A/N:

Halo, ada yang nungguin cerita ini gak ya kira-kira? Hahahaha. Maaf ya updatenya Lama BANGET. Life is spinning bro, Dami udah bukan anak kuliahan lagi yang punya banyak waktu luang. Saya harus cari duit buat bisa nyusul Kris ke China. Hehehe

Masih berkisar OTP dengan cerita ringan dan manis mereka. Semoga kalian (terutama HunHan dan ChenMin shiper) suka ya. :)

Terima kasih bagi yang sudah meninggalkan review di chapter kemarin:

Shouda Shikaku, FrozensYoghurt, hellooo dear, sunggyu chaser, ChenMinDongsaeng14, Haru3173, exonderwear, raul sungsoo12, BaekPuppy, whirlwindseu, COMEBACKHOME, Kim Yoo Ra, FeelDaBeat, AuroRain, hyodoreu, Park Jong Hyun ChanBaek, ttaxoxo, ItsChoiDesy, Jenny, Mekkyyy, ichapcy, flameshine, Ahn Dini FreezenBlack, PandaCherry, chenma, nakamura11, jessikwang, unique fire, tikahunhan, EXOolfeu, andini taoris, EXOolfeu, Lee-Jii17, LayChen Love Love, XG-Lay 34 Army, uchanbaek, AbsoluteChanbaek, Siapa-Saya, ChenLin, kaidozwag, neorakyu, Brigitta Bukan Brigittiw, alysaexostans, awlia, dinysabrina6, Hidarime Rei, fykaisoo, yaoiHunhan, realkkeh, adistiii, TKTOPKID, siscaMinstalove, Huang Minseok, skyura, GreifannyGS, Aulexo, chanyumi, yesmirk, Xyln, DwitaDwita, Milky Andromeda, Park Young Min-chan, Tania3424, SlytherSoul d'Malfoy, Minerva Huang, Nada Lim, uwiechan92, 12wolf, exindira.

Di sini ada yang nonton TLP kemarin ga? Duh beruntungnya kalian :D ceritain dong, (terutama) Jongin dia ngapain aja? Ganteng ga? Seksi ga? T_T

Seperti biasa, tolong jangan memfavoritkan/memfollow cerita ini tanpa meninggalkan REVIEW lebih dulu ya. Terus jangan panggil saya author atau bahkan (duh) admin please… saya punya nama loh. Oke oke? Tolong jangan lakukan hal-hal haram ini.

Selamat membaca chapter terakhir dari The Half Soul. :)


Disclaimer: Standard disclaimer applied. I do not own the cast, all casts belong to themselves, but the story is mine. Non profit taken.

Casts: All EXO Official Pairings.

Genre: Romance, drama, humor, friendship, etc.

Rating: T


THE HALF SOUL

By kwondami

Six stories about confession, bad habits, effort, moment, trick, and jealousy...

.

They speak one similar word:

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Love.


[V]

APOLOGY

HunHan.

Words count: 1.496

.

Inspired:

ColdPlay – The Scientist

"—Come up to meet you, tell you I'm sorry
You don't know how lovely you are
…"

.

.

.

Luhan menyandarkan kepalanya pada bangku di depannya. Ia mengela napas berat berulang kali. Headphone di telinga mengalunkan lagu Coldplay favoritnya. Lagu yang bagus namun melodinya membuat hatinya semakin sedih.

Lagi-lagi ia mendesah. Ada semacam duri mengganjal tenggorokannya sehingga setiap helaan napas terasa sesak. Dadanya seakan digantungi besi sehingga terasa berat. Ia berusaha menyingkirkan masalah yang sudah dua minggu ini menggelayuti pikirannya. Membayangi di waktu tidur, membuatnya tak bernafsu makan.

Luhan memalingkan kepalanya ke arah jendela. Bus yang ia tumpangi bergerak perlahan, semakin mendekati pusat Kota Seoul.

