Dimohon, dengan amat sangat... JANGAN MEMFAVORITKAN/MEMFOLLOW cerita ini tanpa meninggalkan REVIEW sebelumnya. Please, tolong hargai karya saya lewat tindakan kecil ini.


A/N:

Niatnya sih mau update Delivery Service dulu sebelum ini, tapi ini selesai duluan. Sedangkan Broken Wings belum sempat direvisi. /udah kaya skripsi aja direvisi/ skripsi tuh revisi, jangan FF!/ curhat/ *nangis dipojokan*

Untuk versi Chanbaek, saya benar-benar murni terinspirasi dari lagu dan video klipnya Greyson Chance-Sunshine and City Light. Ada yang tau? Dia ini bisa dibilang next generationnya Bieber karena bersinar di usia yang sangat muda. But actually Greyson Chance is a lot better than him. No offense, really. This is only my objective view as music lover :) *sayang umurnya berondong banget*. Ugh, saya cinta banget sama lagu ini sekaligus video klipnya. Saking cintanya sampai gak saya ubah judulnya. Beberapa adegan juga diambil dari sana. Very well directed, artistic, simple but sweet, and brings much of fluffy mood!

Enjoy this chap and still...

PLEASE DO NOT Favorite or Follow without leaving any review before.

That's kind of rude for me.

Please Respect.


Disclaimer: Standard disclaimer applied. I do not own the cast, all casts belong to themselves, but the story is mine. Non profit taken.

Casts: All EXO Official Pairings.

Genre: Romance, drama, humor, friendship, etc.

Rating: T


THE HALF SOUL

By kwondami

Six stories about confession, bad habits, effort, moment, trick, and jealousy...

.

They speak one similar word:

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Love.


[III]

SUNSHINE AND CITY LIGHTS

ChanBaek

.

Words count: 1.647

.

Inspired:

Greyson Chance – Sunshine & City Lights

"—And we are the lost and found..."

.

.

.

"Psssst, Baekki-ya... Aku sudah di bawah."

Baekhyun menyibakkan tirai jendela. Cahaya gelap di luar membuatnya memicingkan mata mencari sumber suara. Untunglah saat itu purnama. Sinar lembutnya memantulkan warna cokelat rambut seorang pemuda yang tengah mendongakkan kepalanya ke arah balkon. Tubuhnya terhalangi pohon akasia yang tumbuh di halaman sehingga Baekhyun tidak bisa melihatnya dengan jelas.

"Chanyeol, kaukah itu?" desis Baekhyun dalam senyap.

KRING!

Chanyeol membunyikan bel sepedanya satu kali sebagai jawaban. Suaranya yang jernih merobek keheningan malam.

Baekhyun tersenyum. Mengerti kode sandi itu, ia meraih jaketnya lalu memakainya cepat. Sebelum melangkah ke luar kamar, ia memastikan seseorang telah menggantikan wujudnya di tempat tidur. Baekhyun meletakkan sebuah guling dan boneka yang posisinya diatur sedemikian rupa seakan-akan menyerupai dirinya yang sedang bergelung di balik selimut.

Untuk berjaga-jaga. Takutnya orang tuanya tiba-tiba masuk ke kamar dan mengeceknya. Meskipun hal itu dipastikan tidak akan terjadi karena dia mengunci kamarnya sebelum pergi. Dan Baekhyun berjanji—pada dirinya sendiri—untuk pulang sebelum waktu makan pagi.

Tapi lagi-lagi, sekedar berjaga-jaga tidak ada salahnya.

Baekhyun memutar kunci kamarnya hati-hati. Setelah memastikan pintu itu terkunci rapat, ia mengalungkan kunci ke lehernya. Menyembunyikannya di balik jaket baseball berwarna biru.

Dituruninya tangga perlahan-lahan. Nyaris berjinjit agar telapak kakinya tak menimbulkan derit di permukaan kayu. Ia hampir saja berteriak ketika dirasa bulu-bulu halus menyentuh permukaan kaki.

"Astaga, Prince!" Baekhyun nyaris memekik ketika menyadari hampir saja menginjak ekor Prince, kucing putih berjenis persia. Prince bergelung malas di ujung tangga, tak acuh akan keterkejutan tuannya.

Prince mengeong malas—sebenarnya menguap—lalu kembali pada posisi nyamannya. Baekhyun meraih kucing gemuk itu lalu mendekapnya. "Mestinya aku mengurungmu di kamar," katanya sambil menggaruk kepala kucing itu. Bulu-bulu Prince yang mekar bergesekan halus dengan pipinya.

"Kau tidak boleh nakal selama aku pergi oke?" Prince sekali lagi hanya menguap di pelukan Baekhyun. Ia senang jika Baekhyun memeluknya seperti ini. Kucing itu berpikir Baekhyun akan membawanya ke kamar lalu tidur bersama seperti biasa. Tapi tuannya itu malah menurunkannya ke bawah.

Prince mengeong protes.

