Annyeong, salam kenal semuanya. Sesuai judulnya, FF ini terinspirasi dari 49 Day OST, Tears Are Falling. Memang udah lama sih, tapi masih tetap menyentuh ketika menontonnya ulang. Ini adalah ff debut saya. Jadi, mohon bimbingannya. Gomawo *bow*
Summary : Tentang airmata, tentang kerinduan dan tentang cinta yang tak pernah berakhir/ [JoonXing FF with other EXO's couple]/GS/AU/Romance-Angst/Typo(s)/RnR,ne?
Genre : Romance, angst, little bit supranatural and fantasy (maybe) ?
Rate : T
Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh Sehun, Xi Luhan
and other EXO member
Warning : GS, bahasa monoton, typo(s), OOC, alur gak jelas, DLDR
Disclaimer : Semua chara di FF ini, sungguh bukan milik saya. Meski sebenarnya saya ingin menjadikan mereka milik saya *plak*. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya cuma pinjam nama aja.
Happy Reading ~
Chapter 2
Areal pemakaman itu semakin sepi. Para pelayat mulai beranjak pergi. Hanya beberapa orang saja yang masih berjaga di sana. Bergantian mereka menaburkan bunga dan memanjatkan doa di empat makam yang masih baru itu. Minseok menghampiri Yixing yang masih berjongkok di samping makam Junmyeon.
"Sayang, sudah saatnya kita pulang." ajak Minseok lembut.
Yixing menggeleng pelan. "Aku masih ingin disini, Umma. Aku akan berjaga disini. Aku tidak mau saat Junmyeon bangun nanti, dia tidak menemukanku di sampingnya."
"Jangan seperti ini, Xing. Aku yakin Junmyeon juga tidak akan suka melihatmu begini." Luhan ikut berjongkok di samping Yixing.
"Kau harus istirahat, jie. Jie-jie pasti sangat lelah." sambung Baekhyun.
"Baekhyun benar, jie. Kami tidak mau mau jie-jie sakit. Ayo pulang, jie. Biarkan mereka beristirahat dengan tenang. Kita harus merelakan mereka." Kyungsoo ikut membujuk Yixing.
Yixing tetap keukeuh. Dia tidak mau beranjak sedikitpun dari tempatnya. Dia terus menggeleng dengan airmata yang perlahan mengalir di pipi pucatnya. "Biarkan aku disini. Aku ingin menemani Junmyeon. Aku sudah berjanji, aku tidak akan meninggalkannya. Tolong, biarkan aku disini, sendiri. Sebentar saja." pinta Yixing lirih.
Jongdae menghela nafas berat. "Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Kami akan membiarkanmu disini." Lalu dia berpaling pada Sehun, Chanyeol, dan Jongin. "Kalian pulanglah dulu. Ahjussi tau, kalian pasti sangat lelah. Jadi istirahatlah. Biar Yixing pulang bersama kami saja."
Ketiga pemuda itu mengangguk patuh. Setelah memberi penghormatan terakhir, mereka beranjak pergi meninggalkan areal pemakaman itu. Luhan, Baekhyun, dan Kyungsoo mengikuti di belakang.
"Kalau kau sudah selesai, Umma menunggumu di mobil." Minseok membungkuk dan menepuk pelan pundak Yixing, lalu melangkah pergi.
Yixing mengusap nisan berukirkan nama KIM JUNMYEON dengan lembut. Hatinya masih belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan ini. Tapi sekeras apapun hatinya menolak, takdir tetaplah takdir. Bagaimanapun dia memohon, Junmyeonnya tidak akan pernah kembali. Kekasihnya sudah pergi.
"Junmyeonie, baru sebentar kau pergi, tapi aku sudah merindukanmu. Lalu aku harus bagaimana sekarang? Aku disini, sayang. Apakah kau tidak berniat merubah keputusanmu? Apakah kau tidak berniat kembali padaku? Seharusnya saat ini kita sedang berbulan madu. Bersenang-senang dan menikmati cinta kita. Tapi kau malah meninggalkan aku. Kau kejam sekali, Junmyeonie. Kau tega sekali padaku." Yixing terus berbicara, mengungkapkan seluruh perasaannya, dengan airmata yang jatuh membasahi pipinya. Tanpa Yixing sadari, sesosok bayangan tengah menatapnya dengan sendu.
"Xingie-ya, aku disini. Jangan menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis." gumam sosok itu, yang tak lain adalah Junmyeon.
"Gadis itu, pasti sangat mencintaimu, ya?" sahut sebuah suara. Junmyeon telonjak kaget. Matanya membulat sempurna ketika mengetahui suara itu berasal dari sosok yang sedang duduk di sebuah batu besar tak jauh dari makamnya. Sayap putihnya berkilauan diterpa cahaya.
"Siapa kau?" tanya Junmyeon. Sontak dia memundurkan tubuhnya ketika sosok itu perlahan mendekatinya.
"Aku? Aku adalah penjaga gerbang surga. Tugasku adalah mengantar jiwa-jiwa ke alam baka. Hari ini aku diutus untuk menjemput empat jiwa, tapi sepertinya, hanya tiga jiwa yang diizinkan masuk ke dalam surga. Satu jiwa terpaksa harus menunggu beberapa waktu lagi. Dan kau adalah satu jiwa yang kumaksud."
Junmyeon mengernyit bingung. "Maksudmu?"
"Kau belum bisa masuk ke surga karena ada satu orang yang belum merelakan kematianmu. Dan dia adalah orang itu." sosok itu menunjuk Yixing yang sedang membelai nisan Junmyeon dengan lembut.
"Sampai berapa lama?"
"Entahlah. Dan permasalahannya bukan hanya itu. Kau belum bisa masuk bukan karena gadis itu belum merelakanmu, tapi karena kau juga belum rela meninggalkannya."
"Aku mencintainya. Mana mungkin aku sanggup meninggalkannya?"
"Itulah masalahnya. Singkatnya, selama kalian masih belum bisa saling melepaskan, kau tidak akan bisa masuk ke surga. Kau hanya bisa mencapai gerbang depan."
"Apa?" Junmyeon terpana. Memang ada peraturan seperti itu?
"Tentu saja ada. Baiklah, saatnya kita kembali. Bagaimanapun, tempatmu bukan lagi disini." Sosok itu membentangkan sayapnya dan menyelimuti Junmyeon dengan cahaya putih.
"Tunggu, bisakah kita menunggunya pergi terlebih dahulu? Aku masih ingin melihatnya." Junmyeon menatap sosok di depannya. Matanya bersinar penuh harap.
