Annyeong, salam kenal semuanya. Sesuai judulnya, FF ini terinspirasi dari 49 Day OST, Tears Are Falling. Memang udah lama sih, tapi masih tetap menyentuh ketika menontonnya ulang. Ini adalah ff debut saya. Jadi, mohon bimbingannya. Gomawo *bow*
Summary : Tentang airmata, tentang kerinduan dan tentang cinta yang tak pernah berakhir/ [JoonXing FF with other EXO's couple]/GS/AU/Romance-Angst/Typo(s)/RnR,ne?
Genre : Romance, angst, little bit supranatural and fantasy (maybe) ?
Rate : T
Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh Sehun, Xi Luhan
and other EXO member
Warning : GS, bahasa monoton, typo(s), OOC, alur gak jelas, DLDR
Disclaimer : Semua chara di FF ini, sungguh bukan milik saya. Meski sebenarnya saya ingin menjadikan mereka milik saya *plak*. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya cuma pinjam nama aja.
Happy Reading ~
Seorang gadis nampak tengah mematut dirinya di depan sebuah cermin besar. Senyumnya mengembang sempurna, menampilkan sebuah lekuk yang sangat manis di pipi kanannya. Raut bahagia terukir jelas di wajahnya yang seputih susu. Dia sangat bahagia tentu saja, karena hari ini adalah hari yang paling dinantikannya. Hari ini dia akan menikah dengan kekasihnya, satu-satunya pemuda yang dicintainya. Sambil menunggu, gadis itu meraih ponselnya dan dia terkikik kecil ketika melihat ada sebuah pesan dari kekasihnya - atau mungkin tepatnya, calon suaminya- .
From : Nae Yeobo
Sayang, apakah kau gugup? Aku juga. Tapi jangan khawatir, kurang dari satu jam lagi, aku akan segera tiba di hadapanmu. Aku sangat bahagia, akhirnya hari ini datang juga. Aishhhh, taukah kau, betapa aku sangat merindukanmu? Seminggu tak melihatmu adalah hal paling menyebalkan yang pernah kualami. Meski masih bisa mendengar suaramu, tapi tetap saja aku tidak bisa tenang kalau belum melihat wajah manismu itu. Istriku, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu...
Dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya, gadis itu menggerakkan jemari lentiknya di layar ponselnya. Mengetik pesan balasan untuk calon suaminya.
To : Nae Yeobo
Lebih baik kau mempersiapkan hatimu untuk mengucapkan sumpah setia di depan altar nanti. Aku tidak mau nanti kau terbata-bata saat mengucapkannya. Bukannya menggodaku dengan kata-kata tidak romantismu itu. Hihihihi, aku juga mencintaimu, suamiku...
Setelah melihat pemberitahuan 'message send', gadis itu mematikan ponselnya lalu menyimpannya di sebuah tas kecil yang dia letakkan di atas meja rias. Gadis itu tersenyum manis ketika cermin di depannya memantulkan sosok wanita setengah baya yang perlahan mendekat ke arahnya.
"Xingie-ya, aigooooo, kau cantik sekali. Penampilanmu hari ini benar-benar membuat Umma terharu. Rasanya baru kemarin Umma melihatmu belajar berjalan. Umma masih tidak percaya, sekarang kau sudah dewasa. Dan tak lama lagi, kau akan jadi istri orang."
"Terima kasih, Umma. Aku juga merasa seperti itu. Aku masih ingat dengan sangat jelas, ketika Umma menggandeng tanganku di hari pertama aku masuk sekolah dasar. Sepertinya itu baru saja terjadi kemarin." jawab Zhang Yixing, gadis itu. Dia berdiri dan memeluk wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang memasuki kepala lima itu.
Zhang Minseok, wanita setengah baya itu, mengusap pipi Yixing ketika dia melihat telaga bening perlahan mulai menggenangi mata indah itu.
"Sayang, jangan menangis. Ini hari bahagiamu. Kau harus tersenyum."
"Ini airmata bahagia, Umma. Apakah Umma juga ikut bahagia?"
"Tentu saja Umma bahagia, sayang. Meski Umma bukanlah ibu kandungmu, tapi Umma sudah menganggapmu seperti putri kandung Umma sendiri..." Minseok menyeka lembut airmata di pipi Yixing. "Umma yang merawatmu sejak bayi sampai sebesar ini. Meski tidak ada setetespun darah Umma yang mengalir di tubuhmu, tapi Umma sangat menyayangimu, Xingie. Dan kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Umma juga." Minseok membelai rambut Yixing dengan penuh kasih sayang.
"Aku juga menyayangimu, Umma."
"Hanya Umma? Kau tidak menyayangi Appamu yang tampan ini, nyonya Kim?" sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang mereka. Serempak mereka menoleh dan terkikik geli ketika melihat seorang pria paruh baya tengah berdiri di ambang pintu sambil menekuk wajahnya. Berpura-pura kesal.