"Aku akan pergi dengan Chanyeol," bisik Baekhyun seakan kucing itu bisa mengerti. "Kau harus menyibukkan appa dan eomma, jangan sampai mereka mengecek kamarku oke?"

Prince menatap Baekhyun dengan matanya yang hijau. Dua buah kelereng bersinar terang seperti kunang-kunang. Prince seakan-akan sedang menyimak pesan tuannya.

"Nanti akan kubawakan makanan enak untukmu. Kau mau apa? Whiskas?"

Prince menggaruk wajahnya dengan kaki. Tindakan itu Baekhyun anggap itu sebagai persetujuan. "Kucing pintar." Baekhyun mengusap bulu halus Prince beberapa kali sebelum bangkit berdiri. Ia mundur beberapa langkah ke arah kamar orang tuanya.

Orang tuanya selalu membiarkan sedikit celah di pintu kamar ketika tidur. Baekhyun mengintip dari balik celah itu. Dia bisa mendengar dengkuran halus ayahnya. Di sisi ayahnya, ibunya juga pasti sama pulas.

Aman.

Tak mau membuat Chanyeol menunggu lama, ia lantas bergegas ke luar. Langkahnya masih sesunyi langkah kucing.

Baekhyun menekan kenop pintu ruang tamu sepelan mungkin, menutup pintu, lalu menguncinya dengan suara nyaris sesenyap angin.

.

.

.

.

"Jadi, kita akan ke mana?"

"Midnight movie. Filmnya akan diputar jam sepuluh."

Baekhyun mengecek jam digital di lengan kirinya lalu berseru ribut. "Astaga, sepuluh menit lagi filmnya mulai. Kita harus bergegas!" ia menepuk-nepuk pemuda di bangku kemudi agar mengayuh lebih cepat.

Chanyeol tertawa. Pemuda itu mencengkram tuas sepedanya lebih erat lalu berkata dengan nada serius, "Bersiaplah."

Seketika, sepeda melaju lebih cepat. Baekhyun memekik girang sambil memegang pundak Chanyeol kuat-kuat. Tubuhnya yang tegak berdiri di bangku penumpang sedikit terhentak saat melewati jalanan menurun.

"Hati-hati!" seru Baekhyun memperingati. Tapi Chanyeol tak peduli. Ia mengayuh sepedanya lebih cepat sehingga sepeda itu meluncur cepat menebas angin.

"Kyaaaaa—" Baekhyun memejamkan mata menikmati sensasi. Angin dingin menampar wajahnya sampai ke tengkuk. Bibirnya sedikit bergemeletuk tapi ia bahagia luar biasa.

Saat sepeda akhirnya melintas di jalanan datar, Baekhyun memukul bahu Chanyeol. Pukulan itu disertai nada protes tapi lembut, "Tadi itu bahaya sekali!"

Chanyeol merespon dengan kekehan, "Tapi mengasyikan bukan?" katanya tanpa menoleh ke belakang.

Baekhyun mau tak mau mengangguk lantas teryenyum kecil. Ia mengalungkan lengannya di leher Chanyeol lalu merapatkan pipi mereka. "Sepertinya kita terlambat untuk nonton film. Kau ada ide lain?"

Chanyeol memperlambat kayuhannya sambil sedikit menoleh pada Baekhyun. "Bagaimana kalau makan hotdog?"

"Hotdog...?" Baekhyun sedikit tidak menyukai ide ini karena hotdog pada pukul sepuluh malam sangatlah tidak sehat. Dan dia juga bukan penggemar junk food. Tapi karena hari ini hari yang spesial...

"...Bagaimana, hm?" Chanyeol menggesekkan hidungnya sekilas pada pipi mulus Baekhyun dengan mata tetap fokus pada jalan raya.

Baekhyun mengecup pipi Chanyeol ringan sebagai jawaban kemudian bergumam lembut di telinganya, "Boleh juga."

Chanyeol tersenyum.

Dikayuhnya sadel dengan bersemangat. Ada energi seperti letupan popcorn memenuhi hatinya. Melompat-melompat manis dan renyah, membuatnya ingin selalu tersenyum.

Sepeda melaju ringan di jalanan beraspal rata. Desiran angin menerbangkan helaian rambut Baekhyun. Ia membentangkan tangannya, bermaksud menyentuh angin dengan setiap inci indera peraba.

Lampu jalanan dan pertokoan menyorot, serempak dengan cahaya rembulan berwarna kuning.

Baekhyun menghirup udara malam sampai seluruh sel-sel di paru-parunya mengembang. Sudut bibirnya terangkat ke atas. Dia ingin berteriak karena merasa bebas. Ingin berseru betapa hatinya ringan seperti balon terbang.

Benaknya mengukir setiap sorot lampu jalanan. Kepalanya terdongak sekedar menghitung kasar bintang yang menggantung di langit. Memejamkan mata selama menggurat setiap pantulan dalam memori. Setelahnya, ia menghela napas dalam sebuah kelegaan luar biasa. Lengannya dikalungkan, memeluk Chanyeol dari posisinya, merapatkan tubuh mereka dalam kehangatan tipis.