Sosok itu menurunkan kedua lengannya, membuat cahaya putih yang menyelimuti mereka, perlahan memudar. Dia menghela nafas pelan ketika melihat bagaimana Junmyeon tidak melepaskan pandangannya sedetikpun dari setiap pergerakan kekasihnya.
Yixing beranjak bangkit dari tempatnya. Dia melangkah ke makam kedua calon mertuanya, menaburkan bunga, lalu mengusap nisan mereka dengan lembut. Kemudian dia bergeser ke makam Jang ahjussi, sopir pribadi keluarga Kim dan berdoa disana. Memberikan penghormatan terakhir. Sebelum melangkahkan kakinya menemui Appa dan Ummanya yang masih setia menunggunya, Yixing menunduk dan mencium nisan Junmyeon dengan penuh cinta.
"Junmyeonie, kau tidak apa-apa kan, kutinggal sebentar? Jangan khawatir, aku akan kembali lagi. Aku mencintaimu, sayang."
Ketika sosok Yixing perlahan menjauh dan mobil yang membawa kekasihnya telah hilang dari pandangan, Junmyeon kembali menatap sosok di depannya. Suaranya terdengar parau, sarat akan kesedihan.
"Baiklah..."
"Aku adalah salah satu Angel, tapi kau bisa memanggilku Zitao." sosok itu memperkenalkan diri.
Junmyeon tersenyum getir. "Baiklah Zitao-ssi, kita bisa pergi sekarang." Junmyeon memejamkan matanya ketika Zitao kembali menyelimuti tubuh mereka dengan cahaya putih. Junmyeon merasa tubuhnya sangat ringan. Perlahan, airmatanya mulai mengalir. Meski Junmyeon tidak tau ke tempat seperti apa Zitao akan membawanya, tapi dia tau, tempat itu pasti sangat jauh. Begitu jauhnya, sehingga dia tidak akan bisa lagi menjangkau Yixing. Dia tau, dunia mereka kini sudah berbeda.
Tiga bulan sudah berlalu. Semuanya sudah kembali beraktifitas seperti sedia kala. Jongin dan Kyungsoo sudah kembali ke Jepang, melanjutkan studi mereka. Sementara Chanyeol, Baekhyun, Sehun, dan Luhan, sudah kembali bergelut dengan profesi mereka masing-masing. Bagaimanapun, hidup harus terus berjalan. Sedih dan kehilangan itu pasti. Tapi mereka tidak mau terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan. Mengikhlaskan, itulah jalan yang terbaik. Tapi tidak dengan Yixing. Setelah kembali dari upacara pemakaman, gadis itu menjadi semakin pendiam. Sosoknya sekarang lebih mirip mayat hidup. Ekspresi yang ditampilkannya tetap sama setiap hari. Kosong dan datar. Tak pernah lagi ada senyum yang terukir di bibir plum itu. Tak pernah lagi terdengar suara tawanya yang ceria. Jiwanya seolah ikut mati bersama kekasihnya.
"Xingie, bisakah kau merapikan bunga-bunga ini lalu merangkainya?" Minseok mendekati Yixing dan menyentuh lengannya pelan. Minseok merasa hatinya berdenyut nyeri melihat putri tersayangnya hanya diam melamun sambil memandang keluar jendela. "Ada seorang pelanggan yang memesan dua buket bunga. Dia akan kembali tiga puluh menit lagi. Umma sedang sibuk, karena itu Umma minta tolong padamu."
"Nde, Umma." Jawab Yixing singkat. Diambilnya sekeranjang besar bunga camelia yang diberikan Minseok, lalu membawanya ke belakang. Yixing merapikan bunga-bunga yang masih segar itu. Memotong tangkainya, menyisihkan beberapa tangkai yang hampir layu, lalu menata dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga menjadi suatu buket bunga yang indah. Biasanya, selama melakukan pekerjaannya, Yixing akan bersenandung ringan sambil sesekali menciumi aroma segar yang menguar dari bunga yang sedang dirangkainya. Kemudian dia akan berceloteh sendiri, mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu, menimbang-nimbang seperti apa dia akan menata bunga-bunga cantik itu. Bagaimana dia harus mengemasnya supaya si pemberi dan si penerima sama-sama merasa senang. Ketika berhasil mendapatkan idenya, Yixing akan tertawa kecil, lalu dia akan mulai berkreasi. Tapi sekarang, Yixing melakukan pekerjaannya dengan datar. Tanpa gairah.
"Camelia pink. Aku merindukanmu. Ya benar, aku merindukanmu, Yixing-ah. Aku merindukan senyummu. Kenapa sekarang kau tak pernah tersenyum lagi? Jangan membuatku khawatir, sayang. Tersenyumlah, kembalilah menjadi Yixing yang kukenal. Yixing yang ceria, Yixing yang selalu tertawa, Yixing yang terkadang cerewet, Yixing yang manja, Yixing yang nakal tapi baik hati. Aku merindukan Yixing yang seperti itu. Bukan seperti ini." desah Junmyeon, yang saat itu berdiri tepat di depan Yixing. Ingin rasanya Junmyeon mengusap wajah tirus kekasihnya, tapi apa daya, dia hanyalah sesosok roh. Tubuhnya tembus pandang, sehingga dia tidak bisa menyentuh benda apapun di bumi. Termasuk Yixingnya.
"Apa kau tidak lelah mengajaknya bicara terus? Aku tau sudah dua hari ini kau terus bersamanya. Memangnya dia bisa merasakan kehadiranmu? Mendengar suaramu? Tidak, kan?" sahut sebuah suara di sebelah Junmyeon.
"Zitao-ssi, aku hanya tidak ingin Yixing terus bersedih. Dia terlihat jauh lebih kurus dan pucat. Meski Luhan jie sering datang mengunjunginya dan mengajaknya jalan-jalan, tapi kurasa itu tidak banyak membantu. Jongdae Appa dan Minseok Umma juga sudah berusaha membuat Yixing kembali ceria, tapi apa? Tidak ada respon positif dari Yixing. Aku khawatir, dia sudah seperti raga tanpa nyawa." jawab Junmyeon panjang lebar.
"Hhhhhhh, kekasihmu itu mempunyai jiwa yang lemah. Ketika dia kehilangan seseorang yang dicintainya, jiwanya tak sanggup menerimanya. Seperti pesawat yang tiba-tiba kehilangan radar, dia akan limbung, lalu...jatuh. Dan pada sebagian orang, jatuh disini berarti dia juga akan menyusul mati. Tapi beruntung kekasihmu itu masih bisa berpikir dengan sehat, sehingga dia tidak melakukan hal bodoh yang disebut bunuh diri." kata Zitao enteng.