Dikeraskannya volume lagu lalu dipejamkannya mata. Bukan masalah jika nantinya Luhan jatuh tertidur karena memang itulah yang ia butuhkan. Setidaknya ketika tidur, ia bisa melupakan masalah yang menderanya selama dua minggu terakhir.

Namun baru saja ia terlelap, bus yang dinaikinya tiba-tiba mengerem mendadak. Tubuhnya sampai tersentak ke depan. Luhan menggerutu dalam hati. Dua minggu ini dia kesulitan tidur dan kejadian tadi membuatnya kehilangan kesempatan untuk itu.

Ketika akhirnya bus mulai berjalan lagi, Luhan menoleh ke arah jendela. Ia melihat sekilas dua orang yang sangat dikenalnya memasuki sebuah café. Luhan tidak mungkin salah karena dia hapal betul tas punggung salah satu di antara mereka.

.

"Berhenti!"

.

Luhan cepat-cepat berdiri kemudian memekik lebih keras. "Stop! Stop STOP!"

Rem diinjak mendadak. Semua penumpang mendelik tajam ke arahnya tapi dia tidak peduli. Luhan bergegas membawa kakinya menuju café itu.

.

.

.

.

Chanyeol datang membawa nampan berisi dua espresso. Ia duduk di hadapan sahabatnya yang membelakangi kaca.

Sehun menatap lurus, kosong tanpa ekspresi. Ia terlihat seperi raga tanpa nyawa.

"Jadi—" Chanyeol memulai, "sudah dua minggu?"

Sehun tetap diam.

"Sudah minta maaf?"

Kali ini lawan bicaranya menggeleng.

"Dia tidak akan memaafkan aku."

Chanyeol menyeruput kopinya khidmat sedangkan Sehun melirik bagiannya sendiri tidak berminat.

"Lalu kalian akan berakhir begitu saja?"

Sehun menyesap kopinya kuat tapi kemudian malah terbatuk-batuk. Ugh, pahit sekali.

Lidahnya memang terbiasa dengan sesuatu yang manis seperti—

…Luhan.

Dadanya mendadak nyeri ketika mengingat nama itu. Sudah dua minggu dia tidak melihat sosok Luhan atau mendengar suaranya. Tidak munafik, Sehun sangat rindu.

Sehun mengaduk kopinya tak bersemangat. Disesapnya kopi itu perlahan. Rasa pahit menjalar di lidah, rasa yang sama yang kini terjadi pada kehidupan percintaannya.

Sementara itu café memutar sebuah lagu lirih yang sangat Sehun hapal. Lagu kesukaan Luhan. Lirik lagu tersebut seakan menertawakan kisahnya.

Nobody said it was easy

It's such a shame for us to part

Nobody said it was easy

No one ever said it would be this hard

Oh, take me back to the start…

Seandainya Sehun bisa memulainya dari awal…

.

.

.

.

Luhan menyembunyikan tubuhnya di balik tiang listrik. Benda itu memang tidak seutuhnya menyembunyikan tubuhnya, tapi setidaknya bisa menghalangi pandangannya. Luhan mengintip ea rah café di seberang jalan. Tampak jelas olehnya punggung Sehun dan Chanyeol yang duduk di depannya.

Setelah dua minggu, akhirnya Luhan bisa melihat sosok Sehun meskipun hanya punggungnya. Ia memberanikan diri untuk ke luar dari tempatnya sembunyi agar bisa melihat Sehun dari dekat. Sehun memakai kaus pemberiannya. Hati kecil Luhan berdesir senang karena sebuah fakta sederhana ini.

Sebuah bus kemudian berhenti di depan café, menghalangi pandangan Luhan. Ia merasa kesal. Terlebih ketika menyadari sosok Sehun sudah tidak ada di tempatnya duduk.

Luhan merasa tubuhnya lemas seketika. Ia mendesah kecewa. Entah kapan lagi ia bisa melihat Sehun. Ia baru saja memutuskan beranjak pergi ketika sebuah tepukan lembut menyentuh pundaknya.