Ia ingin sepeda ini terus melaju dan waktu berhenti.

Chanyeol terus mengayuh dalam diam. Tapi Baekhyun tahu, Chanyeol juga tengah merasakan hal yang sama dengannya.

.

.

.

.

"Saus?"

"Please."

Chanyeol membantu menambahkan saus pada hotdog. Baekhyun memberi isyarat cukup dengan matanya ketika cairan merah kental itu dirasa terlalu banyak.

Chanyeol menyodorkan porsinya sendiri pada Baekhyun, memberinya suapan besar. Ketika mengunyah ujung roti lonjong itu, mata Baekhyun menyipit. Rasa asam dan pedas berbaur dalam mulutnya.

"Semuanya jadi enam ribu won."

Chanyeol menyerahkan selembar lima ribu won dan dua buah koin sisanya pada kakek penjual.

"Kencan?" tanya si kakek ingin tahu setelah memasukkan uang pembayaran ke dalam saku.

Keduanya melempar pandangan penuh arti lalu tersenyum penuh persengkongkolan.

"Kurasa sudah jelas," gumam si kakek, ceria. "Sudah izin pada orang tua?" pertanyaan yang wajar karena ini memang hampir tengah malam.

"Kami sudah lebih dari tujuh belas tahun," tukas Chanyeol cepat, "kami ingin menikmati cahaya kota di waktu malam."

Si kakek mengangguk-angguk mengerti. "Jaga diri kalian kalau begitu."

Baekhyun tersenyum sopan. Ia membungkuk kecil sebelum mengikuti Chanyeol yang mulai berjalan menggiring sepeda.

"Kencan sembunyi-sembunyi memang mendebarkan tapi menyenangkan."

Baekhyun menoleh cepat ketika menangkap kalimat tersebut. Si kakek tidak balas memandang ke arahnya dan malah sibuk membolak-bolaik sosis di balik desisan asap. Chanyeol sudah jauh berjalan di depan jadi dia tidak mendengar.

Ketika akhirnya mengangkat wajahnya, ia mengedip jenaka pada Baekhyun.

Rona hangat menyapa. Baekhyun melempar senyum dalam balutan merah jambu.

.

.

.

.

Chanyeol menggiring sepeda dengan tangan kanan sedangkan sebelah tangannya yang bebas menggenggam tangan Baekhyun erat. Telapak Baekhyun yang mungil terasa tenggelam dalam hangatnya genggaman.

Mereka berjalan pelan-pelan. Menikmati setiap langkah dan detik dalam kebersamaan. Tidak ada yang bicara karena masing-masing tak mau merusak kebisuan yang berharga.

Barulah saat Baekhyun menghentikan langkahnya, Chanyeol membuka awalan.

"Kau lelah?"

"Ng, sedikit."

"Kita istirahat dulu?"

Baekhyun mengangguk lalu mengikuti Chanyeol duduk di tepian pelabuhan. Kaki mereka menggantung dengan ombak berdebur di bawahnya. Kapal-kapal merapat tak jauh dari mereka. Dari kejauhan, lampu-lampu kota berbaur dengan gemerlap bintang.

Mata Baekhyun mengerjap cemerlang akan hamparan malam. Angin malam menerpa rambutnya yang kecokelatan hingga acak-acakan, tapi kelihatan begitu natural. Chanyeol suka sekali melihatnya.

"Dingin?"

Chanyeol merapatkan tubuhnya. Kedua lengannya melingkar manis di pinggang Baekhyun, memeluknya dari belakang. Pipinya ia sentuhkan pada pipi tanpa cela itu. Malam di musim panas memang tidak terlalu dingin tapi ia ingin Baekhyunnya tetap merasa hangat.

Saat ini mungkin hampir jam dua belas tapi Baekhyun merasa malam masih muda. Ia menyandarkan kepalanya pada dada Chanyeol, menikmati kehangatan yang terpancar dari tubuhnya, mencuri detak jantung itu dari sana.

Chanyeol mengeluarkan ipod dari sakunya kemudian memasang sebelah earphone pada telinga Baekhyun dan sebelah lagi di telinganya.

Alunan musik mengalir diantara sunyi.

Chanyeol mengeratkan dekapannya. Ia menyentuhkan hidungnya di pipi Baekhyun lalu mencuri kecupan di sana. Baekhyun sedikit mendongakkan kepala agar pemuda itu lebih leluasa.

Bibir mereka bertemu. Manis. Sedikit usapan kecil yang cukup menggetarkan.

Chanyeol menyudahi usapan lembut itu ketika berbisik di sana, "Mau berdansa?"

Baekhyun menggeleng geli. Suara lembut napas Chanyeol mendesir di lehernya.

"Ayolah," bujuknya manis.