"Apa?" Junmyeon menyipitkan matanya. Menatap Zitao tidak suka.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Memang kenyataannya seperti itu, kan? Kalau kekasihmu itu berjiwa besar, tentu dia akan berlapang dada mengikhlaskan kematianmu. Tapi, coba kau lihat sekarang. Dia belum, ah bukan, lebih tepatnya, dia tidak bisa move on."
"Lalu apa yang harus kulakukan? Hatiku sakit melihatnya seperti ini." lirih Junmyeon sedih.
Zitao mengedikkan bahu. "Molla. Kalau dilihat-lihat, sebenarnya kalian sama saja. Sama-sama tidak bisa move on."
Junmyeon terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Zitao. Dia memang tidak bisa meninggalkan Yixing begitu saja. Baru beberapa hari berada di gerbang langit, Junmyeon sudah merasa tidak tenang. Dia merindukan Yixing. Ingin menemuinya, memeluknya, berbicara banyak hal padanya. Tapi kini dia berada di dunia yang berbeda. Dia tak bisa menemui Yixing sesuka hatinya. Dia harus mematuhi aturan langit.
"Satu keistimewaan yang dimiliki oleh jiwa-jiwa yang masih terdampar di gerbang langit sepertimu adalah kau bisa turun ke bumi untuk menemui orangtua, kekasih, teman, atau siapapun itu. Tapi kau harus menunggu sampai lewat seratus hari kematianmu. Dan kau hanya punya waktu maksimal dua hari di bumi. Setelah itu, kau harus segera kembali ke langit. Kalau tidak, ijin istimewamu akan dicabut selamanya." jelas Zitao waktu Junmyeon bertanya adakah cara supaya dia bisa menemui Yixingnya. Junmyeon mengangguk paham. Tidak apa-apa, dia akan menguatkan hati dan sabar menunggu. Ketika saat yang ditunggunya akhirnya tiba dan dia bisa menemui Yixing, Junmyeon sangat sedih karena selama dua hari berada di sekitar Yixing, gadis itu selalu terlihat murung. Yixing bahkan masih sering menangis tengah malam, terisak sambil memanggil nama Junmyeon. Ingin rasanya Junmyeon meraih sang kekasih ke dalam pelukannya, seperti yang biasa dia lakukan ketika Yixing menangis.
"Aku disini, Xing. Jangan menangis. Aku juga merindukanmu, karena itu aku disini. Tak bisakah kau mendengarku? Kau tau kan, aku tidak suka melihat airmatamu. Karena kau sangat jelek saat menangis." Junmyeon mengulurkan tangannya, hendak mengusap airmata yang mengalir di pipi Yixing. Junmyeon tersenyum getir saat tangannya menembus pipi Yixing. "Kau ada di hadapanku, tapi aku tidak bisa menyentuhmu. Kau tau, ini juga sangat menyakitkan untukku, Xing."
Junmyeon kembali tersenyum miris ketika mengingat tadi malam mereka menangis bersama. Hal yang paling menyedihkan di dunia ini adalah ketika kau melihat kekasihmu menangis pilu dan tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menghiburnya, padahal kau ada di hadapannya. Bahkan untuk menyeka airmatanya saja kau tidak mampu.
"Junmyeon-ssi, saatnya kembali ke langit. Kau tidak lupa peraturannya kan?" Junmyeon melangkah mendekati Zitao, masuk ke sebuah pusaran cahaya yang berputar-putar seperti angin puting beliung. Pusaran cahaya itu ibarat pintu yang menghubungkan bumi dan dunia langit. Hanya sedetik sebelum mereka benar-benar menghilang, Junmyeon mendengar Yixing bergumam lirih.
"Junmyeonie, aku merindukanmu."
"Bagaimana, Ahjumma? Bolehkah aku mengajak Yixing ke pesta ulang tahun rekanku minggu depan?" tanya Luhan suatu sore, ketika dia berkunjung ke toko bunga milik keluarga Zhang.
"Boleh saja, Lu. Ahjumma justru merasa senang, Ahjumma berharap, Yixing bisa kembali seperti dulu. Ceria dan berbaur bersama teman-temannya. Dengan mengajaknya ke pesta itu, mungkin dia akan mendapatkan banyak teman baru."
"Aku juga berharap seperti itu, Ahjumma. Aku bisa mengerti, kehilangan Junmyeon pasti sangat menyakitkan untuknya, tapi aku tidak ingin dia terus larut dalam kesedihan. Apalagi sampai kehilangan gairah hidupnya. Waktu terus berjalan, dia tidak bisa hanya berdiri diam di satu tempat."
"Tapi Ahjumma merasa sedikit lega, Lu. Akhir-akhir ini, Yixing sudah mulai berbicara lebih banyak dibanding hari-hari kemarin. Meski dia masih sering menangis setiap kali pulang dari makam Junmyeon, tapi ekspresinya terlihat lebih hidup sekarang..." tutur Minseok sambil menunjuk sosok Yixing yang sedang menyambut tamu. "Kau lihat itu Lu, Yixing sudah bisa sedikit tersenyum sekarang." Luhan mengikuti arah pandang Minseok. Benar, meski samar, tapi Luhan bisa melihat sudut bibir Yixing sedikit bergerak ke samping. Satu hal sederhana yang membuat Luhan sedikit merasa lega.
"Xing, minggu depan aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kau mau?" tanya Luhan. Ditariknya sebuah kursi, lalu duduk di hadapan Yixing yang sedang menyesap tehnya.
"Kemana?"
"Ke pesta ulangtahun salah seorang rekanku. Tadi aku sudah meminta ijin pada Ummamu dan beliau tidak keberatan aku mengajakmu."
"Oh."
Hanya itu respon yang diberikan Yixing. Setelah itu, gadis itu hanya diam sambil menikmati tehnya. Membuat Luhan menghela nafas pelan. Sekarang, bicara dengan Yixing memang membutuhkan kesabaran ekstra.
"Xing..."
Menyadari Yixing tidak menanggapi panggilannya, Luhan menyentuh pelan tangan Yixing. "Aku tau, kehilangan Junmyeon pasti sangat berat untukmu, tapi bukan berarti kau juga harus ikut mati bersamanya. Hidupmu masih sangat panjang, Xing. Sangat sayang jika kau jalani hanya dengan diam seperti ini. Dan aku yakin, Junmyeon pasti tidak akan suka melihatmu seperti ini."