"Lulu…"

Luhan nyaris menjatuhkan ipodnya saat berbalik. Kedua bola matanya membulat. Mulut Luhan membuka hendak berkata, namun menutup lagi.

Perlahan ia melepas headphone di kepala. Alunan lagu Coldplay berganti dengan desingan lalu lintas, namun Luhan merasa sekelilingnya sunyi karena yang ia dengar adalah jantungnya yang berdentam cepat.

"Lulu…" lirih pemuda itu lagi.

Keduanya mematung di tengah kerumunan lalu lalang orang-orang. Luhan memalingkan muka, menghindari tatapan pemuda yang tengah mengenakan kaus pemberiannya. Kaus yang saat ini kotor karena tumpahan kopi.

.

.

.

"Ini lagu kesukaan Luhan," kata Sehun pada Chanyeol meskipun sahabatnya sudah bosan mendengarnya karena Chanyeol kelihatan sibuk melirik ke arah seberang jalan lewat punggung Sehun. Chanyeol memang sengaja mengajak Sehun ke café favoritnya untuk melupakan masalahnya dengan Luhan. Dia tidak tega melihat Sehun yang terus-terusan lesu.

"Seandainya kau diberi satu permintaan, apa yang akan kau minta?" tanya Chanyeol tiba-tiba tanpa melepaskan mata ke arah jendela.

"Aku ingin melihat Luhan."

"Kalau saat ini Luhan ada di depanmu, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan minta maaf, lalu mengajaknya berbaikan."

Chanyeol tersenyum, "Permintaan dikabulkan." Ia lalu menunjuk ke arah belakang kaca di belakang Sehun. Tepat ketika sebuah bus berhenti menghalangi pandangan.

Sehun tidak melihat apa pun.

"…apa?" gumam Sehun tak mengerti.

"Luhan ada di sana."

Sehun menoleh dua kali ke arah jari Chanyeol menunjuk. Ketika bus yang menghalangi perlahan melaju, akhirnya tampaklah sosok manis yang sangat Sehun rindukan.

Tanpa buang waktu, Sehun beranjak dari duduknya. Kakinya melangkah secepat mungkin hingga menubruk pelayan yang tengah membawa nampan kopi. Cairan hitam pekat itu sukses mengenai kaus favorit Sehun.

Dia meminta maaf seadanya lalu berlari lagi sampai hampir terjungkal.

"Lulu…" panggilnya namun sosok itu tak juga berpaling.

"Lulu…" Sehun terengah. Luhan tak kunjung menoleh.

Sehun mendekatinya lalu menepuk pundaknya lembut.

Ketika akhirnya tubuh Luhan berbalik, ia nyaris menjatuhkan ipodnya ketika mendapati sosok Sehun berdiri tepat di hadapan. Kedua bola matanya membulat. Mulut Luhan membuka hendak berkata, namun menutup lagi. Perlahan ia melepas headphone di kepala.

"Lulu…" lirih Sehun lagi.

Keduanya mematung di tengah kerumunan lalu lalang orang-orang. Luhan memalingkan muka, sengaja menghindari tatapan Sehun. Sedangkan Sehun meremas kaus bernoda cokelat yang dipakainya dengan perasaan bersalah.

.

.

.

Entah bagaimana ceritanya sampai mereka duduk di sudut taman dengan bubble tea dingin di masing-masing genggaman. Keduanya masih membisu. Tidak ada kata selama setengah jam terakhir.

Luhan menyeruput minumannya perlahan. Ia memang sengaja minum lambat-lambat agar tidak cepat habis. Supaya dia punya kegiatan di tengah suasana canggung ini.

Sehun menghabiskan bubble tea-nya lebih dulu. Ia sedikit ragu, tapi akhirnya menoleh ke arah Luhan lalu berkata pelan.