Diangkatnya tubuh Baekhyun perlahan agar sambungan earphone tidak terlepas. Sebelah tangannya melingkar manis di pinggang mungil itu dan tangannya yang lain menyambut lengan Baekhyun.

Baekhyun terkekeh di dada Chanyeol namun lambat laut akhirnya diam karena terbawa nuansa.

Ia memejamkan mata, membiarkan Chanyeol menuntun tubuhnya, membiarkan pemuda itu menuntun hatinya.

Mereka berdansa di bawah rembulan dan cahaya lampu kota.

.

.

Malam ini benar-benar nyata...

.

.

.

.

Chanyeol mengerjap. Selongsong cahaya fajar menerobos dari jendela membuatnya silau. Sejenak hatinya terasa damai ketika mendapati semalaman tidur dengan tubuh berimpitan dengan Baekhyun. Wajah polos itu masih bersandar manis di bahunya.

Suara halus mesin kereta mengiringi langkah sang mentari.

"Selamat pagi," lirihnya ketika Baekhyun juga terjaga. "Sekarang jam setengah enam, tiga puluh menit lagi kau akan sampai di kamarmu. Tepat sebelum waktu sarapan."

Baekhyun menggeliat manja.

"Chanyeol-ah."

"Ya?"

"Terima kasih telah menjadi sahabatku."

Chanyeol mengecup dahi Baekhyun lembut. "Sebanyak rasa terima kasihku karena telah bersedia menjadi kekasihku."

Delapan belas tahun saling mengenal bahkan sebelum bisa mengucapkan kata pertama, bersahabat, kemudian dua tahun menjalin cinta...

.

...Rasa ini begitu sederhana namun begitu sempurna.

.

.

"Aku beruntung karena menemukanmu."

.

Baekhyun sangat bahagia mendengarnya. Karenanya ia pun balas menggumam, "Kita sama-sama hilang dan menemukan."

.

.

.

.

.

"Chanyeol-ah..."

"Hm?"

.

.

.

.

"Happy Anniversary."

.

.

.

.

.

Dan keduanya mengukir senyum pertama mereka pagi itu...

.

.

Sunshine and city lights will guide you home,

You gotta know, that I'll never let you go...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


[ IV ]

TRICK

SuLay

.

Words count: 1.746

.

Inspired:

Tell Me Something Good (Glee Cast)

"—Tell me something good, tell me that you love me..."

.

.

.

"Semuanya jadi sepuluh ribu won."

"Tidak ada kupon diskon?"

Yixing menyilangkan tangannya di dada. Ini sudah yang ketiga kalinya orang itu datang dalam satu hari. Yixing menatapnya heran dengan kening berkerut.

"Tidak, maaf sekali," jawabnya singkat sambil memasukkan benda-benda belanjaan si pembeli ke kantung plastik.

"Kenapa?" tanya pria itu. Pertanyaan tidak penting tapi tatapannya pada Yixing mendesak meminta jawaban.

"Karena—" oh, jangan bilang Yixing harus mengulang kalimat ini lagi. "—karena anda tidak membeli barang-barang berlabel khusus." Ini sudah ketiga kalinya dalam satu hari ia menjelaskan ini—pada orang yang sama!

Apakah pria di hadapannya punya memori jangka pendek?

Oh, hanya Tuhan yang tahu.

"Kalau aku membatalkan pembelianku lalu membeli produk berlabel khusus, apa aku bisa mendapat kupon diskon?"

Pelipis Yixing berdenyut. Ini masih tengah hari tapi ia bisa mendapat serangan vertigo kapan saja. Akhirnya ia mencoba menjawab dengan tenang, "Maaf Tuan, tapi barang-barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan."

"Oh, begitu ya," respon pria di hadapan Yixing kalem.

Syukurlah nampaknya dia mulai mengerti.

"Tapi kenapa hanya barang-barang berlabel khusus saja yang menyediakan kupon diskon?"

Pembeli adalah raja...

Pembeli adalah raja...

Yixing mengulang kalimat itu berkali-kali dalam hati, mengingatkannya sendiri agar tetap sabar menghadapi pelanggan paling mengesalkan sekali pun.

"Karena hanya produk-produk tertentu saja yang menyediakan promosi bulan ini," imbuhnya dengan senyum manis dipaksakan.

Si pembeli nampak berpikir sebentar lalu manggut-manggut.

"Bisa kau sebutkan nama-nama produknya?"

Kali ini Yixing mulai curiga. Jangan-jangan pria pembeli ini utusan bosnya untuk mengecek kapabilitas Yixing sebagai kasir. Tapi demi Tuhan, dia kan hanya bekerja di sebuah mini market! Bukan di perusahaan multinasional.

"Kenapa anda tidak cek sendiri saja di rak nomor delapan, Tuan?" Kesabaran Yixing mulai habis.

"Aku lebih senang mendengarnya dari bibirmu."

"Kau—HAH?"

"Yup. Namaku Kim Joonmyeon by the way. Boleh aku tahu siapa namamu?"

"..."