Mendengar nama Junmyeon, sontak Yixing mendongak. Dalam sekejap, matanya telah digenangi oleh airmata. "Lu jie, kau tidak mengerti perasaanku. Di sini, rasanya sakit sekali, jie. Sangat sakit." Yixing meremas dada kirinya, setetes liquid bening perlahan mengalir menuruni pipinya, jatuh menetes membasahi meja.
"Siapa bilang aku tidak paham. Aku sangat paham, Xing. Aku pernah merasakan apa yang kau rasakan sekarang. Kau ingat teman kecil kita, Choi Minho?" tanya Luhan sambil menerawang. "Bukankah kau tau, aku menangis semalam meratapi kepergiannya? Bagaimana tidak relanya aku karena dia pergi dengan cara yang tragis. Aku sangat mencintainya waktu itu. Aku merasa sangat kehilangan. Aku akui, aku sempat terpuruk saat itu, tapi kemudian aku sadar, aku harus bangkit. Aku harus menjalani hidupku. Aku harus menerima kenyataan, sepahit apapun itu."
Yixing terdiam. Dia ingat kejadian itu. Memang sudah sangat lama berlalu. Saat mereka masih duduk di bangku Junior High School. Dia ingat, Luhan juga pernah kehilangan orang yang sangat dicintainya.
"Kita hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan segalanya. Kita harus mencoba untuk memahaminya. Ini sudah takdir, Xing. Sebesar apapun kita berusaha, kita tidak akan bisa mengubahnya. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan hanyalah menerimanya." Luhan tersenyum lembut.
"Rasanya sulit sekali, jie. Segala hal tentang Junmyeon selalu terngiang dalam benakku. Kami sudah bersama selama lebih dari sepuluh tahun. Ketika dia pergi, bagaimana aku bisa hidup?"
"Aku tidak memintamu melupakan Junmyeon, aku hanya memintamu mengikhlaskannya. Merelakannya dan mendoakan yang terbaik untuknya."
Yixing terisak pelan. Bahunya naik turun seirama dengan isakannya. Luhan berpindah duduk di samping Yixing.
"Aku merindukannya, jie. Begitu rindunya sampai hatiku sakit sekali rasanya. Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
Luhan merengkuh tubuh rapuh Yixing, membawanya ke dalam pelukan. Sementara Yixing masih terus bergumam sambil terisak. "Menangislah kalau hari ini kau ingin menangis. Tapi besok, kau harus tersenyum. Begitu juga dengan hari-hari berikutnya. Dan seterusnya. Kau tau, kami merindukan dimplemu yang menggemaskan, senyummu yang manis, dan suara tawamu yang riang. Cepatlah kembali menjadi Yixing yang dulu..." Luhan mengusap-usap punggung Yixing dan ketika dia melihat di balik tubuh Yixing, dia menemukan Jongdae dan Minseok yang menatap mereka penuh haru. Luhan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seolah mengatakan -semua akan baik-baik saja-.
Sehun menghentikan mobilnya di depan sebuah hotel berbintang lima. Yixing dan Luhan keluar dari pintu penumpang, mereka terlihat sangat cantik malam ini. Mereka berjalan masuk dan mendudukkan diri sejenak di kursi panjang yang terdapat di lobby hotel, menunggu Sehun yang masih memarkir mobilnya. Tak berselang lama, Sehun datang dan mereka bertiga berjalan menuju lift, naik ke lantai enam dimana pesta diadakan. Saat mereka tiba, suasana ballroom sudah sangat ramai. Belum lagi musik yang menghentak-hentak, membuat suasana menjadi semakin meriah. Luhan segera menemui sang empunya pesta yang sedang berdiri di depan, dikerumuni teman-temannya yang lain.
"Sulli-ya, saengil chukae, ne? Semoga selalu sehat dan bahagia." Luhan mengecup singkat pipi gadis manis yang dia panggil Sulli itu.
"Gomawo, Lu. Kau datang bersama temanmu?" gadis itu, Sulli, tersenyum ramah pada Sehun dan Yixing yang setia mengekor di belakang Luhan.
"Iya. Perkenalkan, ini Sehun -ehem- kekasihku. Dan ini Yixing, sahabatku sejak kecil. Sehunie, Xingie, kenalkan, ini Sulli, rekan satu timku di redaksi."
"Annyeonghaseyo, Sehun imnida." sapa Sehun datar.
"Annyeonghaseyo, Yixing imnida." sapa Yixing tak kalah datar.
"Annyeonghaseyo, Sulli imnida. Terima kasih sudah mau datang, semoga kalian menikmati pestanya, ya." Sulli memamerkan senyum terbaiknya kepada dua manusia tanpa ekspresi itu.
Sementara Luhan berbincang dengan Sulli, Sehun menggandeng tangan Yixing dan membawa gadis yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri itu ke salah satu meja yang tersebar di beberapa sudut ruangan.
"Noona, kita tunggu disini ya?"
Yixing mengangguk pelan. Dia memandang sekitar. Para pelayan berlalu lalang membawakan makanan dan minuman. Orang-orang berbincang dan tertawa-tawa. Beberapa pasangan bahkan ada yang melantai. Tempat ini memang sangat ramai, tapi Yixing merasa hatinya begitu sepi dan kosong. Dia tau apa sebabnya. Karena tidak ada Junmyeon disampingnya.
"Annyeong, Sehun-ah, Yixing jie, kalian datang juga rupanya." sapa Baekhyun. Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di depan Sehun dan Yixing. Di belakangnya, terlihat Chanyeol tengah membawa dua buah gelas. Pemuda itu menyapa Sehun dan Yixing dengan cengiran lebarnya.
"Nde, Luhan noona yang mengajakku." jawab Sehun singkat. Yixing hanya mengangguk mengiyakan.
"Kalian mau minum juga? Aku ambilkan, ya? Sekalian makanan ringannya." tawar Chanyeol. Meski belum mendapatkan jawaban, tapi pemuda jangkung itu sudah melesat pergi.
Pada saat yang hampir bersamaan, Chanyeol dan Luhan kembali ke meja mereka.
"Hai, noona."
"Hai juga, Chanyeol-ah."
"Kyaaaaa, Baekki. Apa kabar?" seru Luhan sambil memeluk Baekhyun.
"Baik. Jie-jie bagaimana?"
"Baik juga. Karena sama-sama sibuk, kita jadi jarang sekali bertemu ya."
"Iya, apalagi aku juga harus mengurus bayi besar yang hiperaktif itu." Baekhyun menunjuk Chanyeol dengan dagunya. Chanyeol mendelik tidak terima.
"Hahaha, sudahlah Chanyeol-ah. Kau memang hiperaktif. Ah, tidak. Lebih tepat jika kukatakan, kalian berdua sama-sama hiperaktif." Luhan tertawa. Kali ini giliran Baekhyun yang mendelik tidak terima.