Yixing tersenyum manis. "Tentu aku juga menyayangi Appa. Sampai kapanpun, Appa yang terbaik."
"Sampai kapan kau akan berdiri disana, tuan Zhang Jongdae yang terhormat? Apakah kau tidak ingin memeluk putrimu yang cantik ini? Sebelum kau kehilangan kesempatan memeluknya, karena sebentar lagi, akan ada pemuda lain yang lebih berhak atas dirinya."
Pria itu, Zhang Jongdae, perlahan melangkah mendekati dua wanita cantik beda usia tersebut, lalu merengkuh mereka ke dalam pelukan. Airmata bahagia perlahan turun membasahi pipinya yang mulai dihiasi kerutan. Meski sosok cantik dalam pelukannya ini bukanlah darah dagingnya, tapi dia sangat mencintai gadis yang semakin terlihat mempesona dengan balutan gaun pengantinnya yang putih bersih itu. Baginya, Yixing adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuknya dan juga untuk Minseok, istrinya. Sosok malaikat kecil yang hadir ke tengah-tengah mereka disaat mereka baru saja tertimpa musibah. Suatu malam, mereka menemukan Yixing di depan pintu rumah mereka. Minseok yang saat itu baru saja kehilangan bayinya dan divonis tidak akan pernah bisa mengandung lagi, langsung mengambil bayi mungil itu dan merekapun sepakat merawatnya dengan penuh kasih sayang. Jongdae masih tidak percaya, malaikat kecilnya kini sudah dewasa. Putri mungilnya telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Tidak bisa dipungkiri, jauh di dasar hatinya, ada suatu perasaan tak rela karena dia harus melepas malaikat kecilnya itu ke pelukan pria lain. Tapi Jongdae sadar, dia tidak boleh egois. Selama ini, sebagai seorang ayah, dia sudah melakukan tugasnya dengan baik. Jongdae tersenyum. Jantungnya berdebar hangat. Antara bangga dan juga bahagia.
"Xingie, tidak ada yang bisa Appa berikan padamu di hari bahagiamu ini. Appa hanya berharap, kau bahagia. Hargai dan cintai suamimu seperti kau menghargai dan mencintai Appa. Kau sanggup, princess?" Jongdae menangkup kedua pipi Yixing dan mencium keningnya dengan lembut.
"Lakukan dan berikan yang terbaik untuk suamimu. Dukunglah dan percayalah padanya. Kau paham kan, sayang?" Minseok ikut menimpali.
Yixing mengangguk. Setetes airmata jatuh membasahi pipi mulusnya. Dipeluknya kedua orangtuanya erat. Diciumnya kedua pipi Appa dan Ummanya bergantian.
"Appa, Umma, terima kasih. Aku menyayangi kalian."
Suasana haru itu mendadak berubah ceria ketika suara gaduh terdengar silih berganti di sepanjang koridor menuju ruang tunggu. Tanpa perlu melihatpun, Yixing sudah tau siapa-siapa saja pelaku kebisingan itu.
"Yak, Channie, lepaskan tanganmu dari pinggangku! Kau pikir aku orang sakit yang perlu dipapah, begitu?!"
"Jangan begitu, Baekhyun sayang. Aku hanya tidak ingin jauh darimu. Hari ini kau sangat cantik."
"Hanya hari ini? Sebelum-sebelumnya aku tidak cantik, begitu?! Yak, berhenti kau!"
"Noona, hajar saja si tukang gombal itu. Aku mendukungmu! Tapi sebaiknya kau lepas dulu stilettomu sebelum mengejar tiang listrik itu. Jangan sampai tempat ini berubah jadi arena sirkus! Hahaha, Park Chanyeol, habislah kau!" sorak seorang pemuda berkulit sedikit gelap.
Pletak.
"Bisakah kau tidak berteriak-teriak? Telingaku sudah sakit mendengar kedua orang itu berisik sejak masih di mobil tadi. Dan sekarang kau membuat telingaku semakin sakit!" tegur seorang gadis bermata bulat. Dia mendengus sebal, tanpa menghiraukan ringisan kesakitan pemuda berkulit tan yang tadi dijitaknya itu.
"Yak! Kyungsoo noona kenapa memukulku?" protes Jongin, pemuda itu, sambil mengusap kepalanya.
"Pertama karena kau berisik, kedua karena kau tidak sopan." jawab Kyungsoo kalem. Tak berselang lama, teriakan nyaringnya terdengar membahana di seluruh koridor.
"Kyaaaaaaaa, Yixing jie. Ya ampuunnn, kau cantiiikk sekaliii!" teriak Kyungsoo heboh. Dipeluknya Yixing dan dibawanya berputar-putar. Yixing hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib keempat temannya yang baru datang itu. Sementara Jongdae dan Minseok hanya bisa tersenyum. Sudah tidak heran lagi melihat kehebohan yang ditimbulkan muda-mudi di hadapan mereka itu.