"Kalau alamatmu?"

"Tidak."

"Nomor handphone, hobi, boyband favorit?"

"Tidak, tidak, tidak."

"Biar kutebak, namamu pasti terdiri dari dua suku kata."

"What the—"

"...yang melambangkan keindahan dan kelembutan."

"Dasar sin—"

"...seuntai kata yang menggambarkan hati yang tulus dan kasih sayang."

Yixing menganga. Joonmyeon mengedip genit.

"...yang—" Joonmyeon makin bernafsu melanjutkan rayuannya jika saja tidak ada suara menggelegar dari antrian belakang, disertai pelototan tajam pria berambut pirang.

.

.

.

"Woy! Kalau mau ngegombal jangan di sini dong!"

.

.

.

.

Itu baru awal.

Minggu-minggu berikutnya, Joonmyeon masih sering datang ke sana. Ada saja yang dibelinya mulai dari mie instan, kaus kaki, sampai shampo anti ketombe. Selebihnya dia banyak membeli barang tidak penting.

.

Tapi sebenarnya yang dibelinya hanyalah satu...

.

.

...yaitu kesempatan bertemu Yixing.

.

.

Joonmyeon memainkan kaleng soda di tangannya. Punggungnya bersandar membelakangi meja kasir, sedikit mendongak untuk melirik sosok di belakang kasir.

"Jadi kau masih belum berniat memberitahumu namamu?"

"Kenapa kau sangat ingin tahu?" Yixing melirik sekilas dengan mata tetap fokus pada layar komputer. Jarinya-jarinya menari di atas tuts keyboard.

Joonmyeon menatapnya dengan senyum terkulum.

.

Tidak, tidak. Kau tidak bisa membujukku dengan senyum so angelic-mu itu.

.

Yixing meneguhkan hatinya agar tidak luluh. Padahal harus diakui, sedikit getaran selalu menghampirinya ketika senyum Joonmyeon terkembang. Tapi Yixing teringat akan pesan ibunya sebelum dia merantau ke Korea, 'Pria Korea itu perayu ulung.'

Meskipun Joonmyeon tidak terlihat seperti om-om mesum—tapi siapa tahu kan—Yixing harus tetap berhati-hati.

"Semuanya jadi delapan ribu won," cetus Yixing tegas, "dan anda mendapatkan bonus pasta gigi."

"Aku lebih suka jika bonusnya adalah—" Joonmyeon menatapnya lurus, "—namamu."

Yixing tersedak ludahnya sendiri. Sedangkan Joonmyeon menyeringai lebar.

"Tuan, kalau anda tidak cepat-cepat membayar—"

"Hei, bisa cepat sedikit tidak! Aku sudah ngantri dari tadi nih!" protes seorang pria sok bule—beginilah pikiran Joonmyeon—seraya melotot tajam ke arahnya.

Ia menyikut Joonmyeon lalu menaruh semua belanjaannya di meja kasir.

"Pacarku tidak suka menunggu lama," decaknya kesal.

Yixing tersenyum mendengar gerutuannya, "Jadi ini semua pesanan Zi Tao?" tanyanya sambil mendekatkan permen warna-warni dan beberapa batang cokelat ke alat sensor.

Pria itu mengangkat bahunya malas, "Yeah."

Joonmyeon balas melotot. Namun pria itu membalas tak mau kalah.

"Apa lihat-lihat?" sentak si pirang galak.

.

Nyalinya ciut.

.

Kali ini pun Joonmeyon gagal mendapatkan nama si kasir pujaan.

.

.

.

.

Hari Sabtu malam, mini market yang berada di ujung jalan itu terlihat sepi pembeli. Seminggu lebih Joonmyeon tidak datang ke sana. Meskipun enggan mengakui, Yixing merasa sedikit rindu padanya.

Yixing mendongak ketika dirasa pintu mini market terbuka. Dia baru saja akan mengucapkan selamat datang ketika sosok di sana malah berteriak—

"—ANGKAT TANGAN!"

Tubuh Yixing membeku. Matanya terbelakak mendapati sosok berbalut pakaian serba hitam dan selubung yang menutupi seluruh muka kecuali mata dan mulut.

"Serahkan semua uang di kas jika tidak mau terluka!" titah suara itu tajam.

Demi ibunya yang berada di Changsa, seorang perampok baru saja memasuki mini market tempat Yixing bekerja!

Oksigen seakan lenyap dari jangkauan. Air muka Yixing berubah pucat. Kakinya bahkan terasa lemas seperti agar-agar.

Si perampok mengisyaratkan agar Yixing membuka laci kas.

"Ayo cepat!" bentaknya nyaring.

Yixing menggigit bibirnya yang bergemeletuk dengan mata menahan panas. Dia mengangguk gugup lalu memutar kunci laci kas. Jemarinya gemetaran hebat ketika meraih tumpukan uang di sana.

Tak disangka, pintu mini market kembali terbuka. Yixing refleks menjerit kecil ketika melihat sosok yang datang.