"Tadi Chanyeol mengajakku minum espresso."

"Kau kan tidak suka minuman pahit," cetus Luhan cepat.

Sehun tersenyum tipis. Luhan memang sangat mengerti dirinya.

"Maaf, kaus darimu jadi kotor karena kecerobohanku."

Tanpa bicara, Luhan mengeluarkan tisu basah dari tasnya lalu menekan lembut pada noda di permukaan kaus Sehun. Meskipun nodanya tidak bisa hilang, setidaknya warnanya jadi tidak begitu pekat.

Sehun menghentikan gerakan tangan Luhan lalu membawa tangan itu ke arah tempat jantungnya berada.

"Rasanya sesak sekali tanpamu. Rasanya aku sulit bernapas…"

Luhan mendongak. Biner rusanya bersinggungan dengan manik Sehun yang berkaca-kaca. Luhan masih membisu padahal banyak sekali kalimat menggantung di bibirnya seperti; maafkan aku juga, aku bodoh, dan aku sayang sekali padamu. Tapi entah kenapa lidahnya terasa kaku.

"Aku bahkan tidak berani minum bubble tea karena itu hanya mengingatkanku padamu," tutur Sehun sedih. "Aku tahu pasti begitu sulit untuk memaafkanku. Aku sudah keterlaluan, aku sudah membentakmu dengan kata-kata kasar, aku—"

Ucapan Sehun terpotong karena Luhan menempelkan gelas plastik dingin bubble tea ke pipinya yang pucat.

"Jangan minum kopi pahit lagi." Luhan tersenyum lembut, "mulai sekarang kau bisa kembali minum bubble tea kesukaanmu."

"Apa itu artinya—"

Luhan mengangguk manis.

"Apa mungkin kita bisa memulainya lagi?" Sehun menerka.

"Yeah, mungkin…"

"Mungkin?"

"Kenapa tidak?"

"Jadi?"

"Kau tahu maksudku."

"Uhm, baiklah kalau kau tidak mau."

"Ya! Oh Sehun!"

Sudut miring menghiasi bibir Sehun. Ia terkekeh lembut."Kemarilah." Sehun merentangkan tangannya lebar-lebar.

Jemari Luhan bergerak bimbang namun akhirnya ia membiarkan Sehun membawanya dalam pelukan hangat.

.

Pelukan dari seseorang yang paling dicintainya…

.

Luhan menyamankan tubuhnya. Dua minggu tanpa menghirup aroma tubuh Sehun, rasanya Luhan ingin berada dalam pelukan pemuda itu selamanya.

"Apa kau mau minum bubble tea rasa cokelat?" Sehun mengusap punggung orang yang dikasihinya itu lembut.

"Kau yang traktir."

"Anything you wish."

Luhan menyimpul senyum.

Ia menjulurkan tangannya, tanda agar Sehun menggandengnya. Dan dengan senang hati Sehun mengaitkan jemari mereka, membawanya dalam keharmonisan.

Senja merangkak. Hawa malam mulai merayap namun hati keduanya diliputi hangat luar biasa.

Setelah beberapa langkah, akhirnya bibir Luhan mengukir lirih kalimat yang sejak tadi sangat ingin ia ucapkan.

"Sehun-ah."

"Hm?"

.

"Aku sayang sekali padamu..."

.

.

No one ever said it would be so hard

I'm going back to the start…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


[VI]

MISUNDERSTANDING

ChenMin

Words Count: 1.694

.

Inspired:

AKMU Give Love

"—I didn't do anything wrong

But why do you hate me for no reason?"

.

.

.

"Baozi hyung~ sayangku~"

"Aku ingin kita putus."

Chen merapatkan mulutnya yang tadi menganga karena terlalu bersemangat menyapa Minseok. Tubuhnya mematung seketika.

Baru saja ia memasuki kafetaria tempat kekasihnya menunggu dan Minseok bilang dia ingin—

Minseok ingin apa katanya?