"Kyaaaa, melihatmu secantik ini dalam balutan gaun pengantin, aku jadi ingin segera menikah!" seru Baekhyun tak kalah heboh. Dia lalu bergabung dengan Kyungsoo dan Yixing, lalu berputar-putar bersama. Membuat Jongin dan Chanyeol memutar kedua bola mata mereka.
"Hei kalian, hentikan. Kalau Yixing noona terjatuh bagaimana? Apa kalian mau digantung Junmyeon hyung karena membuat pengantinnya memar-memar?" cibir Jongin.
"Aku benar-benar tidak mengerti perempuan. Bagaimana mereka bisa berlari begitu cepat dengan menggunakan gaun dan highheels? Apa mereka tidak takut jatuh?" Chanyeol geleng-geleng kepala. "Ngomong-ngomong Baekki, tadi kau memintaku menikahimu ya? Secara tidak langsung, sih. Boleh saja. Kapan dan dimana?" lanjut Chanyeol yang membuat tas tangan mungil milik Baekhyun mendarat dengan indah di kepalanya.
"Hahaha, dasar anak muda jaman sekarang. Ya sudah, kami ke depan dulu ya. Sepertinya jemaat sudah mulai berdatangan. Kalian mengobrol saja dengan santai." Jongdae tertawa pelan. Kemudian dia melangkah keluar, diikuti Minseok. Meninggalkan kelima orang yang sekarang sedang asyik berfoto-foto ria.
"Luhan jie dan Sehun belum datang?" tanya Yixing. Sambil berjalan menuju meja kecil di samping meja rias, sesekali diusapnya peluh yang mengalir di pelipisnya. Sepertinya dia butuh sedikit air untuk menetralisir kegugupannya. Setelah minum beberapa teguk, diletakkannya kembali mug putih itu ke tempat semula. Kemudian dia kembali ke sofa dan mendudukkan dirinya disana.
"Mungkin sebentar lagi. Aku baru saja mengirim pesan pada Luhan jie, menanyakan keberadaan mereka." jawab Baekhyun.
Yixing mengangguk paham. Tanpa sadar, diremasnya ujung gaun pengantinnya.
"Jie, apa kau gugup?" tanya Kyungsoo.
"Menurut pengamatanku, sejak tadi jie-jie terlihat gelisah." timpal Baekhyun. Mereka berdua memang memperhatikan gerak-gerik Yixing. Mereka beringsut mendekat dan menggenggam tangan Yixing, sekedar memberi kekuatan dan semangat.
"Tentu saja. Ini hari paling bersejarah dalam hidupku. Moment sekali seumur hidup. Tentu aku gugup. Tapi di atas segalanya, hari ini aku sangat bahagia." jawab Yixing dengan mata berbinar.
"Tadi aku iseng menelepon Junmyeon hyung dan menanyakan perasaannya. Dengan teganya dia berkata 'Aku sangat bahagia, kkamjong. Makanya kau harus segera menyusul, supaya bisa merasakan apa yang aku rasakan.' Huh, apakah dia menyindirku?" sungut Jongin.
"Hahaha, bocah sepertimu belum boleh menikah, Jong. Kau belum cukup umur." ejek Chanyeol.
"Aku sudah dua puluh tahun, hyung." protes Jongin tak terima.
"Dua puluh tahun itu masih bocah. Kau belum jadi pria dewasa." Chanyeol menjulurkan lidahnya.
"Huh, kau juga tidak pantas disebut pria dewasa. Buktinya, melamar Baekhyun noona saja kau belum berani. Sekarang siapa yang masih bocah?" Jongin balas meledek.
"Yak! Tutup mulutmu, kkamjong!" Chanyeol berteriak kesal. Dikejarnya Jongin yang hendak bersembunyi di belakang Kyungsoo. Tiba-tiba saja...
PRAANGGGG!
Gerakan Chanyeol sontak berhenti. Sementara keempat pasang mata yang lain menatap horror ke arah lantai.
"Park Chanyeol, apa yang kau lakukan, hah? Kau ini selalu membuat ulah. Benar kata Jongin, kau memang bocah!" tanpa basa-basi, Baekhyun langsung menjewer telinga Chanyeol, membuat sang empunya telinga berteriak kesakitan.
Sementara Kyungsoo dan Jongin menatap Yixing dengan perasaan khawatir. Pasalnya, Yixing hanya tertegun memandangi lantai dengan wajah pucat pasi.
"Maafkan aku, noona. Aku pasti akan menggantinya. Jangan khawatir." Chanyeol tersenyum kaku pada Yixing, sambil mengusap-usap telinganya yang terasa sangat panas.
"Dasar bodoh, kau tidak akan bisa menemukan mug seperti itu dimanapun, Chanyeolie. Karena..."