"JOONMYEON!"

Si perampok tersentak. Ia tak mengharapkan ada orang yang tiba-tiba datang untuk menginterupsi kegiatannya 'mencari penghasilan'.

Joonmyeon tampak sama kagetnya.

Hal itu membuat si perampok lari ke belakang kasir, membuat Yixing menjadi tawanannya. Ia membekap Yixing dan menahan tubuh itu dengan tangannya.

"Jangan bergerak atau nyawa kasir manis ini akan melayang."

Yixing mulai terisak.

Joomyeon berusaha tetap tenang dan mengamati si penyerang. Tubuhnya sedikit lebih tinggi darinya dengan potongan langsing. Tapi dari suaranya, Joonmyeon menebak si perampok ini masihlah sangat muda. Warna hitam khas penjahat di film-film membalut dari ujung kaki sampai ujung kepala, selain itu dia sama sekali tak bersenjata...

.

Eh tunggu, tidak bersenjata?

.

Ya, si perampok ini menjalankan aksinya dengan tangan kosong!

.

Benak Joonmyeon menyambut gembira kabar ini. "Jauhkan tangan kotormu darinya!" pekiknya sok pahlawan.

.

BUGH!

.

Sebuah pukulan telak menghantam perut si perampok membuatnya mengerang kesakitan. Baru saja Joonmyeon akan menambahkan tendangan kedua, si perampok amatiran itu langsung melepaskan kukungannya pada Yixing lalu lari tunggang langgang.

.

Rasakan perampok tengik!

.

Joonmyeon menepuk-nepuk kedua tangannya—seakan-akan tangannya penuh bakteri karena telah menghajar si perampok, lantas menyeringai sok jagoan, "Itulah akibatnya kalau mencari-cari masalah dengan Kim Joonmyeon." –dengan pose dada membusung dan tangan di sisi pinggang ala Superman.

Dengan langkah bangga, ia menghampiri Yixing lalu menangkupan telapak tangannya di wajah itu. Yixing masih syok, tubuhnya bahkan masih gemetaran.

"Kau tidak apa-apa?"

"Kau penyelamatku," katanya dengan napas tersengal.

Yixing memeluk Joonmyeon.

"Kau pahlawanku," pujinya disertai isakan kecil.

Joonmyeon yang mendapat pelukan tiba-tiba hanya bisa terpaku. Demi semua barang-barang tidak berguna yang ia beli di mini market ini, hati Joonmyeon tengah terbang tak menapak.

"Beri tahu aku bagaimana membalas kebaikanmu."

Joonmyeon terdiam. Kemudian bibirnya mengulas seringai tipis, "tiga hal," ujarnya.

"Apa pun karena kau telah menyelamatkan nyawaku." Pelukan Yixing pada Joonmyeon makin erat. Joonmyeon tentu saja tak menolak. Dia bahkan mulai mengusap-usap punggung Yixing lembut.

Senyum terkembang luas di wajah Joonmyeon. "Yang pertama—" jemarinya mulai mengelus surai cokelat itu lembut, "—beri tahu aku siapa namamu."

"Zhang Yixing. Namaku Zhang Yixing," sahut Yixing cepat.

"...yang kedua—" kini ibu jarinya beralih ke bibir Yixing dan memberikan usapan halus di sana. Seringainya semakin lebar, "—kau harus bersedia berkencan denganku besok minggu dan yang ketiga—"

.

.

.

Joomyeon mengangkat wajah Yixing lalu menghujaninya dengan tatapan kemenangan.

.

.

.

.

.

"Kau harus bersedia menjadi kekasihku."

.

.

.

.

.

.

"Dua tiket taman ria, tiket bioskop, satu set piyama pororo, satu boneka pororo, dan—" Joonmyeon menarik napas kecut sebelum merogoh sesuatu dari dompetnya, "—seratus ribu won. Dibayar lunas."

Pemuda di samping Joonmyeon terkekeh senang ketika menghitung lembaran uang di tangannya.

"Dasar pemeras cilik," Joonmyeon mencibir.

"Kau bilang apa tadi hyung? Aku sudah mempertaruhkan nyawaku untuk skenario bodoh ciptaanmu. Untung saja si kasir itu tidak menelepon polisi."

"Itu tidak akan terjadi. Lagi pula mini market itu tidak memasang CCTV. Aku kan sering datang ke sana, tenang saja."

Lawan bicara Joonmyeon berdecak, "Aku tidak habis pikir. Kenapa sih kau sampai menciptakan drama murahan hanya untuk mencari tahu nama seorang pemuda, maksudku—Ya Tuhan..."

"Dia itu tipe yang sedikit jual mahal, jadi untuk mendapatkannya perlu sedikit usaha."

Pemuda di sebelah Joonmyeon balas mencibir, "Cih, tunggu saja sampai dia sadar kalau sudah diperdaya. Lagipula—siapa namanya?"

"Zhang Yixing."

