Disclaimer : All of Twilight franchise you knows is belongs to Stephenie Meyer

Pair : Isabella Swan x Edward Cullen

Rating : T

Genre : Romance & Hurt/Comfort

Timeline : College times

Warning : Totally fanon, Something you thought weird. OOC. OC is mine.

A/N : This fict was repost from one of Robert Pattinson's Indonesia fanbase forum in Twitter. Some other chars in this fict is tottaly fiction. No offense.

Last chapter.

Happy Reading..

-:|Extraordinary Love|:-

Chapter 10

Seluruh penonton yang memenuhi aula hening ketika seluruh lampu dimatikan. Hanya spotlight yang mengarah ke panggung saja yang tetap menyala. Pertunjukan dimulai ketika backsound pembuka menggema di udara. Sang tokoh pun mulai memasuki area panggung secara bergantian dan membawakan perannya masing-masing. Pertunjukan belangsung lancar. Penonton terhanyut dalam alur cerita yang dibawakan.

Diceritakan Kristen, seorang gadis remaja yang beranjak dewasa memasuki dunia perkuliahan yang cukup berat bagi seorang gadis lugu seperti dia. Kehidupannya di masa perkuliahan biasa-biasa saja. Tidak ada sesuatu yang spesial. Layaknya wanita pada umumnya, Kristen diam-diam tertarik menyukai lawan jenisnya, yang tak lain adalah Robert, seniornya. Robert yang adalah bintang di kampusnya memiliki banyak sekali penggemar wanitanya. Setiap wanita di kampus itu pasti mendambakan untuk menjadi kekasihnya. Namun hingga saat ini Robert belum memiliki kekasih. Padahal dengan ketampanan, kepintara, ditambah kekayaan orang tuanya seharusnya ia mudah saja mendapatkan seorang kekasih, bahkan lebih. Namun karena prinsipnyalah yang membuat Robert masih sendiri. Ia ingin memiliki kekasih yang tidak hanya melihat semua kelebihan dirinya, tetapi juga menerima kelemahannya. Ia juga hanya ingin mempunyai satu kekasih yang akan menjadi istrinya kelak. Prinsip itu diambilnya setelah kegagalan cintanya terdahulu saat wanita yang ingin dia pacari menolaknya karena Robert pemalu dan suka menutup diri. Namun itu semua berubah ketika ia betermu dengan Kristen. Dimatanya Kris—begitu gadis itu biasa disapa—adalah sosok gadis yang biasa, namun dengan kebaikan hatinya dan kecerdasannya mampu membuatnya menjadi orang yang lebih berani dan tidak lagi menutup diri. Kristen tidak tahu bahwa diam-diam Robert pun mencintainya. Karena pernah suatu saat ia ditegur oleh seniornya yang juga menyukai Robert, agar ia menjauhi Robert karena belakangan ini Robert sering bertemu Kristen. Robert sampai rela bergabung dengan klub science dimana Kristen adalah salah satu anggotanya agar ia bisa lebih mengenalnya. Namun karena Kristen yang berusaha menghindar, Robert menjadi kehilangan kepercayaan dirinya. Hingga suatu peristiwa yang mempertemukan mereka. Peristiwa dimana Kristen terserang suatu penyakit yang menurut medis tidak dapat disembuhkan. Peristiwa itu membuka hati Robert bahwa ia tidak sanggup berpisah dengan Kristen dan berjanji bahwa akan selalu bersamanya dan menjaganya. Di rumah sakit tempat Kristen dirawat, Robert memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya pada Kristen apapun risiko yang bakal dia hadapi, meskipun Kristen mungin tidak akan menerimanya. Hal yang diduganya ternyata salah. Kristen ternyata mencintainya dan menerimanya untuk menjadi kekasihnya.

Di akhir cerita, Robert mengungkapkan rasa cintanya pada Kristen yang terduduk lemas di ranjang pasien.

"Kris, aku mau berterus terang padamu. Jujur aku tidak ingin kau seperti ini, terus saja menghindar dariku. Aku tidak ingin jauh darimu, Kris. Aku… aku mencintaimu." Kristen kaget mendengar kata cinta dari bibir Robert, hal yang selama ini ia inginkan. "Mau kah kau menjadi pendampingku selamanya?"

"Kau tidak malu mempunyai istri yang penyakitan sepertiku?"

"Aku tidak malu mempunyai istri cacat sekalipun, asalkan hatinya bersih dan tulus sepertimu. Maukah?" Kristen menunggu saat yang tepat untuk menjawab. Dan setelah hatinya siap, ia tidak langsung menjawab, ia justru mengecup pipi Robert dan mengangguk. Sontak Robert kaget namun hatinya berbunga-bunga. Tak lama sebuah kecupan diberikannya untuk Robert.