"Mug itu adalah hadiah dari Junmyeon. Dia membuatnya dengan tangannya sendiri, beberapa waktu lalu, saat kami berlibur di Thailand." potong Yixing dengan suara bergetar. Sungguh, meski sederhana, tapi mug itu adalah salah satu benda yang paling berharga untuknya. Sebuah mug yang dibuat sendiri oleh kekasihnya, dengan penuh kesungguhan. Sebuah benda yang melambangkan betapa Junmyeon sangat mencintainya. Di kedua sisi mug itu, terukir nama mereka berdua. Dan sekarang, benda itu hancur berkeping-keping. Entah kenapa, tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak.
Chanyeol menundukkan kepalanya dengan dalam. Dia benar-benar menyesal. "Aku benar-benar minta maaf, noona. Sungguh, aku tidak sengaja. Maaf..."
Yixing menghembuskan nafasnya pelan. "Sudahlah, Chanyeol-ah. Semua benda memiliki masa pakainya sendiri, kan? Jangan terlalu merasa bersalah. Aku akan memanggil petugas kebersihan untuk membereskan semuanya."
"Noona, kau duduk saja. Tunggulah disini bersama Baekhyun dan Kyungsoo noona. Biar aku dan si pengacau ini yang memanggil petugas kebersihan." Jongin segera berdiri dan menyeret Chanyeol keluar.
"Baekki, Kyungie, entah kenapa, tiba-tiba saja, aku merasa takut..." lirih Yixing pelan.
"Mungkin jie-jie hanya sedikit terkejut." Baekhyun menepuk pundak Yixing dengan lembut.
"Jangan terlalu tegang, jie. Lihat, bedak jie-jie sedikit luntur. Hihihi, padahal acara akan dimulai tiga puluh menit lagi." kata Kyungsoo sambil menyeka beberapa tetes peluh di kening Yixing.
Yixing tersenyum. Perkataan dua temannya ini membuatnya tenang dan melupakan perasaan asing yang tadi sempat menyelinap di hatinya.
Sementara itu...
"Sehunie, ada apa? Kenapa jalanan macet?" tanya seorang gadis pada pemuda berkulit seputih susu di sampingnya.
"Sepertinya terjadi kecelakaan. Hah, semoga saja kita tidak terlambat." jawab pemuda itu. Pandangannya masih fokus ke depan.
"Aigoooo, sepertinya sangat parah. Sampai mendatangkan tiga ambulans begitu. Mobil polisi juga sangat banyak. Sehunie, bisakah kau cari jalan lain? Aku tidak mau terlambat menghadiri upacara pemberkatan mereka."
"Aku sedang berusaha mencari celah untuk lolos dari kemacetan ini. Ah, sepertinya polisi sudah membuka jalurnya. Tenang saja, Luhanie. Kita tidak akan terlambat." kata Oh Sehun, pemuda itu, lega ketika dilihatnya seorang polisi menyingkirkan pagar pembatas jalan dan memberikan aba-aba, mempersilakan kendaraan yang berada di sisi kiri jalan untuk lewat.
"Syukurlah kalau begitu. Aku kan ingin menemui Yixing dulu, sebelum dia resmi menjadi istri orang." Luhan menghembuskan nafas lega. Dirinya dan Yixing memang sudah bersahabat sejak lama. Sejak masih taman kanak-kanak. Mereka sama-sama murid pindahan dari China. Dia sudah menganggap Yixing seperti adik perempuannya sendiri. Luhan tersenyum sambil menolehkan pandangannya ke jalanan di sampingnya. Dia membuka sedikit kaca jendelanya, menikmati angin musim semi yang berhembus hangat. Tapi senyumnya mendadak lenyap ketika melihat mobil sedan hitam yang sedang diderek oleh mobil penderek. Kondisi mobil itu sungguh mengenaskan. Hancur dan sedikit hangus.
"Sehunie...sepertinya aku mengenali mobil itu." kata Luhan pelan, ketika mobil mereka melewati lokasi kecelakaan. Luhan merasa tidak asing dengan mobil itu.
"Ada jutaan mobil seperti itu di dunia ini, Luhanie. Wajar jika kau sering melihatnya dimana-mana." jawab Sehun datar.
"Bukan itu maksudku, tapi..." Luhan menggantungkan kalimatnya.
"Tapi?" Sehun bertanya balik. Sayangnya pemuda itu sedang berkonsentrasi menatap jalanan di depan, sehingga tidak memperhatikan raut kecemasan di wajah Luhan.
Luhan menggigit pelan bibirnya. "Ani, tidak apa-apa. Ah, sepertinya ada pesan. Dari Baekhyun, dia sudah heboh bertanya kenapa kita belum datang juga." Luhan merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Tapi dia tidak benar-benar fokus mengetik pesan di ponselnya. Benaknya masih terbayang sedan hitam yang naas itu. Ada satu hal yang sangat menganggu pikirannya dan membuatnya mendadak merasa takut. Tadi, meski sekilas, tapi Luhan melihat ada rangkaian bunga di bagian depan dan samping kanan-kiri mobil itu. Hiasan bunga khas yang didesain untuk mobil pengantin. Luhan menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha menyingkirkan pikiran buruk yang tiba-tiba bersarang di otaknya. Xi Luhan, berpikirlah positif. Yang menikah hari ini bukan hanya Junmyeon dan Yixing saja. Percayalah, semua pasti baik-baik saja, batin Luhan mantap.