"Dia mudah sekali tertipu si Zhang—siapa?"

"Zhang Yixing!" Joomnyeon mendaratkan sentilan yang langsung disambut aduhan keras.

Joonmyeon menggeleng-gelengkan kepala. Ia meluruskan kakinya yang pegal lalu meneguk kaleng sodanya yang tinggal setengah. Beberapa anak muda tampak asik bermain di lapangan basket tempat mereka berada meskipun saat itu larut malam.

"Tapi terima kasih hyung. Berkatmu, besok aku bisa mengajak kencan dan memberi pacarku hadiah ulang tahun. Eomma memang kejam karena memotong uang jajanku padahal nilaiku hanya turun sedikit, huhuhu."

"Kau harus giat belajar. Bukankah sebentar lagi ujian masuk universitas?"

Kim yang lebih muda mengangguk.

"Ngomong-ngomong aktingmu sebagai perampok bagus juga."

"Trims, tidak sia-sia aku banyak menonton film action. Kau tahu kan film 'Miracle In Cell No.7?' Tadinya aku malah terpikir untuk membawa pistol mainan supaya lebih dramatis," ujarnya nyengir sambil memperagakan gaya tinju bak jagoan action.

Kening Joonmyeon berlipat, "Itu sih film sedih bodoh!" dan sebuah sentilan mendarat lagi di dahi adiknya.

"Aw! Berhenti menyentilku! Pukulanmu di mini market tadi juga terlalu keras untuk ukuran pura-pura. Semua bayaran ini sungguh tak ada apa-apanya dibanding dengan rasa sakitku. Hiks, Kyungsoo pasti sedih melihat pacarnya babak belur." Bibirnya mengerucut protes disertai tampang yang dibuat sememelas mungkin.

Joonmyeon meringis jengkel. Tapi harus diakui tadi itu ia memang memukul agak keras. Dengan berat hati ia akhirnya mengeluarkan lembaran won lain dari dompetnya. Namun rupanya si 'perampok bayaran' belum puas juga.

"Kyungsoo sangat ingin makan es krim Baskien Robbins. Segini sih mana cukup."

"Apanya yang tidak cukup! Aku heran kenapa pemuda semanis Kyungsoo mau jadi pacarmu."

Si adik membelalakan mata, "Bayar—atau kubongkar rahasiamu pada Zhang Yixing?" ancamnya serius.

Joonmyeon menarik napas dalam-dalam bersiap memaki adiknya. "YA! KIM JONGIN! DASAR BOCAH TIDAK MODAL!" Sedangkan yang dimaki cepat-cepat mengumpulkan imbalannya lalu bergegas kabur.

.

Joonmyeon mengurut pelipisnya. Kata-kata Jongin memang ada benarnya juga sih. Tapi setidaknya drama ini setimpal dengan sebuah nama yang membuat ponselnya berdering. Joonmyeon tersenyum amat lebar kala suara lembut itu menyambut.

.

.

"Halo, Joonmyeon-ssi—ehm—kau sedang apa? Mengenai kencan besok..."

.

.

Persetan tentang skenarion murahan. Toh trik ini sukses besar. Karena selain sukses mendapatkan nama sang pujaan hati, Joonmyeon juga telah sukses mendapatkan hati si pemilik nama sekaligus.


A/N:

Aaaaah~dua pairing di chap ini favoritnya Dami :3

Dari dulu selalu pengen bikin Chanbaek yang manis, ringan, tanpa konflik, dan isinya full momen mereka. Akhirnya kesampaian juga :'). Dan untuk SuLay, entahlah saya masih belum lepas sama image-nya Suho sebagai Bang Jali pencari cinta. xD

Miracle In Cell No.7, udah pada tau tentunya kan? Ini film mengharukan yang udah bikin semua EXO nangis sesenggukan (kecuali Yixing, he gives no shit xD)

Kalau readers perhatikan, setiap chapter berisi satu cerita Smooth fluffy dan satu cerita funny fluffy. Jadi bisa nebak untuk pairing berikutnya? Siapa yang kebagian smooth dan pairing mana yang funny? xD

So, here are the review replies!

.

THANKS TO:

Kyungchos: as my 1st reviewer ;)