"Yak, Lu jie, aku tidak hiperaktif!"
"Kau tidak hanya hiperaktif, Baek. Kau juga sangat berisik."
Keempat pasang mata itu serentak menoleh ke sumber suara. Baekhyun yang tadinya hendak memprotes pendapat itu, mengurungkan niatnya ketika dilihatnya sudut bibir Yixing sedikit terangkat. Chanyeol mengerjapkan-ngerjapkan matanya. Sementara Sehun dan Luhan menatap Yixing takjub. Dulu, mendengar Yixing mencela salah satu di antara mereka adalah hal yang biasa. Tapi sekarang, hal itu menjadi sangat langka. Sejak kematian Junmyeon, selain menjadi irit bicara, Yixing juga seolah tidak peduli dengan hal di sekitarnya. Dia seolah hidup dalam dunianya sendiri. Kesedihan dan keterpurukannya sendiri lebih tepatnya. Mereka berempat saling menatap dan tersenyum haru. Tapi sayangnya, hal itu tidak berlangsung lama. Karena setelah mengatakan itu, Yixing kembali menopang dagunya dengan satu tangan. Mengaduk-aduk minumannya dan menggigit cakenya tanpa selera.
"Jie, sepertinya mengajak Yixing jie kesini bukanlah ide yang buruk. Kau lihat, tadi dia tersenyum kecil. Ya ampun, aku sampai lupa kapan terakhir kali aku melihatnya tersenyum." bisik Baekhyun.
Luhan mengangguk. "Memang itu tujuanku mengajaknya ke pesta ini. Aku berharap suasana pesta yang ceria ini bisa memperbaiki suasana hatinya juga."
"Sehun-ah, aku tidak salah dengar, kan? Tadi aku mendengar Yixing noona mencela Baekhyun. Oh, astaga." bisik Chanyeol pada Sehun.
"Jangan berlebihan, hyung. Tidak, kau tidak salah dengar. Aku sendiri juga terkejut. Dan juga...senang."
"Lagipula, sebenarnya aku punya tujuan lain mengajak Yixing kesini." kata Luhan pelan.
"Apa?" Baekhyun dan Chanyeol mendekat. Sementara Sehun hanya mendengus.
"Percuma saja sayang. Itu tidak akan berhasil." kata Sehun jemu.
"Sebenarnya, aku berharap Yixing -ehem- akan menemukan seorang pemuda yang akan menggantikan Junmyeon..." Melihat tatapan aneh dari Chanyeol dan Baekhyun, Luhan buru-buru menambahkan "Hei, jangan menatapku seperti itu. Kalian tau, aku juga sangat menyayangi Junmyeon, tapi ayolah, hidup terus berputar. Yixing tidak mungkin melajang seumur hidup, kan? Kita harus realistis."
Baekhyun dan Chanyeol terdiam. Mereka mencerna baik-baik perkataan Luhan. Iya, Luhan memang benar. Hanya saja...
"Tapi tidak secepat ini, jie. Aku yakin, Yixing-jie tidak akan bisa melupakan Junmyeon oppa secepat itu. Sampai saat ini saja, dia masih berkabung."
"Noona, tidak akan semudah itu. Mungkin hanya diperlukan waktu satu hari untuk mencintai seseorang. Tapi dibutuhkan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang."
"Sayang, sudahlah. Aku tau kau mengharapkan yang terbaik untuk Yixing noona, tapi kau juga harus mengerti, dia pasti butuh waktu." Sehun mengusap kepala Luhan dengan pelan. "Dan seberapa lamakah itu, biar waktu yang menjawabnya. Yang penting saat ini, kita harus selalu mendukung dan menjaga Yixing noona. Kau masih ingat janji kita pada Junmyeon hyung, kan?"
"Apa aku terdengar begitu kejam? Maafkan aku, Sehunie."
"Tidak apa-apa. Aku paham, ini karena kau terlalu mengkhawatirkan Yixing noona."
"Ah, kudengar Kyungsoo dan Jongin akan pulang ke Seoul minggu depan. Mereka sudah selesai ujian." kata Baekhyun mengalihkan pembicaraan.
"Benarkah?" Luhan berbinar senang. Oh, dia merindukan sepasang maknae itu.
"Ya. Kemarin Kyungsoo meneleponku. Minggu depan mereka akan datang. Sekalian berziarah."
Mereka kemudian menikmati pesta sambil membicarakan berbagai hal. Tiba-tiba, seorang MC yang berdiri di panggung meminta Luhan maju ke depan.
"Errrrr, Sulli memintaku untuk menggantikan vokalisnya yang tiba-tiba jatuh sakit. Padahal band mereka sudah menyiapkan ini sejak awal. Tidak lama kok, hanya dua lagu." jelas Luhan. Mereka berempat mengangguk-angguk paham.
Semua tamu undangan bersorak ketika kelima gadis cantik itu mulai beraksi. Mereka bertepuk tangan meriah.
"Ah, bagusnya suara Luhan jie. Kenapa dia tidak jadi penyanyi saja?" cetus Baekhyun kagum.
"Benar. Dia pasti akan terkenal." timpal Chanyeol.
"Aku lebih suka Luhan bekerja di redaksi daripada di atas panggung." sambung Sehun posesif.
"Bilang saja kau cemburu." Baekhyun mencolek dagu Sehun sambil tersenyum jahil.
Yixing tiba-tiba berdiri dari mejanya. "Aku ke toilet sebentar." katanya singkat.
"Aku ikut, jie." Baekhyun berdiri dan menyusul Yixing ke toilet. Ketika mereka sampai di toilet, tempat itu penuh sesak. Antriannya juga sangat panjang. Karena toilet itu juga digunakan oleh para pengisi acara untuk berganti kostum. Akhirnya mereka terpaksa memakai toilet di lantai lima.
"Kenapa toilet sebanyak itu penuh semua? Lagipula, mereka lama sekali di dalam. Sedang apa sebenarnya mereka?" Baekhyun terus menggerutu sepanjang koridor lantai lima.
"Sudahlah, Baek." Yixing menanggapi omelan Baekhyun dengan singkat.
"Oh, ya ampun!" Baekhyun menepuk keningnya dengan keras.
"Ada apa?" tanya Yixing tanpa menghentikan langkahnya.
"Tasku ketinggalan, sementara benda itu aku masukkan ke dalam tas." Melihat raut bingung Yixing, Baekhyun menyeringai malu. "Benda wajib yang rutin dipakai tiap bulan itu, jie. Aku kembali ke atas dulu ya. Jie-jie tidak apa-apa kan kutinggal sendiri?"