Ingi pu—? Pulsa?

"Aku ingin PUTUS!" Tegas Minseok seakan bisa memami telinga Chen yang kadang error. Sebagai tambahan, dia menggebrak meja. Orang-orang yang ada di kafetaria sampai menoleh dibuatnya.

"Pokoknya. Aku. Minta. Putus!" serunya tegas dengan tekanan di setiap kata.

Sesudah itu Minseok berlalu begitu saja. Meninggalkan Chen yang masih menganga.

.

.

.

"Diaaaaaaaam! Aku tidak bisa tidur!"

Sehun menutup kedua telinganya dengan bantal. Mana bisa dia tidur kalau sejak dua jam lalu direcoki oleh suara tangis yang tidak merdu.

Bukannya berhenti, orang itu malah meraung makin nyaring. "Huweeeee! Huhuhuhu… Sehun-ah, kau jahat."

"Aish, benar-benar hyung satu ini!" Sehun yang kesal sambil melemparkan bantal ea rah si pelaku yang sayangnya berhasil ditepis dengan sukses.

Masih kesal, ia akhirnya menyalakan lampu kamar. Sorot lampu langsung saja menerangi sosok absurd dengan muka merah, pipi berlinangan air mata, dan mata sembab.

"Aku memperbolehkanmu menginap bukan berarti kau bisa menangis sepanjang hari!" bentak Sehun sambil menyilangkan tangan di dada.

Chen mengusap air matanya dengan bantal yang tadi digunakan Sehun untuk melempar. "Minseoki~ apa salahku? Huhuhu."

Sehun menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Chen lebih tua dua tahun darinya tapi sikapnya saat patah hati benar-benar membuat repot. Bahkan Seoun dan Seojun (si bayi kembar dalam reality show Return of Superman yang rutin Sehun tonton) saja setidaknya tidak menangis selama berjam-jam seperti Chen.

Sehun mendengus, "Menangis tidak akan membuatnya kembali padamu."

"Lalu aku harus bagaimana?" rengek Chen.

"Minta maaf padanya!" bentak Sehun tak sabar.

"Tapi aku tidak tahu di mana salahku."

Ugh, rumit sekali. Sehun membatin.

"Coba pikir akhir-akhir ini kau pernah berbuat salah tidak?"

"Misalnya?"

"Berbohong?"

"Tidak," Chen menyahut cepat.

"Melupakan tanggal anniversary?"

"Yang ada Minseoklah yang sering lupa."

"Berkhianat?"

"Mana mungkin."

"Berselingkuh?"

"Ya! Yang benar saja!"

"JADI APA?" Sehun nyaris berteriak. Kesabarannya mulai habis.

"Mana aku tahu!"

Sehun mengelus dadanya. Sabar Oh Sehun, kau harus sabar.

"Ya sudah, besok akan kucoba menanyakannya pada Minseok hyung."

Mata Chen langsung berbinar, "Benarkah?"

"Iya. Sekarang hentikan tangisanmu itu karena aku harus tidur cepat. Besok aku ada ujian," protes Sehun gusar.

Namun baru saja lampu dipadamkan, terdengar lolongan sedih yang teredam oleh bantal.

"Hiks, Minseoki~ kenapa kau lakukan ini pada Romeo-mu…"

Sehun hanya berharap pagi segera datang agar dia bisa cepat-cepat menendang Chen keluar dari kamarnya.

.

.

.

.

"Waktunya lima menit lagi."

Sehun yang nyaris terlelap kontan membuka matanya. Ia melirik lembar ujian di meja. Sial, masih banyak yang belum terisi.

Ini semua gara-gara lolongan Chen yang mengakibatkan Sehun jadi kurang tidur. Apa yang sudah dipelajarinya mati-matian menguap karena daya konsentrasinya menurun. Salahkan Chen kalau Sehun sampai mendapat nilai jelek. Tapi mana mungkin orang tuanya akan percaya kalau Sehun menyuarakan alasan ini.