Aulexo: yang udah dibangunin alarmnya jam 04.36 pagi dan tergerak untuk baca FF ini, hehe. How's your holiday so far? Iya nih, untuk FF lain lagi hilang mood. Btw, kamu suka baca yang mana lagi emang? xD Thank you for such a long review. Love it, Dami loves it :*, loveHEENJABUJA; Padahal part KaiSoo udah lebih panjang daripada yang lain. HunHan-nya next chap ya... Keep reading!, Ahn Dini FreezenBlack; yup, Kyungsoo emang pake cara licik buat merhatiin Jongin x), realkkeh; Broken Wings chap 2 sudah rampung dari lama sebenarnya, tapi saya gak pede untuk posting karena khawatir ada degradasi kualitas /halah bahasa lo Dam/ ngerti kan? :(, 91: Makasih udah suka part-nya KrisTao :), exindira: Sulay in this chap! :), Tania3424: Jadi lebih kasian sama dompetnya daripada sama Kris?*pukpuk bias aku*, sycarp: KrisTao ciuman loh, masa kurang romantis? Dami aja belum pernah ciuman sama Kris T.T. Untuk KrisTao ini saya emang lebih menekankan ke genre komedi-romantis :), mmillo: Thanks!, 12Wolf: eh, kamu mampir lagi. Makasih loh :"), Nada Lim: Thanks!, Yurako Koizumi: Iya nih, aku bosen sama tokoh Jongin yang selalu mesum di FF lain. Sebagai KAI dia emang 'mengundang', tapi sebagai Kim Jongin berumur yg baru 19 tahun, dia tuh aslinya kan manis dan pemaluuuuu banget. Aku selalu suka sisi Jongin yang malu-malu dan canggung gini kalau di variety show :"). Makasih loh selalu ngingetin typo aku, Uchiha Shesura-chan: Makasih banyak kalau udah nganggap FF ini manis. Soalnya aku rada fail kalau nulis macam gula-gula gini. :"), Aswshn: Ngegemesin itu emang udah sifat melekat pada panda... *krik*, ex anonymous: Jangan minum obat diabetes, suntik insulin aja sekalian. /ngomong apa sih lo Dami/ *tendang*, HyunRa: Thanks! Semoga suka ya. GreifannyGS: Nama kamu sering muncul di FF aku, makasih ya dear :* Four Seasons chap Summer itu udah 2000 kata padahal. Tapi pas baca ulang, aku gak sreg dan keburu ilang mood. Harap sabar ya... :(, yinyang123: Terima kasih semangatnyaaa :_:, DwitaDwita: Tenang, semua pairing bakal diceritain semua kok. *wink*, neorakyu: Tidaaak, jangan cubit aku pake tang beracun. Cubit aja pake bibir angry birdnya Kris atau bibir kissablenya Jongin atau bibir Chanyeol juga ga nolak /maunya/ Iya nih, akhir-akhir ini aku lagi ter-KaiSoo-kan banget. Jangan bosan untuk review ;), mumu: Harap sabar ya..., XiuBy PandaTao: Thanks!, KrisPanda: Pengen sih nulis TaoRis yang lain, tapi aku jarang banget dapet feel sama pairing ini. Soalnya bias aku Kris dan.../bilang aja posesif gamau berbagi sama Tao/hahaha, anisa r ramadhani1: Chanbaek smooth fluffy for u! ;), ArraHyeri2: yup! Sebenernya itu sifat buruk aku juga. Aku selalu lupa naro kaca mata, remot tv, dompet, handphone, dan repot sendiri kalau mau pergi. Rnf: Makasiiih :*, Park Young Min-chan: Ok. SlytherSoul d'Malfoy: Thanks!, awlia: Yup! That's reality, Aku bosan sama Kris yang selalu diceritain naik mobil mewah. Sekali-kali dia harus nyobain naik metro, hehe. Bunch of loves for your long review :* terima kasih kasih karena udah sering baca FF-ku. dokydo91: Iya, 6 cerita berbeda. Tapi mereka masih saling berkaitan. Kyungsoo yang nyender, itu cuma akal-akalan dia aja xp /dasar licik/ tapi pas Jongin narik tangan dia itu dia emang bener2 ketiduran, Jung Rae Ra: Thank you! enjoy this chap. Brigitta Bukan Brigittiw: KrisTao emang korban iklan banget, hehe. Rannydamayanti: yup! Sekali-kali Kris harus ngerasain jadi karyawan, jangan jadi bos melulu. X), Minerva Huang: Aku nulis KaiSoo lagi kok di Broken Wings. Udah mampir ke sana? :D, siscaMinstalove: enjoy this chap dear!, biyungbekyun: Mata Kyungsoo emang selalu 'awas' sama cogan sekitar/ sama kayak saya/ haha. HunHan-nya next yaa, kaidozwag: Makasiih ya :* jadi dia tuh merem-melek pas Jongin lengah. Aku sering meraktekin itu kok kalau naik kereta /modus/ hahaha. Wajah Kris emang udah mewah dari sananya (apalagi kalau rambut pirang) ditambah potongan badan yang 'oh-so-so-prince' banget. Tapi Dami pikir, ketika rambut Kris hitam dia kelihatan jauh lebih humble. Dan dia kembali jadi Wu YiFan, bukan Kris (yang selalu diceritain jadi CEO dengan mobil mewah). Tapi tetep sih, sebagai Kris bias, saya cinta mati sama rambut pirangnya. Kyaaaa~, louise lee: Hai, terima kasih sudah mampir dan review. :)

.

Please leave your review again. :)

and do not (please jangan) follow/favorit without leaving any review (tanpa meninggalkan review) alias jangan nyelonong gitu aja ya. :) mari saling menghargai.

Love,

Dami.