"I love you, Robert."

"I love you, my Kristen."

Dan tanpa didiga, sebuah kecupan mendarat di bibir lembut Bella.

Seluruh penonton bertepuk tangan dengan meriah, bahkan memberikan standing applause. Dua jam sudah pertunjukkan dilangsungkan. Dan tirai pun diturunkan.

-:|:-

Kris masih tidak percaya apa yang baru saja dialaminya. Edward menciumnya. Mencium bibirnya! Padahal dalam naskah seharusnya Edward mengecup keningnya. Seharusnya ia senang akan hal itu. Namun ia merasa tidak suka diperlakukan seperti itu apalagi di depan orang banyak. Air mata mulai menggenang pelupuknya. Sebenarnya ia ingin langsung berlari dari kerumunan pemain dan kru. Namun Jacob menginstruksikan untuk berkumpul sejenak untuk evaluasi.

Saat evaluasi, Bella hanya bisa terdiam sambil menahan amarah dan rasa sedihnya. Sam dan lainnya memeberikan ucapan selamat pada Bella dan Edward yang sudah bermain sangat baik hingga akhir. Namun ketika disinggung masalah ciuman itu, emosinya tak tertahankan lagi dan air matanya pun mulai menetes. Bella memutuskan untuk meninggalkan ruangan. Para pemain sudah meneriakkanya agar kembali, namun usaha mereka sia-sia. Bella tetap berlari hingga menghilang dari balik pintu. Edward yang mencurigai ada sesuatu yang janggal pada Bella, tanpa basa-basi langsung berlari menyusul Bella.

Bella berlari menuju area belakang kampus. Beberapa orang melihat dirinya dengan pandangan bingung. Tak sengaja bahu Bella menabrak Mike, pacar Jessica, yang seadang berjalan berlawanan.

"Bella, ada apa? Kau menangis?"

"Tidak," Bella menjawab seadanya dan terus berlari mencari tempat yang sepi. Mike yang kebetulan bertemu Edward menanyakan perihal Bella.

"Hey, Ed! Kau tahu ada apa dengan Bella?"

"Kau melihatnya?"

"Tadi dia ke arah sana," jawab Mike sambil menunjukkan arah kemana Bella pergi.

"Thanks!" Edward menepuk bahu Mike seraya terus berlari.

"Hey! Ed!" Mike berteriak pada Edward sementara yang dipanggil terus berlari dan menghilang dari pandangannya. "Aneh sekali mereka," gerutu Mike dalam hati.

Edward terus berlari ke arah yang ditunjukkan Joe. Ia berusaha mencari sosok yang dicarinya hingga akhirnya ia melihat seorang gadis terduduk di balik pagar belukar. Dihampirinya gadis itu.

"Bells?"

"Tinggalkan aku sendiri," jawabnya sambil tersedu-sedu.

"Kau kenapa?" Bella tetap diam. "Bella!" Kali ini Edward menaikkan sedikit intonasinya.

"Kenapa? Kau masih tanya kenapa?" Bella bangun dari duduknya.

"Memangnya apa salahku?" Edward merasa tertuduh.

"Kau sudah mempermalukanku, tahu!" Bella membentaknya. Sontak Edward kaget mendengar ucapan gadis itu.

"Maksudmu?"

"Mengapa kau menciumku tadi? Itu kan tidak ada di script. Kau sudah mempermalukanku di depan banyak orang. Kau jahat, Ed!" tangisan Bella tak terbendung. Emosinya meluap-luap diiringi derasnya air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Edward terdiam mencerna kata-kata yang baru saja dilontarkan Bella padanya.

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mempermalukanmu, sungguh. Aku hanya..."

"Hanya apa? Hanya karena kau benci padaku sehingga kau tega mempermainkan aku?!"

"Kau berlebihan, Bella!"

"Sudahlah! Aku muak denganmu! Dasar pervert!" Bella mengusap air matanya dan hendak meninggalkan tempat mereka beradu argumen, namun Edward segera mencegahnya. Pria itu justru menariknya ke dalam pelukannya. Bella yang cukup terkejut dengan tindakan Edward malah meronta-ronta, namun dekapan erat Edward membungkamkan usahanya.

"I'm sorry, Bella. I'm really sorry. Aku tidak bermaksud mempermainkanmu."

"Tapi kau jahat padaku."

"Aku tidak bermaksud begitu, percayalah. Aku hanya..." sepersekian detik tidak ada kata yang keluar dari mulut Edward.

