tahu kok kau memakainya setipis mungkin." Sahabatnya itu memang ahli dalam bermake-up. "Tapi kau tetap terlihat sangat menawan. Sampai-sampai Edward takjub melihatnya."
"Sepertinya. Tingkahnya aneh sejak tiba dirumahku."
"Dia ke rumahmu? Menjemputmu?"
"Yup!"
"Pantas saja kalian masuk bersamaan." Hannah tersenyum nakal pada Bella. Membuat muka Bella terasa panas dan memerah.
"Kau kenapa?"
"Kalian sudah resmi?" todong Hannah.
Bella mengibaskan tangannya, "Kau mengada-ada."
"Jika tidak, untuk apa dia menjemputmu? Lihat. Mukamu memerah sekarang," goda Hannah.
"Entahlah! Di mobil saja kita tidak saling bicara. Bahkan dia sama sekali tidak mengomentari penampilanku, apalagi memujiku."
"Mungkin dia malu. Haha..." Hannah bergurau.
"Ah sudahlah. Aku mau siap-siap."
"Memangnya kalian tampil jam berapa?"
"Jam 3 siang. Kau sendiri? Kau jadi tampil bersama Jessica?"
"Tentu saja. Oh ya, Cam datang kan? Bandnya yang akan mengiriku bernyanyi."
"Dia akan sampai beberapa saat lagi. Dia sedang menjemput Tanya, kekasih barunya sepertnya. Jessica mana?"
"Dia mengatakan akan datang satu jam lagi. Sepertinya Mike terlambat menjemputnya. Aku keluar ya!"
"Mau kemana?"
"Menunggu Jake."
"Jake akan kemari? Memangnya ia sudah keluar dari rumah sakit?"
"Sudah kemarin malam. Dia bersikeras ingin datang melihat pertunjukkan hari ini. Dia akan diantar supir keluarganya."
"Baguslah kalau begitu."
Bella segera menuju aula besar untuk bergabung dengan pemain lainnya yang tengah bersiap-siap disana. Pukul 10 tepat, rangkaian acara pun dimulai ditandai dengan pembukaan oleh Rektor South Fork University. Beberapa klub yang ada di kampus itu ikut serta dalam rangakaian acara tersebut. Mulai dari klub Karate yang menampilkan pertunjukan duel antar angotanya, klub dance yang menampilkan dance parade dengan berbagai macam jenis tarian, klub musik yang menampilkan beberapa pertunjukan band-band dan kolaborasi dengan beberapa anggota paduan suara, klub vokal yang menampilkan paduan suara dan beberapa vocal group, dan masih banyak klub-klub lain yang ikut serta. Tidak ketinggalan pula klub drama ikut menampilkan pertunjukan terbaiknya. Selain berbagai pertunjukan, diadakan pula berbagai perlombaan, mulai dari lomba di bidang science hingga perlombaan yang sifatnya hiburan.
Suasana kampus hari ini ramai sekali. Berbagai atribut mulai dari spanduk hingga balon-balon unik hasil karya mahasiswanya terpasang di setiap sudut kampus. Beberapa mahasiswa bahkan ada yang berpakaian unik ala tokoh-tokoh terkenal, mereka sedang mengikuti parade costume play. Seluruh civitas akademik pun ikut larut dalam kemeriahan acara ini. Memang acara ini tidak diperuntukan untuk mahasiswanya saja, tetapi untuk seluruh warga kampus.
Pukul setengah dua siang, pengunjung aula besar mulai berdatangan. Setengah jam lagi pertunjukan drama Extraodinary Love akan dimulai. Para pemain dan kru lainnya sudah siap di belakang panggung. Jacob juga berada disana, meskipun harus berjalan dengan tongkat penopang karena kakinya masih tidak dapat berjalan dengan baik. Kali ini Sam bersama Jacob memulai briefing sebelum pertunjukkan dimulai.
"Oke, guys! Aku tidak akan berpanjang lebar lagi. Aku hanya ingin berterima kasih sekaligus meminta maaf pada kalian semua karena aku tidak bisa membantu beberapa hari ini. Aku juga sangat sangat berterima kasih pada Edward yang sudah bersedia menggantikanku." Jacob tersenyum pada Edward. "Kau juga, Bella. Terima kasih karena kau sudah sangat membantu. Dan untuk semuanya, thank you and good luck." Jacob menyudahi kalimatnya. Giliran Sam yang memberi pengarahan.
"Terima kasih semua sudah hadir disini. Aku mohon kerja samanya. Para pemain, jangan kehilangan fokus kalian. Berusahalah tetap konsentrasi apapun yang terjadi. Semoga tidak ada yang terjadi diluar yang kita harapkan." Sam menghela nafas sejenak. "OK! Kita berjuang bersama hari ini." Sam mengarahkan semuanya untuk berkumpu di tengah dan menjulurkan lengan masing-masing untuk toast. "Fork Drama Club, Success!" Semua orang yang ada di ruangan itu berteriak menyerukannya. Dan pertunjukan drama pun dimulai.
-:|to be continue|:-
A/N :
I made some mistake! OMG! Ada yg nyadar ngga ya? *semoga ngga ada*
Ini cepet 'kan? Hehe :D
Chapter ini segini dulu. Pertunjukkan dramanya tunggu chapter mendatang, sekaligus endingnya.
Makasih untuk Rae alias ksatriabawangmerah yang masih setia nunggu fanfik ini. Nih udah aku update cepet :p
Wanna give me some review? #wink
Xoxo,
MY