"Sayang, kita sudah sampai. Kau tidak mau turun?" suara Sehun membuyarkan seluruh lamunan Luhan. Dengan cepat dia menyimpan kembali ponselnya dan melompat turun.
"Tentu saja aku mau turun. Aku mau menemui Yixing dulu." kata Luhan sambil berlari-lari kecil. Dia sudah tidak sabar menemui Yixing di ruang tunggu. Salahkan kemacetan yang menjebaknya tadi. Dia jadi tidak punya banyak waktu untuk mengobrol sejenak dengan Yixing. Luhan melangkah dengan riang sambil menggandeng lengan Sehun. Ketika Sehun tiba-tiba saja berhenti melangkah, otomatis Luhan juga menghentikan langkahnya.
"Ya, halo? Benar, dengan saya sendiri. Ada apa ya?" Sehun mengernyitkan keningnya ketika mendengar suara asing dari seberang teleponnya. Nada suara lawan bicaranya itu terdengar resmi dan kaku. Sehun membeku, wajahnya mendadak pucat dan tegang.
"Anda serius?" tanya Sehun dengan nafas tercekat. Dan jawaban yang diterimanya semakin membuat dadanya sesak. "Baik, saya akan segera kesana."
"Sehunie, ada apa? Siapa yang menelepon?" tanya Luhan penasaran. Dia bisa merasakan lengan Sehun yang berada dalam gandengannya mendadak dingin. Melihat ekspresi Sehun saat ini, Luhan tau, sesuatu yang serius tengah terjadi.
"Lu...Luhanie..."
"Ada apa, Sehunie?" desak Luhan. Perasaan Luhan menjadi semakin tidak enak. Belum pernah dilihatnya Sehun berbicara terbata-bata seperti itu.
"Kepolisian meneleponku dan mereka mengatakan..." lagi-lagi Sehun menggantungkan kalimatnya. Sungguh, dia sendiri tidak tau bagaimana harus mengatakannya.
"Kepolisian? Untuk apa mereka menelepon? Katakan, Sehunie. Jangan membuatku takut."
"Me...me...mereka bilang, mobil yang ditumpangi Junmyeon hyung dan keluarganya terlibat kecelakaan. Dan mereka semua tewas di tempat kejadian."
Luhan membelalakan matanya. "Tidak, itu tidak mungkin. Mereka pasti keliru." Luhan menggeleng shock.
"Aku akan memastikannya. Pihak kepolisian mengatakan, semua jenazah korban sudah dibawa ke Seoul Hospital. Aku akan segera kesana. Kau temui Yixing noona saja. Aku akan segera kembali." Sehun berbalik dan berlari menuju tempat parkir. Baru beberapa langkah, dia melihat Jongin dan Chanyeol sedang berjalan ke arahnya. Belum sempat mereka bertukar sapa, Sehun sudah menarik mereka berdua dan mengisyaratkan kepada kedua pemuda itu agar ikut dengannya.
"Sehun-ah, ada apa? Kau mau kemana? Sebentar lagi acaranya akan dimulai." tanya Chanyeol bingung.
"Hey Oh Sehun, untuk apa kau meminta kami mengikutimu?" sambung Jongin heran. Dia tidak habis pikir, ada apa sebenarnya dengan Sehun. Datang-datang pemuda itu langsung menariknya pergi seperti seorang pemuda yang membawa kabur kekasihnya.
"Ada masalah yang sangat serius, hyung. Nanti aku jelaskan di mobil." jawab Sehun cepat. Langkahnya semakin tergesa-gesa. Membuat dua pemuda di belakangnya harus sedikit berlari mengimbangi langkahnya.
Luhan membuka pintu ruang tunggu dengan perasaan kacau. Tapi dia masih mencoba untuk tersenyum. Hatinya mendadak terasa begitu nyeri ketika dilihatnya Yixing tertawa riang bersama Kyungsoo dan Baekhyun.
"Ah, Luhan jie. Akhirnya kau datang juga. Kau hampir terlambat. Kemana Sehun?" tanya Baekhyun sambil mengedarkan pandangannya. Mencari sosok pemuda tinggi berkulit putih yang biasanya selalu menempel Luhan kemana-mana.
"Benar, kemana anak itu? Apa ke toilet dulu?" sambung Kyungsoo.
"Sehun masih di parkiran, katanya ada barang yang tertinggal di mobil." bohong Luhan. Dia berusaha agar suaranya tidak terdengar bergetar. Dia melangkah mendekat dan memeluk ketiga dongsaeng yang sangat disayanginya itu.