Edward melonggarkan dekapan tangannya sehingga ia bisa melihat wajah Bella. "… mencintaimu."

Bella hanya bisa menatap Edward. Air matanya mulai turun perlahan. Edward berusaha menyentuh pipinya dan mengusap air matanya. "Aku tidak ingin melihatmu menangis."

"Ed," akhirnya Bella membuka suaranya, "Mengapa selama ini kau bersikap begitu padaku?"

"Aku bersikap begitu sebenarnya hanya ingin agar dekat denganmu. Aku tidak tahu cara mendekati wanita, apalagi wanita yang aku sukai. Jadi seperti itulah sikapku padamu. Maafkan aku jika selama ini membuatmu kesal. Aku begitu karena aku menyukaimu, aku ingin dapat berbicara denganmu, ingin selalu dekat denganmu. Aku menyukaimu dari pertama kau masuk klub drama." Pengakuan itu meluncur begitu saja dari bibir Edward. Bella menyukai saat Edward mengutarakan perasaan yang sebenarnya padanya.

"Sebenarnya…" Jeda sejenak sebelum gadis berambut panjang itu meneruskan kalimatnya, "aku juga mencintaimu, Ed."

Akhirnya Bella menyunggingkan sebuah senyum malu-malu dari bibirnya. Senyuman terindah yang pernah Edward liat. Pria itu kembali merangkul Bella ke dalam pelukannya. "Berjanjilah padaku tidak akan melakukan hal yang konyol seperti itu lagi."

"Aku berjanji. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku berjanji tidak akan menciummu tanpa seizinmu," ucap Edward sungguh-sungguh. "Jadi, kita sudah resmi?" godanya.

Bella terkekeh, seraya memukul kecil bahu Edward "Seperti remaja saja," Bella tersenyum bahagia. Tiba-tiba ia melepaskan pelukan Edward.

"Ada apa?"

"Boleh aku meminta sesuatu darimu?"

"Tentu saja. Apa yang kau inginkan?"

Bella tidak menjawabnya. Ia berjinjit untuk menggapai wajah Edward. Dikecupnya bibir Edward dengan lembutnya. Ciuman yang singkat namun dalam. Edward tersenyum melihat ekspersi Bella yang malu-malu setelah menciumnya.

"Ternyata kau juga pervert," cela Edward.

"Salahmu yang memulai," bantah Bella sambil tersipu. Pipinya sudah semerah tomat.

Bella kembali ke dalam pelukan Edward dan pria jangkung itu mendekapnya dengan hangat. Tiada kata yang terucap kembali, namun keduanya mampu menyatukan perasaannya satu sama lain. Matahari pun turun seiring jalannya kisah asmara kedua insan manusia ini.

-:|:-

Setelah semua masalah di selesaikan dengan para anggota klub karena mereka terus menanyakan masalah Bella, ia berpamitan pada semuanya. Ia berganti pakaian dengan pakaian pagi harinya kerena ia malas membongkar lagi ini tasnya. Ia ingin cepat-cepat masuk mobil. Merebahkan dirinya disamping orang yang sangat disayanginya saat ini juga. Rasa lelahnya terbayar setelah melihat wajah cerah Edward yang sudah menunggunya di mobil.

"Maaf lama menunggu." Bella memasuki mobil.

"Tidak masalah." Edward tersenyum. "Ah, aku belum bilang sesuatu padamu."

"Apa itu?"

Edward mendekat pada Bella dan berbisik tepat di samping telinganya, "Kau sangat cantik hari ini."

Wajah Bella bersemu, "Thanks pujiannya. Aku pikir kau tidak memperhatikanku."

"Sebenarnya aku ingin mengucapkannya tadi pagi. Tapi aku takut kau akan menganggapnya sebagai gurauan. Tapi aku jujur, kau cantik sekali. Bahkan kau selalu terlihat cantik memakai apapun."

Wajah gadis itu kini sudah semerah tomat matang mendengar pujian kekasihnya. "Sudah jangan menyanjungku lagi. Jalankan saja mobilnya."

Edward tersenuym geli melihat gadis yang kini menjadi kekasihnya mengalihkan pandangannya ke luar jendela, berusaha menutupi wajah yang memerah. Edward segera menyalakan mesin mobilnya dan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.

"Edward, aku lapar sekali. Bolehkan jika makan malam dulu?"

Edward mengangguk. "Aku juga lapar."

Mereka berdua mampir di salah satu restauran di kota itu. Restauran Italy dipilihnya untuk makan malam pertama mereka setelah resmi berkencan. Edward mentraktir makan malam kali ini seperti layaknya kencan pertama pada umumnya, lelaki yang harus membayar semua billnya. Selesai makan malam, mereka pun langsung menuju rumah Bella.