Yixing mengangguk. "Tidak apa-apa."
"Benar? Tidak apa-apa?" tanya Baekhyun ragu.
Yixing kembali mengangguk.
"Aku segera kembali, jie." Baekhyun berbalik dan berlari dengan cepat. Derap wedgesnya beradu dengan lantai marmer yang dingin. Berisik sekali. Semoga semua kamar di hotel ini kedap suara. Yixing kembali melanjutkan langkahnya. Tinggal satu belokan lagi, maka dia akan sampai di toilet.
"Hai, Xing. Aku datang lagi. Kau tau, hari ini aku sangat senang. Kau mulai tersenyum dan berbicara banyak. Terus terang, tadi aku sangat terkejut saat kau mencela Baekhyun. Mereka juga sangat terkejut. Tapi aku lega, kau menunjukkan satu kemajuan. Tapi ada satu hal yang membuatku sedikit sedih. Harapan Luhan noona. Aku tau aku tidak boleh egois dan yah, aku rasa dia benar. Aku juga berharap, suatu hari nanti, ada seseorang yang akan menemanimu di hari tuamu. Tadinya aku berharap orang itu adalah aku, tapi aku sadar, itu sudah tidak mungkin lagi sekarang. Meski aku sependapat dengan Luhan noona, tapi tetap saja, rasanya sakit sekali membayangkanmu bersama orang lain. Sangat sesak mengetahui kenyataan bahwa seseorang yang menemanimu sampai penghujung harimu bukanlah aku. Tapi bagaimanapun nanti akhirnya, aku hanya ingin kau bahagia. Karena aku mencintaimu." kata Junmyeon. Dia berjalan -atau mungkin- melayang di samping Yixing. Ternyata sejak tadi dia sudah mengikuti Yixing, sejak Luhan menjemput gadis itu di rumahnya. Entah sudah berapa kali Zitao menegur Junmyeon karena suka mondar mandir seenaknya dari dunia langit ke bumi. Junmyeon akui, terkadang dia memang bebal, tapi seharusnya Zitao paham, Junmyeon tidak tahan jika tidak melihat Yixing sehari saja. Toh, selama ini dia sudah menjadi penghuni langit yang baik. Jadi seharusnya tidak apa-apa berkeliaran seperti itu, asalkan tetap menaati peraturan.
"Ah, kau sudah mau masuk ya. Baiklah, aku akan menunggu di luar. Ngomong-ngomong, kenapa Baekhyun lama sekali? Dasar anak itu, kenapa bisa lupa membawa itu sih?" Junmyeon sedikit menggerutu. Dia berdiri di depan toilet, seolah-olah sedang berjaga. Mata Junmyeon membulat ketika melihat seorang pemuda berjalan sempoyongan ke arahnya. Mendadak dia merasa cemas karena pemuda itu masuk ke toilet yang tadi dimasuki Yixing. Sepertinya pemuda itu mabuk, sehingga dia salah masuk. Oh, shit! Hanya ada Yixing di dalam sana. Belum lagi tempat itu sangat sepi. Tadi saja hanya ada satu gadis yang menggunakan toilet. Dan Junmyeon semakin panik sekaligus geram ketika pemuda mabuk itu tiba-tiba memeluk Yixing yang baru saja keluar dari bilik. Yixing terlonjak kaget mendapati seorang pemuda tak dikenal tiba-tiba menghadang dan memeluknya.
"Hai, manis. Sendirian saja? Mau menemaniku?" pemuda itu mencolek dagu Yixing. Yixing menghempaskan tangan pemuda itu dengan kasar.
"Pergi. Jangan ganggu aku!" usir Yixing dingin.
"Ow, galak sekali. Tapi tidak apa-apa. Aku suka." Pemuda itu berbalik menuju pintu, bukan untuk pergi, melainkan untuk menutup akses keluar. Sekarang bisa dibilang, Yixing terjebak.
"BRENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH!?" teriak Junmyeon kalap. Dia berusaha menghajar pemuda itu, tapi tangannya berkali-kali menembus tubuh kekar itu.
"TOLONGGG! ADA ORANG MABUK DISINI!" teriak Yixing.
Pemuda itu tertawa keras. "Teriak saja, manis. Tidak akan ada yang mendengar. Kau tau, lantai ini adalah lantai yang paling sepi. Hahaha, ayo kita bersenang-senang." Pemuda itu meraih Yixing dan mendekapnya dengan erat. Yixing meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri. Dipukul-pukulnya dada pemuda itu. Bahkan Yixing juga menggigit pundak pemuda itu. Tapi sepertinya, hal itu tidak berpengaruh sedikitpun.
"LEPASKAN KEKASIHKU, BRENGSEK! PEMUDA SIALAN! MATI SAJA KAU!" Junmyeon mengumpat keras. Dia mencari benda yang bisa digunakan untuk menghancurkan kepala pemuda itu. Tapi tetap saja, tangannya menembus benda-benda itu.
"Kau cantik sekali. Kau sangat menggoda. Habiskan malam ini bersamaku, ya? Mau kan? Oh sayang, aku mencintaimu." Pemuda itu meniup leher Yixing. Bau alkohol yang sangat menyengat keluar dari mulutnya, membuat Yixing ingin muntah. Sambil berusaha melepaskan diri, Yixing melepas sepatunya dan memukulkannya ke kepala pemuda itu.
"Lepaskan aku atau aku akan membunuhmu disini!" Yixing mendesis.
"Kurang ajar! Kau berani memukulku, hah!?" hardik pemuda itu. Dia menjadi semakin kalap. Bukannya takut akan ancaman Yixing, pemuda itu malah semakin liar. Dia menghempaskan Yixing sampai punggung gadis itu menghantam dinding toilet dengan keras. Yixing meringis. Semoga saja tulang punggungnya tidak ada yang patah.
"BRENGSEK! ARGGGGHHHH, ZITAO! DIMANA KAU? SIALAN!" seru Junmyeon frustasi.
"Karena kau sudah menyakitiku, kau harus menerima hukuman." Pemuda itu kembali memeluk Yixing. Sekarang dia mulai berani menciumi leher Yixing. Percuma Yixing berteriak, pemuda itu membekap mulut Yixing dengan telapak tangannya yang besar. Yixing meronta-ronta, dia mulai kehabisan nafas karena tangan pemuda itu juga menutupi hidungnya.
"ZITAO! KUMOHON DATANGLAH! TOLONG AKU! ANGEL!" teriak Junmyeon semakin kalap.