"Lu jie, kukira kau tidak akan datang." kata Yixing pelan.
"Bodoh, kenapa berpikir seperti itu? Tentu saja aku akan datang." Luhan menyentil pelan kening Yixing.
"Oya, kemana Jongin dan si telinga lebar itu?"
"Entahlah, mungkin sudah masuk."
"Huh, dasar. Kenapa meninggalkanku? Kalau begitu, Kyungsoo-ya, ayo kita masuk. Yixing jie, Luhan jie, kami keluar dulu ya. Kalian berbincanglah sebentar." pamit Baekhyun yang diikuti Kyungsoo. Setelah mengecup sekilas pipi Yixing, kedua gadis mungil itu melangkah keluar dari ruangan.
Luhan mendudukkan dirinya di samping Yixing. Luhan tidak tau apa yang harus dikatakannya. Otaknya benar-benar kosong. Airmatanya nyaris tumpah ketika beberapa detik yang lalu, Sehun mengiriminya pesan. Pemuda itu mengabarkan, bahwa berita yang disampaikan pihak kepolisian itu adalah kenyataan.
From : Sehunnie
Luhan noona, aku di rumah sakit sekarang. Bersama Jongin dan Chanyeol hyung juga. Kami sudah memastikannya. Para korban tewas itu memang benar Junmyeon hyung, kedua orangtuanya, dan juga Jang ahjussi. Sayang, kita harus bagaimana sekarang?
"Xingie..." panggil Luhan pelan. Dia tidak tau darimana harus memulai.
"Ya, jie?"
"Kalau aku mengatakan Junmyeon tidak akan datang, apakah kau percaya?"
"Apa jie-jie bercanda? Junmyeon pasti datang. Ini hari pernikahan kami."
"Xingie, aku..." kata Luhan tersendat.
"Kenapa, jie?" Yixing mengerutkan kening bingung.
"Aku...aku...harap...kau tidak terkejut mendengar ini. Junmyeon...dia..."
Belum sempat Luhan melanjutkan kata-katanya, pintu ruang tunggu mendadak terbuka dan menampilkan sosok Jongdae dengan wajah pucat. Pria paruh baya itu tegak di ambang pintu sambil menatap Yixing dengan mata berkaca-kaca. Melihat kedatangan Appanya, Yixing menghampiri sang Appa dan menggamit lengannya.
"Appa, sudah saatnya ya? Aku harus segera masuk. Junmyeon dan para jemaat sudah menungguku."
Jongdae terdiam membisu. Sementara Luhan sudah tidak sanggup membendung airmatanya lagi.
"Sayang, Junmyeon belum datang. Dan dia tidak akan pernah datang." kata Jongdae dengan nafas tercekat. Dia mendekap Yixing dengan erat.
"Apa maksud Appa? Dan kenapa Appa menangis?" Yixing mendongak. Menatap bingung wajah sang Appa yang bersimbah airmata.
"Da...da...dalam perjalanan menuju kesini, mo...mobil yang Junmyeon tumpangi me..mengalami kecelakaan parah. Dan mereka semua...termasuk... Junmyeonmu, te...tewas di lokasi." tutur Jongdae susah payah di sela-sela isak tangisnya.
Yixing membatu. Meski kalimat itu diucapkan dengan pelan dan terbata, tapi dia mendengar dengan jelas setiap kata yang keluar dari bibir Appanya. Yixing menggeleng keras. Dia menarik diri dari pelukan Jongdae dan menatap Appanya tidak percaya.
"Tidak mungkin, Appa! Katakan padaku, Appa hanya bercanda. Junmyeon sudah datang dan sekarang dia sedang menungguku bersama pastor dan para jemaat. Ini hanya gurauan yang Appa buat supaya aku tidak gugup. Iya, kan? Katakan, Appa. Katakan padaku, ini semua tidak benar. Junmyeon tidak mungkin meninggalkanku! Tidak mungkin, Appa! TIDAK!" Yixing menjerit histeris sambil memukul-mukul dada sang Appa. Jongdae semakin mendekap Yixing dengan erat. Membelai kepala putrinya dengan lembut. Seolah menyalurkan seluruh kekuatannya.
Dalam sekejap, suasana gereja yang tadinya sunyi dan khidmat itu kini berubah ramai. Para jemaat yang telah hadir hanya bisa menggeleng tidak percaya mendengar berita mengejutkan yang baru saja mereka terima.
Luhan, Baekhyun, dan Kyungsoo menangis sambil berpelukan. Sementara Jongdae sedang berusaha menyadarkan Minseok yang pingsan. Sedangkan Yixing hanya duduk diam di tempatnya. Mereka masih sangat shock dan tidak percaya. Terutama Yixing. Setelah teriakan histerisnya tadi, sampai saat ini Yixing belum mengucapkan sepatah katapun. Ekspresinya sama sekali tidak terbaca.