Sehun meremas pulpennya jengkel. Tetangganya itu benar-benar merepotkan.

"Dua menit lagi."

Suara dosen membuyarkan lamunannya. Dengan segala daya tersisa, Sehun memaksimalkan fungsi otaknya.

.

Salah satunya dengan cara menghitung kancing kemeja untuk soal pilihan ganda.

.

.

.

.

"Minseok hyung!"

Minseok menoleh dari balik tumpukan buku-buku di tangan. Ia sedikit terkejut ketika mengetahui sosok yang memanggilnya.

Sehun menumpukan tubuhnya ke dinding, terengah-engah karena mengejar senior yang saat ini duduk di semester akhir tersebut.

"Ada yang ingin aku bicarakan."

"Ma-maaf, tapi aku harus mengembalikan buku ini ke perpustakaan."

"Akan kutunggu kalau begitu."

Baru saja mulut Minseok membuka untuk menolak, seorang pemuda dengan senyum riang hadir ditengah-tengah mereka.

"Sehun-ah!" sapanya bersemangat. Ia juga menyapa Minseok namun dibalas dengan Minseok yang memalingkan muka. Meski begitu, Luhan, pemuda semester akhir yang juga merupakan kekasih Sehun ini tidak menyadari sikap ketus Minseok. "Ayo kita pulang bersama!" ajaknya sambil merangkulkan tangannya ke pundak Sehun.

Minseok cepat-cepat menyingkir dari mereka berdua. Sehun sempat menangkap raut wajah Minseok yang berubah keruh ketika melihat Luhan. Sehun memanggil-manggil Minseok tapi pemuda itu tetap tidak menoleh balik.

Agaknya malam ini Sehun harus menyiapkan penyumbat telinga supaya tetap bisa tidur tanpa terganggu suara tangisan Chen.

.

.

.

.

"Jadi itu alasanmu memutuskan Chen padahal sebentar lagi hari Valentine?"

Minseok mengangguk lemah.

"Kupikir awalnya kau sedikit kejam, tapi setelah mendengar ceritamu—"

"Kau juga akan melakukan hal yang sama kan?"

Tao berhenti mengaduk adonan cokelat di tangannya lalu mendongak. "Well, tidak juga."

Kening Minseok berkerut tidak senang. Dia juga ikut berhenti mengaduk adonan. Minseok sendiri tidak megerti mengapa ia masih rutin mengikuti kursus membuat cokelat Valentine padahal dirinya dan Chen sudah resmi putus. Tao adalah pemuda manis yang Minseok kenal di kelas ini. Tujuan Tao mengikuti kursus karena ingin mempersembahkan cokelat buatan sendiri untuk kekasihnya yang bertampang judes (Minseok pernah dikenalkan pada Kris waktu pria setinggi menara Nseol Tower itu datang menjemput Tao). Tao adalah pemuda yang baik hati meskipun penyakit pelupanya sangat parah.

"Maksudku hyung—bisa saja itu sms nyasar kan?" Tao cepat-cepat menambahkan ketika melihat bibir Minseok mulai melengkung ke bawah.

"Chagiya, apa kau sudah makan? Chagiya, aku juga rindu padamu. Chagiya, kau lupa memberikan ciuman sebelum tidur. Dan chagiya-chagiya mesra lainnya," tutur Minseok berang ketika mengulang pesan yang diam-diam ia baca di ponsel Chen. "Dan apa kau bisa tebak bagaimana Chen menyimpan namanya di kontak?"

Tao menggeleng keras. Ia mulai ngeri.

"My deer sexy Luhannie," desis Minseok cemburu. Ia teringat mata Luhan yang berkelopak mata dan maniknya yang indah seperti mata rusa kecil. Ugh, kelopak mata. Minseok makin kesal saja dibuatnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Irisnya melebar ketika membaca nama si penelepon, tapi toh ia tetap melepas sarung tangannya untuk mengangkat.