"Cih, kalau sedang membutuhkan bantuanku saja, kau baru memanggilku Angel. Dan tadi, apa itu? Kau memanggilku sambil mengumpatku. Keterlaluan!"
"Kumohon lakukan sesuatu. Aku tidak bisa apa-apa karena tubuh sialan ini!"
"Baiklah! Meski aku kesal karena kau memanggilku dengan tidak sopan, tapi aku tidak tega melihatmu kacau seperti ini." Zitao mengarahkan telunjuknya ke arah pemuda yang semakin brutal menciumi setiap inci wajah dan leher Yixing. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Yixing mendorong pemuda itu.
BRUAGHHHH!
Pemuda itu jatuh terhempas sampai ke dekat pintu keluar. Bukan karena dorongan Yixing, tapi karena Zitaolah yang menghempaskan pemuda itu. Bukan hanya menghempaskan, tapi sekaligus memberi efek panas ke seluruh tubuh pemuda itu. Yixing jatuh terduduk di lantai sambil terisak. Dengan cepat, Junmyeon menghampiri Yixing.
"Xingie, kau tidak terluka, kan? Apa ada yang sakit? Mana yang sakit? Katakan padaku." Lagi-lagi Junmyeon merutuki tubuhnya yang tembus pandang itu. Dia jadi tidak bisa mendekap Yixingnya. Tak berapa lama, terdengar derap langkah berbondong-bondong mendekati toilet.
"ASTAGA! Yixing, kau baik-baik saja kan?" Luhan berseru panik. Dia langsung menghambur memeluk Yixing yang masih bersimpuh di lantai.
"Jie, ini salahku. Aku yang menyebabkan semua ini. Seharusnya aku tidak meninggalkan jie-jie sendiri. Aku bodoh. Benar-benar bodoh! Hiks...hiks...maafkan aku..." Baekhyun menangis tersedu sambil memeluk Yixing.
Dua orang sekuriti langsung mengamankan pemuda itu. Pemuda itu memang selalu membuat kekacauan dan seringkali membuat tamu hotel terganggu.
"Sebelum pergi, terima dulu hadiah dariku." Sehun meninju wajah pemuda itu. "Itu karena kau sudah menyakiti noonaku."
"Jangan lupakan, hadiah spesial dariku." Chanyeol tidak mau kalah. Dia menendang tulang kering pemuda itu. Membuat pemuda itu menjerit kesakitan.
"RASAKAN ITU, SIALAN!" maki Sehun dan Chanyeol kompak.
Setelah memberi pelajaran pada pemuda itu, Sehun dan Chanyeol menghampiri Yixing.
"Noona, kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol cemas.
"Aku...aku...ingin pulang." jawab Yixing terbata.
"Kita harus ke rumah sakit dulu, Xing. Punggungmu memar."
Yixing menggeleng keras. "Tidak. Aku mau pulang."
"Baiklah, baiklah. Kita pulang sekarang." Luhan menghembuskan nafas lelah. Lalu dia menoleh pada Baekhyun yang masih berlutut di samping Yixing. "Baek, bisa tolong ambilkan tas kami? Dan tolong pamitkan pada Sulli juga. Sampaikan maafku karena sudah membuat pestanya sedikit kacau."
Baekhyun menyeka airmatanya dan bangkit berdiri. "Baik, jie. Nanti kami akan menyusul."
"Noona ayo naik, aku akan menggendongmu." Sehun berjongkok di depan Yixing, menyodorkan punggungnya.
"Tidak usah, Sehun-ah. Aku masih bisa jalan sendiri."
"Jangan menolak, Xing. Tubuhmu lemas sekali. Ayo, cepat. Naik ke gendongan Sehun. Atau aku akan membawamu ke rumah sakit." perintah Luhan mutlak.
Yixing menurut. Setelah membenarkan posisi Yixing di punggungnya, Sehun berjalan keluar diikuti Luhan.
Sementara dua makhluk tak kasat mata itu masih belum beranjak dari toilet. Junmyeon terkulai lemas di lantai. Airmata telah membanjiri wajahnya. Dia sangat shock, takut, tertekan, panik, dan sebagainya. Selama dia hidup, belum pernah dia mengumpat seseorang dengan begitu kasarnya. Semarah apapun dia, dia akan berusaha mengendalikan emosinya dan mengontrol perkataannya. Tapi hari ini, dia benar-benar lepas kendali. Pemuda mana yang masih bisa tenang melihat kekasihnya hampir diperkosa oleh orang lain di depan matanya sendiri? Dan sialnya, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Junmyeon merasa dirinya sangat tidak berguna.
"Ternyata kau sangat cengeng." gumam Zitao. Sedari tadi dia hanya menyaksikan Junmyeon menangis dengan sebegitu menyedihkannya. Seakan-akan dirinyalah yang hendak diperkosa.
"Aku bilang aku mencintainya, tapi aku tidak bisa menolongnya. Aku orang pertama yang tau dia dalam bahaya, tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku berjanji akan melindunginya, tapi apa? Aku bahkan tidak bisa menghajar orang yang menyakitinya. Aku benar-benar tidak berguna. Sialan!" Junmyeon menyambak rambutnya kasar.
"Mungkin ada untungnya juga aku mati. Yixing tidak pantas mendapatkan pemuda pengecut sepertiku. Aku tidak bisa menjaganya. Aku hanya bisa membuatnya menangis. Aku selalu membuatnya terluka. Arghhh, brengsek, aku benar-benar brengsek. Tidak berguna. Menjaga kekasih sendiri saja tidak becus. Benar, manusia sepertiku memang tidak pantas hidup. Ah, tidak. Ini bukan salahku. Ini salah tubuh sialan ini." Junmyeon memukul-mukul dadanya sendiri dengan keras.
"Kalau bukan karena tubuh sialan ini, aku pasti bisa menolongnya. Karena tubuh ini, aku tidak bisa menyentuh apapun. Brengsek!" racau Junmyeon. Dia tak berhenti mengumpat dan memaki dirinya sendiri.
Zitao menghela nafas bosan. Sepertinya sosok di hadapannya itu sudah mulai gila. Bukan hanya manusia, ternyata arwah juga bisa gila.
Tiba-tiba Junmyeon mendongak, menatap Zitao dengan nyalang. Ditatap seperti itu oleh seseorang yang bisa dianggap sebagai 'anak asuhnya' itu, tentu membuat Zitao sedikit tersinggung. Dia balik menatap Junmyeon. Aura Angel sekaligus pembimbing yang dipancarkannya membuat sorot mata Junmyeon perlahan-lahan melembut. Kini mata itu menatapnya dengan tatapan memelas.