"Biar kami yang membereskan situasi di sini, Anda semua bergegaslah ke rumah sakit. Setelah semuanya beres, kami akan menyusul. Saya akan meminta sopir Jung dan sopir Hwang untuk mengantar kalian." kata Kwon ahjussi, salah seorang pegawai kepercayaan tuan besar Kim, ayah Junmyeon.
Jongdae mengangguk lesu. Tanpa berkata apa-apa, mereka berenam berjalan mengikuti Kwon ahjussi menuju tempat parkir.
Sehun sedang berbicara dengan beberapa orang polisi ketika mereka berenam tiba di rumah sakit. Jongin dan Chanyeol tertunduk di sebuah kursi panjang di depan kamar jenazah. Baekhyun langsung menghampiri Chanyeol dan memeluknya dengan erat. Begitu pula dengan Kyungsoo yang langsung menangis di pelukan Jongin.
"Chanyeolie, ini tidak benar kan? Yang berada di dalam sana bukan Junmyeon oppa, kan?" tanya Baekhyun dengan suara bergetar. Ditatapnya mata Chanyeol dengan dalam, berharap menemukan sorot penuh gurauan disana. Berharap sebentar lagi bibir itu akan tersenyum lebar kemudian tertawa penuh kemenangan. Merasa puas karena berhasil mengerjainya. Tapi yang ditemukannya adalah sorot kesedihan yang luar biasa dalam. Mata yang biasanya bersinar jenaka itu kini merah dan berair. Baekhyun bahkan dapat melihat dengan jelas jejak-jejak airmata di pipi Chanyeol.
Chanyeol menggigit bibirnya. "Aku sudah melihatnya, Baek. Dia memang benar-benar Junmyeon hyung."
"Dokter, bolehkah kami melihatnya?" tanya Minseok pada seorang dokter yang baru saja keluar dari kamar jenazah. Dokter itu hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Dengan sigap, Jongdae segera memapah Minseok yang masih terlihat lemas. Kyungsoo dan Baekhyun mengikuti di belakangnya. Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka keluar dengan airmata yang mengalir semakin deras. Bahkan Minseok sudah pingsan untuk yang kedua kalinya.
"Xing, kau tidak ingin melihatnya?" tanya Luhan gemetar.
"Masuklah kalau kau ingin masuk, noona." tambah Jongin. Tangannya sibuk menyeka airmatanya sendiri, sambil sesekali mengusap-usap punggung Kyungsoo yang masih terisak.
"Masuklah, noona. Aku akan menemanimu." sambung Sehun.
Yixing masih terpaku di tempatnya. Tiba-tiba kakinya terasa lemas. Dia hampir saja jatuh tersungkur, beruntung Luhan segera menahan tubuhnya.
"Kajja, kita masuk sama-sama, Xing. Aku ingin memastikannya dengan mata kepalaku sendiri." bisik Luhan lirih. Digandengnya lengan Yixing dengan lembut. Yixing melangkahkan kakinya perlahan. Sehun mengikuti mereka masuk ke kamar jenazah itu.
Yixing menatap nanar dua jenazah yang terbujur kaku di hadapannya. Mereka adalah tuan dan nyonya Kim, orangtua Junmyeon. Calon mertuanya. Dua orang yang selama ini selalu menyambutnya dengan hangat. Dua orang yang dihormati dan disayanginya. Sama seperti dia menghormati dan menyayangi kedua orangtuanya. Yixing melangkahkan kakinya lebih ke dalam, ke pojok ruangan. Kini dia berdiri di samping sebuah brankar yang tertutup kain putih. Dengan tangan gemetar, Yixing menyibak kain penutup itu. Wajahnya memucat ketika mendapati sosok yang terbaring di atas brankar itu adalah sosok seseorang yang paling dicintainya. Junmyeonnya. Calon suaminya. Yixing tertegun beku di depan jenazah Junmyeon. Sementara di belakangnya, Luhan sudah menangis tersedu. Demikian pula dengan Sehun yang terisak pelan. Tapi Yixing tetap terdiam, tanpa kata. Luhan mengenal Yixing dengan sangat baik. Dan jujur, sekarang Luhan merasa sangat khawatir. Bagi Luhan, melihat Yixing menangis meraung-raung itu akan jauh lebih baik daripada melihat Yixing yang seperti ini. Yang hanya terdiam tanpa kata, menatap sosok di hadapannya dengan pandangan kosong. Yixing pasti sangat sedih. Begitu sedihnya sehingga airmatanya tidak sanggup mengalir. Dan Luhan semakin khawatir ketika dilihatnya sudut bibir Yixing perlahan melengkung ke atas.
"Xing..." bisik Luhan parau. Disentuhnya pundak Yixing pelan.