Apa jangan-jangan Sehun sudah tahu kalau Luhan berselingkuh dengan Chen?

"Hal—"

"Hyung, kau di mana?" seru Sehun panik.

"Aku sedang di kelas kursus memasak. Ada apa?"

"CEPAT KEMARI! CHEN HYUNG AKAN BUNUH DIRI!"

.

.

.

"Ya! Aku tidak tahu siapa kau tapi kalau kau yang mati AKU YANG REPOT!" Kris meraung dengan tangan tetap memegangi si terdakwa calon bunuh diri yang siap melompat. Dia baru saja pulang setelah lelah seharian di kantor saat melihat sesosok absurd (yang bahkan ia tidak tahu namanya) hendak melakukan salto dari atas jembatan. Kris tidak mau repot-repot diinterogasi oleh polisi sebagai saksi jadi dia memutuskan untuk mencegah sebelum orang tersebut benar-benar mati.

"Bertahanlah Chen! Sehun sedang menjemput Minseok!" seru Luhan dari kejauhan. Dia tidak berani mendekati tepian jembatan karena takut ketinggian.

Tak lama kemudian, Sehun datang dengan membawa Minseok yang masih memakai celemek belepotan cokelat.

"YA! APA YANG KAU LAKUKAN KIM JONGDAE BODOH!"

Chen menoleh kilat, "Mi-Minseoki hyung?"

Minseok cepat-cepat turun dari sepeda motor Sehun. Dia heran ketika melihat sosok pirang yang tengah memegangi tangan Chen. Kenapa pacar Zi Tao bisa ada di sini?

Ah, tapi Minseok tidak ada waktu untuk memikirkannya karena ia harus lekas menyeru, "CEPAT TURUN DARI SITU!"

"Kau akhirnya mau bicara lagi denganku?" Bibir Chen bergetar.

"Ugh, cepat enyah dari situ bodoh!"

"Apa itu artinya kau memaafkanku?"

"Tidak."

"Ya sudah kalau begitu aku mati saja."

"JANGAN!" seru Kris, Sehun, dan Luhan serempak.

Minseok meraih sepatunya lalu mengarahkannya pada kepala Chen. "Mana mungkin aku memaafkanmu kalau kau diam-diam berselingkuh!"

PLETAK!

Sepatu meluncur sukses namun malah mengenai kepala pirang Kris hingga benjol. Pria tinggi itu terhuyung-huyung. Sial sekali dia hari ini. Niatnya menolong orang bunuh diri, malah jadi target pelemparan sepatu.

"Selingkuh? Siapa yang selingkuh?" tanya Chen yang tadi sengaja menunduk untuk menghindari lemparan Minseok.

"Jangan pura-pura polos. Diam-diam kau berselingkuh dengan Luhan. Aku membaca sms di ponselmu."

Hening.

"Ng, bukannya mau ikut campur. Kalau boleh tahu, kapan kau membacanya?" tanya Sehun hati-hati.

Minseok mendelik galak. "Hari Kamis minggu lalu. Memangnya kenapa?"

Sontak Sehun tertawa keras ketika mendengar jawaban Minseok. Di sampingnya, Luhan memandangnya tak mengerti.

"Jadi kau memutuskan Chen gara-gara membaca sms di ponsel yang kau kira milik Chen?" tanya Sehun sambil memegangi perutnya supaya tidak terbahak.

Minseok merengut sebal. "Ya! Kenapa kau tertawa Oh Sehun! Chen jelas-jelas berselingkuh dengan LUHAN!" Sengaja ia berteriak ketika menyebut nama Luhan sambil melirik tajam ke arah si pemilik nama.

Luhan yang polos terang saja kaget. "A-aku?" telunjuknya mengarah pada dirinya sendiri. Tidak percaya Minseok bisa menuduhnya seperti itu.