"Zitao-ssi, tolong katakan padaku. Adakah cara supaya aku bisa menyentuh Yixing? Bukan hanya menyentuh, tapi aku ingin Yixing bisa melihatku."
Zitao terdiam. Apakah Junmyeon sedang membicarakan tentang penampakan diri?
"Tolonglah, Zitao-ssi. Aku yakin kau pasti tau caranya..." pinta Junmyeon memelas. "Saat aku hidup, aku pernah membaca sebuah buku. Disana dikatakan, ada saat dimana sesosok arwah bisa menampakkan dirinya pada keluarga atau masyarakat luas. Biasanya hal itu dilakukan jika arwah itu ingin menyampaikan atau membereskan suatu hal. Contohnya adalah ketika arwah itu ingin menuntut balas pada orang yang telah membunuhnya. Karena itu dia menampakkan diri dan menakuti pembunuhnya."
"Itu hanya buku, Junmyeon-ssi. Hanya karangan manusia. Kau tidak boleh percaya begitu saja."
"Kau bohong, Angel!" bentak Junmyeon tanpa sadar. Dia sedang sangat frustasi sekarang.
"Kau membentakku?!" Zitao menatap Junmyeon dengan tajam.
Junmyeon menunduk bersalah. "Maaf, aku hanya tidak bisa mengontrol emosiku."
"Kau arwah paling labil yang pernah kutemui, Junmyeon-ssi." Zitao mendengus.
"Jadi, bisakah kau memberitahuku caranya?"
Zitao menghela nafas. Selalu saja, dia dihadapkan pada permintaan ini. Sebenarnya dia enggan memberitahu caranya, karena resikonya sangat besar.
"Selain labil, kau juga keras kepala."
"Jadi, bagaimana?"
"Benar, kau memang bisa menampakkan dirimu..."
Junmyeon tersenyum senang. "Baiklah, ayo lakukan!"
"Aku belum selesai bicara! Tapi ada syaratnya..."
"Ada syaratnya?" Junmyeon mengernyit. Kenapa segala sesuatu harus ada syaratnya? Hah, hidup atau mati sama saja. Tidak ada yang mudah.
"Tentu saja. Tidak ada yang gratis, Junmyeon-ssi. Apalagi untuk ritual sepenting ini."
"Baiklah, apa syaratnya?"
"Kau yakin mau mendengarnya? Ini sangat berat dan menyakitkan."
"Katakan saja, Angel!"
Zitao menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Baiklah. Syaratnya adalah, hak istimewamu akan dicabut selamanya. Setelah menampakkan diri, kau tidak akan pernah bisa lagi turun ke bumi."
Kehilangan hak istimewa, selamanya. Itu berarti dia tidak bisa lagi mengikuti dan menemani Yixing. Kenapa berat sekali syaratnya?
"Bagaimana? Dan bukan itu saja Junmyeon-ssi. Syarat, ah bukan, lebih tepatnya resiko. Resiko melakukan ritual ini adalah, jika kau tidak bisa menahan sakitnya dan berhenti di tengah jalan, maka arwahmu akan lenyap. Bukan hanya arwahmu, tapi juga segala sesuatu tentang dirimu akan terhapus dari catatan langit. Singkatnya, kau akan dianggap tak pernah ada."
Kali ini Junmyeon tercenung. Arwahnya akan lenyap? Seberat itukah?
"Bagaimana? Kau yakin ingin melakukannya? Sebagian besar jiwa yang pernah kudampingi langsung menolak begitu mendengar syarat dan resiko yang kukatakan. Aku tidak bermaksud menakutimu, Junmyeon-ssi, hanya saja, aku rasa kau perlu tau, banyak jiwa yang gagal melakukan ritual ini."
Cukup lama Junmyeon menentukan pilihannya. Sampai akhirnya, dia menatap Zitao dan mengangguk mantap.
"Akan kulakukan, Zitao-ssi. Apapun syarat dan resikonya, aku akan menghadapinya."
"Kau yakin?" tanya Zitao memastikan.
Junmyeon mengangguk mantap.
Terkadang, cinta membuatmu lemah. Tapi, tidak bisa dipungkiri, cinta juga bisa membuatmu kuat.
TBC..
Aloha, saya kembali bawa chap 2. Seperti biasa, chap ini juga panjang. Fufufufu, karena saya suka yang panjang-panjang, hohohoho #taboked :D
Oya, untuk scene Junmyeon-Zitao, itu sepenuhnya imajinasi saya. Dialog mereka, terutama yang menyangkut langit dan tetek bengeknya (?), itu cuma karangan saya. Hehehehe, gak apa-apa ya mengkhayal dikit, namanya juga fanfic #plak
Buat yang nanya ada KrisTao gak, tuh Taonya udah muncul #tunjukangel. Cocok gak sih Tao jadi malaikat? Gak ya kayaknya, secara dia childish begitu #diwushutao #pundung. Tapi bodo ah, saya kan asal comot (?) peran. Pokoknya semua member kebagian, adil kan? #ditampol. Buat yang nungguin kemunculan kris, sabar ya, ntar ada waktunya sendiri dia muncul.
Saya kasih bocoran dikit nih. Mungkin chap depan bakal full sulay moment. Rencana sih mau bikin soft NC, tapi gak tau bisa gak. Habis saya gak bakat sih bikin yang asem-asem hot begitu. Otak memang mesum, tapi kalau dijabarkan ke tulisan, susah banget -_-, mending ngelakuin sendiri ama suho oppa, mwehehehehe #dibom. Jadi mohon bimbingan dari author sunbae yang sudah mahir dalam dunia perNCan. Mohon bimbing saya yang polos tapi mesum (?) ini *bow*
Ah, satu lagi. Terima kasih buat semua reader, favorite, follow, review, dan siapapun yang sengaja ataupun gak sengaja membaca ff aneh ini. Jeongmal gamsahamnida *bow
Thanks to :
amaxxing, oziled, Madelene Lexie, myshipisbetterthanyours, tempatkusembunyi, uwowow, the-dancing-petals, exindira, xing mae30, Elviana Andromeda, deerKjjcadell, dazzle, exo88sulay, xingxing, gukkie, klover, xxxsly, joonxing, chenma, wlywyf, qlue, ck, lee chan hyun, damniamsexy, hurhurr, bereit-wie-nie, droolingoverhim, nur99ifah, XanDC09, zoldyk, guest, and many more...
Mian, gak bisa bales satu-satu *ketjupbasah
Sampai jumpa chapter depan ~ ~
Wanna to review again? /wink/