"Junmyeonie, kenapa kau masih tidur? Dasar pemalas, ayo bangun. Bukankah hari ini hari pernikahan kita? Seharusnya sekarang kau berdiri di altar bersamaku. Mengucapkan janji setia kita di hadapan Tuhan. Bukannya bermalas-malasan seperti ini. Apakah kau tidak mau menikah denganku? Atau kau lupa hari ini kita menikah? Saatnya kau bangun, tuan Kim." Yixing tersenyum lembut sambil mengusap wajah Junmyeon. Tidak ada reaksi. Mata itu tetap terpejam dengan rapat. Meski Yixing sudah menggoyang-goyang tubuh itu, tapi tetap tidak ada reaksi. Tubuh itu tetap diam tak bergerak. Membuat Yixing sedikit merengut kesal.
"Noona..." lirih Sehun getir.
"Disini ada Luhan jie dan Sehun juga. Apa kau tidak malu? Masa aku harus menyuruh Sehun membangunkanmu?" Dengan cepat, Yixing berbalik dan menatap Sehun penuh harap. "Sehun-ah, bisa tolong kau bangunkan Junmyeonku? Lihat, nakal sekali dia. Dia tidak mau mendengarkan aku. Mungkin dia akan bangun kalau kau yang bicara padanya."
Sehun menggenggam jemari Yixing dengan lembut. Mencoba memberi Yixing pengertian. "Noona, sadarlah. Junmyeon hyung sudah pergi. Dia sudah mendahului kita."
"Xingie, aku mohon jangan begini. Jangan membuatku takut."
Yixing seolah menulikan telinganya. "Ah, aku tau satu cara untuk membangunkanmu. Dasar modus, pasti ini yang kau inginkan, kan?" Yixing membungkukkan tubuhnya dan mengecup lembut bibir Junmyeon. Meski bibir itu terasa begitu dingin, tapi Yixing tidak peduli.
"Aku sudah menciummu, tapi kenapa kau belum mau bangun? Biasanya kau akan bangun setelah aku menciummu. Apakah satu belum cukup?"
Yixing kembali membungkukkan tubuhnya dan menciumi wajah Junmyeon berkali-kali. Mulai dari kening, kelopak mata, hidung, kedua pipi, bibir, dagu, kembali ke kening. Yixing merasa hatinya semakin sakit dan dadanya semakin sesak ketika dirasanya tubuh kekasihnya semakin dingin.
"Junmyeonie, aku mohon, bangunlah. Sampai kapan kau akan tidur? Pastor dan para jemaat sudah menunggu kita. Bangunlah, sayang. Jangan diam saja. Jawab aku. Buka matamu dan tersenyumlah padaku. Kau tidak akan meninggalkan aku, kan? Kita akan bersama sampai tua, iya kan? Jawab aku, Junmyeonie..."
"Lu jie, Sehun-ah, kenapa Junmyeon tetap diam? Apakah dia marah padaku? Apa salahku?" Yixing menatap Sehun dan Luhan bergantian. Luhan dan Sehun hanya sanggup menggeleng dengan airmata yang kembali mengalir. Mereka sungguh tidak sampai hati melihat Yixing seperti itu. Mereka hendak memeluk Yixing, tapi Yixing menolak. Dia kembali mengguncang tubuh Junmyeon.
"Apakah kau marah padaku? Katakan apa salahku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi aku mohon, Junmyeonie, buka matamu. Aku mohon. Jangan tinggalkan aku. Kau tidak boleh meninggalkan aku. Kau mencintaiku, kan? Aku juga mencintaimu, teramat sangat mencintaimu. Junmyeon, aku mencintaimu. Hiks...aku mencintaimu, Kim Junmyeon, aku mencintaimu. Aku mohon, bangunlah...hiks...aku mohon..." rintih Yixing tersendat. Tubuhnya semakin merosot ke lantai. Kepalanya mendadak pening dan nafasnya sesak. Hal terakhir yang didengar Yixing adalah lengkingan suara Luhan yang meneriakkan namanya dengan histeris. Setelah itu, semuanya terasa gelap.
BRUK
"YA TUHAN, YIXING!"
TBC..
Aloha, saya kembali guys! Mana suaranya? *sokakrab*. Saya datang bawa chap 1 nih. Gimana? Kepanjangan ya? 4k+, astaga! Demi apa, teasernya sependek Junmyeon, chap satunya sepanjang (?) Kris masa -_- Semoga gak pada bosen ya?
Makasih banyak buat kalian yang udah mau meluangkan waktu buat baca ff absurd ini. Udah bersedia review, follow, dan favorite juga. Yang cuma sekedar berkunjungpun, terima kasih banyak *bow*
Thanks to :
amaxxing, oziled, Madelene Lexie, myshipisbetterthanyours, tempatkusembunyi, uwowow, the-dancing-petals, exindira, xing mae30, Elviana Andromeda, deerKjjcadell, dazzle, exo88sulay, xingxing, gukkie, klover, xxxsly, and many more...
Sampai jumpa chapter depan ~ ~
Wanna to review again? /wink/