Sehun mengeluarkan ponselnya dari kantung celana lantas memperlihatkan isi kotak masuk. "Maksud hyung yang ini?"

Mata Minseok melebar.

"Ba-bagaimana ponsel Chen bisa ada padamu?"

Sehun tertawa lagi.

"Hah, jadi benar dugaanku. Ponsel yang kau lihat waktu itu adalah milikku yang tertinggal di rumah Chen. Semalam sebelumnya aku menginap di rumah Chen untuk minta diajari kalkulus. Chen hyung tidak tahu kalau aku baru saja mengganti ponsel dengan tipe yang sama dengan miliknya. Jadi ketika esok paginya dia terburu-buru berangkat ke kampus, dia keliru dengan membawa ponselku," tutur Sehun panjang.

"Ja-jadi, sms yang aku baca itu—"

"Tentu saja sms dari Luhan untukku!"

Minseok melirik ke arah Chen yang mengangguk-angguk sedih. Minseok merasa bersalah namun gengsi untuk minta maaf.

"Jadi kita tidak jadi putus kan?" tanya Chen memelas.

"Tidak semudah itu."

"Ya sudah, aku akan tetap terjun dari jembatan ini."

"JANGAN!" seru semuanya serempak.

.

Syukurlah, ternyata ini hanya kesalahpahaman saja.

.

.

.

.

"Sudah kukatakan, itu surat dari Kris untuk Tao yang dititipkannya padaku!"

"Oh yeah? Lalu mengapa dia juga menggunakan kata 'Julietku' seperti panggilanku padamu?" balas Chen sengit.

"Mana aku tahu! Yang jelas Kris menitipkan surat permintaan maaf padaku karena Tao tak mau bicara padanya. Sudah seminggu ini mereka bertengkar disebabkan lagi-lagi Kris lupa hari anniversary mereka."

Alis Chen naik turun merespon penjelasan kekasihnya. Pagi ini dia menemukan sebuah surat beramplop pink di loker Minseok. Chen yang curiga lantas membacanya.

Pertengkaran ini terpotong oleh kedatangan Sehun yang berwajah sedih. Dia sengaja mencari Chen untuk melampiaskan kekesalannya. Di tangannya terdapat remasan kertas nilai ujiannya tempo hari: D

Itu artinya Sehun harus mengulang mata kuliah tersebut di semester depan.

"Kalau kau tetap tidak percaya, lebih baik kita PUTUS!" geram Minseok lalu berlalu begitu saja meninggalkan Chen.

"A-apa? Juliet, kau tidak serius kan? Julieeeeeet!"

Sehun menangkap adegan sinetron ini dengan mulut menganga. Kalau mereka putus lagi, itu artinya…

.

"Huweeeeee… Minseoki, kenapa kau tega pada Romeo-mu~"

.

…Chen bisa dipastikan akan menginap lagi di rumah Sehun. Tepat di saat Sehun punya ujian kalkulus yang harus dihadapinya esok pagi.

.

.

.


-END-


A/N:

Duh emang deh, si Chen ngerepotin banget -_- hehehe.

Yang HunHan awalnya agak gloomy-gloomy gitu soalnya pas nulis saya lagi sedih sama urusan kerjaan. Maaf ya X( yang penting tetap fluffy kan akhirnya

Yap! Jadi mereka memang saling bersinggungan. Kalau inget cerita kemarin, Chanbaek temen kuliahnya Tao, Jongin adiknya Suho, Lay jadi kasir di supermarket tempat Kris sering beli jajanan Tao, Chanyeol sahabatnya Sehun, Chen tetangga Sehun, Xiumin temen les masak Tao, dan begitu seterusnya…

Terima kasih sudah membaca sampai selesai.

Gak ada sequel dan gak akan ada. Saya masih punya hutang ngelanjutin Delivery Service.

Kalau lagi senggang baca FF saya yang Truth Or? yaaa ;)

Love,

Dami