Sesampainya di rumah Bella, Edward menyuruhnya untuk tetap di tempatnya. Ia pun keluar dan membukakan pintu mobil untuk gadisnya.

"Silakan."

"Thank you." Pipi Bella kembali bersemu. Ia merasa tersanjung atas perhatian kekasihnya.

"Sampaikan maafku pada Mr. dan Mrs. Swan karena telat mengantarkan putrinya sampai dirumah."

"Akan kusampaikan. Kau hati-hati mengemudi."

"Aku tau," Edward menempatkan Bella dalam pelukannya. Bella tidak menolak, justru membalas pelukannya.

"Sebenarnya aku masih ingin berada di sini, di sampingmu."

Bella tersenyum, "Masih ada banyak waktu untukmu bersamaku. Ini sudah hampir larut, aku tidak ingin kau mengemudi sambil mengantuk."

"Melihat wajahmu cukup untuk membuatku terjaga," gurau Edward.

Bella memukul dada kekasihnya pelan, "Huh, gombal!"

Edward hanya terkekeh mendapat perlakuan demikian dari gadisnya. Ia melepaskan pelukannya, "Ya… ya… baiklah, aku akan pulang sekarang."

Perlahan Edward mendekatkan wajahnya pada wajah Bella. Gerakannya terhenti ketika wajahnya berjarak hanya 10 sentimeter dari wajah Bella. Ia mengerti apa yang Edward inginkan dan ia pun mengangguk setuju. Didekatkan bibirnya dengan bibir Edward hingga keduanya menyatu. Edward menikmati ciuman Bella yang dalam dan hangat. Dibalasnya ciuman itu dengan lumatan bibirnya. Setelah cukup lama menikmati frenchkiss, Bella berpamitan pada Edward untuk masuk ke dalam.

"Aku masuk, ya. Good night." Bella memberikan kecupan terakhirnya.

"Good night, my sweety. Have a nice dream. Mimpikan aku ya." Gombal Edward sambil membalas kecupan Bella di bibirnya.

"You wish!"

"You're welcome. Bye!"

"Bye!" Bella memerikan kecupannya sekali lagi sebelum masuk ke dalam rumahnya.

Malam ini adalah malam yang sangat indah bagi Bella, dan tentunya Edward. Keduanya akhirnya menemukan cintanya yang selama ini sulit ditemuinya. Bella masuk dengan perasaan senang dan bahagia. Cam yang melihatnya sudah menduga ini akan terjadi. Ia sudah merestui hubungan adiknya dengan temannya, Edward. Ia thu bahwa Edward benar-benar mencintai Bella, begitu pula dengan sebaliknya. Bella segera membersihkan dirinya dan berganti pakaian tidurnya. Ia sudah siap untuk mimpi indah malam ini. Sebelum tidur, dilihatnya ponselnya untuk mencek sesuatu yang saat ini sangat ia nantikan. Dan ternyata harapannya terkabul. Di layar ponselnya tertera pesan dengan pengirimnya "My Pervert". Ia telah memasukan nomor ponsel Edward dan mengganti namanya dengan nama itu saat di mobil tadi. Segera dibukanya pesan itu. "Bermimpilah yang indah, my sweety princess. I LOVE U ." Kris pun terlelap dalam mimpi indahnya.

-:|FIN|:-

A/N :

Finally! #tebarconfetti

Oke, chapter ini sineeeeett abis! Padahal ngga pernah nonton sinetron. Salahkan novel teenlit yg masih suka say abaca #alasan XD

It's been a long time, dan akhirnya saya bisa menuliskan kata 'FIN' di chapter ini. Rasanya…. sesuatu XD Ini jadi fict multichapter pertama saya yang tamat loh #nggaadayangnanya

Sesuai janji saya pada diri saya sendiri, sehabis tamat fict ini saya akan hiatus dari fandom-fandom kesayangan saya. Saya akan mencoba menjajal fandom-fandom lainnya yg baru bagi saya, yang sekali lagi entah kapan. Malah saya berencana untuk hiatus. Tapi mungkin saya masih akan membuat fict untuk event-event yang ada di FFn. Doakan saya, ya! *ngomong ala peserta benteng Takeshi*

Oke, sekian cuap-cuap yang kepanjangan. Terima kasih untuk semua yang udah membaca, mereview, memfavoritkan, dan memfollow fanfict ini. Semoga kalian semua menikmati chapter terakhir ini.

Last word, wanna give me some review? #wink

Xoxo,

MY